Jika Aku Menjadi
Posted by heningsept
Ramadhan 1431
Posted by heningsept
apalah artinya?
Posted by heningsept
What I Know at 64 that I Didn’t Know at 24
Posted by heningsept
hey batu bata, ayo temukan posisimu!
Posted by heningsept
[MOU-2] Remed Gak Remed Tetap Semangat!
Posted by heningsept
[MOU-1] Ujian Kejujuran: Berkawanlah dengan Nurani
Posted by heningsept
Ukhti, kamu cantik sekali
Posted by heningsept
Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi hanya di mata manusia. Sedangkan yang Maha Kuasa tak pernah memandang rupa atau pun bentuk tubuh kita. Namun Ia melihat pada hati dan amal-amal yang dilakukan hamba-Nya.
Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi cantik fisik tak akan pernah abadi. Saat ini para pesolek bisa berbangga dengan kemolekan wajah ataupun bentuk tubuhnya. Namun beberapa saat nanti, saat wajah telah keriput, rambut pun kusut dan berubah warna putih semua, tubuh tak lagi tegak, membungkuk termakan usia, tak akan ada lagi yang bisa dibanggakan. Lebih-lebih jika telah memasuki liang lahat, tentu tak akan ada manusia yang mau mendekat.
Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi kecantikan hanyalah pemberian dan untuk apa dibangga-banggakan? Sepantasnya kecantikan disyukuri dengan cara yang benar. Mensyukuri kecantikan bukanlah dengan cara memamerkan, memajang gambar atau mengikuti bermacam ajang lomba guna membandingkan rupa, sedangkan hakekatnya wajah itu bukan miliknya.
Tidakkah engkau jengah bila banyak mata lelaki ajnabi yang memandangi berhari-hari? Tidakkah engkau malu ketika wajahmu dinikmati tanpa permisi karena engkau sendiri yang memajang tanpa sungkan. Ataukah rasa malu itu telah punah, musnah? Betapa sayangnya jika demikian sedangkan ia sebagian dari keimanan.
Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi apa manfaat pujian dan kekaguman seseorang? Adakah ia akan menambah pahala dari-Nya? Adakah derajatmu akan meninggi di sisi Ilahi setelah dipuji? Tak ada yang menjamin wahai ukhti. Mungkin malah sebaliknya, wajah cantik itu menjadikanmu tak punya harga di hadapan-Nya, karena kamu tak mampu memelihara sesuai dengan ketentuan-Nya.
Ukhti, kamu cantik sekali
Kecantikan itu harta berharga, bukan barang murah yang bisa dinikmati dengan mudah. Dimana nilainya jika setiap mata begitu leluasa memandang cantiknya rupa. Dimana harganya jika kecantikan telah diumbar, dipajang dengan ringan tanpa sungkan. Dimana kehormatan sebagai hamba tuhan jika setiap orang, baik ia seorang kafir, musyrik atau munafik begitu mudah menikmati wajah para muslimah?
Ukhti, kamu cantik sekali
Alangkah indah jika kecantikan fisik itu dipadu dengan kecantikan hatimu. Apalah arti cantik rupawan bila tak memiliki keimanan. Apalah guna tubuh molek memikat bila tak ada rasa malu yang lekat. Cantikkan dirimu dengan cahaya-Nya. Cahaya yang bersinar dari hati benderang penuh keimanan. Hati yang taat senantiasa patuh pada syariat. Hati yang taqwa, yang selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hati yang sederhana, yang tak berlebihan dalam segala urusan dunia.
Ukhti, kamu cantik sekali
Maka tampillah cantik di hadapan penciptamu karena itu lebih berarti dari pada menampilkan kecantikan pada manusia yang bukan muhrimmu
Tampillah cantik di hadapan suamimu, karena itu adalah bagian dari jihadmu. Mengabdi pada manusia yang kamu kasihi demi keridhoan Ilahi.
Tampillah cantik, cantik iman, cantik batin, cantik hati, karena itu lebih abadi.
Sumber: http://tarijemari.wordpress.com/2009/11/26/ukhti-kamu-cantik-sekali/
connection-oriented
Posted by heningsept
dulu… waktu masih kuliah Jarkom (jaringan komputer) suka ngehubungin teori2 jarkom dengan hal2 dalam hidup. Tentang connection-oriented dan connectionless misalnya, bisa dipake buat menggambarkan hubungan kita dengan Allah. Ya, sebenernya ga bs dibilang connection-oriented banget sih. Toh kita berhubungan sama Allah gak seperti teleponan antar 2 orang yang bisa saling kasih feedback. Tapi tetep aja, kl hubungannya dimaintain dengan baik, misalnya dalam shalat kita mencoba mengerahkan seluruh pikiran dan perasaan pada Allah, feedbacknya akan didapat meskipun gak terlihat: ketenangan hati, kemudahan menjalani hidup, keberkahan, dll. Sedangkan kalo connectionless yah meskipun hubungan tersambung, tapi kadang putus di tengah jalan, kl kata teori jarkomnya sih “unreliable data transfer, no flow control, co congestion control“. Cepat, tapi gak berkualitas. Mungkin itulah analogi shalat “the flash“.
dan memang benar adanya hal ini:
bahwa yang namanya masalah cuma ada dua: 1. kalo kita jauh dari Allah, 2. kalo kita lupa sama Allah (Yusuf Mansur)
maka selagi ada kesempatan, mudah2an kita bisa memperbaiki hubungan dengan Allah. Jadi connection-oriented lagi. toh menghubungi Allah gak susah. Gak perlu sms, gak perlu internet, gak perlu telepon. Gak perlu khawatir pula akan adanya starvation karena banyak orang yang ngantri pengen menghubungiNya. Allah Mahahebat!
jadi…
berharap pada Allah saja
karena…
berharap pada manusia sungguh melelahkan
Julaibib dan istrinya
Posted by heningsept
Subhanallah! Lagi2 ada kisah yang begitu inspiring. Padahal sih udah baca dari dulu. Tapi baru baca ulang lagi tadi. Sok atuh baca dulu…
Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Kata ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri fisiknya; kerdil. Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan ia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia. celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat sosial yang tak terampunkan.
Julaibib yang tersisih. Tampilan fisik dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya jelek terkesan sangar. Pendek. Bunguk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak tangan. Abu Barzah, pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, “Jangan pernah biarkan Julaibib masuk diantara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”
Demikianlah Julaibib.
Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhluq pun bisa menghalangi. Julaibib menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaf terdepan dalam shalat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah ia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam. Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi saw. “Julaibib”, begitu lembut beliau memanggil, “Tidakkah engkau menikah?”
“Siapakah orangnya Ya Rasulullah”, kata Julaibib, “yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”
Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orang tua yang berkenan pada Julaibib. Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama. “Julaibib, tidakkah engkau menikah?”. Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.
Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib dan membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar. “Aku ingin”, kata Rasulullah pada si empunya rumah, “menikahkan putri kalian.”
“Betapa indahnya dan betapa barakahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa sang Nabi lah calon menantunya. “Ooh.. Ya Rasulullah,ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram di rumah kami.”
“Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah, “ku pinang putri kalian untuk Julaibib”
“Julaibib?”, nyaris terpekik ayah sang gadis
“Ya. Untuk Julaibib.”
“Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas berat. “Saya harus meminta pertimbangan istri saya tentang hal ini”
“Dengan Julaibib?”, istrinya berseru, “Bagaimana bisa? Julaibib berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta. Demi Allah tidak. Tidak akan pernah putri kita menikah dengan Julaibib”
Perdebatan itu tidak berlangsung lama. Sang putri dari balik tirai berkata anggun, “Siapa yang meminta?”
Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.
“Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku”. Sang gadis yang shalehah lalu membaca ayat ini :
“Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab : 36)
Dan sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah, “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Jangan Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”
Doa yang indah.
***
Kita belajar dari Julaibib untuk tidak merutuki diri sendiri, untuk tidak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya. Tak mudah menjadi Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas.
Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi. Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihi yang kita sanggup memikulnya.
Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak! Jika kita bertakwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita.
Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak!
***
Maka benarlah doa sang Nabi. Maka Allah karuniakan jalan keluar baginya. Maka kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang istri shalehah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya. Julaibib telah dihajatkan langit mesti tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat padanya.
Saat syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi ia akan mengajarkan sesuatu kepada para sahabatnya. Maka ia bertanya diakhir pertempuran. “Apakah kalian kehilangan seseorang?”
“Tidak Ya Rasulullah!”, serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.
“Apakah kalian kehilangan seseorang?”, Sang Nabi bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.
“Tidak Ya Rasulullah!”. Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.
Rasulullah menghela nafasnya. “Tetapi aku kehilangan Julaibib”, kata beliau.
Para sahabat tersadar.
“Carilah Julaibib!”
Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputarannya menjelempan tujuh jasad musuh yang telah ia bunuh. Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. Beliau saw menshalatkannya secara pribadi. Dan kalimat hari berbangkit. “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”
Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tidak suka. Melampaui batas cinta dan benci. Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi. Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas.
Tapi yakinlah, di jalan cinta para pejuang, Allah lebih tahu tentang kita. Dan Dialah yang akan menyutradarai pentas kepahlawanan para aktor ketaatan. Dan semua akan berakhir seindah surga. Surga yang telah dijanjikanNya..
dia adalah bagian dari diriku
dan aku adalah bagian dari dirinya
-Rasulullah, tentang Julaibib-
Indah banget… dan kembali menyadarkan saya tentang pentingnya iman di atas yang lainnya: fisik, harta, kedudukan, dan blablabla. Luar biasa. Salut sama Julaibib dan istrinya yang telah berhasil membuat cintanya bersujud di mihrab taat.
Jadikan cintaku padaMu, Ya Allah
Berhenti di titik ketaatan
Meloncati rasa suka dan tak sukaKarena aku tahu,
mentaatimu dalam hal yang tak kusukai
Adalah kepayahan, perjuangan, dan gelimang pahala
Karena seringkali ketidaksukaanku,
hanyalah bagian dari ketidaktahuanku
Tulisan berwarna hitam diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang tulisan Salim A. Fillah *very very recommended to read, guys! b(^-^)d
Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Kata ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri fisiknya; kerdil. Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan ia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia. celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat sosial yang tak terampunkan.
Julaibib yang tersisih. Tampilan fisik dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya jelek terkesan sangar. Pendek. Bunguk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak tangan. Abu Barzah, pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, “Jangan pernah biarkan Julaibib masuk diantara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”
Demikianlah Julaibib.
Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhluq pun bisa menghalangi. Julaibib menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaf terdepan dalam shalat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah ia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam. Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi saw. “Julaibib”, begitu lembut beliau memanggil, “Tidakkah engkau menikah?”
“Siapakah orangnya Ya Rasulullah”, kata Julaibib, “yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”
Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orang tua yang berkenan pada Julaibib. Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama. “Julaibib, tidakkah engkau menikah?”. Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.
Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib dan membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar. “Aku ingin”, kata Rasulullah pada si empunya rumah, “menikahkan putri kalian.”
“Betapa indahnya dan betapa barakahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa sang Nabi lah calon menantunya. “Ooh.. Ya Rasulullah,ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram di rumah kami.”
“Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah, “ku pinang putri kalian untuk Julaibib”
“Julaibib?”, nyaris terpekik ayah sang gadis
“Ya. Untuk Julaibib.”
“Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas berat. “Saya harus meminta pertimbangan istri saya tentang hal ini”
“Dengan Julaibib?”, istrinya berseru, “Bagaimana bisa? Julaibib berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta. Demi Allah tidak. Tidak akan pernah putri kita menikah dengan Julaibib”
Perdebatan itu tidak berlangsung lama. Sang putri dari balik tirai berkata anggun, “Siapa yang meminta?”
Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.
“Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku”. Sang gadis yang shalehah lalu membaca ayat ini :
“Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (QS. Al Ahzab : 36)
Dan sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah, “Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Jangan Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”
Doa yang indah.

***
Kita belajar dari Julaibib untuk tidak merutuki diri sendiri, untuk tidak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya. Tak mudah menjadi Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas.
Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi. Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihi yang kita sanggup memikulnya.
Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak! Jika kita bertakwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita.
Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak!
***
Maka benarlah doa sang Nabi. Maka Allah karuniakan jalan keluar baginya. Maka kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang istri shalehah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya. Julaibib telah dihajatkan langit mesti tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat padanya.
Saat syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi ia akan mengajarkan sesuatu kepada para sahabatnya. Maka ia bertanya diakhir pertempuran. “Apakah kalian kehilangan seseorang?”
“Tidak Ya Rasulullah!”, serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.
“Apakah kalian kehilangan seseorang?”, Sang Nabi bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.
“Tidak Ya Rasulullah!”. Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.
Rasulullah menghela nafasnya. “Tetapi aku kehilangan Julaibib”, kata beliau.
Para sahabat tersadar.
“Carilah Julaibib!”
Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputarannya menjelempan tujuh jasad musuh yang telah ia bunuh. Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. Beliau saw menshalatkannya secara pribadi. Dan kalimat hari berbangkit. “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”
Di jalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tidak suka. Melampaui batas cinta dan benci. Karena hikmah sejati tak selalu terungkap di awal pagi. Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas.
Tapi yakinlah, di jalan cinta para pejuang, Allah lebih tahu tentang kita. Dan Dialah yang akan menyutradarai pentas kepahlawanan para aktor ketaatan. Dan semua akan berakhir seindah surga. Surga yang telah dijanjikanNya..
dia adalah bagian dari diriku
dan aku adalah bagian dari dirinya
-Rasulullah, tentang Julaibib-
menyalakan lagi nurani
Posted by heningsept
alhamdulillah.. hari ini bisa merasakan salah satu keuntungan dari ngisi mentoring: mengingatkan diri sendiri untuk membenahi diri! yah begitulah kawan.. mentor itu bukan ustadz yg super duper ahli apalagi orang suci. terkadang mereka hanyalah orang2 yg ilmunya masih sedikit sekali. namun punya keinginan untuk berbagi. bahwa islam yang indah itu selayaknya benar2 dirasakan keindahannya oleh para pemeluknya. menjadi nafas dan tuntunan dalam setiap langkah hidupnya. bukan sekedar penghias ktp di bagian “agama”. atau mereka hanya ingin di negeri ini bertambah orang2 yang takut pada Tuhannya. agar tak perlu lagi ada cerita “cicak vs buaya” di kemudian hari. atau mereka pun ingin mengajak orang2 untuk sama2 memilih dan mengusahakan tempat kesudahan yang baik: surga yang seluas langit dan bumi. dan banyak lagi alasan lainnya. yang jelas pastinya mereka merasa jalan itu indah.. dan ingin orang lain merasakan keindahannya juga. insya Allah.
oh ya. materi hari ini membuat saya browsing2 dan membuka beberapa buku. salah satu tulisan yang paling tajam menikam hati *widih, lebay* adalah tulisan ini. luar biasa ngejlebnya dan membuat saya merenung… bagaimana rupa hati saya sekarang ini? astaghfirullah…
mungkin, hati ini sudah sebegitu hitamnya, gak peka lagi membedakan yang benar dan salah. terlalu terbiasa dalam dosa? mungkin juga. padahal… utsman bin ‘affan ra, begitu bersih hatinya sampai2 bisa tau seseorang telah berbuat dosa.
ada seorang laki-laki bertamu kepada ‘Utsman. Laki-laki tersebut baru saja bertemu dengan seorang perempuan di tengah jalan, lalu ia menghayalkannya. ‘Utsman berkata kepada laki-laki itu, “Aku melihat ada bekas zina di matamu.” Laki-laki itu bertanya, “Apakah wahyu masih diturunkan setelah Rasulullah Saw wafat?” `Utsman menjawab, “Tidak, ini adalah firasat seorang mukmin.”
penjelasan selanjutnya..
bila seseorang hatinya jernih, maka ia akan melihat dengan nur Allah, sehingga ia bisa mengetahui apakah yang dilihatnya itu kotor atau bersih. Artinya, setiap maksiat itu kotor, dan menimbulkan noda hitam di hati sesuai kadar kemaksiatannya sehingga membuatnya kotor. Semakin lama, kemaksiatan yang dilakukan membuat hati semakin kotor dan ternoda, sehingga membuat hati menjadi gelap dan menutup pintu-pintu cahaya, lalu hati menjadi mati. Sekecil apa pun kemaksiatan akan membuat hati kotor sesuai kadar kemaksiatan itu. Kotoran itu bisa dibersihkan dengan memohon ampun (istighfar) atau perbuatan-perbuatan lain yang dapat menghilangkannya. (diambil dari sini)
so.. mulailah saya mendata segala jenis penyakit hati, seperti riya’, ujub, dengki, dan lalalala sampai rasa malas yang berlebihan juga mungkin sumbernya dari penyakit hati. yah, penyakit itu membuat hati kusam, cahayanya meredup. karena itu, mari nyalakan lagi nurani. agar terangnya menyinari diri dan hidup ini! membimbing diri untuk lurus dalam ketaatan. untuk bersegera dalam kebaikan.
Tak ada yang lebih jernih dari suara hati.. Ketika ia menegur kita tanpa suara. Tak ada yang lebih jujur dari nurani.. Saat ia menyadarkan kita tanpa kata-kata. Tak ada yang lebih tajam dari mata hati.. ketika ia menghentak kita dengan beragam kesalahan dan alpa. Berbahagialah orang-orang yang seluruh waktunya dipenuhi kemampuan untuk jujur pada nurani dan tulus mendengarkan suara hati.
“Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa padanya, dan tenteram pula dalam hati. Sedangkan dosa adalah apa-apa yang syak dalam jiwa, dan ragu-ragu dalam hati, meskipun orang lain memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.” (HR Muslim)
“Bertanya Pada Hati”, Salim A. Fillah, dalam Jalan Cinta Para Pejuang
Chatbot
Posted by heningsept
>Hello, I'm Eliza.
Hai.. dah pernah ngobrol ama robot belom? Satu baris di atas itu adalah sapaan Eliza untuk memulai percakapan. Cobain deh, di sana.. Eliza si chatbot, “robot” yang diprogram buat chatting sama manusia ini adalah salah satu “mainan” di bidang NLP. Apaan tuuuh? Natural Language Processing.. Apaan lagi tuuuh? Kalo orang2 nanya gini, saya biasanya jawab “pokoknya belajar gimana caranya biar komputer ngerti bahasa manusia”. Definisi yg benernya? He.. tanya Pak Ruli gih.
NLP adalah salah satu dari 3 mata kuliah yang saya ambil di semester 8 ini. Kenapa ngambil NLP? Awalnya karena pengen seimbang aja.. kan semester kemaren udah ngambil Information Retrieval (IR). Kalo utk ngolah teks/bahasa, IR kan pendekatannya statistik/empirik, pake korpus (koleksi dokumen) yang besar untuk melatih dan membangun sistem. Kalo NLP ini simbolik, sistem dibangun berdasarkan model yang dibuat dengan aturan tertentu oleh knowledge expert. Mungkin bisa dibilang IR itu bottom-up dan NLP top-down. CMIIW.
Awalnya agak kurang semangat ikut kuliah ini. Soalnya kayaknya susaaah. Mirip2 SC (Sistem Cerdas) gitu kali.. dan bawa2 TBA (Teori Bahasa dan Automata) segala karena ada bahasan ttg Finite State Automata (FSA). Saya udah lupa bgt kayaknya
Dan sempet mikir pragmatis jg.. Ngapain sih kuliah yg susah2, cari yg gampang2 aja lah.. dah mo lulus, selametin IPK! Duh.. Tapi setelah dipikir2.. kuliah ini mungkin bisa berguna buat TA (Tugas Akhir). Dan sepertinya berguna juga di masa depan. Aplikasinya kan bisa banyak, speech recognition, question answering, machine translation, dll. Masalah susah.. hmm.. emang sekarang ini saatnya bersusah2.. kalo mo seneng2 nanti aja dah.. Mumpung masih mahasiswa, mumpung masih bisa menyelami samudera ilmu komputer yang luar biasa luasnya..
So there I was.. menikmati ngerjain worksheet Eliza Chatbot dan menemukan pola di balik respon si Eliza. Seperti:
>Hello, I am Eliza. * hello there > How are you today.. What would you like to discuss? * i am ready to talk about anything except the weather > Do you enjoy being ready to talk about anything except the weather? * i am i am > Do you believe it is normal to be you are? * i belive it, of course > What does that suggest to you? * i am hungry > Do you believe it is normal to be hungry?
(diawali “>“: chatbot, diawali “*“: manusia)
Intinya Eliza ini menangkap pola dari kalimat manusia dan meresponnya berdasarkan pola tersebut. Contoh, kalo diawali “I am…” dia jawabnya “Do you believe it is normal to be” atau “Did you come to me because…?” atau “Do you enjoy being…?”. Intinya dia gak akan pernah jawab pertanyaan, yang ada malah balik nanya
Haha.. so we made the rules for Indonesian chatbot. Polanya tiga ajah:
1. “Saya X”
respon chatbot: “Mengapa kamu X?”
2. “X?”
respon chatbot: “Kenapa kamu ingin tahu X?”
3. selain dua di atas
respon chatbot: “Oh, begitu”, “Ceritakan lagi”, “Wah, menarik”
Sehingga chattingnya jadi begini:
* Saya ingin makan
> Mengapa kamu ingin makan?
* Karena saya lapar
> Oh, begitu
* Saya ingin makan es krim
> Mengapa kamu ingin makan es krim?
* Kamu nanya terus sih?
> Kenapa kamu ingin tahu kamu nanya terus sih?
* Huh.. mulai aneh
> Wah, menarik
Dan worksheet ini bisa jadi games aja dong.. Hari Jum’at 2 minggu lalu saya bawa ke Smansa dan saya kasih ke adik2 mentoring saya.. haha.. Yah, pertama dijelasin dulu sih aturan umumnya dan harus diarahin juga untuk nangkep polanya. Yang lucu ya pas bagian bikin aturan untuk chatbot Indonesia. Umumnya aturannya sama, tapi responnya aneh2. Ada yang “Ngapain kamu nanya2?”, “Pergi sana!”, “Mau tau aja”. Autis bener.. Lumayan lah bikin ketawa2.. buat refreshing^^

Tidak Lebih Baik dari Siapapun
Posted by heningsept
Selasa, 6 Januari 2009, saya ikut Pengajian UI di Rektorat. Pengajian ini adalah hasil kerjasamanya Rektorat UI dengan SALAM UI. Yang dateng lumayan banyak, dari mulai Pak Rektor, wakil2 Rektor dan pejabat Rektorat lainnya, karyawan, mahasiswa, dan ada masyarakat sekitar UI juga.
Pak Gumilar sang Rektor UI di dalam pidato sambutannya menceritakan sebuah kisah, tentang dialog Rasulullah SAW dengan iblis. Rasulullah nanya sama iblis, siapa manusia yang paling kau sukai? Terus iblis jawab, manusia yang paling aku sukai adalah yang rajin beribadah. Tapi karena ibadahnya itu dia merasa lebih baik dari orang lain. Lalu Rasulullah nanya lagi, siapa yang paling kau benci? Iblis jawab, yang paling kubenci adalah orang yang banyak dosa, tapi karena dosanya itu dia bertobat meminta ampun dan takut pada Allah. (Ada yang bisa ngasih tau riwayat siapa ini?)
Lalu pembicara pengajian ini, Pak Muslih Abdul Karim, menyambungnya dengan tausiyahnya. Subhanallah.. Ini ustadz, dari pertama kali ngomong, rasanya setiap kata2nya menyentuh hati. Gak tau kenapa, di pengajian itu hati saya damai banget.. (^-^)V
Ustadz Muslih membenarkan tausiyah Pak Gum, kenapa iblis suka sama manusia yang rajin ibadah tapi ngerasa lebih baik dari yang lain? Karena manusia itu persis banget ama iblis. Soalnya dulu kan iblis tuh nurut sama Allah, eh pas Allah menciptakan Adam as dan nyuruh iblis dan malaikat sujud sama Adam, iblis gak mau. Karena dia ngerasa lebih baik. Somse euy.. sombong sekali..
Padahal, tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan walaupun sebesar dzarrah (atom). Astaghfirullah.. Jadi inget diri saya. Sampai sekarang, udah berapa kali coba ngerasa lebih baik dari orang lain? Dapet nikmat dikit, sombong. Bisa ngelakuin sesuatu, sombong. N.g.e.r.a.s.a l.e.b.i.h b.a.i.k d.a.r.i o.r.a.n.g l.a.i.n.
Hiks..
Jadi inget Pak Heru, dosen Fasilkom. Waktu presentasi pemilihan calon dekan, beliau bilang bahwa ada satu pertanyaan di formulir pendaftaran yang menjebak. Pertanyaan itu berbunyi, “Apakah anda merasa pantas jadi dekan Fasilkom?” (kira2 begitu pertanyaannya). Terus kata Pak Heru, “Kalo jawab iya, berarti saya sombong. Kalo sombong, gak bisa masuk surga. Mendingan gak saya jawab aja. Biarpun gak jadi dekan, tapi masih ada kesempatan masuk surga”. Subhanallah..
Oke Ning.. stop it from now..
Mulai sekarang.. jangan lagi ngerasa lebih baik dari siapapun.. dalam hal sekecil apapun..
Hasan Al Basri berkata, tawadhu itu jika kamu keluar dari rumahmu lalu setiap kali kamu bertemu saudaramu, kamu merasa bahwa saudaramu itu lebih baik darimu.

Tips menjadi mahasiswa sukses
Posted by heningsept
Pengen jadi mahasiswa sukses? Hoho.. jangan tanya sama saya bagaimana caranya. Tapi tanyakan pada orang yang udah “selesai” jadi mahasiswa, setidaknya satu kali (berarti lulus S1). Saya dapat tips2 tersebut dari blognya Pak Romi. Silakan baca di sini: http://romisatriawahono.net/2008/01/29/tips-menjadi-mahasiswa-sukses/
Hmm… di semester 6 saya di Fasilkom ini saya banyak berpikir… insya Allah lulus satu tahun lagi. Tapi, ah.. rasanya belom ada apa2nya yang saya lakukan di kampus ini. Terutama dalam hal keilmuan dan kompetensi inti Ilmu Komputer. Merenungi setiap semester yang udah dilalui, setiap mata kuliah yang udah dilulusi (hah, bahasa apa ini). Alhamdulillah, gak ada mata kuliah yang ngulang dan IPK pun terancam *you know*. Tapi.. menyangkut proses belajar dan penyerapan ilmunya, hmm.. mungkin nilai saya sebenarnya tidak sebagus nilai pada transkrip saya. Saya berpikir, emangnya output yang diharapkan setelah mahasiswa mengikuti suatu mata kuliah apa sih? Apakah setelah saya lulus mata kuliah tsb, saya bisa mengimplementasikan ilmu yg didapat dalam kehidupan nyata? Sesuai dengan perkembangan ilmu komputer dan teknologi yang ada sekarang?
Sekian banyak mata kuliah yang saya ikuti, tapi apakah saya benar2 menyerap ilmu yang ada pada mata kuliah tersebut? Jangan2 saya cuma sekedar duduk doang di kelas, ngerjain tugas, dan ujian sekedar untuk lulus? Sempat berdiskusi dengan beberapa teman. Memang tampaknya pendidikan di sini masih sangat padat dengan materi dan teori. Bebannya berat, tapi entahlah apakah benar2 terinternalisasi dalam diri si penuntut ilmu. Jadi inget, Pak Eko Indrajit sang Ketua APTIKOM pernah cerita, di luar negeri sana, ada suatu jurusan CS di sebuah PT yang memberikan tugas dalam suatu mata kuliah dengan kasus sungguhan. Ceritanya mereka disuruh buat sesuatu (gw gatau apa), intinya analisis suatu masalah beneran di perusahaan Boeing kemudian memberikan rekomendasi pemecahannya. Ternyata mereka disuruh presentasi tugasnya beneran di depan direksi Boeing. Asyig bangget ya. Emang kalo liat pendidikan di LN sana kayanya banyak praktek dan metode2 yg memacu penggunaan otak kanan, dan gak dijejelin dengan seabrek2 materi.
Kembali lagi ke tips menjadi mahasiswa sukses. Apakah saya ini mahasiswa yang sukses ya? Setengah2 kayanya
Yang jelas kemaren saya baru mengisi blanko CV untuk pemilihan Mapres dan… uh, kok banyak banget yang kosongnya ya?? hehehehe….
Ayo, manfaatin sisa waktu yang ada untuk jadi mahasiswa dan (nantinya) lulusan yang bener2 sukses! amin…

siraman ruhani di pagi hari
Posted by heningsept
Apakah anda punya radio di rumah? Kalo punya, coba deh pagi2 jam 5 dengerin ceramahnya Aa’ Gym dari MQ FM yang direly sama beberapa channel radio, salah satunya RRI. Seger deh pagi2 bisa dapet siraman ruhani, insya Allah bisa jadi bekal untuk menjalani hari. Ceramah2 Aa’Gym biasanya bertemakan tauhid, jadi banyak banget mengingatkan kita supaya hanya bergantung pada Allah, bukan manusia. Biasanya juga ada pendengar yang nelpon ke acara tersebut, dan setiap penelpon harus nyebutin password. Passwordnya tuh macem “Allah mengetahui apapun yang kita lakukan”, “Allah mengetahui segala isi hati”, “Bergantung hanya pada Allah”, yang diganti sebulan sekali. Jadi semacam afirmasi juga ya password2 itu, biar kita makin inget sama Allah.
Siraman ruhani pagi tadi.. cuma dapet bentar doang sih, soalnya abis itu mati lampu :( Ada yang bacain QS Al-Anbiya: 35 terus Aa’ Gym mengulasnya..
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”
Hh… iya ya.. alhamdulillah diingetin lagi.. Yang pertama, emang kita pasti mati. Dan kematian itulah yang sebenarnya paling dekat dengan kita. Bukan event2 lain yang belum tentu datang. Kematian ini pasti datang cuma ga tau waktunya. Yang kedua, ternyata yang namanya ujian bukan hanya saat2 susah dan terpuruk. Ternyata saat senang, saat jaya, saat berada di “atas”, itu juga ujian. Malah itu ujian yang lebih susah. Banyak yang gagal ketika ujian berupa kesulitan, tp lebih banyak lagi yang gagal saat ujian berupa kelapangan.
Hehe… udah ah, dah dzuhur…
Bye… ![]()

Maluuuu
Posted by heningsept
Pada hari Sabtu tanggal 1 Maret kemaren gw dateng ke Aula Setyaningrum Pusgiwa. Ngapain? Hooh.. rupanya ada Seminar PKM & LKTM yang diadain sama BEM FISIP UI, sebagai salah satu rangkaian acara mereka yaitu LIMAS UI. Sebenernya udah cukup banyak acara training atau seminar PKM LKTM yang gw ikuti, tapi gatau pengen lagi pengen lagi
Pengen dapet ilmunya bok. Ternyata seminar yang gw ikuti hari itu adalah bagian kedua. Bagian pertama udah diadain minggu kemarennya dengan acara pemberian materi dari para pembicara seperti Mbak Lina dll. Dan yang bagian kedua itu isinya adalah sesi presentasi dari mahasiswa yang udah punya topik n mau maju LKTM atau PKM. Pas gw dateng, lagi ada satu orang yang presentasi, siapa dia gw gak kenal. Tapi setelah orang tersebut, yang maju berikutnya adalah Salman Fasilkom 2006 beserta dua orang anggota timnya yaitu Dewi FKM 2006 dan Luay Habibi Fasilkom 2007. Subhanallah Bung Salman dkk, keren sekali. Mereka pun mempresentasikan idenya, dan kayanya sih udah cukup matang tuh idenya. Tinggal solusinya yang menjadi inti dari LKTM mereka belum dieksplor lagi karena ada masalah kehilangan data, katanya.
Berikutnya maju lagi seorang mahasiswa FKM yang punya ide tentang mangrove untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir. Lalu ada anak Elektro yang punya ide tentang detektor korona pada gardu listrik — ternyata ini udah mereka ajukan buat PKM dan udah diterima. Ada juga anak Biologi yang punya ide tentang rosella -teh merah- untuk obat suatu penyakit. Apa lagi ya… yang gw inget sih itu.
Subhanallah… keren2 euy.. Mereka begitu menguasai ilmunya dan punya keinginan untuk mengembangkannya. Yang kayak gini nih yang namanya mahasiswa UI seharusnya. Kalo semua mahasiswa UI punya semangat kaya gini, punya keingintahuan yang tinggi dalam mengembangkan ilmunya sebagai bentuk kontribusi buat masyarakat, UI sebagai Research University bukan omdo* lagi deh!
Gw jadi maluuuuu… Udah tingkat tiga.. Apa kontribusi gw buat masyarakat dengan ilmu yang gw punya? Sejauh mana gw udah mengembangkan ilmu gw? Lewat riset, lewat tulisan2 ilmiah? Kuliah aja gw masih males2an, kalo ada materi yang susah aja gampang nyerahnya. Bagaimana ini..
Lalu setelah acara itu selesai gw pergi ke Fasilkom. Di Fasilkom lagi rame soalnya lagi ada acara CGT — Computer Get Together. Ada parade band, pemberian penghargaan2, stand tukang jualan, lomba2 di pagi harinya.. Gw pikir acaranya cukup menghibur, apalagi mahasiswa-dosen-orang kantin-janitor ngumpul semua sebagai keluarga besar Fasilkom — meskipun gak semuanya. Hiburan emang perlu — terlepas dari keyakinan masing2 ttg hiburan apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak. Itu salah satu cara berekspresi dan mengeluarkan isi hati. Apalagi buat anak Fasilkom yang sehari2nya udah dibuat stress ama kuliah n tugas yang seabrek2 (Fasilkom, gile aje! Bikin stress mahasiswanye! *persembahan 2007 dengan nada Fatime jande mude*). Tapi, alangkah senangnya ya kalo partisipasi mahasiswa Fasilkom dalam kegiatan riset dan ilmiah bisa serame partisipasinya dalam CGT dan acara2 hiburan lainnya
Dalam LKTM misalnya. Atau Imagine Cup, PKM, Mapres, dll..
Pengen deh.. ikutan riset2an.. Tapi suka minder karena kadang ogah dan ga ngerti ama matematika2an. Padahal riset CS banyak pake matematika. Ya masih bisa sih riset di bidang IS misalnya. Tapi… jadi nyesel gak ngambil Natural Language Processing atau Machine Learning semester ini. Awalnya takut gak bisa, takut keteteran karena pas kuliah Sistem Cerdas aja gak bener2 maksimal nyerap ilmunya. Ternyata itu suatu pemikiran yang salah. Siapa tau gw malah bisa jadi banyak belajar, nemuin hal baru dan memikirkan banyak improvement? Haah… sesal kemudian tak berguna.. Makanya jangan banyak takut2an ya… fight more, fear less, katanya mah
* omong doang

Saling mengingatkan
Posted by heNing sePt
"Sesibuk apapun lo, jangan lupain ruhiyah lo"
Saya suka...
Saya suka kalo ada teman2 yang bilang gitu.. baik lewat SMS, e-mail, ataupun ngomong langsung.
Saya ingat pernah nulis gini di suatu milis...
Tau gak sih... pas kumpul Jum'at Kemudi minggu kemaren... kan gw baca2 buchat tuh...... Dan gw jadi agak sedikit tercengang ngebaca isi tu buchat... Subhanallah ya... Hal2 khas smansa yg religius masih ada di sana. Tulisan2 macem "afwan..." (bay, siapa tuh bay?) Tausiyah2 macem "Sesibuk apapun lo, jangan lupain ruhiyah lo".... Dulu itu bukan hal yg aneh ya?? Apalagi di smansa... Tapi sekarang, di tempat yg baru, atau bahkan di smansa sekalipun.... mungkin udah susah nemuin yg kaya gitu lagi..
Sekarang ini sangat sedikit..
Orang2 yang masih ingat untuk tetap menjaga ruhiyahnya di tengah kesibukan dunia..
Orang2 yang masih mau mengingatkan saudara2nya untuk menjaga ruhiyahnya juga..
Dan saya suka kalo diingatkan seperti itu..
Artinya orang itu menginginkan saya menjadi temannya di akhirat juga.. bukan hanya di dunia =)
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS Al-Ashr)
