Pelajaran dari Novel “The Christmas Shoes”
Posted by Charles
Sudah lebih dari 3 tahun berlalu sejak novel terakhir yang saya baca habis dari awal sampai akhir. Kemarin, rekor itu pecah. Saya menghabiskan sebuah novel setebal 198 halaman dalam waktu dua hari. Saya tidak bisa mengingat kapan terakhir kali saya menyelesaikan membaca sebuah buku dalam waktu dua hari.
Novel itu berjudul “The Christmas Shoes”, oleh Donna VanLiere. Novel yang dibuat berdasarkan lagu NewSong dengan judul yang sama tersebut, begitu menginspirasi saya.
Novel ini mengisahkan tentang kisah dua keluarga, keluarga Robert dan Nathan.
Robert adalah seorang ahli hukum yang sukses dan memiliki segalanya dalam hidup—sekaligus tak satu pun. Karena terlalu memusatkan diri pada keberhasilan pekerjaan dan materi, ia nyaris kehilangan pernikahannya. Ia tak lagi memperhatikan istrinya, Kate, kedua putrinya … dan akhirnya, dirinya sendiri.
Nathan yang berusia delapan tahun memiliki seorang ibu yang penuh kasih, yang menanti ajal karena kanker. Namun Nathan dan keluarganya membangun sebuah kehidupan yang sederhana tapi bermakna dan berjuang untuk menikmati setiap detik tersisa yang mereka miliki bersama.
Sebuah kesempatan pada malam Natal mempertemukan Robert dan Nathan—Robert berbelanja untuk keluarga yang tak lagi dikenalinya dan Nathan berbelanja untuk ibunya yang akan segera meninggalkannya. Dan setelah pertemuan itu, kehidupan mereka berubah selamanya. Robert menerima suatu pelajaran penting: terkadang hal-hal terkecil dapat mengubah segalanya.
Ada banyak bagian dalam novel ini yang menyentuh saya, dan banyak pelajaran yang dapat dipetik darinya. Saya akan membagikan satu bagian, saat Maggie, ibu Nathan yang menderita kanker rahim, mempersiapkan putranya yang akan segera ditinggalkannya. Bagian ini, meskipun agak panjang, tetapi sangat bagus dan mempunyai makna yang dalam. Berikut adalah cuplikannya.
…
Jack beranjak dari tempat duduknya, ia tahu apa yang ingin dikatakan istrinya. Mereka pernah membicarakan hal ini sebelumnya, bagaimana, apa, dan kapan harus memberi tahu Nathan. Keadaan Maggie begitu cepat memburuk. Baik Jack maupun Maggie tak pernah membicarakan soal waktu, namun mereka berdua sadar bahwa waktunya telah begitu mendekat.
“Tentu,” jawabnya sambil berjalan ke dapur.
“Bu Patterson selalu memikirkan sesuatu yang menyenangkan untuk kau lakukan,” Maggie berkata kepada Nathan. “Apa cerita yang harus kautulis beberapa minggu lalu yang amat kusukai itu?”
“Tentang katak?”
“Bukan. Ibu suka yang itu juga, tapi bukankah ceritanya mengenai bunga?”
“O, ya!” matanya bersinar. “Tentang apakah yang bunga-bunga pikirkan di bawah tumpukan salju.”
Maggie tersenyum melihat semangat besar putranya. Ia selalu suka membantu ibunya mengurus bunga. Ketika ia masih balita, Maggie menunjukkan titik hijau terkecil di tanah dan berkata, “Lihat, Nathan, ia mulai bertumbuh,” dan kemudian hari demi hari mereka menyaksikan bunga-bunga berkembang dan memekar sepanjang musim semi dan musim panas.
Maggie mengubah posisi duduknya dan berjuang keras menahan air matanya agar tidak keluar saat harus berbicara dengan putranya.
“Kau tahu, banyak hal yang akan terjadi pada minggu-minggu yang akan datang,” ia mulai perlahan-lahan. “Dan, banyak dari semua hal itu yang akan membuatmu bertanya-tanya.”
Nathan sudah mulai bertanya-tanya, dan wajahnya menunjukkan hal itu.
“Nathan,” ia menenangkan diri. “Suatu hari, ketika kau lebih dewasa kau mungkin ingin menyalahkan Allah karena membuatku sakit, namun Ibu tidak ingin kau melakukan itu.”
Nathan mengerutkan keningnya, kebingungan. Mengapa ibunya berbicara tentang keadaan sakitnya? Ia selalu beranggapan bahwa ibunya akan pulih karena mereka yang benar-benar sakitlah yang berada di rumah sakit.
“Ibu ingin kau selalu tahu bahwa Allah tidak membuatku sakit, Allah menolongku melalui sakit ini,” ia menghibur. “Ia memberiku kekuatan untuk bermain denganmu dan Rachel, serta menopang Ibu pada hari-hari yang sangat mengerikan.”
Nathan menundukkan kepalanya. Ia tidak suka bercakap-cakap tentang penyakit ibunya. Maggie berjuang untuk menemukan kata-kata yang tepat bagi anaknya yang berusia delapan tahun itu.
“Sebentar lagi,” ia berkata perlahan, “kau mungkin mendengar orang-orang dewasa berkata seperti, ‘Kasihan sekali, Allah memanggilnya pada usia begitu muda.’ Tapi mereka keliru, Nathan. Mereka keliru, dan Ibu tidak ingin kau mendengarkan mereka. Ketika mereka berkata sesuatu seperti itu, Ibu ingin kau selalu ingat apa yang baru kukatakan kepadamu saat ini. Allah tidak mengambil Ibu, Ia menerima Ibu.”
Dahi Nathan mengernyit saat ia memandang ibunya. Maggie menatap mata putranya yang ketakutan. Mungkin apa yang diceritakannya terlalu sukar untuk dipahami Nathan.
“Maksud Ibu di surga?” ia bertanya dengan suara nyaris berbisik.
Mendengar apa yang Nathan ucapkan, sungguh membuat hati Maggie pedih.
“Ya sayang, di surga.”
Nathan terdiam, Jack mendengarkan dari dalam dapur.
“Allah akan membawa Ibu ke surga?” Nathan bertanya dalam kebingungan.
“Tidak,” Maggie memastikan. “Ia tidak akan membawaku, Nathan. Ia akan membuka tangan-Nya dan menerima Ibu. Bedanya amat besar, dan Ibu selalu ingin kau mengingatnya.”
Nathan gelisah mendengar perkataan ibunya dan dengan perlahan bertanya, “Apa yang akan Ibu lakukan di sana?”
“Ibu bahkan tidak bisa membayangkannya,” Maggie berkata, suaranya terbata-bata. “Yang Ibu tahu, untuk waktu yang lama Ibu akan memandang Allah dan senantiasa bersyukur kepada-Nya karena mengirimkan Yesus pada hari Natal, dan untuk kehidupan yang diberikan-Nya kepada Ibu di sini bersamamu. Di sana tentu amat indah, Nathan, hingga Ibu bahkan tidak mampu mulai berpikir apa yang akan Ibu lakukan. Tapi Ibu tahu Ibu tidak akan sakit lagi.”
Nathan menatap ibunya. Maggie tersenyum. “Ibu akan benar-benar sehat dan Ibu akan berlari dan melompat dan bermain dan menari seperti yang biasa Ibu lakukan bersamamu sebelum jatuh sakit.”
Nathan tercenung lama memikirkan semua ini. Ia tidak suka membicarakan hal ini dengan ibunya. Ia tak suka karena semua ini memengaruhi perasaannya.
“Apakah ada binatang di sana?” akhirnya ia bertanya dengan rasa ingin tahu.
“Binatang-binatang terindah yang pernah Ibu lihat,” Maggie menjawab dan anaknya terpesona. “Binatang-binatang yang Allah ciptakan di dunia ini buat kita tidak sebanding dengan binatang-binatang di surga. Zebra dan jerapah? Mereka akan terlihat seperti kucing biasa dibandingkan binatang-binatang di surga.”
“Dan, tak satu pun dari mereka yang galak bukan?” Nathan bertanya penuh selidik.
“Tidak. Tak satu pun yang galak. Mereka lembut dan indah, dan kau bisa menaiki mereka dan bermain dengan mereka sepanjang hari.”
“Apakah jalanan benar-benar terbuat dari emas?”
Maggie tersenyum.
“Jalanan terbuat dari emas dan akan ada sungai-sungat dan air terjun yang indah, dan dataran yang paling indah yang pernah Ibu lihat.”
“Bunga-bunga akan tampak jauh lebih cantik daripada milik Ibu?” ia bertanya, terkejut.
“Lebih cantik daripada milik Ibu,” Maggie tertawa. “Bunga-bunga dan pohon-pohon jauh lebih cantik dari apa pun yang pernah Allah ciptakan di dunia ini.” Ia berhenti dan membiarkan Nathan merenungkan apa yang baru saja ia katakan.
“Apakah Ibu akan bertemu dengan Kakek di sana?” akhirnya ia bertanya sembari menatap kakinya yang terayun.
“Ya,” ia tersenyum. “Ia akan berada di pintu gerbang menanti Ibu.” Mata Maggie dipenuhi air mata, dan ia memalingkan kepalanya.
Nathan berpikir selama beberapa saat, berhenti mengayun kakinya, dan kemudian bertanya dengan lemas sambil memandang kakinya, “Mengapa Ibu harus pergi?”
Di dapur, Jack membenamkan kepalanya ke dalam lengannya.
“Karena Ibu sakit dan Ibu tidak bisa membaik lagi,” Maggie menjawab dengan lembut.
“Apakah aku bisa pergi bersama Ibu?” ia bertanya, takut dengan apa yang baru saja dikatakan ibunya. Maggie meremas sprei dan memutarnya, air mata menggenangi matanya.
“Tidak, sayang, kau tidak bisa pergi bersama Ibu.”
Air mata Nathan menetes, membasahi wajahnya saat ia menubruk dan memegang erat ibunya. “Aku tidak mau Ibu pergi tanpa aku,” ia menangis terisak.
Maggie melingkarkan tangannya ke punggung putranya. Dalam waktu yang singkat, ia tidak akan punya kekuatan untuk melakukannya lebih lama. Ia memeluk Nathan lebih erat.
“Ibu tidak ingin pergi tanpamu juga,” ia berkata, air mata menetes deras di wajahnya. “Ibu mau memberikan apa saja di dunia ini untuk tinggal bersamamu, tapi Ibu tidak bisa. Ibu harus pergi.”
“Tidak Ibu—tidak!” anak kecil itu memohon, jari-jemarinya yang mungil mencengkeram erat tubuh ibunya. “Aku tidak mau Ibu meninggalkan aku.”
Maggie mengusap wajahnya dan menarik Nathan lebih dekat, lalu menyeka air matanya.
“Hanya karena Ibu akan pergi tidak berarti Ibu tidak akan selalu bersamamu,” ia berkata sejuk. Saat bibir bawahnya mulai gemetar, Maggie tahu bahwa Nathan jelas tidak memahami apa yang baru saja dikatakannya. Ia memegang lembut wajah Nathan dengan kedua tangannya.
“Ibu mungkin tidak ada di sisimu, namun Ibu akan selalu berada di sini,” ia berkata sambil menyentuh dada putranya.
“Di situlah ayah dan Ibu hidup setelah ia pergi ke surga, dan di situlah Ibu akan selalu hidup di dalammu, di dalam hatimu.”
Anak kecil itu membaringkan kepalanya di dada ibunya dan Maggie dengan lembut mengusap punggung putranya.
“Ibu ingin kau selalu tahu,” ia berbisik kepadanya, “bahwa kegembiraan yang terbesar dalam hidupku adalah menjadi ibumu.” Ia mengarahkan wajah Nathan menghadap wajahnya dan mencium keningnya. Sambil menatap matanya, ia berdoa agar Nathan akan selalu mengingat malam ini. Agar suatu hari, hal ini akan memberi rasa damai kepadanya—agar hal ini akan memberinya harapan di hari Natal.
Ia memeluk erat Nathan, menciumi setiap bagian wajahnya hingga anak itu menggeliat dan mulai tertawa kegelian. “Kau sebaiknya bersiap untuk tidur, Anak Muda.”
Jack berdiri di dapur, mengusap matanya dengan lap piring sebelum berjalan ke ruang keluarga. Ia tidak ingin anaknya melihatnya menangis, yang akan semakin membuatnya makin berpikir. Namun mungkin ada baiknya membiarkan Nathan melihatnya menangis, untuk menunjukkan bahwa hal itu diperbolehkan, bahwa semua orang bisa menangis.
“Kembalilah ke kamarmu, Nathan,” kata Jack, “dan Ayah akan segera ke sana untuk menemanimu.”
“Ibu sayang kamu,” kata Maggie sambil mencium anak kecil itu lagi.
“Aku sayang Ibu juga,” ia menjawab dan memberinya ciuman selamat malam.
Nathan berjalan sendirian di lorong, tanpa sadar bahwa percakapan tadi suatu saat akan memberi pengaruh kepadanya.
Sebuah luapan perasaan tampak di wajah Maggie. Jack dengan penuh kasih mencium matanya dan mengusap air matanya. Ia akan berusaha menjelaskan semuanya kepada Nathan, suatu hari kelak saat ia makin dewasa. Ia akan menjelaskannya terus-menerus, hingga Nathan memahaminya.
Bagian lain, yang sangat menyentuh, tentunya adalah pertemuan Robert dan Nathan di malam Natal. Hal yang paling baik untuk dapat menggambarkan bagian ini adalah dengan menikmati lagu “The Christmas Shoes” karya NewSong berikut.
Pesan akhir dalam novel ini berkata: “Jika kita bersikap terbuka, Allah dapat memakai bahkan hal terkecil pun untuk mengubah kehidupan kita … untuk mengubah kita. Mungkin hal itu adalah seorang anak yang tertawa, rem mobil yang membutuhkan perbaikan, obral daging panggang, langit tak berawan, sebuah perjalanan ke hutan untuk menebang pohon Natal, seorang guru sekolah dasar, … atau bahkan sepasang sepatu. Sebagian orang tak akan pernah percaya. Mereka mungkin merasa bahwa hal-hal itu terlalu sepel, terlalu sederhana, atau terlalu tak berarti untuk selamanya mengubah sebuah kehidupan. Namun aku percaya, dan akan selalu percaya.”
Ya, saya pun percaya novel ini bisa menjadi alat yang dipakai Allah untuk menyentuh dan mengubah kita.
Terakhir, saya akan membagikan lirik lagu “The Christmas Shoes” yang menjadi inspirasi bagi Donna VanLiere.
It was almost Christmas time, there I stood in another line
Tryin’ to buy that last gift or two, not really in the Christmas mood
Standing right in front of me was a little boy waiting anxiously
Pacing ’round like little boys do
And in his hands he held a pair of shoesHis clothes were worn and old, he was dirty from head to toe
And when it came his time to pay
I couldn’t believe what I heard him sayChorus:
Sir, I want to buy these shoes for my Mama, please
It’s Christmas Eve and these shoes are just her size
Could you hurry, sir, Daddy says there’s not much time
You see she’s been sick for quite a while
And I know these shoes would make her smile
And I want her to look beautiful if Mama meets Jesus tonightHe counted pennies for what seemed like years
Then the cashier said, "Son, there’s not enough here"
He searched his pockets frantically
Then he turned and he looked at me
He said Mama made Christmas good at our house
Though most years she just did without
Tell me Sir, what am I going to do,
Somehow I’ve got to buy her these Christmas shoesSo I laid the money down, I just had to help him out
I’ll never forget the look on his face when he said
Mama’s gonna look so greatSir, I want to buy these shoes for my Mama, please
It’s Christmas Eve and these shoes are just her size
Could you hurry, sir, Daddy says there’s not much time
You see she’s been sick for quite a while
And I know these shoes would make her smile
And I want her to look beautiful if Mama meets Jesus tonightBridge:
I knew I’d caught a glimpse of heaven’s love
As he thanked me and ran out
I knew that God had sent that little boy
To remind me just what Christmas is all aboutRepeat Chorus
Semoga lagu dan kisah ini dapat memberkati Anda semua.
Mari kita perhatikan hal-hal kecil di sekitar kita sebagai anugerah Allah untuk kita.
Tuhan memberkati kita semua.
Charles Christian
*Sumber kisah: Novel “The Christmas Shoes”, oleh Donna VanLiere, Gradien Books, 2005, p.123-131.
Setiap peristiwa, besar atau kecil, merupakan sebuah perumpamaan yang melaluinya Allah berbicara kepada kita, dan seni kehidupan adalah bagaimana mendapatkan pesannya.
- Malcolm Muggeridge -
Seorang Anak Bimbingan Yang Menjadi Berkat Untuk Saya (1)
Posted by Charles
Sebuah Berita Mengejutkan Di Pagi Hari
“Ko, kayanya nanti saya ga kaer (kebaktian remaja) dan pembinaan deh… Rumah saya kebakaran!”
SMS itu masuk ke dalam inbox handphone saya pada hari Minggu kemarin, 25 Juli 2010 Pk 03:21 dini hari. Pengirimnya? Kurniawan, seorang anak bimbingan saya di gereja.
Saya baru membaca SMS itu ketika saya bangun jam setengah 6 pagi. Hampir saja saya menjatuhkan handphone saya saat membacanya. Saya langsung mencoba menghubungi dia.
Sia-sia. Handphone-nya tidak aktif. Saya malah menjadi bertambah khawatir. “Oh Tuhan, apa yang terjadi dengannya?”
Saya sungguh bergumul saat itu. Pagi itu, saya ada janji pergi dengan teman saya. Tapi, saya tidak akan mungkin dapat meninggalkan anak bimbingan saya dalam keadaan yang belum jelas dan sangat membuat saya khawatir. (Sebenarnya saya malu mengakui bahwa awalnya saya masih ragu-ragu untuk membantu anak bimbingan saya sendiri, tapi saya ingin bercerita dengan jujur). Kebingungan saya terjawab beberapa menit kemudian di kamar mandi saya.
Saya sedang mandi ketika saya bertanya kepada Tuhan di dalam hati saya, “Tuhan? Apa yang harus saya lakukan?” Dan saya percaya, Tuhan menjawabnya ketika ada sebuah suara yang saya rasakan sangat jelas di dalam hati saya: “Datanglah ke sana…”.
“Tapi Tuhan, apa yang bisa saya lakukan di sana?” Saya tidak pernah membantu orang yang mengalami musibah kebakaran sebelumnya. Meskipun di satu sisi saya sangat ingin membantu, di sisi lain saya merasa bingung dan tidak nyaman.
Semua keraguan saya sirna ketika suara itu bergema lagi di dalam hati saya: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.”
Singkat cerita, akhirnya saya membatalkan janji dengan teman saya. Dan saya pergi, ke lokasi kebakaran itu. Saat itu, saya sama sekali tidak tahu, bahwa Tuhan akan memberi saya berkat yang melimpah di sana.
Datang Ke Lokasi Kebakaran
Rumah Kurniawan, anak bimbingan saya tersebut, ada di daerah Tambora. Di sepanjang perjalanan, saya berdoa untuk keselamatan Kurniawan.
Saya pun sampai di depan gang dekat rel kereta api Bandengan. Saya melihat beberapa mobil pemadam kebakaran berjejer, dan banyak orang berkerumun. Saya mencoba untuk masuk ke dalam gang.
Saya melihat rumah-rumah yang berdempet-dempetan sepanjang gang itu. Saya melihat banyak orang berkerumun. Setelah saya agak jauh masuk ke dalam gang, saya mulai melihat rumah-rumah yang sudah hangus terbakar.
Saya masuk ke dalam gang rumah anak bimbingan saya. Saya tidak dapat sampai ke depan rumahnya. Petugas pemadam sedang sibuk menyemprotkan air ke rumah-rumah tersebut (yang sebenarnya sudah lebih mirip kumpulan tembok-tembok saat itu).
Saya sungguh terkejut. Saya tidak mengira kebakarannya sebesar ini. Meskipun saat itu api sudah berhasil dipadamkan, tetapi para petugas masih terus menyemprotkan air. Puluhan rumah habis terbakar si jago merah.
Sementara itu, saya masih mencari Kurniawan. Ya! Kurniawan… Di mana dia? Saya pun berusaha mencari di tengah kerumunan orang. Saat itulah, saya menyaksikan pemandangan di luar dugaan saya.
Sebuah Pemandangan Di Luar Dugaan
Apa yang Anda harapkan ketika Anda melihat seseorang yang rumahnya baru saja habis terbakar? Seorang yang sedang menangis tersedu-sedu? Seorang yang marah-marah? Seorang yang depresi? Seorang yang menunjuk orang lain dan berkata: “Ini semua salah kamu!!!”
Kawan, tidak satu pun dari orang-orang di atas yang saya temukan. Seberapa hebat pun saya mencari saat itu, tidak satu orang pun yang saya temukan menangis, marah-marah, depresi, atau saling menyalahkan. Setidaknya, sejauh yang saya lihat saat itu, saya tidak menemukannya.
Lalu, orang seperti apa yang saya temukan?
Yang saya temukan adalah orang yang sedang membeli banyak roti untuk tetangga-tetangganya, yang juga mengalami musibah.
Yang saya temukan adalah orang-orang yang saling membantu satu sama lain. Yang satu mengambil air. Yang lain menenteng ember. Yang lain lagi sedang menyiramkan isi ember itu ke sisa-sisa api.
Yang saya temukan adalah dua orang yang berpapasan. Yang seorang bertanya, “Hai… Gimana rumahmu?”. Dengan senyum terukir di wajahnya, yang lain menjawab, “Rumah habis semua. Tapi untung anak-anak selamat semua. Kamu bagaimana?”. Tersenyum juga, dia menjawab, “Sama. Tak ada yang tersisa, tapi keluarga aman.”
Hei, apakah tidak salah!? Mereka baru saja kehilangan rumah mereka, dan mereka dapat tersenyum begitu lepasnya. Mereka bahkan masih saling memperhatikan satu sama lain. Jika saya ada di posisi mereka, dapatkah saya melakukan hal yang sama? Suatu hal yang masih saya ragukan.
Saya yang awalnya berniat membantu, hanya bisa terdiam menyaksikan semua hal yang luar biasa tersebut. Saya merasakan aura positif di tengah kekacauan akibat kebakaran. Saya melihat begitu banyak orang yang luar biasa. Tidak terkecuali anak bimbingan saya.
Respon yang Luar Biasa
Saya masih terdiam ketika dia menepuk bahu saya.
“Hai koko!” sapaan yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Sapaan anak bimbingan saya. Kurniawan menghampiri saya.
“Hai Kur… Koko cari kamu dari tadi. Gimana rumah kamu?”
Tidak ada kesedihan yang terlihat di wajahnya. Hanya senyuman yang biasa dia tunjukkan. Dia menjawab, “Wah… Abis semua ko. Rumah saya uda jadi kaya lapangan bola…”
“Hah? Abis semua Kur?” saya terkejut.
“Iya. Baju aja tinggal yang saya pake sekarang. Cuma sempet ngeluarin motor dan sedikit baju dede saya.”
Oh Tuhan… Apa yang Engkau ingin nyatakan pada Kurniawan? Saya teringat, baru saja sehari sebelumnya kaki Kurniawan tertusuk paku. Dan hari itu, seharusnya dia mengikuti pertandingan basket. Pertandingan final. Baru juga sehari sebelumnya, dia membeli sepatu untuk dia pakai di pertandingan itu. Tapi sepatu itu lenyap dalam beberapa jam, tanpa sempat dipakai olehnya. Baru pula sehari sebelumnya, dia membantu kokonya bekerja seharian. Siapa yang menyangka, sekarang peralatan kerja kokonya pun sudah habis terbakar, di saat sebenarnya pekerjaan itu masih harus dilanjutkan hari itu.
Saya percaya, Tuhan ada rencana yang indah pada Kurniawan. Tapi, saat itu, segalanya terlihat begitu gelap. Ibarat orang yang sudah jatuh, tertimpa tangga, dan tertiban balok pula.
Tapi, respon Kurniawan menghadapi semua ujian ini sungguh baik. Tidak. Lebih dari baik, ini luar biasa! Kurniawan meresponi semua musibah ini dengan begitu positif. Dia meresponi dengan keyakinan Tuhan masih menyertainya sampai detik ini, meskipun dia sedang mengalami musibah yang hebat.
“Mama dan yang lain gimana Kur?” saya bertanya lagi.
“Puji Tuhan semua selamat ko. Saya barusan disuruh jaga motor sih, tapi sudah saya kunci. Koko mau lihat rumah saya?”
“Ga pa pa Kur motornya ditinggal?”
“Ga pa pa ko, aman… Uda saya kunci.” kata Kurniawan. Senyumnya masih terus terukir. Dan saya pun diantar ke gang rumahnya. Saya tidak dapat melihat dengan jelas saat itu, karena saya hanya melihat dari jauh. Petugas pemadam masih sibuk bekerja. Akhirnya, Kurniawan membawa saya bertemu mama dan adiknya.
Seperti orang-orang yang lain, mama Kurniawan pun tidak menunjukkan tanda-tanda kesedihan. Hei, saya tahu mereka semua sedang sedih. Tapi, mereka memilih untuk tidak memfokuskan diri mereka pada kesedihan mereka, melainkan pada hal-hal yang dapat mereka selamatkan, keluarga mereka. Dan itulah yang luar biasa.
Mama Kurniawan bercerita, “Kur tadi hebat loh, dia ingetin saya buat lepasin gas. Biar ga meledak katanya. Oh iya ya… Saya saja tidak ingat. Lalu saya lepasin gas. Abis itu langsung mati lampu. Dan ga berapa lama api udah nyamber. Tapi tabung gas itu selamat.”
“Ah, tapi sama aja ko… Yang lain ga lepasin gasnya, jadi meledak juga dari rumah yang lain ko… Hehehe.” kata Kurniawan sambil tertawa, membuat orang-orang di sekitarnya juga tertawa kecil.
“Tadi ribut-ribut saya kira ada tawuran… Jadi saya diemin aja. Terus saya kaget Kurniawan bilang kebakaran. Jadi saya baru bangun, untung semuanya bisa bangun dan selamat akhirnya…” mama Kurniawan cerita lagi.
“Hmm, ada korban jiwa ga ya di kebakaran ini?” saya bertanya lagi, penasaran.
“Tadi hampir ada ko… Kakek-kakek yang uda agak tuli. Digedor-gedor tetep ga bangun. Akhirnya pintunya didobrak, dan dia baru bisa dibangunin. Wah, kalo ga, uda jadi daging panggang ko…” kata Kurniawan.
Wow! Di tengah kepanikan, mereka masih ingat pada seorang kakek-kakek tua yang hampir tuli, yang hidup sendirian di dalam rumahnya yang terkunci. Mereka bahkan mendobrak pintu untuk menyelamatkan sang kakek. Mereka tidak berpikir keselamatan diri mereka sendiri saja, tapi juga keselamatan orang di sekitar mereka.
Api boleh membakar barang-barang mereka. Tapi mereka tetap bergembira karena mereka berhasil menyelamatkan setiap nyawa. Api tidak dapat membakar cinta kasih yang ada di dalam hati mereka.
Ingin Membantu, Malah Dibantu
Mau tahu akhir kisah yang tragis namun luar biasa pagi itu? Kurniawan mengantarkan saya pulang dengan motornya. Oh, saya mau menangis di perjalanan.
Diantar pulang naik motor mungkin sebuah hal yang biasa. Diantar pulang naik motor oleh seorang anak bimbingan yang rumahnya baru saja terbakar habis. Rasanya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Saya tahu, Kurniawan akan berkata “Ah, koko lebay…” ketika membaca tulisan ini. Tidak Kur, ini tidak lebay. Sungguh itu yang koko rasakan…
Tidak sekali pun terdengar keluhan. Tidak sekali pun terlontar makian. Tidak sekali pun dia meminta bantuan. Kenyataannya, justru sayalah yang dibantu. Saya benar-benar tidak membantunya pagi itu. Dia membantu saya dengan mengantarkan saya pulang.
Saya teringat kata-kata Tuhan tadi pagi: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.” Ini benar sekali. Tuhan ingin menunjukkan kepada saya seorang anak bimbingan saya yang sungguh luar biasa.
Tentunya, karena dia memiliki Tuhan yang luar biasa juga, yang telah mengubahkan hidupnya. Dan saya sangat bersyukur untuk semua itu.
Sungguh banyak berkat yang saya dapatkan, sehingga saya harus memecah tulisan ini menjadi beberapa bagian. Siang itu, saya datang lagi menemui Kurniawan, kali ini dengan teman-teman yang lain. Tapi ini cerita yang lain lagi, dengan berkat yang berbeda lagi yang saya dapatkan.
Apa yang Saya Pelajari
Lalu, apa yang saya pelajari pagi itu? Saya belajar untuk tidak egois, dan lebih memperhatikan orang lain. Saya belajar untuk mengandalkan Tuhan dan bersyukur senantiasa. Saya belajar untuk meresponi hal-hal buruk yang terjadi dengan sikap yang positif.
Tuhan yang mengajarkan itu kepada saya. Melalui anak bimbingan saya yang luar biasa.
Terima kasih Tuhan. Terima kasih Kurniawan.
Percayalah, Tuhan menyertaimu sampai kepada akhir zaman.
Teruslah percaya kepada-Nya.
Charles Christian
P.S. Yeremia 29:11. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Bersambung…
Uang, Kekayaan, dan Spiritualitas (1): Sebuah Pergumulan Besar
Posted by Charles
Tulisan saya kali ini akan sedikit berbeda dari tulisan saya biasanya. Jika biasanya saya banyak memberikan nasihat-nasihat motivasi, kali ini saya akan lebih banyak bercerita dan mencurahkan isi hati saya secara jujur. Saya akan membahas satu topik yang cukup sensitif di kalangan Kekristenan, yaitu mengenai uang, kekayaan, dan spiritualitas.
Banyak orang yang diam-diam bergumul akan hal ini. Saya termasuk di antaranya. Sekarang, melalui tulisan ini, saya mau sharingkan proses pergumulan saya itu.
“Apakah orang Kristen boleh kaya? Bisakah orang kaya masuk Surga? Apakah benar Tuhan ingin kita menjadi kaya?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang terus saya pertanyakan sepanjang pergumulan saya. Di akhir pergumulan saya, saya menemukan bahwa pertanyaan itu ternyata bukanlah pertanyaan yang baik. Saya akan menjelaskan alasannya di seri terakhir tulisan saya.
Oh ya, ngomong-ngomong, saya memutuskan untuk membuat tulisan saya kali ini menjadi sebuah serial bersambung (mengingat panjangnya tulisan yang saya buat kali ini). Pesan saya, janganlah mengutip kata-kata saya lepas dari konteksnya. Apa yang saya tuliskan di sini adalah proses pergumulan saya. Tolong jangan mengambil kesimpulan apa-apa sebelum saya menyimpulkannya di seri terakhir dari tulisan saya.
Oke, cukup pengantarnya… Sekarang marilah kita mulai seri pertama dari tulisan ini.
Antara Uang dan Tuhan
Saya menemukan ada dua pandangan ekstrim kekristenan ketika berbicara tentang uang dan kekayaan.
Pandangan ekstrim yang pertama adalah pandangan “Orang Kristen harus kaya.” Pandangan ini biasanya diyakini oleh mereka yang mempercayai “Teologi Sukses”. Mereka menganggap kekayaan sebagai berkat Tuhan yang pasti didapatkan oleh semua orang beriman. Menurut mereka, Tuhan itu Maha Baik, dan pastilah akan memberkati orang-orang yang beriman kepada-Nya dengan berlimpah-limpah materi, kesuksesan, serta uang yang banyak. Bagi mereka, orang yang miskin adalah orang yang kurang beriman, maka kurang diberkati Tuhan.
Pandangan ekstrim yang kedua adalah pandangan “Orang Kristen tidak boleh kaya.” Mereka mempunyai ayat favorit yang berbunyi “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Karena itu, mereka mengambil kesimpulan, orang kaya mustahil masuk Surga. Menurut mereka, setiap orang beriman dipanggil untuk menderita bagi Tuhan di dunia, salah satunya adalah dengan menjadi miskin. Dengan menjadi miskin, mereka yakin Tuhan akan mencukupkan kebutuhan mereka setiap hari melalui cara-cara yang mungkin tidak pernah mereka duga. Mereka hanya cukup beriman dan menunggu. Bagi mereka, orang kaya adalah orang yang cinta uang, yang akan lebih mementingkan uangnya daripada Tuhan.
Saya tidak menyatakan apakah kedua pandangan di atas benar atau salah, setidaknya tidak saat ini.
Saya akan menceritakan pergumulan yang saya hadapi terkait uang, kekayaan, dan spiritualitas.
Tuhan VS Uang
Ketika saya masih kecil, saya sudah ikut sekolah Minggu. Di sana, saya banyak mendengar cerita-cerita Alkitab. Saya mendengar cerita bagaimana hidup Tuhan Yesus yang jauh dari kekayaan. Di dalam sebuah cerita, ada seorang kaya yang ingin mengikut Yesus. Yesus memerintahkan orang kaya itu untuk menjual hartanya dan membagi-bagikan semua hartanya kepada orang-orang miskin sebelum dapat mengikut Dia. Saya juga cukup sering mendengar ayat yang saya kutip di atas: “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (saat itu saya benar-benar membayangkan seekor unta dan sebuah jarum jahit!)
Pikiran saya mulai terprogram pernyataan-pernyataan berikut: “Tuhan menentang orang kaya.”, “Orang kaya mustahil masuk Surga.”, “Orang kaya adalah orang yang cinta uang lebih daripada Tuhan.”, “Tuhan ingin kita hidup cukup. Jangan menjadi kaya.”
Dengan kata lain, saya mulai mengadopsi ekstrim kedua.
Tanpa saya sadari, saya memposisikan uang dan Tuhan dalam sudut yang berlawanan. Saya seperti dihadapkan pada sebuah pilihan: “mendapatkan uang ATAU mendapatkan Tuhan”, dan saya hanya bisa memilih satu saja, karena Matius 6:24 menuliskan “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan.”
Percaya saya, dihadapkan pada pilihan di atas adalah sebuah tekanan batin. Kenapa? Karena saya ingin mendapatkan Tuhan, tapi saya tidak mungkin tidak mendapatkan uang, karena saya masih perlu makan.
Uang Bukan Segalanya, Namun Segalanya Butuh Uang
Mempertarungkan antara Tuhan dan uang ternyata bukanlah ide yang baik. Karena, jika pilihannya hanya “mendapatkan uang” atau “mendapatkan Tuhan”, secara teori saya bisa memilih untuk “mendapatkan Tuhan”, tapi pada prakteknya saya pasti harus “mendapatkan uang” juga.
Uang memang bukan segalanya, namun segalanya butuh uang. Kita masih membutuhkan uang untuk membeli makanan, untuk menopang hidup kita. Gereja pun butuh uang untuk biaya operasional mereka, dan membiayai banyak pelayanan. Dari sana, saya mulai mengubah pemahaman saya…
Cinta Uang Adalah Akar Dari Segala Kejahatan
Kalau dahulu saya beranggapan “uang adalah akar dari segala kejahatan”, seiring berjalannya waktu saya menyadari bahwa bukan “uang” yang menjadi akar dari segala kejahatan, tapi “kecintaan kepada uang”.
Jadi, dengan konsep ini, yang harus dihindari bukanlah memiliki banyak uang. Yang harus dihindari adalah menjadi seorang yang cinta uang (lebih daripada cinta Tuhan).
Bagaimana kita tahu bahwa kita lebih cinta uang atau cinta Tuhan? Sederhana saja, apakah kamu rela memberikan uangmu untuk Tuhan? Jika ya, maka kamu lebih cinta Tuhan. Jika tidak, maka kamu lebih cinta uang.
Pada tahap ini, saya merasa menjadi kaya itu oke, selama tidak cinta uang.
Ada banyak keraguan saya yang tampaknya dijawab satu persatu selama masa ini.
Salah satu contoh keraguan yang saya hadapi adalah “Apakah dengan menjadi kaya, saya akan menjadi lebih jahat, sombong, dan jauh dari Tuhan? (mungkin karena dulu saya suka nonton sinetron yang menggambarkan orang kaya itu jahat dan sombong)” Untuk pertanyaan ini, saya mendapatkan sebuah jawaban dari sebuah buku: “Kalau pada dasarnya kamu adalah orang baik, menjadi kaya akan membuat kamu semakin baik. Kalau pada dasarnya kamu adalah orang jahat, menjadi kaya akan membuat kamu semakin jahat. Kalau kamu yakin kamu adalah orang baik, kekayaanmu akan membuatmu dapat menolong lebih banyak orang.”
Lalu saya juga berpikir, “Bagaimana jika ketika saya menjadi kaya, saya menjadi cinta uang (lebih daripada cinta Tuhan)?” Dan, saya seperti mendapatkan jawaban berikut: “menjadi kaya dan cinta Tuhan adalah sulit. Tapi kalau kamu benar-benar cinta Tuhan, kamu pasti akan tetap cinta Tuhan ketika kamu kaya. Kalau kamu menjadi berubah jadi cinta uang, berarti pada dasarnya kamu tidak benar-benar cinta Tuhan dari dahulu.”
Pada tahap ini, pemikiran saya mulai berubah. Saya dapat menjadi kaya dan tetap beriman.
Hingga akhirnya, sebuah peristiwa menghantam saya. Peristiwa yang membuat saya ingin menjadi kaya. Saya akan ceritakan peristiwa ini di seri mendatang dari tulisan saya minggu depan.
Bersambung…
Uang, Kekayaan, Dan Spiritualitas (2): Mengapa Ingin Kaya?
Uang, Kekayaan, Dan Spiritualitas (3): Apa Definisi “Kekayaan” Bagimu?
“Orang Jahat” vs “Orang Munafik”
Posted by Charles
Ada satu pertanyaan yang mengganjal di benak saya belakangan ini. Pertanyaan itu adalah: Manakah yang lebih baik? Menjadi seorang yang benar-benar jahat tanpa topeng, atau menjadi seorang jahat yang memakai topeng orang baik, biasanya bahasa kerennya tuh “orang munafik”?
Seorang teman berkata “Kalau mau jahat, mending jahat sekalian… Dan kalau mau baik, mending jadi baik aja, ga usah jadi setengah-setengah”. Kalimat ini membuat saya berpikir, sungguh indah jika dunia ini bisa dibuat sesederhana itu. Kita tinggal memilih, mau jadi jahat atau mau jadi baik. Namun, ternyata kenyataannya tidak sesederhana itu. Seorang yang jahat tidak bisa dengan instan begitu saja menjadi baik 100%. Pasti ada orang yang ada di tengah-tengah. Di satu sisi, dia punya keinginan untuk berbuat baik, dan di sisi lain dia juga sulit meninggalkan dosa yang masih disukainya. Mereka terjebak di tengah-tengah, antara baik dan jahat.
Saya termasuk orang yang setuju bahwa orang yang jahat dan orang yang munafik akan mengalami akhir yang sama-sama tragis, yaitu dicampakkan oleh Allah. Namun, menurut saya, setiap orang harusnya mengalami fase dalam hidupnya di mana dia menjadi “orang jahat”, dan dia menjadi “orang munafik”.
Roma 3:23 mengatakan: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”. Semua orang telah berbuat dosa, atau dengan kata lain, semua orang telah menjadi “orang jahat” di mata Allah.
Syukur kepada Allah, ayat di atas tidak berhenti sampai di sana, tetapi ada kelanjutan yang mencerahkan di Roma 3:24 yang berbunyi: “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus”. Kita, yang adalah “orang jahat” tersebut telah dibenarkan oleh Kristus Yesus. Kita, yang dahulu “tidak bisa TIDAK berbuat dosa”, kini bisa memilih untuk “tidak berbuat dosa”. Namun, apakah itu menjamin kita akan langsung menjadi 100% baik? Ternyata tidak, semuanya membutuhkan proses dan pertumbuhan… Dan dalam semuanya itu, kita harus terus mengandalkan Tuhan.
Sekarang, kembali ke pertanyaan awal: Apakah lebih baik menjadi “seorang jahat” atau “seorang munafik”? Meskipun keduanya sama-sama tidak baik, saya melihat keduanya memiliki sisi positif dan negatif.
Yang paling mudah terlihat adalah sisi negatif dari “seorang jahat”. Itu tentu sudah jelas. Segala hal yang jahat yang dia lakukan dan dia perlihatkan di depan orang banyak adalah hal-hal yang negatif.
Tapi, apa sisi positif dari “seorang jahat”? Menurut saya, sisi positif dari “seorang jahat” adalah, jika Tuhan membukakan hati mereka, mereka yang benar-benar jahat mungkin yang paling mudah untuk bertobat, karena mereka berpikir mereka tidak mempunyai pegangan lagi. Dan, jika mereka akhirnya bertobat, mereka mungkin akan lebih menghargai keselamatan yang diberikan kepada mereka.
Sebagai ilustrasi, anggaplah kita adalah seorang yang sangat kaya dan dermawan. Anggaplah kita ingin membantu dua orang, si A dan si B, yang sama-sama berhutang kepada kita. Kita akan hapuskan hutang mereka dengan syarat mereka menjadi pembantu kita seumur hidupnya. Siapa orang yang akan lebih mudah menerima bantuan dari kita? Apakah si A yang berhutang Rp 100.000, atau si B yang berhutang Rp 1 Milyar? Tentunya si B yang akan dengan senang hati dan penuh syukur menerima bantuan kita, sedangkan si A mungkin masih berpikir dia bisa melunasi hutangnya dengan keringatnya sendiri. Begitu pula, orang jahat yang bertobat yang disalib di samping Tuhan Yesus, tentunya akan sangat bersyukur karena dia telah merasa dirinya tidak layak dan tanpa harapan. Namun, ingatlah sisi positif ini baru berlaku ketika “seorang jahat” tersebut bertobat.
Lalu, apa sisi negatif dari “seorang munafik”? Sisi negatif dari “seorang munafik” adalah ketika mereka puas menjadi “orang munafik” dan tidak terus bertumbuh lagi. Celakanya ketika mereka merasa telah “berbuat baik”, mereka melupakan Tuhan yang sebenarnya satu-satunya harapan penolong mereka. Celakanya ketika mereka merasa sudah sembuh, padahal masih sakit, dan karena merasa sudah sembuh, mereka menolak pengobatan Sang Tabib. Jika mereka terus menjadi “orang munafik” tanpa pertumbuhan, nasib akhir mereka akan sama dengan nasib “orang jahat” yang tidak bertobat.
Dan yang terakhir, apa sisi positif dari “seorang munafik”? Sisi positifnya adalah setidaknya mereka sudah mengerti yang baik dan yang jahat. Ada pertentangan dalam batin mereka untuk melakukan hal-hal yang baik, meskipun mereka masih menyukai hal-hal yang jahat. Namun, itu semua adalah proses. Kalau saat ini mereka hanya baik di luar dan buruk di dalam, jika mereka mau terus bertumbuh dan terus mengandalkan Tuhan, Tuhan dapat mengubahkan sifat-sifat buruk di dalam tersebut menjadi sifat-sifat baik yang selama ini mereka tampilkan di luar. Mereka akhirnya dapat berbuat baik dan benar dari dalam diri mereka, tanpa mengenakan topeng. Namun sekali lagi, ingatlah sisi positif ini baru berlaku ketika “seorang munafik” tersebut terus bertumbuh dan mengusahakan dirinya menjadi lebih baik lagi dan tidak munafik, tentunya dengan pertolongan Tuhan.
Jadi, saya tidak setuju kalau dikatakan daripada jadi “orang munafik”, lebih baik jadi “orang jahat” sekalian… Tidak! Kedua-duanya sama-sama berujung pada maut. Baik kita saat ini adalah “orang jahat” atau “orang munafik”, kita harus terus berjuang menjadi “orang yang baik dan benar”. Dan semuanya memang tidak terjadi secara instan. Semuanya membutuhkan proses dan pembentukan dari Allah sepanjang hidup kita.
Kapan semua proses ini berakhir? Efesus 4:13-15 menuliskan, proses ini akan terus berlangsung “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”
Mari kita sama-sama berjuang, dengan pertolongan Tuhan, untuk meninggalkan “manusia jahat” dan “manusia munafik” kita, menjadi “manusia baru” yang melakukan hal yang baik dan benar dengan sepenuh hati kita untuk kemuliaan Tuhan. Amin.
Ingatlah Ini Dalam Memilih Pelayan Tuhan
Posted by Charles
Akhir-akhir ini, saya merasakan, mencari pelayan Tuhan sepertinya semakin sulit saja. Semakin sedikit orang-orang yang bisa dipilih, semakin banyak orang yang menolak untuk melayani. Sampai suatu ketika, ketika sedang membaca sebuah buku, saya menemukan sebuah ayat Alkitab yang menegur saya.
“Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”
– Matius 9:37-38
Saya tertegun ketika membaca ayat tersebut. Ya, saya menyadari sekarang kesalahan yang seringkali dilakukan di saat memilih pelayan Tuhan. Apakah itu? Itu adalah mengandalkan kekuatan dan hikmat kita sendiri dalam memilih, dan bukan mencari kehendak Allah.
Peran doa sangatlah penting di dalam memilih pelayan dan pekerja buat Tuhan. Tuhan sendiri yang berkata kalau kita harus meminta kepada Tuhan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja-Nya.
Sangat berbahaya jika pada akhirnya, orang-orang yang kita pilih untuk melayani Tuhan adalah orang-orang yang tidak punya hati untuk itu, atau lebih tepatnya, orang-orang yang bukan Tuhan pilih. Well, Tuhan mungkin saja memilih orang-orang yang tidak punya hati (seperti Yunus contohnya). So, yang terpenting adalah orang-orang yang Tuhan pilih.
Di sini, kita haruslah menyadari bahwa sangat penting untuk bertanya kepada Tuhan mengenai siapa orang pilihan-Nya di dalam memilih orang-orang yang akan menjadi pekerja atau untuk melayani Tuhan. Bagaiamana cara kita dapat bertanya kepada Tuhan? Dengan menggumulkannya di dalam doa.
Rangkuman:
Mintalah kepada Tuhan di dalam doa, pelayan-pelayan Tuhan yang setia. Janganlah mengandalkan kekuatan dan hikmatmu sendiri, tapi andalkanlah Tuhan.
Ketika Kita Pergi Meninggalkan Dunia Ini…
Posted by Charles
Dua bulan yang lalu, seorang teman sekelas saya yang kuliah di NTU pergi meninggalkan dunia ini dengan tiba-tiba karena jatuh. Bulan lalu, giliran saudara mama saya yang pergi karena sakit yang merenggut tubuhnya di usianya yang ke-51. Hari ini, giliran saudara papa saya yang menghembuskan nafasnya yang terakhir, kembali karena penyakit, di usianya yang ke-23.
Saya seakan tersentak. Seorang demi seorang orang yang saya kenal meninggalkan dunia ini, dengan cara yang berbeda-beda, dengan usia yang berbeda-beda pula. Suka atau tidak, cepat atau lambat, saya pun akan mendapatkan giliran. Ketika saat itu terjadi, kira-kira apakah saya sudah siap? Apakah saya sudah cukup membahagiakan orang-orang di sekitar saya? Apakah orang-orang yang saya kenal akan menangisi kepergian saya? Pengaruh seperti apa yang telah saya buat di dunia ini? Apakah saya akan diingat orang karena hal positif yang saya buat, atau hal negatif yang saya lakukan sepanjang hidup ini? Kira-kira, sudah puaskah Tuhan melihat hidup saya?
Dua hari yang lalu, ketika saya naik bajaj, saya memberikan uang bayaran dua ribu Rupiah lebih daripada ongkos yang kami sepakati. Saya menghargai kerja keras dia, dan terutama karena satu hal, dia tidak merokok. Ketika begitu banyak abang bajaj yang merokok, dia mengambil keputusan untuk tidak ikut-ikutan, dan saya sangat menghargainya. Tapi, ada yang lebih penting daripada sekadar dua ribu Rupiah tersebut. Saya melihat dia tersenyum, dan berterima kasih. Oh, saya sungguh bahagia melihat senyum tersebut. Saya tidak menyangka saya akan mendapatkan senyumnya yang menurut saya jauh lebih berharga dari dua ribu Rupiah milik saya.
Kemarin, saya menonton sebuah acara di RCTI, “Uang Kaget”. Di sana, ada seorang ibu yang cacat, tetapi tetap bekerja menjadi buruh cuci dan tukang pijat dengan penghasilan Rp 200.000,- sebulan. Sungguh sangat memprihatinkan. Ketika dia didatangi RCTI jam 4 sore, dia belum makan dari pagi, karena ketidakmampuannya membeli makanan. Namun, meskipun ibu itu miskin, tetapi dia tidak pernah menyusahkan orang. Bayangkan betapa bahagianya dia ketika diberikan “uang kaget” 11 juta Rupiah. Ketika waktu belanja telah habis, ibu itu langsung melakukan sujud syukur di jalan. “Terima kasih Tuhan,” katanya. Bayangkanlah betapa bahagianya kita jika kita dapat menolong orang-orang yang membutuhkan kita.
Tadi sore, saya mengunjungi rumah saudara sepupu saya yang masih bayi. Saat itu, saya melihat betapa indahnya senyum seorang bayi, begitu damai dan polos. Senyum yang tulus. Ketika saya bermain “ciluk ba” dengannya, bagaimana dia bisa tertawa dengan tulus. Bagaimana matanya menyipit, mulutnya mengembang, dengan suara “ehehe” yang keluar dari mulutnya. Sungguh indah melihat senyum yang tulus.
Selama hidup ini, seberapa banyak senyum yang telah saya berikan kepada orang lain. Sebuah pepatah Irlandia berkata “Tuhan sudah memberikan kita sebuah wajah, senyum harus kita lakukan sendiri.” Jika senyum itu begitu membahagiakan, mengapa saya harus tidak tersenyum? Dan, ketika saya pergi meninggalkan dunia ini, berapa banyak senyum yang telah saya kembangkan di wajah orang-orang? Apakah Tuhan akan tersenyum ketika saya bertemu dengan-Nya nanti?
Tuhan hanya memberikan saya hidup satu kali. Jika saya masih hidup saat ini, itu kesempatan yang Tuhan berikan. Saya akan manfaatkan dengan baik. Saya tidak akan menunda-nunda lagi. Setiap kali saya akan menunda, saya akan kembali membaca tulisan saya ini. Ini adalah keputusan saya, tujuan saya hidup di dunia ini, untuk membahagiakan Tuhan dan orang-orang yang juga hidup di dunia ini, sejauh mungkin yang saya dapat lakukan. Saya harus bersemangat menghadapi hidup ini, karena hidup ini adalah kesempatan saya membahagiakan orang lain. Akan saya hargai hidup ini, mumpung belum terlambat…
Terima kasih Tuhan.
Ketika kita datang ke dunia ini, kita menangis dan orang di sekitar kita tertawa bahagia.
Ketika kita pergi meninggalkan dunia ini, sebaliknya yang terjadi, orang di sekitar kita menangis dan kita tertawa bahagia.
Jika suatu saat kamu pergi meninggalkan dunia ini, apakah kamu akan bahagia bertemu Allah di Sorga, atau menangis di tengah api?
Jika suatu saat kamu pergi meninggalkan dunia ini, apakah kamu ingin orang-orang menangisi kepergianmu, atau orang-orang tertawa karena kamu telah pergi?
Jika suatu saat kamu pergi meninggalkan dunia ini, apa yang kamu ingin untuk orang-orang ingat tentangmu?
Lakukanlah hal tersebut, sekarang juga, selagi Tuhan masih memberikanmu waktu untuk hidup di dunia ini, selagi semuanya masih belum terlambat…

Jika ingin, Dia bisa turun dari salib!
Posted by Charles
Izinkanlah saya untuk memperkenalkan Seseorang yang sangat luar biasa, yang pernah ada di dunia ini 2000 tahun silam, dan Dia masih hidup sampai sekarang.
Dia adalah seorang guru bagi banyak orang, tetapi Dia dikhianati salah satu murid-Nya sendiri.
Ketika murid-Nya dan para pasukan datang untuk menangkap Dia, murid-Nya yang lain membelanya dengan mengeluarkan pedangnya dan menebas telinga salah seorang prajurit. Apa yang dilakukan oleh-Nya? Dia meminta murid-Nya tersebut untuk menyarungkan kembali pedangnya dan Dia menyembuhkan telinga sang prajurit. Padahal, jika ingin, daripada menyembuhkan telinga prajurit tersebut, Dia bisa saja memutuskan telinganya yang satu lagi.
Dia diludahi, harga diri-Nya diinjak-injak, tetapi Dia tidak membalasnya. Jangankan membalas, bahkan Dia tidak mengumpat. Padahal, jika ingin, Dia bisa saja memutuskan lidah orang yang meludahi-Nya.
Dia diadili secara tidak adil. Sang hakim tidak menemukan kesalahan apapun daripada-Nya, tetapi malah menghukum mati Dia dan membebaskan seorang penjahat yang seharusnya layak dihukum. Tapi, Dia tidak melawannya. Padahal, Dia bisa saja membuat sang hakim menjadi berpihak pada-Nya.
Dia yang tidak bersalah, dicambuk ratusan kali dengan cambuk berujung tajam yang dapat mengangkat daging orang yang dicambuknya. Daging-Nya tercabik-cabik, tetapi Dia tidak melawan. Padahal, Dia bisa saja memutuskan tangan algojo-algojo yang mencambuknya.
Dia dipakaikan mahkota duri. Bayangkan duri-duri menancap di kepalanya, dan Dia tidak berusaha melepaskannya. Padahal, Dia bisa saja membuat mahkota duri itu berubah menjadi topi biasa dalam sekejap.
Dia dengan luka-luka cambukan di tubuh-Nya, dipaksa untuk memikul balok kayu kasar yang sangat berat ke atas sebuah bukit, dan Dia bahkan tidak mengeluh. Padahal, Dia bisa saja “memindahkan” luka-luka-Nya ke prajurit yang memaksa-Nya memikul balok kayu tersebut.
Kedua tangan-Nya dan kaki-Nya dipaku, lalu tubuhnya digantung di atas kayu salib, dan Dia tidak dendam dengan orang yang menyalibkan-Nya. Malahan, Dia mengampuni-Nya saat itu juga. Padahal, Dia bisa saja melenyapkan nyawa orang-orang yang menyalibkan-Nya saat itu juga. Selain itu, Dia juga bisa turun dari salib, tetapi Dia tidak melakukan-Nya.
Dia seolah dijadikan “mainan” yang bisa dicambuk dan dipaku seenaknya oleh para prajurit. Dia disiksa dengan kejam padahal tidak ada kesalahan yang Dia perbuat. Dia menghadapi ketidakadilan, tetapi masih dapat mengampuni orang yang memperlakukan-Nya dengan tidak adil. Dia yang adalah Tuhan, menderita sengsara di atas kayu salib, di bukit Kalvari.
Dia adalah Yesus Kristus. He is an amazing Man, amazing God.

Dia bisa saja melepaskan diri-Nya dari semua penderitaan itu, tetapi Dia tidak melakukannya KARENA kasih-Nya kepada kita. Dia menanggung semuanya itu untuk kita. Sekarang, apakah balas kita kepada-Nya?
Selamat memperingati wafat Yesus Kristus di hari Jumat Agung ini.

Gadis Buta Berumur 5 Tahun yang Luar Biasa
Posted by Charles
Yoo Ye Eun. Seorang gadis buta berusia 5 tahun yang luar biasa. Meskipun dia buta sejak lahir, dan ditinggalkan orang tuanya karena kebutaannya, dan diadopsi oleh sepasang suami-istri yang tidak bisa mempunyai anak, dia diberikan karunia yang luar biasa oleh Tuhan. Dia dapat memainkan lagu dengan piano hanya dengan sekali saja mendengarkannya.
Pada usia 5 tahun, dengan motivasi “ingin bermain piano untuk semua orang”, dia ikut sebuah acara pencari bakat Korea, Star King. Berikut adalah cuplikan penampilannya yang luar biasa dan mengharukan. Cobalah tonton sampai selesai, dan Anda akan merasakan sesuatu yang luar biasa. I even cried when watching this clip.
Tuhan memberikan karunia yang berbeda-beda kepada semua orang. Tuhan baik kepada semua orang. Masalahnya hanyalah bagaimana orang tersebut dapat melihat kebaikan Tuhan, melihat apa yang dimilikinya, bukan yang tidak dimilikinya, dan menggunakan yang dimilikinya tersebut untuk memuliakan Tuhan, penciptanya.

Selamat Natal :)
Posted by Charles
Selamat hari Natal… Semoga damai Natal oleh karena kedatangan-Nya selalu ada di dalam hati kita. Amin.
O Holy Night
O holy night! The stars are brightly shining,
It is the night of the dear Saviour’s birth.
Long lay the world in sin and error pining.
Till He appeared and the Spirit felt its worth.
A thrill of hope the weary world rejoices,
For yonder breaks a new and glorious morn.
Fall on your knees! Oh, hear the angel voices!
O night divine, the night when Christ was born;
O night, O holy night, O night divine!
O night, O holy night, O night divine!Truly He taught us to love one another,
His law is love and His gospel is peace.
Chains he shall break, for the slave is our brother.
And in his name all oppression shall cease.
Sweet hymns of joy in grateful chorus raise we,
With all our hearts we praise His holy name.
Christ is the Lord! Then ever, ever praise we,
His power and glory ever more proclaim!
His power and glory ever more proclaim!

Ketika Tuhan Disalahkan
Posted by Charles
Pernah mengalami suatu kekecewaan sehingga membuat kita menyalahkan Tuhan?
“Tuhan! Mengapa hal ini terjadi? Di manakah Engkau? Mengapa Engkau tidak menjawab doaku? Apakah Engkau benar-benar ada? Mengapa Engkau tidak adil? Aku kecewa kepadaMu…”
Saat itu, kita seolah-olah melupakan status kita sebenarnya, sebagai seorang manusia yang berdosa dan tidak layak dikasihi, tetapi Tuhan mau mengasihi kita. Apakah kita hanya mengikut Tuhan karena Dia memberikan kita kesenangan? Apakah kita mensyukuri segala berkat yang telah Dia berikan kepada kita? Setiap hal-hal kecil yang sebenarnya sangat berharga. Setiap udara yang kita hirup, matahari yang kita rasakan, keluarga dan teman yang kita miliki… Seberapa sering kita merasa kita bisa berbuat lebih banyak dan lebih baik daripada apa yang telah diperbuat oleh Tuhan?
Sebelum kita menyalahkan Tuhan, ingatlah status kita, ingatlah segala hal kecil yang telah Tuhan berikan yang begitu berharga, dan ingatlah bahwa apa yang dia berikan adalah yang terbaik untuk kita.
Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?
Roma 9:20-21
———————-
O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!
Roma 11:33-36

Kenapa Orang Bisa Membenci Orang yang Dicintainya?
Posted by Charles
Kadang saya bingung, kenapa ya seseorang bisa berubah drastis, dari mencintai seseorang tiba-tiba membenci orang yang dicintainya tersebut. Kenapa ya ada orang yang sangat mencintai pasangannya, dan tiba-tiba bisa begitu membencinya ketika pasangannya memutuskan hubungan mereka, atau pasangannya berbuat kesalahan yang sebenarnya adalah kesalahan yang sepele? Apakah batas cinta dan benci memang sedemikian tipisnya? Padahal cinta dan benci adalah sesuatu yang sangat bertolak belakang.
Kemarin saya menonton Arsenal, tim sepak bola kesayangan saya bermain. Pertandingannya disiarkan secara langsung, Arsenal vs Manchester City. Hasilnya? Arsenal kalah 0-3 dari Manchester City. Namun, bukan kekalahan itu yang akan saya bahas, tapi respon saya atas kekalahan “tim kesayangan saya” tersebut. Di akhir pertandingan, saya lebih cenderung menyalahkan dan menjatuhkan tim kesayangan saya tersebut, daripada memberikan support untuk membantunya bangkit. Apakah itu adalah respon kekecewaan saya? Mungkin, tapi saya tahu respon ini bukanlah untuk membangun Arsenal agar lebih baik lagi. Lalu, kenapa saya bisa begitu mudah “menjatuhkan”, meskipun hanya sesaat, tim kesayangan saya tersebut.
Saya lalu berpikir, kenapa saya mengharapkan Arsenal menang? Apakah itu untuk kebahagiaan “tim Arsenal” itu? Atau untuk kebahagiaan saya? Yah, secara jujur, saya mengharapkan Arsenal menang untuk kebahagiaan saya, yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Jadi, kalau Arsenal kalah, maka Arsenal telah merenggut “kebahagiaan saya” tersebut. Maka, sebagai respon, saya menghibur diri saya dengan “menjatuhkan” Arsenal yang tidak memberikan saya kebahagiaan.
Dari peristiwa itu, saya mulai berpikir hal yang saya angkat di awal tulisan. Kenapa orang bisa membenci orang yang dicintainya? Jawaban saya adalah, karena orang tersebut tidak mencintai dengan tulus (dan memang sangat sulit untuk mencintai dengan tulus). Dia mencintai seseorang karena orang tersebut memberikan kebahagiaan kepadanya. Maka, ketika orang tersebut tidak lagi memberikan kebahagiaan, dia berhenti mencintai orang tersebut. Pada kasus ekstrem, dia malah berbalik membencinya.
Berhati-hatilah jika kamu terlalu mencintai seseorang sampai kamu menginginkannya jadi milikmu. Kemungkinan besar, ketika kamu telah merasa dia menjadi milikmu dan tiba-tiba dia tidak lagi menjadi milikmu, kamu akan berhenti mencintai dia. Mengasihi seseorang dengan tulus adalah mengasihi untuk membuat dia bahagia, dan kebahagiaan dia yang menjadi kebahagiaan kita. Bagaimana jika dia tidak membuat kita bahagia? Jika kasih tersebut tulus, sepanjang dia dapat bahagia, meskipun kita tidak bahagia, kita akan tetap mengasihi dia. Inilah kasih yang tulus, yang sangat jarang ditemui oleh manusia. Namun, Tuhan telah menunjukkan kasih-Nya yang tulus kepada kita.
“Kasihilah manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri”. Ternyata perintah ini sulit sekali dilakukan, karena kita terlalu mengasihi diri kita sendiri. Namun, marilah kita bersama-sama berusaha untuk saling mengasihi satu sama lain, dengan tulus.

Di Mana Terangnya?
Posted by Charles
Jika sebuah rumah menjadi gelap, jangan salahkan rumahnya… Tapi di mana terang yang seharusnya menerangi rumah itu?
Jika seonggok daging menjadi busuk, jangan salahkan dagingnya… Tapi di mana garam yang seharusnya mengawetkan daging tersebut?
Jika dunia ini begitu bobroknya, jangan salahkan dunia… Tapi di mana anak-anak Tuhan yang seharusnya membawa terang bagi dunia ini?

Inspiring Quotes from Mother Teresa
Posted by Charles
Tuhan, Tinggallah Dalamku, Tapi …
Posted by Charles
Adalah seseorang yang berkata kepada Tuhan, “Tuhan Yesus, aku ingin memberikan hidupku untuk-Mu. Masuklah ke dalam hatiku dan tinggallah di sana. Aku mengundang-Mu masuk ke dalam hatiku dan aku akan membukakan pintu hatiku untuk-Mu.” Demikianlah dia mengundang Tuhan Yesus untuk masuk ke dalam hatinya.Lalu dia membuka pintu hatinya, tetapi apakah yang terjadi? Ternyata hatinya sudah diisi penuh dengan hal-hal duniawi. Tuhan berkata, “Maaf anak-Ku, Aku tidak dapat masuk ke dalam hatimu yang sudah penuh ini.”Orang ini sangat menginginkan Yesus hadir di dalam hatinya, namun dia juga mencintai hal-hal duniawi yang ada dalam hatinya. Karena dia sangat ingin Yesus hadir dalam hatinya, akhirnya orang ini memutuskan dengan rela membuang hal-hal duniawi yang ada dalam hatinya dan memberikan tempat untuk Yesus, sampai akhirnya hatinya nyaris kosong dan hanya berisi satu hal duniawi yang sangat dia cintai dan sangat sulit dia lepaskan.Dia kembali berkata kepada Tuhan, “Tuhan Yesus, aku sudah membuang isi hatiku yang merupakan hal-hal duniawi yang aku sukai untuk memberikan-Mu tempat di dalam hatiku. Sekarang masuklah ke dalam hatiku dan tinggallah di sana.”
Tetapi Yesus berkata, “Maaf anak-Ku, tempat yang kau sediakan untuk-Ku tidaklah cukup. Selama masih ada hal lain di dalam hatimu, Aku tidak dapat masuk ke dalam hatimu, karena Aku adalah bagaikan cahaya dan jika masih ada hal lain di dalam hatimu, cahaya itu takkan dapat menerangi semua hatimu. Dan oleh karena itu, engkau harus membuat pilihan, apakah Aku yang ingin kau undang untuk tinggal di dalam hatimu, ataukah hal lain. Engkau tak dapat memilih keduanya untuk tinggal di dalam hatimu.”

Benarkah kamu sayang padanya?
Posted by Charles
Apakah kamu memiliki seseorang yang sangat kamu kasihi? Mungkin dia orang yang spesial untukmu, atau keluargamu, atau temanmu, atau siapapun dia… Punya? Yah, saya yakin kamu pasti mempunyai orang yang kamu kasihi. Izinkan saya bertanya satu pertanyaan, benarkah kamu mengasihinya?
Apakah jika dia mengecewakanmu, kamu akan tetap mengasihinya?
Apakah ketika kamu memberinya hadiah dan dia menolaknya, bahkan menyakitimu, kamu akan marah padanya? Ataukah kamu akan berusaha dengan lebih keras untuk menyenangkannya?
Apakah ketika dia berbuat suatu hal yang memalukan, kamu akan meninggalkannya?
Jika dia tidak lagi mengasihimu, akankah kamu tetap mengasihinya?
Jika dia berbuat kesalahan yang sangat besar kepadamu, dapatkah kamu mengampuninya dan tetap mengasihinya seperti sedia kala?
Jadi, apakah kamu benar-benar mengasihinya? Apakah kamu benar-benar sayang padanya? Ataukah itu semua hanya untuk kesenanganmu?
Saya mempunyai sebuah cerita. Sebuah cerita yang menggambarkan kasih yang sesungguhnya. Rasa sayang yang sesungguhnya. Cerita yang mengharukan bagi sebagian orang, namun sayangnya, sangat sedikit orang yang dapat meneladaninya. Inilah ceritanya…
Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.
Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat.
Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.
Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.
Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.
Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.
Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.
Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.
Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.
Apa yang kamu dapatkan dari cerita di atas? Pertama kita bisa melihat betapa kurang ajarnya si anak bungsu karena dia telah meminta warisan sebelum ayahnya meninggal. Betapa dia tidak tahu berterima kasih. Dia telah mendapatkan hal-hal terbaik dari ayahnya, tetapi dia tidak puas. Dia malah memilih mengikuti jalannya sendiri dan pergi merantau dan berfoya-foya. Mungkin kita berkata, betapa buruk si anak bungsu ini. Tapi cobalah kita pikirkan, pernahkah kita menjadi seperti si anak bungsu ini? Di saat orang tua kita menasihati kita untuk kebaikan kita, apakah kita masih suka melawan? Apakah kita masih mengikuti jalan kita dan tidak mendengarkan nasihat orang tua kita? Bukankah itu yang dilakukan si anak bungsu? Melawan orang tuanya dan berbuat sekehendak hatinya…
Kedua kita melihat bagaimana hasil yang dituai oleh si anak bungsu yang mendurhakai orang tuanya ini. Bagaimana dia “bersenang-senang” dan menghamburkan uang yang didapatkannya. Sayangnya, dia tidak menyadari, kalau kesenangan yang dia alami hanyalah kesenangan semu yang sesaat. Mungkin saat itu, dia mempunyai banyak teman. Namun mereka bukanlah teman sejati, mereka hanyalah teman yang ada di saat suka, yang hanya ingin memanfaatkan si anak bungsu dan hartanya. Segera setelah harta si anak bungsu habis, teman-temannya meninggalkan dia. Seberapa sering kita berpikir bahwa kekayaan dan harta dapat membeli semua hal, termasuk teman? Seorang teman barulah teruji ketika kita mengalami kesulitan. Akankah mereka tetap setia? Si anak bungsu ini akhirnya mengalami masa-masa menderita, di mana tidak ada yang memberikan makanan kepadanya, bahkan ampas makanan babi pun tidak!
Hal ketiga adalah hal yang menjadi inti tulisan ini. Ketika si anak bungsu menyadari bahwa perbuatannya salah, dia memutuskan untuk kembali kepada ayahnya. Yang unik adalah sang ayah tidaklah marah dan membenci si anak bungsu yang telah mendurhakainya. Malah, ketika si anak bungsu ini masih jauh, sang ayah telah berlari menyambutnya. Itu berarti sang ayah dengan setia menunggu anak bungsunya kembali. Kasih sayang dan pengampunan yang diberikan sang ayah kepada anak bungsunya patut diacungi jempol. Sang ayah benar-benar sayang kepada anaknya!
Hal keempat yang menarik adalah bagaimana si anak sulung tidak senang ketika sang ayah menyambut si anak bungsu yang telah banyak berbuat salah. Si anak sulung tidak terima si anak bungsu yang buruk itu diperlakukan sebegitu istimewa, sedangkan dirinya yang baik tidak pernah diperlakukan begitu istimewa. Ini artinya si anak sulung tidak sungguh sayang kepada ayahnya, tetapi si anak sulung hanya menyayangi dirinya saja. Seandainya si anak sulung benar-benar sayang kepada ayahnya, tentunya dia juga ikut bersukacita karena ayah yang disayanginya bersukacita. Apakah kita juga pernah menjadi seperti si anak sulung tersebut?
Jadi, benarkah kamu menyanyangi dia yang kamu akui sebagai orang yang kamu sayangi? Rasa sayang tidak dapat dilepaskan dari kesetiaan. Seberapakah kamu setia padanya? Seperti sang ayah dengan setia menunggu anak bungsunya, rasa sayang yang sejati akan membuat kita tetap setia kepada orang yang kita sayangi. Dan waktulah yang akan mengujinya…
Tulisan serupa:

Opini (Part 2: Film Fitna & Pemblokiran Youtube dkk)
Posted by Charles
OK, melanjutkan opini saya sekitar isu sekitar… Kali ini saya mau membahas mengenai film Fitna & tindakan pemerintah memblokir beberapa situs yang menyediakan film tersebut. Untuk yang belum tahu apa itu film Fitna, dapat melihat penjelasan di sini. (Lagi ga mau banyak nulis, hehe).
Fitna
Sebelumnya, saya mau mengatakan kalau saya termasuk orang yang kontra dengan film ini. Film ini adalah wujud dari kebebasan yang tidak beretika, yang menyerang sebuah agama. Dan sebagai informasi, saya bukan seorang Islam. Saya adalah seorang Kristen, jadi saya tidak akan membahas hal-hal yang saya tidak ketahui dari sudut pandang Islam.
Banyak yang mengatakan kalau film ini adalah film fitnah. Saya setuju karena film ini menonjolkan oknum-oknum di dalam Islam yang melakukan tindakan anarkis dan mengutip ayat-ayat Al Quran yang seolah mengeneralisasi bahwa semua umat Islam seperti mereka. Padahal kenyataannya, yang melakukan terorisme, tindakan anarkis, dll yang ada di film itu hanyalah oknum dari umat Islam, dan bukanlah umat Islam itu sendiri. Oleh karena itu, saya menantang umat Islam yang menentang film ini, agar menentangnya dengan baik-baik, dan tunjukkan kalau Islam identik dengan tindakan anarkis dan kekerasan itu adalah salah. Tunjukkan kalau film itu tidak benar! Melakukan tindak kekerasan untuk menentang film itu hanyalah membuktikan kalau film itu adalah benar dan bukan fitnah. So, marilah teman-teman Muslim menanggapi hal ini dengan baik dan bijak, tidak dengan emosi berlebihan, OK!?
Blokir Situs
Film ini membuat pemerintah Indonesia kocar-kacir. Kenapa? Karena film ini telah menyebar di berbagai situs penyedia video seperti youtube, multiply, dll. Pemerintah didesak untuk melakukan tindakan atas hal ini, mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, pihak yang disudutkan di film tersebut.
Dan, akhirnya pemerintah mengambil tindakan dengan memblokir situs-situs yang menyediakan film Fitna tersebut. Sekarang, situs-situs seperti youtube, rapidshare, myspace tidak dapat diakses oleh sebagian besar penduduk Indonesia karena pemblokiran pemerintah.
Nah, jika pada bagian sebelumnya saya menyatakan diri sebagai orang yang kontra atas film Fitna, kali ini saya mau menyatakan diri sebagai orang yang kontra juga dengan tindakan pemerintah memblok situs-situs tersebut. Kenapa? Inilah pendapat saya:
- Banyak content-content positif yang ada di dalam situs tersebut yang juga ikut menjadi korban dengan pemblokiran ini. Contohnya, dosen kuliah saya pernah mengambil video di youtube sebagai bahan pembelajaran, yang telah terbukti efektif. Pepatah membasmi hama dengan melenyapkan sawah adalah tepat dalam hal ini. Hama (film Fitna) mungkin terbasmi, tapi sebagai gantinya, padi dan sawah (content-content positif) juga ikut hancur.
- Banyak pihak yang tidak bersalah dirugikan karena tindakan pemerintah ini. Contohnya dapat dilihat di sini.
- Hama belum sepenuhnya dibasmi, karena ternyata banyak orang yang dapat menemukan film ini di tempat-tempat lain di dunia maya ini. Alih-alih, orang (mungkin) malah tertarik untuk melihat isi film ini. “Wah, pemerintah sampai heboh gini… Pasti film itu dahsyat…,” begitu (mungkin) pikir mereka. Youtube yang telah diblokir pun tetap dapat diakses dengan sedikit trik.
- Jika pemerintah melakukan pemblokiran ini karena menilai film Fitna itu adalah bentuk penghinaan (dan fitnah) atas umat beragama, saya rasa hal ini kurang tepat, atau lebih tepatnya pemerintah melakukan diskriminasi. Betapa banyaknya buku-buku yang (menurut saya) menghina Kristen (seperti Da Vinci Code) dengan bebasnya beredar di toko buku (juga toko buku Islam). Menurut saya, Da Vinci Code juga termasuk penghinaan dan pemfitnahan atas Kristen. Tapi, pemerintah hanya menganggapnya sebagai wujud kebebasan berpendapat saja. So, menurut saya, pemerintah melakukan hal ini atas nama umat Islam saja (yang merupakan mayoritas di negeri ini), dan bukan atas nama umat beragama.
OK, terakhir seperti biasa, moral of the story…
- Kita memang bebas dalam berpendapat, tapi jangan lupakan etika. Kita bebas berpendapat selama pendapat kita masih sesuai dengan etika yang ada. Gunakan kebebasan kita dengan bertanggung jawab.
- Berpikirlah jernih sebelum bertindak. Jangan bertindak karena emosi sesaat, yang mungkin berdampak besar dan merugikan orang lain. Kita harus dapat mengendalikan emosi kita. (Sulit sih yang ini… Tapi kalau dilatih pasti bisa
)
Uda ah, segini aja, hehe… Sekali lagi, salam damai…
Opini saya yang lain: Blogger Tukang Tipu

Di Balik Kegagalan Selalu Ada Hikmah…
Posted by Charles
Wah, sudah cukup lama juga ya saya tidak menulis dan membalas comment di blog ini. Cukup banyak hal yang terjadi selama itu. Sesuatu yang akan saya ceritakan pada tulisan saya kali ini…
Minggu lalu (karena sekarang sudah hari Senin, hehe) dapat dikatakan menjadi minggu yang buruk bagi saya. Kenapa? Pertama, saya menjalani dua ujian sepanjang minggu itu, dan dua-duanya dapat dikatakan “gagal”. Padahal seharusnya, saya cukup bisa di mata kuliah tersebut. T_T Berikutnya, banyak hal yang ada di pikiran, dari urusan di Fasilkom, PO Fasilkom, sampai urusan gereja dan keluarga. Sebenarnya, minggu ini bukanlah minggu yang teramat padat untuk saya, tetapi minggu-minggu mendatang sudah banyak deadline tugas menunggu untuk diselesaikan, dan betapa banyaknya hal yang harus saya lakukan (setidaknya sampai dua bulan ke depan). ~tema PJ jumat kemarin tentang hal kekhawatiran cukup mengena…
Lalu, apakah yang akan saya tulis di sini? Apakah saya akan mengeluh karena semua hal di atas? Jujur, awalnya keluhanlah yang keluar dari mulut saya. Sampai-sampai saya kehilangan semangat, juga untuk menulis di blog ini (untungnya sekarang sudah sembuh, hehe). Namun, setelah saya merenungkan lagi, keluhan hanyalah menambah berat beban ini. Keluhanlah yang membuat saya menjadi tidak semangat. Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak mengeluh, sebaliknya, malah bersyukur untuk semua hal yang boleh ada dan terjadi di dalam kehidupan saya.
Tidak mudah untuk bersyukur di tengah banyaknya hal yang tidak mengenakkan terjadi di dalam hidup kita. Saya pun merasakannya. Tapi, setelah saya merenungkan, setiap hal tersebut dapat terjadi di dalam hidup saya karena Tuhan mengizinkan itu terjadi, dan itu semua adalah untuk kebaikan saya. Saya mengingat sebuah lagu syukur, yang liriknya berbunyi seperti berikut:
Syukur pada-Mu ya Allah atas s’gala rahmat-Mu
Syukur atas kecukupan dari kasih-Mu penuh
Syukur atas pekerjaan, walau tubuh pun lemban
Syukur atas kasih sayang dari sanak dan temanSyukur atas bunga mawar, harum, indah, tak terp’ri
Syukur atas awan hitam dan mentari berseri
Syukur atas suka-duka yang Kau b’ri tiap saat
Dan Firman-Mulah pelita agar kami tak sesatSyukur atas keluarga, penuh kasih yang mesra
Syukur atas perhimpunan yang memb’ri sejahtera
Syukur atas kekuatan kala duka dan kesah
Syukur atas pengharapan kini dan selamanya
Ada satu bagian yang unik di dalam lirik di atas. “Syukur atas suka duka”. Ya, kita harus bersyukur setiap saat, di saat suka dan di saat duka.
Di tengah “kedukaan” saya tentang kegagalan saya dalam ujian, saya menjadi dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang gagal dalam ujian. Saya bisa lebih memahami mereka. Dan terlebih daripada itu, saya kembali diingatkan bahwa semua hal yang saya terima adalah anugerah dari Tuhan. Jika saya hanya mengandalkan kekuatan saya saja, saya pasti akan jatuh… Saya juga diingatkan untuk lebih tekun dalam belajar, dan untuk lebih bijak di dalam membagi waktu yang telah Tuhan berikan pada saya.
Di balik kegagalan, selalu ada hikmah yang dapat kita ambil… Dan, hikmah itu akan sangat berarti untuk membuat hidup kita menjadi lebih baik lagi di masa depan. Karena itulah saya lebih memilih bersyukur daripada menganggap itu sebagai sebuah kesialan. Susah… Benar, saya merasakan kalau bersyukur di saat sulit adalah sesuatu yang susah… Tapi, ingatlah ada pelangi di balik hujan, demikian juga semua kesusahan yang kita lihat sekarang akan menjadi kebaikan pada saatnya kelak.
~btw, saya mendapatkan kekuatan ketika membaca tulisan-tulisan di sebuah blog, dan ketika saya mengetahui kalau ada teman yang sama-sama berjuang seperti saya. Yah jadi, kalau ada yang bilang blogger belum bisa memberikan citra positif, saya tidak setuju… Jangan samakan blogger dengan oknum blogger. Eh, kok jadi OOT yah, hehe…
okeh… semoga saya bisa senantiasa bersyukur. Tidak hanya bersyukur, saya juga akan berusaha untuk bangkit, tentunya dengan pertolongan-Nya. Terima kasih Tuhan, untuk satu pelajaran lagi yang telah Engkau berikan padaku…

James Caviezel - pemeran Jesus Christ
Posted by Charles
Apakah Anda mengenal James Caviezel? Dia adalah pemeran Yesus Kristus (Jesus Christ) di dalam film Passion of the Christ. Ada beberapa hal yang saya kagumi dari seorang James Caviezel…
Pertama, dia memiliki integritas di dalam hidupnya. Dia berani menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan imannya, meskipun itu berarti menolak uang puluhan juta dollar. Dia adalah seorang bintang Holywood yang langka, satu dari sedikit bintang Holywood yang menolak untuk melakukan love scene (baca: sex scene) di dalam film yang dia perankan. Dia menolak untuk melakukan adegan pornografi, seperti pernyataan yang dia keluarkan pada tahun 2002 berikut ini.
Staunchly Catholic Hollywood actor Jim Caviezel refused to strip off for a sex scene with beautiful actress Ashley Judd. The 33-year-old star threatened to walk out unless director Carl Franklin shot the scene for thriller High Crimes with both parties wearing clothes. He says, “I told Carl, ‘It’s no problem, I don’t have to do this movie. Go ahead and find someone else.’ I see our culture as not respecting people too much, treating people like objects. There are times where sex is appropriate, but I’ve yet to see butts and breasts act themselves out of a scene!” It’s not the first time Caviezel has refused to get naked for scenes with beautiful co-stars. He refused to film a love scene with sexy Jennifer Lopez in Angel Eyes because she was topless and asked rising star Dagmara Domincyzk to cover her nipples while shooting The Count Of Monte Cristo. The married star says, “My acting stems from inside, from God. And that’s the only way I can act. If I violate that, then I don’t think I’d be around this business much longer.“
Hal ini yang saya kagumi. Dia punya kesempatan untuk melakukan itu, tetapi dia menolaknya, karena integritas pada imannya. Dia rela jika dia harus disingkirkan karena tidak melakukan “perintah” director film tersebut. Seandainya semua bintang film seperti ini, tentunya pornografi akan dapat berkurang, bahkan bukan tidak mungkin dapat hilang!
Selain itu, dia juga tidak gila harta. Dia bahkan menolak tawaran sebesar US$ 75 juta karena tidak sesuai dengan imannya.
Hal ini membawa James Caviezel menerima tawaran yang sangat sulit dari Mel Gibson, yaitu memerankan tokoh utama di dalam filmnya “Passion of The Christ”, yaitu sebagai Yesus Kristus. Satu hal yang unik adalah inisial nama James Caviezel (JC) sama dengan inisial nama Jesus Christ.
Bagaimana beratnya James Caviezel menjalani peran ini dapat dibayangkan melalui kesaksian Caviezel berikut.
Dulunya aku pikir belajar bahasa-bahasa kuno akan menjadi tantangan terberat. Tetapi, ternyata penderitaan fisik jauh lebih berat.
Sejak dari awal, pembuatan film ini merupakan siksaan bagiku dalam segala bentuk. Aku diludahi dan dipukuli. Aku memanggul salibku selama berhari-hari, lagi dan lagi menyusuri jalan-jalan yang sama; tulang bahuku sempat terlepas karena beban salib yang berat.
Aku tidur empat jam sehari. Pukul 2 pagi aku harus mulai di makeup; aku tak dapat duduk, karena makeup akan lengket di tubuhku. Delapan jam diperlukan untuk mengenakan makeup padaku dan kemudian dua jam diperlukan untuk melepaskan semua makeup itu plus aku harus duduk di bawah pancuran air selama setengah jam agar makeup benar-benar lepas. Juga, karena makeup yang hebat, aku tidak dapat melihat dengan mata kananku, sehingga aku mengalami hyper-focus pada mata kiri. Dengan segala makeup yang menempel di tubuhku, kadang, aku merasa gatal-gatal seperti terbakar di sekujur tubuhku. Mel akan menghampiriku dan bercanda, “Jim, kamu adalah pizza terbesar di seluruh dunia.”
Pengambilan gambar dilakukan di Italia pada mudim dingin. Aku tergantung di atas salib, hanya dengan selembar kain penutup pinggang, di tengah udara yang dingin membeku. Aku memandang ke bawah melihat ratusan krew dengan jaket tebal dan syal serta sarung tangan, sementara aku sendiri tak dapat berbuat apa-apa karena tangan-tanganku terikat pada kayu salib. Angin bertiup mengiris-iris tubuhku. Karena dingin yang menggigit, aku menderita hypothermia, yang rasanya seperti menjepitkan seluruh tubuhmu dalam balok es. Sungguh menderita. Aku sulit bernapas, tidak dapat mencerna makanan dengan baik, berat badanku turun drastis dan aku menderita sakit kepala berkepanjangan. Mesin pemanas memang ada, tetapi tidak mungkin didekatkan padaku karena segala makeup itu akan meleleh.
Aku ingat suatu ketika, di atas salib, aku mengeluh kepada Tuhan, “Jadi, apakah Engkau tidak menginginkan film ini dibuat?” Pada akhirnya, aku harus pergi ke tempat yang lebih dalam dari kepalaku, aku harus pergi ke dalam hatiku. Dan satu-satunya cara untuk sampai ke sana adalah dengan doa. Sungguh menyakitkan.
Adegan yang cukup lama di mana Yesus didera dengan cambuk-cambuk besi sungguh mengerikan. Untuk adegan ini Mel telah mengatur supaya ditempatkan suatu papan di punggungku, kira-kira setengah inci tebalnya, agar para prajurit Romawi tidak mengenai punggungku. Tetapi, pukulan salah seorang dari mereka luput, menghantam tepat di punggungku dan merobek kulitku. Aku tidak dapat berteriak, aku tidak dapat bernapas. Pukulan itu begitu menyakitkan hingga seluruh sistem tubuhku tergoncang. Aku jatuh tersungkur dan Mel mengatakan, “Jim, ayo bangun.” Ia tidak tahu bahwa aku sungguh terkena. Cambukan itu meninggalkan luka sepanjang 14 inchi (± 36 cm) di punggungku yang kemudian menjadi contoh untuk ‘membuat’ luka-luka penderaan lainnya. Aku tidak terkena pukulan lagi sesudahnya, tetapi insiden itu menyadarkanku akan bagaimana kira-kira rasanya dicambuk.
Aku menganggap semua penderitaan itu layak untuk memainkan peran Yesus. Peran ini sungguh berarti bagiku. Dengan memerankannya, aku jauh lebih menghayati Jalan Salib. Jalan Salib adalah sengsara Kristus demi umat manusia, demi menebus dosa-dosa kita, demi membawa kita kembali kepada Allah; dan Kasih yang melakukan semuanya.
Ketekunan Caviezel dalam menjalani peran ini sungguh membuat saya kagum. Bagi yang ingin melihat aksi Caviezel dalam film tersebut, dapat melihat foto-foto yang ada di tulisan saya: “Cinta Sejati”.
Apa yang dapat saya teladani dari seorang James Caviezel? Yang dapat saya pelajari adalah integritasnya. Bagaimana dia tidak hanya “sok suci” saat memerankan tokoh yang suci (Jesus Christ), tetapi dia adalah seorang yang beriman teguh dan berintegritas di dalam kehidupannya.
~Wawancara James Caviezel mengenai pembuatan film Passion of The Christ saya ambil dari http://www.indocell.net/yesaya/pustaka/id410.htm.

Cinta Sejati
Posted by Charles
Cinta sejati? Pernahkah terbayang, cinta sejati itu seperti apa sih? Cobalah bayangkan Anda menerima cinta sejati itu… Apakah yang akan Anda lakukan? Tentunya Anda akan berusaha untuk membalas cinta itu bukan? Yah, yang saat ini akan saya bahas adalah mengenai cinta… Bukan cinta biasa, tapi cinta yang sangat luar biasa, kasih terbesar telah saya terima, yang telah didemonstrasikan 2000 tahun silam…
Hari ini adalah hari Jumat Agung, hari di mana umat Kristen memperingati kematian Yesus Kristus 2000 tahun silam. Sebuah kematian yang didapatkan dengan cara yang sangat hina dan tidak pantas, penyaliban! Hukuman salib adalah hukuman yang sangat menyakitkan. Kebanyakan hukuman mati membuat terhukum secepat mungkin mati (seperti hukuman tembak, kursi listrik, dll.). Tapi, hukuman salib ini tidaklah demikian. Terhukum akan merasakan penderitaan kesakitan yang sangat menyakitkan sebelum dia akhirnya mati. Bayangkan, dua paku pada tangan kiri dan kanan, serta sebuah paku pada kaki harus menyangga berat tubuh terhukum. Tak terbayangkan…
Yang lebih menyakitkan lagi, Yesus tidak hanya disalibkan. Dia juga dicemooh dan disesah sebelum penyaliban itu. Dan, dia harus memikul salib hingga ke bukit Golgota tempat Dia disalibkan. Penelitian “manusia kain kafan” menyebutkan terdapat 726 bekas luka cambuk pada tubuh Yesus. Luka yang disebabkan oleh cambuk berduri, yang sekali cambukannya dapat mengangkat daging orang yang dicambuk. Saya membayangkan, kalau hanya tertusuk jarum saja sudah sakit, apalagi dicambuk 726 kali dan dipaku? Tak terbayangkan…
Lalu, apa yang membuat Yesus harus disalibkan? Apakah karena dosa-dosa-Nya? Ternyata tidak demikian. Inilah cinta sejati yang diberikan Yesus pada kita. Marilah kita lihat, mengapa Yesus harus mengalami penderitaan ini. Penderitaan ini telah dinubuatkan jauh sebelum Dia disalibkan oleh Nabi Yesaya.
Yesaya 53
1Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? 2Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya.

3Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.

4Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

5Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

6Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

7Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.

8Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah.

9Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.

10Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.

11Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.


12Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.


Ya Tuhan, terima kasih untuk semua pengorbanan-Mu. Terima kasih untuk penebusan yang Kau berikan. Terima kasih untuk cinta sejati yang telah Kau tunjukkan dan berikan. Ampunilah semua dosa-dosaku. Ajar aku untuk dapat terus taat dan setia kepada-Mu.
Yohanes 15:13
Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
Sumber gambar: film Passion of The Christ

Dear My Lord…
Posted by Charles
My Lord, should I be hurt to learn a lesson? If I should, I’ll let You hurt me to give me a lesson…
Lord, thanks for every lesson you give to me (which sometimes hurts me)… I love You. Thanks for every happiness and sorrow in my life that You’ve given. Not easy to say this, but You’ve given me enough strength to say this.
Thanks for everything, Lord… (esp. for Your redemption, that makes me speechless… Nothing can pay Your love for me).
Your son,
Charles
:’)



















