Jakarta: Kota Penuh Keajaiban
Posted by Charles
Jakarta adalah tempat yang sangat baik untuk menguji kesabaran Anda. Kalau tidak percaya, cobalah bawa mobil Anda melintasi jalan-jalan di Jakarta selama sehari penuh. Ketika hari berakhir, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Kemungkinan pertama adalah Anda akan menjadi orang yang lebih sabar. Kemungkinan kedua adalah Anda akan bersumpah tidak akan pernah naik mobil lagi di Jakarta.
Saya masih ingat kata-kata seorang kolumnis harian Kompas berikut: “In Jakarta, every second is a miracle.” Wow! Ini benar sekali…
Lihatlah angkot yang tiba-tiba menepi dari kecepatan 80 km/jam tanpa memberi sen (karena memang lampu sennya rusak).
Lihat pula motor-motor yang tiba-tiba datang dari arah berlawanan, arah yang sama sekali tidak pernah Anda duga, sampai-sampai Anda mengira motor itu seperti ninja yang bisa menghilang dan muncul kembali (akhirnya saya tahu kenapa ada sebutan ‘motor ninja’). Dan cobalah Anda perhatikan motor itu dengan pengendaranya. Tidak ada helm. Tidak ada kaca spion. Yang ada hanya telepon di telinganya. Ya! Dia sedang telepon… (ide siapa yang mengatakan telepon bisa menggantikan helm!?).
Perhatikan mobil-mobil yang lebih suka menerobos trotoar untuk memutar balik daripada berputar di putaran yang disediakan 100 m di depan mereka. Untuk yang satu ini, tampaknya yang mereka butuhkan hanya kacamata yang lebih tebal. Entah bagaimana dengan kacamata mereka yang sekarang, trotoar terlihat seperti putaran. Sangat absurd memang.
Dahulu, lampu merah berarti berhenti. Lampu kuning berarti hati-hati dan saatnya memperlambat kendaraan. Lampu hijau berarti jalan. Sekarang, lampu merah berarti maju sebanyak-banyaknya asal ga ketabrak (kalau kebetulan jalan kosong, lampu merah berarti jalan). Lampu kuning berarti saatnya mengebut. Lampu hijau berarti saatnya klakson dibunyikan. Taruhlah orang buta di persimpangan lampu merah. Saya yakin, orang buta itu pasti tahu kapan lampu berubah menjadi hijau. Gampang saja, dia tinggal mendengar saat klakson paling banyak dibunyikan. Lalu, bagaimana kalau lampu mati? Ah, itu sudah pasti artinya jalan…
Pejalan kaki pun tidak mau kalah. Meskipun zebra cross cuma berjarak 10 meter, rasanya mereka lebih suka tidak menyeberang di zebra cross. Mungkin mereka pecinta zebra yang menganggap dengan menginjak zebra cross, mereka sedang menginjak-injak martabat kaum zebra (maaf kalau saya agak jayus…). Belum lagi pejalan kaki yang berjalan dengan santainya menyebrangi keluaran jalan tol, di mana puluhan mobil dan truk yang keluar dari tol melalui jalan itu dengan kecepatan 80 km/jam. Mereka benar-benar mempunyai iman yang sangat besar dengan rem mobil-mobil dan truk-truk tersebut.
Dan, apakah Anda mau tahu keajaiban yang terjadi? Mereka semua bisa bertahan dengan keadaan ini, sehari, sebulan, setahun, bahkan sampai bertahun-tahun lamanya. Benar yang dikatakan kolumnis Kompas tersebut. Keajaiban terjadi setiap detik di Jakarta.
Keajaiban terjadi ketika angkot dapat menepi tiba-tiba dari kecepatan tinggi tanpa menubruk tiang listrik (atau ditubruk angkot lain).
Keajaiban terjadi ketika mobil-mobil dapat seketika berhenti dan tidak menabrak motor yang bahkan muncul bagaikan ninja.
Keajaiban terjadi ketika pejalan kaki dapat membagi jalan mereka di trotoar bersama mobil dengan akurnya.
Keajaiban terjadi ketika tabrakan dapat terhindarkan di persimpangan bahkan ketika semua pengendara dari berbagai arah berpikir “ini saatnya jalan” setelah melihat lampu lalu lintas yang mati.
Keajaiban terjadi ketika para pejalan kaki melihat truk berhenti 5 meter di samping mereka, dan mereka dapat berkata, “Aha! Rem truk itu baik sekali…”
Keajaiban terjadi setiap detik di Jakarta. Bagaimana mungkin Anda tidak bersyukur tinggal di kota yang penuh keajaiban ini?
Keajaiban memang terjadi. Tetapi saran saya, jangan menggantungkan diri Anda pada keajaiban. Bagaimana jika suatu saat keajaiban tidak terjadi? Itulah yang disebut dengan kecelakaan. Semoga Anda tidak perlu mengalaminya, untuk membuktikan peraturan lalu lintas itu baik adanya.
Patuhilah peraturan.
Ciptakanlah keajaiban Anda sendiri.
Bersyukurlah Anda tinggal di Jakarta, kota penuh keajaiban.
Tuhan memberkati kita.
Charles Christan.
Seorang Anak Bimbingan Yang Menjadi Berkat Untuk Saya (1)
Posted by Charles
Sebuah Berita Mengejutkan Di Pagi Hari
“Ko, kayanya nanti saya ga kaer (kebaktian remaja) dan pembinaan deh… Rumah saya kebakaran!”
SMS itu masuk ke dalam inbox handphone saya pada hari Minggu kemarin, 25 Juli 2010 Pk 03:21 dini hari. Pengirimnya? Kurniawan, seorang anak bimbingan saya di gereja.
Saya baru membaca SMS itu ketika saya bangun jam setengah 6 pagi. Hampir saja saya menjatuhkan handphone saya saat membacanya. Saya langsung mencoba menghubungi dia.
Sia-sia. Handphone-nya tidak aktif. Saya malah menjadi bertambah khawatir. “Oh Tuhan, apa yang terjadi dengannya?”
Saya sungguh bergumul saat itu. Pagi itu, saya ada janji pergi dengan teman saya. Tapi, saya tidak akan mungkin dapat meninggalkan anak bimbingan saya dalam keadaan yang belum jelas dan sangat membuat saya khawatir. (Sebenarnya saya malu mengakui bahwa awalnya saya masih ragu-ragu untuk membantu anak bimbingan saya sendiri, tapi saya ingin bercerita dengan jujur). Kebingungan saya terjawab beberapa menit kemudian di kamar mandi saya.
Saya sedang mandi ketika saya bertanya kepada Tuhan di dalam hati saya, “Tuhan? Apa yang harus saya lakukan?” Dan saya percaya, Tuhan menjawabnya ketika ada sebuah suara yang saya rasakan sangat jelas di dalam hati saya: “Datanglah ke sana…”.
“Tapi Tuhan, apa yang bisa saya lakukan di sana?” Saya tidak pernah membantu orang yang mengalami musibah kebakaran sebelumnya. Meskipun di satu sisi saya sangat ingin membantu, di sisi lain saya merasa bingung dan tidak nyaman.
Semua keraguan saya sirna ketika suara itu bergema lagi di dalam hati saya: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.”
Singkat cerita, akhirnya saya membatalkan janji dengan teman saya. Dan saya pergi, ke lokasi kebakaran itu. Saat itu, saya sama sekali tidak tahu, bahwa Tuhan akan memberi saya berkat yang melimpah di sana.
Datang Ke Lokasi Kebakaran
Rumah Kurniawan, anak bimbingan saya tersebut, ada di daerah Tambora. Di sepanjang perjalanan, saya berdoa untuk keselamatan Kurniawan.
Saya pun sampai di depan gang dekat rel kereta api Bandengan. Saya melihat beberapa mobil pemadam kebakaran berjejer, dan banyak orang berkerumun. Saya mencoba untuk masuk ke dalam gang.
Saya melihat rumah-rumah yang berdempet-dempetan sepanjang gang itu. Saya melihat banyak orang berkerumun. Setelah saya agak jauh masuk ke dalam gang, saya mulai melihat rumah-rumah yang sudah hangus terbakar.
Saya masuk ke dalam gang rumah anak bimbingan saya. Saya tidak dapat sampai ke depan rumahnya. Petugas pemadam sedang sibuk menyemprotkan air ke rumah-rumah tersebut (yang sebenarnya sudah lebih mirip kumpulan tembok-tembok saat itu).
Saya sungguh terkejut. Saya tidak mengira kebakarannya sebesar ini. Meskipun saat itu api sudah berhasil dipadamkan, tetapi para petugas masih terus menyemprotkan air. Puluhan rumah habis terbakar si jago merah.
Sementara itu, saya masih mencari Kurniawan. Ya! Kurniawan… Di mana dia? Saya pun berusaha mencari di tengah kerumunan orang. Saat itulah, saya menyaksikan pemandangan di luar dugaan saya.
Sebuah Pemandangan Di Luar Dugaan
Apa yang Anda harapkan ketika Anda melihat seseorang yang rumahnya baru saja habis terbakar? Seorang yang sedang menangis tersedu-sedu? Seorang yang marah-marah? Seorang yang depresi? Seorang yang menunjuk orang lain dan berkata: “Ini semua salah kamu!!!”
Kawan, tidak satu pun dari orang-orang di atas yang saya temukan. Seberapa hebat pun saya mencari saat itu, tidak satu orang pun yang saya temukan menangis, marah-marah, depresi, atau saling menyalahkan. Setidaknya, sejauh yang saya lihat saat itu, saya tidak menemukannya.
Lalu, orang seperti apa yang saya temukan?
Yang saya temukan adalah orang yang sedang membeli banyak roti untuk tetangga-tetangganya, yang juga mengalami musibah.
Yang saya temukan adalah orang-orang yang saling membantu satu sama lain. Yang satu mengambil air. Yang lain menenteng ember. Yang lain lagi sedang menyiramkan isi ember itu ke sisa-sisa api.
Yang saya temukan adalah dua orang yang berpapasan. Yang seorang bertanya, “Hai… Gimana rumahmu?”. Dengan senyum terukir di wajahnya, yang lain menjawab, “Rumah habis semua. Tapi untung anak-anak selamat semua. Kamu bagaimana?”. Tersenyum juga, dia menjawab, “Sama. Tak ada yang tersisa, tapi keluarga aman.”
Hei, apakah tidak salah!? Mereka baru saja kehilangan rumah mereka, dan mereka dapat tersenyum begitu lepasnya. Mereka bahkan masih saling memperhatikan satu sama lain. Jika saya ada di posisi mereka, dapatkah saya melakukan hal yang sama? Suatu hal yang masih saya ragukan.
Saya yang awalnya berniat membantu, hanya bisa terdiam menyaksikan semua hal yang luar biasa tersebut. Saya merasakan aura positif di tengah kekacauan akibat kebakaran. Saya melihat begitu banyak orang yang luar biasa. Tidak terkecuali anak bimbingan saya.
Respon yang Luar Biasa
Saya masih terdiam ketika dia menepuk bahu saya.
“Hai koko!” sapaan yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Sapaan anak bimbingan saya. Kurniawan menghampiri saya.
“Hai Kur… Koko cari kamu dari tadi. Gimana rumah kamu?”
Tidak ada kesedihan yang terlihat di wajahnya. Hanya senyuman yang biasa dia tunjukkan. Dia menjawab, “Wah… Abis semua ko. Rumah saya uda jadi kaya lapangan bola…”
“Hah? Abis semua Kur?” saya terkejut.
“Iya. Baju aja tinggal yang saya pake sekarang. Cuma sempet ngeluarin motor dan sedikit baju dede saya.”
Oh Tuhan… Apa yang Engkau ingin nyatakan pada Kurniawan? Saya teringat, baru saja sehari sebelumnya kaki Kurniawan tertusuk paku. Dan hari itu, seharusnya dia mengikuti pertandingan basket. Pertandingan final. Baru juga sehari sebelumnya, dia membeli sepatu untuk dia pakai di pertandingan itu. Tapi sepatu itu lenyap dalam beberapa jam, tanpa sempat dipakai olehnya. Baru pula sehari sebelumnya, dia membantu kokonya bekerja seharian. Siapa yang menyangka, sekarang peralatan kerja kokonya pun sudah habis terbakar, di saat sebenarnya pekerjaan itu masih harus dilanjutkan hari itu.
Saya percaya, Tuhan ada rencana yang indah pada Kurniawan. Tapi, saat itu, segalanya terlihat begitu gelap. Ibarat orang yang sudah jatuh, tertimpa tangga, dan tertiban balok pula.
Tapi, respon Kurniawan menghadapi semua ujian ini sungguh baik. Tidak. Lebih dari baik, ini luar biasa! Kurniawan meresponi semua musibah ini dengan begitu positif. Dia meresponi dengan keyakinan Tuhan masih menyertainya sampai detik ini, meskipun dia sedang mengalami musibah yang hebat.
“Mama dan yang lain gimana Kur?” saya bertanya lagi.
“Puji Tuhan semua selamat ko. Saya barusan disuruh jaga motor sih, tapi sudah saya kunci. Koko mau lihat rumah saya?”
“Ga pa pa Kur motornya ditinggal?”
“Ga pa pa ko, aman… Uda saya kunci.” kata Kurniawan. Senyumnya masih terus terukir. Dan saya pun diantar ke gang rumahnya. Saya tidak dapat melihat dengan jelas saat itu, karena saya hanya melihat dari jauh. Petugas pemadam masih sibuk bekerja. Akhirnya, Kurniawan membawa saya bertemu mama dan adiknya.
Seperti orang-orang yang lain, mama Kurniawan pun tidak menunjukkan tanda-tanda kesedihan. Hei, saya tahu mereka semua sedang sedih. Tapi, mereka memilih untuk tidak memfokuskan diri mereka pada kesedihan mereka, melainkan pada hal-hal yang dapat mereka selamatkan, keluarga mereka. Dan itulah yang luar biasa.
Mama Kurniawan bercerita, “Kur tadi hebat loh, dia ingetin saya buat lepasin gas. Biar ga meledak katanya. Oh iya ya… Saya saja tidak ingat. Lalu saya lepasin gas. Abis itu langsung mati lampu. Dan ga berapa lama api udah nyamber. Tapi tabung gas itu selamat.”
“Ah, tapi sama aja ko… Yang lain ga lepasin gasnya, jadi meledak juga dari rumah yang lain ko… Hehehe.” kata Kurniawan sambil tertawa, membuat orang-orang di sekitarnya juga tertawa kecil.
“Tadi ribut-ribut saya kira ada tawuran… Jadi saya diemin aja. Terus saya kaget Kurniawan bilang kebakaran. Jadi saya baru bangun, untung semuanya bisa bangun dan selamat akhirnya…” mama Kurniawan cerita lagi.
“Hmm, ada korban jiwa ga ya di kebakaran ini?” saya bertanya lagi, penasaran.
“Tadi hampir ada ko… Kakek-kakek yang uda agak tuli. Digedor-gedor tetep ga bangun. Akhirnya pintunya didobrak, dan dia baru bisa dibangunin. Wah, kalo ga, uda jadi daging panggang ko…” kata Kurniawan.
Wow! Di tengah kepanikan, mereka masih ingat pada seorang kakek-kakek tua yang hampir tuli, yang hidup sendirian di dalam rumahnya yang terkunci. Mereka bahkan mendobrak pintu untuk menyelamatkan sang kakek. Mereka tidak berpikir keselamatan diri mereka sendiri saja, tapi juga keselamatan orang di sekitar mereka.
Api boleh membakar barang-barang mereka. Tapi mereka tetap bergembira karena mereka berhasil menyelamatkan setiap nyawa. Api tidak dapat membakar cinta kasih yang ada di dalam hati mereka.
Ingin Membantu, Malah Dibantu
Mau tahu akhir kisah yang tragis namun luar biasa pagi itu? Kurniawan mengantarkan saya pulang dengan motornya. Oh, saya mau menangis di perjalanan.
Diantar pulang naik motor mungkin sebuah hal yang biasa. Diantar pulang naik motor oleh seorang anak bimbingan yang rumahnya baru saja terbakar habis. Rasanya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Saya tahu, Kurniawan akan berkata “Ah, koko lebay…” ketika membaca tulisan ini. Tidak Kur, ini tidak lebay. Sungguh itu yang koko rasakan…
Tidak sekali pun terdengar keluhan. Tidak sekali pun terlontar makian. Tidak sekali pun dia meminta bantuan. Kenyataannya, justru sayalah yang dibantu. Saya benar-benar tidak membantunya pagi itu. Dia membantu saya dengan mengantarkan saya pulang.
Saya teringat kata-kata Tuhan tadi pagi: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.” Ini benar sekali. Tuhan ingin menunjukkan kepada saya seorang anak bimbingan saya yang sungguh luar biasa.
Tentunya, karena dia memiliki Tuhan yang luar biasa juga, yang telah mengubahkan hidupnya. Dan saya sangat bersyukur untuk semua itu.
Sungguh banyak berkat yang saya dapatkan, sehingga saya harus memecah tulisan ini menjadi beberapa bagian. Siang itu, saya datang lagi menemui Kurniawan, kali ini dengan teman-teman yang lain. Tapi ini cerita yang lain lagi, dengan berkat yang berbeda lagi yang saya dapatkan.
Apa yang Saya Pelajari
Lalu, apa yang saya pelajari pagi itu? Saya belajar untuk tidak egois, dan lebih memperhatikan orang lain. Saya belajar untuk mengandalkan Tuhan dan bersyukur senantiasa. Saya belajar untuk meresponi hal-hal buruk yang terjadi dengan sikap yang positif.
Tuhan yang mengajarkan itu kepada saya. Melalui anak bimbingan saya yang luar biasa.
Terima kasih Tuhan. Terima kasih Kurniawan.
Percayalah, Tuhan menyertaimu sampai kepada akhir zaman.
Teruslah percaya kepada-Nya.
Charles Christian
P.S. Yeremia 29:11. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Bersambung…
Pahlawan Gempa Sichuan
Posted by Charles
Gempa skala 8.0 ritcher, terjadi di Sichuan, China, 12 Mei 2008, 2:28 PM. Pusat Gempa, Wenchuan, 90 mil dari Chengdu. Kekuatannya sekitar 500 kali bom atom, 30 kali lebih kuat dari gempa Kobe di Jepang, 1995. Tanggal 19 Mei, 32.000 orang meninggal, 20.000 hilang , dan 4,7 juta orang kehilangan rumah.
Jutaan orang kehilangan keluarga, teman, tempat tinggal, dan harta.
Dalam hitungan jam, masyarakat langsung bergerak. Antrian donor darah mencapai panjang 100 meter. Dalam sekejap, bank darah segera kehabisan tempat penyimpanan darah. Tim Medis bekerja dalam situasi ekstrim, bahkan membantu persalinan anak dalam gedung parkir. Jalanan penghubung kota Dujian (20 mil dari Chengdu) yang segera penuh dan macet, dipenuhi bukan oleh pengungsi, tapi bala bantuan dari luar. Dimulai dari 1.000 supir taksi dari Chengdu.
Wen Jiabao (66), perdana menteri RRC, berangkat naik pesawat setengah jam setelah kejadian, tiba 2 jam setelah gempa, dan menjadi pemimpin operasi penyelamatan sejak awal, bekerja di antara para penyelamat yang bekerja dalam kejaran waktu.
1.100 penerjun payung segera berangkat 2 jam setelah gempa. Dalam hujan dan badai serta awal tebal, mereka tetap terjun dari ketinggian 20.000 kaki, menuju gunung pedalaman, walaupun belum pasti di mana mereka bisa mendarat. Penerjun pertama adalah Colonel Li Zhenbo (51).
Karena kondisi jalan tertutup longsor, 600 prajurit dan tim medis, dipimpin Mayor Jendral Xia Guofu (57), Commander in Chief of Sichuan Military District, melewati gunung tanpa istirahat selama 21 jam, membawa peralatan dan bantuan makanan, menghadapi resiko longsor batu. Mereka adalah tim pertama yang tiba di pusat gempa.
Militer dan pekerja sipil, bekerja dalam kejaran waktu menyelamatkan orang-orang yang terkubur. Tidak bisa masuknya peralatan berat ke daerah pedalaman membuat mereka harus memindahkan batu dan beton dengan tangan.
Masyarakat berlomba-lomba menyumbang. Banyak konglomerat menyumbang jutaan yuan, namun sumbangan Xu Chao (60), tidak bisa disaingi. Dia seorang tuna wisma dari Nanjing, 1.000 mil dari lokasi gempa. Dia melihat berita dan menyumbang 5 yuan pada paginya. Dia beralasan bahwa orang-orang di sana lebih membutuhkan bantuan daripada dia karena mereka kehilangan segalanya dan terancam nyawanya. Sorenya, dia kembali dengan uang 100 yuan ($14 – Rp 1.200.000). Dia mengganti semua koin dan recehnya dengan selembar yuan di bank sebab tidak mau membuat sukarelawan kerepotan menghitung uangnya. Sumbangan dari seorang yang bahkan kesulitan untuk membeli makanan dalam satu hari.
Song Xinying (3), dikeluarkan dari reruntuhan bata setelah terkubur 2 hari, dalam kondisi kritis dan kehilangan sebelah kaki, namun selamat. Kedua orang tuanya saling memeluk dan berpegangan dan melindungi anak ini dengan badan mereka dari reruntuhan bata beton. Kedua orangtuanya meninggal.
Seorang anak laki-laki berumur 5 tahun diselamatkan dari reruntuhan setelah terkubur 24 jam. Tangan kirinya patah, namun dia tersenyum dan memberi hormat pada para penolongnya. Semangatnya menyentuh para saksi dan penyelamatnya.
Zhang Jiwang (11), membawa saudaranya, Zhang Han (3), berjalan 12 jam tanpa berhenti, keluar dari pusat rawan gempa.
Yuan Wentin (26), guru SD kelas 1. Ketika gempa terjadi, dia bergerak cepat menyelamatkan anak-anak didiknya keluar gedung. Bolak-balik beberapa kali, akhirnya guru ini kehabisan waktu dan bangunan roboh. Dalam usaha terakhirnya, dia melindungi beberapa anak-anak dari reruntuhan gedung. Banyak guru-guru yang melakukan hal yang sama.
Seorang anak SMP diselamatkan dari reruntuhan. Dia kehilangan kedua kaki dan kedua tangannya patah. Ketika anak ini melihat para penolongnya menangis, dia tersenyum dan berkata, “Tetap semangat! (be brave)”.
Bayi ini terkubur 24 jam, dan berhasil selamat tanpa luka. berumur sekitar 3-4 bulan. Ibunya berlutut telungkup dan melindungi anaknya di tanah dari jatuhan beton, sambil menyusui anaknya. Ibunya tidak berhasil selamat. Para penyelamat menemukan HP sang ibu dalam bungkus bayinya dan di situ tertulis SMS yang ditinggalkan ibunya: “Anakku, kalau kamu selamat, ingatlah bahwa ibu selalu mencintaimu selamanya…”
Ketika Kita Pergi Meninggalkan Dunia Ini…
Posted by Charles
Dua bulan yang lalu, seorang teman sekelas saya yang kuliah di NTU pergi meninggalkan dunia ini dengan tiba-tiba karena jatuh. Bulan lalu, giliran saudara mama saya yang pergi karena sakit yang merenggut tubuhnya di usianya yang ke-51. Hari ini, giliran saudara papa saya yang menghembuskan nafasnya yang terakhir, kembali karena penyakit, di usianya yang ke-23.
Saya seakan tersentak. Seorang demi seorang orang yang saya kenal meninggalkan dunia ini, dengan cara yang berbeda-beda, dengan usia yang berbeda-beda pula. Suka atau tidak, cepat atau lambat, saya pun akan mendapatkan giliran. Ketika saat itu terjadi, kira-kira apakah saya sudah siap? Apakah saya sudah cukup membahagiakan orang-orang di sekitar saya? Apakah orang-orang yang saya kenal akan menangisi kepergian saya? Pengaruh seperti apa yang telah saya buat di dunia ini? Apakah saya akan diingat orang karena hal positif yang saya buat, atau hal negatif yang saya lakukan sepanjang hidup ini? Kira-kira, sudah puaskah Tuhan melihat hidup saya?
Dua hari yang lalu, ketika saya naik bajaj, saya memberikan uang bayaran dua ribu Rupiah lebih daripada ongkos yang kami sepakati. Saya menghargai kerja keras dia, dan terutama karena satu hal, dia tidak merokok. Ketika begitu banyak abang bajaj yang merokok, dia mengambil keputusan untuk tidak ikut-ikutan, dan saya sangat menghargainya. Tapi, ada yang lebih penting daripada sekadar dua ribu Rupiah tersebut. Saya melihat dia tersenyum, dan berterima kasih. Oh, saya sungguh bahagia melihat senyum tersebut. Saya tidak menyangka saya akan mendapatkan senyumnya yang menurut saya jauh lebih berharga dari dua ribu Rupiah milik saya.
Kemarin, saya menonton sebuah acara di RCTI, “Uang Kaget”. Di sana, ada seorang ibu yang cacat, tetapi tetap bekerja menjadi buruh cuci dan tukang pijat dengan penghasilan Rp 200.000,- sebulan. Sungguh sangat memprihatinkan. Ketika dia didatangi RCTI jam 4 sore, dia belum makan dari pagi, karena ketidakmampuannya membeli makanan. Namun, meskipun ibu itu miskin, tetapi dia tidak pernah menyusahkan orang. Bayangkan betapa bahagianya dia ketika diberikan “uang kaget” 11 juta Rupiah. Ketika waktu belanja telah habis, ibu itu langsung melakukan sujud syukur di jalan. “Terima kasih Tuhan,” katanya. Bayangkanlah betapa bahagianya kita jika kita dapat menolong orang-orang yang membutuhkan kita.
Tadi sore, saya mengunjungi rumah saudara sepupu saya yang masih bayi. Saat itu, saya melihat betapa indahnya senyum seorang bayi, begitu damai dan polos. Senyum yang tulus. Ketika saya bermain “ciluk ba” dengannya, bagaimana dia bisa tertawa dengan tulus. Bagaimana matanya menyipit, mulutnya mengembang, dengan suara “ehehe” yang keluar dari mulutnya. Sungguh indah melihat senyum yang tulus.
Selama hidup ini, seberapa banyak senyum yang telah saya berikan kepada orang lain. Sebuah pepatah Irlandia berkata “Tuhan sudah memberikan kita sebuah wajah, senyum harus kita lakukan sendiri.” Jika senyum itu begitu membahagiakan, mengapa saya harus tidak tersenyum? Dan, ketika saya pergi meninggalkan dunia ini, berapa banyak senyum yang telah saya kembangkan di wajah orang-orang? Apakah Tuhan akan tersenyum ketika saya bertemu dengan-Nya nanti?
Tuhan hanya memberikan saya hidup satu kali. Jika saya masih hidup saat ini, itu kesempatan yang Tuhan berikan. Saya akan manfaatkan dengan baik. Saya tidak akan menunda-nunda lagi. Setiap kali saya akan menunda, saya akan kembali membaca tulisan saya ini. Ini adalah keputusan saya, tujuan saya hidup di dunia ini, untuk membahagiakan Tuhan dan orang-orang yang juga hidup di dunia ini, sejauh mungkin yang saya dapat lakukan. Saya harus bersemangat menghadapi hidup ini, karena hidup ini adalah kesempatan saya membahagiakan orang lain. Akan saya hargai hidup ini, mumpung belum terlambat…
Terima kasih Tuhan.
Ketika kita datang ke dunia ini, kita menangis dan orang di sekitar kita tertawa bahagia.
Ketika kita pergi meninggalkan dunia ini, sebaliknya yang terjadi, orang di sekitar kita menangis dan kita tertawa bahagia.
Jika suatu saat kamu pergi meninggalkan dunia ini, apakah kamu akan bahagia bertemu Allah di Sorga, atau menangis di tengah api?
Jika suatu saat kamu pergi meninggalkan dunia ini, apakah kamu ingin orang-orang menangisi kepergianmu, atau orang-orang tertawa karena kamu telah pergi?
Jika suatu saat kamu pergi meninggalkan dunia ini, apa yang kamu ingin untuk orang-orang ingat tentangmu?
Lakukanlah hal tersebut, sekarang juga, selagi Tuhan masih memberikanmu waktu untuk hidup di dunia ini, selagi semuanya masih belum terlambat…

Bahaya Golput & Bahaya Mencontreng (Sembarangan)
Posted by Charles
Tanggal 9 April nanti, akan diadakan PEMILU (Pemilihan Umum). Di saat banyak orang sudah menetapkan pilihannya, ternyata banyak orang yang masih bingung, dan ada sebagian yang cenderung menjadi GOLPUT (golongan putih) alias tidak menggunakan hak pilihnya. Sebagian orang berpikir, dengan menjadi GOLPUT adalah langkah yang terbaik, daripada salah memilih. Ada pula yang memilih untuk menjadi GOLPUT karena tidak ada satu partai pun yang benar-benar pas di hatinya. Apakah benar menjadi GOLPUT adalah langkah terbaik? Sebelum saya melanjutkan, saya akan menceritakan sebuah ilustrasi.
Anda dihadapkan pada sebuah meja pertemuan. Di atas meja tersebut terdapat dua buah gelas. Sekilas, kedua gelas tersebut tampak sama. Isinya berwarna hitam kemerahan, dan baunya seperti bau anggur. Keduanya tidak dapat dibedakan secara kasat mata, tetapi ada satu hal yang sangat membedakan kedua gelas tersebut. Salah satu gelas tersebut berisi “anggur masam”, dan yang satunya lagi berisi “racun”!
Anda harus meminum salah satu dari kedua gelas tersebut. Anda diberikan kesempatan untuk memilih gelas yang akan Anda minum. Jika Anda tidak menggunakan kesempatan tersebut, orang lain akan memilihkan sebuah gelas secara acak untuk Anda minum. Anda diperbolehkan menggunakan alat-alat untuk mendeteksi racun, tetapi Anda harus mencarinya sendiri. Anda hanya diberikan waktu 2 jam untuk membuat pilihan, atau orang lain yang akan memilihkannya untuk Anda. Anda boleh saja memilih secara asal-asalan, Anda boleh saja membiarkan orang lain yang memilihkannya untuk Anda, tapi jangan menyesal kalau ternyata gelas yang Anda minum berisi racun.
Ilustrasi di atas mengilustrasikan PEMILU yang akan diadakan tanggal 9 April nanti.
Gelas-gelas tersebut melambangkan partai-partai yang ada saat ini. Mungkin ada yang berisi anggur manis, mungkin ada yang berisi anggur masam, dan tidak tertutup kemungkinan ada yang berisi racun.
Kesempatan Anda untuk memilih gelas tersebut melambangkan hak pilih Anda dalam PEMILU 2009 ini. Anda boleh tidak memanfaatkannya, memanfaatkannya dengan asal-asalan, atau memanfaatkannya dengan bijaksana. Namun, setiap pilihan Anda akan mempengaruhi hasil PEMILU ini. Mungkin ada yang berpikir, apalah artinya 1 suara… Ketika 10 juta rakyat Indonesia berpikir “apalah artinya 1 suara”, itu sudah berarti “10 juta suara”, bukan “1 suara lagi”.
Anda bisa memilih untuk GOLPUT pada PEMILU ini dan membiarkan orang lain yang memilihkannya untuk Anda. Tapi, jangan salahkan kalau ternyata yang diberikan pada Anda adalah gelas berisi racun…
Anda bisa memilih untuk menggunakan hak suara Anda untuk memilih partai dengan sembarangan, tanpa Anda selidiki terlebih dahulu apakah partai tersebut “beracun” atau tidak, tapi kembali Anda yang akan menanggung akibatnya nanti.
Menurut saya, GOLPUT hanya boleh Anda lakukan jika:
- Anda sudah tahu semua calon-calon pilihan/partai, dan Anda yakin (setidaknya dalam pikiran Anda) tidak ada satu pun dari mereka yang jika terpilih akan membawa Indonesia ke arah yang lebih buruk. Ketika Anda menemukan satu partai saja yang mungkin menjadi “racun” bagi Indonesia, Anda seharusnya tidak GOLPUT.
- Tidak ada satu pun dari mereka yang mungkin membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dibanding partai lainnya. Ketika Anda meyakini ada partai yang mungkin lebih baik dari partai lainnya, saatnya Anda untuk memilih… Tapi, jangan lupakan untuk tes terlebih dahulu. Mata dapat ditipu, karena itu Anda membutuhkan alat tes racun untuk meyakinkan Anda. Jika Anda tidak bisa mengetes, tanyakan pada orang yang Anda percayai dan yang cermat yang telah mengetesnya terlebih dahulu. Membiarkan orang yang kita percayai untuk memilihkan gelas untuk kita masih lebih baik daripada membiarkan orang yang tidak kita kenal untuk memilihkannya.
Jadi, kesimpulannya GOLPUT bisa jadi berbahaya, dan sama berbahayanya dengan mencontreng tanpa mengetahui apa yang dicontrengnya. Ada kalanya tidak ada pilihan yang benar-benar baik, bagaikan tidak ada anggur manis, namun anggur masam masih lebih baik daripada racun.
Satu suara Anda dapat mengubah Indonesia. Anda ingin Indonesia menjadi lebih baik? Gunakan hak pilih Anda dengan sebaik-baiknya dan bersiaplah mencontreng pilihan kita di PEMILU 9 April nanti.

Gadis Buta Berumur 5 Tahun yang Luar Biasa
Posted by Charles
Yoo Ye Eun. Seorang gadis buta berusia 5 tahun yang luar biasa. Meskipun dia buta sejak lahir, dan ditinggalkan orang tuanya karena kebutaannya, dan diadopsi oleh sepasang suami-istri yang tidak bisa mempunyai anak, dia diberikan karunia yang luar biasa oleh Tuhan. Dia dapat memainkan lagu dengan piano hanya dengan sekali saja mendengarkannya.
Pada usia 5 tahun, dengan motivasi “ingin bermain piano untuk semua orang”, dia ikut sebuah acara pencari bakat Korea, Star King. Berikut adalah cuplikan penampilannya yang luar biasa dan mengharukan. Cobalah tonton sampai selesai, dan Anda akan merasakan sesuatu yang luar biasa. I even cried when watching this clip.
Tuhan memberikan karunia yang berbeda-beda kepada semua orang. Tuhan baik kepada semua orang. Masalahnya hanyalah bagaimana orang tersebut dapat melihat kebaikan Tuhan, melihat apa yang dimilikinya, bukan yang tidak dimilikinya, dan menggunakan yang dimilikinya tersebut untuk memuliakan Tuhan, penciptanya.

Ryan, Psikopat Pembunuh Berdarah Dingin
Posted by Charles
Sebulan terakhir ini masyarakat Indonesia dikejutkan dengan tertangkapnya seorang pembunuh bernama Verry Idham Henryansah alias Ryan. Sejauh yang diketahui saat ini, telah ditemukan 11 korban pembunuhan yang dilakukan Ryan dengan berbagai motif (dari masalah asmara hingga masalah ekonomi). Sebagian jenazah korban ditemukan setelah dilakukan penggalian di halaman belakang rumah Ryan. Selain itu, ada juga korban yang dimutilasi oleh Ryan. Korban-korban tersebut dibunuh oleh Ryan sepanjang tahun 2006 hingga 2008.
Sebelumnya, tidak ada yang menyangka Ryan adalah seorang pembunuh yang sudah menghabisi banyak korban. Namun, itulah kenyataannya. Setelah itu, muncul anggapan bahwa Ryan adalah seorang psikopat. Saya jadi ingat tokoh Joker dalam film Batman: The Dark Knight. Keduanya memiliki kesamaan, yaitu kegemaran membunuh. Apakah psikopat selalu identik dengan pembunuh?
~ngomong2, kok sepertinya akhir-akhir ini banyak kebakaran besar di Jakarta ya? Duh…
~sudah lama ga ngeblog, tulisannya jadi aneh…
Kenapa saya jadi jarang ngeblog? Kapan2 deh ya saya cerita…

Pengamen Aniaya Anak Di Kereta
Posted by Charles
Kisah berawal ketika saya naik kereta ekonomi tujuan Jakarta sore ini. Ketika kereta berhenti dan saya mau masuk ke dalam gerbong delapan, tiba-tiba terdengar suara-suara ribut dari gerbong sebelah. Awalnya saya berpikir ada pencopetan atau semacamnya. Saya pun menambah kewaspadaan dan masuk ke dalam gerbong.
Saya dikagetkan dengan datangnya seorang ibu dari gerbong sebelah yang menangis sambil menggendong seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun yang hidungnya berlumuran darah. Saya kembali bertanya-tanya, apakah yang terjadi… Apakah terjadi kecelakaan dengan anak tersebut. Ibu itu membersihkan luka yang ada di wajah sang anak dan berkata, “Ini bukan anak saya… Tapi saya kasihan dengan anak ini.” Beberapa detik kemudian, saya baru tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Dari gerbong sebelah muncul lagi seorang pengamen remaja cewek dengan membawa sebuah mini compo. Penumpang sekitar terlihat sangat emosi dengan pengamen tersebut. Ternyata, dari yang saya dengar dari penumpang-penumpang lain, anak kecil yang digendong ibu itu adalah anak yang dibawa sang pengamen untuk mengamen di kereta. Dan di gerbong sebelah tadi, pengamen itu baru saja menganiaya anak kecil itu dengan menamparinya lima kali sampai hidungnya berdarah-darah. Alasannya? Menurut yang saya dengar, karena sang anak sedang mengantuk sehingga menolak mengamen. Sungguh sebuah tindakan yang memprihatinkan.
Penumpang pun banyak yang emosi. Makian-makian pun terdengar. Ada pula penumpang yang berusaha menasihati. “Dik, apa yang kamu lakukan? Kamu cari uang untuk siapa??? Untuk dia kan??”, “Di mana hatimu?”, “Anak itu lagi ngantuk… Kamu ga boleh begitu.”. Tapi si pengamen bukannya menyesal malah memasang tampang nyolot dan memaki balik orang-orang yang memberikan nasihat dengan kata-kata yang tak pantas seperti t*i.
“Kalian ga tau apa-apa, mony*t! Anak ini punya gua, kalian jangan ikut campur! Kalau kalian ada di posisi gua, kalian akan mengerti…”
Mendengar itu, penumpang pun semakin emosi. Ditambah lagi ketika si pengamen merebut anak itu dari si ibu dan memaki anak itu, “Mony*t!!! Ini semua salah lu…” Si anak hanya bisa menangis…
“Sudah!!! Lapor polisi saja… Tangkap saja dia.” Penumpang yang semakin emosi pun memanggil petugas kereta. Ada juga yang menelepon polisi. “Turun!! Obati anaknya…”, “Bawa anaknya ke panti saja, daripada dia dianiaya terus”.
Petugas pun datang. Hening sejenak. Kemudian pengamen itu diturunkan dengan si anak beserta dengan beberapa penumpang yang mau “menjaga anak tersebut”.
Sungguh, kejadian yang sangat memilukan… Apapun alasannya, menganiaya anak untuk bekerja tidak dapat dibenarkan. Didikan orang tua sangat mempengaruhi tingkah laku anak, dan tampaknya si pengamen “berwajah bengis” itu telah salah (atau malah tidak) dididik. Semoga tidak ada lagi kejadian seperti ini…

Fakta (Mengejutkan) Tentang Rokok dan Perokok
Posted by Charles
Perhatikanlah fakta-fakta berikut tentang rokok dan perokok di Indonesia dan dunia:
- Sejauh ini, tembakau berada pada peringkat utama penyebab kematian yang dapat dicegah di dunia. Tembakau menyebabkan satu dari 10 kematian orang dewasa di seluruh dunia, dan mengakibatkan 5,4 juta kematian tahun 2006. Ini berarti rata-rata satu kematian setiap 6,5 detik. Kematian pada tahun 2020 akan mendekati dua kali jumlah kematian saat ini jika kebiasaan konsumsi rokok saat ini terus berlanjut. [1]
- Diperkirakan, 900 juta (84 persen) perokok sedunia hidup di negara-negara berkembang atau transisi ekonomi termasuk di Indonesia. The Tobacco Atlas mencatat, ada lebih dari 10 juta batang rokok diisap setiap menit, tiap hari, di seluruh dunia oleh satu miliar laki-laki, dan 250 juta perempuan. Sebanyak 50 persen total konsumsi rokok dunia dimiliki China, Amerika Serikat, Rusia, Jepang dan Indonesia. Bila kondisi ini berlanjut, jumlah total rokok yang dihisap tiap tahun adalah 9.000 triliun rokok pada tahun 2025. [1]
- Di Asia, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, Indonesia menempati urutan ketiga terbanyak jumlah perokok yang mencapai 146.860.000 jiwa. Namun, sampai saat ini Indonesia belum mempunyai Peraturan Perundangan untuk melarang anak merokok. Akibat tidak adanya aturan yang tegas, dalam penelitian di empat kota yaitu Bandung, Padang, Yogyakarta dan Malang pada tahun 2004, prevalensi perokok usia 5-9 tahun meningkat drastis dari 0,6 persen (tahun 1995) jadi 2,8 persen (2004). [1]
- Peningkatan prevalensi merokok tertinggi berada pada interval usia 15-19 tahun dari 13,7 persen jadi 24,2 persen atau naik 77 persen dari tahun 1995. Menurut Survei Global Tembakau di Kalangan Remaja pada 1.490 murid SMP di Jakarta tahun 1999, terdapat 46,7 persen siswa yang pernah merokok dan 19 persen di antaranya mencoba sebelum usia 10 tahun. “Remaja umumnya mulai merokok di usia remaja awal atau SMP,” kata psikolog dari Fakultas Psikologi UI Dharmayati Utoyo Lubis. [1]
- Sebanyak 84,8 juta jiwa perokok di Indonesia berpenghasilan kurang dari Rp 20 ribu per hari–upah minimum regional untuk Jakarta sekitar Rp 38 ribu per hari. [2]
- Perokok di Indonesia 70 persen diantaranya berasal dari kalangan keluarga miskin. [3]
- 12,9 persen budget keluarga miskin untuk rokok dan untuk orang kaya hanya sembilan persen. [3]
- Mengutip dana Survei Ekonomi dan Kesehatan Nasional (Susenas), konsumsi rumah tangga miskin untuk tembakau di Indonesia menduduki ranking kedua (12,43 persen) setelah konsumsi beras (19.30 persen). “Ini aneh tatkala masyarakat kian prihatin karena harga bahan pokok naik, justru konsumen rokok kian banyak,” [3]
- Orang miskin di Indonesia mengalokasikan uangnya untuk rokok pada urutan kedua setelah membeli beras. Mengeluarkan uangnya untuk rokok enam kali lebih penting dari pendidikan dan kesehatan. [3]
- Pemilik perusahaan rokok PT Djarum, R. Budi Hartono, termasuk dalam 10 orang terkaya se-Asia Tenggara versi Majalah Forbes. Ia menempati posisi kesepuluh dengan total harta US$ 2,3 miliar, dalam daftar yang dikeluarkan Kamis (8/9/2005). [4]
- Sekitar 50% penderita kanker paru tidak mengetahui bahwa asap rokok merupakan penyebab penyakitnya. [5]
- Dari 12% anak-anak SD yang sudah diteliti pernah merasakan merokok dengan coba-coba. Kurang lebih setengahnya meneruskan kebiasaan merokok ini. [5]
- Besaran cukai rokok di Indonesia dinilai masih terlalu rendah. Saat ini, besarnya cukai rokok 37 persen dari harga rokok. Bandingkan dengan India (72 persen), Thailand (63 persen), Jepang (61 persen). [6]
- Sebanyak 1.172 orang di Indonesia meninggal setiap hari karena tembakau. [7]
- 100 persen pecandu narkoba merupakan perokok. [8]
- Perda DKI Jakarta No 2 Tahun 2005, Pasal 13 ayat 1: Tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja dan tempat yang secara spesifik sebagai tempat proses belajar mengajar, arena kegiatan anak, tempat ibadah dan angkutan umum dinyatakan sebagai kawasan dilarang merokok. — Pelanggarnya diancam dengan sanksi pidana berupa denda maksimum Rp 50 juta, atau 6 bulan kurungan. Kenyataannya, Perda ini seperti dianggap tidak ada oleh perokok, dan pemerintah pun tidak tegas dalam menjalankannya.
Hmm, seandainya pemerintah dapat tegas menjalankan Perda di atas, mungkin hutang pemerintah akan langsung lunas dibayar para perokok…
Selain itu tentunya akan mengurangi pencemaran udara, membuat masyarakat lebih sehat, mengurangi angka kemiskinan, dan mengurangi angka kriminalitas.
Di antara 16 fakta di atas, fakta mana yang paling mengejutkan untuk Anda? Kalau untuk saya, fakta nomor 5 yang paling mengejutkan. Saya jadi ingat kata-kata: tidak ada perokok yang terlalu miskin untuk membeli rokok. Tampaknya kata-kata itu ada benarnya. Mereka lebih memilih rokok dibandingkan kebutuhan pokok mereka lainnya. Ironis…

A Touching Donation
Posted by Charles
Hari ini, saat saya sedang melihat-lihat milis yang masuk ke e-mail saya, saya menemukan sebuah kisah berikut…
Kasih adalah Tindakan, Bukan cuma Diucapkan
Ia berjalan di depan meja ‘donation’. Kami berpikir: “dia akan lewat…”
“Saya ingin menyumbang!”
Ia menuang koin dari mangkuknya…
Para petugas mengulurkan tangan ingin membantu,
tapi dia ingin melakukannya dengan tangannya sendiri
Kami semua tak bisa berkata-kata,
Ia memberikan semua yang diperolehnya
kepada Lembaga Amal dengan usahanya sendiri.
“Saya masih punya uang.”
Ia berkata dengan antusias sambil merogoh saku celananya.
Ia mengambil beberapa lembar uang sepuluh dollar
Dan… menyumbang!
Kisah Para Rasul 20:35
Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.”

Pengemis Pun Merokok!
Posted by Charles
Bulan lalu, saya pernah menulis sebuah artikel tentang rokok: “Budaya Merokok: Sebuah Ironi“. Pada postingan tersebut, saya menyebutkan sebuah fakta yang sempat mengejutkan saya, yaitu seorang tokoh yang saya kagumi di kampus saya, yang saya jadikan role model, ternyata adalah seorang perokok. Ternyata, keterkejutan saya tidak berhenti sampai di sana. Selama sebulan ini, saya menemukan sendiri beberapa fakta tentang perokok, dan fakta-fakta itu membuat saya terkejut… :shocked:
Mengemis tapi Merokok!?
Ini adalah sebuah kisah nyata yang membuat saya tidak habis pikir. Suatu hari di pintu sebuah stasiun di Jakarta, saya melihat seorang bapak yang duduk di emperan pintu. Bajunya kumal dan dia menyodorkan suatu kantong ke setiap orang yang lewat, berharap ada orang yang berbelas kasihan memberinya sepeser uang… Orang yang lewat di sana, mungkin akan berbelas kasihan melihat rupanya, tapi pasti akan langsung berubah pikiran ketika melihat benda yang dia pegang di tangan kanannya. Apa yang dia pegang? Rokok!
Hebat sekali Indonesia ini… Pengemis aja merokok. Mungkinkah rokok itu yang membuatnya mengemis? Saya tidak tahu… Tapi yang pasti, dia mengeluarkan uang untuk membeli rokok itu (atau ada yang memberikannya rokok gratis!?). Dan dari mana uang itu? Itu adalah uang hasil belas kasihan orang kepadanya (saya asumsikan dia tidak pengemis penipu yang mengemis padahal dirinya berkecukupan). Rokok sudah menjadi kebutuhan pokok pengemis tersebut. Kasihan sekali… Mengemis untuk merokok…
Nenek-nenek Merokok
Nah, ini saya temukan beberapa ratus meter dari stasiun yang saya ceritakan di atas. Saya menemukan seorang nenek dengan wajah yang tidak ramah sedang duduk di emperan jalan, sendirian… Sejauh yang saya lihat, dia tidak mengemis. Tapi, penampilannya menunjukkan kalau dia hidup berkekurangan (sekali lagi saya asumsikan nenek itu tidak kurang kerjaan saja duduk di emperan jalan dengan pakaian seperti itu).
Apa yang sedang dilakukan nenek itu, orang yang sudah tua renta itu? Dia sedang MEROKOK! Oh, no… Ketika saya melihat dia sedang menghisap batangan rokok yang sudah sangat kecil, saya sangat terkejut! Seorang nenek di pinggir jalan pun merokok… Ada apa dengan negeri ini!?
Di kampus…
Setelah saya mengamat-amati, jumlah orang yang merokok di kantin fakultas saya semakin bertambah. Sepertinya mereka semakin bebas merokok di kantin yang dahulu terkenal bebas dari asap rokok ini. Tapi, keadaan di fakultas saya masih jauh lebih baik jika dibandingkan dengan fakultas tetangga saya. Di salah satu fakultas tetangga saya, kantinnya terkenal dengan sebutan Kansas (dahulu, kepanjangannya kantin sastra, sekarang… kantin asap!). Tengoklah pula fakultas tetangga saya yang lain. Suatu malam, saya melihat begitu banyaknya puntung rokok bertebaran di kantin itu, yang ukurannya sangat kecil, mungkin sekitar 10 meter x 10 meter. Penasaran, saya pun mencoba menghitung jumlah bungkus rokok dan puntung rokok yang ada di sana. Hasilnya sangat mengejutkan saya! Di kantin yang kecil itu, saya menemukan 16 bungkus rokok dan sekitar 250 puntung rokok! Jumlah itu tidak termasuk dengan yang ada di tempat sampah, alias hanya yang bertebaran di lantai dan meja. Dan, semua puntung-puntung itu selalu dibersihkan setiap pagi. Artinya, jumlah itu adalah konsumsi sehari mereka yang duduk di kantin itu! Mau tahu itu kantin fakultas apa? Fakultas Hukum!
Ada yang mengatakan, sekarang mahasiswa, besok menjadi pemimpin. Bagaimana mungkin pemimpin yang di masa depan akan menegakkan keadilan, mengkampanyekan undang-undang dilarang merokok, ternyata adalah seorang perokok? Saya membayangkan begitu banyaknya penerus generasi bangsa ini yang menjadi budak rokok.
Sebenarnya masih ada fakta-fakta lain tentang perokok yang mengejutkan saya… Tapi saya rasa cukup segini yang saya share. Memperhatikan perilaku perokok, saya menyimpulkan beberapa hal:
- Perokok biasanya berteman baik dengan sesama perokok. Ini memang tidak mutlak, tapi saya melihat biasanya perokok menggerombol dengan sesama perokok. Ketika makan di kantin pun, mereka selalu bersama duduk di satu meja dan merokok bersama. Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik. Tidak jarang orang yang mencoba rokok karena ajakan temannya, yang sebenarnya itu adalah menjerumuskannya! Sekali masuk ke dunia rokok, akan sangat sulit melepaskannya…
- Perokok cenderung egois. Yang saya maksud di sini, mereka biasanya merokok di tempat-tempat umum tanpa memperhatikan efeknya untuk orang-orang di sekitarnya (yang tidak merokok). “Yang penting gw puas merokok, yang lain mau sakit sih bodo amat…“
- Perokok cenderung melampiaskan masalah dengan merokok. Bete dikit, merokok… Pusing dikit, merokok… Ada masalah, merokok… Stress, merokok… Dan yang saya heran, sehabis makan biasanya mereka merokok. Rokok itu sudah seperti dessert aja!?
- Perokok cenderung untuk menjadi perokok seumur hidup. Mereka menjadi budak rokok dan tidak menyadarinya. Dibutuhkan kemauan yang sangat keras untuk berhenti merokok (saya sendiri menemukan orang yang bisa berhenti merokok dan saya salut kepadanya!). Sayangnya, sedikit orang yang menyadari pengaruh buruk rokok (yang sangat banyak itu…).
Sudah ah, panjang banget nih postingan… hehe. Buat para perokok, andaikan kalian ditodong. Terus penodongnya ngomong gini, “Stop merokok SEKARANG atau nyawa melayang SEKARANG“. Mana yang kalian pilih? ![]()

Pengalaman (Hampir) Dicopet
Posted by Charles
Kejadian ini terjadi tanggal 19 Januari 2008, di sebuah angkot di Jakarta Utara…
Siang itu, sepulang saya menghadiri pemberkatan nikah seorang teman gereja saya, saya naik sebuah angkot untuk kembali ke rumah tercinta… Dari gereja saya, saya perlu naik angkot dua kali untuk sampai ke rumah. Perjalanan dengan angkot pertama berlangsung dengan lancar… Lalu, saya berpindah ke angkot kedua, tanpa menyadari adanya (kumpulan) pencopet yang ada di dalam angkot tersebut…
Saat saya naik, angkot ini sedang ngetem (baca: berhenti buat nyari penumpang). Saya naik ke angkot tersebut, dan melihat ada (kalau tidak salah) 4 orang bapak-bapak. 2 bapak duduk di seberang saya, salah satunya mengenakan jaket hitam, dan 2 bapak duduk di sebelah kanan saya. Saya tidak menaruh curiga sama sekali, dan saya tidak melihat lirikan mata mereka yang (mungkin) sedang menatap ke kantong celana saya dan mereka-reka isinya (yang isi sebenarnya adalah HP saya).
Angkot pun berjalan… Tiba-tiba, seorang bapak berjaket hitam di seberang saya mengajak saya ngomong…
Bapak Jaket Hitam (B): Anak muda jaman sekarang uda banyak yang ga bener ya, dik…
Saya (S): *kaget* eh, kenapa pak?
B: Iya, sekarang cewek-cewek ABG uda banyak yang maen ke diskotik, dugem, dll…
S: *mengiyakan* ho oh…
B: Bukan cuma dugem aja, uda banyak juga tuh yang pake narkoba
S: Hmm… *dalam hati bertanya-tanya, tuh bapak kenapa ngomong sama saya…*
B: Sekarang anak sekolah juga uda banyak yang pake narkoba. Kalo yang pake narkoba itu ga bisa ditutup-tutupin…
S: Oh… Ngomong2 bapak siapa ya? *penasaran*
B: Saya suka ngadain penyuluhan di sekolah-sekolah…
S: *oh, ternyata penyuluh toh…* Penyuluh narkoba, pak?
B: Iya… Kamu sekolah di mana dik?
S: Saya uda kuliah, pak…
B: Oh, kuliah di mana?
S: Di UI, pak…
B: Di sana pernah ada penyuluhan narkoba gitu ga?
S: *inget2* hmm, kayanya ngga deh pak…
B: Oh gitu ya… Anak sekolah sekarang pinter-pinter… Pada sembunyi2 pake narkoba…
S: Iya ya, pak…?
B: Iya… Temen kamu ada yang pake?
S: *agak kaget* Setahu saya sih nggak pak…
B: Ah, mereka pada ga ngaku aja… Ngomong2 kamu pake?
S: nggak, pak…
B: Kalo yang pake pasti ketauan… Kamu beneran ga pake?
S: beneran nggak kok, pak…
Tiba-tiba bapak berjaket hitam itu langsung menarik tangan saya dan memijat-mijatnya…
S: *kaget* apa-apaan nih pak?
B: sakit ga? kalo kamu pake narkoba, pasti sakit dipijat-pijat gini…
S: *lebih tenang, saya hampir percaya dia lagi ngetes saya pemakai atau bukan* nggak kok, pak…
B: bener ga sakit? *mengencangkan pijatannya*
S: nggak kok pak…
Lalu, bapak tersebut berpindah memijat-mijat kaki saya, naik-turun… saya yang sedang memakai celana panjang langsung bergetar-getar…
B: Sakit ga?
S: *nih bapak penyuluh atau tukang pijat sih?* nggak sakit, pak… *mulai gak nyaman*
Waktu itu saya berpikir si bapak cuma mau tahu saya pemakai atau tidak (kalau saya pemakai, saya akan sakit kalau dipijat)… Akhirnya si bapak menghentikan pijatannya.
B: Yah, kalo kamu ga sakit, berarti bener kamu bukan pemakai…
S: … *akhirnya… aneh banget nih bapak*
Lalu si bapak menyetop angkot tersebut, hendak turun… Saat itulah saya memeriksa kantong saya, dan menyadari kalau kantong saya sudah kosong… Alias, handphone saya yang seharusnya ada di dalamnya telah lenyap. Saat itu, saya langsung kaget luar biasa… Bagaimana tidak, saya baru beberapa bulan sebelumnya kehilangan handphone, masakan kehilangan handphone lagi… Saya baru menyadari kalau si bapak sedang mencopet saya melalui pijatannya tadi.
Untunglah saya menyadarinya sebelum bapak tersebut turun… Angkot sudah berhenti, dan bapak itu sudah mau turun. Lalu saya menghalangi bapak tersebut agar tidak turun. Saya merasa yakin kalau handphone saya ada pada bapak itu (mungkin di dalam jaket hitamnya).
S: Pak, handphone saya mana pak?
B: Handphone yang mana?
S: Pasti bapak yang mengambil handphone saya…
B: Jangan nuduh sembarangan dong… Jatuh kali?
S: *panik* nggak pak, nggak! Pasti bapak yang ngambil…
B: Saya ada urusan penting nih… Harus turun sekarang…
Penumpang lain (P): Iya, jatuh kali dik handphonenya…
S: Pokoknya sebelum HP saya ketemu, bapak ga boleh turun…
Sang sopir angkot hanya diam saja melihat kejadian itu. Angkot sudah berhenti… Dan saya pun tetap berkeras untuk menghalangi bapak itu turun…
B: Jatuh kali dik, handphone-nya… coba dicari lagi…
S: Mana pak? Jatuh di mana?
P: Coba dicari dulu di bawah bangku dik… Ada ga?
P: Iya, jatuh kali dik?
B: Kamu cari dulu deh… Saya bener-bener harus turun sekarang…
S: Ga bisa pak, HP saya pasti masih ada sama bapak…
B: Pasti jatuh tuh, handphonenya… Saya ga tau apa-apa kok.
P: Tuh, handphone-nya dik… Jatuh…
S: *antara lega dan curiga* Mana pak?
B: Iya tuh, jatuh… *semakin memaksa turun*
S: Di mana pak?
P: Itu bukan HP kamu? *menunjuk ke senderan bangku di belakang saya*
Saya membalikkan tubuh saya, dan saya melihat handphone saya tergeletak di celah bangku, seperti terjatuh dari kantong celana saya. *Puji Tuhan, HP saya masih ada…*
S: Iya pak, ini HP saya…
B: Nah, uda ketemu kan HP-nya? Udah saya mau turun…
Karena HP saya sudah ketemu, saya membiarkan bapak tersebut turun… Sisa perjalanan, saya jadi berpikir lagi: apakah si bapak tadi benar-benar mencopet saya atau saya yang ceroboh…
S: Terima kasih pak… Uda nemuin HP saya…
P: Iya… Lain kali jangan asal nuduh, dik… Kesian tuh si bapak tadi mau turun jadi ga bisa…
S: Iya maaf pak… Tadi saya panik… *jadi merasa tidak enak*
P: Iya, lain kali cek dulu ke sekeliling kamu… Jangan ngalangin orang turun…
S: Iya pak… Terima kasih untuk nasihatnya.
Akhirnya saya turun dari angkot tersebut. Berbagai perasaan berkecimuk di hati saya. Di satu sisi, saya merasa mungkin si bapak tadi adalah pencopet… Tapi saya tidak ingin menuduh, jadi saya menganggap kalau saya hanya ceroboh saja tadi… Dan saya sudah salah dengan menghalangi bapak tersebut turun.
Akhirnya, rasa penasaran saya atas kejadian tersebut dijawab oleh mbah Google… Ketika saya search di google, saya menemukan modus pencopetan yang sama persis seperti skenario yang saya alami tadi. Jadi intinya, pencopetnya tidak hanya satu orang (tapi ada beberapa orang). Satu orang akan mengalihkan perhatian (entah dengan memijat-mijat, berlagak sakit, atau berlagak muntah) untuk membuat korbannya lengah, satu orang yang lain mengambil barang berharga ketika korban sedang lengah. Saya pun merasa yakin kalau bapak-bapak tadi adalah pencopet…
Saya membayangkan apa yang terjadi kalau saya menyadari HP saya hilang setelah bapak itu turun. Saya pasti akan ikut turun untuk mengejar bapak itu… Padahal, HP saya masih ada di tangan komplotannya yang masih ada di dalam angkot. Sebuah modus pencopetan yang cerdas… Dan hampir saja saya menjadi korbannya.
Yah, saat ini semakin sedikit orang yang bisa dipercaya… Sejak saat itu, saya langsung memasang posisi siaga satu kalau ada orang tak dikenal yang mengajak saya ngomong. Saya pun lebih berhati-hati agar tidak menjadi korban modus serupa… Semoga saya dan para pembaca bisa lebih berhati-hati lagi mengarungi kehidupan yang keras ini. Ingat, kriminalitas terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena kesempatan… Waspadalah! Waspadalah! ![]()

Jokes or Reality!?
Posted by Charles
Jokes or Reality!? #1: Nice Reply (buat yang belum lihat, lihat di sini).
Jokes or Reality!? #2:
Jokes or Reality!? #3:
Jokes or Reality!? #4:
Jokes or Reality!? #5:
So, are these pictures show jokes or reality? ![]()

Bingung-Bingung Definisi Pornografi
Posted by Charles
Tulisan ini saya buat sehubungan dengan rencana pemerintah Indonesia untuk mem-block situs-situs porno di negeri tercinta ini.
Pemerintah Indonesia akan mem-block situs-situs pornografi. Berita ini begitu maraknya akhir-akhir ini sehingga saya yakin Anda dapat menemukan beritanya tanpa harus saya berikan link-nya. Rencana ini banyak menuai pro dan kontra. Pro dari orang yang telah jera melihat Indonesia yang seakan menyuburkan pornografi, kontra dari orang yang masih menyukai (dari mengakses hingga menyediakan) material asusila tersebut. Begitu banyaknya pro dan kontra yang ada sehingga saya rasa tidak perlu menambahkannya lagi di tulisan ini. Silakan googling saja bagi yang berminat…
Masih berhubungan dengan rencana blocking situs-situs porno tersebut, pemerintah kebingungan bagaimana cara mengetahui sebuah situs itu adalah situs porno atau tidak… Pernyataan terakhir yang dikeluarkan oleh M. Nuh tentang definisi situs porno adalah situs yang mensyaratkan pengunjungnya berusia 17 tahun atau 18 tahun. Tapi, apakah semua situs yang seperti itu pasti situs porno? Jadi apa dong definisi pornografi (terutama situs porno)!? Banyak yang mengatakan kalau definisinya sangat subjektif, dan ini salah satu yang bikin bingung!
OK, saya langsung saja ke inti dari tulisan saya ini. Kalau Anda menyadari, ada sebuah kata yang saya bold pada tulisan di atas. Kata apakah itu? Itu adalah kata rencana. Mengapa kata tersebut saya tekankan? Karena, sudah sejak lama dan setelah banyak biaya dikeluarkan pemerintah untuk masalah pornografi ini, hingga saat ini semuanya masih ada dalam tahap rencana. Maksudnya, belum ada situs porno yang benar-benar di-block oleh pemerintah (CMIIW)…
Kalau ditanya, apa sih kesulitan pemerintah? Menurut saya, pemerintah menemui banyak kesulitan tentang pembuatan undang-undang, penentuan definisi pornografi yang bikin bingung subjektif itu, membuat software-software yang dapat menangkap gambar porno secara otomatis, menciptakan algoritma untuk menetapkan suatu situs adalah situs porno atau bukan, dan lain sebagainya…
Apakah hal-hal yang dilakukan pemerintah di atas salah? Tidak salah sih, cuma, hal-hal di atas secara tidak langsung dapat dikatakan menjadi penyebab semuanya ini hanyalah baru dalam tahap rencana. Pemerintah sudah kesulitan dengan hal-hal yang jauh ke depan, padahal yang benar-benar di depan mata seolah tidak terlihat… Apa contohnya? Contohnya adalah, di saat banyaknya situs yang sudah jelas-jelas adalah situs porno, pemerintah malah lebih memilih berbingung-bingung dengan situs yang sifatnya abu-abu (antara porno dan tidak).
Definisi pornografi itu subjektif? Ya, saya setuju… Tapi, pasti ada content pornografi yang sudah jelas-jelas pornografi (semua orang setuju kalau itu adalah pornografi). Dan, tidak sulit untuk menemukan situs-situs yang saya katakan sebagai pornografi absolut seperti ini. Kalau memang situs-situs porno absolut (yang benar-benar porno) masih banyak, kenapa tidak yang itu dulu di-block? Iya toh? Kok malah bingung sama yang abu-abu? Kalau blocking otomatis masih sulit, yah sementara blocking manual dulu bisa kan? Memang dengan cara manual tidak akan semua situs terjangkau, tapi setidaknya situs-situs top-nya kan bisa di-block dulu…
So, daripada hanya rencana saja, kan lebih baik ada action dulu (meskipun tindakannya kecil tapi berpengaruh besar, loh…)… Setuju, pemerintah? Let’s take action… :D

Mencari Popularitas Melalui Pornografi
Posted by Charles
Akhir-akhir ini, di top post id.wordpress.com banyak beredar berita-berita miring (entah miring apa lurus!?) seputar artis yang ada di bangsa ini. Dan, yang lebih banyak dibahas adalah content-content yang menjurus pada pornografi. Cukup banyak orang yang menulis mengenai hal ini, baik dari orang yang benar-benar ingin cari sensasi, orang yang memang mau merusak moral bangsa (supaya rusak bersama-sama dia), sampai orang yang ingin mencari popularitas, membuat blog-nya ramai dikunjungi, dan menjadi populer… Yang akan saya soroti kali ini adalah hal yang terakhir.
Pertama, kenapa sih tulisan yang mengandung pornografi bisa membuat seseorang jadi populer? Jawaban akan hal ini adalah, kalau mau jujur, masih banyak orang di negeri ini yang menyukai hal ini. Pornografi! Maka, bukan tidak mungkin (malah sering), keyword-keyword “porno” yang akan mengantar mereka ke blog tersebut. Karena banyak orang yang tertarik dengan pornografi, maka jadilah mereka “nyasar” ke blog tersebut.
OK, karena itu, tidak heran cukup banyak juga orang yang memanfaatkan hal ini untuk mencari popularitas. Tidak dapat dipungkiri, salah satu alasan saya menulis tulisan ini saat ini juga untuk meneliti kepopuleran tulisan yang mengandung unsur pornografi (baca: terdapat kata pornografi di dalamnya, lebih bagus di kategori atau tag tulisannya).
Saya rasa wordpress cukup baik untuk mem-block blog-blog yang memuat pornografi secara hard-core (baca: gambar bokep, film bokep, dsb.). Hal ini juga disebabkan oleh fitur “report as mature” yang ada. Dan menurut saya, ini adalah salah satu cara memberantas pornografi yang banyak merebak di dunia maya ini (setidaknya di dalam blog). Maka, tulisan yang “tersisa” biasanya hanya seputar berita atau artikel tentang pornografi saja. Ini adalah yang saya sukai dari wordpress, saya merasa cukup aman dari jegalan-jegalan orang iseng (atau bejat?) yang menaruh gambar porno di situs mereka (apakah ada yang merasa seperti saya juga?).
So, selama bangsa ini masih suka dengan pornografi, tulisan tentang pornografi akan terus populer, baik yang benar-benar porno (yang ini harusnya lebih populer) atau tulisan-tulisan yang membahas tentang pornografi (seperti tulisan ini… ke-geer-an :P). Yah, jadi, salahkah mencari popularitas melalui pornografi? Saya sisakan pertanyaan ini untuk pembaca sekalian… ![]()

t*i - Seolah kata biasa
Posted by Charles
Saat ini, saya suka mendengar orang-orang (bahkan teman-teman saya) mengucapkan kata-kata yang bersifat makian, negatif, dan tidak membangun, yang membuat saya sendiri risih mendengarnya. Kata-kata itu antara lain (dengan sensor :P):
-
t*i
-
m*ny*t
-
a*ji*g
-
sh*t
-
sia*
-
sia**n
-
a*j*it
Biasanya, mereka mengucapkan kata-kata itu ketika mereka sedang kesal dan terkejut. Tapi, tidak jarang juga mereka yang sudah terbiasa menggunakan kata-kata di atas di dalam percakapan mereka sehari-hari.
Kalau diperhatikan, kata-kata di atas mempunyai kesamaan. Semuanya bernada negatif dan bernada makian. Pada awalnya, orang-orang hanya menggunakan kata-kata itu di saat mereka sedang sangat kesal dengan seseorang, hingga mereka memaki orang tersebut dengan kata-kata di atas. Tapi, saat ini, kata-kata itu seolah kata biasa. Bahkan, tidak sedikit orang yang latah mengucapkan kata-kata di atas.
Apa sih salahnya kita mengucapkan kata-kata di atas? Menurut saya, ini adalah pengaruh buruk yang terjadi jika kita mengucapkan kata-kata tersebut:
-
Melukai hati orang lain (yang dituju). Mungkin awalnya kata-kata ini diucapkan untuk menyinggung orang lain, dan kita tahu kalau itu tidak baik. Ingat, luka yang ada di dalam hati seseorang tidak akan dapat pulih sepenuhnya.
-
Menandakan kita tidak dapat mengontrol diri/emosi. Jika kita bisa mengontrol diri/emosi kita, tentulah kata-kata di atas tidak akan keluar.
-
Membawa aura negatif bagi orang yang mendengarnya. Kalau tentang hal ini, saya sudah merasakannya. Saya benar-benar tidak nyaman ketika mendengar orang berkata hal-hal itu, apalagi yang kebiasaan mengucapkan hal-hal itu.
-
Bisa menjadi kebiasaan buruk. Yah, mungkin awalnya kita hanya sekali-sekali mengucapkan kata-kata tersebut. Tetapi, itu bisa membuat kita terbiasa akan kata-kata tersebut, dan bukan tidak mungkin kita bisa menjadi latah mengucapkannya.
-
Membawa aura negatif bagi pengucapnya. Ternyata, bukan hanya orang-orang di sekitarnya saja yang bisa terpengaruh. Tapi, orang yang mengucapkannya pun dapat terpengaruh dengan pengaruh negatif kata-kata itu.
So, dibandingkan kita mengucapkan kata-kata negatif itu, bukankah lebih baik kita mengucapkan kata-kata yang positif, dan lebih mensyukuri apa yang ada pada kita? Efek baiknya bukan hanya untuk kita saja, tapi juga untuk sekitar kita. Yuk, kita coba…
Catatan: Yang saya maksud dengan “mengucapkan kata-kata tersebut” adalah mengucapkan kata-kata tersebut tidak pada tempatnya.
~Saya juga prihatin dengan orang-orang di luar sana, yang kalau terkejut mengucapkan “Jesus” (bahkan sudah jadi latah). Betapa rendahnya nama “Jesus” diterjemahkan menjadi “astaga” di film-film! Sebuah penghinaan besar. Dan yang membuat saya lebih prihatin, orang-orang yang mengucapkannya rata-rata adalah orang yang mengaku dirinya Kristen…

Pemenang Contest Idol - Sungguhkah Seorang Idola?
Posted by Charles
Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan saya terdahulu: Pembodohan Masyarakat dengan SMS Premium.
Pada tulisan saya kali ini, saya akan lebih menyoroti SMS premium yang digunakan sebagai media vote untuk contest idol (seperti AFI, Indonesian Idol, Penghuni Terakhir, KDI, dll…).
OK, sebelumnya, saya ingin memperlihatkan latar belakang dari tulisan saya, yaitu sebuah forward-an e-mail yang masuk ke alamat e-mail saya. Bunyinya seperti ini:
DEAR ALL MY FRIENDS
TOLONG BACA DAN JANGAN COBA2 IKUT WALAU PUN HANYA Rp 2000 MAKANYA BACA OK
Dua hari yang lalu gw ketemu dengan salah seorang AFI (Akademi Fantasi Indosiar). Selain lepas kangen (he..he) gw juga dapat cerita seru dari kehidupan mereka.
Di balik image mereka yang gemerlap saat manggung atau ketika nongol di teve, kehidupan artis AFI sangat memprihatinkan.
Banyak di antara mereka yang hidup terlilit utang ratusan juta rupiah. Pasalnya, orang tua mereka ngutang ke sana-sini buat menggenjot sms putera-puteri mereka. Bisa dipastikan tidak ada satu pun kemenangan AFI itu yang berasal dari pilihan publik. Kemenangan mereka ditentukan seberapa besar orang tua mereka sanggup menghabiskan uang untuk sms. Orang tua Alfin dan Bojes abis 1 M. Namun mereka orang kaya, biarin aja.
Yang kasian mah, yang kaga punya duit. Fibri (AFI 2005) yang tereliminasi di minggu-minggu awal kini punya utang 250 juta. Dia sekarang hidup di sebuah kos sederhana di depan Indosiar. Kosnya emang sedikit mahal RP 500..000. Namun itu dipilih karena pertimbangan hemat ongkos transportasi. Kos itu sederhana (masih bagusan kos gw gitu loh), bahkan kamar mandi pun di luar. Makannya sekali sehari. Makan dua kali sehari sudah mewah buat Fibri. Kaga ada dugem and kehidupan glamor, lha makan aja susah.
Ada banyak yang seperti Fibri. Sebut saja intan, Nana, Yuke, Eki, dll.
Mereka teikat kontrak ekslusif dengan manajemen Indosiar. Jadi, kaga bisa cari job di luar Indosiar. Bayaran di Indonesiar sangat kecil. Lagian pembagian job manggung sangat tidak adil. Beberapa artis AFI seperti Jovita dan Pasya kebanjiran job, sementara yang lain kaga dapat/jarang dapat job. Maklum artisnya sudah kebanyakan. Makanya buat makan aja mereka susah. Temen gw malah sering dijadiin tempat buat minjem duit. Minjemnya bahkan cuma Rp 100.000. Buat makan gitu loh. Mereka ga berani minjem banyak karena takut ga bisa bayar.
Ini benar-benar proyek yang tidak manusiawi. Para orang tua dan anak Indonesia dijanjikan ketenaran dan kekayaan lewat sebuah ajang adu bakat di televisi. Mereka dikontrak ekslusif selama dua tahun oleh Indosiar. Namun tidak ada jaminan hidup sama sekali. Mereka hanya dibayar kalo ada manggung. Itu pun kecil sekali, dan tidak menentu. Buruh pabrik yang gajinya Rp 900.000 jauh lebih sejahtera daripada mereka.
Nah acara ini dan acara sejenis masih banyak, Pildacil juga begitu. Kasian orang tua dan anak yang rela antre berjam-jam untuk sebuah penipuan seperti ini. Seorang anak pernah menangis tersedu-sedu saat tidak lolos dalam audisi AFI. Padahal dia beruntung. Kalau dia sampai masuk, bisa dibayangkan betapa dia akan membuat orang tuanya punya utang yang melilit pinggang, yang tidak akan terbayar sampai kontraknya habis.
mungkin ada yang tertarik buat ngangkat cerita itu ke media anda? Gw punya nomer kontak mereka. Gaya hidup mereka yang kontras dengan image publik kayanya menarik untuk diangkat. Ini juga penting agar anak-anak dan orang tua di Indonesia kaga tertipu lebih banyak lagi.
JUDI SMS MENGGILAAAA ……
Tiap stasiun televisi di Indonesia mempunyai acara kontes-kontesan. Tengok saja misalnya AFI, Indonesian Idol, Penghuni Terakhir, KDI, Putri
Cantrik, dsb. Sejatinya, tujuan dari acara ini bukan mencari bibit penyanyi terbaik. Acara ini hanya sebagai kedok. Bisnis sebenarnya adalah SMS premium.Bisnis ini sangat menggiurkan, lagi pula aman dari jeratan hukum — setidaknya sampai saat ini. Mari kita hitung. Satu kali kirim SMS biayanya –anggaplah- - Rp 2000. Uang dua ribu rupiah ini sekitar 60% untuk penyelenggara SMS Center (Satelindo, Telkomsel, dsb). Sisanya yang 40% untuk “bandar” (penyelenggara) SMS. Siapa saja bisa jadi bandar, asal punya modal untuk sewa server yang terhubung ke Internet nonstop 24 jam per hari dan membuat program aplikasinya. Jika dari satu SMS ini “bandar” mendapat 40% (artinya sekitar Rp 800), maka jika yang mengirimkan sebanyak 5% saja dari total penduduk Indonesia (Coba anda hitung, dari 100 orang kawan anda, berapa yang punya handphone? Saya yakin lebih dari 40%), maka bandar ini bisa meraup uang sebanyak Rp 80.000.000.000 (baca: Delapan puluh milyar rupiah). Jika hadiah yang diiming-imingkan adalah? rumah senilai 1 milyar, itu artinya bandar hanya perlu menyisihkan 1,25% dari keuntungan yang diraupnya sebagai “biaya promosi”!
Dan ingat, satu orang biasanya tidak mengirimkan SMS hanya sekali. Masyarakat diminta mengirimkan SMS sebanyak-banyaknya agar jagoannya tidak tersisih, dan “siapa tahu” mendapat hadiah. Kata “siapa tahu” adalah untung-untungan, yang mempertaruhkan pulsa handphone. Pulsa ini dibeli pakai uang. Artinya : Kuis SMS adalah 100% judi.
Begitu menggiurkannya bisnis ini, sampai-sampai Nutrisari membuat iklan yang saya pikir menyesatkan. Pemirsa televisi diminta menebak, “buka” atau “sahur”, lalu jawabannya dikirim via SMS. Ada embel-embel gratis. Ada kata, “dapatkan handphone… ” Saya bilang ini menyesatkan, karena
pemirsa televisi bisa menyangka : “Dengan mengirimkan SMS ke nomor sekian yang gratis (toll free), saya bisa mendapat handphone gratis”.Kondisi ini sudah sangat menyedihkan. Bahkan sangat gawat. Lebih parah daripada zaman Porkas atau SDSB. Jika dulu, orang untuk bisa berjudi harus mendatangi agen, jika dulu zaman jahiliyah orang berjudi dengan anak panah, sekarang orang bisa berjudi, hanya dengan beberapa ketukan jari di pesawat handphone!
Tolong bantu sebarkan kampanye anti judi SMS ini. Tanpa bantuan anda, kampanye ini akan meredup dan sia-sia belaka.
Siapa dari Anda yang belum tahu tentang contest idol? Saya rasa, Anda semua pasti pernah menonton (atau setidaknya tahu) contest idol yang ada di stasiun televisi kita, seperti Indonesian Idol contohnya… Pada tulisan saya kali ini, saya menggunakan istilah “contest idol” sebagai generalisasi dari acara-acara pemilihan idola semacam Indonesian Idol.
Kalau Anda tahu tentang contest idol, harusnya Anda juga tahu bagaimana idol (pemenang) dipilih di antara beberapa calon idol (peserta) yang ada. Ya, mereka dipilih berdasarkan voting dari pemirsa (dan pendukung calon peserta) acara tersebut, yang tentunya setiap votingnya dilakukan melalui SMS premium.
OK, tanpa panjang-lebar, ada satu pertanyaan yang harus dijawab: “Benarkah pemenang contest idol itu adalah idola sebenarnya?”. Menurut saya, pemenangnya hanyalah idola semu… Kenapa? Alasan saya:
-
Setiap nomor HP bisa mengirimkan vote mereka berkali-kali. Wah, ini sih sudah ga bener namanya. Coba aja bayangkan kalau Pemilu bisa nyoblos berkali-kali. Apa jadinya tuh?
-
Setiap vote dikenakan biaya SMS premium. Nah, ini lebih jelas lagi terlihat kalau acara ini sebenarnya cuma nyari duit doang (istilah saya: ngerampok cara halus). Loh, kok ngerampok? Lah iya dong, rakyat seolah dihipnotis untuk memberikan uang mereka kepada pengelola contest ini dan operator telepon selular… Bahkan, tragisnya, ada juga orang yang sampai berhutang untuk hal ini (bener-bener dihipnotis tuh namanya…).
Akibat dari 2 hal di atas, bisa ditebak kalau pemenang contest idol ini adalah yang pendukungnya paling kaya (bukan yang pendukungnya paling banyak). Pesan saya adalah, saat ini ketahuilah, kalau Anda ingin mengirimkan dukungan Anda untuk idola Anda lewat SMS premium (apalagi lebih dari 1 SMS), itu artinya Anda telah terhipnotis, dan Anda sedang akan dirampok oleh pengelola kontes dan penyedia jasa SMS premium.
Anda tentunya ingin idola Anda menang. Tapi sayang, sistemnya tidak mengizinkan idolanya untuk menang, tapi siapa yang pendukungnya paling kaya (dan bisa dihipnotis dengan mudah!?)lah yang akan menang…
So, masih mau vote untuk idola Anda dengan SMS premium? Pikir-pikir lagi deh… ![]()

2 Manusia Super di Jembatan Setiabudi
Posted by Charles
Saya mendapatkan cerita nyata ini di sebuah milis. Saya tersentuh melihat ketulusan anak-anak jalanan yang ada di cerita ini. Saya sungguh terharu, ternyata masih ada anak-anak seperti mereka di negeri yang kita kenal dengan kebobrokannya ini. Sungguh sebuah teladan yang baik untuk kita semua.
Catatan: Saya melakukan editing pada naskah asli dari milis, yang tidak mengubah isinya. Yang saya ubah hanyalah masalah tipografi dan membuat tulisan ini lebih enak dibaca.
Siang ini, 6 Februari 2008, tanpa sengaja saya bertemu dua manusia super. Mereka makhluk-makhluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya di atas jembatan penyeberangan Setia Budi, dua sosok kecil berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.
Saat menyeberang untuk makan siang, mereka menawari saya tissue di ujung jembatan. Dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta, saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum, yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan “Terima kasih, Oom!”. Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka.
Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki-laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang
penuh keceriaan. Laki-laki itu pun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi-lagi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok di sudut jembatan, tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan lirikan ke dalam kantong itu. Dua pertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan.Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli, seorang wanita. Senyum di wajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta.
“Terima kasih ya, mbak. Semuanya dua ribu lima ratus rupiah!” tukas mereka. Tak lama, si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.
“Maaf, nggak ada kembaliannya… Ada uang pas nggak, mbak?” mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng. Lalu dengan
sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.“Oom, boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?” suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah. “Nggak punya!” tukas saya.
Lalu tak lama si wanita berkata, “Ambil saja kembaliannya, dik!”, sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya ke arah ujung sebelah timur.
Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya ke genggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi.
Si wanita kaget, setengah berteriak ia bilang “Sudah, buat kamu saja, nggak apa-apa… Ambil saja!”
Namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. “Maaf mbak, cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan!”
Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya. Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu di genggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar, “Om bisa tunggu ya? Saya ke bawah dulu untuk tukar uang ke tukang ojek!”
“Eeh.. Nggak usah.. Nggak usah.. Biar aja.. Nih!” saya kasih uang itu ke si kecil. Ia menerimanya, tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.
Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, “Nanti dulu Om, biar ditukar dulu… sebentar…”
“Nggak apa apa, itu buat kalian,” lanjut saya.
“Jangan… jangan Om, itu uang om sama mbak yang tadi juga,” anak itu bersikeras.
“Sudah… saya ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas!” saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari ke ujung
jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat. Secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.“Ini deh om, kalau kelamaan, maaf…” ia memberi saya delapan pack tissue.
“Buat apa?” saya terbengong
“Habis teman saya lama sih Om, maaf, tukar pakai tissue aja dulu…”
Walau dikembalikan, ia tetap menolak. Saya tatap wajahnya , perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastik hitam tissuenya.
Beberapa saat saya mematung di sana, sampai si kecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.
“Terima kasih Om!” mereka kembali ke ujung jembatan sambil sayup-sayup terdengar percakapan, “Duit mbak tadi gimana…?” Suara kecil yang lain menyahut, “Lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin…” Percakapan itu sayup-sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali ke kantor dengan seribu perasaan.
Tuhan… Hari ini saya belajar dari dua manusia super. Kekuatan kepribadian mereka menaklukkan Jakarta membuat saya terenyuh. Mereka berbalut baju lusuh, tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra. Mereka tahu hak mereka dan hak orang lain. Mereka berusaha tak meminta-minta dengan berdagang tissue. Dua anak kecil yang bahkan belum baligh, memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu belia.
YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO
Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.
MT
Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikit pun berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang
lain. “Usia memang tidak menjamin kita menjadi bijaksana, kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak.”Semoga pengalaman nyata ini mampu menggugah saya dan teman lainnya untuk lebih SUPER.
Aryadi N SM 0304
QHSE Manager I BHM Corp I 0817 149369 I Oil and GasThe light in the eyes has dimmed,
The smile at the corner of the mouth has been extinguished.
But the day isn’t dark,
People go by in the streets, laughing merrily.Let’s make Jakarta better

Ketika sampah pun dimakan mereka
Posted by Charles
Sore ini, seperti biasa setiap minggunya, saya pulang dari tempat kuliah saya di Depok ke rumah saya di Jakarta. Dan seperti biasa juga, saya memanfaatkan jasa kereta api untuk mengantarkan saya dari Depok ke Jakarta. Perjalanan pulang saya diawali dengan sesuatu yang kurang enak, yaitu hujan badai… Saya harus melewati hujan badai sepanjang perjalanan dari kos saya sampai ke stasiun, yang membuat saya cukup basah kuyup. Tapi, bukan hal itu yang menjadi inti tulisan saya kali ini…
Dengan kereta ekonomi AC, saya mulai perjalanan pulang saya dari Depok sampai Jakarta… Kejadian itu terjadi di Stasiun Manggarai. Ketika pintu terbuka, saya melihat seorang anak kecil berpakaian lusuh sedang mengais tempat sampah. Saya melihat betapa senangnya dia ketika menemukan bekas minuman kemasan yang telah dibuang orang. Tanpa ragu lagi, dia menyedot sedotan yang ada, meskipun saya meragukan masih ada isinya. Tapi, bagi dia, setiap tetes adalah berarti… Setiap butir nasi, juga setiap bagian kecil makanan dan minuman adalah berarti. Bahkan, makanan dan minuman yang ada di tempat sampah…
Melihat hal ini, saya mengambil beberapa hikmah. Pertama, saya sungguh prihatin dengan keadaan bangsa ini, dimana masih banyak penduduknya yang hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka yang bahkan untuk menikmati sesuap nasi dan seteguk minuman harus mencarinya di tempat sampah… Apa yang dapat saya lakukan untuk mereka? Di satu sisi, saya prihatin akan keadaan mereka yang tertatih-tatih dalam mencukupkan pangan mereka, tapi di sisi lain, tidak sedikit anak jalanan yang sudah susah mencari makan, masih merokok pula… Oleh karena itu, saya biasanya kurang suka memberikan uang pada mereka. Cita-cita saya (yang masih belum tercapai seluruhnya) adalah memberikan kebutuhan (seperti makanan) mereka, dan perhatian kepada mereka. Saya tahu ini sangat sulit, tapi saya mencoba untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang ada.
Kedua, saya mengaplikasikannya pada diri saya sendiri. Saya menjadi sangat bersyukur karena saya merasakan cukup atas kebutuhan pangan. Rasa syukur itulah yang membuat saya berdoa kepada Tuhan yang telah memberikan makanan itu kepada saya. Juga, di dalam doa saya, saya senantiasa meminta Tuhan untuk memelihara kehidupan mereka yang tidak seberuntung saya di dalam mendapatkan makanan.
Aplikasi lainnya adalah jangan membuang makanan yang ada, dan jangan makan berlebihan. Dulu, saya sering mendengar perkataan, “Kalau nasinya dibuang, pak tani nangis loh…”. Perkataan itu memang benar, petani sudah bersusah payah menanam padi untuk kita, dan terlebih lagi, sangatlah tidak baik jika kita membuang makanan, di saat masih banyak orang yang membutuhkan makanan tersebut. Jika kita hanya kuat makan setengah porsi dan memiliki rejeki untuk membeli satu porsi, bukankah lebih baik kita bagi dua makanan tersebut, dan kita berikan setengahnya kepada orang yang lebih membutuhkan. Tentu itu akan lebih baik daripada mereka harus mengais makanan yang telah kita buang ke dalam tempat sampah.
Jadi, dari kejadian beberapa detik itu (saat pintu kereta dibuka di stasiun Manggarai), kita dapat belajar untuk:
-
Memberi semampu kita kepada mereka yang benar-benar membutuhkan (dan berilah dengan hati yang tulus, jangan mengharapkan imbalan).
-
Bersyukur atas makanan yang tersedia bagi kita, baik kita suka maupun tidak. Ingatlah kalau kita masih lebih beruntung dari mereka yang harus mencari makanannya di tempat sampah.
-
Membiasakan diri untuk tidak makan berlebihan, dan menghabiskan makanan yang telah tersedia. Pesanlah/ambillah makanan sesuai dengan porsi yang kita rasakan cukup untuk kita.
















