Gerbong Wanita? Semoga Cewek Banget
Posted by agungfirmansyah
Hari ini PT KA resmi mengoperasikan gerbong khusus wanita untuk rute KRL Jakarta-Bogor. Gerbong yang diletakkan saling berjauhan ini (masing-masing di ujung depan dan belakang) didandani penuh dengan warna ping. Mungkin maksudnya agar terlihat lebih feminin.
Menurut hukum positif Indonesia, haram hukumnya bagi laki-laki untuk menginjakkan kaki di gerbong ini (mungkin Pak Kondektur dapet kompensasi kali ya). Suami pun tak diijinkan menemani istrinya di gerbong ini. Bila mau naik kereta berdua, ya silakan pakai gerbong umum. MANTAB JAYA!!!
——fles bek 5 tahun yang lalu——
Dua orang pemuda (hampir) gelandangan naik KRL Jakarta-Depok untuk nyari koskosan di daerah Salemba. Seumur-umur belum pernah naik kereta dalam kota, kaget juga 2 pemuda ini dengan kesempatan yang ditawarkan si ular besi di pagi hari. MBATI…! Ya, kesempatan, atau lebih tepatnya terpaksa mbati. Nyaho, mbati teh naon? Oke, saya jelaskan sebentar.
Mbati berasal dari Bahasa Jawa, bati yang artinya mengambil untung. Secara istilah -yang digunakan oleh teman-teman sebaya di kampung halaman-, mbati berarti tindakan laki-laki yang mengambil untung dari perempuan -untuk hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas.
Sepanjang jalan, si pemuda 1 berpikir tentang ‘kesempatan’ yang ditawarkan, tentang terancamnya hak-hak wanita di kolong besi ini. Dia berazam, tak akan pernah memperbolehkan adiknya (belum mikirin istri, maklum waktu itu masih bujang) naik KRL di jam-jam sibuk. Di sebelahnya, pemuda 2 sibuk mencari pegangan. Entah apa yang dipikirkannya saat itu. Yang jelas, saat turun di Cikini dia langsung bilang, “Parah, Pek!“
——back to the future current time——
Saya berharap dan berdoa, langkah penyediaan gerbong khusus ini akan lebih menjaga kehormatan wanita … dan semoga segera tidak ada lagi kegiatan mbati di transportasi umum, walau hanya terpaksa.
Gerbong wanita sudah dimodif agar terkesan ‘cewek banget’. Tinggal penumpang laki-lakinya, apakah cukup jantan untuk tidak egois dengan memaksa naik gerbong kaum hawa. Dan tentu saja, semoga petugas pelaksana KRL juga cukup disiplin menjaga gerbong wanita agar tetap untuk wanita.
Nah, buat yang ngaku laki-laki, sudah jantankah kita untuk tidak egois dan siap membantu pelaksanaan gerbong wanita ini?
|
|
Jadi ingat kereta ekonomi Surabaya-Jakarata.
Filed under: Opini Tagged: gerbong wanita, krl, krl jabodetabek
Pelajaran dari Novel “The Christmas Shoes”
Posted by Charles
Sudah lebih dari 3 tahun berlalu sejak novel terakhir yang saya baca habis dari awal sampai akhir. Kemarin, rekor itu pecah. Saya menghabiskan sebuah novel setebal 198 halaman dalam waktu dua hari. Saya tidak bisa mengingat kapan terakhir kali saya menyelesaikan membaca sebuah buku dalam waktu dua hari.
Novel itu berjudul “The Christmas Shoes”, oleh Donna VanLiere. Novel yang dibuat berdasarkan lagu NewSong dengan judul yang sama tersebut, begitu menginspirasi saya.
Novel ini mengisahkan tentang kisah dua keluarga, keluarga Robert dan Nathan.
Robert adalah seorang ahli hukum yang sukses dan memiliki segalanya dalam hidup—sekaligus tak satu pun. Karena terlalu memusatkan diri pada keberhasilan pekerjaan dan materi, ia nyaris kehilangan pernikahannya. Ia tak lagi memperhatikan istrinya, Kate, kedua putrinya … dan akhirnya, dirinya sendiri.
Nathan yang berusia delapan tahun memiliki seorang ibu yang penuh kasih, yang menanti ajal karena kanker. Namun Nathan dan keluarganya membangun sebuah kehidupan yang sederhana tapi bermakna dan berjuang untuk menikmati setiap detik tersisa yang mereka miliki bersama.
Sebuah kesempatan pada malam Natal mempertemukan Robert dan Nathan—Robert berbelanja untuk keluarga yang tak lagi dikenalinya dan Nathan berbelanja untuk ibunya yang akan segera meninggalkannya. Dan setelah pertemuan itu, kehidupan mereka berubah selamanya. Robert menerima suatu pelajaran penting: terkadang hal-hal terkecil dapat mengubah segalanya.
Ada banyak bagian dalam novel ini yang menyentuh saya, dan banyak pelajaran yang dapat dipetik darinya. Saya akan membagikan satu bagian, saat Maggie, ibu Nathan yang menderita kanker rahim, mempersiapkan putranya yang akan segera ditinggalkannya. Bagian ini, meskipun agak panjang, tetapi sangat bagus dan mempunyai makna yang dalam. Berikut adalah cuplikannya.
…
Jack beranjak dari tempat duduknya, ia tahu apa yang ingin dikatakan istrinya. Mereka pernah membicarakan hal ini sebelumnya, bagaimana, apa, dan kapan harus memberi tahu Nathan. Keadaan Maggie begitu cepat memburuk. Baik Jack maupun Maggie tak pernah membicarakan soal waktu, namun mereka berdua sadar bahwa waktunya telah begitu mendekat.
“Tentu,” jawabnya sambil berjalan ke dapur.
“Bu Patterson selalu memikirkan sesuatu yang menyenangkan untuk kau lakukan,” Maggie berkata kepada Nathan. “Apa cerita yang harus kautulis beberapa minggu lalu yang amat kusukai itu?”
“Tentang katak?”
“Bukan. Ibu suka yang itu juga, tapi bukankah ceritanya mengenai bunga?”
“O, ya!” matanya bersinar. “Tentang apakah yang bunga-bunga pikirkan di bawah tumpukan salju.”
Maggie tersenyum melihat semangat besar putranya. Ia selalu suka membantu ibunya mengurus bunga. Ketika ia masih balita, Maggie menunjukkan titik hijau terkecil di tanah dan berkata, “Lihat, Nathan, ia mulai bertumbuh,” dan kemudian hari demi hari mereka menyaksikan bunga-bunga berkembang dan memekar sepanjang musim semi dan musim panas.
Maggie mengubah posisi duduknya dan berjuang keras menahan air matanya agar tidak keluar saat harus berbicara dengan putranya.
“Kau tahu, banyak hal yang akan terjadi pada minggu-minggu yang akan datang,” ia mulai perlahan-lahan. “Dan, banyak dari semua hal itu yang akan membuatmu bertanya-tanya.”
Nathan sudah mulai bertanya-tanya, dan wajahnya menunjukkan hal itu.
“Nathan,” ia menenangkan diri. “Suatu hari, ketika kau lebih dewasa kau mungkin ingin menyalahkan Allah karena membuatku sakit, namun Ibu tidak ingin kau melakukan itu.”
Nathan mengerutkan keningnya, kebingungan. Mengapa ibunya berbicara tentang keadaan sakitnya? Ia selalu beranggapan bahwa ibunya akan pulih karena mereka yang benar-benar sakitlah yang berada di rumah sakit.
“Ibu ingin kau selalu tahu bahwa Allah tidak membuatku sakit, Allah menolongku melalui sakit ini,” ia menghibur. “Ia memberiku kekuatan untuk bermain denganmu dan Rachel, serta menopang Ibu pada hari-hari yang sangat mengerikan.”
Nathan menundukkan kepalanya. Ia tidak suka bercakap-cakap tentang penyakit ibunya. Maggie berjuang untuk menemukan kata-kata yang tepat bagi anaknya yang berusia delapan tahun itu.
“Sebentar lagi,” ia berkata perlahan, “kau mungkin mendengar orang-orang dewasa berkata seperti, ‘Kasihan sekali, Allah memanggilnya pada usia begitu muda.’ Tapi mereka keliru, Nathan. Mereka keliru, dan Ibu tidak ingin kau mendengarkan mereka. Ketika mereka berkata sesuatu seperti itu, Ibu ingin kau selalu ingat apa yang baru kukatakan kepadamu saat ini. Allah tidak mengambil Ibu, Ia menerima Ibu.”
Dahi Nathan mengernyit saat ia memandang ibunya. Maggie menatap mata putranya yang ketakutan. Mungkin apa yang diceritakannya terlalu sukar untuk dipahami Nathan.
“Maksud Ibu di surga?” ia bertanya dengan suara nyaris berbisik.
Mendengar apa yang Nathan ucapkan, sungguh membuat hati Maggie pedih.
“Ya sayang, di surga.”
Nathan terdiam, Jack mendengarkan dari dalam dapur.
“Allah akan membawa Ibu ke surga?” Nathan bertanya dalam kebingungan.
“Tidak,” Maggie memastikan. “Ia tidak akan membawaku, Nathan. Ia akan membuka tangan-Nya dan menerima Ibu. Bedanya amat besar, dan Ibu selalu ingin kau mengingatnya.”
Nathan gelisah mendengar perkataan ibunya dan dengan perlahan bertanya, “Apa yang akan Ibu lakukan di sana?”
“Ibu bahkan tidak bisa membayangkannya,” Maggie berkata, suaranya terbata-bata. “Yang Ibu tahu, untuk waktu yang lama Ibu akan memandang Allah dan senantiasa bersyukur kepada-Nya karena mengirimkan Yesus pada hari Natal, dan untuk kehidupan yang diberikan-Nya kepada Ibu di sini bersamamu. Di sana tentu amat indah, Nathan, hingga Ibu bahkan tidak mampu mulai berpikir apa yang akan Ibu lakukan. Tapi Ibu tahu Ibu tidak akan sakit lagi.”
Nathan menatap ibunya. Maggie tersenyum. “Ibu akan benar-benar sehat dan Ibu akan berlari dan melompat dan bermain dan menari seperti yang biasa Ibu lakukan bersamamu sebelum jatuh sakit.”
Nathan tercenung lama memikirkan semua ini. Ia tidak suka membicarakan hal ini dengan ibunya. Ia tak suka karena semua ini memengaruhi perasaannya.
“Apakah ada binatang di sana?” akhirnya ia bertanya dengan rasa ingin tahu.
“Binatang-binatang terindah yang pernah Ibu lihat,” Maggie menjawab dan anaknya terpesona. “Binatang-binatang yang Allah ciptakan di dunia ini buat kita tidak sebanding dengan binatang-binatang di surga. Zebra dan jerapah? Mereka akan terlihat seperti kucing biasa dibandingkan binatang-binatang di surga.”
“Dan, tak satu pun dari mereka yang galak bukan?” Nathan bertanya penuh selidik.
“Tidak. Tak satu pun yang galak. Mereka lembut dan indah, dan kau bisa menaiki mereka dan bermain dengan mereka sepanjang hari.”
“Apakah jalanan benar-benar terbuat dari emas?”
Maggie tersenyum.
“Jalanan terbuat dari emas dan akan ada sungai-sungat dan air terjun yang indah, dan dataran yang paling indah yang pernah Ibu lihat.”
“Bunga-bunga akan tampak jauh lebih cantik daripada milik Ibu?” ia bertanya, terkejut.
“Lebih cantik daripada milik Ibu,” Maggie tertawa. “Bunga-bunga dan pohon-pohon jauh lebih cantik dari apa pun yang pernah Allah ciptakan di dunia ini.” Ia berhenti dan membiarkan Nathan merenungkan apa yang baru saja ia katakan.
“Apakah Ibu akan bertemu dengan Kakek di sana?” akhirnya ia bertanya sembari menatap kakinya yang terayun.
“Ya,” ia tersenyum. “Ia akan berada di pintu gerbang menanti Ibu.” Mata Maggie dipenuhi air mata, dan ia memalingkan kepalanya.
Nathan berpikir selama beberapa saat, berhenti mengayun kakinya, dan kemudian bertanya dengan lemas sambil memandang kakinya, “Mengapa Ibu harus pergi?”
Di dapur, Jack membenamkan kepalanya ke dalam lengannya.
“Karena Ibu sakit dan Ibu tidak bisa membaik lagi,” Maggie menjawab dengan lembut.
“Apakah aku bisa pergi bersama Ibu?” ia bertanya, takut dengan apa yang baru saja dikatakan ibunya. Maggie meremas sprei dan memutarnya, air mata menggenangi matanya.
“Tidak, sayang, kau tidak bisa pergi bersama Ibu.”
Air mata Nathan menetes, membasahi wajahnya saat ia menubruk dan memegang erat ibunya. “Aku tidak mau Ibu pergi tanpa aku,” ia menangis terisak.
Maggie melingkarkan tangannya ke punggung putranya. Dalam waktu yang singkat, ia tidak akan punya kekuatan untuk melakukannya lebih lama. Ia memeluk Nathan lebih erat.
“Ibu tidak ingin pergi tanpamu juga,” ia berkata, air mata menetes deras di wajahnya. “Ibu mau memberikan apa saja di dunia ini untuk tinggal bersamamu, tapi Ibu tidak bisa. Ibu harus pergi.”
“Tidak Ibu—tidak!” anak kecil itu memohon, jari-jemarinya yang mungil mencengkeram erat tubuh ibunya. “Aku tidak mau Ibu meninggalkan aku.”
Maggie mengusap wajahnya dan menarik Nathan lebih dekat, lalu menyeka air matanya.
“Hanya karena Ibu akan pergi tidak berarti Ibu tidak akan selalu bersamamu,” ia berkata sejuk. Saat bibir bawahnya mulai gemetar, Maggie tahu bahwa Nathan jelas tidak memahami apa yang baru saja dikatakannya. Ia memegang lembut wajah Nathan dengan kedua tangannya.
“Ibu mungkin tidak ada di sisimu, namun Ibu akan selalu berada di sini,” ia berkata sambil menyentuh dada putranya.
“Di situlah ayah dan Ibu hidup setelah ia pergi ke surga, dan di situlah Ibu akan selalu hidup di dalammu, di dalam hatimu.”
Anak kecil itu membaringkan kepalanya di dada ibunya dan Maggie dengan lembut mengusap punggung putranya.
“Ibu ingin kau selalu tahu,” ia berbisik kepadanya, “bahwa kegembiraan yang terbesar dalam hidupku adalah menjadi ibumu.” Ia mengarahkan wajah Nathan menghadap wajahnya dan mencium keningnya. Sambil menatap matanya, ia berdoa agar Nathan akan selalu mengingat malam ini. Agar suatu hari, hal ini akan memberi rasa damai kepadanya—agar hal ini akan memberinya harapan di hari Natal.
Ia memeluk erat Nathan, menciumi setiap bagian wajahnya hingga anak itu menggeliat dan mulai tertawa kegelian. “Kau sebaiknya bersiap untuk tidur, Anak Muda.”
Jack berdiri di dapur, mengusap matanya dengan lap piring sebelum berjalan ke ruang keluarga. Ia tidak ingin anaknya melihatnya menangis, yang akan semakin membuatnya makin berpikir. Namun mungkin ada baiknya membiarkan Nathan melihatnya menangis, untuk menunjukkan bahwa hal itu diperbolehkan, bahwa semua orang bisa menangis.
“Kembalilah ke kamarmu, Nathan,” kata Jack, “dan Ayah akan segera ke sana untuk menemanimu.”
“Ibu sayang kamu,” kata Maggie sambil mencium anak kecil itu lagi.
“Aku sayang Ibu juga,” ia menjawab dan memberinya ciuman selamat malam.
Nathan berjalan sendirian di lorong, tanpa sadar bahwa percakapan tadi suatu saat akan memberi pengaruh kepadanya.
Sebuah luapan perasaan tampak di wajah Maggie. Jack dengan penuh kasih mencium matanya dan mengusap air matanya. Ia akan berusaha menjelaskan semuanya kepada Nathan, suatu hari kelak saat ia makin dewasa. Ia akan menjelaskannya terus-menerus, hingga Nathan memahaminya.
Bagian lain, yang sangat menyentuh, tentunya adalah pertemuan Robert dan Nathan di malam Natal. Hal yang paling baik untuk dapat menggambarkan bagian ini adalah dengan menikmati lagu “The Christmas Shoes” karya NewSong berikut.
Pesan akhir dalam novel ini berkata: “Jika kita bersikap terbuka, Allah dapat memakai bahkan hal terkecil pun untuk mengubah kehidupan kita … untuk mengubah kita. Mungkin hal itu adalah seorang anak yang tertawa, rem mobil yang membutuhkan perbaikan, obral daging panggang, langit tak berawan, sebuah perjalanan ke hutan untuk menebang pohon Natal, seorang guru sekolah dasar, … atau bahkan sepasang sepatu. Sebagian orang tak akan pernah percaya. Mereka mungkin merasa bahwa hal-hal itu terlalu sepel, terlalu sederhana, atau terlalu tak berarti untuk selamanya mengubah sebuah kehidupan. Namun aku percaya, dan akan selalu percaya.”
Ya, saya pun percaya novel ini bisa menjadi alat yang dipakai Allah untuk menyentuh dan mengubah kita.
Terakhir, saya akan membagikan lirik lagu “The Christmas Shoes” yang menjadi inspirasi bagi Donna VanLiere.
It was almost Christmas time, there I stood in another line
Tryin’ to buy that last gift or two, not really in the Christmas mood
Standing right in front of me was a little boy waiting anxiously
Pacing ’round like little boys do
And in his hands he held a pair of shoesHis clothes were worn and old, he was dirty from head to toe
And when it came his time to pay
I couldn’t believe what I heard him sayChorus:
Sir, I want to buy these shoes for my Mama, please
It’s Christmas Eve and these shoes are just her size
Could you hurry, sir, Daddy says there’s not much time
You see she’s been sick for quite a while
And I know these shoes would make her smile
And I want her to look beautiful if Mama meets Jesus tonightHe counted pennies for what seemed like years
Then the cashier said, "Son, there’s not enough here"
He searched his pockets frantically
Then he turned and he looked at me
He said Mama made Christmas good at our house
Though most years she just did without
Tell me Sir, what am I going to do,
Somehow I’ve got to buy her these Christmas shoesSo I laid the money down, I just had to help him out
I’ll never forget the look on his face when he said
Mama’s gonna look so greatSir, I want to buy these shoes for my Mama, please
It’s Christmas Eve and these shoes are just her size
Could you hurry, sir, Daddy says there’s not much time
You see she’s been sick for quite a while
And I know these shoes would make her smile
And I want her to look beautiful if Mama meets Jesus tonightBridge:
I knew I’d caught a glimpse of heaven’s love
As he thanked me and ran out
I knew that God had sent that little boy
To remind me just what Christmas is all aboutRepeat Chorus
Semoga lagu dan kisah ini dapat memberkati Anda semua.
Mari kita perhatikan hal-hal kecil di sekitar kita sebagai anugerah Allah untuk kita.
Tuhan memberkati kita semua.
Charles Christian
*Sumber kisah: Novel “The Christmas Shoes”, oleh Donna VanLiere, Gradien Books, 2005, p.123-131.
Setiap peristiwa, besar atau kecil, merupakan sebuah perumpamaan yang melaluinya Allah berbicara kepada kita, dan seni kehidupan adalah bagaimana mendapatkan pesannya.
- Malcolm Muggeridge -
when he’s sick, he got some sleep, and he’s still adorable
Posted by Anna
upacara bendera
Posted by nisaihsani
Biasanya yang jadi petugas upacara digilir per kelas. Inget banget dulu pas SD, Abang pernah jadi komandan upacara. Saya dari barisan peserta upacara dengan bangganya bilang ke temen-temen, "eh itu abang gua loh". Saya sendiri paling mentok jadi pembaca Janji Siswa. Pernah juga baca Dasa Darma Pramuka pas lagi upacara pramuka, wekeke.
Yang pasti saya ga pernah jadi pengerek bendera (eh, sebutannya itu bukan sih?). Dulu pernah disuruh latihan, tapi selalu bingung milih ujung-ujung bendera yang terlipat. Pas ditarik, benderanya jadi melintir. Ditambah lagi, berjalan kaki kanan tangan kiri - kaki kiri tangan kanan adalah tugas luar biasa sulit buat saya. Setelah beberapa langkah pasti jadinya kaki kanan tangan kanan - kaki kiri tangan kiri.
Belum lagi kalau lupa bawa topi pas hari Senin. Langsung deh sibuk nyari pinjeman. Atau kalau benderanya keburu sampai puncak tiang sebelum lagunya selesai. Hehe, kayanya seumur hidup ga bakal merasakan upacara bendera lagi nih.
gambar untuk ibu
Posted by nisaihsani
Yang pertama adalah (ceritanya) gambar tangan lagi nulis. Arsiran tangannya masih kurang rapi nih.
| 1 |
Yang kedua juga niru, karena saya nemu gambar siluet bunga bagus. Sayangnya ketika digambar ulang jadi ga terlihat terlalu bagus. Batangnya ketebelan.
![]() |
| 2 |
Kalau gambar ketiga terinspirasi dari cover To Kill A Mockingbird 50th Anniversary Edition (yaaa, saya beli, padahal udah punya terjemahannya, dan padahal duit udah hampir abis).
| 3 |
Yang ini juga hasil mencari inspirasi (baca, gambar ulang) dari beberapa gambar yang saya temukan, hehe.
| 4 |
Gambar yang ini, ampun deh, susah betul menggambar orang lagi mendongak.
| 5 |
Lampu jalan adalah salah satu benda yang paling saya sukai di bumi ini. Sayangnya gambar lautnya fail berat. Dan berhubung gambarnya pake pulpen, ga bisa di-undo. Males gambar ulang, hehe.
| 6 |
Nah kalau ada yang baca postingan ini, mohon komentarnya. Saya ngerasa gambar dan tulisannya masih kurang nyambung. Soalnya saya lebih dulu mutusin tulisannya, terus baru deh maksain disambung-sambungin sama gambar bagus yang saya temuin, hehe.
Do’a Yang Tanpa Hijab
Posted by Aulia

Ilustrasi: 2lisan.com
DALAM sehari semalam, bagi kita yang muslim akan terus berada dalam indahnya bertemu dengan sang Pencipta minimal lima kali, namun belum lagi jika ibadah yang sunnah lain kita kerjakan.
Bertepatan dengan bulan Ramadhan, seluruh pintu kebaikan untuk memperbanyak amal sangat terbuka, dari mulai amal yang sunnah diganjar dengan pahala yang wajib, keutamaan-keutamaan dalam berpuasa bahkan dengan do’a-do’a yang senantiasa akan diijabah oleh Allah SWT.
Nabi Musa dengan segala mukjizat yang telah diberikan Allah, baik itu diberikan kemudahan untuk menyembuhkan orang yang sakit, menghidupkan orang yang sudah meninggal bahkan sekali pun bisa berbicara dengan Allah SWT, walaupun pembicaraannya itu terhalang dengan tujuh pulu ribu hijab (pembatas).
Namun, Allah dengan segala sifat penyayang-Nya masih memberikan salah satu keutamaan untuk umat Muhammad SAW sampai akhirnya zaman, yakni kenikmatan di bulan Ramadhan seperti sekarang ini.
Nabi Musa pernah mempertanyakan pada Allah, tentang mukjizatnya yang bisa berbicara langsung dengan Allah untuk memohon apa saja, “Apakah ada hamba Mu Ya Allah nantinya yang lebih dekat dengan Mu saat berdo’a tanpa hijab yang membelenggu seperti apa yang sudah Engkau berikan padaku?” tanya Musa.
Lalu Allah pun menjawab, “Ada wahai Musa, nanti suatu saat akan ada sebuah umat, mereka orangnya kecil-kecil, dan mereka itu adalah umat Muhammad. Jika tiba bulan Puasa, akan Ku kabulkan do’a-do’a mereka saat sesudah mereka berbuka, karena pada waktu itu ku hapuskan hijab antara Ku dengan umat Muhammad tanpa ada sesuatu apa pun.”
Bergumamlah Musa dalam hatinya, dan serta merta memohon pada Allah untuk diberikan padanya kemudahan menjadi pengikut umat Muhammad, tapi Allah telah menetapkan Musa untuk kaumnya bani Israil dengan segala mukjizat yang telah dimilikinya.
Inilah momen yang sangat bernilai hargainya saudara-saudaraku, kita sebagai pengikut umat Nabi Muhammad, sudah sepatutnya tidak menyia-nyiakan apa yang telah Allah janjikan untuk umat-Nya ini.
Mari luangkan waktu sejenak saja, ditengah banyaknya makanan yang setianya menggoda ada di depan mata saat mau berbuka, haturkan do’a yang sebaik-baiknya pada Rabb mu. Hadiahkan do’a tersebut setelah membaca do’a berbuka, semoga Allah mengabulkan do’a umat pengikut Nabi Muhammad SAW. Amiin[]
Inilah beberapa petikan dari khutbah Jum’at serta beberapa ceramah pada malam Ramadhan yang sering diingatkan kepada para jamaah oleh khatib dan juga penceramah. Semoga bisa berguna bagi kita semua, jika ada kurang dan khilaf mohon untuk dikoreksi.
Filed under: Agama, Renungan Tagged: Doa, Hijab, Khutbah Jum'at, Muhammad SAW, Puasa, Ramadhan, Umat
perihal lengan baju
Posted by nisaihsani
Mau komentar sedikit, hehe. Berdasarkan pengamatan saya, kok sepertinya semakin banyak wanita berjilbab yang memakai baju dengan lengan semakin pendek ya?
Awalnya, baju dengan lengan 3/4. Entahlah, mungkin karena dianggap tanggung, toh sudah mendekati lengan panjang, jadi ga usah pake manset lengan deh. Tapi lama kelamaan kebiasaan ini berlanjut untuk baju dengan lengan yang lebih pendek. Jaman sekarang wanita berjilbab dengan lengan baju cuma sampai siku sudah jadi pemandangan awam.
Hehe, emang ga biasanya yah saya komentar beginian. Sebagian karena saya sadar sebagai muslimah, cara berpakaian saya masih jauh dari sempurna. Tapi tapi tapi. Di jaman yang edan ini, bukankah dengan menggunakan jilbab berarti setidaknya kita sudah membuat awal yang baik? Lalu apa susahnya sih menyambung lengan baju sedikit supaya bisa menutup aurat dengan sempurna?
Buat saya sendiri, rasanya ga nyaman kalau memakai baju dengan lengan ga penuh (contohnya batik Tanah Abang langganan orangtua) tanpa memakai manset lengan lagi. Alasannya karena 1) ga rapi, 2) malu. Coba bayangkan, dari atas sudah tertutup, bawahnya juga, tapi lengannya terbuka. Ga rapi kan? Di samping itu, rasanya malu mempertontonkan bagian tubuh yang seharusnya tertutup.
Mungkin hal ini sepintas terlihat sederhana, tapi bagaimanapun, lengan kita kan termasuk aurat yang perlu ditutup. Manset lengan bisa didapat dengan harga sangat murah dan warna sangat beragam kok. Jadi, mari menutup lengan! *wekeke, apasih*
~hanya pendapat seseorang yang sedang berusaha menjadi muslimah sejati.
ICSIIT 2010
Posted by heningsept
Jika Aku Menjadi
Posted by heningsept
my brother in his childhood
Posted by nisaihsani
Pencari JalanMu
Posted by lenidisini
Halo.. halo..
Sudah lama rasanya gak update blog ini.. Mungkin ini diakibatkan oleh standar tulisan yang aku buat sendiri hehehe (-__-!)
Di awal, aku pernah berjanji tidak akan mengisi blog ini dengan hal-hal yang bersifat emosional lagi. Padahal sebenarnya, hal-hal yang berkaitan dengan emosi manusia itulah yang paling mudah dijadikan bahan tulisan. Setuju?
Tapi, tiba-tiba pengen deh, nulis yang “ringan-ringan” lagi. Mungkin untuk sesekali. Karena sulit juga rasanya menumpuk hal yang ingin dituliskan dan diekspresikan hanya dalam hati, hanya oleh diri sendiri. Semoga saja, sih apa yang di-share kali ini berguna juga.. Paling tidak untukku *sebagai pengingat* (^__^)
Anyway, thanks ya untuk Renny Wijayanti, yang dulu pernah belajar bersama-sama dalam satu lingkaran kecil. Sekarang, aku belajar dari kamu, Ren. Terimakasih sudah mengingatkan lagi walaupun tidak langsung
* * *
Oya, hmm di postingan kali ini cuman pengen share sebuah lirik lagu yang pernah sangat aku sukai.. Dan lagu ini benar-benar menggambarkan keadaan dan keinginanku saat ini.. Pencari JalanMu by Afgansyah Reza
Telah banyak yang kulewati
Jalan hitam di dunia
Tak terhitung setelah menodai
Masihkah ada kesempatan
Bagiku mendekatkan
Hati dan cinta kasihMu
Reff:
Kuingin bersihkan diriku
Dari segala dosa
Yang telah kuperbuat hingga kini
Kuingin bersihkan jiwaku
Terangilah dengan segala
Petunjuk jalanMu
Tiada yang ada selainMu
Yang selalu menjagaku
Meski kadang tinggalkanMu
Aku hanyalah manusia
Yang mencari jalanMu
Yang pasti kembali padaMu
* * *
Semoga aku tetap berada di jalanNya.. :’)
Antara Berpacaran & Menyegarkan Pernikahan (dari blog Renjay :))
Posted by heningsept
Ramadhan 1431
Posted by heningsept
another Ramadhan coming
Posted by nisaihsani
bands are playing religious songs,
supermarkets are displaying stacks of nata de coco,
theaters are nearly empty from visitors,
weekends are reserved for buka puasa with friends.
Yey!
I myself see this Ramadhan a little differently. Somehow I get back all the enthusiasm and excitement. I'm in the beginning of several projects like finishing Quran and memorizing some longer surahs and of course trying to lose weight, too. Not very long after this holy month ends, I will leave home so I'm currently working on a secret project, too, hehe.
In Ramadhan we gain back that piece of togetherness that once was lost. We rush to the mosque to do shalat tarawih, we smile at each other and keep our temper low, we give to those who aren't as lucky. Happy fasting!
Ingin Disukai Orang Lain? Belajarlah Menyukai Orang Lain!
Posted by Charles
Egois sudah menjadi sifat dasar manusia. Setiap orang cenderung akan lebih memperhatikan dirinya sendiri dibandingkan orang lain. Salah satu contohnya, jika kamu melihat sebuah foto, siapakah yang akan pertama kali kamu cari? Jika kamu ada di dalam foto itu, kemungkinan besar yang kamu cari pertama kali adalah dirimu sendiri. Kenapa? Karena kamu ingin meyakinkan dirimu kalau kamu tampil baik di foto itu, atau jika kamu tampil jelek, kamu akan mencoba untuk mencegah foto itu untuk dilihat orang lain.
Jika kita menawarkan sesuatu kepada orang lain, seringkali kita hanya melihat kepentingan kita sendiri. Kita tidak memperhatikan kebutuhan orang yang kita tawarkan. Seringkali inilah yang menjadi masalah orang yang kita tawarkan menolak tawaran kita. Mereka berpikir, “Apa hubungannya denganku? Apa untungnya bagiku? Kenapa aku harus melakukan ini?”
Hal yang sama terjadi ketika kita mengobrol. Seringkali kita berbicara tentang diri kita. Kita menjadi semangat kalau kita sedang membicarakan topik yang kita sukai, atau tentang diri kita. Namun, ketika tiba saatnya untuk mendengarkan orang lain yang bercerita tentang dirinya dan hal yang dia sukai, kita menjadi kurang antusias. Padahal, itu adalah kesempatan kita untuk mengambil hati lawan bicara kita. Mereka akan senang kalau kita senang mereka berbicara tentang diri mereka.
Sekarang saya belajar, bahwa saya juga harus memperhatikan kepentingan orang lain, kebutuhan orang lain, dan jangan menjadi terlalu egois. Dengan memperhatikan kepentingan orang lain, kita bisa membuka pintu kerja sama dan komunikasi yang lebih baik lagi.
Presentasi-presentasi di 10 by 10 Forum Web Anak Bandung (FOWAB)
Posted by ilmanakbar
Dua kali gw ke Bandung untuk dateng di acara komunitas penggiat Internet Bandung bernama FOWAB (Forum Web Anak Bandung), alhamdulillah gw dikasih kesempatan untuk turut serta di sana lebih dari sekedar peserta acara.
Jadi, FOWAB itu punya sesi 10 by 10 (10 slide dalam 10 menit), yg diperuntukkan bagi para peserta acara untuk sharing sesuatu kepada peserta yang lain, sebelum pembicara utama sharing. Istilahnya, 10 by 10 ini tuh kaya band pembuka, sebelum band utamanya dateng.
Nah, di sini gw share presentasi yg 2x gw bawain di sana. Pertama itu tanggal 21 Mei 2010, gw share tentang ajakan buat jadi pengusaha Internet. Yang kedua tuh akhir bulan lalu, 31 Juli 2010, gw share tentang anakUI.com. Enjoy!
Harvest Moon
Posted by Meri
Tau Harvest Moon? Ga tau?

Itu lho RPG (Role Playing Game) yang kita jadi karakter petani yang punya pertanian. Saat awal, kita akan dibekali dengan sebuah kebun kosong terbengkalai, sebuah kandang sapi dan domba, kandang ayam, kandang kuda, kandang anjing (ini sih ga kepake), dan kolam ikan. Semuanya masih kosong melompong. Nah tantangan bagi pemainlah untuk mengembangkan pertaniannya jadi makmur sentosa dengan bekal uang 500 Gold.
Selain bertanam dan beternak, pemain juga bisa menambang logam mulia di dua buah tambang yaitu waterfall mine dan winter mine. Selain itu, pemain juga harus bersosialisasi dengan penduduk desa lainnya. Pemain juga bisa mengejar gadis yang disukainya lalu nikah dan punya anak, asyik kan
.Trus juga ada festival2 seru di Mineral Village tersebut seperti Swimming Festival (bleh, ini susah menanginnya, keburu kehabisan napas mulu), Cooking Festival, Thanksgiving Festival (para gadis ngasih hadiah coklat atau kue coklat tergantung tingkat kesukaannya terhadap karakter pemain), Horse Race Festival, Tomato Festival (main perang2an pake peluru tomat) dll. Permainan ini berlangsung selama 3 tahun, dimana masing2 tahun terdiri dari 4 musim (spring, summer, fall, winter). Setiap musim memiliki jenis tanaman yang berbeda, festival serta event yg berbeda. Di akhir tahun ketiga, karakter pemain akan dievaluasi keberhasilannya. Bila dianggap sukses, bisa memiliki pertanian itu dan sebaliknya bila gagal, harus pergi.
Oh, I love this game. Dulu pas SMA mainnya di PS, sekarang di komputer. Seru aja, mulai dari modal minim sampai udah punya hothouse (rumah kaca yang berarti udah sukses dan punya banyak duit). Permainan ini memang seru banget. Bertanam, menambang, menghadiri festival, mengejar wanita, memberi hadiah villagers yang ultah, trus event2 lainnya. Senengnya hati ini saat keluar rumah di pagi hari dan mendapati tanaman udah bisa dipanen. Juga saat duit udah cukup buat beli ayam atau sapi atau domba pertama
Namun, memasuki pertengahan tahun kedua, permainan mulai berjalan monoton. Karena biasanya pemain udah memiliki hampir semuanya seperti rumah dan kandang semua sudah diupgrade, hothouse udah ada. Sapi, domba, dan ayam udah maksimal, plus duit ga habis2. Dulu nyari duit supaya bisa beli bibit, beli ternak, upgrade rumah, atau beli hadiah buat hadiah ultah para villagers. Sekarang saat duit udah kebanyakan dan ga ada yang bisa diraih, main jadi kurang menggairahkan.
Itulah yang saya rasakan sekarang. Sekarang main sampe winter tahun kedua, but kerjaan cuma ngecek ternak dan nyiram tanaman di hothouse trus tidur. Lalu kenapa masih mau mainin? Karena saya belum nikah dan punya anak hehe
Harvest Moon lebih seru di saat2 berusaha, saat2 pemain bisa liat kemajuan yang diusahakannya dan bahagia karenanya, walaupun hanya sepetak terong yang panen hari itu.
Saya jadi kepikiran, hidup di dunia nyata juga gitu. Kalo kita udah punya semua yang kita inginkan, tak ada lagi yang bisa diraih, tak ada lagi gunung yang lebih tinggi untuk didaki, hidup akan terasa monoton, kurang menggairahkan.
Ada sepotong kisah di buku The Alchemist tentang seorang bapak yang membuka toko kristal di jalur yang dilalui orang-orang yang ingin ke Mekah untuk berhaji. Sengaja beliau membangun toko disana supaya bisa melihat orang-orang yang berangkat haji dan terbakarlah semangatnya untuk mengumpulkan uang berangkat haji. Oh, betapa dia ingin berangkat haji, berkumpul bersama saudara2 seiman yang mengagungkan AsmaNya, mencium Hajar Aswad dan beribadah di Masjid Haram (saya juga pueengen :’-( ). Akhirnya uang yang terkumpul cukup untuk berangkat haji, namun hatinya tiba2 diliputi keraguan. Berhaji selama ini adalah passion-nya yang terdalam, yang mendorongnya bangun pagi dan menggosok gelas2 kristalnya satu persatu hingga mengkilap untuk menarik hati pembeli. Namun, saat kesempatan itu sudah di depan mata, dia ragu. Dia takut. Dia takut bila dia sudah berhaji, sudah mendapatkan apa yang selama ini menjadi impiannya, dia sudah tidak punya semangat lagi untuk melanjutkan hidupnya dan bekerja. Berhaji selama ini adalah keinginan yang memantik semangatnya untuk hidup.
Sama halnya dengan Harvest Moon tadi. Saat saya sudah memiliki semua yang diinginkan dan duit ga abis2, jadi ga semangat. Buat apa lagi maen? So, syukuri apa yang kamu punya saat ini dan apa yang belum kamu punya, Mer. Lihat perkembangannya, kecil saja tak apa.
~ sebuah renungan di bulan Agustus 2010 yang istimewa karena 3 hal :1. bulan penuh berkah karena Ramadhan, 2. insya Allah kedatangan sang malaikat kecil serta 3. insya Allah tercapainya satu milestone dalam keluarga kecil ini. Amin. Alhamdulillah.
a few sketches
Posted by nisaihsani
And this is a picture of two people growing old together, in a typical Sunday afternoon with rays of sunshine and frames of memories.
And once in a while, they would go to the park and spend an evening there.
This one came when I reread the book Surat Untuk Raja, the part where Tuiri and Piak rode in Perbukitan Rembulan. Actually, I did not picture it like this. I imagined there would be hills with rocks and bushes of flowers and the moon would shine brightly. But it's so hard to color them all in a night shade, so I simplified the image like the picture below.
Since I was not familiar with horse, I had to look for a reference here. But you can see the rider is much too big for the horse. And the badly-shaped moon looks like a yellow cookie.
Some books have very good illustrations. I remember those in the beginning of each chapter in Harry Potter series (not in Bloomsbury editions though). I used to redraw Rita Skeeter, Durmstrang Ship, and the Hog's Head. I found this one from the book the Miraculous Journey of Edward Tulane (a very highly recommended book, if you're into touching stories and awesome illustrations). This is my sketch:
The shading was unbelievably hard! For the comparison, this one is the photo of the original illustration from the book.
Despite the results, I think I really enjoy drawing now.
Jakarta: Kota Penuh Keajaiban
Posted by Charles
Jakarta adalah tempat yang sangat baik untuk menguji kesabaran Anda. Kalau tidak percaya, cobalah bawa mobil Anda melintasi jalan-jalan di Jakarta selama sehari penuh. Ketika hari berakhir, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Kemungkinan pertama adalah Anda akan menjadi orang yang lebih sabar. Kemungkinan kedua adalah Anda akan bersumpah tidak akan pernah naik mobil lagi di Jakarta.
Saya masih ingat kata-kata seorang kolumnis harian Kompas berikut: “In Jakarta, every second is a miracle.” Wow! Ini benar sekali…
Lihatlah angkot yang tiba-tiba menepi dari kecepatan 80 km/jam tanpa memberi sen (karena memang lampu sennya rusak).
Lihat pula motor-motor yang tiba-tiba datang dari arah berlawanan, arah yang sama sekali tidak pernah Anda duga, sampai-sampai Anda mengira motor itu seperti ninja yang bisa menghilang dan muncul kembali (akhirnya saya tahu kenapa ada sebutan ‘motor ninja’). Dan cobalah Anda perhatikan motor itu dengan pengendaranya. Tidak ada helm. Tidak ada kaca spion. Yang ada hanya telepon di telinganya. Ya! Dia sedang telepon… (ide siapa yang mengatakan telepon bisa menggantikan helm!?).
Perhatikan mobil-mobil yang lebih suka menerobos trotoar untuk memutar balik daripada berputar di putaran yang disediakan 100 m di depan mereka. Untuk yang satu ini, tampaknya yang mereka butuhkan hanya kacamata yang lebih tebal. Entah bagaimana dengan kacamata mereka yang sekarang, trotoar terlihat seperti putaran. Sangat absurd memang.
Dahulu, lampu merah berarti berhenti. Lampu kuning berarti hati-hati dan saatnya memperlambat kendaraan. Lampu hijau berarti jalan. Sekarang, lampu merah berarti maju sebanyak-banyaknya asal ga ketabrak (kalau kebetulan jalan kosong, lampu merah berarti jalan). Lampu kuning berarti saatnya mengebut. Lampu hijau berarti saatnya klakson dibunyikan. Taruhlah orang buta di persimpangan lampu merah. Saya yakin, orang buta itu pasti tahu kapan lampu berubah menjadi hijau. Gampang saja, dia tinggal mendengar saat klakson paling banyak dibunyikan. Lalu, bagaimana kalau lampu mati? Ah, itu sudah pasti artinya jalan…
Pejalan kaki pun tidak mau kalah. Meskipun zebra cross cuma berjarak 10 meter, rasanya mereka lebih suka tidak menyeberang di zebra cross. Mungkin mereka pecinta zebra yang menganggap dengan menginjak zebra cross, mereka sedang menginjak-injak martabat kaum zebra (maaf kalau saya agak jayus…). Belum lagi pejalan kaki yang berjalan dengan santainya menyebrangi keluaran jalan tol, di mana puluhan mobil dan truk yang keluar dari tol melalui jalan itu dengan kecepatan 80 km/jam. Mereka benar-benar mempunyai iman yang sangat besar dengan rem mobil-mobil dan truk-truk tersebut.
Dan, apakah Anda mau tahu keajaiban yang terjadi? Mereka semua bisa bertahan dengan keadaan ini, sehari, sebulan, setahun, bahkan sampai bertahun-tahun lamanya. Benar yang dikatakan kolumnis Kompas tersebut. Keajaiban terjadi setiap detik di Jakarta.
Keajaiban terjadi ketika angkot dapat menepi tiba-tiba dari kecepatan tinggi tanpa menubruk tiang listrik (atau ditubruk angkot lain).
Keajaiban terjadi ketika mobil-mobil dapat seketika berhenti dan tidak menabrak motor yang bahkan muncul bagaikan ninja.
Keajaiban terjadi ketika pejalan kaki dapat membagi jalan mereka di trotoar bersama mobil dengan akurnya.
Keajaiban terjadi ketika tabrakan dapat terhindarkan di persimpangan bahkan ketika semua pengendara dari berbagai arah berpikir “ini saatnya jalan” setelah melihat lampu lalu lintas yang mati.
Keajaiban terjadi ketika para pejalan kaki melihat truk berhenti 5 meter di samping mereka, dan mereka dapat berkata, “Aha! Rem truk itu baik sekali…”
Keajaiban terjadi setiap detik di Jakarta. Bagaimana mungkin Anda tidak bersyukur tinggal di kota yang penuh keajaiban ini?
Keajaiban memang terjadi. Tetapi saran saya, jangan menggantungkan diri Anda pada keajaiban. Bagaimana jika suatu saat keajaiban tidak terjadi? Itulah yang disebut dengan kecelakaan. Semoga Anda tidak perlu mengalaminya, untuk membuktikan peraturan lalu lintas itu baik adanya.
Patuhilah peraturan.
Ciptakanlah keajaiban Anda sendiri.
Bersyukurlah Anda tinggal di Jakarta, kota penuh keajaiban.
Tuhan memberkati kita.
Charles Christan.











