Seorang Anak Bimbingan Yang Menjadi Berkat Untuk Saya (1)
Posted by Charles
Sebuah Berita Mengejutkan Di Pagi Hari
“Ko, kayanya nanti saya ga kaer (kebaktian remaja) dan pembinaan deh… Rumah saya kebakaran!”
SMS itu masuk ke dalam inbox handphone saya pada hari Minggu kemarin, 25 Juli 2010 Pk 03:21 dini hari. Pengirimnya? Kurniawan, seorang anak bimbingan saya di gereja.
Saya baru membaca SMS itu ketika saya bangun jam setengah 6 pagi. Hampir saja saya menjatuhkan handphone saya saat membacanya. Saya langsung mencoba menghubungi dia.
Sia-sia. Handphone-nya tidak aktif. Saya malah menjadi bertambah khawatir. “Oh Tuhan, apa yang terjadi dengannya?”
Saya sungguh bergumul saat itu. Pagi itu, saya ada janji pergi dengan teman saya. Tapi, saya tidak akan mungkin dapat meninggalkan anak bimbingan saya dalam keadaan yang belum jelas dan sangat membuat saya khawatir. (Sebenarnya saya malu mengakui bahwa awalnya saya masih ragu-ragu untuk membantu anak bimbingan saya sendiri, tapi saya ingin bercerita dengan jujur). Kebingungan saya terjawab beberapa menit kemudian di kamar mandi saya.
Saya sedang mandi ketika saya bertanya kepada Tuhan di dalam hati saya, “Tuhan? Apa yang harus saya lakukan?” Dan saya percaya, Tuhan menjawabnya ketika ada sebuah suara yang saya rasakan sangat jelas di dalam hati saya: “Datanglah ke sana…”.
“Tapi Tuhan, apa yang bisa saya lakukan di sana?” Saya tidak pernah membantu orang yang mengalami musibah kebakaran sebelumnya. Meskipun di satu sisi saya sangat ingin membantu, di sisi lain saya merasa bingung dan tidak nyaman.
Semua keraguan saya sirna ketika suara itu bergema lagi di dalam hati saya: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.”
Singkat cerita, akhirnya saya membatalkan janji dengan teman saya. Dan saya pergi, ke lokasi kebakaran itu. Saat itu, saya sama sekali tidak tahu, bahwa Tuhan akan memberi saya berkat yang melimpah di sana.
Datang Ke Lokasi Kebakaran
Rumah Kurniawan, anak bimbingan saya tersebut, ada di daerah Tambora. Di sepanjang perjalanan, saya berdoa untuk keselamatan Kurniawan.
Saya pun sampai di depan gang dekat rel kereta api Bandengan. Saya melihat beberapa mobil pemadam kebakaran berjejer, dan banyak orang berkerumun. Saya mencoba untuk masuk ke dalam gang.
Saya melihat rumah-rumah yang berdempet-dempetan sepanjang gang itu. Saya melihat banyak orang berkerumun. Setelah saya agak jauh masuk ke dalam gang, saya mulai melihat rumah-rumah yang sudah hangus terbakar.
Saya masuk ke dalam gang rumah anak bimbingan saya. Saya tidak dapat sampai ke depan rumahnya. Petugas pemadam sedang sibuk menyemprotkan air ke rumah-rumah tersebut (yang sebenarnya sudah lebih mirip kumpulan tembok-tembok saat itu).
Saya sungguh terkejut. Saya tidak mengira kebakarannya sebesar ini. Meskipun saat itu api sudah berhasil dipadamkan, tetapi para petugas masih terus menyemprotkan air. Puluhan rumah habis terbakar si jago merah.
Sementara itu, saya masih mencari Kurniawan. Ya! Kurniawan… Di mana dia? Saya pun berusaha mencari di tengah kerumunan orang. Saat itulah, saya menyaksikan pemandangan di luar dugaan saya.
Sebuah Pemandangan Di Luar Dugaan
Apa yang Anda harapkan ketika Anda melihat seseorang yang rumahnya baru saja habis terbakar? Seorang yang sedang menangis tersedu-sedu? Seorang yang marah-marah? Seorang yang depresi? Seorang yang menunjuk orang lain dan berkata: “Ini semua salah kamu!!!”
Kawan, tidak satu pun dari orang-orang di atas yang saya temukan. Seberapa hebat pun saya mencari saat itu, tidak satu orang pun yang saya temukan menangis, marah-marah, depresi, atau saling menyalahkan. Setidaknya, sejauh yang saya lihat saat itu, saya tidak menemukannya.
Lalu, orang seperti apa yang saya temukan?
Yang saya temukan adalah orang yang sedang membeli banyak roti untuk tetangga-tetangganya, yang juga mengalami musibah.
Yang saya temukan adalah orang-orang yang saling membantu satu sama lain. Yang satu mengambil air. Yang lain menenteng ember. Yang lain lagi sedang menyiramkan isi ember itu ke sisa-sisa api.
Yang saya temukan adalah dua orang yang berpapasan. Yang seorang bertanya, “Hai… Gimana rumahmu?”. Dengan senyum terukir di wajahnya, yang lain menjawab, “Rumah habis semua. Tapi untung anak-anak selamat semua. Kamu bagaimana?”. Tersenyum juga, dia menjawab, “Sama. Tak ada yang tersisa, tapi keluarga aman.”
Hei, apakah tidak salah!? Mereka baru saja kehilangan rumah mereka, dan mereka dapat tersenyum begitu lepasnya. Mereka bahkan masih saling memperhatikan satu sama lain. Jika saya ada di posisi mereka, dapatkah saya melakukan hal yang sama? Suatu hal yang masih saya ragukan.
Saya yang awalnya berniat membantu, hanya bisa terdiam menyaksikan semua hal yang luar biasa tersebut. Saya merasakan aura positif di tengah kekacauan akibat kebakaran. Saya melihat begitu banyak orang yang luar biasa. Tidak terkecuali anak bimbingan saya.
Respon yang Luar Biasa
Saya masih terdiam ketika dia menepuk bahu saya.
“Hai koko!” sapaan yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Sapaan anak bimbingan saya. Kurniawan menghampiri saya.
“Hai Kur… Koko cari kamu dari tadi. Gimana rumah kamu?”
Tidak ada kesedihan yang terlihat di wajahnya. Hanya senyuman yang biasa dia tunjukkan. Dia menjawab, “Wah… Abis semua ko. Rumah saya uda jadi kaya lapangan bola…”
“Hah? Abis semua Kur?” saya terkejut.
“Iya. Baju aja tinggal yang saya pake sekarang. Cuma sempet ngeluarin motor dan sedikit baju dede saya.”
Oh Tuhan… Apa yang Engkau ingin nyatakan pada Kurniawan? Saya teringat, baru saja sehari sebelumnya kaki Kurniawan tertusuk paku. Dan hari itu, seharusnya dia mengikuti pertandingan basket. Pertandingan final. Baru juga sehari sebelumnya, dia membeli sepatu untuk dia pakai di pertandingan itu. Tapi sepatu itu lenyap dalam beberapa jam, tanpa sempat dipakai olehnya. Baru pula sehari sebelumnya, dia membantu kokonya bekerja seharian. Siapa yang menyangka, sekarang peralatan kerja kokonya pun sudah habis terbakar, di saat sebenarnya pekerjaan itu masih harus dilanjutkan hari itu.
Saya percaya, Tuhan ada rencana yang indah pada Kurniawan. Tapi, saat itu, segalanya terlihat begitu gelap. Ibarat orang yang sudah jatuh, tertimpa tangga, dan tertiban balok pula.
Tapi, respon Kurniawan menghadapi semua ujian ini sungguh baik. Tidak. Lebih dari baik, ini luar biasa! Kurniawan meresponi semua musibah ini dengan begitu positif. Dia meresponi dengan keyakinan Tuhan masih menyertainya sampai detik ini, meskipun dia sedang mengalami musibah yang hebat.
“Mama dan yang lain gimana Kur?” saya bertanya lagi.
“Puji Tuhan semua selamat ko. Saya barusan disuruh jaga motor sih, tapi sudah saya kunci. Koko mau lihat rumah saya?”
“Ga pa pa Kur motornya ditinggal?”
“Ga pa pa ko, aman… Uda saya kunci.” kata Kurniawan. Senyumnya masih terus terukir. Dan saya pun diantar ke gang rumahnya. Saya tidak dapat melihat dengan jelas saat itu, karena saya hanya melihat dari jauh. Petugas pemadam masih sibuk bekerja. Akhirnya, Kurniawan membawa saya bertemu mama dan adiknya.
Seperti orang-orang yang lain, mama Kurniawan pun tidak menunjukkan tanda-tanda kesedihan. Hei, saya tahu mereka semua sedang sedih. Tapi, mereka memilih untuk tidak memfokuskan diri mereka pada kesedihan mereka, melainkan pada hal-hal yang dapat mereka selamatkan, keluarga mereka. Dan itulah yang luar biasa.
Mama Kurniawan bercerita, “Kur tadi hebat loh, dia ingetin saya buat lepasin gas. Biar ga meledak katanya. Oh iya ya… Saya saja tidak ingat. Lalu saya lepasin gas. Abis itu langsung mati lampu. Dan ga berapa lama api udah nyamber. Tapi tabung gas itu selamat.”
“Ah, tapi sama aja ko… Yang lain ga lepasin gasnya, jadi meledak juga dari rumah yang lain ko… Hehehe.” kata Kurniawan sambil tertawa, membuat orang-orang di sekitarnya juga tertawa kecil.
“Tadi ribut-ribut saya kira ada tawuran… Jadi saya diemin aja. Terus saya kaget Kurniawan bilang kebakaran. Jadi saya baru bangun, untung semuanya bisa bangun dan selamat akhirnya…” mama Kurniawan cerita lagi.
“Hmm, ada korban jiwa ga ya di kebakaran ini?” saya bertanya lagi, penasaran.
“Tadi hampir ada ko… Kakek-kakek yang uda agak tuli. Digedor-gedor tetep ga bangun. Akhirnya pintunya didobrak, dan dia baru bisa dibangunin. Wah, kalo ga, uda jadi daging panggang ko…” kata Kurniawan.
Wow! Di tengah kepanikan, mereka masih ingat pada seorang kakek-kakek tua yang hampir tuli, yang hidup sendirian di dalam rumahnya yang terkunci. Mereka bahkan mendobrak pintu untuk menyelamatkan sang kakek. Mereka tidak berpikir keselamatan diri mereka sendiri saja, tapi juga keselamatan orang di sekitar mereka.
Api boleh membakar barang-barang mereka. Tapi mereka tetap bergembira karena mereka berhasil menyelamatkan setiap nyawa. Api tidak dapat membakar cinta kasih yang ada di dalam hati mereka.
Ingin Membantu, Malah Dibantu
Mau tahu akhir kisah yang tragis namun luar biasa pagi itu? Kurniawan mengantarkan saya pulang dengan motornya. Oh, saya mau menangis di perjalanan.
Diantar pulang naik motor mungkin sebuah hal yang biasa. Diantar pulang naik motor oleh seorang anak bimbingan yang rumahnya baru saja terbakar habis. Rasanya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Saya tahu, Kurniawan akan berkata “Ah, koko lebay…” ketika membaca tulisan ini. Tidak Kur, ini tidak lebay. Sungguh itu yang koko rasakan…
Tidak sekali pun terdengar keluhan. Tidak sekali pun terlontar makian. Tidak sekali pun dia meminta bantuan. Kenyataannya, justru sayalah yang dibantu. Saya benar-benar tidak membantunya pagi itu. Dia membantu saya dengan mengantarkan saya pulang.
Saya teringat kata-kata Tuhan tadi pagi: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.” Ini benar sekali. Tuhan ingin menunjukkan kepada saya seorang anak bimbingan saya yang sungguh luar biasa.
Tentunya, karena dia memiliki Tuhan yang luar biasa juga, yang telah mengubahkan hidupnya. Dan saya sangat bersyukur untuk semua itu.
Sungguh banyak berkat yang saya dapatkan, sehingga saya harus memecah tulisan ini menjadi beberapa bagian. Siang itu, saya datang lagi menemui Kurniawan, kali ini dengan teman-teman yang lain. Tapi ini cerita yang lain lagi, dengan berkat yang berbeda lagi yang saya dapatkan.
Apa yang Saya Pelajari
Lalu, apa yang saya pelajari pagi itu? Saya belajar untuk tidak egois, dan lebih memperhatikan orang lain. Saya belajar untuk mengandalkan Tuhan dan bersyukur senantiasa. Saya belajar untuk meresponi hal-hal buruk yang terjadi dengan sikap yang positif.
Tuhan yang mengajarkan itu kepada saya. Melalui anak bimbingan saya yang luar biasa.
Terima kasih Tuhan. Terima kasih Kurniawan.
Percayalah, Tuhan menyertaimu sampai kepada akhir zaman.
Teruslah percaya kepada-Nya.
Charles Christian
P.S. Yeremia 29:11. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Bersambung…
Humor: Warisan Beruntun
Posted by Charles
Agus bertemu dengan Budi, sahabatnya. Namun anehnya Budi memperlihatkan wajah murung. Wajahnya seperti diselimuti oleh mendung, padahal hari itu cerah.
Agus: "Kenapa lu Bud, kok kayaknya sedih banget?"
Budi: "Begini Gus, tiga minggu yang lalu Om gua meninggal dunia, gua dapet warisan 100 juta rupiah"
Agus: "Lha, bagus, dong!"
Budi: "Bagus apaan? Denger dulu cerita gua. Nah, dua minggu yang lalu salah seorang sepupu gua meninggal karena tabrakan. Gua dapet warisan motor
Harley-nya"
Agus: "Enak banget nasib lu!"
Budi: "Terus, minggu lalu kakek gua meninggal dunia, gua dapet warisan 500 juta rupiah dan sebuah rumah di Pondok Indah"
Agus: "Gile benerrrr!!! Lantas ngapain lu kelihatannya sedih banget hari ini?"
Budi: "Soalnya minggu ini belum ada lagi yang meninggal
Moral: Kunci dari kebahagiaan bukanlah seberapa banyak harta yang kita miliki. Kita akan bahagia ketika kita dapat mensyukuri apa yang kita miliki.
![]()
Rumput Tetangga Mungkin Lebih Hijau, Tapi Buah Kebun Kita Lebih Manis
Posted by Charles
Suatu siang di daerah Tanjung Duren, saya sedang mengendarai mobil. Jalan cukup macet saat itu, meski masih bergerak. Mobil saya ada di jalur tengah. Saya melihat ke jalur di sebelah kiri saya. Entah hanya perasaan atau bukan, saya merasa jalur di sebelah kiri saya lebih lancar. Mobil-mobil yang ada di sebelah saya melaju lebih cepat. Saya jadi ingat sebuah pepatah, “Rumput tetangga terlihat lebih hijau dari rumput di kebun kita sendiri”. Saya pun berinisiatif untuk berpindah jalur ke jalur di sebelah kiri saya.
Ternyata berpindah jalur tidak semudah yang saya bayangkan. Mobil-mobil yang ada di jalur kiri tentu tidak membiarkan begitu saja jalannya diambil oleh mobil saya. Di sini berlaku, siapa yang lebih cepat dan lebih tinggi skill-nya, dia yang akan mendapatkan jalan. Alhasil, setelah beberapa detik berusaha, saya masih belum berhasil berpindah jalur. Lalu, saya kaget ketika mendengar bunyi klakson mobil di belakang saya. Saya melihat ke depan, dan ternyata mobil di depan saya sudah berada jauh di depan saya, dan tercipta ruang kosong yang cukup banyak di jalur saya. Saya begitu terobsesi pada jalur sebelah saya sampai saya tidak memperhatikan jalur saya sendiri. Akhirnya saya mengurungkan niat saya untuk berpindah jalur dan meneruskan perjalanan pada jalur saya.
Saat itu, ada satu kalimat yang terlewat di pikiran saya: “Rumput Tetangga Mungkin Lebih Hijau, Tapi Buah Kebun Kita Lebih Manis”. Salah satu sifat buruk manusia adalah sifat tidak pernah puas yang membuatnya menjadi kurang bersyukur. Seringkali kita membandingkan diri kita dengan orang lain, dan mungkin kita melihat banyak kelebihan orang lain yang lebih baik daripada kita, dan kita menjadi menginginkannya. Kita melihat rumput tetangga lebih hijau daripada rumput kita. Tapi, kita kadang tidak menyadari banyak kelebihan-kelebihan kita yang patut kita syukuri dan gunakan untuk membantu orang lain. Kita hanya melihat rumput, kita tidak melihat buah kebun kita lebih manis daripada buah kebun tetangga kita. Kita hanya melihat yang kita tidak miliki, dan kita menjadi kurang bersyukur dengan apa yang telah kita miliki. Apa yang telah kita miliki mungkin kita anggap biasa saja. Kita tidak menyadari betapa berharganya hal itu sampai itu diambil dari kita.
Dari hal sederhana ini, saya belajar untuk mensyukuri apa yang saya miliki. Keluarga yang saya miliki, kesehatan yang saya miliki, bakat/talenta yang saya miliki, teman-teman yang saya miliki, dan masih banyak lagi. Kita akan sulit sekali bersyukur jika kita selalu memfokuskan diri kita kepada hal yang tidak kita miliki. Karena itu, jangan lupakan kelebihan yang kita miliki, meskipun mungkin sangat sederhana, untuk kita syukuri. Mungkin bagi orang lain, kelebihan yang sangat sederhana itu sangatlah besar artinya. Rumput tetangga boleh lebih hijau, tapi jangan lupa buah kebun kita lebih manis. Setiap orang pasti mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Lihatlah semuanya secara seimbang, dan marilah kita syukuri apa yang kita miliki.
Humor: Surat Penyesalan untuk Ayah
Posted by Charles
Sang Ayah mendapati kamar itu sudah rapi, dengan selembar amplop bertuliskan “Untuk ayah” di atas kasurnya. Perlahan dia mulai membuka surat itu…
Ayah tercinta,
Aku menulis surat ini dengan perasaan sedih dan sangat menyesal. Saat ayah membaca surat ini, aku telah pergi meninggalkan rumah. Aku pergi bersama kekasihku, dia cowok yang baik.
Setelah bertemu dia, ayah juga pasti akan setuju. Meski dengan tatto2 dan piercing yang melekat ditubuhnya, juga dengan motor bututnya serta rambut gondrongnya.
Dia sudah cukup dewasa meskipun belum begitu tua (aq pikir jaman sekarang 42 tahun tidaklah terlalu tua). Dia sangat baik terhadapku, lebih lagi dy ayah dari anak di kandunganku saat ini. Dia memintaku untuk membiarkan anak ini lahir dan kita akan membesarkannya bersama.
Kami akan tinggal berpindah-pindah, dia punya bisnis perdagangan extacy yang sangat luas, dia juga telah meyakinkanku bahwa marijuana itu tidak begitu buruk.
Kami akan tinggal bersama sampai maut memisahkan kami. Para ahli pengobatan pasti akan menemukan obat untuk AIDS jadi dy bisa segera sembuh.
Aq tahu dia juga punya cewek lain tapi aq percaya dia akan setia padaku dengan cara yang berbeda.
Ayah.. jangan khawatirkan keadaanku. Aku sudah 15 tahun sekarang, aku bisa menjaga diriku. Salam sayang untuk kalian semua.
Oh iya, berikan bonekaku untuk adik, dia sangat menginginkannya.
Masih dengan perasaan terguncang dan tangan gemetaran, sang ayah membaca lembar kedua surat dari putri tercintanya itu…
P.S.: Ayah… Tidak ada satu pun dari yang aku tulis di atas itu benar. Aku hanya ingin menunjukkan ada ribuan hal yg lebih mengerikan daripada nilai rapotku yg buruk. Kalau ayah sudah menandatangani rapotku di atas meja, panggil aku ya… Aku tidak ke mana2. Saat ini aku ada di tetangga sebelah ….
Moral:
Bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki saat ini. Masih banyak orang lain yang jauh lebih menderita daripada kamu saat ini.

Ketika Tuhan Disalahkan
Posted by Charles
Pernah mengalami suatu kekecewaan sehingga membuat kita menyalahkan Tuhan?
“Tuhan! Mengapa hal ini terjadi? Di manakah Engkau? Mengapa Engkau tidak menjawab doaku? Apakah Engkau benar-benar ada? Mengapa Engkau tidak adil? Aku kecewa kepadaMu…”
Saat itu, kita seolah-olah melupakan status kita sebenarnya, sebagai seorang manusia yang berdosa dan tidak layak dikasihi, tetapi Tuhan mau mengasihi kita. Apakah kita hanya mengikut Tuhan karena Dia memberikan kita kesenangan? Apakah kita mensyukuri segala berkat yang telah Dia berikan kepada kita? Setiap hal-hal kecil yang sebenarnya sangat berharga. Setiap udara yang kita hirup, matahari yang kita rasakan, keluarga dan teman yang kita miliki… Seberapa sering kita merasa kita bisa berbuat lebih banyak dan lebih baik daripada apa yang telah diperbuat oleh Tuhan?
Sebelum kita menyalahkan Tuhan, ingatlah status kita, ingatlah segala hal kecil yang telah Tuhan berikan yang begitu berharga, dan ingatlah bahwa apa yang dia berikan adalah yang terbaik untuk kita.
Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?
Roma 9:20-21
———————-
O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!
Roma 11:33-36

Ketika Kita Kehilangan
Posted by Charles
Skenario 1
Andaikan Anda sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi. Karena tidak mendapatkan tempat duduk, Anda berdiri di dalam gerbong tersebut. Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi Anda untuk menggoyang-goyangkan kaki. Di tengah perjalanan, Anda dikejutkan oleh seseorang yang menepuk bahu Anda. “Mas… Handphone mas barusan jatuh nih,” kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik Anda. Apa yang akan Anda lakukan kepada orang tersebut? Mungkin Anda akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.
Skenario 2
Sekarang kita beralih kepada skenario kedua. Andaikan Anda tidak sadar handphone Anda terjatuh, dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya. Orang itu tahu handphone itu milik Anda tetapi tidak langsung memberikannya kepada Anda. Hingga tiba saatnya Anda akan turun dari kereta. Sesaat sebelum Anda turun dari kereta, orang itu menepuk Anda dan menyodorkan handphone Anda sambil berkata “Mas… Handphone mas barusan jatuh nih.” Apa yang akan Anda lakukan kepada orang tersebut? Mungkin Anda akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut, tetapi saya pikir rasa terima kasih yang Anda berikan akan lebih besar daripada rasa terima kasih yang Anda berikan pada orang di skenario pertama (orang yang langsung memberikan handphone itu kepada Anda). Setelah itu mungkin Anda akan langsung turun dari kereta.
Skenario 3
Marilah kita beralih kepada skenario ketiga. Pada skenario ini, Anda tidak sadar handphone Anda terjatuh, hingga Anda menyadari handphone Anda tidak ada di kantong Anda saat Anda sudah turun dari kereta. Anda pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone Anda, berharap ada orang baik yang menemukan handphone Anda dan bersedia mengembalikannya kepada Anda. Orang yang sejak tadi menemukan handphone Anda (namun tidak memberikannya kepada Anda) menjawab telepon Anda. “Halo, selamat siang mas. Saya pemilik handphone yang ada pada mas sekarang,” kata Anda kepada orang yang sangat Anda harapkan berbaik hati mengembalikan handphone itu kembali kepada Anda. Gayung bersambut, orang yang menemukan handphone Anda berkata, “Oh, ini handphone mas ya… Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut. Biar mas ambil di sana nanti ya…” Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, Anda pun pergi ke stasiun berikut dan menemui “orang baik” tersebut. Orang itu pun memberikan handphone Anda yang telah hilang. Apa yang akan Anda lakukan pada orang tersebut? Satu hal yang pasti, Anda akan mengucapkan terima kasih, dan sepertinya akan lebih besar daripada rasa terima kasih Anda pada skenario kedua bukan? Bukan tidak mungkin kali ini Anda akan memberikan hadiah kecil kepada orang yang menemukan handphone Anda tersebut.
Skenario 4
Terakhir, mari kita perhatikan skenario keempat. Pada skenario ini, Anda tidak sadar handphone Anda terjatuh, Anda turun dari kereta dan menyadari bahwa handphone Anda telah hilang, Anda mencoba menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat. Sampai akhirnya Anda tiba di rumah. Malam harinya, Anda mencoba mengirimkan SMS: “Bapak/Ibu yang budiman. Saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak/ibu sekarang. Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak/ibu untuk dapat mengembalikan handphone itu kepada saya. Saya akan memberikan imbalan sepantasnya.” SMS pun dikirim dan tidak ada balasan. Anda sudah putus asa. Anda kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam handphone Anda. Ada begitu banyak nomor telepon teman Anda yang ikut hilang bersamanya. Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone Anda menjawab SMS Anda, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan handphone tersebut. Bagaimana kira-kira perasaan Anda? Tentunya Anda akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang diberikan oleh orang itu. Anda pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone Anda. Apa yang akan Anda berikan kepada orang tersebut? Anda pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan mungkin Anda akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih berharga dibandingkan hadiah yang mungkin Anda berikan di skenario ketiga).
Moral
Apa yang Anda dapatkan dari empat skenario cerita di atas? Pada keempat skenario tersebut, Anda sama-sama kehilangan handphone, dan ada orang yang menemukannya. Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada Anda. Anda berikan dia ucapan terima kasih. Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada Anda sesaat sebelum Anda turun dari kereta. Anda berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar. Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada Anda setelah Anda turun dari kereta. Anda berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah. Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah itu baru mengembalikannya kepada Anda. Anda berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.
Ada sebuah hal yang aneh di sini. Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, siapakah yang paling baik? Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada Anda, bukan? Dia adalah orang pada skenario pertama. Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara empat orang di atas. Manakah orang yang paling tidak baik? Tentunya orang pada skenario keempat, karena dia telah membuat Anda menunggu beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone Anda tersebut selama itu. Namun, ternyata dia adalah orang yang akan Anda berikan reward paling besar. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Anda memberikan reward kepada keempat orang tersebut secara tulus, tetapi orang yang seharusnya lebih baik dan lebih pantas mendapatkan banyak, Anda berikan lebih sedikit.
OK, kenapa bisa begitu? Ini karena rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap skenario. Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belum sadar handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali. Pada skenario kedua, kita juga belum merasakan kehilangan karena saat itu kita belum sadar, tetapi kita membayangkan rasa kehilangan yang mungkin akan kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari kereta. Pada skenario ketiga, Anda sempat merasakan kehilangan, namun tidak lama Anda mendapatkan kelegaan dan harapan Anda akan mendapatkan handphone Anda kembali. Pada skenario keempat, Anda sangat merasakan kehilangan itu. Anda mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang yang menemukan handphone Anda, asalkan handphone itu bisa kembali kepada Anda. Rasa kehilangan yang bertambah menyebabkan Anda semakin menghargai handphone yang Anda miliki.
Saat ini, adakah sesuatu yang kurang Anda syukuri? Apakah itu berupa rumah, handphone, teman-teman, kesempatan berkuliah, kesempatan bekerja, atau suatu hal lain… Ada satu cara yang benar-benar ampuh yang bisa dilakukan Tuhan untuk membuat kita mensyukuri sesuatu yang mungkin kita anggap biasa itu. Bagaimana? Dengan mengambilnya dari kita, hingga kita merasakan kehilangan. Saat itulah, kita akan mensyukuri segala sesuatu yang telah hilang tersebut. Namun, apakah kita perlu merasakan kehilangan itu agar kita dapat bersyukur? Saya rasa sebaiknya tidak. Syukurilah segala yang kita miliki, termasuk hidup kita, selagi itu masih ada. Jangan sampai kita menyesali karena tidak bersyukur ketika itu telah diambil dari kita.

terimaksih atas semua…
Posted by Anita
Di Balik Kegagalan Selalu Ada Hikmah…
Posted by Charles
Wah, sudah cukup lama juga ya saya tidak menulis dan membalas comment di blog ini. Cukup banyak hal yang terjadi selama itu. Sesuatu yang akan saya ceritakan pada tulisan saya kali ini…
Minggu lalu (karena sekarang sudah hari Senin, hehe) dapat dikatakan menjadi minggu yang buruk bagi saya. Kenapa? Pertama, saya menjalani dua ujian sepanjang minggu itu, dan dua-duanya dapat dikatakan “gagal”. Padahal seharusnya, saya cukup bisa di mata kuliah tersebut. T_T Berikutnya, banyak hal yang ada di pikiran, dari urusan di Fasilkom, PO Fasilkom, sampai urusan gereja dan keluarga. Sebenarnya, minggu ini bukanlah minggu yang teramat padat untuk saya, tetapi minggu-minggu mendatang sudah banyak deadline tugas menunggu untuk diselesaikan, dan betapa banyaknya hal yang harus saya lakukan (setidaknya sampai dua bulan ke depan). ~tema PJ jumat kemarin tentang hal kekhawatiran cukup mengena…
Lalu, apakah yang akan saya tulis di sini? Apakah saya akan mengeluh karena semua hal di atas? Jujur, awalnya keluhanlah yang keluar dari mulut saya. Sampai-sampai saya kehilangan semangat, juga untuk menulis di blog ini (untungnya sekarang sudah sembuh, hehe). Namun, setelah saya merenungkan lagi, keluhan hanyalah menambah berat beban ini. Keluhanlah yang membuat saya menjadi tidak semangat. Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak mengeluh, sebaliknya, malah bersyukur untuk semua hal yang boleh ada dan terjadi di dalam kehidupan saya.
Tidak mudah untuk bersyukur di tengah banyaknya hal yang tidak mengenakkan terjadi di dalam hidup kita. Saya pun merasakannya. Tapi, setelah saya merenungkan, setiap hal tersebut dapat terjadi di dalam hidup saya karena Tuhan mengizinkan itu terjadi, dan itu semua adalah untuk kebaikan saya. Saya mengingat sebuah lagu syukur, yang liriknya berbunyi seperti berikut:
Syukur pada-Mu ya Allah atas s’gala rahmat-Mu
Syukur atas kecukupan dari kasih-Mu penuh
Syukur atas pekerjaan, walau tubuh pun lemban
Syukur atas kasih sayang dari sanak dan temanSyukur atas bunga mawar, harum, indah, tak terp’ri
Syukur atas awan hitam dan mentari berseri
Syukur atas suka-duka yang Kau b’ri tiap saat
Dan Firman-Mulah pelita agar kami tak sesatSyukur atas keluarga, penuh kasih yang mesra
Syukur atas perhimpunan yang memb’ri sejahtera
Syukur atas kekuatan kala duka dan kesah
Syukur atas pengharapan kini dan selamanya
Ada satu bagian yang unik di dalam lirik di atas. “Syukur atas suka duka”. Ya, kita harus bersyukur setiap saat, di saat suka dan di saat duka.
Di tengah “kedukaan” saya tentang kegagalan saya dalam ujian, saya menjadi dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang gagal dalam ujian. Saya bisa lebih memahami mereka. Dan terlebih daripada itu, saya kembali diingatkan bahwa semua hal yang saya terima adalah anugerah dari Tuhan. Jika saya hanya mengandalkan kekuatan saya saja, saya pasti akan jatuh… Saya juga diingatkan untuk lebih tekun dalam belajar, dan untuk lebih bijak di dalam membagi waktu yang telah Tuhan berikan pada saya.
Di balik kegagalan, selalu ada hikmah yang dapat kita ambil… Dan, hikmah itu akan sangat berarti untuk membuat hidup kita menjadi lebih baik lagi di masa depan. Karena itulah saya lebih memilih bersyukur daripada menganggap itu sebagai sebuah kesialan. Susah… Benar, saya merasakan kalau bersyukur di saat sulit adalah sesuatu yang susah… Tapi, ingatlah ada pelangi di balik hujan, demikian juga semua kesusahan yang kita lihat sekarang akan menjadi kebaikan pada saatnya kelak.
~btw, saya mendapatkan kekuatan ketika membaca tulisan-tulisan di sebuah blog, dan ketika saya mengetahui kalau ada teman yang sama-sama berjuang seperti saya. Yah jadi, kalau ada yang bilang blogger belum bisa memberikan citra positif, saya tidak setuju… Jangan samakan blogger dengan oknum blogger. Eh, kok jadi OOT yah, hehe…
okeh… semoga saya bisa senantiasa bersyukur. Tidak hanya bersyukur, saya juga akan berusaha untuk bangkit, tentunya dengan pertolongan-Nya. Terima kasih Tuhan, untuk satu pelajaran lagi yang telah Engkau berikan padaku…

t*i - Seolah kata biasa
Posted by Charles
Saat ini, saya suka mendengar orang-orang (bahkan teman-teman saya) mengucapkan kata-kata yang bersifat makian, negatif, dan tidak membangun, yang membuat saya sendiri risih mendengarnya. Kata-kata itu antara lain (dengan sensor :P):
-
t*i
-
m*ny*t
-
a*ji*g
-
sh*t
-
sia*
-
sia**n
-
a*j*it
Biasanya, mereka mengucapkan kata-kata itu ketika mereka sedang kesal dan terkejut. Tapi, tidak jarang juga mereka yang sudah terbiasa menggunakan kata-kata di atas di dalam percakapan mereka sehari-hari.
Kalau diperhatikan, kata-kata di atas mempunyai kesamaan. Semuanya bernada negatif dan bernada makian. Pada awalnya, orang-orang hanya menggunakan kata-kata itu di saat mereka sedang sangat kesal dengan seseorang, hingga mereka memaki orang tersebut dengan kata-kata di atas. Tapi, saat ini, kata-kata itu seolah kata biasa. Bahkan, tidak sedikit orang yang latah mengucapkan kata-kata di atas.
Apa sih salahnya kita mengucapkan kata-kata di atas? Menurut saya, ini adalah pengaruh buruk yang terjadi jika kita mengucapkan kata-kata tersebut:
-
Melukai hati orang lain (yang dituju). Mungkin awalnya kata-kata ini diucapkan untuk menyinggung orang lain, dan kita tahu kalau itu tidak baik. Ingat, luka yang ada di dalam hati seseorang tidak akan dapat pulih sepenuhnya.
-
Menandakan kita tidak dapat mengontrol diri/emosi. Jika kita bisa mengontrol diri/emosi kita, tentulah kata-kata di atas tidak akan keluar.
-
Membawa aura negatif bagi orang yang mendengarnya. Kalau tentang hal ini, saya sudah merasakannya. Saya benar-benar tidak nyaman ketika mendengar orang berkata hal-hal itu, apalagi yang kebiasaan mengucapkan hal-hal itu.
-
Bisa menjadi kebiasaan buruk. Yah, mungkin awalnya kita hanya sekali-sekali mengucapkan kata-kata tersebut. Tetapi, itu bisa membuat kita terbiasa akan kata-kata tersebut, dan bukan tidak mungkin kita bisa menjadi latah mengucapkannya.
-
Membawa aura negatif bagi pengucapnya. Ternyata, bukan hanya orang-orang di sekitarnya saja yang bisa terpengaruh. Tapi, orang yang mengucapkannya pun dapat terpengaruh dengan pengaruh negatif kata-kata itu.
So, dibandingkan kita mengucapkan kata-kata negatif itu, bukankah lebih baik kita mengucapkan kata-kata yang positif, dan lebih mensyukuri apa yang ada pada kita? Efek baiknya bukan hanya untuk kita saja, tapi juga untuk sekitar kita. Yuk, kita coba…
Catatan: Yang saya maksud dengan “mengucapkan kata-kata tersebut” adalah mengucapkan kata-kata tersebut tidak pada tempatnya.
~Saya juga prihatin dengan orang-orang di luar sana, yang kalau terkejut mengucapkan “Jesus” (bahkan sudah jadi latah). Betapa rendahnya nama “Jesus” diterjemahkan menjadi “astaga” di film-film! Sebuah penghinaan besar. Dan yang membuat saya lebih prihatin, orang-orang yang mengucapkannya rata-rata adalah orang yang mengaku dirinya Kristen…

Dear My Lord…
Posted by Charles
My Lord, should I be hurt to learn a lesson? If I should, I’ll let You hurt me to give me a lesson…
Lord, thanks for every lesson you give to me (which sometimes hurts me)… I love You. Thanks for every happiness and sorrow in my life that You’ve given. Not easy to say this, but You’ve given me enough strength to say this.
Thanks for everything, Lord… (esp. for Your redemption, that makes me speechless… Nothing can pay Your love for me).
Your son,
Charles
:’)

Ketika sampah pun dimakan mereka
Posted by Charles
Sore ini, seperti biasa setiap minggunya, saya pulang dari tempat kuliah saya di Depok ke rumah saya di Jakarta. Dan seperti biasa juga, saya memanfaatkan jasa kereta api untuk mengantarkan saya dari Depok ke Jakarta. Perjalanan pulang saya diawali dengan sesuatu yang kurang enak, yaitu hujan badai… Saya harus melewati hujan badai sepanjang perjalanan dari kos saya sampai ke stasiun, yang membuat saya cukup basah kuyup. Tapi, bukan hal itu yang menjadi inti tulisan saya kali ini…
Dengan kereta ekonomi AC, saya mulai perjalanan pulang saya dari Depok sampai Jakarta… Kejadian itu terjadi di Stasiun Manggarai. Ketika pintu terbuka, saya melihat seorang anak kecil berpakaian lusuh sedang mengais tempat sampah. Saya melihat betapa senangnya dia ketika menemukan bekas minuman kemasan yang telah dibuang orang. Tanpa ragu lagi, dia menyedot sedotan yang ada, meskipun saya meragukan masih ada isinya. Tapi, bagi dia, setiap tetes adalah berarti… Setiap butir nasi, juga setiap bagian kecil makanan dan minuman adalah berarti. Bahkan, makanan dan minuman yang ada di tempat sampah…
Melihat hal ini, saya mengambil beberapa hikmah. Pertama, saya sungguh prihatin dengan keadaan bangsa ini, dimana masih banyak penduduknya yang hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka yang bahkan untuk menikmati sesuap nasi dan seteguk minuman harus mencarinya di tempat sampah… Apa yang dapat saya lakukan untuk mereka? Di satu sisi, saya prihatin akan keadaan mereka yang tertatih-tatih dalam mencukupkan pangan mereka, tapi di sisi lain, tidak sedikit anak jalanan yang sudah susah mencari makan, masih merokok pula… Oleh karena itu, saya biasanya kurang suka memberikan uang pada mereka. Cita-cita saya (yang masih belum tercapai seluruhnya) adalah memberikan kebutuhan (seperti makanan) mereka, dan perhatian kepada mereka. Saya tahu ini sangat sulit, tapi saya mencoba untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang ada.
Kedua, saya mengaplikasikannya pada diri saya sendiri. Saya menjadi sangat bersyukur karena saya merasakan cukup atas kebutuhan pangan. Rasa syukur itulah yang membuat saya berdoa kepada Tuhan yang telah memberikan makanan itu kepada saya. Juga, di dalam doa saya, saya senantiasa meminta Tuhan untuk memelihara kehidupan mereka yang tidak seberuntung saya di dalam mendapatkan makanan.
Aplikasi lainnya adalah jangan membuang makanan yang ada, dan jangan makan berlebihan. Dulu, saya sering mendengar perkataan, “Kalau nasinya dibuang, pak tani nangis loh…”. Perkataan itu memang benar, petani sudah bersusah payah menanam padi untuk kita, dan terlebih lagi, sangatlah tidak baik jika kita membuang makanan, di saat masih banyak orang yang membutuhkan makanan tersebut. Jika kita hanya kuat makan setengah porsi dan memiliki rejeki untuk membeli satu porsi, bukankah lebih baik kita bagi dua makanan tersebut, dan kita berikan setengahnya kepada orang yang lebih membutuhkan. Tentu itu akan lebih baik daripada mereka harus mengais makanan yang telah kita buang ke dalam tempat sampah.
Jadi, dari kejadian beberapa detik itu (saat pintu kereta dibuka di stasiun Manggarai), kita dapat belajar untuk:
-
Memberi semampu kita kepada mereka yang benar-benar membutuhkan (dan berilah dengan hati yang tulus, jangan mengharapkan imbalan).
-
Bersyukur atas makanan yang tersedia bagi kita, baik kita suka maupun tidak. Ingatlah kalau kita masih lebih beruntung dari mereka yang harus mencari makanannya di tempat sampah.
-
Membiasakan diri untuk tidak makan berlebihan, dan menghabiskan makanan yang telah tersedia. Pesanlah/ambillah makanan sesuai dengan porsi yang kita rasakan cukup untuk kita.

Sudah Mulai Sibuk
Posted by Charles
Meskipun saya (hanya) mengambil 13 SKS, kok kayaknya hari-hari saya tetap padet dan sibuk banget ya? Yah, saya jadi teringat masa-masa saya di semester lalu yang begitu menyibukkan dengan 5 tugas kelompok dari 8 mata kuliah yang saya ambil. Semester ini, saya hanya mengambil 4 mata kuliah, tapi banyak pekerjaan dari hal-hal lain selain kuliah, selain kuliah juga sudah mulai banyak tugas (terutama PPL, hmm… iya kan ya kelompok PPL-ku?).
Meskipun lelah, saya harus tetap semangat, dan bersyukur kepada Tuhan bahwa saya masih dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Dan menjadi sebuah kesenangan tersendiri bagi saya jika saya dapat berguna bagi orang lain. ![]()

Thank You, Lord :’)
Posted by Charles
Dunia ini, dunia yang sangat luas
Dunia ini berjalan dengan sangat teratur
Matahari tak pernah terlambat bersinar
Makhluk hidup yang ada secara ajaib
Semuanya ini, pastilah ada yang mengatur
Tidak mungkin manusia yang mengatur jagad ini
Karena manusia tak punya kemampuan itu
Siapakah yang mengatur jagad ini?
Dia pasti jauh lebih besar dari manusia
Dia pasti jauh lebih berkuasa dari manusia
Dialah yang menciptakan manusia
Dialah di atas segalanya, Dialah Allah
Allah yang sungguh besar
Allah yang sungguh agung
Allah yang berkuasa atas segalanya
Allah yang sempurna
Siapakah aku ini ya Allah?
Tiada setitik debu di hadapan-Mu
Aku hanyalah seorang manusia ciptaan
Yang telah berdosa kepada-Mu
Dahulu Engkau telah menetapkan
Upah dosa adalah maut
Engkau takkan menarik ketetapan-Mu
Karena Engkaulah Allah yang sempurna
Aku seorang yang berdosa
Dan upah dosa adalah maut
Dan maut adalah kematian yang kekal
Sepantasnya aku mendapatkannya
Engkaulah Allah yang adil
Keadilan-Mu takkan membiarkan aku lolos dari hukuman
Engkaulah Allah yang kasih
Kasih-Mu ingin menyelamatkanku
Ya Allah, seandainya…
Perbuatan baikku dapat menutupi hukuman itu
Sayangnya Engkau menginginkan kebaikan yang sempurna
Sesuatu yang tak mungkin dapat kulakukan
Namun sungguh aku harus bersyukur kepada-Mu
Karena kasih-Mu kepadaku
Engkau telah merelakan Anak-Mu menggantikanku
Menerima hukuman yang seharusnya aku terima
Hanya dengan itu, aku dapat terlepas dari hukuman
Hanya Seorang yang sempurna yang dapat menebusku
Dan karena kasih-Mu yang besar kepadaku
Engkau memberikan Dia yang sempurna
Dia disiksa oleh karena aku
Dia menderita karena kasih-Nya padaku
Dia disalibkan untuk menebus dosaku
Dia bangkit dan memberiku pengharapan
Aku tak layak menerima semua itu, ya Allah
Hanya karena anugerah daripada Engkau saja
Aku dapat diselamatkan
Yang dapat kulakukan hanyalah bersyukur kepada-Mu
Engkau begitu mengasihi Aku
Engkaulah yang menyelamatkan Aku
Dari kematian kekal yang sungguh mengerikan
Sesuatu yang tak dapat kubayangkan
Sekarang, biarkan Aku mengikut Engkau
Mengasihi orang yang ada di dunia ini
Oleh karena Engkau yang telah menunjukkan kasih-Mu
Demikian juga aku harus mengikuti teladan-Mu
Sungguh aku bersyukur atas kasih Yesus bagiku
Yang membuatnya tidak turun dari salib walau dicemooh
Karena jika Dia turun dari salib hari itu,
Akulah yang harus naik ke sana
Terima kasih untuk segalanya, ya Allahku.
Thank You for the cross, Lord
Thank You for the price You paid
Bearing all my sin and shame
In love You came, and gave amazing graceThank You for this love, Lord
Thank You for the nail pierced hand
Washing me in Your cleansing flow
Now all I know is Your forgiveness and embrace

