Jul 28

Sebuah Berita Mengejutkan Di Pagi Hari

“Ko, kayanya nanti saya ga kaer (kebaktian remaja) dan pembinaan deh… Rumah saya kebakaran!”

SMS itu masuk ke dalam inbox handphone saya pada hari Minggu kemarin, 25 Juli 2010 Pk 03:21 dini hari. Pengirimnya? Kurniawan, seorang anak bimbingan saya di gereja.

Saya baru membaca SMS itu ketika saya bangun jam setengah 6 pagi. Hampir saja saya menjatuhkan handphone saya saat membacanya. Saya langsung mencoba menghubungi dia.

Sia-sia. Handphone-nya tidak aktif. Saya malah menjadi bertambah khawatir. “Oh Tuhan, apa yang terjadi dengannya?”

Saya sungguh bergumul saat itu. Pagi itu, saya ada janji pergi dengan teman saya. Tapi, saya tidak akan mungkin dapat meninggalkan anak bimbingan saya dalam keadaan yang belum jelas dan sangat membuat saya khawatir. (Sebenarnya saya malu mengakui bahwa awalnya saya masih ragu-ragu untuk membantu anak bimbingan saya sendiri, tapi saya ingin bercerita dengan jujur). Kebingungan saya terjawab beberapa menit kemudian di kamar mandi saya.

Saya sedang mandi ketika saya bertanya kepada Tuhan di dalam hati saya, “Tuhan? Apa yang harus saya lakukan?” Dan saya percaya, Tuhan menjawabnya ketika ada sebuah suara yang saya rasakan sangat jelas di dalam hati saya: “Datanglah ke sana…”.

“Tapi Tuhan, apa yang bisa saya lakukan di sana?” Saya tidak pernah membantu orang yang mengalami musibah kebakaran sebelumnya. Meskipun di satu sisi saya sangat ingin membantu, di sisi lain saya merasa bingung dan tidak nyaman.

Semua keraguan saya sirna ketika suara itu bergema lagi di dalam hati saya: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.”

Singkat cerita, akhirnya saya membatalkan janji dengan teman saya. Dan saya pergi, ke lokasi kebakaran itu. Saat itu, saya sama sekali tidak tahu, bahwa Tuhan akan memberi saya berkat yang melimpah di sana.

Datang Ke Lokasi Kebakaran

Rumah Kurniawan, anak bimbingan saya tersebut, ada di daerah Tambora. Di sepanjang perjalanan, saya berdoa untuk keselamatan Kurniawan.

Saya pun sampai di depan gang dekat rel kereta api Bandengan. Saya melihat beberapa mobil pemadam kebakaran berjejer, dan banyak orang berkerumun. Saya mencoba untuk masuk ke dalam gang.

Saya melihat rumah-rumah yang berdempet-dempetan sepanjang gang itu. Saya melihat banyak orang berkerumun. Setelah saya agak jauh masuk ke dalam gang, saya mulai melihat rumah-rumah yang sudah hangus terbakar.

Saya masuk ke dalam gang rumah anak bimbingan saya. Saya tidak dapat sampai ke depan rumahnya. Petugas pemadam sedang sibuk menyemprotkan air ke rumah-rumah tersebut (yang sebenarnya sudah lebih mirip kumpulan tembok-tembok saat itu).

Saya sungguh terkejut. Saya tidak mengira kebakarannya sebesar ini. Meskipun saat itu api sudah berhasil dipadamkan, tetapi para petugas masih terus menyemprotkan air. Puluhan rumah habis terbakar si jago merah.

Sementara itu, saya masih mencari Kurniawan. Ya! Kurniawan… Di mana dia? Saya pun berusaha mencari di tengah kerumunan orang. Saat itulah, saya menyaksikan pemandangan di luar dugaan saya.

Sebuah Pemandangan Di Luar Dugaan

Apa yang Anda harapkan ketika Anda melihat seseorang yang rumahnya baru saja habis terbakar? Seorang yang sedang menangis tersedu-sedu? Seorang yang marah-marah? Seorang yang depresi? Seorang yang menunjuk orang lain dan berkata: “Ini semua salah kamu!!!”

Kawan, tidak satu pun dari orang-orang di atas yang saya temukan. Seberapa hebat pun saya mencari saat itu, tidak satu orang pun yang saya temukan menangis, marah-marah, depresi, atau saling menyalahkan. Setidaknya, sejauh yang saya lihat saat itu, saya tidak menemukannya.

Lalu, orang seperti apa yang saya temukan?

Yang saya temukan adalah orang yang sedang membeli banyak roti untuk tetangga-tetangganya, yang juga mengalami musibah.

Yang saya temukan adalah orang-orang yang saling membantu satu sama lain. Yang satu mengambil air. Yang lain menenteng ember. Yang lain lagi sedang menyiramkan isi ember itu ke sisa-sisa api.

Yang saya temukan adalah dua orang yang berpapasan. Yang seorang bertanya, “Hai… Gimana rumahmu?”. Dengan senyum terukir di wajahnya, yang lain menjawab, “Rumah habis semua. Tapi untung anak-anak selamat semua. Kamu bagaimana?”. Tersenyum juga, dia menjawab, “Sama. Tak ada yang tersisa, tapi keluarga aman.”

Hei, apakah tidak salah!? Mereka baru saja kehilangan rumah mereka, dan mereka dapat tersenyum begitu lepasnya. Mereka bahkan masih saling memperhatikan satu sama lain. Jika saya ada di posisi mereka, dapatkah saya melakukan hal yang sama? Suatu hal yang masih saya ragukan.

Saya yang awalnya berniat membantu, hanya bisa terdiam menyaksikan semua hal yang luar biasa tersebut. Saya merasakan aura positif di tengah kekacauan akibat kebakaran. Saya melihat begitu banyak orang yang luar biasa. Tidak terkecuali anak bimbingan saya.

Respon yang Luar Biasa

Saya masih terdiam ketika dia menepuk bahu saya.

“Hai koko!” sapaan yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Sapaan anak bimbingan saya. Kurniawan menghampiri saya.

“Hai Kur… Koko cari kamu dari tadi. Gimana rumah kamu?”

Tidak ada kesedihan yang terlihat di wajahnya. Hanya senyuman yang biasa dia tunjukkan. Dia menjawab, “Wah… Abis semua ko. Rumah saya uda jadi kaya lapangan bola…”

“Hah? Abis semua Kur?” saya terkejut.

“Iya. Baju aja tinggal yang saya pake sekarang. Cuma sempet ngeluarin motor dan sedikit baju dede saya.”

Oh Tuhan… Apa yang Engkau ingin nyatakan pada Kurniawan? Saya teringat, baru saja sehari sebelumnya kaki Kurniawan tertusuk paku. Dan hari itu, seharusnya dia mengikuti pertandingan basket. Pertandingan final. Baru juga sehari sebelumnya, dia membeli sepatu untuk dia pakai di pertandingan itu. Tapi sepatu itu lenyap dalam beberapa jam, tanpa sempat dipakai olehnya. Baru pula sehari sebelumnya, dia membantu kokonya bekerja seharian. Siapa yang menyangka, sekarang peralatan kerja kokonya pun sudah habis terbakar, di saat sebenarnya pekerjaan itu masih harus dilanjutkan hari itu.

Saya percaya, Tuhan ada rencana yang indah pada Kurniawan. Tapi, saat itu, segalanya terlihat begitu gelap. Ibarat orang yang sudah jatuh, tertimpa tangga, dan tertiban balok pula.

Tapi, respon Kurniawan menghadapi semua ujian ini sungguh baik. Tidak. Lebih dari baik, ini luar biasa! Kurniawan meresponi semua musibah ini dengan begitu positif. Dia meresponi dengan keyakinan Tuhan masih menyertainya sampai detik ini, meskipun dia sedang mengalami musibah yang hebat.

“Mama dan yang lain gimana Kur?” saya bertanya lagi.

“Puji Tuhan semua selamat ko. Saya barusan disuruh jaga motor sih, tapi sudah saya kunci. Koko mau lihat rumah saya?”

“Ga pa pa Kur motornya ditinggal?”

“Ga pa pa ko, aman… Uda saya kunci.” kata Kurniawan. Senyumnya masih terus terukir. Dan saya pun diantar ke gang rumahnya. Saya tidak dapat melihat dengan jelas saat itu, karena saya hanya melihat dari jauh. Petugas pemadam masih sibuk bekerja. Akhirnya, Kurniawan membawa saya bertemu mama dan adiknya.

Seperti orang-orang yang lain, mama Kurniawan pun tidak menunjukkan tanda-tanda kesedihan. Hei, saya tahu mereka semua sedang sedih. Tapi, mereka memilih untuk tidak memfokuskan diri mereka pada kesedihan mereka, melainkan pada hal-hal yang dapat mereka selamatkan, keluarga mereka. Dan itulah yang luar biasa.

Mama Kurniawan bercerita, “Kur tadi hebat loh, dia ingetin saya buat lepasin gas. Biar ga meledak katanya. Oh iya ya… Saya saja tidak ingat. Lalu saya lepasin gas. Abis itu langsung mati lampu. Dan ga berapa lama api udah nyamber. Tapi tabung gas itu selamat.”

“Ah, tapi sama aja ko… Yang lain ga lepasin gasnya, jadi meledak juga dari rumah yang lain ko… Hehehe.” kata Kurniawan sambil tertawa, membuat orang-orang di sekitarnya juga tertawa kecil.

“Tadi ribut-ribut saya kira ada tawuran… Jadi saya diemin aja. Terus saya kaget Kurniawan bilang kebakaran. Jadi saya baru bangun, untung semuanya bisa bangun dan selamat akhirnya…” mama Kurniawan cerita lagi.

“Hmm, ada korban jiwa ga ya di kebakaran ini?” saya bertanya lagi, penasaran.

“Tadi hampir ada ko… Kakek-kakek yang uda agak tuli. Digedor-gedor tetep ga bangun. Akhirnya pintunya didobrak, dan dia baru bisa dibangunin. Wah, kalo ga, uda jadi daging panggang ko…” kata Kurniawan.

Wow! Di tengah kepanikan, mereka masih ingat pada seorang kakek-kakek tua yang hampir tuli, yang hidup sendirian di dalam rumahnya yang terkunci. Mereka bahkan mendobrak pintu untuk menyelamatkan sang kakek. Mereka tidak berpikir keselamatan diri mereka sendiri saja, tapi juga keselamatan orang di sekitar mereka.

Api boleh membakar barang-barang mereka. Tapi mereka tetap bergembira karena mereka berhasil menyelamatkan setiap nyawa. Api tidak dapat membakar cinta kasih yang ada di dalam hati mereka.

Ingin Membantu, Malah Dibantu

Mau tahu akhir kisah yang tragis namun luar biasa pagi itu? Kurniawan mengantarkan saya pulang dengan motornya. Oh, saya mau menangis di perjalanan.

Diantar pulang naik motor mungkin sebuah hal yang biasa. Diantar pulang naik motor oleh seorang anak bimbingan yang rumahnya baru saja terbakar habis. Rasanya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Saya tahu, Kurniawan akan berkata “Ah, koko lebay…” ketika membaca tulisan ini. Tidak Kur, ini tidak lebay. Sungguh itu yang koko rasakan…

Tidak sekali pun terdengar keluhan. Tidak sekali pun terlontar makian. Tidak sekali pun dia meminta bantuan. Kenyataannya, justru sayalah yang dibantu. Saya benar-benar tidak membantunya pagi itu. Dia membantu saya dengan mengantarkan saya pulang.

Saya teringat kata-kata Tuhan tadi pagi: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.” Ini benar sekali. Tuhan ingin menunjukkan kepada saya seorang anak bimbingan saya yang sungguh luar biasa.

Tentunya, karena dia memiliki Tuhan yang luar biasa juga, yang telah mengubahkan hidupnya. Dan saya sangat bersyukur untuk semua itu.

Sungguh banyak berkat yang saya dapatkan, sehingga saya harus memecah tulisan ini menjadi beberapa bagian. Siang itu, saya datang lagi menemui Kurniawan, kali ini dengan teman-teman yang lain. Tapi ini cerita yang lain lagi, dengan berkat yang berbeda lagi yang saya dapatkan.

Apa yang Saya Pelajari

Lalu, apa yang saya pelajari pagi itu? Saya belajar untuk tidak egois, dan lebih memperhatikan orang lain. Saya belajar untuk mengandalkan Tuhan dan bersyukur senantiasa. Saya belajar untuk meresponi hal-hal buruk yang terjadi dengan sikap yang positif.

Tuhan yang mengajarkan itu kepada saya. Melalui anak bimbingan saya yang luar biasa.

Terima kasih Tuhan. Terima kasih Kurniawan.

Percayalah, Tuhan menyertaimu sampai kepada akhir zaman.

Teruslah percaya kepada-Nya. :D

Charles Christian

P.S. Yeremia 29:11. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Bersambung…


Jul 7

Pada dua tulisan sebelumnya, saya sudah menjelaskan mengenai pergumulan yang saya hadapi seputar uang, kekayaan, dan spiritualitas (khususnya iman Kristen saya). Pada tulisan ini, saya akan membagikan posisi saya saat ini. Bagaimana pandangan saya saat ini tentang uang, kekayaan, dan spiritualitas?

Mari kita kembali ke pertanyaan awal yang saya ajukan di awal tulisan pertama saya: “Apakah orang Kristen boleh kaya?” Jawaban yang saya yakini saat ini adalah: “Orang Kristen sudah seharusnya dan harus berjuang terus untuk menjadi kaya.” Tolong jangan salah paham dan menelan pernyataan saya tersebut mentah-mentah sebelum membaca penjelasan saya mengenai definisi “kaya” menurut saya…

Apa Itu Kekayaan?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar yang harus dijawab terlebih dahulu. Jawaban dari pertanyaan: “Apakah orang Kristen boleh kaya?” akan sangat bergantung pada definisi “kekayaan” bagimu.

Umumnya, orang akan mendefinisikan kekayaan berdasarkan banyaknya harta materi atau uang yang dia miliki. Majalah Forbes menyatakan seseorang disebut kaya jika memiliki penghasilan lebih dari 1 juta US$ per tahun. Ada lagi paham lain yang menyatakan seorang disebut kaya jika dia sudah mempunyai passive income yang lebih besar daripada pengeluarannya. Kekayaan seringkali diidentikkan dengan kebebasan finansial.

Mari saya beritahu satu hal, kawan… Kekayaan jauh lebih berharga dari sekedar mempunyai banyak uang.

Bagi saya, kekayaan lebih adalah mengenai “hubungan” daripada “uang”. Definisi kekayaan saya adalah terjalinnya hubungan yang baik antara saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama saya. Semakin erat hubungan saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama, maka semakin kaya saya.

Tapi Charles, Bukankah Kita Juga Butuh Uang!?

Ya, saya mengakui, seringkali uang dibutuhkan untuk membuat hubungan saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama menjadi semakin erat. Uang dibutuhkan untuk menghidupi diri saya dan keluarga saya. Uang dibutuhkan untuk membantu sesama kita yang kesulitan finansial. Uang dibutuhkan para hamba Tuhan yang memberitakan Injil. Uang dibutuhkan untuk membangun tempat-tempat ibadah.

Tapi, intinya, uang bukanlah tujuan akhirnya. Uang hanyalah alat yang dapat saya gunakan untuk membangun hubungan saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama menjadi lebih baik lagi. Hanya jika uang itu dapat digunakan untuk mendekatkan diri saya pada Tuhan, uang menjadi hal yang baik.

Lihat, inilah hal yang seringkali membuat orang-orang sulit mengaitkan uang, kekayaan, dan spiritualitas. Itu adalah karena mereka menetapkan dua tujuan dalam satu waktu. Tujuan pertama adalah kaya secara rohani. Dan tujuan kedua adalah kaya secara finansial. Apakah keduanya bisa tercapai dalam satu waktu? Belum tentu…

Banyak orang yang seolah memaksa Tuhan untuk menjadikannya kaya secara finansial agar dia dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Mereka berpikir, jika mereka kaya secara finansial, barulah mereka dapat menjadi berkat. Ini adalah pemikiran yang terbalik! Justru, menjadi berkat haruslah dilakukan bahkan jika kita tidak kaya secara finansial. Dan, kalau Tuhan menganugerahkan kekayaan finansial kepada kita, kita harus mengucap syukur dan terus menjadi berkat bagi orang lain. Tidak ada kewajiban Tuhan untuk menjadikan kita kaya secara finansial.

Jadi, mungkinkah kita kaya secara rohani dan kaya secara finansial juga? Saya percaya, ini mungkin! Tapi, kekayaan rohani haruslah yang jadi utama, dan kekayaan finansial kita gunakan untuk lebih memperkaya rohani kita. Ini bukanlah hal yang mudah (lihatlah betapa banyaknya orang yang jatuh secara rohani karena kekayaan finansial). Itulah sebabnya Allah benar-benar memilih setiap dari kita yang sudah siap untuk itu.

Orang Salehlah yang Justru Diuji Tuhan

Banyak paham teologi sukses mengatakan, orang yang saleh akan lepas dari kesulitan. Allah akan memberikan kesuksesan dan kelimpahan terus menerus bagi orang yang taat kepada-Nya. Sungguhkah seperti itu? Jika kita dengan teliti membaca Alkitab, kita seharusnya sudah tahu jawabannya adalah tidak. Justru sebaliknya… Orang salehlah yang justru diuji Tuhan.

Di kitab Kejadian, kita melihat Tuhan menguji iman Abraham dengan memintanya mempersembahkan anaknya, Ishak. Di kitab Ayub, kita melihat Tuhan justru yang berkata pertama kali kepada Iblis tentang Ayub yang begitu saleh. Dan, Tuhan juga yang mengizinkan Iblis untuk mencobai Ayub.

Mengapa Allah mengizinkan Iblis mencobai Ayub? Pada akhirnya, Allah menganugerahi Ayub harta berkali-kali lipat dibandingkan hartanya sebelumnya. Tapi, mengapa Ayub perlu mengalami penderitaan sebelum mendapatkan anugerah Allah tersebut? Itu karena Allah menginginkan Ayub betul-betul sangat amat kaya secara rohani sebelum dia akhirnya kaya juga secara finansial.

Orang yang belum kaya secara rohani sangat berbahaya jika kaya secara finansial. Kekayaan finansial akan membuat kebebasan kita bertambah besar. Dan, kebebasan yang bertambah besar akan sangat berbahaya jika kita belum bisa bertanggung jawab. Bayangkan Anda membiarkan anak Anda yang masih balita mengendarai mobil Anda. Bukankah itu akan menjadi sebuah bencana? Begitu pula, uang di tangan orang-orang yang belum kaya secara rohani akan menjadi bencana bagi dirinya dan orang lain.

Tapi, kalau mobil itu dikendarai oleh kita yang sudah tahu bagaimana cara mengendarainya, bagaimana peraturan yang harus diikuti, bagaimana etika yang ada di jalan raya… Mobil akan menjadi hal yang baik. Mobil akan mempercepat kita sampai pada tujuan. Uang di tangan orang-orang yang sudah kaya secara rohani akan membuat mereka semakin kaya secara rohani.

Inilah mengapa Allah memperkaya Ayub secara rohani terlebih dahulu. Pada awalnya, Ayub memang sudah kaya rohani. Tapi, setelah mengalami sederetan cobaan Iblis, Ayub menjadi sangat-sangat-sangat kaya secara rohani.

Ayub 42:5 mengatakan, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”

Lihatlah perbedaan kekayaan rohani Ayub sebelum dan sesudah dia dicobai. Sebelumnya, Ayub hanya mendengar dari orang saja tentang Allah, tetapi sekarang matanya sendiri memandang Allah. Ayub merasakan sendiri kuasa Allah di dalam hidupnya.

Kekayaan Sejati

Jadi kawan, kekayaan sejati bukanlah kekayaan finansial. Banyak orang yang kaya secara finansial yang tidak bahagia. Kekayaan yang sejati adalah kekayaan hubungan. Hubungan yang kaya dengan Tuhan, dan hubungan yang kaya dengan sesama kita.

Kekayaan finansial akan menjadi baik hanya jika kekayaan finansial itu semakin memperkaya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama.

Kawan, kejarlah kekayaan sejati terlebih dahulu. Dan Tuhan akan menganugerahkanmu kekayaan finansial, jika Allah berkenan memberikannya dan kita sudah siap menerimanya.

Kejarlah apa yang mendamaikan hatimu. Itulah yang diinginkan Tuhan. Kejarlah kekayaan finansial hanya jika kamu sudah mencapai level mengejar kekayaan finansial itu mendamaikan hatimu. Dan, saya percaya, saat mengejar kekayaan finansial mendamaikan hati kita, kita telah kaya secara rohani. Maka kita pasti akan menggunakan kekayaan finansial itu untuk lebih memperkaya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama, menjadi seorang yang lebih rendah hati, dan menjadi lebih banyak berkat dengan menolong lebih banyak orang yang membutuhkan di sekitar kita.

Itulah definisi “kekayaan” bagi saya.

Apa definisi “kekayaan” bagimu?

Tuhan memberkati kita.

Charles Christian


Jun 30

Empat bulan yang lalu, paman saya sakit, dan masuk ke rumah sakit. Begitu banyak sakit komplikasi yang dideritanya. Berita buruknya, dia tidak mempunyai uang untuk biaya pengobatan.

Sehari di rumah sakit menghabiskan dana jutaan rupiah. Dia tidak dapat menanggungnya. Istrinya juga tidak bisa menanggungnya.

Menjadi satu-satunya keluarga yang diharapkan saat itu, keluarga saya yang menanggung biaya pengobatannya. Namun, keadaan bertambah berat ketika setelah beberapa minggu di rumah sakit, tidak ada tanda-tanda pemulihan, yang ada malah biaya yang bertambah besar setiap harinya.

Pertengkaran demi pertengkaran mulai terdengar di rumah saya. Mama saya, yang mengurus keuangan keluarga, melihat kondisi keuangan akan semakin kritis jika pengobatan dilanjutkan.

Dilema terbesar ada di pundak papa saya. Meskipun kakak papa saya ini bukanlah seorang yang menyenangkan dan telah berbuat begitu banyak kesalahan, dia tetaplah kakak papa saya, dan dia sedang terbaring sakit di rumah sakit saat ini, seperti menunggu ajal menjemput yang tidak tahu kapan terjadi. Konon, ikatan batin antar saudara kandung begitu besarnya, melampaui semua logika akuntansi dan perencanaan keuangan.

Papa saya begitu sedih, karena seolah dihadapkan pada sebuah pilihan yang tidak seharusnya, antara kakak kandungnya atau istrinya.

Suatu hari, saya menjenguk paman saya ini di rumah sakit. Sebenarnya, saat itu adalah kali pertama saya datang menjenguk paman saya. Sebelumnya, saya hanya mendengar kabar paman saya dari papa dan mama saya. Karena saya tidak dekat dengan sang paman, saya tidak merasakan apa yang dirasakan oleh papa saya. Tapi, segalanya berubah ketika saya melihat dia untuk pertama kalinya di rumah sakit.

clip_image002

Saya melihatnya di atas tempat tidur. Selang oksigen ada di hidungnya. Matanya membuka setengah. Kakinya penuh dengan perban. Sudah berminggu-minggu dia tidak bangun dari tempat tidurnya, bukan karena tidak mau, tapi karena dia tidak bisa. Saya mendengar suara-suara yang dikeluarkannya, seolah dia berjuang begitu rupa untuk setiap nafas yang ditariknya.

Tiba-tiba, saya merasakan sebuah kepedihan yang amat sangat, dan saya menangis. Saya tidak dapat menahan air mata keluar dari mata saya.

Tahukah kawan, mengapa saya menangis? Karena wajahnya benar-benar mirip dengan wajah papa saya! Ketika saya melihat paman saya terbaring di sana, saya seperti melihat papa saya yang sedang terbaring di sana. Lemah. Tidak berdaya.

Yang menyentak saya lebih hebat lagi adalah sebuah kenyataan bahwa saya tidak mempunyai cukup uang untuk memberikan pengobatan kepada papa saya, seandainya papa saya yang menderita sakit saat itu.

Saya melihat papa saya, dengan wajahnya yang sangat sedih dan prihatin, mengambil satu botol Aqua. Dia membuka tutupnya, dan menuangkan sedikit air ke tutupnya, dan mulai menuangkannya ke dalam mulut paman saya. Itulah ritual yang biasa dilakukan papa saya ketika menjenguk paman saya. Memberinya minum, dan duduk di sampingnya. Papa saya terus setia melakukannya, meskipun tiada kata terima kasih yang terlontar dari mulut paman saya. Ya, itulah kasih.

Saat itu, saya benar-benar ingin menjadi kaya. Bukan untuk diri saya sendiri, tapi untuk membantu orang lain. Dengan uang yang saya miliki, saya punya kebebasan lebih untuk membantu orang-orang yang saya kasihi. Saya membayangkan betapa menyesalnya saya kalau saya tidak dapat memberikan pengobatan kepada papa saya jika papa saya sakit. Itu benar-benar menyakitkan hati saya.

Kini, paman saya telah tiada. Tuhan memanggilnya pulang dua bulan yang lalu. Tapi, saya tidak bisa melupakan momen itu, ketika saya melihatnya terbaring di rumah sakit. Setiap kali saya mengingatnya, setiap kali pula keinginan saya untuk menjadi kaya begitu berkobarnya. Namun, jauh di lubuk hati saya, saya tetap menganggap “ada yang salah dengan menjadi kaya.” Rasanya, menjadi kaya seperti menjauhkan diri dari Tuhan, dan memilih mamon.

Sampai bulan lalu, saya membaca satu tulisan yang sangat menginspirasi saya. Di sana, saya seperti menemukan puzzle yang hilang dari pembahasan tentang kekayaan dan spiritualitas. Saya menyadari kesalahan dari konsep yang saya anut dahulu. Kini, menjadi kaya adalah suatu hal yang mendamaikan bagi saya. Saya tidak lagi menganggap Tuhan sebagai anti kekayaan. Tapi, sebelumnya, kita perlu mendefinisikan ulang kekayaan itu. Saya akan menjelaskannya pada Anda tentang apa yang saya dapatkan dari tulisan itu, dan bagaimana tulisan itu telah mengubah konsep saya tentang kekayaan dan spiritualitas.

Bersambung…


Jun 23

Tulisan saya kali ini akan sedikit berbeda dari tulisan saya biasanya. Jika biasanya saya banyak memberikan nasihat-nasihat motivasi, kali ini saya akan lebih banyak bercerita dan mencurahkan isi hati saya secara jujur. Saya akan membahas satu topik yang cukup sensitif di kalangan Kekristenan, yaitu mengenai uang, kekayaan, dan spiritualitas.

Banyak orang yang diam-diam bergumul akan hal ini. Saya termasuk di antaranya. Sekarang, melalui tulisan ini, saya mau sharingkan proses pergumulan saya itu.

“Apakah orang Kristen boleh kaya? Bisakah orang kaya masuk Surga? Apakah benar Tuhan ingin kita menjadi kaya?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang terus saya pertanyakan sepanjang pergumulan saya. Di akhir pergumulan saya, saya menemukan bahwa pertanyaan itu ternyata bukanlah pertanyaan yang baik. Saya akan menjelaskan alasannya di seri terakhir tulisan saya.

Oh ya, ngomong-ngomong, saya memutuskan untuk membuat tulisan saya kali ini menjadi sebuah serial bersambung (mengingat panjangnya tulisan yang saya buat kali ini). Pesan saya, janganlah mengutip kata-kata saya lepas dari konteksnya. Apa yang saya tuliskan di sini adalah proses pergumulan saya. Tolong jangan mengambil kesimpulan apa-apa sebelum saya menyimpulkannya di seri terakhir dari tulisan saya.

Oke, cukup pengantarnya… Sekarang marilah kita mulai seri pertama dari tulisan ini. :D


Antara Uang dan Tuhan

Saya menemukan ada dua pandangan ekstrim kekristenan ketika berbicara tentang uang dan kekayaan.

Pandangan ekstrim yang pertama adalah pandangan “Orang Kristen harus kaya.” Pandangan ini biasanya diyakini oleh mereka yang mempercayai “Teologi Sukses”. Mereka menganggap kekayaan sebagai berkat Tuhan yang pasti didapatkan oleh semua orang beriman. Menurut mereka, Tuhan itu Maha Baik, dan pastilah akan memberkati orang-orang yang beriman kepada-Nya dengan berlimpah-limpah materi, kesuksesan, serta uang yang banyak. Bagi mereka, orang yang miskin adalah orang yang kurang beriman, maka kurang diberkati Tuhan.

Pandangan ekstrim yang kedua adalah pandangan “Orang Kristen tidak boleh kaya.” Mereka mempunyai ayat favorit yang berbunyi “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Karena itu, mereka mengambil kesimpulan, orang kaya mustahil masuk Surga. Menurut mereka, setiap orang beriman dipanggil untuk menderita bagi Tuhan di dunia, salah satunya adalah dengan menjadi miskin. Dengan menjadi miskin, mereka yakin Tuhan akan mencukupkan kebutuhan mereka setiap hari melalui cara-cara yang mungkin tidak pernah mereka duga. Mereka hanya cukup beriman dan menunggu. Bagi mereka, orang kaya adalah orang yang cinta uang, yang akan lebih mementingkan uangnya daripada Tuhan.

Saya tidak menyatakan apakah kedua pandangan di atas benar atau salah, setidaknya tidak saat ini.

Saya akan menceritakan pergumulan yang saya hadapi terkait uang, kekayaan, dan spiritualitas.


Tuhan VS Uang

Ketika saya masih kecil, saya sudah ikut sekolah Minggu. Di sana, saya banyak mendengar cerita-cerita Alkitab. Saya mendengar cerita bagaimana hidup Tuhan Yesus yang jauh dari kekayaan. Di dalam sebuah cerita, ada seorang kaya yang ingin mengikut Yesus. Yesus memerintahkan orang kaya itu untuk menjual hartanya dan membagi-bagikan semua hartanya kepada orang-orang miskin sebelum dapat mengikut Dia. Saya juga cukup sering mendengar ayat yang saya kutip di atas: “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (saat itu saya benar-benar membayangkan seekor unta dan sebuah jarum jahit!)

Pikiran saya mulai terprogram pernyataan-pernyataan berikut: “Tuhan menentang orang kaya.”, “Orang kaya mustahil masuk Surga.”, “Orang kaya adalah orang yang cinta uang lebih daripada Tuhan.”, “Tuhan ingin kita hidup cukup. Jangan menjadi kaya.”

Dengan kata lain, saya mulai mengadopsi ekstrim kedua.

Tanpa saya sadari, saya memposisikan uang dan Tuhan dalam sudut yang berlawanan. Saya seperti dihadapkan pada sebuah pilihan: “mendapatkan uang ATAU mendapatkan Tuhan”, dan saya hanya bisa memilih satu saja, karena Matius 6:24 menuliskan “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan.”

Percaya saya, dihadapkan pada pilihan di atas adalah sebuah tekanan batin. Kenapa? Karena saya ingin mendapatkan Tuhan, tapi saya tidak mungkin tidak mendapatkan uang, karena saya masih perlu makan.


Uang Bukan Segalanya, Namun Segalanya Butuh Uang

Mempertarungkan antara Tuhan dan uang ternyata bukanlah ide yang baik. Karena, jika pilihannya hanya “mendapatkan uang” atau “mendapatkan Tuhan”, secara teori saya bisa memilih untuk “mendapatkan Tuhan”, tapi pada prakteknya saya pasti harus “mendapatkan uang” juga.

Uang memang bukan segalanya, namun segalanya butuh uang. Kita masih membutuhkan uang untuk membeli makanan, untuk menopang hidup kita. Gereja pun butuh uang untuk biaya operasional mereka, dan membiayai banyak pelayanan. Dari sana, saya mulai mengubah pemahaman saya…


Cinta Uang Adalah Akar Dari Segala Kejahatan

Kalau dahulu saya beranggapan “uang adalah akar dari segala kejahatan”, seiring berjalannya waktu saya menyadari bahwa bukan “uang” yang menjadi akar dari segala kejahatan, tapi “kecintaan kepada uang”.

Jadi, dengan konsep ini, yang harus dihindari bukanlah memiliki banyak uang. Yang harus dihindari adalah menjadi seorang yang cinta uang (lebih daripada cinta Tuhan).

Bagaimana kita tahu bahwa kita lebih cinta uang atau cinta Tuhan? Sederhana saja, apakah kamu rela memberikan uangmu untuk Tuhan? Jika ya, maka kamu lebih cinta Tuhan. Jika tidak, maka kamu lebih cinta uang.

Pada tahap ini, saya merasa menjadi kaya itu oke, selama tidak cinta uang.

Ada banyak keraguan saya yang tampaknya dijawab satu persatu selama masa ini.

Salah satu contoh keraguan yang saya hadapi adalah “Apakah dengan menjadi kaya, saya akan menjadi lebih jahat, sombong, dan jauh dari Tuhan? (mungkin karena dulu saya suka nonton sinetron yang menggambarkan orang kaya itu jahat dan sombong)” Untuk pertanyaan ini, saya mendapatkan sebuah jawaban dari sebuah buku: “Kalau pada dasarnya kamu adalah orang baik, menjadi kaya akan membuat kamu semakin baik. Kalau pada dasarnya kamu adalah orang jahat, menjadi kaya akan membuat kamu semakin jahat. Kalau kamu yakin kamu adalah orang baik, kekayaanmu akan membuatmu dapat menolong lebih banyak orang.”

Lalu saya juga berpikir, “Bagaimana jika ketika saya menjadi kaya, saya menjadi cinta uang (lebih daripada cinta Tuhan)?” Dan, saya seperti mendapatkan jawaban berikut: “menjadi kaya dan cinta Tuhan adalah sulit. Tapi kalau kamu benar-benar cinta Tuhan, kamu pasti akan tetap cinta Tuhan ketika kamu kaya. Kalau kamu menjadi berubah jadi cinta uang, berarti pada dasarnya kamu tidak benar-benar cinta Tuhan dari dahulu.”

Pada tahap ini, pemikiran saya mulai berubah. Saya dapat menjadi kaya dan tetap beriman.

Hingga akhirnya, sebuah peristiwa menghantam saya. Peristiwa yang membuat saya ingin menjadi kaya. Saya akan ceritakan peristiwa ini di seri mendatang dari tulisan saya minggu depan. :)

Bersambung…

Uang, Kekayaan, Dan Spiritualitas (2): Mengapa Ingin Kaya?
Uang, Kekayaan, Dan Spiritualitas (3): Apa Definisi “Kekayaan” Bagimu?


May 12

Ada satu pertanyaan yang mengganjal di benak saya belakangan ini. Pertanyaan itu adalah: Manakah yang lebih baik? Menjadi seorang yang benar-benar jahat tanpa topeng, atau menjadi seorang jahat yang memakai topeng orang baik, biasanya bahasa kerennya tuh “orang munafik”?

Seorang teman berkata “Kalau mau jahat, mending jahat sekalian… Dan kalau mau baik, mending jadi baik aja, ga usah jadi setengah-setengah”. Kalimat ini membuat saya berpikir, sungguh indah jika dunia ini bisa dibuat sesederhana itu. Kita tinggal memilih, mau jadi jahat atau mau jadi baik. Namun, ternyata kenyataannya tidak sesederhana itu. Seorang yang jahat tidak bisa dengan instan begitu saja menjadi baik 100%. Pasti ada orang yang ada di tengah-tengah. Di satu sisi, dia punya keinginan untuk berbuat baik, dan di sisi lain dia juga sulit meninggalkan dosa yang masih disukainya. Mereka terjebak di tengah-tengah, antara baik dan jahat.

Saya termasuk orang yang setuju bahwa orang yang jahat dan orang yang munafik akan mengalami akhir yang sama-sama tragis, yaitu dicampakkan oleh Allah. Namun, menurut saya, setiap orang harusnya mengalami fase dalam hidupnya di mana dia menjadi “orang jahat”, dan dia menjadi “orang munafik”.

Roma 3:23 mengatakan: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”. Semua orang telah berbuat dosa, atau dengan kata lain, semua orang telah menjadi “orang jahat” di mata Allah.

Syukur kepada Allah, ayat di atas tidak berhenti sampai di sana, tetapi ada kelanjutan yang mencerahkan di Roma 3:24 yang berbunyi: “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus”. Kita, yang adalah “orang jahat” tersebut telah dibenarkan oleh Kristus Yesus. Kita, yang dahulu “tidak bisa TIDAK berbuat dosa”, kini bisa memilih untuk “tidak berbuat dosa”. Namun, apakah itu menjamin kita akan langsung menjadi 100% baik? Ternyata tidak, semuanya membutuhkan proses dan pertumbuhan… Dan dalam semuanya itu, kita harus terus mengandalkan Tuhan.

Sekarang, kembali ke pertanyaan awal: Apakah lebih baik menjadi “seorang jahat” atau “seorang munafik”? Meskipun keduanya sama-sama tidak baik, saya melihat keduanya memiliki sisi positif dan negatif.

Yang paling mudah terlihat adalah sisi negatif dari “seorang jahat”. Itu tentu sudah jelas. Segala hal yang jahat yang dia lakukan dan dia perlihatkan di depan orang banyak adalah hal-hal yang negatif.

Tapi, apa sisi positif dari “seorang jahat”? Menurut saya, sisi positif dari “seorang jahat” adalah, jika Tuhan membukakan hati mereka, mereka yang benar-benar jahat mungkin yang paling mudah untuk bertobat, karena mereka berpikir mereka tidak mempunyai pegangan lagi. Dan, jika mereka akhirnya bertobat, mereka mungkin akan lebih menghargai keselamatan yang diberikan kepada mereka.
Sebagai ilustrasi, anggaplah kita adalah seorang yang sangat kaya dan dermawan. Anggaplah kita ingin membantu dua orang, si A dan si B, yang sama-sama berhutang kepada kita. Kita akan hapuskan hutang mereka dengan syarat mereka menjadi pembantu kita seumur hidupnya. Siapa orang yang akan lebih mudah menerima bantuan dari kita? Apakah si A yang berhutang Rp 100.000, atau si B yang berhutang Rp 1 Milyar? Tentunya si B yang akan dengan senang hati dan penuh syukur menerima bantuan kita, sedangkan si A mungkin masih berpikir dia bisa melunasi hutangnya dengan keringatnya sendiri. Begitu pula, orang jahat yang bertobat yang disalib di samping Tuhan Yesus, tentunya akan sangat bersyukur karena dia telah merasa dirinya tidak layak dan tanpa harapan. Namun, ingatlah sisi positif ini baru berlaku ketika “seorang jahat” tersebut bertobat.

Lalu, apa sisi negatif dari “seorang munafik”? Sisi negatif dari “seorang munafik” adalah ketika mereka puas menjadi “orang munafik” dan tidak terus bertumbuh lagi. Celakanya ketika mereka merasa telah “berbuat baik”, mereka melupakan Tuhan yang sebenarnya satu-satunya harapan penolong mereka. Celakanya ketika mereka merasa sudah sembuh, padahal masih sakit, dan karena merasa sudah sembuh, mereka menolak pengobatan Sang Tabib. Jika mereka terus menjadi “orang munafik” tanpa pertumbuhan, nasib akhir mereka akan sama dengan nasib “orang jahat” yang tidak bertobat.

Dan yang terakhir, apa sisi positif dari “seorang munafik”? Sisi positifnya adalah setidaknya mereka sudah mengerti yang baik dan yang jahat. Ada pertentangan dalam batin mereka untuk melakukan hal-hal yang baik, meskipun mereka masih menyukai hal-hal yang jahat. Namun, itu semua adalah proses. Kalau saat ini mereka hanya baik di luar dan buruk di dalam, jika mereka mau terus bertumbuh dan terus mengandalkan Tuhan, Tuhan dapat mengubahkan sifat-sifat buruk di dalam tersebut menjadi sifat-sifat baik yang selama ini mereka tampilkan di luar. Mereka akhirnya dapat berbuat baik dan benar dari dalam diri mereka, tanpa mengenakan topeng. Namun sekali lagi, ingatlah sisi positif ini baru berlaku ketika “seorang munafik” tersebut terus bertumbuh dan mengusahakan dirinya menjadi lebih baik lagi dan tidak munafik, tentunya dengan pertolongan Tuhan.

Jadi, saya tidak setuju kalau dikatakan daripada jadi “orang munafik”, lebih baik jadi “orang jahat” sekalian… Tidak! Kedua-duanya sama-sama berujung pada maut. Baik kita saat ini adalah “orang jahat” atau “orang munafik”, kita harus terus berjuang menjadi “orang yang baik dan benar”. Dan semuanya memang tidak terjadi secara instan. Semuanya membutuhkan proses dan pembentukan dari Allah sepanjang hidup kita.

Kapan semua proses ini berakhir? Efesus 4:13-15 menuliskan, proses ini akan terus berlangsung “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”

Mari kita sama-sama berjuang, dengan pertolongan Tuhan, untuk meninggalkan “manusia jahat” dan “manusia munafik” kita, menjadi “manusia baru” yang melakukan hal yang baik dan benar dengan sepenuh hati kita untuk kemuliaan Tuhan. Amin. :-)


Feb 21

Terinspirasi dari pengalaman saya naik bajaj. Saat itu, bajaj yang saya tumpangi tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Sang supir keluar dari bajaj. Saya merasa agak jengkel karena saya sedang buru-buru, dan saya merasa sang supir seenaknya saja menghentikan bajajnya. Tak lama kemudian, dia datang membawa cairan yang dia masukkan ke dalam mesinnya. Dia berkata, “Cairan ini sudah saatnya diganti, kalau ga bisa jadi mogok, atau bahkan kecelakaan…”

Saya baru sadar… Saya adalah penumpang. Supir lebih mengerti akan bajaj tersebut daripada penumpang. Ketika saya mulai berasa tahu (baca: sok tahu), di sanalah saya mulai salah paham. Tidak semua hal yang terlihat buruk itu benar-benar buruk. Beberapa di antaranya justru terjadi untuk kebaikan kita, tapi mungkin kita belum tahu saja…

Hidup pun begitu… Ketika mengalami hal buruk, kita seolah “merasa tahu” bahwa Tuhan merencanakan hal yang buruk untuk kita. Kita menjadi salah paham. Kenapa? Hanya karena kita tidak tahu saat itu bahwa Tuhan akan menggunakan kejadian buruk itu untuk kebaikan kita.

Duduklah yang manis sebagai penumpang, dan percayalah pada supir yang membawamu pergi, yang lebih mengetahui kendaraannya, yang telah membawanya setiap hari, daripada penumpang, yang baru sekali menumpanginya… :)


Feb 8

Tuhan mungkin membuat kita tidak nyaman berpijak di bulan agar kita dapat meninggalkan bulan dan menggapai bintang. –Charles Christian

  • Kita mungkin menyangka kita sudah cukup sukses dengan mencapai bulan (karena kita tinggal di bumi), dan merasa bahwa bulan adalah pencapaian yang tertinggi, sehingga kita nyaman dan berhenti ketika sampai di bulan.
  • Tuhan membuat kita tidak nyaman lagi di bulan yang mungkin kita kenal sebagai “surga” untuk menunjukkan kepada kita bahwa ada bintang di atas bulan. Ada hal yang lebih baik daripada apa yang kita anggap “surga”. Tuhan menawarkan kepada kita sukacita penuh dengan kehadiran-Nya.
  • Saat kita tidak nyaman lagi berpijak di bulan, kita mempunyai dua pilihan. Kita bisa tetap bersikeras tinggal di bulan meskipun tidak nyaman, atau kita akan meninggalkan bulan. Jika kita bersikeras tinggal di bulan, kita akan merasakan ada suatu hal yang hampa dalam hidup kita seperti rasa tidak nyaman kita di bulan.
  • Kalau kita memutuskan untuk pergi dari bulan, ada dua kemungkinan yang dapat terjadi. Kita dapat semakin mendekati bintang atau semakin menjauhi bintang. Apakah kita semakin mendekati atau menjauhi, itu tergantung apakah kita taat dan mengikuti Tuhan yang menunjukkan jalan kepada bintang itu kepada kita? Tuhan sudah menunjukkan jalannya melalui Firman-Nya. Tugas kita adalah mencarinya dan berjalan di jalan yang sudah ditunjukkan Tuhan. Maka, kita pasti akan menggapai bintang itu pada akhirnya.
  • Ketika kita sudah menggapai bintang, kita akan melihat betapa bodohnya kita dahulu yang merasa nyaman berada di bulan. Kita akan menyadari bahwa bintang adalah jauh lebih baik daripada bulan, dan kita akan mendapat sukacita sejati, yang tidak kita dapatkan ketika kita ada di bulan. Tuhan akan menyambut kita di bintang tersebut.

Perubahan memang tidak selalu membawa kita kepada hal yang lebih baik, tetapi hal yang lebih baik takkan terjadi tanpa perubahan. Maka, jangan takut untuk berubah, selama di dalam perubahan itu kita terus dipimpin oleh Tuhan, yang tahu jalan menuju arah yang lebih baik.

Teruslah berusaha menggapai bintang Anda. :D

Jan 31

Akhir-akhir ini, saya merasakan, mencari pelayan Tuhan sepertinya semakin sulit saja. Semakin sedikit orang-orang yang bisa dipilih, semakin banyak orang yang menolak untuk melayani. Sampai suatu ketika, ketika sedang membaca sebuah buku, saya menemukan sebuah ayat Alkitab yang menegur saya.

“Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

– Matius 9:37-38

Saya tertegun ketika membaca ayat tersebut. Ya, saya menyadari sekarang kesalahan yang seringkali dilakukan di saat memilih pelayan Tuhan. Apakah itu? Itu adalah mengandalkan kekuatan dan hikmat kita sendiri dalam memilih, dan bukan mencari kehendak Allah.

Peran doa sangatlah penting di dalam memilih pelayan dan pekerja buat Tuhan. Tuhan sendiri yang berkata kalau kita harus meminta kepada Tuhan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja-Nya.

Sangat berbahaya jika pada akhirnya, orang-orang yang kita pilih untuk melayani Tuhan adalah orang-orang yang tidak punya hati untuk itu, atau lebih tepatnya, orang-orang yang bukan Tuhan pilih. Well, Tuhan mungkin saja memilih orang-orang yang tidak punya hati (seperti Yunus contohnya). So, yang terpenting adalah orang-orang yang Tuhan pilih.

Di sini, kita haruslah menyadari bahwa sangat penting untuk bertanya kepada Tuhan mengenai siapa orang pilihan-Nya di dalam memilih orang-orang yang akan menjadi pekerja atau untuk melayani Tuhan. Bagaiamana cara kita dapat bertanya kepada Tuhan? Dengan menggumulkannya di dalam doa.

Rangkuman:

Mintalah kepada Tuhan di dalam doa, pelayan-pelayan Tuhan yang setia. Janganlah mengandalkan kekuatan dan hikmatmu sendiri, tapi andalkanlah Tuhan.

Jan 28

Kisah perjuangan hidup bayi Eliot Mooney yang terkena trisomi 18 begitu mengharukan. Eliot hanya mampu bertahan 99 hari karena sejak dalam kandungan ibunya, Eliot sudah terdeteksi penyakit kelainan genetik.

Kedua orangtuanya Matt dan Ginny Mooney yang berasal dari Arkansas AS, bertekad akan membuat hari-hari si kecil Eliot penuh arti hingga ajal menjemputnya pada Oktober 2006. Di hari pemakamannya Matt dan Ginny melepas 99 balon warna-warni di atas kuburan Eliot sebagai bentuk penghormatannya.

Matt dan Ginny merekam hari demi hari kondisi Eliot tanpa rasa sedih tapi penuh kegembiraan. Mereka berjanji tidak akan sedih selama mendampingi Eliot dan menganggap Eliot anugerah paling indah dan tidak pernah menyesali kelahirannya. Mereka bahkan merayakan ulang-tahun Eliot setiap hari, menyadari bahwa setiap hari bersama Eliot adalah anugerah.

Mungkin banyak orang tua yang tidak tahu mengenai penyakit trisomi 18. Penyakit ini menyebabkan bayi yang baru lahir tidak bisa bertahan hidup lebih dari beberapa hari dan hanya menunggu vonis mati.

Penyakit trisomi 18 biasa disebut dengan Edwards syndrome, yaitu kondisi kelainan pada kromoson 18 yang menyebabkan kemampuan intelektual anak berkurang dan ketidaknormalan beberapa bagian tubuh.

Perjalanan hidup Eliot dapat dilihat di blog http://mattandginny.blogspot.com dan videonya bisa dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=th6Njr-qkq0.

Terakhir, saya akan membagikan kata-kata orang tua Eliot di hari pemakamannya yang selalu menjadi inspirasi buat saya. Saya menebalkan kata-kata yang menjadi favorit saya. Semoga kata-kata tersebut juga dapat menginspirasi Anda.

Ginny and I, and many of our friends and family, gathered Monday to celebrate Eliot’s life. It was perfect. Following a song entitled, “Everything’s Alright”, I struggled through the following:
____________________________________________________________

“‘Everything’s Alright’…not your ordinary funeral song, and ‘Don’t wear black’ are not your ordinary funeral instructions. But Eliot was no ordinary boy. His life was extraordinary.

A dad speaking at his son’s funeral is probably a little strange as well. But Eliot’s is a story I must tell. Ginny and I have things to say, and I’m going to try to say them today. We also have a saying as of late which is “go ahead & cry. We do”
But, if at all possible, hold it in for the next couple of minutes, or I’ll probably lose it with you. I have a tag team partner on board so I can tap out at any moment. With that said, I apologize for reading. My communications teacher would be disappointed. But I am just gonna try to make it through.

I want to thank you all for being here today. Ginny & I wish we could personally sat down with each one of you and express how much your actions have made our burden lighter.
Thanks for making a call when it had to be awkward for you do so. Thanks for letters & birthday cards for Eliot. Thanks for feeding us, when food was the last thing on our mind. Thanks for surprise one month birthday parties & blog posts & law school softball tournaments for Eliot. Thank you- family- for your love and support. Thank you Josh, Becky, Heather & Paul for walking through this with us.

Thank you all for joining us today to celebrate the life of a special boy who impacted so many.

We view today as a celebration. We celebrate the greatest gift the Lord has ever given us. In Eliot, we enjoyed so much. We loved so much. We learned so much.

Although, Ginny and I had seats near the front of the class, you all joined in on the lessons & the classroom kept expanding to include people we had never even met. We all sat in awe as God, Himself, took a sick little boy and pulled back the veil to reveal lessons about Himself.

An underdeveloped lung. A heart with a hole in it. And DNA that placed faulty information into each and every cell of Eliot’s body – could not stop the living God from screaming of Himself through a child who never uttered a word. To an outsider it may seem nothing short of foolish to credit all this teaching to Eliot, but

I Corinthians says that…”the message of the cross is foolishness to those who are perishing, but to us who are being saved it is the power of God.”

It goes on to say that God’s wisdom is unlike ours and his tools are not what we would imagine. His tools are not the ones we would craft.

Not a pulpit. Not a slick presentation. Not a bestselling book. But a 6lb. boy with Trisomy 18. God found great pleasure to take a lowly thing in the eyes of the world and show Truth.

Every aspect of Eliot’s life was a paradox. Because I hate it when people use words that I do not understand- let me define.

A paradox is defined as
“a seemingly absurd or contradictory proposition that upon investigation proves to be true”

Truly, all of Christianity is a paradox. G.K. Chesterton writes that, “Christianity is a superhuman paradox whereby two opposite passions may blaze beside each other”.

Our God teaches us that:
To become greatest I must become least.
That as a believer, I have total freedom & yet strive not to sin.
And ultimately, that I find life – in none other than the death of man named Jesus.
Through Eliot we experienced the paradox of joy and pain ablaze side by side.

Truly, the Lord did not ask us to take a path which He had not already traveled on our behalf. Although we did not willingly give up Eliot , his life & death have given new meaning to the sacrifice the Father made when He gave His only Son unto death, that we could have life.

And so today, we celebrate. Eliot is well. And, although we miss him more than we can express, we are only separated from him by our time left on earth. We anxiously wait to join Him in worshiping the Lord.

So today we propose a new standard.
How do you measure a life? By years? By esteem? By productivity?

Eliot Hartman Mooney
99 days, 98 birthday parties (& today makes 99)
18 nurses
17, 557 visits to his website
0 minutes unattended

Although these statistics are fun. They all fall woefully short of a metric whereby to judge Eliot’s life. We propose that Eliot’s life be measured by impact.

Thus, truly his was a full life.

We encourage you today to not forget Eliot. To not forget whatever his sweet life taught you. Please go & do that which has been stirred in you through his life. And we look forward to hearing of the ripples he has made in eternity.

Finally, when you arrived you were handed a flower. We believe that Eliot’s life is best understood when pictured much like the flower you hold.

A flower is picked to be enjoyed. Sweet to smell & viewed by all.

When your flower was picked, a process began whereby the flower’s life will end. But this is not the way we view a flower. We just enjoy it. We take it in.

Thank you, Eliot. You were the joy of mine & your mom’s life.”

Sumber: http://mattandginny.blogspot.com/2006/11/celebration-of-life.html

Sumber: http://health.detik.com/read/2009/08/31/132619/1193105/764/vonis-mati-bayi-trisomi-18, dengan beberapa tambahan oleh Charles Christian.

Jan 17

Kira-kira dua bulan yang lalu, saya mendapatkan sebuah ilustrasi yang membuat saya merenungkan tentang “fokus kepada Tuhan”. Saat ini, saya ingin membagikan ilustrasi tersebut di sini, dan hasil perenungan saya.

Ilustrasi tersebut mengisahkan tentang seorang ayah dan seorang anak. Sang ayah digambarkan sebagai seorang ayah yang sibuk yang sedang bekerja di depan komputernya. Sang anak adalah seorang anak yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi yang sedang berkutat dengan peta dunianya.

Tiba-tiba sang anak menghampiri sang ayah. Dia bertanya kepada sang ayah, “Pa, ini kota apa?” sambil menunjuk satu kota di peta dunianya. Sang ayah yang merasa terganggu menjawab dengan acuh tak acuh, “Itu kota London, Nak…”

Sang anak kembali berkutat dengan peta dunianya. Namun, tak lama dia kembali dan bertanya lagi kepada papanya, “Pa, kalau yang ini kota apa?” sambil menunjuk kota yang lain. Papanya melihat peta tersebut dan menjawab, “Itu kota Paris, Nak!”.

“Kalau yang ini, pa?” sang anak menunjuk kota yang lain. Sang ayah pun mulai tak sabar dan merasa terganggu oleh anaknya. Tiba-tiba, dia terpikir sebuah ide. Dia mengambil peta dunia anaknya dan menyobeknya menjadi beberapa bagian. Dia berkata, “Nak, kamu susunlah dulu peta dunia ini kembali menjadi utuh, baru kamu tanya papa lagi yah…”. Sang ayah berpikir dia telah berhasil membuat anaknya sibuk dengan “puzzle-puzzle” tersebut dan dia takkan terganggu lagi dalam waktu yang lama.

Namun, di luar dugaan sang ayah, tiga menit kemudian sang anak kembali dan bertanya, “Pa…”. Sang ayah terkejut ketika melihat sang anak membawa peta dunia yang sudah tersusun rapi secara baik dan benar. Dia bertanya-tanya, bagaimana mungkin anaknya dapat menyusun peta dunia yang rumit itu secepat itu. Bahkan, dia sendiri pun belum tentu bisa menyusunnya dalam waktu tiga menit.

Sang ayah lalu bertanya kepada anaknya, “Nak, bagaimana kamu dapat menyusun peta dunia yang rumit itu secepat ini?”

Sang anak menjawab, “Gampang pa…”. Lalu, sang anak membalik gambar peta dunia tersebut. Ternyata, di balik gambar peta dunia tersebut terdapat gambar Tuhan Yesus. Sang anak berkata, “Saya kan sudah sangat mengenal Tuhan Yesus. Jadi, saya balikkan semua potongan gambar tersebut, dan saya menyusun gambar Tuhan Yesus sesuai dengan yang saya kenal. Ketika saya menyelesaikan susunan gambar Tuhan Yesus tersebut, gambar peta dunia di baliknya juga otomatis tersusun dengan baik.”

Apa yang saya dapatkan dari ilustrasi di atas? Seringkali kita sebagai pekerja Kristus terlalu sibuk melihat dunia ini. Banyak dari kita bermimpi untuk dapat mengubah dunia ini, untuk memenangkan sebanyak mungkin jiwa, untuk menjangkau sebanyak mungkin orang-orang. Namun, ketika itu pula, kita melihat dunia yang besar. Seperti halnya peta dunia yang rumit, banyak tantangan yang ada di dalamnya, dan kita pun semakin merasa tak mampu, dan seringkali dikecewakan ketika hasil yang kita dapatkan tidak sesuai dengan hasil yang kita harapkan.

Kita mudah sekali terjebak pada ide mengubah dunia untuk kemuliaan diri kita sendiri, bukan kemuliaan Tuhan.

Kita seringkali mengandalkan kekuatan kita sendiri untuk dapat menjangkau banyak jiwa, bukan mengandalkan Tuhan.

Kita seringkali menjadikan Tuhan sebagai alat kita untuk memenuhi target kita. Padahal seharusnya, kitalah alat Tuhan untuk memenuhi target Tuhan.

Kita seringkali fokus pada dunia, bukan pada Tuhan.

Melalui ilustrasi di atas, kita diajak untuk fokus kepada Tuhan. Ketika kita sungguh-sungguh mengenal Tuhan, dan kita hanya fokus kepada-Nya, pada akhirnya “dunia yang diubahkan” menjadi suatu konsekuensi logisnya.

Kenapa bisa begitu? Ketika kita fokus kepada Tuhan, kita akan memandang segalanya dari sudut pandang Tuhan. Ketika kita melihat orang-orang yang terhilang, kita akan memiliki belas kasihan seperti Yesus yang memiliki belas kasihan ketika memandang orang-orang berdosa. Kita memiliki kekuatan yang asalnya dari Tuhan untuk menjangkau mereka. Kita akan senantiasa mengandalkan Tuhan. Kita akan siap dipakai menjadi alat Tuhan untuk mencapai tujuan yang sudah Tuhan tetapkan. Fokus kita adalah Tuhan, bukan dunia, bukan diri kita sendiri…

Dan pada akhirnya, ketika kita kembali ke rumah Bapa di Surga, kita dapat melihat Bapa tersenyum kepada kita. Dia akan membalik gambar tersebut dan berkata kepada kita, “Lihatlah anak-Ku, dunia yang telah diubahkan ini… Tujuan-Ku telah tercapai, dan kamu sebagai alat-Ku telah mengambil bagian di dalamnya, dan kamu telah melakukannya dengan sangat baik, wahai anak-Ku yang baik dan setia. Turutlah dalam kebahagiaan Bapa.”

Sungguh sangat indah hari itu. Teruslah fokus kepada Tuhan, dan sadarilah jika Tuhan memakai kita, itu tiada lebih dari anugerah-Nya. Seharusnya kita sangat bangga menjadi alat Tuhan untuk melakukan tugas mulia ini, untuk mencapai tujuan yang sudah Tuhan tetapkan, mengambil bagian dalam misi dan pekerjaan Tuhan. Selamat melayani.

Rangkuman:

Fokuslah kepada Tuhan. Ketika kita fokus kepada Tuhan, tanpa kita sadari, dunia pun ikut diubahkan menjadi lebih baik.

Jan 10

Ya, setelah selama seminggu saya menjelaskan 7 kategori tulisan yang akan ada di blog ini, tibalah saatnya pada kategori tulisan yang terakhir, yaitu kategori “renungan”. Sebenarnya, sebagian besar tulisan dalam blog ini bisa membawa kita pada perenungan pribadi, dan dapat dikategorikan sebagai sebuah renungan juga. Namun, “renungan” pada kategori ini akan lebih banyak berbicara tentang “renungan spiritual” saya sebagai seorang Kristen, dan renungan yang semakin mendekatkan diri saya pada Tuhan.

Beberapa renungan yang pernah saya tuliskan, di antaranya adalah renungan tentang cinta sejati, integritas seorang James Caviezel, sebuah puisi sederhana tentang hidup ini, bunuh diri, renungan yang menunjukkan rasa sayang yang sejati, tentang menyalahkan Tuhan, dan banyak renungan-renungan lainnya.

Semoga tulisan-tulisan ini bisa semakin mendekatkan diri kita kepada Tuhan, dan kita dapat memandang hidup ini dengan lebih baik lagi. Renungan-renungan ini akan teman-teman jumpai di blog ini setiap hari Minggu. :D

Yah, pada akhirnya, selesailah bab pendahuluan dari blog “New Charles’ Notes” ini. Berikutnya, besok kita akan masuk kepada bab pertama dari blog ini. Sampai jumpa besok teman-teman… :)

Apr 10

Izinkanlah saya untuk memperkenalkan Seseorang yang sangat luar biasa, yang pernah ada di dunia ini 2000 tahun silam, dan Dia masih hidup sampai sekarang.

Dia adalah seorang guru bagi banyak orang, tetapi Dia dikhianati salah satu murid-Nya sendiri.

Ketika murid-Nya dan para pasukan datang untuk menangkap Dia, murid-Nya yang lain membelanya dengan mengeluarkan pedangnya dan menebas telinga salah seorang prajurit. Apa yang dilakukan oleh-Nya? Dia meminta murid-Nya tersebut untuk menyarungkan kembali pedangnya dan Dia menyembuhkan telinga sang prajurit. Padahal, jika ingin, daripada menyembuhkan telinga prajurit tersebut, Dia bisa saja memutuskan telinganya yang satu lagi.

Dia diludahi, harga diri-Nya diinjak-injak, tetapi Dia tidak membalasnya. Jangankan membalas, bahkan Dia tidak mengumpat. Padahal, jika ingin, Dia bisa saja memutuskan lidah orang yang meludahi-Nya.

Dia diadili secara tidak adil. Sang hakim tidak menemukan kesalahan apapun daripada-Nya, tetapi malah menghukum mati Dia dan membebaskan seorang penjahat yang seharusnya layak dihukum. Tapi, Dia tidak melawannya. Padahal, Dia bisa saja membuat sang hakim menjadi berpihak pada-Nya.

Dia yang tidak bersalah, dicambuk ratusan kali dengan cambuk berujung tajam yang dapat mengangkat daging orang yang dicambuknya. Daging-Nya tercabik-cabik, tetapi Dia tidak melawan. Padahal, Dia bisa saja memutuskan tangan algojo-algojo yang mencambuknya.

Dia dipakaikan mahkota duri. Bayangkan duri-duri menancap di kepalanya, dan Dia tidak berusaha melepaskannya. Padahal, Dia bisa saja membuat mahkota duri itu berubah menjadi topi biasa dalam sekejap.

Dia dengan luka-luka cambukan di tubuh-Nya, dipaksa untuk memikul balok kayu kasar yang sangat berat ke atas sebuah bukit, dan Dia bahkan tidak mengeluh. Padahal, Dia bisa saja “memindahkan” luka-luka-Nya ke prajurit yang memaksa-Nya memikul balok kayu tersebut.

Kedua tangan-Nya dan kaki-Nya dipaku, lalu tubuhnya digantung di atas kayu salib, dan Dia tidak dendam dengan orang yang menyalibkan-Nya. Malahan, Dia mengampuni-Nya saat itu juga. Padahal, Dia bisa saja melenyapkan nyawa orang-orang yang menyalibkan-Nya saat itu juga. Selain itu, Dia juga bisa turun dari salib, tetapi Dia tidak melakukan-Nya.

Dia seolah dijadikan “mainan” yang bisa dicambuk dan dipaku seenaknya oleh para prajurit. Dia disiksa dengan kejam padahal tidak ada kesalahan yang Dia perbuat. Dia menghadapi ketidakadilan, tetapi masih dapat mengampuni orang yang memperlakukan-Nya dengan tidak adil. Dia yang adalah Tuhan, menderita sengsara di atas kayu salib, di bukit Kalvari.

Dia adalah Yesus Kristus. He is an amazing Man, amazing God.

Dia bisa saja melepaskan diri-Nya dari semua penderitaan itu, tetapi Dia tidak melakukannya KARENA kasih-Nya kepada kita. Dia menanggung semuanya itu untuk kita. Sekarang, apakah balas kita kepada-Nya?

Selamat memperingati wafat Yesus Kristus di hari Jumat Agung ini.

Dec 13

Ketika Tuhan Disalahkan

Posted by Charles


Pernah mengalami suatu kekecewaan sehingga membuat kita menyalahkan Tuhan?

“Tuhan! Mengapa hal ini terjadi? Di manakah Engkau? Mengapa Engkau tidak menjawab doaku? Apakah Engkau benar-benar ada? Mengapa Engkau tidak adil? Aku kecewa kepadaMu…”

Saat itu, kita seolah-olah melupakan status kita sebenarnya, sebagai seorang manusia yang berdosa dan tidak layak dikasihi, tetapi Tuhan mau mengasihi kita. Apakah kita hanya mengikut Tuhan karena Dia memberikan kita kesenangan? Apakah kita mensyukuri segala berkat yang telah Dia berikan kepada kita? Setiap hal-hal kecil yang sebenarnya sangat berharga. Setiap udara yang kita hirup, matahari yang kita rasakan, keluarga dan teman yang kita miliki… Seberapa sering kita merasa kita bisa berbuat lebih banyak dan lebih baik daripada apa yang telah diperbuat oleh Tuhan?

Sebelum kita menyalahkan Tuhan, ingatlah status kita, ingatlah segala hal kecil yang telah Tuhan berikan yang begitu berharga, dan ingatlah bahwa apa yang dia berikan adalah yang terbaik untuk kita. :D

Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?

Roma 9:20-21

———————-

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Roma 11:33-36

Sep 27

Adalah seseorang yang berkata kepada Tuhan, “Tuhan Yesus, aku ingin memberikan hidupku untuk-Mu. Masuklah ke dalam hatiku dan tinggallah di sana. Aku mengundang-Mu masuk ke dalam hatiku dan aku akan membukakan pintu hatiku untuk-Mu.” Demikianlah dia mengundang Tuhan Yesus untuk masuk ke dalam hatinya.Lalu dia membuka pintu hatinya, tetapi apakah yang terjadi? Ternyata hatinya sudah diisi penuh dengan hal-hal duniawi. Tuhan berkata, “Maaf anak-Ku, Aku tidak dapat masuk ke dalam hatimu yang sudah penuh ini.”Orang ini sangat menginginkan Yesus hadir di dalam hatinya, namun dia juga mencintai hal-hal duniawi yang ada dalam hatinya. Karena dia sangat ingin Yesus hadir dalam hatinya, akhirnya orang ini memutuskan dengan rela membuang hal-hal duniawi yang ada dalam hatinya dan memberikan tempat untuk Yesus, sampai akhirnya hatinya nyaris kosong dan hanya berisi satu hal duniawi yang sangat dia cintai dan sangat sulit dia lepaskan.Dia kembali berkata kepada Tuhan, “Tuhan Yesus, aku sudah membuang isi hatiku yang merupakan hal-hal duniawi yang aku sukai untuk memberikan-Mu tempat di dalam hatiku. Sekarang masuklah ke dalam hatiku dan tinggallah di sana.”

Tetapi Yesus berkata, “Maaf anak-Ku, tempat yang kau sediakan untuk-Ku tidaklah cukup. Selama masih ada hal lain di dalam hatimu, Aku tidak dapat masuk ke dalam hatimu, karena Aku adalah bagaikan cahaya dan jika masih ada hal lain di dalam hatimu, cahaya itu takkan dapat menerangi semua hatimu. Dan oleh karena itu, engkau harus membuat pilihan, apakah Aku yang ingin kau undang untuk tinggal di dalam hatimu, ataukah hal lain. Engkau tak dapat memilih keduanya untuk tinggal di dalam hatimu.”

      
Apr 7

Wah, sudah cukup lama juga ya saya tidak menulis dan membalas comment di blog ini. Cukup banyak hal yang terjadi selama itu. Sesuatu yang akan saya ceritakan pada tulisan saya kali ini…

Minggu lalu (karena sekarang sudah hari Senin, hehe) dapat dikatakan menjadi minggu yang buruk bagi saya. Kenapa? Pertama, saya menjalani dua ujian sepanjang minggu itu, dan dua-duanya dapat dikatakan “gagal”. Padahal seharusnya, saya cukup bisa di mata kuliah tersebut. T_T Berikutnya, banyak hal yang ada di pikiran, dari urusan di Fasilkom, PO Fasilkom, sampai urusan gereja dan keluarga. Sebenarnya, minggu ini bukanlah minggu yang teramat padat untuk saya, tetapi minggu-minggu mendatang sudah banyak deadline tugas menunggu untuk diselesaikan, dan betapa banyaknya hal yang harus saya lakukan (setidaknya sampai dua bulan ke depan). ~tema PJ jumat kemarin tentang hal kekhawatiran cukup mengena…

Lalu, apakah yang akan saya tulis di sini? Apakah saya akan mengeluh karena semua hal di atas? Jujur, awalnya keluhanlah yang keluar dari mulut saya. Sampai-sampai saya kehilangan semangat, juga untuk menulis di blog ini (untungnya sekarang sudah sembuh, hehe). Namun, setelah saya merenungkan lagi, keluhan hanyalah menambah berat beban ini. Keluhanlah yang membuat saya menjadi tidak semangat. Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak mengeluh, sebaliknya, malah bersyukur untuk semua hal yang boleh ada dan terjadi di dalam kehidupan saya.

Tidak mudah untuk bersyukur di tengah banyaknya hal yang tidak mengenakkan terjadi di dalam hidup kita. Saya pun merasakannya. Tapi, setelah saya merenungkan, setiap hal tersebut dapat terjadi di dalam hidup saya karena Tuhan mengizinkan itu terjadi, dan itu semua adalah untuk kebaikan saya. Saya mengingat sebuah lagu syukur, yang liriknya berbunyi seperti berikut:

Syukur pada-Mu ya Allah atas s’gala rahmat-Mu
Syukur atas kecukupan dari kasih-Mu penuh
Syukur atas pekerjaan, walau tubuh pun lemban
Syukur atas kasih sayang dari sanak dan teman

Syukur atas bunga mawar, harum, indah, tak terp’ri
Syukur atas awan hitam dan mentari berseri
Syukur atas suka-duka yang Kau b’ri tiap saat
Dan Firman-Mulah pelita agar kami tak sesat

Syukur atas keluarga, penuh kasih yang mesra
Syukur atas perhimpunan yang memb’ri sejahtera
Syukur atas kekuatan kala duka dan kesah
Syukur atas pengharapan kini dan selamanya

Ada satu bagian yang unik di dalam lirik di atas. “Syukur atas suka duka”. Ya, kita harus bersyukur setiap saat, di saat suka dan di saat duka.

Di tengah “kedukaan” saya tentang kegagalan saya dalam ujian, saya menjadi dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang gagal dalam ujian. Saya bisa lebih memahami mereka. Dan terlebih daripada itu, saya kembali diingatkan bahwa semua hal yang saya terima adalah anugerah dari Tuhan. Jika saya hanya mengandalkan kekuatan saya saja, saya pasti akan jatuh… Saya juga diingatkan untuk lebih tekun dalam belajar, dan untuk lebih bijak di dalam membagi waktu yang telah Tuhan berikan pada saya.

Di balik kegagalan, selalu ada hikmah yang dapat kita ambil… Dan, hikmah itu akan sangat berarti untuk membuat hidup kita menjadi lebih baik lagi di masa depan. Karena itulah saya lebih memilih bersyukur daripada menganggap itu sebagai sebuah kesialan. Susah… Benar, saya merasakan kalau bersyukur di saat sulit adalah sesuatu yang susah… Tapi, ingatlah ada pelangi di balik hujan, demikian juga semua kesusahan yang kita lihat sekarang akan menjadi kebaikan pada saatnya kelak. )

~btw, saya mendapatkan kekuatan ketika membaca tulisan-tulisan di sebuah blog, dan ketika saya mengetahui kalau ada teman yang sama-sama berjuang seperti saya. Yah jadi, kalau ada yang bilang blogger belum bisa memberikan citra positif, saya tidak setuju… Jangan samakan blogger dengan oknum blogger. Eh, kok jadi OOT yah, hehe…

okeh… semoga saya bisa senantiasa bersyukur. Tidak hanya bersyukur, saya juga akan berusaha untuk bangkit, tentunya dengan pertolongan-Nya. Terima kasih Tuhan, untuk satu pelajaran lagi yang telah Engkau berikan padaku…

Mar 21

Cinta Sejati

Posted by Charles


Cinta sejati? Pernahkah terbayang, cinta sejati itu seperti apa sih? Cobalah bayangkan Anda menerima cinta sejati itu… Apakah yang akan Anda lakukan? Tentunya Anda akan berusaha untuk membalas cinta itu bukan? Yah, yang saat ini akan saya bahas adalah mengenai cinta… Bukan cinta biasa, tapi cinta yang sangat luar biasa, kasih terbesar telah saya terima, yang telah didemonstrasikan 2000 tahun silam…

Hari ini adalah hari Jumat Agung, hari di mana umat Kristen memperingati kematian Yesus Kristus 2000 tahun silam. Sebuah kematian yang didapatkan dengan cara yang sangat hina dan tidak pantas, penyaliban! Hukuman salib adalah hukuman yang sangat menyakitkan. Kebanyakan hukuman mati membuat terhukum secepat mungkin mati (seperti hukuman tembak, kursi listrik, dll.). Tapi, hukuman salib ini tidaklah demikian. Terhukum akan merasakan penderitaan kesakitan yang sangat menyakitkan sebelum dia akhirnya mati. Bayangkan, dua paku pada tangan kiri dan kanan, serta sebuah paku pada kaki harus menyangga berat tubuh terhukum. Tak terbayangkan…

Yang lebih menyakitkan lagi, Yesus tidak hanya disalibkan. Dia juga dicemooh dan disesah sebelum penyaliban itu. Dan, dia harus memikul salib hingga ke bukit Golgota tempat Dia disalibkan. Penelitian “manusia kain kafan” menyebutkan terdapat 726 bekas luka cambuk pada tubuh Yesus. Luka yang disebabkan oleh cambuk berduri, yang sekali cambukannya dapat mengangkat daging orang yang dicambuk. Saya membayangkan, kalau hanya tertusuk jarum saja sudah sakit, apalagi dicambuk 726 kali dan dipaku? Tak terbayangkan…

Lalu, apa yang membuat Yesus harus disalibkan? Apakah karena dosa-dosa-Nya? Ternyata tidak demikian. Inilah cinta sejati yang diberikan Yesus pada kita. Marilah kita lihat, mengapa Yesus harus mengalami penderitaan ini. Penderitaan ini telah dinubuatkan jauh sebelum Dia disalibkan oleh Nabi Yesaya.

Yesaya 53

1Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? 2Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya.



3Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.

4Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

5Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

6Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

7Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.


8Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah.

9Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.


10Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.

11Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.



12Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.



Ya Tuhan, terima kasih untuk semua pengorbanan-Mu. Terima kasih untuk penebusan yang Kau berikan. Terima kasih untuk cinta sejati yang telah Kau tunjukkan dan berikan. Ampunilah semua dosa-dosaku. Ajar aku untuk dapat terus taat dan setia kepada-Mu.

Yohanes 15:13

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

Sumber gambar: film Passion of The Christ

Mar 16

Dear My Lord…

Posted by Charles


My Lord, should I be hurt to learn a lesson? If I should, I’ll let You hurt me to give me a lesson…

Lord, thanks for every lesson you give to me (which sometimes hurts me)… I love You. Thanks for every happiness and sorrow in my life that You’ve given. Not easy to say this, but You’ve given me enough strength to say this.

Thanks for everything, Lord… (esp. for Your redemption, that makes me speechless… Nothing can pay Your love for me).

Your son,
Charles

 :’)

Feb 25

Pada zaman dahulu kala (abad pertengahan hingga awal abad modern), para ilmuwan besar dunia berhasil menemukan fenomena-fenomena ilmiah di alam semesta ini, menganalisisnya, dan berhasil menjadikannya ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat pada saat tersebut antara lain dan yang utama adalah tentang astronomi, fisika, kedokteran, kimia, dan biologi (ilmu-ilmu sosial juga banyak berkembang, tapi itu tidak masuk pembahasan tulisan ini).

Dari fenomena-fenomena ilmiah tersebut, para ilmuwan telah membuktikan adanya sebuah kekuatan besar yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini dengan sangat sempurna dan teliti. Hasil ilmu pengetahuan dan teknologi itu pun membuat para ilmuwan dan semua yang mempelajari ilmu pengetahuan menjadi lebih dekat kepada Tuhan mereka. Atau bisa juga logikanya dibalik, orang-orang yang dekat dengan Tuhan mereka ingin mengenal Tuhan mereka lebih dekat, sehingga mereka mendekatinya lewat makhluk-makhluk ciptaan-Nya: alam semesta beserta isinya ini. (more…)