Kalau Anda Berpikir Anda Bisa, Anda Bisa. Kalau Anda Berpikir Anda Tidak Bisa, Anda Tidak Bisa
Posted by Charles
Judul di atas adalah sebuah quote yang cukup populer. Mungkin awalnya ada dari Anda yang tidak menyetujui quote tersebut. Masakan kita bisa atau tidak bisa berdasarkan apa yang kita pikirkan. Tidak dong, itu tergantung kemampuan kita, anugerah Tuhan, dan lain-lain (yang sebenarnya itu semua benar juga).
Saya pun awalnya berpikir seperti itu. Wah, betapa enaknya kalau quote ini benar. Saya tinggal berpikir, “Saya juara kelas”, maka saya akan menjadi juara kelas. Ketika saya berpikir, “Saya bisa jadi miliarder”, maka saya akan menjadi miliarder.
Kesalahan orang biasanya (termasuk saya dahulu) adalah menganggap semua proses itu akan didapatkan secara instan. Ketika saya berpikir “saya juara kelas”, saya mengharapkan saya bisa jadi juara kelas secara instan. Saya bisa tetap bermalas-malasan, tidak pernah belajar, tidak pernah mendengarkan guru… dan saya mengharapkan saya menjadi juara kelas karena saya percaya quote di atas. Saya mau katakan, ini sama sekali bukan yang dimaksud oleh quote tersebut. Quote tersebut bukanlah berbicara sesuatu yang supernatural dan instan. Ketika Anda berpikir Anda bisa, bukan berarti secara instan Anda pasti akan langsung bisa tanpa berusaha.
Namun demikian, saya percaya pada quote di atas. Saya akhirnya menemukan sebuah penjelasan yang masuk akal yang menjelaskan mengapa quote di atas bisa menjadi benar.
Yang dimaksud oleh quote di atas sebenarnya adalah mengenai fokus pikiran kita. Ketika kita memfokuskan diri kalau kita bisa, itu akan mempengaruhi kita. Seperti apa pengaruhnya? Pengaruhnya akan terlihat ketika kita mencari dan ketika kita gagal.
Pengaruh Pertama: Ketika Kita Mencari
Pengalaman ini saya dapatkan ketika saya mencari parkir di sebuah gedung parkir. Saya berpikir saya pasti akan mendapatkan tempat kosong dalam gedung parkir itu. Saya pasti akan mendapatkan parkir! Karena saya berpikir saya pasti mendapatkan parkir, itu membuat saya mengemudikan mobil lebih lambat, dan saya mencari ke sekeliling apakah ada tempat kosong. Karena saya fokus kepada tempat kosong, saya akan dapat melihat dengan mudah jika terdapat tempat kosong. Ini sama halnya ketika Anda fokus kepada warna merah, Anda akan melihat banyak warna merah di sekeliling Anda. Itu bukan karena warna merahnya yang bertambah banyak, tetapi karena Anda memfokuskan diri Anda pada warna merah. Akhirnya, tidak heran jika saya mendapatkan tempat kosong untuk parkir.
Pasti akan berbeda halnya jika saya berpikir sebaliknya, tidak ada tempat kosong di dalam gedung parkir tersebut. Jika saya berpikir begitu, mungkin saja dari awal saya akan enggan masuk ke dalam gedung parkir itu (yang membuat saya menyerah sebelum mencoba). Kalaupun saya masuk ke dalam gedung parkir itu, saya akan masuk dengan pesimis, mengemudikan mobil lebih cepat, kurang melihat sekeliling, dan ingin cepat-cepat keluar dari gedung parkir tersebut untuk membuktikan bahwa diri saya memang benar. Memang tidak ada tempat kosong lagi di dalam gedung parkir tersebut.
Ini akan membawa saya ke dalam sebuah dilema. Di satu sisi, saya ingin mendapatkan parkir. Di sisi lain, saya yakin tidak ada tempat kosong yang tersisa. Jika saya mendapatkan parkir, itu berarti keyakinan saya salah, dan semua orang tentu tidak senang kalau keyakinannya disalahkan. Jika saya tidak mendapatkan parkir, itu berarti saya akan bangga karena keyakinan saya benar, tetapi justru tujuan saya untuk mendapatkan parkir tidak tercapai. Mengapa saya harus menceburkan diri saya dalam dilema ini dengan bersikap pesimis?
Namun bukankah bersikap pesimis dapat mengurangi kekecewaan kita jika memang tidak ada tempat kosong lagi di dalam gedung parkir tersebut? Nah, ini dia kesalahannya. Kebanyakan orang berfokus pada mengurangi kekecewaan karena tidak mendapatkan, daripada berusaha terus untuk mendapatkan. Ini membawa saya pada pengaruh yang kedua…
Pengaruh Kedua: Ketika Kita Gagal
Jika saya berpikir pesimis, “Ah, tidak ada lagi tempat kosong di dalam gedung parkir itu…”, ketika pada akhirnya saya gagal dan tidak mendapatkan tempat parkir, saya akan semakin memperkuat keyakinan saya. “Tuh kan benar kata saya, tidak ada lagi tempat kosong…”, dan akhirnya mengurungkan niat saya untuk mencari tempat parkir lagi. Saya akan mudah menyerah. Tujuan saya tidak tercapai. Bahkan, di kesempatan berikutnya, saya akan menjadi semakin pesimis, mengingat kejadian-kejadian yang ada di masa lalu.
Namun, ketika saya berpikir “Saya pasti akan mendapatkan tempat parkir”, ketika saya mengitari gedung tersebut dan tidak mendapatkan tempat kosong, saya tidak akan mudah menyerah. Kurang lebih, yang saya katakan adalah seperti ini, “Ah masa sih, ga ada tempat kosong? Saya yakin ada kok… Mungkin tadi saya kelewatan. Saya akan coba cari lagi deh, kali ini lebih hati-hati.” Nah, akhirnya saya akan mencoba mencari lagi. Tentu kemungkinan mendapatkan tempat parkir jika kita mengitari gedung parkir dua kali akan lebih besar ketimbang hanya mengitari sekali. Tidak heran jika saya mungkin akan mendapatkan parkir ketika saya mengitari gedung parkir untuk kedua kalinya.
Jadi, “bisa” atau “tidak bisa” karena pikiran kita bukanlah sesuatu hal yang instan dan supernatural. Tapi, pikiran kita akan mempengaruhi tindakan kita. Dan, tindakan kita akan mempengaruhi hasil yang kita dapatkan.
Mari kita memfokuskan diri kita pada hal-hal yang positif, yang semakin mendekatkan diri kita pada tujuan hidup kita.
Tuhan memberkati kita semua.
Charles Christian
Ingin Disukai Orang Lain? Belajarlah Menyukai Orang Lain!
Posted by Charles
Egois sudah menjadi sifat dasar manusia. Setiap orang cenderung akan lebih memperhatikan dirinya sendiri dibandingkan orang lain. Salah satu contohnya, jika kamu melihat sebuah foto, siapakah yang akan pertama kali kamu cari? Jika kamu ada di dalam foto itu, kemungkinan besar yang kamu cari pertama kali adalah dirimu sendiri. Kenapa? Karena kamu ingin meyakinkan dirimu kalau kamu tampil baik di foto itu, atau jika kamu tampil jelek, kamu akan mencoba untuk mencegah foto itu untuk dilihat orang lain.
Jika kita menawarkan sesuatu kepada orang lain, seringkali kita hanya melihat kepentingan kita sendiri. Kita tidak memperhatikan kebutuhan orang yang kita tawarkan. Seringkali inilah yang menjadi masalah orang yang kita tawarkan menolak tawaran kita. Mereka berpikir, “Apa hubungannya denganku? Apa untungnya bagiku? Kenapa aku harus melakukan ini?”
Hal yang sama terjadi ketika kita mengobrol. Seringkali kita berbicara tentang diri kita. Kita menjadi semangat kalau kita sedang membicarakan topik yang kita sukai, atau tentang diri kita. Namun, ketika tiba saatnya untuk mendengarkan orang lain yang bercerita tentang dirinya dan hal yang dia sukai, kita menjadi kurang antusias. Padahal, itu adalah kesempatan kita untuk mengambil hati lawan bicara kita. Mereka akan senang kalau kita senang mereka berbicara tentang diri mereka.
Sekarang saya belajar, bahwa saya juga harus memperhatikan kepentingan orang lain, kebutuhan orang lain, dan jangan menjadi terlalu egois. Dengan memperhatikan kepentingan orang lain, kita bisa membuka pintu kerja sama dan komunikasi yang lebih baik lagi.
Blame Disease
Posted by Charles
“Char, belok di sini…” saya mendengar suara teman saya di sebelah saya.
“Bukan di sini… Di depan ada satu belokan lagi…” saya menjawab dengan begitu yakinnya, sambil terus menyetir mobil saya terus maju melewati belokan itu.
Tapi, benar kata teman saya, tidak ada belokan lagi di depan. Saya baru saja melewati belokan yang benar.
“Tuh kan, ga ada belokan lagi… Bener kan tadi gua bilang. Lo ga ikutin sih, nyasar dah…” teman saya geleng-geleng kepala.
Ouch. Percaya saya, tidak pernah menyenangkan mengetahui kita salah pilih jalan, apalagi karena kita yang keras kepala.
“Oke… Kalau gitu kita putar balik saja, terus belok kiri.” saran teman saya lagi.
Saya betul-betul tergoda untuk mengikuti saran-saran teman saya selanjutnya. Namun, sejujurnya, bukan karena saya mempercayainya. Tapi, karena saya tidak ingin bertanggung jawab atas kesalahan yang terjadi.
Kalau sarannya benar, itu bagus. Kalau sarannya salah, dan kita jadi nyasar, ada yang bisa disalahkan. Siapa lagi, kalau bukan teman saya yang memberi saran itu.
Itu benar-benar godaan yang besar. Godaan untuk melepas tanggung jawab, dan menyalahkan orang lain. Apa pun yang terjadi, kita aman. Kalau benar, bagus. Kalau salah, orang lain yang akan kita salahkan.
Saya rasa, ini lebih dari sekedar godaan. Ini adalah sebuah penyakit. Saya menyebutnya, “Penyakit Saling Menyalahkan”, atau “Blame Disease”.
Tanda-tanda penyakit ini sangat mudah dilihat. Tanda-tandanya adalah orang yang terjangkit penyakit “Blame Disease” akan selalu mencari kambing hitam (hal-hal yang bisa dia salahkan) ketika suatu hal yang buruk terjadi.
- Ujian dapat nilai jelek karena kebanyakan main game, yang disalahkan adalah guru yang ga bisa ngajar.
- Jadi sakit karena kurang tidur, yang disalahkan adalah bos yang memberi banyak pekerjaan.
- Jatuh ke dalam lubang karena jalan ga lihat-lihat, yang disalahkan adalah pekerja yang menggali lubang.
Menyalahkan sepertinya sangat enak. Melepas tanggung jawab sepertinya membuat kita aman.
Tapi benarkah kita benar-benar aman ketika melepas tanggung jawab?
Kembali ke cerita saya, saya berpikir lagi, siapa yang rugi kalau akhirnya kita nyasar? Apakah hanya teman saya yang rugi? Tidak… Saya juga rugi.
Bukankah kita akan lebih menyesal jika kita salah karena tidak mengikuti kata hati kita (yang ternyata benar)?
Saat itu juga, saya putuskan untuk mengikuti saran teman saya, tapi tetap bertanggung jawab atas segala risikonya (dan syukurlah ternyata sarannya tepat
).
Ketika seseorang terjangkit “Blame Disease” stadium lanjut, kita bahkan bisa menghancurkan diri kita sendiri hanya agar kita bisa menyalahkan orang lain, dan membuat orang lain merasa bersalah.
Itulah yang terjadi dengan orang yang memilih bunuh diri karena ditinggalkan pacarnya. Kenapa mereka bunuh diri? Karena mereka ingin menyalahkan mantan pacarnya yang telah meninggalkannya. Mereka ingin berkata kepada mantan pacarnya, “Lihatlah kematianku. Ini terjadi karena kamu meninggalkanku!” dan membuat mantan pacarnya merasa bersalah.
Seolah, mereka berhasil dengan membuat mantan pacarnya merasa bersalah. Mereka berhasil menyalahkan. Tapi, faktanya mereka kehilangan nyawanya. Mereka menukarkan nyawa mereka untuk kepuasan atas rasa bersalah mantan pacar mereka! Bukankah ini sangat tidak masuk akal? Tapi ironisnya, ada saja yang melakukan kebodohan ini.
Jadi, bagaimana menyembuhkan “Blame Disease” ini? Saya menyarankan dua langkah berikut.
1. Bertanggung jawablah atas apa pun yang kita lakukan dan apa pun yang terjadi dalam hidup kita.
Bertanggung jawab di sini bukan berarti kita menyalahkan diri kita sendiri. Bertanggung jawab berarti ketika kita salah, kita mengakui kesalahan kita, dan belajar dari kesalahan itu. Kita selalu melihat apa yang dapat kita ubah dari diri kita sendiri untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Fokus kita bukan lagi mencari kambing hitam, tapi mengubah diri kita menjadi lebih baik.
2. Selalu melihat sisi positif dari segala hal buruk yang terjadi, dan syukurilah.
Saya yakin, semua hal buruk yang terjadi pada diri kita pasti mempunyai sisi positif. Ketika kita bisa memfokuskan diri kita pada hal-hal positif tersebut, kita menjadi mampu mensyukuri hal buruk yang terjadi pada diri kita. Dan kita tidak akan menyalahkan siapa-siapa ketika kita mulai bersyukur. Kenapa? Sederhana saja, karena kita tidak lagi menganggap kesalahan itu sebagai sebuah kesalahan. Kita melihatnya sebagai sebuah pelajaran yang berharga. Malah, mungkin saja kita malah berterima kasih kepada orang-orang yang semula kita jadikan kambing hitam.
Tuhan menginginkan kita saling mengasihi, bukan saling menyalahkan.
Mari kita bebaskan diri kita dari “Blame Disease” ini.
Tuhan memberkati kita semua.
Charles Christian
Fokus Pada Hal Kecil Untuk Mencapai Hal yang Lebih Besar
Posted by Charles
Michael Jordan memiliki sebuah catatan prestasi yang menarik. Dia rata-rata menghasilkan 32 poin untuk timnya dalam satu pertandingan basket. Ketika ditanya, bagaimana dia dapat melakukannya, dia menjawab, “Fokus saya adalah menciptakan 8 poin dalam setiap quarter. Karena ada 4 quarter dalam sebuah pertandingan, maka saya menghasilkan 32 poin dalam satu pertandingan.”
Memiliki mimpi yang besar itu sangat bagus. Tapi, terkadang mimpi yang besar membuat orang-orang yang mempunyai mimpi itu menjadi bingung bagaimana mereka dapat mencapainya. Seolah-olah, mimpi itu adalah suatu hal yang tak dapat dicapai oleh mereka. Kenapa? Karena mereka merasa mimpi itu terlalu besar untuk mereka.
Jadi, apa yang seharusnya mereka lakukan? Mereka harus membagi mimpi mereka ke dalam pekerjaan-pekerjaan yang lebih kecil yang mendukung mimpi mereka. Selanjutnya, mereka harus fokus melakukan pekerjaan yang lebih kecil tersebut, dengan harapan atau dengan sebuah visi untuk mencapai mimpi mereka yang lebih besar.
Anggaplah mimpi Michael Jordan adalah menghasilkan 36 poin dalam satu pertandingan. Untuk mencapainya, Michael membagi mimpinya ke hal yang lebih kecil, yaitu menghasilkan 9 poin dalam satu pertandingan.
Fokus untuk menciptakan 32 poin dalam satu pertandingan akan lebih sulit dibandingkan fokus untuk menciptakan 8 poin dalam satu quarter. Padahal, keduanya menghasilkan hasil akhir yang sama. Mengapa tidak kita memilih yang lebih mudah untuk kita lakukan?
Dalam relasi kita dengan Tuhan, memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan adalah sebuah mimpi yang besar.
Kita dapat membagi hal besar itu kepada beberapa hal yang lebih kecil. Mungkin hal yang lebih kecil itu adalah membina hubungan dengan Tuhan dalam saat teduh dan doa pribadi. Mungkin hal kecil yang lain adalah dengan mengasihi sesama. Dan lain-lain.
Bahkan, kita bisa membagi hal kecil tersebut ke dalam hal yang lebih kecil lagi. Kita dapat membagi “mengasihi sesama” menjadi hal-hal yang lebih kecil, seperti “mengasihi keluarga”, “mengasihi teman”, “mengasihi musuh”, dan lain-lain.
Mengasihi keluarga dapat di-break-down lagi menjadi menghormati orang tua, mengasihi saudara, dan lain-lain.
Kembali menghormati orang tua juga dapat di-break-down menjadi membantu orang tua, mendengarkan nasihat orang tua, menasihati orang tua dengan penuh kasih jika beliau salah, mengampuni kesalahan orang tua, dan lain-lain.
Terakhir, kita bisa membagi “membantu orang tua” ke dalam hal yang benar-benar kecil. Mungkin itu adalah menyapu lantai di rumah, membantu mengangkat barang belanjaan ketika orang tua pulang berbelanja, atau melakukan hal-hal yang menyenangkan hati mereka dengan penuh kasih.
Ketika kita menyapu lantai di rumah, membereskan tempat tidur kita, menyenangkan hati orang tua kita… Kita memang sedang melakukan hal-hal kecil. Tapi dengan hal-hal kecil itu, kita dapat mewujudkan mimpi kita yang terbesar, yaitu memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan.
Find God in the ordinary. Dalam melakukan semua hal kecil itu, temukan Tuhan di dalamnya. Rasakan hadirat Tuhan nyata dalam setiap perbuatan-perbuatan kecil yang kamu lakukan.
Apa mimpi besarmu saat ini?
Bagilah mimpi itu menjadi pekerjaan-pekerjaan yang lebih kecil. Lakukanlah pekerjaan itu dengan setia dan dengan visi untuk mencapai mimpi besarmu. Jangan lupa pula untuk senantiasa bersandar kepada Tuhan.
Semoga mimpimu dapat tercapai.
Charles Christian.
Uang, Kekayaan, dan Spiritualitas (3): Apa Definisi “Kekayaan” Bagimu?
Posted by Charles
Pada dua tulisan sebelumnya, saya sudah menjelaskan mengenai pergumulan yang saya hadapi seputar uang, kekayaan, dan spiritualitas (khususnya iman Kristen saya). Pada tulisan ini, saya akan membagikan posisi saya saat ini. Bagaimana pandangan saya saat ini tentang uang, kekayaan, dan spiritualitas?
Mari kita kembali ke pertanyaan awal yang saya ajukan di awal tulisan pertama saya: “Apakah orang Kristen boleh kaya?” Jawaban yang saya yakini saat ini adalah: “Orang Kristen sudah seharusnya dan harus berjuang terus untuk menjadi kaya.” Tolong jangan salah paham dan menelan pernyataan saya tersebut mentah-mentah sebelum membaca penjelasan saya mengenai definisi “kaya” menurut saya…
Apa Itu Kekayaan?
Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar yang harus dijawab terlebih dahulu. Jawaban dari pertanyaan: “Apakah orang Kristen boleh kaya?” akan sangat bergantung pada definisi “kekayaan” bagimu.
Umumnya, orang akan mendefinisikan kekayaan berdasarkan banyaknya harta materi atau uang yang dia miliki. Majalah Forbes menyatakan seseorang disebut kaya jika memiliki penghasilan lebih dari 1 juta US$ per tahun. Ada lagi paham lain yang menyatakan seorang disebut kaya jika dia sudah mempunyai passive income yang lebih besar daripada pengeluarannya. Kekayaan seringkali diidentikkan dengan kebebasan finansial.
Mari saya beritahu satu hal, kawan… Kekayaan jauh lebih berharga dari sekedar mempunyai banyak uang.
Bagi saya, kekayaan lebih adalah mengenai “hubungan” daripada “uang”. Definisi kekayaan saya adalah terjalinnya hubungan yang baik antara saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama saya. Semakin erat hubungan saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama, maka semakin kaya saya.
Tapi Charles, Bukankah Kita Juga Butuh Uang!?
Ya, saya mengakui, seringkali uang dibutuhkan untuk membuat hubungan saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama menjadi semakin erat. Uang dibutuhkan untuk menghidupi diri saya dan keluarga saya. Uang dibutuhkan untuk membantu sesama kita yang kesulitan finansial. Uang dibutuhkan para hamba Tuhan yang memberitakan Injil. Uang dibutuhkan untuk membangun tempat-tempat ibadah.
Tapi, intinya, uang bukanlah tujuan akhirnya. Uang hanyalah alat yang dapat saya gunakan untuk membangun hubungan saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama menjadi lebih baik lagi. Hanya jika uang itu dapat digunakan untuk mendekatkan diri saya pada Tuhan, uang menjadi hal yang baik.
Lihat, inilah hal yang seringkali membuat orang-orang sulit mengaitkan uang, kekayaan, dan spiritualitas. Itu adalah karena mereka menetapkan dua tujuan dalam satu waktu. Tujuan pertama adalah kaya secara rohani. Dan tujuan kedua adalah kaya secara finansial. Apakah keduanya bisa tercapai dalam satu waktu? Belum tentu…
Banyak orang yang seolah memaksa Tuhan untuk menjadikannya kaya secara finansial agar dia dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Mereka berpikir, jika mereka kaya secara finansial, barulah mereka dapat menjadi berkat. Ini adalah pemikiran yang terbalik! Justru, menjadi berkat haruslah dilakukan bahkan jika kita tidak kaya secara finansial. Dan, kalau Tuhan menganugerahkan kekayaan finansial kepada kita, kita harus mengucap syukur dan terus menjadi berkat bagi orang lain. Tidak ada kewajiban Tuhan untuk menjadikan kita kaya secara finansial.
Jadi, mungkinkah kita kaya secara rohani dan kaya secara finansial juga? Saya percaya, ini mungkin! Tapi, kekayaan rohani haruslah yang jadi utama, dan kekayaan finansial kita gunakan untuk lebih memperkaya rohani kita. Ini bukanlah hal yang mudah (lihatlah betapa banyaknya orang yang jatuh secara rohani karena kekayaan finansial). Itulah sebabnya Allah benar-benar memilih setiap dari kita yang sudah siap untuk itu.
Orang Salehlah yang Justru Diuji Tuhan
Banyak paham teologi sukses mengatakan, orang yang saleh akan lepas dari kesulitan. Allah akan memberikan kesuksesan dan kelimpahan terus menerus bagi orang yang taat kepada-Nya. Sungguhkah seperti itu? Jika kita dengan teliti membaca Alkitab, kita seharusnya sudah tahu jawabannya adalah tidak. Justru sebaliknya… Orang salehlah yang justru diuji Tuhan.
Di kitab Kejadian, kita melihat Tuhan menguji iman Abraham dengan memintanya mempersembahkan anaknya, Ishak. Di kitab Ayub, kita melihat Tuhan justru yang berkata pertama kali kepada Iblis tentang Ayub yang begitu saleh. Dan, Tuhan juga yang mengizinkan Iblis untuk mencobai Ayub.
Mengapa Allah mengizinkan Iblis mencobai Ayub? Pada akhirnya, Allah menganugerahi Ayub harta berkali-kali lipat dibandingkan hartanya sebelumnya. Tapi, mengapa Ayub perlu mengalami penderitaan sebelum mendapatkan anugerah Allah tersebut? Itu karena Allah menginginkan Ayub betul-betul sangat amat kaya secara rohani sebelum dia akhirnya kaya juga secara finansial.
Orang yang belum kaya secara rohani sangat berbahaya jika kaya secara finansial. Kekayaan finansial akan membuat kebebasan kita bertambah besar. Dan, kebebasan yang bertambah besar akan sangat berbahaya jika kita belum bisa bertanggung jawab. Bayangkan Anda membiarkan anak Anda yang masih balita mengendarai mobil Anda. Bukankah itu akan menjadi sebuah bencana? Begitu pula, uang di tangan orang-orang yang belum kaya secara rohani akan menjadi bencana bagi dirinya dan orang lain.
Tapi, kalau mobil itu dikendarai oleh kita yang sudah tahu bagaimana cara mengendarainya, bagaimana peraturan yang harus diikuti, bagaimana etika yang ada di jalan raya… Mobil akan menjadi hal yang baik. Mobil akan mempercepat kita sampai pada tujuan. Uang di tangan orang-orang yang sudah kaya secara rohani akan membuat mereka semakin kaya secara rohani.
Inilah mengapa Allah memperkaya Ayub secara rohani terlebih dahulu. Pada awalnya, Ayub memang sudah kaya rohani. Tapi, setelah mengalami sederetan cobaan Iblis, Ayub menjadi sangat-sangat-sangat kaya secara rohani.
Ayub 42:5 mengatakan, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”
Lihatlah perbedaan kekayaan rohani Ayub sebelum dan sesudah dia dicobai. Sebelumnya, Ayub hanya mendengar dari orang saja tentang Allah, tetapi sekarang matanya sendiri memandang Allah. Ayub merasakan sendiri kuasa Allah di dalam hidupnya.
Kekayaan Sejati
Jadi kawan, kekayaan sejati bukanlah kekayaan finansial. Banyak orang yang kaya secara finansial yang tidak bahagia. Kekayaan yang sejati adalah kekayaan hubungan. Hubungan yang kaya dengan Tuhan, dan hubungan yang kaya dengan sesama kita.
Kekayaan finansial akan menjadi baik hanya jika kekayaan finansial itu semakin memperkaya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama.
Kawan, kejarlah kekayaan sejati terlebih dahulu. Dan Tuhan akan menganugerahkanmu kekayaan finansial, jika Allah berkenan memberikannya dan kita sudah siap menerimanya.
Kejarlah apa yang mendamaikan hatimu. Itulah yang diinginkan Tuhan. Kejarlah kekayaan finansial hanya jika kamu sudah mencapai level mengejar kekayaan finansial itu mendamaikan hatimu. Dan, saya percaya, saat mengejar kekayaan finansial mendamaikan hati kita, kita telah kaya secara rohani. Maka kita pasti akan menggunakan kekayaan finansial itu untuk lebih memperkaya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama, menjadi seorang yang lebih rendah hati, dan menjadi lebih banyak berkat dengan menolong lebih banyak orang yang membutuhkan di sekitar kita.
Itulah definisi “kekayaan” bagi saya.
Apa definisi “kekayaan” bagimu?
Tuhan memberkati kita.
Charles Christian
Uang, Kekayaan, Dan Spiritualitas (2): Mengapa Ingin Kaya?
Posted by Charles
Empat bulan yang lalu, paman saya sakit, dan masuk ke rumah sakit. Begitu banyak sakit komplikasi yang dideritanya. Berita buruknya, dia tidak mempunyai uang untuk biaya pengobatan.
Sehari di rumah sakit menghabiskan dana jutaan rupiah. Dia tidak dapat menanggungnya. Istrinya juga tidak bisa menanggungnya.
Menjadi satu-satunya keluarga yang diharapkan saat itu, keluarga saya yang menanggung biaya pengobatannya. Namun, keadaan bertambah berat ketika setelah beberapa minggu di rumah sakit, tidak ada tanda-tanda pemulihan, yang ada malah biaya yang bertambah besar setiap harinya.
Pertengkaran demi pertengkaran mulai terdengar di rumah saya. Mama saya, yang mengurus keuangan keluarga, melihat kondisi keuangan akan semakin kritis jika pengobatan dilanjutkan.
Dilema terbesar ada di pundak papa saya. Meskipun kakak papa saya ini bukanlah seorang yang menyenangkan dan telah berbuat begitu banyak kesalahan, dia tetaplah kakak papa saya, dan dia sedang terbaring sakit di rumah sakit saat ini, seperti menunggu ajal menjemput yang tidak tahu kapan terjadi. Konon, ikatan batin antar saudara kandung begitu besarnya, melampaui semua logika akuntansi dan perencanaan keuangan.
Papa saya begitu sedih, karena seolah dihadapkan pada sebuah pilihan yang tidak seharusnya, antara kakak kandungnya atau istrinya.
Suatu hari, saya menjenguk paman saya ini di rumah sakit. Sebenarnya, saat itu adalah kali pertama saya datang menjenguk paman saya. Sebelumnya, saya hanya mendengar kabar paman saya dari papa dan mama saya. Karena saya tidak dekat dengan sang paman, saya tidak merasakan apa yang dirasakan oleh papa saya. Tapi, segalanya berubah ketika saya melihat dia untuk pertama kalinya di rumah sakit.
Saya melihatnya di atas tempat tidur. Selang oksigen ada di hidungnya. Matanya membuka setengah. Kakinya penuh dengan perban. Sudah berminggu-minggu dia tidak bangun dari tempat tidurnya, bukan karena tidak mau, tapi karena dia tidak bisa. Saya mendengar suara-suara yang dikeluarkannya, seolah dia berjuang begitu rupa untuk setiap nafas yang ditariknya.
Tiba-tiba, saya merasakan sebuah kepedihan yang amat sangat, dan saya menangis. Saya tidak dapat menahan air mata keluar dari mata saya.
Tahukah kawan, mengapa saya menangis? Karena wajahnya benar-benar mirip dengan wajah papa saya! Ketika saya melihat paman saya terbaring di sana, saya seperti melihat papa saya yang sedang terbaring di sana. Lemah. Tidak berdaya.
Yang menyentak saya lebih hebat lagi adalah sebuah kenyataan bahwa saya tidak mempunyai cukup uang untuk memberikan pengobatan kepada papa saya, seandainya papa saya yang menderita sakit saat itu.
Saya melihat papa saya, dengan wajahnya yang sangat sedih dan prihatin, mengambil satu botol Aqua. Dia membuka tutupnya, dan menuangkan sedikit air ke tutupnya, dan mulai menuangkannya ke dalam mulut paman saya. Itulah ritual yang biasa dilakukan papa saya ketika menjenguk paman saya. Memberinya minum, dan duduk di sampingnya. Papa saya terus setia melakukannya, meskipun tiada kata terima kasih yang terlontar dari mulut paman saya. Ya, itulah kasih.
Saat itu, saya benar-benar ingin menjadi kaya. Bukan untuk diri saya sendiri, tapi untuk membantu orang lain. Dengan uang yang saya miliki, saya punya kebebasan lebih untuk membantu orang-orang yang saya kasihi. Saya membayangkan betapa menyesalnya saya kalau saya tidak dapat memberikan pengobatan kepada papa saya jika papa saya sakit. Itu benar-benar menyakitkan hati saya.
Kini, paman saya telah tiada. Tuhan memanggilnya pulang dua bulan yang lalu. Tapi, saya tidak bisa melupakan momen itu, ketika saya melihatnya terbaring di rumah sakit. Setiap kali saya mengingatnya, setiap kali pula keinginan saya untuk menjadi kaya begitu berkobarnya. Namun, jauh di lubuk hati saya, saya tetap menganggap “ada yang salah dengan menjadi kaya.” Rasanya, menjadi kaya seperti menjauhkan diri dari Tuhan, dan memilih mamon.
Sampai bulan lalu, saya membaca satu tulisan yang sangat menginspirasi saya. Di sana, saya seperti menemukan puzzle yang hilang dari pembahasan tentang kekayaan dan spiritualitas. Saya menyadari kesalahan dari konsep yang saya anut dahulu. Kini, menjadi kaya adalah suatu hal yang mendamaikan bagi saya. Saya tidak lagi menganggap Tuhan sebagai anti kekayaan. Tapi, sebelumnya, kita perlu mendefinisikan ulang kekayaan itu. Saya akan menjelaskannya pada Anda tentang apa yang saya dapatkan dari tulisan itu, dan bagaimana tulisan itu telah mengubah konsep saya tentang kekayaan dan spiritualitas.
Bersambung…
Perilaku Merokok dan Masalah Psikologis Kejiwaan
Posted by sidicx
Fatwa haram rokok sudah lama keluar, tapi apakah ada pengaruhnya terhadap jumlah perokok di Indonesia, terutama yang muslim?? Yang saya lihat dan rasakan, fatwa itu tidak berpengaruh terhadap para perokok. Kalaupun ada, jumlahnya sangat sedikit. Hal ini yang membuat saya berpikir bahwa masalah rokok ini tidak hanya harus dipandang dari aspek keagamaan, misalnya dengan fatwa larangan merokok bagi umat Islam.
Nyatanya, dimana-mana masih saja orang-orang merokok. ROKOK TIDAK MENGENAL SARA. Hampir dari segala kalangan pasti ada yang merokok, yang membuat rokok tidaklah eksklusif. Hal ini juga yang sebenarnya membuat rokok jauh lebih berbahaya daripada narkotika atau minuman beralkohol. Tidak perlu harus punya uang banyak untuk bisa merokok, beda dengan narkoba yang harganya relatif mahal. Rokok sangat populer dan penyebarannya sangat bebas, bisa dibeli di warung pinggir jalan sampai hotel mewah. Indonesia sepertinya menjadi surga para perokok, karena akses untuk rokok dibebaskan sebebas-bebasnya. Yang paling miris adalah maraknya berita anak-anak balita yang keranjingan merokok. Siapa yang salah? Bisa banyak pihak yang salah, tapi yang paling bertanggung jawab akan hal itu pastinya adalah orang tuanya.
Kembali lagi ke masalah rokok yang nggak mempan diselesaikan dengan cara agama, perilaku merokok lebih kepada masalah psikologis masing-masing personal manusia. Walaupun ada fatwa haram merokok, tetap saja ada muslim yang merokok, sangat banyak malah. Apakah fatwanya salah? Bukan, bukan fatwanya yang salah, tapi ternyata racun rokok lebih merasuk dan meracuni dalam jiwa seorang perokok dibandingkan kesadaran spiritualnya. Ah, sepertinya tidak salah penyair legendaris Indonesia, Taufik Ismail, menyatakan dalam puisinya bahwa rokok itu adalah tuhan 9 cm.
Di negeri ini, jamaah pengajian merokok. Panitia pengajian tempat para jamaah itu mengaji pun merokok. Bahkan kiai yang diundang untuk ceramah pun merokok. Bagaimana orang-orang yang mengaji kepada kiai itu tidak ikut merokok kalau kiai panutannya saja merokok?? Di negeri ini, anak-anak balita merokok, anak-anak SD merokok, anak-anak SMP merokok. Mereka sejak kecil berada di lingkungan perokok, dan terbiasa menghirup asap rokok. Bapak mereka merokok, kakak mereka merokok, tetangga mereka merokok, bahkan guru mereka juga merokok. Jadi, sepertinya tidak aneh kalo bocah-bocah itu merokok, lah wong dari kecil mereka udah menghisap asap rokok, melihat orang-orang terdekat mereka, yang harusnya diteladani oleh mereka, merokok di depan mereka.
Rasanya ironis (dan bodoh) kalo ada orang tua (bapak dan/atau ibu) yang merokok, dan tidak mau kalau nantinya anaknya merokok. Apalagi kalau dari kecil si anak sudah jadi korban asap rokok bapak dan/atau ibunya. Anak kecil kan menyerap dan mencontoh sebanyak-banyaknya dari lingkungan sekitar dia. Ya jadi wajar aja kalo ada bocah balita yang udah merokok, lah wong bapaknya aja merokok dan mencontohkan pada anaknya.
Saya pun prihatin juga melihat ada orang yang harusnya mengerti tentang agama, udah naik haji, berkali-kali malahan, tapi masih aja merokok dengan santainya. Dengan dalih merokok hanya makruh mereka dengan bebasnya merokok. Padahal makruh sekalipun itu artinya adalah perbuatan yang dibenci Allah. Jadi, tidak ada pembenaran dari segala aspek pun untuk merokok, selain psikologis dan sugesti tiap orang (terutama perokok) yang menganggap merokok itu baik bagi mereka.
Jadi, saya simpulkan bahwa masalah rokok lebih kepada masalah psikologis tiap-tiap orangnya saja. Walaupun sekuat dan setinggi apapun ilmu agama atau ilmu pengetahuan atau ilmu kesehatan seseorang, kalau misalnya alam bawah sadar dan hatinya menganggap bahwa merokok itu benar dan baik untuk dirinya, ya mereka akan tetap merokok. Singkatnya, merokok adalah masalah kejiwaan.
Lalu, para perokok perlu dibawa ke psikiater atau ahli kejiwaan donk???? Mungkin….
Uang, Kekayaan, dan Spiritualitas (1): Sebuah Pergumulan Besar
Posted by Charles
Tulisan saya kali ini akan sedikit berbeda dari tulisan saya biasanya. Jika biasanya saya banyak memberikan nasihat-nasihat motivasi, kali ini saya akan lebih banyak bercerita dan mencurahkan isi hati saya secara jujur. Saya akan membahas satu topik yang cukup sensitif di kalangan Kekristenan, yaitu mengenai uang, kekayaan, dan spiritualitas.
Banyak orang yang diam-diam bergumul akan hal ini. Saya termasuk di antaranya. Sekarang, melalui tulisan ini, saya mau sharingkan proses pergumulan saya itu.
“Apakah orang Kristen boleh kaya? Bisakah orang kaya masuk Surga? Apakah benar Tuhan ingin kita menjadi kaya?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang terus saya pertanyakan sepanjang pergumulan saya. Di akhir pergumulan saya, saya menemukan bahwa pertanyaan itu ternyata bukanlah pertanyaan yang baik. Saya akan menjelaskan alasannya di seri terakhir tulisan saya.
Oh ya, ngomong-ngomong, saya memutuskan untuk membuat tulisan saya kali ini menjadi sebuah serial bersambung (mengingat panjangnya tulisan yang saya buat kali ini). Pesan saya, janganlah mengutip kata-kata saya lepas dari konteksnya. Apa yang saya tuliskan di sini adalah proses pergumulan saya. Tolong jangan mengambil kesimpulan apa-apa sebelum saya menyimpulkannya di seri terakhir dari tulisan saya.
Oke, cukup pengantarnya… Sekarang marilah kita mulai seri pertama dari tulisan ini.
Antara Uang dan Tuhan
Saya menemukan ada dua pandangan ekstrim kekristenan ketika berbicara tentang uang dan kekayaan.
Pandangan ekstrim yang pertama adalah pandangan “Orang Kristen harus kaya.” Pandangan ini biasanya diyakini oleh mereka yang mempercayai “Teologi Sukses”. Mereka menganggap kekayaan sebagai berkat Tuhan yang pasti didapatkan oleh semua orang beriman. Menurut mereka, Tuhan itu Maha Baik, dan pastilah akan memberkati orang-orang yang beriman kepada-Nya dengan berlimpah-limpah materi, kesuksesan, serta uang yang banyak. Bagi mereka, orang yang miskin adalah orang yang kurang beriman, maka kurang diberkati Tuhan.
Pandangan ekstrim yang kedua adalah pandangan “Orang Kristen tidak boleh kaya.” Mereka mempunyai ayat favorit yang berbunyi “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Karena itu, mereka mengambil kesimpulan, orang kaya mustahil masuk Surga. Menurut mereka, setiap orang beriman dipanggil untuk menderita bagi Tuhan di dunia, salah satunya adalah dengan menjadi miskin. Dengan menjadi miskin, mereka yakin Tuhan akan mencukupkan kebutuhan mereka setiap hari melalui cara-cara yang mungkin tidak pernah mereka duga. Mereka hanya cukup beriman dan menunggu. Bagi mereka, orang kaya adalah orang yang cinta uang, yang akan lebih mementingkan uangnya daripada Tuhan.
Saya tidak menyatakan apakah kedua pandangan di atas benar atau salah, setidaknya tidak saat ini.
Saya akan menceritakan pergumulan yang saya hadapi terkait uang, kekayaan, dan spiritualitas.
Tuhan VS Uang
Ketika saya masih kecil, saya sudah ikut sekolah Minggu. Di sana, saya banyak mendengar cerita-cerita Alkitab. Saya mendengar cerita bagaimana hidup Tuhan Yesus yang jauh dari kekayaan. Di dalam sebuah cerita, ada seorang kaya yang ingin mengikut Yesus. Yesus memerintahkan orang kaya itu untuk menjual hartanya dan membagi-bagikan semua hartanya kepada orang-orang miskin sebelum dapat mengikut Dia. Saya juga cukup sering mendengar ayat yang saya kutip di atas: “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (saat itu saya benar-benar membayangkan seekor unta dan sebuah jarum jahit!)
Pikiran saya mulai terprogram pernyataan-pernyataan berikut: “Tuhan menentang orang kaya.”, “Orang kaya mustahil masuk Surga.”, “Orang kaya adalah orang yang cinta uang lebih daripada Tuhan.”, “Tuhan ingin kita hidup cukup. Jangan menjadi kaya.”
Dengan kata lain, saya mulai mengadopsi ekstrim kedua.
Tanpa saya sadari, saya memposisikan uang dan Tuhan dalam sudut yang berlawanan. Saya seperti dihadapkan pada sebuah pilihan: “mendapatkan uang ATAU mendapatkan Tuhan”, dan saya hanya bisa memilih satu saja, karena Matius 6:24 menuliskan “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan.”
Percaya saya, dihadapkan pada pilihan di atas adalah sebuah tekanan batin. Kenapa? Karena saya ingin mendapatkan Tuhan, tapi saya tidak mungkin tidak mendapatkan uang, karena saya masih perlu makan.
Uang Bukan Segalanya, Namun Segalanya Butuh Uang
Mempertarungkan antara Tuhan dan uang ternyata bukanlah ide yang baik. Karena, jika pilihannya hanya “mendapatkan uang” atau “mendapatkan Tuhan”, secara teori saya bisa memilih untuk “mendapatkan Tuhan”, tapi pada prakteknya saya pasti harus “mendapatkan uang” juga.
Uang memang bukan segalanya, namun segalanya butuh uang. Kita masih membutuhkan uang untuk membeli makanan, untuk menopang hidup kita. Gereja pun butuh uang untuk biaya operasional mereka, dan membiayai banyak pelayanan. Dari sana, saya mulai mengubah pemahaman saya…
Cinta Uang Adalah Akar Dari Segala Kejahatan
Kalau dahulu saya beranggapan “uang adalah akar dari segala kejahatan”, seiring berjalannya waktu saya menyadari bahwa bukan “uang” yang menjadi akar dari segala kejahatan, tapi “kecintaan kepada uang”.
Jadi, dengan konsep ini, yang harus dihindari bukanlah memiliki banyak uang. Yang harus dihindari adalah menjadi seorang yang cinta uang (lebih daripada cinta Tuhan).
Bagaimana kita tahu bahwa kita lebih cinta uang atau cinta Tuhan? Sederhana saja, apakah kamu rela memberikan uangmu untuk Tuhan? Jika ya, maka kamu lebih cinta Tuhan. Jika tidak, maka kamu lebih cinta uang.
Pada tahap ini, saya merasa menjadi kaya itu oke, selama tidak cinta uang.
Ada banyak keraguan saya yang tampaknya dijawab satu persatu selama masa ini.
Salah satu contoh keraguan yang saya hadapi adalah “Apakah dengan menjadi kaya, saya akan menjadi lebih jahat, sombong, dan jauh dari Tuhan? (mungkin karena dulu saya suka nonton sinetron yang menggambarkan orang kaya itu jahat dan sombong)” Untuk pertanyaan ini, saya mendapatkan sebuah jawaban dari sebuah buku: “Kalau pada dasarnya kamu adalah orang baik, menjadi kaya akan membuat kamu semakin baik. Kalau pada dasarnya kamu adalah orang jahat, menjadi kaya akan membuat kamu semakin jahat. Kalau kamu yakin kamu adalah orang baik, kekayaanmu akan membuatmu dapat menolong lebih banyak orang.”
Lalu saya juga berpikir, “Bagaimana jika ketika saya menjadi kaya, saya menjadi cinta uang (lebih daripada cinta Tuhan)?” Dan, saya seperti mendapatkan jawaban berikut: “menjadi kaya dan cinta Tuhan adalah sulit. Tapi kalau kamu benar-benar cinta Tuhan, kamu pasti akan tetap cinta Tuhan ketika kamu kaya. Kalau kamu menjadi berubah jadi cinta uang, berarti pada dasarnya kamu tidak benar-benar cinta Tuhan dari dahulu.”
Pada tahap ini, pemikiran saya mulai berubah. Saya dapat menjadi kaya dan tetap beriman.
Hingga akhirnya, sebuah peristiwa menghantam saya. Peristiwa yang membuat saya ingin menjadi kaya. Saya akan ceritakan peristiwa ini di seri mendatang dari tulisan saya minggu depan.
Bersambung…
Uang, Kekayaan, Dan Spiritualitas (2): Mengapa Ingin Kaya?
Uang, Kekayaan, Dan Spiritualitas (3): Apa Definisi “Kekayaan” Bagimu?
Satu Kali dan Selamanya
Posted by sidicx

Kemarin tanggal 9 Juni 2010, kedua orangtua saya merayakan Ulang Tahun pernikahan yang ke-34 tahun. Ya, ternyata Bapak dan Ibu udah lama banget ya bersama, dan pastinya keempat anaknya udah gede-gede. Anak pertama umurnya udah 32 tahun, dan anak keempatnya beberapa hari lagi berumur 22 tahun loh (which is saya, hehe).
Nah, hari Rabu malam tanggal 9 Juni, di rumah diadakan semacam syukuran kecil-kecilan. Semua anggota keluarga hadir, kecuali keluarga Mbak Yanti yang tinggal jauh di Pulau Bintan. Dari total 14 orang keluarga Sutikno, 4 nggak bisa dateng, jadi 10 orang dateng termasuk cucu-cucu. Bapak beli cake black forest yang ada tulisannya Happy Anniversary 34th, ditambah mie goreng mas Dar buat makan-makan. Syukuran kali ini berasa beda karena biasanya yah nggak segininya, dan emang ternyata beda rasanya.
Saat semuanya udah ngumpul; Bapak, Ibu, Mas Dody, Teh Tuti, Bitha, Darrell, Mbak Septi, Mas Nur, Rafif, dan saya; syukuran dimulai dengan “kata sambutan” dari Bapak. Biasanya sih Bapak nggak panjang lebar ngomongnya, eh ternyata kali ini Bapak menyampaikan sambutan berupa nasihat dan wejangan yang saya rasa cukup mengena bagi kami semua. Bapak bilang begini, “Menikah dan berumahtangga cukup satu kali dan selamanya, Insya Allah sampai di akhirat nanti”. Bapak juga bilang agar kami semua baik-baik dan tetap dekat sebagai saudara dan keluarga sampai kapanpun. Ya, nasihat singkat itu cukup berkesan bagi saya (dan juga kakak-kakak saya), karena memang jarang Bapak memberi nasihat seperti itu.
“Satu kali dan selamanya”, kalimat itu nyangkut bener di pikiran saya. Yah bisa dibilang kalimat itu seperti mengingatkan saya bahkan pernikahan bukanlah suatu hal sepele dan bisa digampangin. Alhamdulillah saya mempunyai role model pernikahan yang baik dan sukses yaitu pernikahan orangtua saya. Saya jadi bisa mengambil sebanyak mungkin kelebihan dan kekurangannya, yang kemudian akan menjadi bekal saya pada saat mengalaminya nanti.
Selama ini saya selalu menyatakan keinginan saya untuk menyegerakan nikah. Tapi saya jadi tersadar bahwa dengan keadaan saya saat ini, saya “belum pantas” untuk menikah. Saya merasa belum pantas melamar anak gadis orang. Saya merasa belum pantas meminta orang tua saya untuk melamarkan seorang gadis untuk saya. Karena ternyata yang namanya pantas (dan siap) itu bukan hanya dari segi fisik atau materi, tapi juga dari segi kedewasaan dan psikologis. Dalam Islam dikatakan agar para pemuda yang telah mampu agar menyegerakan menikah. Catatannya adalah “yang telah mampu”, dari berbagai aspek. Nah, untuk saat ini saya sih belum cukup yakin akan “mampu” dan “pantas”. Maka dari itu, seiring waktu berjalan saya berusaha untuk meningkatkan kadar “mampu” saya dan “memantaskan diri” saya sambil mempersiapkan segala hal yang diperlukan.
Tak ada lagi sesumbar (dulu sering saya sebut sebagai resolusi atau rencana) untuk menikah tahun ini. Saat ini yang lebih saya butuhkan adalah persiapan dan pemantasan diri, bukan lagi sesumbar seperti yang dulu saya lakukan. Kalo ingat gimana “gede omong” nya saya yang dulu, jadi ketawa deh. Ternyata memang nggak semudah yang dulu saya bayangkan. Banyak aspek yang perlu dipikirin dan itu semua ternyata cukup complicated dan butuh proses.
Sebagai anak bontot/bungsu/terakhir/keempat dari empat bersaudara, sebenarnya saya sangat bisa mengambil banyak pelajaran dari empat pasangan/rumah tangga yang sangat dekat dengan saya. Sebagai observer (pengamat) sekaligus aktor dari rumah tangga orangtua dan ketiga kakak saya, Saya bisa meniru yang baik dan menghindari yang buruk dari rumah tangga itu. Dan sampai saat ini saya masih dan tetap melakukan hal itu, untuk masa depan yang lebih baik.
Tulisan ini bukan curhatan, cuma sekedar catatan yang menjadi pengingat saya akan nasihat Bapak, “Cukup satu kali dan selamanya”. Terima kasih Bapak, Terima kasih Ibu, saya sangat bersyukur bisa dilahirkan di keluarga sederhana dan penuh cinta ini.
Ketika Kita Berhenti Mengeluh, Kita Menjadi Lebih Kuat
Posted by Charles
Kemarin, ketika saya sedang menjelajah internet, saya menemukan sebuah video yang lucu berikut.
Bagaimana komentar Anda ketika melihat kedua orang yang ada di eskalator tersebut? Banyak dari Anda mungkin berpikir kedua orang itu sungguh konyol. Ngapain juga teriak-teriak minta tolong dan sibuk mengeluh karena eskalator mati di tengah jalan? Kenapa mereka ga langsung aja naik sendiri dengan jalan kaki?
Kita mungkin gregetan ketika melihat tingkah kedua orang itu. Tapi, ternyata banyak dari kita yang melakukan hal yang sama dalam hidup kita. Berapa banyak orang yang sibuk mengeluh ketika menghadapi masalah? Berapa sering kita sibuk menyalahkan orang lain karena hal buruk yang menimpa kita?
Mungkin Anda berkata, tapi dia yang membuat saya mengalami hal buruk ini.
Ya, mungkin dialah yang menyebabkan hal buruk itu terjadi. Tapi, ketika kita menyalahkan orang lain, secara tidak langsung kita memberikan kontrol hidup kita kepada mereka. Merekalah yang menentukan nasib kita. Apakah kita menjadi sedih atau gembira, mereka yang menentukan. Kita seolah menjadi tidak punya kuasa atas hidup kita sendiri.
Jadi, daripada menyalahkan orang lain, lebih baik kita bertanggung jawab 100% atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Sebagai contoh, seorang guru pernah berkata, “Murid-murid saya begitu nakal… Mereka tidak akan pernah dapat diajar.” Jika sang guru terus berpikir muridnya yang salah, dia tidak sempat berpikir tentang mengubah dirinya sendiri. Dia akan terus dan terus menunggu muridnya berubah. Dan, kita tidak tahu kapan murid-murid itu akan berubah. Kita menjadi seorang yang pasif, berpikir kalau kita adalah korban dari kenakalan murid-murid itu.
Coba bandingkan dengan pola pemikiran berikut: “Tidak ada murid yang resisten. Yang ada hanya guru yang tidak fleksibel.” Ketika kita berpikir seperti ini, kita tidak akan tergoda untuk menyalahkan murid-murid itu. Ketika mereka tidak belajar dengan baik, kita sebagai guru akan berpikir, apa yang dapat saya lakukan untuk meningkatkan minat belajar mereka? Mungkin saya harus mengubah cara mengajar saya menjadi lebih menyenangkan. Mungkin saya harus lebih memperhatikan mereka. Dan lain-lain. Kali ini, kita mengambil tanggung jawab 100% dari apa yang terjadi. Kita tidak menyalahkan orang lain. Hasilnya? Kita menjadi mempunyai kuasa untuk mengubah keadaan, sesuatu yang jauh lebih pasti, yaitu dengan mengubah diri kita sendiri terlebih dahulu.
Kembali ke cerita eskalator tadi, orang itu tentunya tidak akan mendapatkan apa-apa jika mereka terus mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Menyalahkan orang lain takkan membawa mereka naik. Tapi, ketika mereka mulai berpikir, “Apa yang saya (ya, SAYA, bukan orang lain!) dapat lakukan untuk mengatasi masalah ini?”, mereka akan mulai menemukan cara. Mereka akan naik dengan kaki mereka sendiri, dan mengatasi masalah yang mereka hadapi.
Jadi, ketika kita menghadapi masalah, janganlah bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, kenapa masalah ini menimpaku? Kau sungguh tak adil…”. Melainkan, bertanyalah, “Tuhan, saya yakin Engkau punya rencana yang indah dari masalah yang engkau berikan kepada saya. Sekarang, apa yang dapat saya lakukan, Tuhan, untuk dapat menggenapi rencana-Mu tersebut?”
Mari kita berhenti mengeluh dan menyalahkan orang lain dan menjadi seorang korban yang lemah. Marilah kita mulai memikul tanggung jawab atas apa yang terjadi pada diri kita, berikan respon yang tepat, dan jadilah pemenang. Ketika kita berhenti mengeluh, kita akan menjadi seorang yang lebih kuat.
Tips Agar Kita Selalu Beruntung Dalam Hidup (2)
Posted by Charles
Kejadian ini terjadi di suatu hari yang cerah 2 tahun yang lalu. Seperti biasa, tidak ada bintang jatuh… Seperti biasa juga, saya pergi ke kampus pakai sendal, yang sebenernya saya tau tuh sendal uda rada ga bener, uda hampir putus, tapi karena saya yang keras kepala tetep aja saya pake tanpa sedikit pun rasa bersalah. Saya sampai di kampus dengan aman sentosa, sehat walafiat, tidak kekurangan suatu apa pun, setidaknya sampai terjadi tragedi itu.
Tragedi apa? Jadi ceritanya saya lagi turun tangga. Terus abis saya turun, ada genangan air ga jelas ada di depan WC (siapa sih yang pipis sembarangan di depan WC?), yang saya ga liat (saking rabunnya nih mata…). Dan genangan air itu berhasil membuat saya meluncur beberapa meter ke depan seperti maen ice skating dan membuat sendal saya bener-bener putus!!! Tuh genangan cuma gagal membuat saya jatuh, karena keseimbangan tubuh saya yang udah saya latih bertaon-taon dengan bertapa di atas gunung salak… (yang ini ga bener).
Okeh… Akhirnya sendal saya putus juga. Nyesel deh saya, napa saya tadi pagi masih keras kepala make tuh sendal. Trus sekarang, gimana saya bisa balik ke kos saya dengan sendal yang putus gitu? Huhuhu… Apa saya mesti ngesot2 atau nyeker ampe kaki berdarah2 ke kos saya??
Tiba2 terlintas sebuah ide brilian di otak saya. Yup, saya minta karet gelang atau lakban (bukan enem puluh rebo) aja sama pos satpam yang ada di depan gedung… Terus kan tinggal saya tempelin ke sendal saya… Lumayan lah. Oke… brilian sekali.
Akhirnya dengan ngesot2, saya berhasil sampe ke pos satpam di depan gedung…
“Pak… Ada karet gelang ga?” saya nanya.
“Wah… karet gelang ya?”, kata pak satpam sambil nyari2… “ga ada tuh… Coba kamu cari di dapur sebelah deh…”
“Nih pos satpam kesian banget. Karet gelang aja ga punya” pikir saya dalem hati. Tapi, yah daripada ngesot ampe kos, saya mendingan ngesot ke dapur sebelah. Dengan sedikit esotan, sampelah saya ke dapur sebelah. Saya buka pintunya, eh ada Pak Komar, janitor (karyawan/cleaning service –red) di kampus tercinta, yang lagi makan siang dengan enaknya. Saya berhasil mengganggu kenikmatan makan Pak Komar dengan sebuah pertanyaan:
“Pak Komar… Ada karet gelang ga?” saya nanya pertanyaan yang sama.
“Waduh… karet gelang ya…” Pak Komar langsung menghentikan kunyahannya dan langsung sibuk nyari2… “ga ada tuh…”
Setengah pasrah, saya nanya lagi, “kalo lakban ada ga pak?”
Setelah nyari2 n berhasil tidak menemukan sepotong lakban pun, Pak Komar menjawab, “Wah ga ada juga tuh… Buat apa sih?”
“Ini pak, sendal saya…” sambil nunjuk ke kaki yang lagi nginjek sendal putus dengan wajah memelas meminta belas kasihan.
“Wooh… itu mah ntar jelek klo dilakban… Lakban kan warna coklat. Sendalnya warna item…”
Dalem hati… “Gak peduli deh jelek2, yang penting gak usah ngesot2 ampe kos. Yang penting mengamankan kaki dulu dari kerikil2 tajem”. Akhirnya saya jawab, “Gapapa kok pak…”
“Eh, coba cari di satpam deh…”
Lagi2 dalem hati… “Duh2 Pak Komar… Tadi saya juga dari satpam… Ga ada pak!” Tapi karena Pak Komar juga keluar, saya ikutan keluar n ngesot lagi ampe pos satpam ngikutin Pak Komar. “Udah pak… ga ada di pos satpam”, lagi2 dalem hati…
Sampai di pos satpam yang tadi (lagi2 dengan beberapa esotan). Pak Komar nanya… “Woi, ada sendal jepit ga? Nih ada yang sendalnya putus”, terus dengan cepatnya sebuah sendal jepit uda ada di tangan Pak Komar…
Semua ide brilian saya langsung hancur… Jeger! Iya ya, ngapain juga saya minta2 karet gelang n lakban… Napa saya ga langsung aja minjem sendal jepit. Dodol…
Untung ada Pak Komar… Makasih pak. Ga jadi ngesot ampe kos deh, semoga ga akan pernah… hehehe.
Moral: Ide brilian kita belum tentu benar-benar brilian.
![]()
Ini adalah kisah saya yang saya tulis dua tahun yang lalu (dengan sedikit modifikasi). Menurut Anda, apakah peristiwa di atas tergolong keberuntungan atau ketidak-beruntungan? Saya dapat menganggap peristiwa di atas sebagai keberuntungan, karena peristiwa itu akhirnya menjadi sebuah pengalaman yang menarik dan lucu yang dapat saya ceritakan ke orang lain, termasuk kepada Anda saat ini. Jika sendal saya tidak putus saat itu, tidak ada kisah yang telah menghibur beberapa orang ini (emangnya menghibur ya? hehe).
OK, ini adalah satu contoh melihat sisi positif dari sebuah peristiwa. Peristiwa buruk di masa lalu, bisa saja menjadi peristiwa lucu yang menarik diceritakan sekarang. Jadi, peristiwa buruk di masa sekarang, bisa saja menjadi peristiwa lucu yang menarik di masa depan.
Saya pribadi percaya, setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup saya, entah itu baik atau buruk, pasti memiliki manfaat dalam membentuk diri kita menjadi seperti hari ini. Tuhan sudah merancangkannya untuk kebaikan kita. Jadi, apa pun yang terjadi pada diri kita saat ini, ada tujuan baik di balik semuanya itu. Mungkin kita tidak mengetahuinya sekarang. Kita akan mengetahuinya pada waktu-Nya. Saat itu, kita akan bersyukur bahwa kita sungguh beruntung memiliki Tuhan yang begitu baik dan penuh kejutan. Hei, mengapa harus menunggu saat itu untuk bersyukur? Saat itu pasti akan tiba. Bersyukurlah dari sekarang.
Tips Agar Kita Selalu Beruntung Dalam Hidup (1)
Posted by Charles
Apa yang Anda pikirkan ketika Anda membaca judul tulisan ini? Saya menebak, ada dari Anda yang mungkin berpikir seperti ini: “Ah, mana mungkin kita selalu beruntung dalam hidup. Realistis aja, hidup ada di atas ada di bawah, ada naik ada turun, ada untung ada rugi… Ga mungkin lah hidup selalu beruntung.” Melalui tulisan ini, saya ingin membukakan, bahwa kita dapat selalu beruntung dalam hidup ini, jika saja kita tahu caranya. Tidak percaya? Mau tahu caranya? Lanjutkan baca tulisan ini sampai selesai…
Suatu sore, ketika saya sedang membaca komik Paman Gober (atau komik Donal Bebek), saya menemukan sebuah kisah berikut. Diceritakan, Paman Gober sedang bekerja di dalam gudang uangnya. Tiba-tiba, Paman Gober mendengar ada keributan di luar gudang uangnya, yang begitu mengganggunya. Ketika dia melihat keluar jendela, ternyata keributan itu berasal dari kedua keponakannya, si Donal dan si Untung, yang sedang berkelahi di halaman depan gudang uang. Paman Gober yang merasa terganggu lalu meminta James, pelayannya, untuk membawakan kentang untung menimpuk keponakannya tersebut (mungkin sayang kalau ditimpuk pakai karung emas, jadi ditimpuknya pakai kentang.
). James lalu membawakan sebuah kentang yang akhirnya dilemparkan Paman Gober ke luar jendela, dan mengenai salah satu dari keponakannya tersebut. Coba Anda tebak, siapa yang terkena lemparan Paman Gober ini sampai membuat kepalanya benjol? Apakah si Untung? Atau si Donal?
Kalau Anda sering membaca komik Donal Bebek, tentunya Anda tahu kalau si Untung adalah bebek yang selalu beruntung, dan si Donal adalah bebek yang selalu sial. Mungkin, dengan pengetahuan itu, Anda akan menjawab si Donal yang akan tertimpuk kentang sampai benjol…
Ternyata, bukan si Donal yang kena timpuk, tapi si Untung! Untung Angsa, yang terkenal sebagai bebek yang selalu beruntung, terkena timpuk kentang sampai benjol. Apa yang kita katakan? Apakah Untung mengalami kesialan? Jika ceritanya berhenti sampai di sini, mungkin ya… Tetapi, cerita ini ada kelanjutannya.
Si Donal spontan tertawa puas melihat sepupunya yang selalu beruntung akhirnya mengalami kesialan juga. Si Untung tidak percaya kalau dia bisa tidak beruntung. Lantas, dia mengecek kentang yang membuat kepalanya benjol tersebut. Ternyata, di dalam kentang tersebut terselip sekeping emas yang sangat langka dan berharga.
Nah, sekarang, apakah si Untung sial atau beruntung dengan tertimpuk kentang tersebut? Mungkin sekarang kita akan berubah pikiran dengan mengatakan si Untung beruntung. Saya pun berpikir demikian. Tapi, saat itu, saya mencoba berpikir lebih dalam lagi. Kenapa saya menganggap si Untung beruntung? Bukankah dia tertimpuk kentang sampai benjol? Saya mencoba merumuskan, dan saya mendapat kesimpulan bahwa saya menganggap si Untung beruntung karena sisi positif yang dia dapatkan lebih besar dari sisi negatif yang dia terima. Mendapat sekeping emas yang sangat langka dan berharga itu lebih berharga dibandingkan kerugian akibat ditimpuk kentang. Jadi, rumusnya adalah:
Seseorang disebut “BERUNTUNG” jika lebih banyak “SISI POSITIF” yang dia terima dari sebuah peristiwa, dibandingkan dengan kerugian yang dia harus tanggung akibat “SISI NEGATIF” dari peristiwa tersebut.
Nah, berarti yang menentukan apakah kita BERUNTUNG atau tidak, bukanlah peristiwanya… Tapi, bagaimana cara kita memandang peristiwa tersebut. Masalahnya adalah bagaimana kita dapat melihat “SISI POSITIF” dari sebuah peristiwa yang lebih besar dibandingkan kerugian dari “SISI NEGATIF” yang diakibatkan peristiwa tersebut.
Penting bagi kita untuk menyadari hal ini. Kalau kita menganggap peristiwa yang terjadi pada kita yang menentukan keberuntungan kita, maka hidup kita bisa beruntung dan bisa kurang beruntung, tergantung peristiwa yang terjadi pada kita. Kita tidak punya kontrol apa pun atas keberuntungan kita, karena kita tidak bisa mengontrol peristiwa yang terjadi kepada kita. Tapi, kalau kita menganggap keberuntungan dengan definisi yang saya berikan di atas, maka kita bisa terus menerus beruntung, kalau kita bisa melihat sisi positif dari setiap peristiwa yang kita alami.
Kabar baiknya, setiap peristiwa yang kita alami pasti mempunyai sisi positif. Jadi, sebenarnya, kita bisa mengontrol keberuntungan kita dengan sengaja, dengan selalu melihat sisi positif dari sebuah peristiwa. Jika kita selalu melihat sisi positif dari sebuah peristiwa, takkan ada peristiwa yang merupakan kesialan bagi kita. Dengan kata lain, kita akan selalu beruntung. Masuk akal?
Berarti, sekarang masalahnya adalah bagaimana cara kita melihat sisi positif dari peristiwa yang kita alami. Saya tidak akan memaparkan teori apa-apa. Saya hanya akan membagikan cara-cara praktis yang saya lakukan untuk melihat sisi positif dari sebuah peristiwa (yang mungkin bagi sebagian besar adalah peristiwa buruk). Peristiwa yang akan saya bagikan adalah peristiwa yang nyata terjadi dalam kehidupan saya sehari-hari. Saya akan membagikan sharing saya tersebut dalam tulisan mendatang. So, ditunggu ya tulisan saya minggu depan…
Selamat menjalani hidup yang penuh dengan sisi positif.
Bersambung… ke Tips Agar Kita Selalu Beruntung Dalam Hidup (2)
Kesalahan yang Membawa Berkah
Posted by Charles
Saya yakin, setiap dari kita pasti pernah berbuat salah, entah disengaja atau tidak disengaja. Tidak sedikit pula yang akhirnya menyesali kesalahannya terus-menerus. Kesalahan itu membawa malapetaka bagi mereka. Namun, jika kita tahu caranya, ternyata kita bisa membalikkan kesalahan yang seharusnya membawa malapetaka bagi kita, menjadi berkah untuk kita. Setidaknya, itu yang saya dapatkan dari kisah yang saya alami berikut.
Kisah ini terjadi hari Minggu lalu, ketika saya dan keluarga makan malam bersama di Pizza Hut Pluit Village. Seperti biasa, sang waiter memberikan daftar menu, dan mencatat pesanan kami. Sebelum dia pergi, dia berkata “Baik Pak… Menunya bisa saya ambil ya Pak? Pizzanya ditunggu 15 menit. Terima kasih.” Kata-kata itu mungkin tidak asing bagi Anda yang sering makan di Pizza Hut. Tampaknya, itu sudah menjadi suatu standar pelayanan Pizza Hut, agar waiter berkata-kata seperti itu, dan menjanjikan pizza yang dipesan akan datang dalam waktu 15 menit.
Kami pun menunggu… 10 menit kemudian, salah satu pesanan kami, yaitu Spaghetti, datang. Spaghetti pun saya lahap sembari menunggu pizza yang belum datang. Waktu terus berlalu, 5 menit, 10 menit, hingga 15 menit kemudian, ketika Spaghetti telah habis saya lahap, ternyata pizza yang kami pesan belum kunjung tiba. Ini berarti sudah terlambat lebih dari 10 menit dari waktu yang dijanjikan sebelumnya.
Saat itu, yang ada di pikiran saya adalah “Wah, kok pelayanan mereka ke customer kaya gini ya?”, “Wah, mereka melanggar janji”, “Wah, mereka sudah melakukan kesalahan…”, “Wah, kalau pelayanan mereka begini, mereka bisa kehilangan customer mereka.” dan lain sebagainya. Intinya, saya menganggap Pizza Hut telah berbuat kesalahan besar dan tidak profesional dengan membiarkan customernya menunggu terlalu lama, lebih dari waktu yang dijanjikan. Kami mulai kesal, dan memanggil sang waiter menanyakan pizza yang kami pesan.
“Mas, mana pizza yang kami pesan? Sudah setengah jam kok belum keluar? Janjinya kan 15 menit…” protes kami.
“Wah, maaf pak… Pizzanya masih belum jadi,” sang waiter kebingungan.
“Wah, kok di sini ga profesional ya pelayanannya? Kalau dulu saya di Pizza Hut lain kaya gini, harusnya uda ada yang digratisin nih.” kami melampiaskan kekesalan kami.
“Maaf pak… Saya akan antarkan pizzanya secepatnya,” sang waiter kembali meminta maaf.
5 menit lagi berlalu, dan pizza kami masih belum datang juga. Saya sudah mulai memikirkan untuk meng-cancel pesanan tersebut, dan pindah ke restoran lain. Image “Pizza Hut” menjadi buruk bagi kami, karena pelayanan mereka yang buruk ini. Setidaknya, ini adalah kesalahan mereka, yang hampir membawa malapetaka bagi mereka. Sampai akhirnya, momen itu tiba… Momen yang mengubah kesalahan mereka dari malapetaka menjadi berkah.
Tiba-tiba, sang waiter datang menghampiri kami membawa sebuah mangkuk sup kosong, dan berkata, “Maaf pak, pizzanya masih belum datang. Sambil menunggu pizzanya, silakan bapak nikmati dulu supnya… GRATIS…” Dan mangkuk itu pun diletakkan di meja kami.
Tiba-tiba pula, kalimat pertama yang terlontar di kepala saya saat itu adalah “Wow… Pizza Hut benar-benar profesional dan gentleman.” Entahlah kenapa saya berpikir begitu, tapi itulah kalimat pertama yang saya pikirkan ketika mangkuk sup itu diletakkan di atas meja, dan ketika saya mendengar kata-kata “silakan bapak nikmati dulu supnya… GRATIS…”
Suasana hati saya yang tadinya kesal, tiba-tiba berubah menjadi gembira. Ya, siapa yang tidak gembira diberikan barang gratis? Hehe…
Kemudian, sembari menikmati sup gratis itu, saya berpikir lagi. Kok bisa ya saya tiba-tiba berubah pikiran dari anggapan bahwa “Pelayanan Pizza Hut buruk” menjadi “Pelayanan Pizza Hut memuaskan”. Mereka tetap salah kok, dengan ingkar janji dan membiarkan saya menunggu terlalu lama. Tapi, mereka memberikan saya sup gratis (meskipun menurut saya, mereka tidak rugi memberikan sup gratis itu, karena waktu itu sudah malam, dan sup yang tersisa di gentong mereka masih banyak… Yah, daripada dibuang kan bisa untuk memuaskan customer yang terluka? Bener ga? Hehe).
Inilah yang saya sebut, kesalahan yang membawa berkah. Setelah peristiwa itu, saya jadi bercerita ke teman-teman saya tentang image positif dari Pizza Hut. Kesalahan itu tertutupi dengan respon mereka dalam memperbaiki kesalahan itu. Dan bahkan menurut saya, efek positif yang timbul karena peristiwa ini, melebihi dari efek positif jika mereka tidak berbuat kesalahan. Dengan adanya kejadian unik ini, saya jadi mengingat kejadian ini, dan bukan tidak mungkin saya bisa berpromosi tentang Pizza Hut tanpa bayaran dengan cerita-cerita saya ke teman-teman saya, termasuk dalam blog ini.
Mengingat kejadian itu, saya jadi ingat bagaimana restoran Pizza lain di luar negeri mempromosikan Pizza mereka. Mereka mempunyai tagline “Pizza yang Anda pesan sampai ke rumah Anda dalam 30 menit atau GRATIS!”. Lalu, uniknya, dalam beberapa kesempatan tertentu, mereka sengaja mengantar pizza pesanan itu terlambat 1 atau 2 menit (meskipun mereka sudah sampai di lokasi tepat waktu, tapi mereka sengaja menunggu untuk membuat mereka terlambat), lalu mengetuk pintu rumah dan berkata, “Maaf kak, kami terlambat 1 menit mengantar pesanan kakak. Karena itu, kakak tidak perlu bayar. Pizza ini GRATIS untuk kakak.”
Apakah kesalahan mereka dengan terlambat mengantar pizza ini membawa malapetaka? Menurut saya, justru sebaliknya, kesalahan ini membawa berkah. (Meskipun memang kesalahan ini disengaja
). Mereka tinggal menunggu si kakak menceritakan pengalamannya tersebut kepada teman-temannya, dan memberikan promosi gratis pada mereka.
Jadi, jika Anda berbuat sebuah kesalahan, janganlah berkecil hati dulu. Cobalah cari cara untuk memperbaiki kesalahan tersebut (bahkan menjadi lebih baik daripada Anda tidak melakukan kesalahan itu), dan kesalahan itu takkan menjadi malapetaka lagi bagi Anda. Sebaliknya, Anda akan mengenang kesalahan yang Anda buat tersebut, sebagai sebuah kesalahan yang membawa berkah bagi Anda.
Selamat memperbaiki kesalahan Anda.
“Orang Jahat” vs “Orang Munafik”
Posted by Charles
Ada satu pertanyaan yang mengganjal di benak saya belakangan ini. Pertanyaan itu adalah: Manakah yang lebih baik? Menjadi seorang yang benar-benar jahat tanpa topeng, atau menjadi seorang jahat yang memakai topeng orang baik, biasanya bahasa kerennya tuh “orang munafik”?
Seorang teman berkata “Kalau mau jahat, mending jahat sekalian… Dan kalau mau baik, mending jadi baik aja, ga usah jadi setengah-setengah”. Kalimat ini membuat saya berpikir, sungguh indah jika dunia ini bisa dibuat sesederhana itu. Kita tinggal memilih, mau jadi jahat atau mau jadi baik. Namun, ternyata kenyataannya tidak sesederhana itu. Seorang yang jahat tidak bisa dengan instan begitu saja menjadi baik 100%. Pasti ada orang yang ada di tengah-tengah. Di satu sisi, dia punya keinginan untuk berbuat baik, dan di sisi lain dia juga sulit meninggalkan dosa yang masih disukainya. Mereka terjebak di tengah-tengah, antara baik dan jahat.
Saya termasuk orang yang setuju bahwa orang yang jahat dan orang yang munafik akan mengalami akhir yang sama-sama tragis, yaitu dicampakkan oleh Allah. Namun, menurut saya, setiap orang harusnya mengalami fase dalam hidupnya di mana dia menjadi “orang jahat”, dan dia menjadi “orang munafik”.
Roma 3:23 mengatakan: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”. Semua orang telah berbuat dosa, atau dengan kata lain, semua orang telah menjadi “orang jahat” di mata Allah.
Syukur kepada Allah, ayat di atas tidak berhenti sampai di sana, tetapi ada kelanjutan yang mencerahkan di Roma 3:24 yang berbunyi: “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus”. Kita, yang adalah “orang jahat” tersebut telah dibenarkan oleh Kristus Yesus. Kita, yang dahulu “tidak bisa TIDAK berbuat dosa”, kini bisa memilih untuk “tidak berbuat dosa”. Namun, apakah itu menjamin kita akan langsung menjadi 100% baik? Ternyata tidak, semuanya membutuhkan proses dan pertumbuhan… Dan dalam semuanya itu, kita harus terus mengandalkan Tuhan.
Sekarang, kembali ke pertanyaan awal: Apakah lebih baik menjadi “seorang jahat” atau “seorang munafik”? Meskipun keduanya sama-sama tidak baik, saya melihat keduanya memiliki sisi positif dan negatif.
Yang paling mudah terlihat adalah sisi negatif dari “seorang jahat”. Itu tentu sudah jelas. Segala hal yang jahat yang dia lakukan dan dia perlihatkan di depan orang banyak adalah hal-hal yang negatif.
Tapi, apa sisi positif dari “seorang jahat”? Menurut saya, sisi positif dari “seorang jahat” adalah, jika Tuhan membukakan hati mereka, mereka yang benar-benar jahat mungkin yang paling mudah untuk bertobat, karena mereka berpikir mereka tidak mempunyai pegangan lagi. Dan, jika mereka akhirnya bertobat, mereka mungkin akan lebih menghargai keselamatan yang diberikan kepada mereka.
Sebagai ilustrasi, anggaplah kita adalah seorang yang sangat kaya dan dermawan. Anggaplah kita ingin membantu dua orang, si A dan si B, yang sama-sama berhutang kepada kita. Kita akan hapuskan hutang mereka dengan syarat mereka menjadi pembantu kita seumur hidupnya. Siapa orang yang akan lebih mudah menerima bantuan dari kita? Apakah si A yang berhutang Rp 100.000, atau si B yang berhutang Rp 1 Milyar? Tentunya si B yang akan dengan senang hati dan penuh syukur menerima bantuan kita, sedangkan si A mungkin masih berpikir dia bisa melunasi hutangnya dengan keringatnya sendiri. Begitu pula, orang jahat yang bertobat yang disalib di samping Tuhan Yesus, tentunya akan sangat bersyukur karena dia telah merasa dirinya tidak layak dan tanpa harapan. Namun, ingatlah sisi positif ini baru berlaku ketika “seorang jahat” tersebut bertobat.
Lalu, apa sisi negatif dari “seorang munafik”? Sisi negatif dari “seorang munafik” adalah ketika mereka puas menjadi “orang munafik” dan tidak terus bertumbuh lagi. Celakanya ketika mereka merasa telah “berbuat baik”, mereka melupakan Tuhan yang sebenarnya satu-satunya harapan penolong mereka. Celakanya ketika mereka merasa sudah sembuh, padahal masih sakit, dan karena merasa sudah sembuh, mereka menolak pengobatan Sang Tabib. Jika mereka terus menjadi “orang munafik” tanpa pertumbuhan, nasib akhir mereka akan sama dengan nasib “orang jahat” yang tidak bertobat.
Dan yang terakhir, apa sisi positif dari “seorang munafik”? Sisi positifnya adalah setidaknya mereka sudah mengerti yang baik dan yang jahat. Ada pertentangan dalam batin mereka untuk melakukan hal-hal yang baik, meskipun mereka masih menyukai hal-hal yang jahat. Namun, itu semua adalah proses. Kalau saat ini mereka hanya baik di luar dan buruk di dalam, jika mereka mau terus bertumbuh dan terus mengandalkan Tuhan, Tuhan dapat mengubahkan sifat-sifat buruk di dalam tersebut menjadi sifat-sifat baik yang selama ini mereka tampilkan di luar. Mereka akhirnya dapat berbuat baik dan benar dari dalam diri mereka, tanpa mengenakan topeng. Namun sekali lagi, ingatlah sisi positif ini baru berlaku ketika “seorang munafik” tersebut terus bertumbuh dan mengusahakan dirinya menjadi lebih baik lagi dan tidak munafik, tentunya dengan pertolongan Tuhan.
Jadi, saya tidak setuju kalau dikatakan daripada jadi “orang munafik”, lebih baik jadi “orang jahat” sekalian… Tidak! Kedua-duanya sama-sama berujung pada maut. Baik kita saat ini adalah “orang jahat” atau “orang munafik”, kita harus terus berjuang menjadi “orang yang baik dan benar”. Dan semuanya memang tidak terjadi secara instan. Semuanya membutuhkan proses dan pembentukan dari Allah sepanjang hidup kita.
Kapan semua proses ini berakhir? Efesus 4:13-15 menuliskan, proses ini akan terus berlangsung “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”
Mari kita sama-sama berjuang, dengan pertolongan Tuhan, untuk meninggalkan “manusia jahat” dan “manusia munafik” kita, menjadi “manusia baru” yang melakukan hal yang baik dan benar dengan sepenuh hati kita untuk kemuliaan Tuhan. Amin.
Inilah Alasan Kenapa Orang Menjauhi Kita
Posted by Charles
Suatu hari, teman saya bertanya kepada saya, “Kenapa ya banyak orang yang ngejauhin saya? Kenapa ya ga ada orang yang mau peduli sama saya?”
Saya mencoba menjawabnya dengan sebuah pertanyaan lain, “Menurut kamu, kamu lebih banyak jadi solusi atau lebih banyak jadi masalah?”
Dia lalu mulai berpikir… “Saya ga pernah jadi masalah kok… Saya kan cuma mau sharing sama teman-teman saya, dan saya mau mereka memperhatikan saya.”
Saya bertanya balik padanya, “Apakah kamu sendiri pernah memperhatikan masalah teman-temanmu?”
Acuh tak acuh, dia tersenyum sinis… “Heh… Buat apa perhatiin masalah mereka? Toh mereka semua juga ga ada yang memperhatikan saya.”
Apa yang Anda tangkap dari percakapan di atas? Apakah Anda juga pernah menjumpai percakapan serupa? Yang saya tangkap dari percakapan di atas adalah, teman saya tersebut merasa dijauhi dan tidak diperhatikan oleh teman-teman di sekelilingnya. Namun, meskipun dia ingin diperhatikan, dia tidak mau proaktif memperhatikan teman-temannya terlebih dahulu. Intinya, teman saya tersebut menjadi bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi, meskipun dia sendiri tidak mengakui atau menyadari dirinya adalah bagian dari masalah.
Cepat atau lambat, orang-orang yang selalu memposisikan dirinya menjadi bagian dari masalah, akan dijauhi oleh orang lain. Kenapa? Sederhana saja, karena pada dasarnya, orang-orang tidak suka dikasih masalah. Apalagi kalau ada orang yang setiap kali datang cuma mau kasih masalah? Pastilah orang itu yang akan ditolak pertama kali.
Apakah Anda ingin menjadi pribadi yang banyak dicari, disukai, dan diperhatikan oleh orang lain? Kalau ya, jadilah pribadi yang menjadi bagian dari solusi. Tawarkanlah solusi Anda untuk memecahkan masalah-masalah teman-teman Anda. Buatlah orang-orang yang mendekati Anda merasa semakin banyak dia berinteraksi dengan Anda, semakin banyak masalahnya yang terselesaikan. Dengan begitu, Anda pastilah menjadi pribadi yang dicari, disukai, dan diperhatikan banyak orang.
Ketika Anda sudah menjadi pribadi yang disukai banyak orang, jangan heran ketika Anda mempunyai masalah, tiba-tiba ada saja orang-orang yang menawarkan solusi atas masalah Anda untuk Anda. Tiba-tiba, ada saja orang-orang yang bersedia membantu Anda dan memperhatikan Anda.
Jadi, kembali ke pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini: “Kenapa banyak orang menjauhi kita?” Banyak orang menjauhi kita karena kita hanyalah menjadi bagian dari masalah untuk mereka.
Oleh karena itu, jadilah pribadi yang menjadi bagian dari solusi bagi orang lain, bukan bagian dari masalah… Dan jangan heran jika pada akhirnya Anda akan menemukan banyak orang yang menjadi bagian dari solusi masalah-masalah Anda.
Yang Baik Dituntut Sempurna, Yang Kurang Baik Didiamkan
Posted by Charles
Terinspirasi dari suatu sore beberapa bulan yang lalu, di mana saya akan memimpin sebuah rapat jam 3 sore. Tepat jam 3 sore, hanya ada satu orang peserta rapat, (anggaplah namanya Denny), yang sudah datang dan sedang duduk menunggu di sofa, sedangkan yang lainnya belum datang.
Saat itu, saya berkata kepada Denny, “Den, coba lihat jam, jam berapa sekarang… Jam 3 kan, dan kita akan mulai rapat jam 3. Kenapa kamu masih duduk santai aja di sofa? Ayo cepat masuk ke dalam ruang rapat!”
Saat saya teringat kembali atas peristiwa tersebut, saya mulai berpikir. Bukankah Denny adalah seseorang yang sangat baik dengan datang tepat waktu, bahkan sebelum waktu yang dijanjikan. Bukankah dia lebih baik dari teman-temannya yang saat itu belum datang, atau bahkan tidak datang? Tapi, kenapa justru dia yang sangat baik tersebut, yang saya tuntut lebih? Kenapa dia yang justru saya lebih disiplinkan, dan kenapa justru dia yang merasakan energi negatif saya yang muncul karena banyaknya anak-anak yang belum datang rapat di waktu yang dijanjikan? Kalau dia yang sudah melakukan hal yang baik, malah mendapatkan respon negatif dari saya, bukankah itu akan membuatnya kecewa dan menjadi enggan datang tepat waktu lagi untuk menghindari energi negatif saya?
Di sisi lain, banyak anak-anak yang akhirnya tidak datang rapat. Namun, saya tidak mem-follow-up mereka. Kenapa? Karena untuk mem-follow-up mereka membutuhkan waktu, tenaga, dan dana ekstra. Dimulai dari waktu untuk mencari keberadaan mereka, tenaga yang dikeluarkan untuk mencari mereka, dan dana untuk menelepon mereka. Akhirnya, mereka “selamat” dari energi negatif saya. Mereka saya diamkan. Mereka merasa baik-baik saja dengan tidak datang rapat tepat waktu, atau bahkan tidak datang rapat sama sekali. Akhirnya, mereka cenderung untuk mengulanginya.
Ironis sekali. Bukankah keinginan saya adalah agar mereka datang tepat waktu? Tapi mengapa mereka yang datang tepat waktu yang justru mendapatkan perlakuan buruk? Sedangkan, mereka yang tidak datang tepat waktu toh “baik-baik saja”.
Marilah Kita Mulai Memberikan Apresiasi
Saya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kita ada di zaman di mana apresiasi adalah hal yang langka. Orang-orang cenderung untuk melihat hal-hal yang buruk dibanding hal-hal yang baik. Mereka banyak menegur hal-hal yang buruk, namun mereka lupa bahwa ada lebih banyak lagi hal-hal baik yang seharusnya mereka apresiasi, dan mereka melupakannya.
Apa langkah yang dapat diambil selanjutnya? Saya memutuskan, bukankah lebih baik bagi saya untuk menunjukkan energi positif dan mengapresiasi Denny yang sudah datang tepat waktu? Ya, dia layak untuk diapresiasi, karena dia lebih baik daripada teman-temannya yang lain dengan datang tepat waktu. Akan baik pula jika saya berikan apresiasi tersebut di depan teman-teman yang lain, yang membuat Denny merasa tindakannya dihargai. Denny akan senang, dan akan senang untuk datang tepat waktu di kesempatan-kesempatan berikutnya. Begitu pula dengan teman-temannya yang lain, akan termotivasi untuk menjadi Denny-Denny yang lain dan akan datang tepat waktu juga di kesempatan berikutnya.
Bagaimana dengan teman-teman yang tidak datang tepat waktu atau bahkan tidak datang? Dibutuhkan sesuatu yang dapat menjadi efek jera bagi mereka. Hal yang paling baik menurut saya adalah memberikan nilai tambah bagi orang-orang yang datang tepat waktu. Berikan mereka sesuatu yang berharga yang tidak didapatkan orang-orang yang tidak datang tepat waktu. Atau, berikan hukuman kepada mereka yang tidak datang tepat waktu. Namun, perlu diperhitungkan pula, bahwa hukuman untuk mereka yang tidak datang sama sekali haruslah lebih berat daripada hukuman untuk mereka yang tidak datang tepat waktu. Atau, mereka akan cenderung memilih untuk tidak datang sama sekali di saat mereka terlambat.
Akhir kata, saya juga mau mengapresiasi Denny atas usahanya untuk datang tepat waktu saat itu.
My Best Quotes
Posted by Charles
Berikut adalah kumpulan quote/status facebook original yang saya buat selama kurang lebih setengah tahun terakhir. They have inspired me, and may they inspire you, too…
23 September 2009 Banyak orang berpikir bunuh diri dapat mengakhiri kesulitan mereka. Namun, kenyataannya adalah bunuh diri mengubah kesulitan "sementara" di dunia menjadi kesulitan "kekal" di akhirat.
28 September 2009 Banyak "masalah" yang terjadi karena "salah paham". Banyak "salah paham" yang terjadi karena "kesalahan komunikasi". Banyak "kesalahan komunikasi" yang terjadi karena kurangnya kita belajar cara berkomunikasi yang baik.
30 September 2009 Emosi kita menentukan keputusan kita dan cara kita bertindak. Untuk mengambil keputusan dan cara bertindak yang bijak, kita harus mengontrol emosi kita terlebih dahulu.
1 Oktober 2009 I want to know and worship You, Lord, simply because You are my and only God.
12 Oktober 2009 Kunci untuk menjadi yang teratas adalah terus bergerak ke atas dan meminta bantuan kepada yang ada di atas, bukan menjatuhkan semua yang ada di atas.
13 Oktober 2009 Suatu hal yang salah yang kita lakukan tidak akan menjadi benar hanya karena orang lain juga melakukan kesalahan yang sama.
16 Oktober 2009 Bulan yang menjadi penerang di tengah malam takkan dapat bersinar tanpa matahari yang menjadi sumber cahayanya. Demikian pula manusia yang "menerangi" dunia ini takkan dapat berbuat apa-apa tanpa Tuhan yang menjadi sumber kekuatan mereka.
17 Oktober 2009 Ada orang turun tangga dari lantai 50 karena gempa. Pas sampai bawah gedungnya tetap berdiri kokoh. Respon #1: "Yaah, gedungnya ga roboh… Sia-sia deh gw turun tangga cape2". Respon #2: "Huff. Syukurlah gedungnya ga roboh… ^^" Mana respon yang kamu pilih?
18 Oktober 2009 To love someone is to keep a commitment.
21 Oktober 2009 Tell computer what you want it to do, and it will do for you much faster than you do… P.S. Don’t forget you have to use programming language and describe every single detail to communicate with it.
23 Oktober 2009 Banyak orang yang mencari perhatian dengan melakukan hal-hal yang buruk, karena mereka tidak mendapatkan perhatian yang cukup ketika mereka melakukan hal-hal yang baik dan benar. Mulailah memberi perhatian dan penghargaan kepada orang-orang yang melakukan hal yang baik dan benar, dan mereka akan terus melakukan hal baik tersebut dengan senang hati.
24 Oktober 2009 Sometimes, God let you lose many things in your life so that you can find Him as the only and ultimate source of joy.
30 Oktober 2009 Ketika suatu hari nanti kamu meninggalkan dunia ini, apa yang kamu ingin orang lain ingat tentang dirimu? Lakukanlah itu selagi kamu masih ada di dunia ini.
11 November 2009 When we blame someone, give excuses or justify other, we make the other people take control of what happened to us. So, instead of think like a victim, let’s take 100% responsibility for what happened to us, and it’ll give us power to change it to a better one.
14 November 2009 Tips memotivasi diri sendiri dari rasa malas dalam melakukan hal sepele untuk orang yang kita kasihi (misal: membantu orang tua): bayangkan betapa menyesalnya kita jika kita tidak sempat melakukan hal sepele tersebut di saat dia sudah tiada. Saya coba lakukan tips ini, dan cukup sukses memotivasi saya.
20 November 2009 "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." – Kita harus dapat mengasihi diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum kita dapat mengasihi sesama kita.
23 November 2009 Lakukan lebih dari apa yang orang lain ekspektasikan dari dirimu, dan kamu akan mendapatkan lebih dari yang kamu ekspektasikan.
30 November 2009 I believe that God guides my everyday’s life through His way and God’s way is always the best way, even though I don’t understand now. The only thing I need is to trust Him.
19 Desember 2009 Kegagalan adalah tanda kita harus belajar, bukan tanda kita harus menyerah.
21 Desember 2009 Tuhan membuat kita tidak nyaman berpijak di bulan agar kita dapat meninggalkan bulan dan menggapai bintang.
25 Desember 2009 Christmas is about Christ, who surprisingly came to our world. Be joyful. Be thankful. Be transformed. Merry Christmas.
18 Januari 2010 Janganlah kita pilihkan jalan hidup bagi orang lain, tapi bantulah dia mencapai keberhasilan tertinggi dalam pilihan hidupnya, selama pilihannya masih dalam jalan yang benar.
27 Januari 2010 Jangan hilangkan fondasi bangunanmu untuk mempertinggi bangunan itu. Uno Stacko selalu roboh karena prinsip ini dilanggar…
25 Februari 2010 Gunakan waktumu lebih banyak untuk pekerjaan "eksponensial" daripada pekerjaan "linear".
6 Maret 2010 The human brain is so powerful, but also, so weak. While the human brain can create many masterpieces, the same brain can also so easily be destroyed by one hit. Be grateful and use it wisely.
11 Maret 2010 Everyone has their own strengths and weaknesses.
12 Maret 2010 Different point of view blends with a missed communication may lead to a wrong assumption that may lead to broken relationship. Be careful with your mind, your saying, your intonation, and your body language.
16 Maret 2010 Sebuah pertanyaan untuk evaluasi diri: "Apakah orang-orang menunggu saat-saat bersamamu atau menghindari setiap pertemuan denganmu?"
Every status has its own background, so i can’t pick one that i love the most. They’re all my favorite in their own time. I’m so inspired, and I hope those quotes can inspire you, too. Have a better day.
Kesenangan Tanpa Kesusahan Adalah Kosong
Posted by Charles
Ada sebuah cerita tentang seorang penjahat yang meninggal dunia. Ketika dia mau mati, dia sudah merasa pasti akan masuk neraka. Nah ketika dia mati, tiba-tiba dia dibangunkan. Dia melihat sesuatu yang tidak diharapkannya. "Wah kok suasananya bagus. Indah menarik dan menyenangkan sekali ya," katanya dalam hati. Dia melihat semua serba bahagia.
"Aduh rasanya saya keliru terkirim ke surga," katanya lirih. Tiba-tiba seorang bidadari mendatanginya. "Ayo-ayo bangun. Kamu ingin apa ? Di sini kamu apa saja diberi." Awalnya dia ragu. Tapi memberanikan juga untuk meminta, "Saya tidak mau kerja." "Ok," kata bidadari. Ting! Maka dia tidak usah kerja. Semuanya tercukupi.
Setelah keinginannya terwujud, dia mulai berani, "Saya boleh minta lagi ?" "Boleh," kata bidadari, "Kamu minta apa ?" "Saya minta uang yang banyak." Ting! Maka keluar uang yang banyak. Dia beli apa saja bisa. Dia ingin beli mobil baru, bisa. Beli apa saja, bisa.
Lalu dia datang lagi ke bidadari. "Bidadari, saya minta rumah yang bagus," pintanya. Ting! Dia dapat rumah yang sangat mewah, indah dan semuanya ada. "Wah apapun dikasih katanya. Ini betul-betul surga," teriaknya senang. Kemudian dia kembali ke bidadari. "Saya bisa tidak minta wanita- wanita yang cantik ?" Ting! Maka ada 10 wanita yang cantik yang siap melayani dia terus.
Dia senang sekali. Uang ada. Punya rumah. Dikelilingi wanita-wanita cantik. Dan dia tidak usah kerja. Makan apapun bisa sekenyang-kenyangnya. Dan semua itu berlalu dengan cepat. Sebulan, 2 bulan, 3 bulan dia mulai bosan. Jenuh. Dia tidak mau segala keenakan ini. Rasanya bikin ‘eneg’. Mual.
Maka dia menghadap bidadari. "Bidadari, saya mau kerja," katanya. Bidadari itu heran, "Tidak bisa, tidak bisa. Di sini tidak perlu kerja. Tidak ada kerjaan. Kamu tidak usah kerja. Kamu nikmati saja segala kenikmatan ini." Dia bingung. Kembali ke kegiatan sebelumnya dan dia coba menikmati lagi surganya. Makan lebih banyak lagi, sampai gendut. Tapi dia tetap jenuh karena tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan. Dia kembali lagi bidadari. "Aku minta kerja," katanya. Dan biadadari tegas berkata, "Tidak bisa. Di sini tidak ada kerja."
Akhirnya dia tidak tahan. Penjahat ini mengaku, "Bidadari yang baik, saya sebanarnya adalah penjahat. Saya tidak layak masuk surga ini. Saya seharusnya masuk neraka. Kalau di neraka, saya bisa kerja. Bahkan kerja keras. Saya bisa merasakan sakit dan sengsara. Saya tidak mau segala ini. Ternyata kenikmatan ini tidak enak," teriaknya marah.
Tiba-tiba wajah bidadari yang cantik dan menyenangkan dilihat ini, tiba-tiba berubah menyeramkan. Wajahnya berubah menjadi setan. Dia berkata keras, "Sebenarnya ini adalah neraka."
Cerita ini disadur dari salah satu episode seri TV kuno ‘Twilight Zone’.
Saya tidak mengatakan supaya anda semua menjadi penjahat supaya tidak masuk surga. Manusia baru ingat dan menghargai segala kenikmatan yang dia rasakan, ketika kesedihan dan kesengsaraan juga dirasakannya. Kehidupan adalah sebuah keseimbangan antara kenikmatan dan penderitaan, inilah yang memperkaya kazanah kehidupan kita. Selamat menghargai kesengsaraan anda, karena di sanalah akan anda temui kenikmatan yang lebih.
Sumber cerita: Business Wisdom Pak Tanadi Santoso
Itu adalah cerita yang saya dengarkan di radio hari Senin lalu. Cerita yang membuat saya berpikir. Ya, memang benar… Kesusahan perlu kita lalui agar kita bisa menghargai kebahagiaan. Suatu kebahagiaan tidak lagi jadi kebahagiaan untuk kita jika kita tidak merasakan kesusahan. Saya akan berikan contoh yang sederhana. Bayangkan Anda baru saja berjalan selama satu jam di bawah terik matahari siang hari, yang membuat Anda sangat berdahaga. Lalu, ketika sampai di tujuan, Anda ditawarkan sebotol Aqua dingin. Tentu karena Anda sedang sangat haus dan kepanasan, sebotol Aqua dingin tersebut menjadi sebuah kesenangan bagi Anda. Tapi, apa yang terjadi jika Anda sedang tidak haus dan diberikan sebotol Aqua dingin tersebut? Rasa nikmatnya tentu sangat berbeda bukan? Rasa nikmat yang Anda dapat dari sebotol Aqua dingin tergantung dari seberapa haus Anda saat Anda meminumnya. Semakin Anda merasa haus, atau mengalami penderitaan (kehausan), semakin banyak nikmat yang akan Anda rasakan dari sebotol Aqua dingin.
Contoh lainnya saya dapatkan dari pengalaman saya kemarin. Saat saya bangun pagi, saya merasakan kamar saya sangatlah dingin, dan saya menjadi kedinginan. Rasa dingin dari AC menjadi tidak enak untuk saya saat itu. Hal itu berbeda ketika saya sudah keluar dari kamar, mengerjakan banyak hal yang membuat keringat saya bercucuran. Ketika saya kembali masuk ke dalam kamar, rasa dingin AC menjadi suatu hal yang sangat enak untuk saya.
Suatu hal yang Anda anggap enak, takkan menjadi enak, kecuali Anda pernah merasakan apa yang Anda anggap tidak enak. Jadi, bersyukurlah atas penderitaan yang kita alami, karena penderitaan yang kita alami akan membuat pemulihan yang kita dapatkan nantinya menjadi semakin berharga untuk kita. Kebahagiaan yang kita rasakan bukanlah masalah seberapa tinggi hal yang kita capai, tapi seberapa jauhnya hal terendah dalam hidup kita dengan hal tertinggi dalam hidup kita. Jarak itulah yang menjadikan segalanya berharga.
Rumput Tetangga Mungkin Lebih Hijau, Tapi Buah Kebun Kita Lebih Manis
Posted by Charles
Suatu siang di daerah Tanjung Duren, saya sedang mengendarai mobil. Jalan cukup macet saat itu, meski masih bergerak. Mobil saya ada di jalur tengah. Saya melihat ke jalur di sebelah kiri saya. Entah hanya perasaan atau bukan, saya merasa jalur di sebelah kiri saya lebih lancar. Mobil-mobil yang ada di sebelah saya melaju lebih cepat. Saya jadi ingat sebuah pepatah, “Rumput tetangga terlihat lebih hijau dari rumput di kebun kita sendiri”. Saya pun berinisiatif untuk berpindah jalur ke jalur di sebelah kiri saya.
Ternyata berpindah jalur tidak semudah yang saya bayangkan. Mobil-mobil yang ada di jalur kiri tentu tidak membiarkan begitu saja jalannya diambil oleh mobil saya. Di sini berlaku, siapa yang lebih cepat dan lebih tinggi skill-nya, dia yang akan mendapatkan jalan. Alhasil, setelah beberapa detik berusaha, saya masih belum berhasil berpindah jalur. Lalu, saya kaget ketika mendengar bunyi klakson mobil di belakang saya. Saya melihat ke depan, dan ternyata mobil di depan saya sudah berada jauh di depan saya, dan tercipta ruang kosong yang cukup banyak di jalur saya. Saya begitu terobsesi pada jalur sebelah saya sampai saya tidak memperhatikan jalur saya sendiri. Akhirnya saya mengurungkan niat saya untuk berpindah jalur dan meneruskan perjalanan pada jalur saya.
Saat itu, ada satu kalimat yang terlewat di pikiran saya: “Rumput Tetangga Mungkin Lebih Hijau, Tapi Buah Kebun Kita Lebih Manis”. Salah satu sifat buruk manusia adalah sifat tidak pernah puas yang membuatnya menjadi kurang bersyukur. Seringkali kita membandingkan diri kita dengan orang lain, dan mungkin kita melihat banyak kelebihan orang lain yang lebih baik daripada kita, dan kita menjadi menginginkannya. Kita melihat rumput tetangga lebih hijau daripada rumput kita. Tapi, kita kadang tidak menyadari banyak kelebihan-kelebihan kita yang patut kita syukuri dan gunakan untuk membantu orang lain. Kita hanya melihat rumput, kita tidak melihat buah kebun kita lebih manis daripada buah kebun tetangga kita. Kita hanya melihat yang kita tidak miliki, dan kita menjadi kurang bersyukur dengan apa yang telah kita miliki. Apa yang telah kita miliki mungkin kita anggap biasa saja. Kita tidak menyadari betapa berharganya hal itu sampai itu diambil dari kita.
Dari hal sederhana ini, saya belajar untuk mensyukuri apa yang saya miliki. Keluarga yang saya miliki, kesehatan yang saya miliki, bakat/talenta yang saya miliki, teman-teman yang saya miliki, dan masih banyak lagi. Kita akan sulit sekali bersyukur jika kita selalu memfokuskan diri kita kepada hal yang tidak kita miliki. Karena itu, jangan lupakan kelebihan yang kita miliki, meskipun mungkin sangat sederhana, untuk kita syukuri. Mungkin bagi orang lain, kelebihan yang sangat sederhana itu sangatlah besar artinya. Rumput tetangga boleh lebih hijau, tapi jangan lupa buah kebun kita lebih manis. Setiap orang pasti mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Lihatlah semuanya secara seimbang, dan marilah kita syukuri apa yang kita miliki.
Menabung Kebaikan
Posted by Charles
Apa yang terlintas di benak Anda jika mendengar kata “menabung”? Sebagian besar orang akan berpikir tentang “uang” atau tentang “bank”. Tidak dapat dipungkiri, di zaman sekarang ini, uang menjadi suatu hal yang sangat penting bagi banyak orang. Katanya, “Zaman sekarang, apa sih yang ga pake duit?”. Banyak orang berpikir, uang sama dengan kuasa. Siapa yang punya lebih banyak uanglah yang akan lebih berkuasa. Tidak heran, banyak orang yang menginginkan mempunyai uang yang banyak.
Keinginan mempunyai uang yang banyak ternyata menjerumuskan sebagian orang ke dalam sifat egois mereka. Mereka mulai mencari banyak cara, dari yang putih, yang abu-abu, sampai yang hitam, untuk mendapatkan lebih banyak uang. Mereka akan menilai setiap hal yang mereka lakukan. “Apa untungnya ini bagiku? Kalau tidak ada untungnya, ngapain aku lakukan…”
Sayangnya, banyak orang yang hanya berpikir keuntungan jangka pendek.
- Seorang karyawan yang mendapatkan gaji sejumlah tertentu untuk bekerja selama 8 jam sehari, merasa rugi jika suatu hari perusahaan meminta mereka lembur tanpa tambahan gaji.
- Seorang pebisnis yang menjual suatu barang, merasa rugi jika sang customer meminta service secara cuma-cuma.
- Seorang siswa merasa rugi mempelajari bab yang tidak ikut diujikan di ujian.
- Seorang wajib pajak merasa rugi jika berlaku jujur melaporkan semua penghasilannya yang berujung pada semakin banyaknya pajak yang harus dibayar.
- Bahkan, seorang bisa merasa rugi jika dia harus memberikan persembahan atau sedekah yang seharusnya dia lakukan.
Mereka semua berpikir, “Melakukan ini tidak akan menambah kekayaanku saat ini. Melakukan ini malah mengurangi kekayaanku saat ini.”
Saat ini, saya ingin mengajak Anda berpikir secara berbeda. Marilah kita berpikir untuk keuntungan jangka panjang…
- Jika Anda sebagai seorang karyawan yang mendapatkan gaji sejumlah tertentu untuk bekerja selama 8 jam sehari, dan suatu hari perusahaan meminta Anda lembur tanpa tambahan gaji. Lakukanlah dengan senang hati, dan mungkin saja Anda mendapatkan promosi yang lebih cepat dan lebih tinggi karena bos menilai Anda seorang yang rajin, tulus, dan berharga bagi perusahaannya.
- Jika Anda sebagai seorang pebisnis yang menjual suatu barang, dan suatu hari sang customer meminta service secara cuma-cuma. Lakukanlah dengan senang hati, dan mungkin saja sang customer akan membeli barang lainnya dari Anda karena mereka puas dengan service yang Anda berikan.
- Jika Anda sebagai seorang siswa yang akan ujian dengan bahan 8 bab tapi sang guru meminta Anda mempelajari bab kesembilan juga. Lakukanlah dengan senang hati, dan mungkin Anda bisa mendapatkan cara yang jauh lebih cepat dan mudah untuk mengerjakan sebuah soal, yang hanya dijelaskan di bab kesembilan.
- Jika Anda sebagai seorang wajib pajak, dan Anda diminta untuk berlaku jujur melaporkan semua penghasilan Anda yang akan berujung pada semakin banyaknya pajak yang harus Anda bayar. Lakukanlah dengan senang hati, dan Anda tidak akan terjerat masalah hukum yang mungkin dialami wajib pajak yang tidak jujur suatu hari nanti.
- Jika Anda diminta untuk memberikan persembahan atau sedekah yang seharusnya Anda lakukan. Lakukanlah dengan senang hati, besar upahmu di Surga.
Ketika kita mulai berpikir hal-hal jangka panjang, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa ternyata tidak hanya uang yang dapat kita tabung. Kita dapat menabung kebaikan, yang mungkin tidak menguntungkan kita saat ini, tapi dapat menguntungkan kita di masa mendatang.
Kalau begitu, mungkin Anda bertanya-tanya, “Kalau begitu, itu namanya pamrih dong? Mengharapkan imbalan atau balasan di masa depan…”
Well, sangat baik jika Anda adalah seorang yang bisa melakukan sesuatu dengan tulus tanpa pamrih sedikit pun. Namun, realitanya, sangat sedikit orang yang bisa melakukan segala sesuatunya dengan benar-benar tulus. Jika Anda jujur, Anda pasti akan menemukan alasan dari setiap hal yang Anda lakukan, yang ujung-ujungnya hampir pasti adalah untuk kesenangan Anda.
Apakah selalu salah jika menyenangkan diri sendiri? Ini semua tergantung bagaimana kita memaknainya. Saya pribadi berpikir tidak salah menyenangkan diri sendiri, jika kesenangan kita tersebut adalah kesenangan orang lain juga. Kalau istilah kerennya, win-win solution. Dan, yang paling utama, bagaimana menjadikan kesenangan Tuhan menjadi kesenangan kita.
Jadi, mari kita sikapi kejadian yang terjadi di hidup kita dengan cara pandang yang baru, cara pandang jangka panjang. Marilah kita mulai menabung kebaikan sebanyak-banyaknya yang memberikan nilai tambah bagi orang lain… Dan bersiap-siaplah untuk melihat banyak “bunga” yang mungkin tidak Anda duga dari tabungan kebaikan yang Anda lakukan.

