Aug 18

Sudah lebih dari 3 tahun berlalu sejak novel terakhir yang saya baca habis dari awal sampai akhir. Kemarin, rekor itu pecah. Saya menghabiskan sebuah novel setebal 198 halaman dalam waktu dua hari. Saya tidak bisa mengingat kapan terakhir kali saya menyelesaikan membaca sebuah buku dalam waktu dua hari.

Novel itu berjudul “The Christmas Shoes”, oleh Donna VanLiere. Novel yang dibuat berdasarkan lagu NewSong dengan judul yang sama tersebut, begitu menginspirasi saya.

Novel ini mengisahkan tentang kisah dua keluarga, keluarga Robert dan Nathan.

Robert adalah seorang ahli hukum yang sukses dan memiliki segalanya dalam hidup—sekaligus tak satu pun. Karena terlalu memusatkan diri pada keberhasilan pekerjaan dan materi, ia nyaris kehilangan pernikahannya. Ia tak lagi memperhatikan istrinya, Kate, kedua putrinya … dan akhirnya, dirinya sendiri.

Nathan yang berusia delapan tahun memiliki seorang ibu yang penuh kasih, yang menanti ajal karena kanker. Namun Nathan dan keluarganya membangun sebuah kehidupan yang sederhana tapi bermakna dan berjuang untuk menikmati setiap detik tersisa yang mereka miliki bersama.

Sebuah kesempatan pada malam Natal mempertemukan Robert dan Nathan—Robert berbelanja untuk keluarga yang tak lagi dikenalinya dan Nathan berbelanja untuk ibunya yang akan segera meninggalkannya. Dan setelah pertemuan itu, kehidupan mereka berubah selamanya. Robert menerima suatu pelajaran penting: terkadang hal-hal terkecil dapat mengubah segalanya.

Ada banyak bagian dalam novel ini yang menyentuh saya, dan banyak pelajaran yang dapat dipetik darinya. Saya akan membagikan satu bagian, saat Maggie, ibu Nathan yang menderita kanker rahim, mempersiapkan putranya yang akan segera ditinggalkannya. Bagian ini, meskipun agak panjang, tetapi sangat bagus dan mempunyai makna yang dalam. Berikut adalah cuplikannya.

Jack beranjak dari tempat duduknya, ia tahu apa yang ingin dikatakan istrinya. Mereka pernah membicarakan hal ini sebelumnya, bagaimana, apa, dan kapan harus memberi tahu Nathan. Keadaan Maggie begitu cepat memburuk. Baik Jack maupun Maggie tak pernah membicarakan soal waktu, namun mereka berdua sadar bahwa waktunya telah begitu mendekat.

“Tentu,” jawabnya sambil berjalan ke dapur.

“Bu Patterson selalu memikirkan sesuatu yang menyenangkan untuk kau lakukan,” Maggie berkata kepada Nathan. “Apa cerita yang harus kautulis beberapa minggu lalu yang amat kusukai itu?”

“Tentang katak?”

“Bukan. Ibu suka yang itu juga, tapi bukankah ceritanya mengenai bunga?”

“O, ya!” matanya bersinar. “Tentang apakah yang bunga-bunga pikirkan di bawah tumpukan salju.”

Maggie tersenyum melihat semangat besar putranya. Ia selalu suka membantu ibunya mengurus bunga. Ketika ia masih balita, Maggie menunjukkan titik hijau terkecil di tanah dan berkata, “Lihat, Nathan, ia mulai bertumbuh,” dan kemudian hari demi hari mereka menyaksikan bunga-bunga berkembang dan memekar sepanjang musim semi dan musim panas.

Maggie mengubah posisi duduknya dan berjuang keras menahan air matanya agar tidak keluar saat harus berbicara dengan putranya.

“Kau tahu, banyak hal yang akan terjadi pada minggu-minggu yang akan datang,” ia mulai perlahan-lahan. “Dan, banyak dari semua hal itu yang akan membuatmu bertanya-tanya.”

Nathan sudah mulai bertanya-tanya, dan wajahnya menunjukkan hal itu.

“Nathan,” ia menenangkan diri. “Suatu hari, ketika kau lebih dewasa kau mungkin ingin menyalahkan Allah karena membuatku sakit, namun Ibu tidak ingin kau melakukan itu.”

Nathan mengerutkan keningnya, kebingungan. Mengapa ibunya berbicara tentang keadaan sakitnya? Ia selalu beranggapan bahwa ibunya akan pulih karena mereka yang benar-benar sakitlah yang berada di rumah sakit.

“Ibu ingin kau selalu tahu bahwa Allah tidak membuatku sakit, Allah menolongku melalui sakit ini,” ia menghibur. “Ia memberiku kekuatan untuk bermain denganmu dan Rachel, serta menopang Ibu pada hari-hari yang sangat mengerikan.”

Nathan menundukkan kepalanya. Ia tidak suka bercakap-cakap tentang penyakit ibunya. Maggie berjuang untuk menemukan kata-kata yang tepat bagi anaknya yang berusia delapan tahun itu.

“Sebentar lagi,” ia berkata perlahan, “kau mungkin mendengar orang-orang dewasa berkata seperti, ‘Kasihan sekali, Allah memanggilnya pada usia begitu muda.’ Tapi mereka keliru, Nathan. Mereka keliru, dan Ibu tidak ingin kau mendengarkan mereka. Ketika mereka berkata sesuatu seperti itu, Ibu ingin kau selalu ingat apa yang baru kukatakan kepadamu saat ini. Allah tidak mengambil Ibu, Ia menerima Ibu.”

Dahi Nathan mengernyit saat ia memandang ibunya. Maggie menatap mata putranya yang ketakutan. Mungkin apa yang diceritakannya terlalu sukar untuk dipahami Nathan.

“Maksud Ibu di surga?” ia bertanya dengan suara nyaris berbisik.

Mendengar apa yang Nathan ucapkan, sungguh membuat hati Maggie pedih.

“Ya sayang, di surga.”

Nathan terdiam, Jack mendengarkan dari dalam dapur.

“Allah akan membawa Ibu ke surga?” Nathan bertanya dalam kebingungan.

“Tidak,” Maggie memastikan. “Ia tidak akan membawaku, Nathan. Ia akan membuka tangan-Nya dan menerima Ibu. Bedanya amat besar, dan Ibu selalu ingin kau mengingatnya.”

Nathan gelisah mendengar perkataan ibunya dan dengan perlahan bertanya, “Apa yang akan Ibu lakukan di sana?”

“Ibu bahkan tidak bisa membayangkannya,” Maggie berkata, suaranya terbata-bata. “Yang Ibu tahu, untuk waktu yang lama Ibu akan memandang Allah dan senantiasa bersyukur kepada-Nya karena mengirimkan Yesus pada hari Natal, dan untuk kehidupan yang diberikan-Nya kepada Ibu di sini bersamamu. Di sana tentu amat indah, Nathan, hingga Ibu bahkan tidak mampu mulai berpikir apa yang akan Ibu lakukan. Tapi Ibu tahu Ibu tidak akan sakit lagi.”

Nathan menatap ibunya. Maggie tersenyum. “Ibu akan benar-benar sehat dan Ibu akan berlari dan melompat dan bermain dan menari seperti yang biasa Ibu lakukan bersamamu sebelum jatuh sakit.”

Nathan tercenung lama memikirkan semua ini. Ia tidak suka membicarakan hal ini dengan ibunya. Ia tak suka karena semua ini memengaruhi perasaannya.

“Apakah ada binatang di sana?” akhirnya ia bertanya dengan rasa ingin tahu.

“Binatang-binatang terindah yang pernah Ibu lihat,” Maggie menjawab dan anaknya terpesona. “Binatang-binatang yang Allah ciptakan di dunia ini buat kita tidak sebanding dengan binatang-binatang di surga. Zebra dan jerapah? Mereka akan terlihat seperti kucing biasa dibandingkan binatang-binatang di surga.”

“Dan, tak satu pun dari mereka yang galak bukan?” Nathan bertanya penuh selidik.

“Tidak. Tak satu pun yang galak. Mereka lembut dan indah, dan kau bisa menaiki mereka dan bermain dengan mereka sepanjang hari.”

“Apakah jalanan benar-benar terbuat dari emas?”

Maggie tersenyum.

“Jalanan terbuat dari emas dan akan ada sungai-sungat dan air terjun yang indah, dan dataran yang paling indah yang pernah Ibu lihat.”

“Bunga-bunga akan tampak jauh lebih cantik daripada milik Ibu?” ia bertanya, terkejut.

“Lebih cantik daripada milik Ibu,” Maggie tertawa. “Bunga-bunga dan pohon-pohon jauh lebih cantik dari apa pun yang pernah Allah ciptakan di dunia ini.” Ia berhenti dan membiarkan Nathan merenungkan apa yang baru saja ia katakan.

“Apakah Ibu akan bertemu dengan Kakek di sana?” akhirnya ia bertanya sembari menatap kakinya yang terayun.

“Ya,” ia tersenyum. “Ia akan berada di pintu gerbang menanti Ibu.” Mata Maggie dipenuhi air mata, dan ia memalingkan kepalanya.

Nathan berpikir selama beberapa saat, berhenti mengayun kakinya, dan kemudian bertanya dengan lemas sambil memandang kakinya, “Mengapa Ibu harus pergi?”

Di dapur, Jack membenamkan kepalanya ke dalam lengannya.

“Karena Ibu sakit dan Ibu tidak bisa membaik lagi,” Maggie menjawab dengan lembut.

“Apakah aku bisa pergi bersama Ibu?” ia bertanya, takut dengan apa yang baru saja dikatakan ibunya. Maggie meremas sprei dan memutarnya, air mata menggenangi matanya.

“Tidak, sayang, kau tidak bisa pergi bersama Ibu.”

Air mata Nathan menetes, membasahi wajahnya saat ia menubruk dan memegang erat ibunya. “Aku tidak mau Ibu pergi tanpa aku,” ia menangis terisak.

Maggie melingkarkan tangannya ke punggung putranya. Dalam waktu yang singkat, ia tidak akan punya kekuatan untuk melakukannya lebih lama. Ia memeluk Nathan lebih erat.

“Ibu tidak ingin pergi tanpamu juga,” ia berkata, air mata menetes deras di wajahnya. “Ibu mau memberikan apa saja di dunia ini untuk tinggal bersamamu, tapi Ibu tidak bisa. Ibu harus pergi.”

“Tidak Ibu—tidak!” anak kecil itu memohon, jari-jemarinya yang mungil mencengkeram erat tubuh ibunya. “Aku tidak mau Ibu meninggalkan aku.”

Maggie mengusap wajahnya dan menarik Nathan lebih dekat, lalu menyeka air matanya.

“Hanya karena Ibu akan pergi tidak berarti Ibu tidak akan selalu bersamamu,” ia berkata sejuk. Saat bibir bawahnya mulai gemetar, Maggie tahu bahwa Nathan jelas tidak memahami apa yang baru saja dikatakannya. Ia memegang lembut wajah Nathan dengan kedua tangannya.

“Ibu mungkin tidak ada di sisimu, namun Ibu akan selalu berada di sini,” ia berkata sambil menyentuh dada putranya.

“Di situlah ayah dan Ibu hidup setelah ia pergi ke surga, dan di situlah Ibu akan selalu hidup di dalammu, di dalam hatimu.”

Anak kecil itu membaringkan kepalanya di dada ibunya dan Maggie dengan lembut mengusap punggung putranya.

“Ibu ingin kau selalu tahu,” ia berbisik kepadanya, “bahwa kegembiraan yang terbesar dalam hidupku adalah menjadi ibumu.” Ia mengarahkan wajah Nathan menghadap wajahnya dan mencium keningnya. Sambil menatap matanya, ia berdoa agar Nathan akan selalu mengingat malam ini. Agar suatu hari, hal ini akan memberi rasa damai kepadanya—agar hal ini akan memberinya harapan di hari Natal.

Ia memeluk erat Nathan, menciumi setiap bagian wajahnya hingga anak itu menggeliat dan mulai tertawa kegelian. “Kau sebaiknya bersiap untuk tidur, Anak Muda.”

Jack berdiri di dapur, mengusap matanya dengan lap piring sebelum berjalan ke ruang keluarga. Ia tidak ingin anaknya melihatnya menangis, yang akan semakin membuatnya makin berpikir. Namun mungkin ada baiknya membiarkan Nathan melihatnya menangis, untuk menunjukkan bahwa hal itu diperbolehkan, bahwa semua orang bisa menangis.

“Kembalilah ke kamarmu, Nathan,” kata Jack, “dan Ayah akan segera ke sana untuk menemanimu.”

“Ibu sayang kamu,” kata Maggie sambil mencium anak kecil itu lagi.

“Aku sayang Ibu juga,” ia menjawab dan memberinya ciuman selamat malam.

Nathan berjalan sendirian di lorong, tanpa sadar bahwa percakapan tadi suatu saat akan memberi pengaruh kepadanya.

Sebuah luapan perasaan tampak di wajah Maggie. Jack dengan penuh kasih mencium matanya dan mengusap air matanya. Ia akan berusaha menjelaskan semuanya kepada Nathan, suatu hari kelak saat ia makin dewasa. Ia akan menjelaskannya terus-menerus, hingga Nathan memahaminya.

Bagian lain, yang sangat menyentuh, tentunya adalah pertemuan Robert dan Nathan di malam Natal. Hal yang paling baik untuk dapat menggambarkan bagian ini adalah dengan menikmati lagu “The Christmas Shoes” karya NewSong berikut.

 

 

Pesan akhir dalam novel ini berkata: “Jika kita bersikap terbuka, Allah dapat memakai bahkan hal terkecil pun untuk mengubah kehidupan kita … untuk mengubah kita. Mungkin hal itu adalah seorang anak yang tertawa, rem mobil yang membutuhkan perbaikan, obral daging panggang, langit tak berawan, sebuah perjalanan ke hutan untuk menebang pohon Natal, seorang guru sekolah dasar, … atau bahkan sepasang sepatu. Sebagian orang tak akan pernah percaya. Mereka mungkin merasa bahwa hal-hal itu terlalu sepel, terlalu sederhana, atau terlalu tak berarti untuk selamanya mengubah sebuah kehidupan. Namun aku percaya, dan akan selalu percaya.”

Ya, saya pun percaya novel ini bisa menjadi alat yang dipakai Allah untuk menyentuh dan mengubah kita.

Terakhir, saya akan membagikan lirik lagu “The Christmas Shoes” yang menjadi inspirasi bagi Donna VanLiere.

It was almost Christmas time, there I stood in another line
Tryin’ to buy that last gift or two, not really in the Christmas mood
Standing right in front of me was a little boy waiting anxiously
Pacing ’round like little boys do
And in his hands he held a pair of shoes

His clothes were worn and old, he was dirty from head to toe
And when it came his time to pay
I couldn’t believe what I heard him say

Chorus:
Sir, I want to buy these shoes for my Mama, please
It’s Christmas Eve and these shoes are just her size
Could you hurry, sir, Daddy says there’s not much time
You see she’s been sick for quite a while
And I know these shoes would make her smile
And I want her to look beautiful if Mama meets Jesus tonight

He counted pennies for what seemed like years
Then the cashier said, "Son, there’s not enough here"
He searched his pockets frantically
Then he turned and he looked at me
He said Mama made Christmas good at our house
Though most years she just did without
Tell me Sir, what am I going to do,
Somehow I’ve got to buy her these Christmas shoes

So I laid the money down, I just had to help him out
I’ll never forget the look on his face when he said
Mama’s gonna look so great

Sir, I want to buy these shoes for my Mama, please
It’s Christmas Eve and these shoes are just her size
Could you hurry, sir, Daddy says there’s not much time
You see she’s been sick for quite a while
And I know these shoes would make her smile
And I want her to look beautiful if Mama meets Jesus tonight

Bridge:
I knew I’d caught a glimpse of heaven’s love
As he thanked me and ran out
I knew that God had sent that little boy
To remind me just what Christmas is all about

Repeat Chorus

Semoga lagu dan kisah ini dapat memberkati Anda semua.

Mari kita perhatikan hal-hal kecil di sekitar kita sebagai anugerah Allah untuk kita.

Tuhan memberkati kita semua.

Charles Christian

*Sumber kisah: Novel “The Christmas Shoes”, oleh Donna VanLiere, Gradien Books, 2005, p.123-131.

Setiap peristiwa, besar atau kecil, merupakan sebuah perumpamaan yang melaluinya Allah berbicara kepada kita, dan seni kehidupan adalah bagaimana mendapatkan pesannya.

- Malcolm Muggeridge -


Aug 16

Do’a Yang Tanpa Hijab

Posted by Aulia

berdoa

Ilustrasi: 2lisan.com

DALAM sehari semalam, bagi kita yang muslim akan terus berada dalam indahnya bertemu dengan sang Pencipta minimal lima kali, namun belum lagi jika ibadah yang sunnah lain kita kerjakan.

Bertepatan dengan bulan Ramadhan, seluruh pintu kebaikan untuk memperbanyak amal sangat terbuka, dari mulai amal yang sunnah diganjar dengan pahala yang wajib, keutamaan-keutamaan dalam berpuasa bahkan dengan do’a-do’a yang senantiasa akan diijabah oleh Allah SWT.

Nabi Musa dengan segala mukjizat yang telah diberikan Allah, baik itu diberikan kemudahan untuk menyembuhkan orang yang sakit, menghidupkan orang yang sudah meninggal bahkan sekali pun bisa berbicara dengan Allah SWT, walaupun pembicaraannya itu terhalang dengan tujuh pulu ribu hijab (pembatas).

Namun, Allah dengan segala sifat penyayang-Nya masih memberikan salah satu keutamaan untuk umat Muhammad SAW sampai akhirnya zaman, yakni kenikmatan di bulan Ramadhan seperti sekarang ini.

Nabi Musa pernah mempertanyakan pada Allah, tentang mukjizatnya yang bisa berbicara langsung dengan Allah untuk memohon apa saja, “Apakah ada hamba Mu Ya Allah nantinya yang lebih dekat dengan Mu saat berdo’a tanpa hijab yang membelenggu seperti apa yang sudah Engkau berikan padaku?” tanya Musa.

Lalu Allah pun menjawab, “Ada wahai Musa, nanti suatu saat akan ada sebuah umat, mereka orangnya kecil-kecil, dan mereka itu adalah umat Muhammad. Jika tiba bulan Puasa, akan Ku kabulkan do’a-do’a mereka saat sesudah mereka berbuka, karena pada waktu itu ku hapuskan hijab antara Ku dengan umat Muhammad tanpa ada sesuatu apa pun.”

Bergumamlah Musa dalam hatinya, dan serta merta memohon pada Allah untuk diberikan padanya kemudahan menjadi pengikut umat Muhammad, tapi Allah telah menetapkan Musa untuk kaumnya bani Israil dengan segala mukjizat yang telah dimilikinya.

Inilah momen yang sangat bernilai hargainya saudara-saudaraku, kita sebagai pengikut umat Nabi Muhammad, sudah sepatutnya tidak menyia-nyiakan apa yang telah Allah janjikan untuk umat-Nya ini.

Mari luangkan waktu sejenak saja, ditengah banyaknya makanan yang  setianya menggoda ada di depan mata saat mau berbuka, haturkan do’a yang sebaik-baiknya pada Rabb mu. Hadiahkan do’a tersebut setelah membaca do’a berbuka, semoga Allah mengabulkan do’a umat pengikut Nabi Muhammad SAW. Amiin[]

Inilah beberapa petikan dari khutbah Jum’at serta beberapa ceramah pada malam Ramadhan yang sering diingatkan kepada para jamaah oleh khatib dan juga penceramah. Semoga bisa berguna bagi kita semua, jika ada kurang dan khilaf mohon untuk dikoreksi.


Filed under: Agama, Renungan Tagged: Doa, Hijab, Khutbah Jum'at, Muhammad SAW, Puasa, Ramadhan, Umat
Jul 28

Sebuah Berita Mengejutkan Di Pagi Hari

“Ko, kayanya nanti saya ga kaer (kebaktian remaja) dan pembinaan deh… Rumah saya kebakaran!”

SMS itu masuk ke dalam inbox handphone saya pada hari Minggu kemarin, 25 Juli 2010 Pk 03:21 dini hari. Pengirimnya? Kurniawan, seorang anak bimbingan saya di gereja.

Saya baru membaca SMS itu ketika saya bangun jam setengah 6 pagi. Hampir saja saya menjatuhkan handphone saya saat membacanya. Saya langsung mencoba menghubungi dia.

Sia-sia. Handphone-nya tidak aktif. Saya malah menjadi bertambah khawatir. “Oh Tuhan, apa yang terjadi dengannya?”

Saya sungguh bergumul saat itu. Pagi itu, saya ada janji pergi dengan teman saya. Tapi, saya tidak akan mungkin dapat meninggalkan anak bimbingan saya dalam keadaan yang belum jelas dan sangat membuat saya khawatir. (Sebenarnya saya malu mengakui bahwa awalnya saya masih ragu-ragu untuk membantu anak bimbingan saya sendiri, tapi saya ingin bercerita dengan jujur). Kebingungan saya terjawab beberapa menit kemudian di kamar mandi saya.

Saya sedang mandi ketika saya bertanya kepada Tuhan di dalam hati saya, “Tuhan? Apa yang harus saya lakukan?” Dan saya percaya, Tuhan menjawabnya ketika ada sebuah suara yang saya rasakan sangat jelas di dalam hati saya: “Datanglah ke sana…”.

“Tapi Tuhan, apa yang bisa saya lakukan di sana?” Saya tidak pernah membantu orang yang mengalami musibah kebakaran sebelumnya. Meskipun di satu sisi saya sangat ingin membantu, di sisi lain saya merasa bingung dan tidak nyaman.

Semua keraguan saya sirna ketika suara itu bergema lagi di dalam hati saya: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.”

Singkat cerita, akhirnya saya membatalkan janji dengan teman saya. Dan saya pergi, ke lokasi kebakaran itu. Saat itu, saya sama sekali tidak tahu, bahwa Tuhan akan memberi saya berkat yang melimpah di sana.

Datang Ke Lokasi Kebakaran

Rumah Kurniawan, anak bimbingan saya tersebut, ada di daerah Tambora. Di sepanjang perjalanan, saya berdoa untuk keselamatan Kurniawan.

Saya pun sampai di depan gang dekat rel kereta api Bandengan. Saya melihat beberapa mobil pemadam kebakaran berjejer, dan banyak orang berkerumun. Saya mencoba untuk masuk ke dalam gang.

Saya melihat rumah-rumah yang berdempet-dempetan sepanjang gang itu. Saya melihat banyak orang berkerumun. Setelah saya agak jauh masuk ke dalam gang, saya mulai melihat rumah-rumah yang sudah hangus terbakar.

Saya masuk ke dalam gang rumah anak bimbingan saya. Saya tidak dapat sampai ke depan rumahnya. Petugas pemadam sedang sibuk menyemprotkan air ke rumah-rumah tersebut (yang sebenarnya sudah lebih mirip kumpulan tembok-tembok saat itu).

Saya sungguh terkejut. Saya tidak mengira kebakarannya sebesar ini. Meskipun saat itu api sudah berhasil dipadamkan, tetapi para petugas masih terus menyemprotkan air. Puluhan rumah habis terbakar si jago merah.

Sementara itu, saya masih mencari Kurniawan. Ya! Kurniawan… Di mana dia? Saya pun berusaha mencari di tengah kerumunan orang. Saat itulah, saya menyaksikan pemandangan di luar dugaan saya.

Sebuah Pemandangan Di Luar Dugaan

Apa yang Anda harapkan ketika Anda melihat seseorang yang rumahnya baru saja habis terbakar? Seorang yang sedang menangis tersedu-sedu? Seorang yang marah-marah? Seorang yang depresi? Seorang yang menunjuk orang lain dan berkata: “Ini semua salah kamu!!!”

Kawan, tidak satu pun dari orang-orang di atas yang saya temukan. Seberapa hebat pun saya mencari saat itu, tidak satu orang pun yang saya temukan menangis, marah-marah, depresi, atau saling menyalahkan. Setidaknya, sejauh yang saya lihat saat itu, saya tidak menemukannya.

Lalu, orang seperti apa yang saya temukan?

Yang saya temukan adalah orang yang sedang membeli banyak roti untuk tetangga-tetangganya, yang juga mengalami musibah.

Yang saya temukan adalah orang-orang yang saling membantu satu sama lain. Yang satu mengambil air. Yang lain menenteng ember. Yang lain lagi sedang menyiramkan isi ember itu ke sisa-sisa api.

Yang saya temukan adalah dua orang yang berpapasan. Yang seorang bertanya, “Hai… Gimana rumahmu?”. Dengan senyum terukir di wajahnya, yang lain menjawab, “Rumah habis semua. Tapi untung anak-anak selamat semua. Kamu bagaimana?”. Tersenyum juga, dia menjawab, “Sama. Tak ada yang tersisa, tapi keluarga aman.”

Hei, apakah tidak salah!? Mereka baru saja kehilangan rumah mereka, dan mereka dapat tersenyum begitu lepasnya. Mereka bahkan masih saling memperhatikan satu sama lain. Jika saya ada di posisi mereka, dapatkah saya melakukan hal yang sama? Suatu hal yang masih saya ragukan.

Saya yang awalnya berniat membantu, hanya bisa terdiam menyaksikan semua hal yang luar biasa tersebut. Saya merasakan aura positif di tengah kekacauan akibat kebakaran. Saya melihat begitu banyak orang yang luar biasa. Tidak terkecuali anak bimbingan saya.

Respon yang Luar Biasa

Saya masih terdiam ketika dia menepuk bahu saya.

“Hai koko!” sapaan yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Sapaan anak bimbingan saya. Kurniawan menghampiri saya.

“Hai Kur… Koko cari kamu dari tadi. Gimana rumah kamu?”

Tidak ada kesedihan yang terlihat di wajahnya. Hanya senyuman yang biasa dia tunjukkan. Dia menjawab, “Wah… Abis semua ko. Rumah saya uda jadi kaya lapangan bola…”

“Hah? Abis semua Kur?” saya terkejut.

“Iya. Baju aja tinggal yang saya pake sekarang. Cuma sempet ngeluarin motor dan sedikit baju dede saya.”

Oh Tuhan… Apa yang Engkau ingin nyatakan pada Kurniawan? Saya teringat, baru saja sehari sebelumnya kaki Kurniawan tertusuk paku. Dan hari itu, seharusnya dia mengikuti pertandingan basket. Pertandingan final. Baru juga sehari sebelumnya, dia membeli sepatu untuk dia pakai di pertandingan itu. Tapi sepatu itu lenyap dalam beberapa jam, tanpa sempat dipakai olehnya. Baru pula sehari sebelumnya, dia membantu kokonya bekerja seharian. Siapa yang menyangka, sekarang peralatan kerja kokonya pun sudah habis terbakar, di saat sebenarnya pekerjaan itu masih harus dilanjutkan hari itu.

Saya percaya, Tuhan ada rencana yang indah pada Kurniawan. Tapi, saat itu, segalanya terlihat begitu gelap. Ibarat orang yang sudah jatuh, tertimpa tangga, dan tertiban balok pula.

Tapi, respon Kurniawan menghadapi semua ujian ini sungguh baik. Tidak. Lebih dari baik, ini luar biasa! Kurniawan meresponi semua musibah ini dengan begitu positif. Dia meresponi dengan keyakinan Tuhan masih menyertainya sampai detik ini, meskipun dia sedang mengalami musibah yang hebat.

“Mama dan yang lain gimana Kur?” saya bertanya lagi.

“Puji Tuhan semua selamat ko. Saya barusan disuruh jaga motor sih, tapi sudah saya kunci. Koko mau lihat rumah saya?”

“Ga pa pa Kur motornya ditinggal?”

“Ga pa pa ko, aman… Uda saya kunci.” kata Kurniawan. Senyumnya masih terus terukir. Dan saya pun diantar ke gang rumahnya. Saya tidak dapat melihat dengan jelas saat itu, karena saya hanya melihat dari jauh. Petugas pemadam masih sibuk bekerja. Akhirnya, Kurniawan membawa saya bertemu mama dan adiknya.

Seperti orang-orang yang lain, mama Kurniawan pun tidak menunjukkan tanda-tanda kesedihan. Hei, saya tahu mereka semua sedang sedih. Tapi, mereka memilih untuk tidak memfokuskan diri mereka pada kesedihan mereka, melainkan pada hal-hal yang dapat mereka selamatkan, keluarga mereka. Dan itulah yang luar biasa.

Mama Kurniawan bercerita, “Kur tadi hebat loh, dia ingetin saya buat lepasin gas. Biar ga meledak katanya. Oh iya ya… Saya saja tidak ingat. Lalu saya lepasin gas. Abis itu langsung mati lampu. Dan ga berapa lama api udah nyamber. Tapi tabung gas itu selamat.”

“Ah, tapi sama aja ko… Yang lain ga lepasin gasnya, jadi meledak juga dari rumah yang lain ko… Hehehe.” kata Kurniawan sambil tertawa, membuat orang-orang di sekitarnya juga tertawa kecil.

“Tadi ribut-ribut saya kira ada tawuran… Jadi saya diemin aja. Terus saya kaget Kurniawan bilang kebakaran. Jadi saya baru bangun, untung semuanya bisa bangun dan selamat akhirnya…” mama Kurniawan cerita lagi.

“Hmm, ada korban jiwa ga ya di kebakaran ini?” saya bertanya lagi, penasaran.

“Tadi hampir ada ko… Kakek-kakek yang uda agak tuli. Digedor-gedor tetep ga bangun. Akhirnya pintunya didobrak, dan dia baru bisa dibangunin. Wah, kalo ga, uda jadi daging panggang ko…” kata Kurniawan.

Wow! Di tengah kepanikan, mereka masih ingat pada seorang kakek-kakek tua yang hampir tuli, yang hidup sendirian di dalam rumahnya yang terkunci. Mereka bahkan mendobrak pintu untuk menyelamatkan sang kakek. Mereka tidak berpikir keselamatan diri mereka sendiri saja, tapi juga keselamatan orang di sekitar mereka.

Api boleh membakar barang-barang mereka. Tapi mereka tetap bergembira karena mereka berhasil menyelamatkan setiap nyawa. Api tidak dapat membakar cinta kasih yang ada di dalam hati mereka.

Ingin Membantu, Malah Dibantu

Mau tahu akhir kisah yang tragis namun luar biasa pagi itu? Kurniawan mengantarkan saya pulang dengan motornya. Oh, saya mau menangis di perjalanan.

Diantar pulang naik motor mungkin sebuah hal yang biasa. Diantar pulang naik motor oleh seorang anak bimbingan yang rumahnya baru saja terbakar habis. Rasanya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Saya tahu, Kurniawan akan berkata “Ah, koko lebay…” ketika membaca tulisan ini. Tidak Kur, ini tidak lebay. Sungguh itu yang koko rasakan…

Tidak sekali pun terdengar keluhan. Tidak sekali pun terlontar makian. Tidak sekali pun dia meminta bantuan. Kenyataannya, justru sayalah yang dibantu. Saya benar-benar tidak membantunya pagi itu. Dia membantu saya dengan mengantarkan saya pulang.

Saya teringat kata-kata Tuhan tadi pagi: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.” Ini benar sekali. Tuhan ingin menunjukkan kepada saya seorang anak bimbingan saya yang sungguh luar biasa.

Tentunya, karena dia memiliki Tuhan yang luar biasa juga, yang telah mengubahkan hidupnya. Dan saya sangat bersyukur untuk semua itu.

Sungguh banyak berkat yang saya dapatkan, sehingga saya harus memecah tulisan ini menjadi beberapa bagian. Siang itu, saya datang lagi menemui Kurniawan, kali ini dengan teman-teman yang lain. Tapi ini cerita yang lain lagi, dengan berkat yang berbeda lagi yang saya dapatkan.

Apa yang Saya Pelajari

Lalu, apa yang saya pelajari pagi itu? Saya belajar untuk tidak egois, dan lebih memperhatikan orang lain. Saya belajar untuk mengandalkan Tuhan dan bersyukur senantiasa. Saya belajar untuk meresponi hal-hal buruk yang terjadi dengan sikap yang positif.

Tuhan yang mengajarkan itu kepada saya. Melalui anak bimbingan saya yang luar biasa.

Terima kasih Tuhan. Terima kasih Kurniawan.

Percayalah, Tuhan menyertaimu sampai kepada akhir zaman.

Teruslah percaya kepada-Nya. :D

Charles Christian

P.S. Yeremia 29:11. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Bersambung…


Jul 7

Pada dua tulisan sebelumnya, saya sudah menjelaskan mengenai pergumulan yang saya hadapi seputar uang, kekayaan, dan spiritualitas (khususnya iman Kristen saya). Pada tulisan ini, saya akan membagikan posisi saya saat ini. Bagaimana pandangan saya saat ini tentang uang, kekayaan, dan spiritualitas?

Mari kita kembali ke pertanyaan awal yang saya ajukan di awal tulisan pertama saya: “Apakah orang Kristen boleh kaya?” Jawaban yang saya yakini saat ini adalah: “Orang Kristen sudah seharusnya dan harus berjuang terus untuk menjadi kaya.” Tolong jangan salah paham dan menelan pernyataan saya tersebut mentah-mentah sebelum membaca penjelasan saya mengenai definisi “kaya” menurut saya…

Apa Itu Kekayaan?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar yang harus dijawab terlebih dahulu. Jawaban dari pertanyaan: “Apakah orang Kristen boleh kaya?” akan sangat bergantung pada definisi “kekayaan” bagimu.

Umumnya, orang akan mendefinisikan kekayaan berdasarkan banyaknya harta materi atau uang yang dia miliki. Majalah Forbes menyatakan seseorang disebut kaya jika memiliki penghasilan lebih dari 1 juta US$ per tahun. Ada lagi paham lain yang menyatakan seorang disebut kaya jika dia sudah mempunyai passive income yang lebih besar daripada pengeluarannya. Kekayaan seringkali diidentikkan dengan kebebasan finansial.

Mari saya beritahu satu hal, kawan… Kekayaan jauh lebih berharga dari sekedar mempunyai banyak uang.

Bagi saya, kekayaan lebih adalah mengenai “hubungan” daripada “uang”. Definisi kekayaan saya adalah terjalinnya hubungan yang baik antara saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama saya. Semakin erat hubungan saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama, maka semakin kaya saya.

Tapi Charles, Bukankah Kita Juga Butuh Uang!?

Ya, saya mengakui, seringkali uang dibutuhkan untuk membuat hubungan saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama menjadi semakin erat. Uang dibutuhkan untuk menghidupi diri saya dan keluarga saya. Uang dibutuhkan untuk membantu sesama kita yang kesulitan finansial. Uang dibutuhkan para hamba Tuhan yang memberitakan Injil. Uang dibutuhkan untuk membangun tempat-tempat ibadah.

Tapi, intinya, uang bukanlah tujuan akhirnya. Uang hanyalah alat yang dapat saya gunakan untuk membangun hubungan saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama menjadi lebih baik lagi. Hanya jika uang itu dapat digunakan untuk mendekatkan diri saya pada Tuhan, uang menjadi hal yang baik.

Lihat, inilah hal yang seringkali membuat orang-orang sulit mengaitkan uang, kekayaan, dan spiritualitas. Itu adalah karena mereka menetapkan dua tujuan dalam satu waktu. Tujuan pertama adalah kaya secara rohani. Dan tujuan kedua adalah kaya secara finansial. Apakah keduanya bisa tercapai dalam satu waktu? Belum tentu…

Banyak orang yang seolah memaksa Tuhan untuk menjadikannya kaya secara finansial agar dia dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Mereka berpikir, jika mereka kaya secara finansial, barulah mereka dapat menjadi berkat. Ini adalah pemikiran yang terbalik! Justru, menjadi berkat haruslah dilakukan bahkan jika kita tidak kaya secara finansial. Dan, kalau Tuhan menganugerahkan kekayaan finansial kepada kita, kita harus mengucap syukur dan terus menjadi berkat bagi orang lain. Tidak ada kewajiban Tuhan untuk menjadikan kita kaya secara finansial.

Jadi, mungkinkah kita kaya secara rohani dan kaya secara finansial juga? Saya percaya, ini mungkin! Tapi, kekayaan rohani haruslah yang jadi utama, dan kekayaan finansial kita gunakan untuk lebih memperkaya rohani kita. Ini bukanlah hal yang mudah (lihatlah betapa banyaknya orang yang jatuh secara rohani karena kekayaan finansial). Itulah sebabnya Allah benar-benar memilih setiap dari kita yang sudah siap untuk itu.

Orang Salehlah yang Justru Diuji Tuhan

Banyak paham teologi sukses mengatakan, orang yang saleh akan lepas dari kesulitan. Allah akan memberikan kesuksesan dan kelimpahan terus menerus bagi orang yang taat kepada-Nya. Sungguhkah seperti itu? Jika kita dengan teliti membaca Alkitab, kita seharusnya sudah tahu jawabannya adalah tidak. Justru sebaliknya… Orang salehlah yang justru diuji Tuhan.

Di kitab Kejadian, kita melihat Tuhan menguji iman Abraham dengan memintanya mempersembahkan anaknya, Ishak. Di kitab Ayub, kita melihat Tuhan justru yang berkata pertama kali kepada Iblis tentang Ayub yang begitu saleh. Dan, Tuhan juga yang mengizinkan Iblis untuk mencobai Ayub.

Mengapa Allah mengizinkan Iblis mencobai Ayub? Pada akhirnya, Allah menganugerahi Ayub harta berkali-kali lipat dibandingkan hartanya sebelumnya. Tapi, mengapa Ayub perlu mengalami penderitaan sebelum mendapatkan anugerah Allah tersebut? Itu karena Allah menginginkan Ayub betul-betul sangat amat kaya secara rohani sebelum dia akhirnya kaya juga secara finansial.

Orang yang belum kaya secara rohani sangat berbahaya jika kaya secara finansial. Kekayaan finansial akan membuat kebebasan kita bertambah besar. Dan, kebebasan yang bertambah besar akan sangat berbahaya jika kita belum bisa bertanggung jawab. Bayangkan Anda membiarkan anak Anda yang masih balita mengendarai mobil Anda. Bukankah itu akan menjadi sebuah bencana? Begitu pula, uang di tangan orang-orang yang belum kaya secara rohani akan menjadi bencana bagi dirinya dan orang lain.

Tapi, kalau mobil itu dikendarai oleh kita yang sudah tahu bagaimana cara mengendarainya, bagaimana peraturan yang harus diikuti, bagaimana etika yang ada di jalan raya… Mobil akan menjadi hal yang baik. Mobil akan mempercepat kita sampai pada tujuan. Uang di tangan orang-orang yang sudah kaya secara rohani akan membuat mereka semakin kaya secara rohani.

Inilah mengapa Allah memperkaya Ayub secara rohani terlebih dahulu. Pada awalnya, Ayub memang sudah kaya rohani. Tapi, setelah mengalami sederetan cobaan Iblis, Ayub menjadi sangat-sangat-sangat kaya secara rohani.

Ayub 42:5 mengatakan, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”

Lihatlah perbedaan kekayaan rohani Ayub sebelum dan sesudah dia dicobai. Sebelumnya, Ayub hanya mendengar dari orang saja tentang Allah, tetapi sekarang matanya sendiri memandang Allah. Ayub merasakan sendiri kuasa Allah di dalam hidupnya.

Kekayaan Sejati

Jadi kawan, kekayaan sejati bukanlah kekayaan finansial. Banyak orang yang kaya secara finansial yang tidak bahagia. Kekayaan yang sejati adalah kekayaan hubungan. Hubungan yang kaya dengan Tuhan, dan hubungan yang kaya dengan sesama kita.

Kekayaan finansial akan menjadi baik hanya jika kekayaan finansial itu semakin memperkaya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama.

Kawan, kejarlah kekayaan sejati terlebih dahulu. Dan Tuhan akan menganugerahkanmu kekayaan finansial, jika Allah berkenan memberikannya dan kita sudah siap menerimanya.

Kejarlah apa yang mendamaikan hatimu. Itulah yang diinginkan Tuhan. Kejarlah kekayaan finansial hanya jika kamu sudah mencapai level mengejar kekayaan finansial itu mendamaikan hatimu. Dan, saya percaya, saat mengejar kekayaan finansial mendamaikan hati kita, kita telah kaya secara rohani. Maka kita pasti akan menggunakan kekayaan finansial itu untuk lebih memperkaya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama, menjadi seorang yang lebih rendah hati, dan menjadi lebih banyak berkat dengan menolong lebih banyak orang yang membutuhkan di sekitar kita.

Itulah definisi “kekayaan” bagi saya.

Apa definisi “kekayaan” bagimu?

Tuhan memberkati kita.

Charles Christian


Jul 1

Bidadari-Bidadari Surga

Posted by Meri

Pada kesempatan ngeblog kali ini, saya akan meresensi sebuah buku karya Tere Liye. Nama Tere Liye memang identik dengan buku-buku mengharukan. Siapa yang tidak menitikkan air mata saat membaca Hafalan Shalat Delisa, kisah tentang seorang gadis kecil periang yang menjadi cacat karena tsunami Aceh. Juga ada buku Moga Bunda Disayang Allah, yang ini saya belum baca, pinjem dunk.. :D

Kali ini buku yang mo saya bahas adalah Bidadari-Bidadari Surga. Wuah.. ngomongin bidadari, pasti yang cowo pada seneng nih. Langsung kebayang sosok ideal layar kaca yang bening, licin, dan wangi.

Adalah Laisa, sulung dari 5 bersaudara. Laisa bertubuh gemuk, gempal, dan pendek. Lebih pendek dari orang kebanyakan, tubuhnya memang tidak akan tumbuh lagi sejak kecil. Kulitnya hitam dan rambutnya gimbal. Laisa berhenti sekolah kelas 4 SD dan bekerja di ladang membantu ibunya mencari uang untuk membiayai sekolah adik2nya, karena ayah mereka meninggal diterkam harimau.

Laisa mengorbankan dirinya demi keempat adiknya agar bisa sekolah. Laisa mempermalukan dirinya hanya agar adiknya tidak malu. Bahkan Laisa rela menukar nyawanya diterkam harimau gunung, pengganti nyawa adiknya.

Laisa tidak pernah tamat SD, fisiknya juga jauh dari cantik, sementara keempat adik2nya tampan2 dan cantik. Tidak ada pria yang mau meminangnya saat umurnya sudah lebih dari dua puluh tahun (di kampungnya wanita menikah umur 18), pun juga saat Laisa sudah kepala tiga, kepala empat. Setiap pria yang melihatnya akan mundur teratur, bahkan dengan kasar setelah melihatnya. Lalu, apakah Laisa pernah merasa keberatan dengan takdir kehidupannya? Menarik untuk disimak, percakapan Laisa dan Dalimunte, adiknya, mengenai kesendirian Laisa.

“Kakak tidak pernah merasa kesepian, Dali. Bagaimana mungkin kakak akan kesepian dengan kehidupan seindah ini… Kau benar, aku juga sering memikirkan umur. Sekarang usiaku tiga puluh empat tahun. Tapi apa yang kakak harus lakukan? Itu semua ada di tangan Allah. Yang lebih penting aku pikirkan, dengan sisa waktu yang mungkin tinggal sedikit lagi, apakah masih berkesempatan melakukan banyak hal di lembah ini, berkesempatan melihat kalian melakukan hal2 yg hebat di luar sana. Berkesempatan membuat mamak riang dengan keseharian di perkebunan”

Sesederhana itu. Laisa tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Baginya, adik-adiknya jauh lebih penting.

Ada berbagai kisah mengharukan di buku ini. Alurnya yang maju mundur, namun bukannya membingungkan, malah memperjelas, kenangan ini milik bagian mana, bagian masa lalu ini berdampak pada babak ini. Alurnya menjaga gairah membaca sampai akhir.

Kalimat dalam buku ini sederhana namun menyentuh. Buku yang saya rekomendasikan untuk memperkaya jiwa, untuk menumbuhkan kesyukuran dan kesadaran bahwa betapa beruntungnya kita. Terkadang betapa kita telah menjadi begitu materalistis, berlebihan mencintai materi dan tampilan luar. Lewat sosok Laisa, kita akan belajar arti ketulusan, kasih sayang dan pengorbanan, secara sederhana. Sebuah buku yang indah dengan akhir yang memotivasi.


Jun 23

Tulisan saya kali ini akan sedikit berbeda dari tulisan saya biasanya. Jika biasanya saya banyak memberikan nasihat-nasihat motivasi, kali ini saya akan lebih banyak bercerita dan mencurahkan isi hati saya secara jujur. Saya akan membahas satu topik yang cukup sensitif di kalangan Kekristenan, yaitu mengenai uang, kekayaan, dan spiritualitas.

Banyak orang yang diam-diam bergumul akan hal ini. Saya termasuk di antaranya. Sekarang, melalui tulisan ini, saya mau sharingkan proses pergumulan saya itu.

“Apakah orang Kristen boleh kaya? Bisakah orang kaya masuk Surga? Apakah benar Tuhan ingin kita menjadi kaya?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang terus saya pertanyakan sepanjang pergumulan saya. Di akhir pergumulan saya, saya menemukan bahwa pertanyaan itu ternyata bukanlah pertanyaan yang baik. Saya akan menjelaskan alasannya di seri terakhir tulisan saya.

Oh ya, ngomong-ngomong, saya memutuskan untuk membuat tulisan saya kali ini menjadi sebuah serial bersambung (mengingat panjangnya tulisan yang saya buat kali ini). Pesan saya, janganlah mengutip kata-kata saya lepas dari konteksnya. Apa yang saya tuliskan di sini adalah proses pergumulan saya. Tolong jangan mengambil kesimpulan apa-apa sebelum saya menyimpulkannya di seri terakhir dari tulisan saya.

Oke, cukup pengantarnya… Sekarang marilah kita mulai seri pertama dari tulisan ini. :D


Antara Uang dan Tuhan

Saya menemukan ada dua pandangan ekstrim kekristenan ketika berbicara tentang uang dan kekayaan.

Pandangan ekstrim yang pertama adalah pandangan “Orang Kristen harus kaya.” Pandangan ini biasanya diyakini oleh mereka yang mempercayai “Teologi Sukses”. Mereka menganggap kekayaan sebagai berkat Tuhan yang pasti didapatkan oleh semua orang beriman. Menurut mereka, Tuhan itu Maha Baik, dan pastilah akan memberkati orang-orang yang beriman kepada-Nya dengan berlimpah-limpah materi, kesuksesan, serta uang yang banyak. Bagi mereka, orang yang miskin adalah orang yang kurang beriman, maka kurang diberkati Tuhan.

Pandangan ekstrim yang kedua adalah pandangan “Orang Kristen tidak boleh kaya.” Mereka mempunyai ayat favorit yang berbunyi “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Karena itu, mereka mengambil kesimpulan, orang kaya mustahil masuk Surga. Menurut mereka, setiap orang beriman dipanggil untuk menderita bagi Tuhan di dunia, salah satunya adalah dengan menjadi miskin. Dengan menjadi miskin, mereka yakin Tuhan akan mencukupkan kebutuhan mereka setiap hari melalui cara-cara yang mungkin tidak pernah mereka duga. Mereka hanya cukup beriman dan menunggu. Bagi mereka, orang kaya adalah orang yang cinta uang, yang akan lebih mementingkan uangnya daripada Tuhan.

Saya tidak menyatakan apakah kedua pandangan di atas benar atau salah, setidaknya tidak saat ini.

Saya akan menceritakan pergumulan yang saya hadapi terkait uang, kekayaan, dan spiritualitas.


Tuhan VS Uang

Ketika saya masih kecil, saya sudah ikut sekolah Minggu. Di sana, saya banyak mendengar cerita-cerita Alkitab. Saya mendengar cerita bagaimana hidup Tuhan Yesus yang jauh dari kekayaan. Di dalam sebuah cerita, ada seorang kaya yang ingin mengikut Yesus. Yesus memerintahkan orang kaya itu untuk menjual hartanya dan membagi-bagikan semua hartanya kepada orang-orang miskin sebelum dapat mengikut Dia. Saya juga cukup sering mendengar ayat yang saya kutip di atas: “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (saat itu saya benar-benar membayangkan seekor unta dan sebuah jarum jahit!)

Pikiran saya mulai terprogram pernyataan-pernyataan berikut: “Tuhan menentang orang kaya.”, “Orang kaya mustahil masuk Surga.”, “Orang kaya adalah orang yang cinta uang lebih daripada Tuhan.”, “Tuhan ingin kita hidup cukup. Jangan menjadi kaya.”

Dengan kata lain, saya mulai mengadopsi ekstrim kedua.

Tanpa saya sadari, saya memposisikan uang dan Tuhan dalam sudut yang berlawanan. Saya seperti dihadapkan pada sebuah pilihan: “mendapatkan uang ATAU mendapatkan Tuhan”, dan saya hanya bisa memilih satu saja, karena Matius 6:24 menuliskan “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan.”

Percaya saya, dihadapkan pada pilihan di atas adalah sebuah tekanan batin. Kenapa? Karena saya ingin mendapatkan Tuhan, tapi saya tidak mungkin tidak mendapatkan uang, karena saya masih perlu makan.


Uang Bukan Segalanya, Namun Segalanya Butuh Uang

Mempertarungkan antara Tuhan dan uang ternyata bukanlah ide yang baik. Karena, jika pilihannya hanya “mendapatkan uang” atau “mendapatkan Tuhan”, secara teori saya bisa memilih untuk “mendapatkan Tuhan”, tapi pada prakteknya saya pasti harus “mendapatkan uang” juga.

Uang memang bukan segalanya, namun segalanya butuh uang. Kita masih membutuhkan uang untuk membeli makanan, untuk menopang hidup kita. Gereja pun butuh uang untuk biaya operasional mereka, dan membiayai banyak pelayanan. Dari sana, saya mulai mengubah pemahaman saya…


Cinta Uang Adalah Akar Dari Segala Kejahatan

Kalau dahulu saya beranggapan “uang adalah akar dari segala kejahatan”, seiring berjalannya waktu saya menyadari bahwa bukan “uang” yang menjadi akar dari segala kejahatan, tapi “kecintaan kepada uang”.

Jadi, dengan konsep ini, yang harus dihindari bukanlah memiliki banyak uang. Yang harus dihindari adalah menjadi seorang yang cinta uang (lebih daripada cinta Tuhan).

Bagaimana kita tahu bahwa kita lebih cinta uang atau cinta Tuhan? Sederhana saja, apakah kamu rela memberikan uangmu untuk Tuhan? Jika ya, maka kamu lebih cinta Tuhan. Jika tidak, maka kamu lebih cinta uang.

Pada tahap ini, saya merasa menjadi kaya itu oke, selama tidak cinta uang.

Ada banyak keraguan saya yang tampaknya dijawab satu persatu selama masa ini.

Salah satu contoh keraguan yang saya hadapi adalah “Apakah dengan menjadi kaya, saya akan menjadi lebih jahat, sombong, dan jauh dari Tuhan? (mungkin karena dulu saya suka nonton sinetron yang menggambarkan orang kaya itu jahat dan sombong)” Untuk pertanyaan ini, saya mendapatkan sebuah jawaban dari sebuah buku: “Kalau pada dasarnya kamu adalah orang baik, menjadi kaya akan membuat kamu semakin baik. Kalau pada dasarnya kamu adalah orang jahat, menjadi kaya akan membuat kamu semakin jahat. Kalau kamu yakin kamu adalah orang baik, kekayaanmu akan membuatmu dapat menolong lebih banyak orang.”

Lalu saya juga berpikir, “Bagaimana jika ketika saya menjadi kaya, saya menjadi cinta uang (lebih daripada cinta Tuhan)?” Dan, saya seperti mendapatkan jawaban berikut: “menjadi kaya dan cinta Tuhan adalah sulit. Tapi kalau kamu benar-benar cinta Tuhan, kamu pasti akan tetap cinta Tuhan ketika kamu kaya. Kalau kamu menjadi berubah jadi cinta uang, berarti pada dasarnya kamu tidak benar-benar cinta Tuhan dari dahulu.”

Pada tahap ini, pemikiran saya mulai berubah. Saya dapat menjadi kaya dan tetap beriman.

Hingga akhirnya, sebuah peristiwa menghantam saya. Peristiwa yang membuat saya ingin menjadi kaya. Saya akan ceritakan peristiwa ini di seri mendatang dari tulisan saya minggu depan. :)

Bersambung…

Uang, Kekayaan, Dan Spiritualitas (2): Mengapa Ingin Kaya?
Uang, Kekayaan, Dan Spiritualitas (3): Apa Definisi “Kekayaan” Bagimu?


May 26

image

Apa yang Anda pikirkan ketika Anda membaca judul tulisan ini? Saya menebak, ada dari Anda yang mungkin berpikir seperti ini: “Ah, mana mungkin kita selalu beruntung dalam hidup. Realistis aja, hidup ada di atas ada di bawah, ada naik ada turun, ada untung ada rugi… Ga mungkin lah hidup selalu beruntung.” Melalui tulisan ini, saya ingin membukakan, bahwa kita dapat selalu beruntung dalam hidup ini, jika saja kita tahu caranya. Tidak percaya? Mau tahu caranya? Lanjutkan baca tulisan ini sampai selesai… :D

Suatu sore, ketika saya sedang membaca komik Paman Gober (atau komik Donal Bebek), saya menemukan sebuah kisah berikut. Diceritakan, Paman Gober sedang bekerja di dalam gudang uangnya. Tiba-tiba, Paman Gober mendengar ada keributan di luar gudang uangnya, yang begitu mengganggunya. Ketika dia melihat keluar jendela, ternyata keributan itu berasal dari kedua keponakannya, si Donal dan si Untung, yang sedang berkelahi di halaman depan gudang uang. Paman Gober yang merasa terganggu lalu meminta James, pelayannya, untuk membawakan kentang untung menimpuk keponakannya tersebut (mungkin sayang kalau ditimpuk pakai karung emas, jadi ditimpuknya pakai kentang. :P ). James lalu membawakan sebuah kentang yang akhirnya dilemparkan Paman Gober ke luar jendela, dan mengenai salah satu dari keponakannya tersebut. Coba Anda tebak, siapa yang terkena lemparan Paman Gober ini sampai membuat kepalanya benjol? Apakah si Untung? Atau si Donal?

Kalau Anda sering membaca komik Donal Bebek, tentunya Anda tahu kalau si Untung adalah bebek yang selalu beruntung, dan si Donal adalah bebek yang selalu sial. Mungkin, dengan pengetahuan itu, Anda akan menjawab si Donal yang akan tertimpuk kentang sampai benjol…

Ternyata, bukan si Donal yang kena timpuk, tapi si Untung! Untung Angsa, yang terkenal sebagai bebek yang selalu beruntung, terkena timpuk kentang sampai benjol. Apa yang kita katakan? Apakah Untung mengalami kesialan? Jika ceritanya berhenti sampai di sini, mungkin ya… Tetapi, cerita ini ada kelanjutannya.

Si Donal spontan tertawa puas melihat sepupunya yang selalu beruntung akhirnya mengalami kesialan juga. Si Untung tidak percaya kalau dia bisa tidak beruntung. Lantas, dia mengecek kentang yang membuat kepalanya benjol tersebut. Ternyata, di dalam kentang tersebut terselip sekeping emas yang sangat langka dan berharga.

Nah, sekarang, apakah si Untung sial atau beruntung dengan tertimpuk kentang tersebut? Mungkin sekarang kita akan berubah pikiran dengan mengatakan si Untung beruntung. Saya pun berpikir demikian. Tapi, saat itu, saya mencoba berpikir lebih dalam lagi. Kenapa saya menganggap si Untung beruntung? Bukankah dia tertimpuk kentang sampai benjol? Saya mencoba merumuskan, dan saya mendapat kesimpulan bahwa saya menganggap si Untung beruntung karena sisi positif yang dia dapatkan lebih besar dari sisi negatif yang dia terima. Mendapat sekeping emas yang sangat langka dan berharga itu lebih berharga dibandingkan kerugian akibat ditimpuk kentang. Jadi, rumusnya adalah:

Seseorang disebut “BERUNTUNG” jika lebih banyak “SISI POSITIF” yang dia terima dari sebuah peristiwa, dibandingkan dengan kerugian yang dia harus tanggung akibat “SISI NEGATIF” dari peristiwa tersebut.

Nah, berarti yang menentukan apakah kita BERUNTUNG atau tidak, bukanlah peristiwanya… Tapi, bagaimana cara kita memandang peristiwa tersebut. Masalahnya adalah bagaimana kita dapat melihat “SISI POSITIF” dari sebuah peristiwa yang lebih besar dibandingkan kerugian dari “SISI NEGATIF” yang diakibatkan peristiwa tersebut.

Penting bagi kita untuk menyadari hal ini. Kalau kita menganggap peristiwa yang terjadi pada kita yang menentukan keberuntungan kita, maka hidup kita bisa beruntung dan bisa kurang beruntung, tergantung peristiwa yang terjadi pada kita. Kita tidak punya kontrol apa pun atas keberuntungan kita, karena kita tidak bisa mengontrol peristiwa yang terjadi kepada kita. Tapi, kalau kita menganggap keberuntungan dengan definisi yang saya berikan di atas, maka kita bisa terus menerus beruntung, kalau kita bisa melihat sisi positif dari setiap peristiwa yang kita alami.

Kabar baiknya, setiap peristiwa yang kita alami pasti mempunyai sisi positif. Jadi, sebenarnya, kita bisa mengontrol keberuntungan kita dengan sengaja, dengan selalu melihat sisi positif dari sebuah peristiwa. Jika kita selalu melihat sisi positif dari sebuah peristiwa, takkan ada peristiwa yang merupakan kesialan bagi kita. Dengan kata lain, kita akan selalu beruntung. Masuk akal? :D

Berarti, sekarang masalahnya adalah bagaimana cara kita melihat sisi positif dari peristiwa yang kita alami. Saya tidak akan memaparkan teori apa-apa. Saya hanya akan membagikan cara-cara praktis yang saya lakukan untuk melihat sisi positif dari sebuah peristiwa (yang mungkin bagi sebagian besar adalah peristiwa buruk). Peristiwa yang akan saya bagikan adalah peristiwa yang nyata terjadi dalam kehidupan saya sehari-hari. Saya akan membagikan sharing saya tersebut dalam tulisan mendatang. So, ditunggu ya tulisan saya minggu depan…

Selamat menjalani hidup yang penuh dengan sisi positif. :D

Bersambung… ke Tips Agar Kita Selalu Beruntung Dalam Hidup (2)


May 19

Kesalahan yang Membawa Berkah

Posted by Charles

Saya yakin, setiap dari kita pasti pernah berbuat salah, entah disengaja atau tidak disengaja. Tidak sedikit pula yang akhirnya menyesali kesalahannya terus-menerus. Kesalahan itu membawa malapetaka bagi mereka. Namun, jika kita tahu caranya, ternyata kita bisa membalikkan kesalahan yang seharusnya membawa malapetaka bagi kita, menjadi berkah untuk kita. Setidaknya, itu yang saya dapatkan dari kisah yang saya alami berikut.

Kisah ini terjadi hari Minggu lalu, ketika saya dan keluarga makan malam bersama di Pizza Hut Pluit Village. Seperti biasa, sang waiter memberikan daftar menu, dan mencatat pesanan kami. Sebelum dia pergi, dia berkata “Baik Pak… Menunya bisa saya ambil ya Pak? Pizzanya ditunggu 15 menit. Terima kasih.” Kata-kata itu mungkin tidak asing bagi Anda yang sering makan di Pizza Hut. Tampaknya, itu sudah menjadi suatu standar pelayanan Pizza Hut, agar waiter berkata-kata seperti itu, dan menjanjikan pizza yang dipesan akan datang dalam waktu 15 menit.

Kami pun menunggu… 10 menit kemudian, salah satu pesanan kami, yaitu Spaghetti, datang. Spaghetti pun saya lahap sembari menunggu pizza yang belum datang. Waktu terus berlalu, 5 menit, 10 menit, hingga 15 menit kemudian, ketika Spaghetti telah habis saya lahap, ternyata pizza yang kami pesan belum kunjung tiba. Ini berarti sudah terlambat lebih dari 10 menit dari waktu yang dijanjikan sebelumnya.

Saat itu, yang ada di pikiran saya adalah “Wah, kok pelayanan mereka ke customer kaya gini ya?”, “Wah, mereka melanggar janji”, “Wah, mereka sudah melakukan kesalahan…”, “Wah, kalau pelayanan mereka begini, mereka bisa kehilangan customer mereka.” dan lain sebagainya. Intinya, saya menganggap Pizza Hut telah berbuat kesalahan besar dan tidak profesional dengan membiarkan customernya menunggu terlalu lama, lebih dari waktu yang dijanjikan. Kami mulai kesal, dan memanggil sang waiter menanyakan pizza yang kami pesan.

“Mas, mana pizza yang kami pesan? Sudah setengah jam kok belum keluar? Janjinya kan 15 menit…” protes kami.

“Wah, maaf pak… Pizzanya masih belum jadi,” sang waiter kebingungan.

“Wah, kok di sini ga profesional ya pelayanannya? Kalau dulu saya di Pizza Hut lain kaya gini, harusnya uda ada yang digratisin nih.” kami melampiaskan kekesalan kami.

“Maaf pak… Saya akan antarkan pizzanya secepatnya,” sang waiter kembali meminta maaf.

5 menit lagi berlalu, dan pizza kami masih belum datang juga. Saya sudah mulai memikirkan untuk meng-cancel pesanan tersebut, dan pindah ke restoran lain. Image “Pizza Hut” menjadi buruk bagi kami, karena pelayanan mereka yang buruk ini. Setidaknya, ini adalah kesalahan mereka, yang hampir membawa malapetaka bagi mereka. Sampai akhirnya, momen itu tiba… Momen yang mengubah kesalahan mereka dari malapetaka menjadi berkah.

Tiba-tiba, sang waiter datang menghampiri kami membawa sebuah mangkuk sup kosong, dan berkata, “Maaf pak, pizzanya masih belum datang. Sambil menunggu pizzanya, silakan bapak nikmati dulu supnya… GRATIS…” Dan mangkuk itu pun diletakkan di meja kami.

Tiba-tiba pula, kalimat pertama yang terlontar di kepala saya saat itu adalah “Wow… Pizza Hut benar-benar profesional dan gentleman.” Entahlah kenapa saya berpikir begitu, tapi itulah kalimat pertama yang saya pikirkan ketika mangkuk sup itu diletakkan di atas meja, dan ketika saya mendengar kata-kata “silakan bapak nikmati dulu supnya… GRATIS…”

Suasana hati saya yang tadinya kesal, tiba-tiba berubah menjadi gembira. Ya, siapa yang tidak gembira diberikan barang gratis? Hehe…

Kemudian, sembari menikmati sup gratis itu, saya berpikir lagi. Kok bisa ya saya tiba-tiba berubah pikiran dari anggapan bahwa “Pelayanan Pizza Hut buruk” menjadi “Pelayanan Pizza Hut memuaskan”. Mereka tetap salah kok, dengan ingkar janji dan membiarkan saya menunggu terlalu lama. Tapi, mereka memberikan saya sup gratis (meskipun menurut saya, mereka tidak rugi memberikan sup gratis itu, karena waktu itu sudah malam, dan sup yang tersisa di gentong mereka masih banyak… Yah, daripada dibuang kan bisa untuk memuaskan customer yang terluka? Bener ga? Hehe).

Inilah yang saya sebut, kesalahan yang membawa berkah. Setelah peristiwa itu, saya jadi bercerita ke teman-teman saya tentang image positif dari Pizza Hut. Kesalahan itu tertutupi dengan respon mereka dalam memperbaiki kesalahan itu. Dan bahkan menurut saya, efek positif yang timbul karena peristiwa ini, melebihi dari efek positif jika mereka tidak berbuat kesalahan. Dengan adanya kejadian unik ini, saya jadi mengingat kejadian ini, dan bukan tidak mungkin saya bisa berpromosi tentang Pizza Hut tanpa bayaran dengan cerita-cerita saya ke teman-teman saya, termasuk dalam blog ini. :D

Mengingat kejadian itu, saya jadi ingat bagaimana restoran Pizza lain di luar negeri mempromosikan Pizza mereka. Mereka mempunyai tagline “Pizza yang Anda pesan sampai ke rumah Anda dalam 30 menit atau GRATIS!”. Lalu, uniknya, dalam beberapa kesempatan tertentu, mereka sengaja mengantar pizza pesanan itu terlambat 1 atau 2 menit (meskipun mereka sudah sampai di lokasi tepat waktu, tapi mereka sengaja menunggu untuk membuat mereka terlambat), lalu mengetuk pintu rumah dan berkata, “Maaf kak, kami terlambat 1 menit mengantar pesanan kakak. Karena itu, kakak tidak perlu bayar. Pizza ini GRATIS untuk kakak.”

Apakah kesalahan mereka dengan terlambat mengantar pizza ini membawa malapetaka? Menurut saya, justru sebaliknya, kesalahan ini membawa berkah. (Meskipun memang kesalahan ini disengaja :P ). Mereka tinggal menunggu si kakak menceritakan pengalamannya tersebut kepada teman-temannya, dan memberikan promosi gratis pada mereka.

Jadi, jika Anda berbuat sebuah kesalahan, janganlah berkecil hati dulu. Cobalah cari cara untuk memperbaiki kesalahan tersebut (bahkan menjadi lebih baik daripada Anda tidak melakukan kesalahan itu), dan kesalahan itu takkan menjadi malapetaka lagi bagi Anda. Sebaliknya, Anda akan mengenang kesalahan yang Anda buat tersebut, sebagai sebuah kesalahan yang membawa berkah bagi Anda.

Selamat memperbaiki kesalahan Anda. :D


May 17

Perjalanan Sang Blogger

Posted by Aulia

way of life

Foto : KOMPAS.COM/Yudistira Bayu A

TANGGAL bisa saja terus berganti, namun seorang pribadi jarang bisa terganti. Itulah kata yang mungkin cocok bagi pribadi saya kini menjalani hidup lebih dari dua dasarwarsa.

Ada sepenggal kalimat yang saya torehkan pada lembaran status mukabuku dengan sebuah tag sederhana yakni, semangathidup23. Kalimat tersebut berbunyi, “SUNGGUH waktu telah berjalan dalam setiap hitungan detik yg berlalu, banyak sejarah yang ikut bersamanya. Walaupun bkn beban yg berat, tapi sebuah tanggung jawab yg melekat pada diri ini untuk bisa memberikan yg tebaik. Perjuangan tdk akan usai begitu saja, banyaknya kerikil yang kadang membuat jatuh ditengah jalan, itulah celah yg harus jd pijakan utama untuk terus berusaha yg tdk lepas dari do’a.”

Jika anda melihat gambar di atas, tentu anda akan memikir sebuah kata  atau kalimat yang mungkin akan sangat sederhana walaupun banyak orang akan menafsirkan secara berbeda-beda. Seorang yang berjalan di atas rel kereta api, lihatlah kedepannya rel yang tidak begitu lurus, namun ada saja belokan kecil dan kadang antara satu rel yang lain menyatu dalam satu rel lainnya.

Itulah makna yang saya tangkap dari gambar tersebut, mungkin ibarat kata juga saya memaknai bahwa hidup yang telah saya lalui lebih dari dua puluh tahun ini kadang tidak selalu mulus, kerikil-kerikil tajam dalam setiap rel waktu itu selalu ada. Saya dan juga anda semua mungkin tidak akan mengelak dari itu, tapi yang diperlukan adalah cara kita memaknai dari setiap yang kita lewati sebagai pengalaman hidup yang berharga.

Kadang saya sering merasa menjadi orang yang terpuruk dalam sebuah perjalanan ini, terlebih waktu sekarang dalam menghadapi masa-masa menjadi seorang mahasiswa. Namun, ada satu kata disaat-saat rasa itu kian menyelimuti hati ini, “Allah akan menunjukki kita/hamba-Nya jalan sesuai dengan kehendak-Nya”. Kata-kata seperti ini terasa kadang harus merenung dari apa yang sudah kita perbuat dan selebihnya berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Menjadi Blogger
Mempunyai ilmu dengan banyak, tanpa bisa membagikan dengan orang lain, sungguh ini sesuatu yang kadang juga sirna begitu saja. Walaupun tidak mempunyai kemampuan yang lebih dalam akademik, saya mencoba untuk ‘menerjukan’ diri dalam ranah blogging.

Sejak 21 Februari 2007, akhirnya saya menjerumukan diri dalam dunia ini (baca: blog). Memang hanya berniat semata untuk mencoba, terlebih dari itu ingin membagikan sesuatu yang kiranya berguna bagi orang lain dan mencoba berinteraksi dengan sesama walaupun itu hanya lewat dunia maya.

Tiga tahun bersama blog yang sering saya sebut dengan OWL (Orekan Waktu Luang) membuat saya kadang berpikir lebih, ada hal-hal yang baru yang kadang jarang saya jumpa di dunia nyata. Mencoba dalam menulis, memposisikan diri sebagai orang lain dalam memahami tulisan saya, terus saya coba. Kadang ide-ide aneh yang mungkin jarang terpikirkan, akhirnya bisa beredar menjadi wacana nyata.

Aceh Blogger salah satunya, dimana saya menemukan orang-orang lain dalam sebuah aktifitas yang sama, sehingga melahirkan komunitas tersendiri. Awal sebelum itu, dalam rangka menyatukan anak-anak Aceh di Universitas Indonesia, saya berinisiatif membuat blog SAMAN UI, dan alhasil kini cukup mendapat respon dalam menyebarkan informasi khususnya pendidikan.

Mungkin itulah segelintir kisah, perjalanan hidup saya dan ngeblog selama 3 tahun yang sudah berlalu (insyaAllah akan lanjut terus). Masih banyak hal yang ingin saya lakukan, terutama untuk mewujudkan tanggung jawab kelak nanti, membahagiakan orang tua, memberikan yang terbaik untuk orang disekitar yang saya sayangin dan kasihi. Karena mereka telah banyak membantu dalam hidup saya ini, saya yakin bahwa hidup dalam kesendiri an tanpa ‘mereka’ yang tidak bisa disebut satu persatu adalah nihil adanya seperti sekarang ini.

Untuk mengingat hari jadi semangathidup23, saya juga mulai menoreh langkah baru untuk terus belajar dalam menulis, yakni dengan bergabung di Media Warga (Citizen Media) Kompasiana. Sungguh sebuah keberuntungan tulisan Menilisik Silsilah Raja-Raja Islam di Aceh menjadi headlines disana.

Dapat Headlines di Kompasiana.

Di akhir tulisan ini, saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada ibu/bapak/kakak/adik serta teman-teman yang sudah memberikan sesuatu yang berkesan, baik itu pesan, jempol dan juga ucapan di Facebook, semoga atas do’anya membuat saya lebih menjadi bagian hidup dalam sebuah lingkungan dan keluarga ini, dimana saya belajar banyak dari lingkungan yang sekarang ini saya berada. Semoga Yang Kuasa membalas yang terbaik pula atas do’a-do’a anda semua. Amiin[]


Filed under: Blogger, Blogging, Ekstrakurikuler, ICT, Internet, Kampus, Kesan, Renungan, Santai Tagged: Blog, Doa, Hidup, Keluarga, Kuliah, Menulis, Perjalanan
May 12

Ada satu pertanyaan yang mengganjal di benak saya belakangan ini. Pertanyaan itu adalah: Manakah yang lebih baik? Menjadi seorang yang benar-benar jahat tanpa topeng, atau menjadi seorang jahat yang memakai topeng orang baik, biasanya bahasa kerennya tuh “orang munafik”?

Seorang teman berkata “Kalau mau jahat, mending jahat sekalian… Dan kalau mau baik, mending jadi baik aja, ga usah jadi setengah-setengah”. Kalimat ini membuat saya berpikir, sungguh indah jika dunia ini bisa dibuat sesederhana itu. Kita tinggal memilih, mau jadi jahat atau mau jadi baik. Namun, ternyata kenyataannya tidak sesederhana itu. Seorang yang jahat tidak bisa dengan instan begitu saja menjadi baik 100%. Pasti ada orang yang ada di tengah-tengah. Di satu sisi, dia punya keinginan untuk berbuat baik, dan di sisi lain dia juga sulit meninggalkan dosa yang masih disukainya. Mereka terjebak di tengah-tengah, antara baik dan jahat.

Saya termasuk orang yang setuju bahwa orang yang jahat dan orang yang munafik akan mengalami akhir yang sama-sama tragis, yaitu dicampakkan oleh Allah. Namun, menurut saya, setiap orang harusnya mengalami fase dalam hidupnya di mana dia menjadi “orang jahat”, dan dia menjadi “orang munafik”.

Roma 3:23 mengatakan: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”. Semua orang telah berbuat dosa, atau dengan kata lain, semua orang telah menjadi “orang jahat” di mata Allah.

Syukur kepada Allah, ayat di atas tidak berhenti sampai di sana, tetapi ada kelanjutan yang mencerahkan di Roma 3:24 yang berbunyi: “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus”. Kita, yang adalah “orang jahat” tersebut telah dibenarkan oleh Kristus Yesus. Kita, yang dahulu “tidak bisa TIDAK berbuat dosa”, kini bisa memilih untuk “tidak berbuat dosa”. Namun, apakah itu menjamin kita akan langsung menjadi 100% baik? Ternyata tidak, semuanya membutuhkan proses dan pertumbuhan… Dan dalam semuanya itu, kita harus terus mengandalkan Tuhan.

Sekarang, kembali ke pertanyaan awal: Apakah lebih baik menjadi “seorang jahat” atau “seorang munafik”? Meskipun keduanya sama-sama tidak baik, saya melihat keduanya memiliki sisi positif dan negatif.

Yang paling mudah terlihat adalah sisi negatif dari “seorang jahat”. Itu tentu sudah jelas. Segala hal yang jahat yang dia lakukan dan dia perlihatkan di depan orang banyak adalah hal-hal yang negatif.

Tapi, apa sisi positif dari “seorang jahat”? Menurut saya, sisi positif dari “seorang jahat” adalah, jika Tuhan membukakan hati mereka, mereka yang benar-benar jahat mungkin yang paling mudah untuk bertobat, karena mereka berpikir mereka tidak mempunyai pegangan lagi. Dan, jika mereka akhirnya bertobat, mereka mungkin akan lebih menghargai keselamatan yang diberikan kepada mereka.
Sebagai ilustrasi, anggaplah kita adalah seorang yang sangat kaya dan dermawan. Anggaplah kita ingin membantu dua orang, si A dan si B, yang sama-sama berhutang kepada kita. Kita akan hapuskan hutang mereka dengan syarat mereka menjadi pembantu kita seumur hidupnya. Siapa orang yang akan lebih mudah menerima bantuan dari kita? Apakah si A yang berhutang Rp 100.000, atau si B yang berhutang Rp 1 Milyar? Tentunya si B yang akan dengan senang hati dan penuh syukur menerima bantuan kita, sedangkan si A mungkin masih berpikir dia bisa melunasi hutangnya dengan keringatnya sendiri. Begitu pula, orang jahat yang bertobat yang disalib di samping Tuhan Yesus, tentunya akan sangat bersyukur karena dia telah merasa dirinya tidak layak dan tanpa harapan. Namun, ingatlah sisi positif ini baru berlaku ketika “seorang jahat” tersebut bertobat.

Lalu, apa sisi negatif dari “seorang munafik”? Sisi negatif dari “seorang munafik” adalah ketika mereka puas menjadi “orang munafik” dan tidak terus bertumbuh lagi. Celakanya ketika mereka merasa telah “berbuat baik”, mereka melupakan Tuhan yang sebenarnya satu-satunya harapan penolong mereka. Celakanya ketika mereka merasa sudah sembuh, padahal masih sakit, dan karena merasa sudah sembuh, mereka menolak pengobatan Sang Tabib. Jika mereka terus menjadi “orang munafik” tanpa pertumbuhan, nasib akhir mereka akan sama dengan nasib “orang jahat” yang tidak bertobat.

Dan yang terakhir, apa sisi positif dari “seorang munafik”? Sisi positifnya adalah setidaknya mereka sudah mengerti yang baik dan yang jahat. Ada pertentangan dalam batin mereka untuk melakukan hal-hal yang baik, meskipun mereka masih menyukai hal-hal yang jahat. Namun, itu semua adalah proses. Kalau saat ini mereka hanya baik di luar dan buruk di dalam, jika mereka mau terus bertumbuh dan terus mengandalkan Tuhan, Tuhan dapat mengubahkan sifat-sifat buruk di dalam tersebut menjadi sifat-sifat baik yang selama ini mereka tampilkan di luar. Mereka akhirnya dapat berbuat baik dan benar dari dalam diri mereka, tanpa mengenakan topeng. Namun sekali lagi, ingatlah sisi positif ini baru berlaku ketika “seorang munafik” tersebut terus bertumbuh dan mengusahakan dirinya menjadi lebih baik lagi dan tidak munafik, tentunya dengan pertolongan Tuhan.

Jadi, saya tidak setuju kalau dikatakan daripada jadi “orang munafik”, lebih baik jadi “orang jahat” sekalian… Tidak! Kedua-duanya sama-sama berujung pada maut. Baik kita saat ini adalah “orang jahat” atau “orang munafik”, kita harus terus berjuang menjadi “orang yang baik dan benar”. Dan semuanya memang tidak terjadi secara instan. Semuanya membutuhkan proses dan pembentukan dari Allah sepanjang hidup kita.

Kapan semua proses ini berakhir? Efesus 4:13-15 menuliskan, proses ini akan terus berlangsung “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”

Mari kita sama-sama berjuang, dengan pertolongan Tuhan, untuk meninggalkan “manusia jahat” dan “manusia munafik” kita, menjadi “manusia baru” yang melakukan hal yang baik dan benar dengan sepenuh hati kita untuk kemuliaan Tuhan. Amin. :-)


May 11
bahasa indonesia

Ilustrasi : dedendeh.wordpress.com

SIAPA yang tidak mengenal Bahasa Indonesia, bahasa yang menjadi pemersatu bangsa, bahasa yang telah dikenal oleh dunia. Tapi, jangan salah bahasa yang sudah dikenal seantero negeri pertiwi ini kadang juga sarat dengan dilema dalam kehidupan sehari-hari.

Dilema ini juga yang kadang membuat negeriku lebai, baru saja beberapa hari yang lalu elajar seluruh Indonesia mendapat pengumuman yang mendebarkan dalam hidupnya, kecuali mereka para bocah SD yang belum menerima jawaban hasil olah pikirnya dari 3 buah mata pelajaran.

Sungguh polemik dari bahasa Indonesia ini jauh sebelum diperdebatkan diberbagai kalangan, bahkan sampai meminta UN untuk dihapus adalah sebuah pekerjaan yang mengada-ngada saja. Baca saja seperti yang dimuat oleh sripoku.com, “…Hasil Ujian Akhir Nasional telah menuai kritik dari berbagai kalangan, mulai dari siswa yang tidak lulus, orangtua siswa, dan lain-lain. Tingginya angka ketidaklulusan yang terjadi di beberapa sekolah membuat orang ramai-ramai meminta pemerintah untuk mengkaji kembali kebijakan Ujian Akhir Nasional. Bahkan ada yang langsung meminta untuk menghapus UAN dengan alasan tidak menggambarkan hasil proses belajar selama beberapa tahun dan diskriminatif terhadap beberapa siswa yang tergolong cerdas di kelas, tetapi akhirnya dinyatakan tidak lulus.”

Tercengang memang realitas yang ada di masyarakat sekarang, banyak pengamat atau pemerhati berbicara, praktisi juga ikut serta dalam masalah bahasa negeri ini. Namun, yang tersayangkan juga dalam jajaran pemerintah/instansi (orang terpandang, -pen) untuk berbicara Indonesia saya sungguh mengalami pergeseran, walaupun saya bukan seorang yang kompeten dalam hal bahasa seperti ini, paling tidak inilah bukti nyata yang ada dikalangan masyarakat sekarang.

Tidak hanya itu, kalangan remaja atau ABG yang sekarang juga dinilai labil dalam pergaulan dan tingkah berbicara, sehingga hal-hal kecil saja yang sebenarnya sepele menjadi hal yang dibenarkan. Lihat saja contoh dari seperti yang diungkapkan oleh Yusdi dalam sebuah percakapan sederhana, A : “Eh bagaimana hubungan kalian berdua?” lalu B : “Kita baik² aja koq. Malah tambah mesra”. Seharusnya jika anda simak percakapan sederhana tersebut akan sangat kelihatan kesalahannya.

Lebih lanjut dalam seperti yang dilansir pada kolom opini sripoku.com, juga menyatakan bahwa, “Banyak siswa yang meremehkan Bahasa indonesia, dengan dalih bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa sehari-hari; mereka menguasai bahasa tulis dan lisan dengan baik. Paradigma tersebut tidak benar, karena pada kenyataannya para siswa hanya mahir menguasai pengetahuan dengan bahasa pengantar Bahasa Indonesia, akan tetapi kemampuan mereka untuk berbahasa Indonesia yang baik, benar, dan komunikatif masih dipertanyakan.”

Inilah bahasa Indonesia dimata Indonesia, kita sering bangga dengan mengikuti orang luar (barat, -pen), walaupun ini sebuah pemikiran ‘kuno’, tapi bukan berarti kita tidak boleh belajar bahasa lain selain bahasa Indonesia. Tapi, alangkah baiknya orang timur tidaklah usah terlalu kebarat-baratan sampai harus menyisihkan bahasanya sendiri, ikutilah yang memang sesuai kebutuhan tanpa harus lupa dengan bahasa sendiri.

Semoga anda yang membaca tulisan ini tidak terbawa kemana-mana, walaupu alur tulisannya tidak mengarah secara tepat, jika ada tulisan/kalimat yang tidak sesuai dengan EYD menurut KBBI, harap dimaklumi saja, karena saya juga belajar dalam untuk berbahasa.[]


Filed under: Kampus, Renungan, Santai Tagged: ABG, Bahasa Indonesia, Lebai, Pelajar, Pendidikan, Remaja, Ujian Nasional
Apr 28

Saat kita duduk di bangku SD, kita diajarkan bahwa “terang adalah lawan gelap”. Ketika kita mendengar “terang adalah lawan gelap”, seringkali yang terbayang adalah terang dan gelap mempunyai kekuatan yang sama dan saling beradu satu sama lain. Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, terang tidak berlawanan dengan gelap. Terang lebih kuat daripada gelap!

Ada senter terang untuk menerangi dalam gelap, tapi tidak ada senter gelap untuk menggelapi yang terang bukan? Ketika ada terang, gelap otomatis menyingkir. Gelap adalah ketiadaan terang.

Ada sebuah ilustrasi yang menggambarkan hal ini dengan cukup baik. Ilustrasi tersebut adalah ilustrasi tentang goa dan matahari.

Goa tinggal di dalam dasar bumi yang gelap. Suatu hari goa mendapat undangan dari matahari (jangan tanya gimana cara ngirim undangannya, mungkin pakai MENTARI sinyal kuat? :p) untuk berkeliling di permukaan bumi melihat terang. Goa sangat antusias karena dia belum pernah melihat terang. Dia ingin tahu terang itu seperti apa. Maka goa pun menyambut undangan matahari dan naik ke permukaan bumi. Dia lalu diajak oleh matahari mengelilingi bumi. Goa sangat takjub dengan terang yang ditunjukkan matahari. Lalu, setelah perjalanan tersebut, kembalilah goa ke dalam dasar bumi yang gelap.

Goa lalu merasa berhutang budi dengan matahari. Dia lalu mengirim undangan pada matahari (sekali lagi jangan tanya gimana caranya) untuk datang ke dasar bumi untuk melihat kegelapan. Matahari yang menerima undangan tersebut juga sangat antusias dan penasaran seperti apa gelap itu. Dia lalu datang ke dasar bumi menemui goa. 1 menit berlalu, 5 menit berlalu, 15 menit berlalu, 30 menit berlalu… Matahari lalu bertanya pada goa, “Goa… Ayolah lekas tunjukkan padaku seperti apa kegelapan itu. Aku sudah tak sabar melihatnya…”

Anda menangkap inti ilustrasi di atas? Ya, kegelapan itu telah sirna seketika setelah matahari datang. Terang matahari telah menyingkirkan kegelapan di dasar bumi tersebut.

Meskipun demikian, mungkin Anda bertanya, “Tapi di zaman sekarang, seringkali orang yang benar semakin susah, dan orang yang tidak jujur lebih diuntungkan… Seringkali orang yang baik dikalahkan oleh orang yang jahat. Bukankah itu tandanya gelap mengalahkan terang?”

Tidak, sobat. Terang tetaplah terang, dan terang selalu lebih kuat dari gelap. Meskipun di dunia ini seolah-olah terang tersebut dikalahkan oleh kegelapan, pada akhirnya nanti, ketika kita menghadap Sang Pencipta, terang akan selalu mengalahkan kegelapan.

Jadilah terang untuk menerangi kegelapan di sekeliling kita. :D

Sumber ilustrasi: Khotbah KPI Natal 2009, oleh Alex Nanlohy


Apr 21

Terinspirasi dari suatu sore beberapa bulan yang lalu, di mana saya akan memimpin sebuah rapat jam 3 sore. Tepat jam 3 sore, hanya ada satu orang peserta rapat, (anggaplah namanya Denny), yang sudah datang dan sedang duduk menunggu di sofa, sedangkan yang lainnya belum datang.

Saat itu, saya berkata kepada Denny, “Den, coba lihat jam, jam berapa sekarang… Jam 3 kan, dan kita akan mulai rapat jam 3. Kenapa kamu masih duduk santai aja di sofa? Ayo cepat masuk ke dalam ruang rapat!”

Saat saya teringat kembali atas peristiwa tersebut, saya mulai berpikir. Bukankah Denny adalah seseorang yang sangat baik dengan datang tepat waktu, bahkan sebelum waktu yang dijanjikan. Bukankah dia lebih baik dari teman-temannya yang saat itu belum datang, atau bahkan tidak datang? Tapi, kenapa justru dia yang sangat baik tersebut, yang saya tuntut lebih? Kenapa dia yang justru saya lebih disiplinkan, dan kenapa justru dia yang merasakan energi negatif saya yang muncul karena banyaknya anak-anak yang belum datang rapat di waktu yang dijanjikan? Kalau dia yang sudah melakukan hal yang baik, malah mendapatkan respon negatif dari saya, bukankah itu akan membuatnya kecewa dan menjadi enggan datang tepat waktu lagi untuk menghindari energi negatif saya?

Di sisi lain, banyak anak-anak yang akhirnya tidak datang rapat. Namun, saya tidak mem-follow-up mereka. Kenapa? Karena untuk mem-follow-up mereka membutuhkan waktu, tenaga, dan dana ekstra. Dimulai dari waktu untuk mencari keberadaan mereka, tenaga yang dikeluarkan untuk mencari mereka, dan dana untuk menelepon mereka. Akhirnya, mereka “selamat” dari energi negatif saya. Mereka saya diamkan. Mereka merasa baik-baik saja dengan tidak datang rapat tepat waktu, atau bahkan tidak datang rapat sama sekali. Akhirnya, mereka cenderung untuk mengulanginya.

Ironis sekali. Bukankah keinginan saya adalah agar mereka datang tepat waktu? Tapi mengapa mereka yang datang tepat waktu yang justru mendapatkan perlakuan buruk? Sedangkan, mereka yang tidak datang tepat waktu toh “baik-baik saja”.

Marilah Kita Mulai Memberikan Apresiasi

Saya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kita ada di zaman di mana apresiasi adalah hal yang langka. Orang-orang cenderung untuk melihat hal-hal yang buruk dibanding hal-hal yang baik. Mereka banyak menegur hal-hal yang buruk, namun mereka lupa bahwa ada lebih banyak lagi hal-hal baik yang seharusnya mereka apresiasi, dan mereka melupakannya.

Apa langkah yang dapat diambil selanjutnya? Saya memutuskan, bukankah lebih baik bagi saya untuk menunjukkan energi positif dan mengapresiasi Denny yang sudah datang tepat waktu? Ya, dia layak untuk diapresiasi, karena dia lebih baik daripada teman-temannya yang lain dengan datang tepat waktu. Akan baik pula jika saya berikan apresiasi tersebut di depan teman-teman yang lain, yang membuat Denny merasa tindakannya dihargai. Denny akan senang, dan akan senang untuk datang tepat waktu di kesempatan-kesempatan berikutnya. Begitu pula dengan teman-temannya yang lain, akan termotivasi untuk menjadi Denny-Denny yang lain dan akan datang tepat waktu juga di kesempatan berikutnya.

Bagaimana dengan teman-teman yang tidak datang tepat waktu atau bahkan tidak datang? Dibutuhkan sesuatu yang dapat menjadi efek jera bagi mereka. Hal yang paling baik menurut saya adalah memberikan nilai tambah bagi orang-orang yang datang tepat waktu. Berikan mereka sesuatu yang berharga yang tidak didapatkan orang-orang yang tidak datang tepat waktu. Atau, berikan hukuman kepada mereka yang tidak datang tepat waktu. Namun, perlu diperhitungkan pula, bahwa hukuman untuk mereka yang tidak datang sama sekali haruslah lebih berat daripada hukuman untuk mereka yang tidak datang tepat waktu. Atau, mereka akan cenderung memilih untuk tidak datang sama sekali di saat mereka terlambat.

Akhir kata, saya juga mau mengapresiasi Denny atas usahanya untuk datang tepat waktu saat itu. :D


Mar 30

Negeriku Kadang Lebai

Posted by Aulia

nasionalisme

Ilustrasi : desaingrafisindonesia.wordpress.com

FENOMENA negeri ini yang terus diliputi isu dan wacana, bahkan sampai masalah serius pun, kadang tak urung rakyat bersikap pesimis terhadap bangsanya sendiri. Tidak pelak, fenomena lain juga timbul seiring waktu berjalan dengan umur kedewasaan bangsa Indonesia yang telah memproklamirkan kemerdekaannya yang sudah lewat dari setengah abad ini–untuk membuktikan sebuah bangsa yang besar dan bermartabat serta terbebas dari atas segalan penindasan dan penjajahan bangsa luar.

Kembali pada sebuah kosakata yang belum terakreditasi pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yakni kata “lebai”. Mungkin ada banyak orang mengenal kata tersebut dengan tulisan lebai, namun ketika kata kunci (keyword) ini dicari pada mesin pencari akan dirujuk pada sebuah kata yang bertuliskan lebay. Yang penting dari kata tersebut adalah dari artinya yang mencoba tetap merujuk pada satu hal yang sama, yakni bermakna berlebihan atau membuat sesuatu/hal untuk dibesar-besarkan apa pun itu konteksnya.

Mengaitkan dua hubungan antara negeri dan kata lebai memang bukan sesuatu yang tidak mungkin, dengan berbagai realitas yang ada disekitar kita. Saya mengira kata itu cocok dengan kondisi yang ada saat ini. Lebih rinci kita bisa melihat lebih dalam, dan tidak mungkin mengeneralisir kata-kata pada semua aspek kehidupan. Satu hal yang mungkin akan tercermin adalah pada rasa nasionalisme.

Kebanggaan yang telah terpupuk sejak dulu, sejak Indonesia menjadi negara yang diakui oleh negara-negara dari bagian benua Asia tidak pernah begitu ’diremehkan’ seperti saat ini, hutang negara, kasus korupsi, sampai kasus yang makin menjadi-jadi, seakan raungan ’macan Asia’ yang dulu ada dan dibanggakan kini telah mulai pupus sudah. Walaupun tidak semua hilang, namun semangat rakyatnya kian terlihat dan menjurus diberbagai penjuru negeri ini berdiri, dari sikap inilah kelihatan lebai-nya negeri ini. Tidak selalu harus merasa terpojok pada aturan yang terus terkekang pada pemangku kepentingan, tidak selalu harus mengkritik para petinggi negara, namun bisa menjadi rakyat yang tahu akan mindset untuk berpikir solutif selain kritis.

Mencoba mengingat kembali, apa yang pernah dikatakan oleh seorang patriot bangsa yang mencoba untuk terus menjaga bangsa ini yang diakui memiliki kekayaan laut yang begitu luas, sebenarnya bisa jadi tolak ukur untuk kita bisa menjadi orang yang peduli dengan nasib bangsa ini.

“..jika kau tanya apa jasaku, akan aku jawab tidak ada. Jika kau tanya apa baktiku, akan aku jawab tidak ada. Aku hanya melaksanakan kewajiban, tidak lebih tidak kurang. Bahkan bendera Viktory yang kukibarkan bukan pula bendera pahlawan, tetapi hanya bendera kewajiban yang akan tetap kunaikkan..” Itulah sepenggal kata dari Komodor Yos Sudarso.

Jika sekilas kita melihat semangat yang telah dikatakan oleh Yos Sudarso, memang berada dalam konteks menjaga tanah air dari pengaruh luar, namun jika seksama merujuk pada satu prinsip yang ada yakni kewajiban menjaga negeri ini dari pengaruh yang berdampak merosot.

Mengutip apa yang pernah ditulis oleh Moch. Tohir dalam tulisannya “Terkikisnya Jiwa-jiwa Nasionalisme”, ada satu paragraf yang disandangnya sebagai pijakan negeri ini untuk mengerti dengan kondisi yang dialami saat ini, yakni “Di saat kondisi bangsa Indonesia yang seperti ini, seharusnya bangsa Indonesia tidak perlu jauh-jauh mencari kambing hitam ke sana ke mari tanpa ada solusi yang jelas.” (Kabar Indonesia, 8 Januari 2010).

Tidak begitu lebai jika kata-kata demikian mampu membuat kita, bangun dari zaman globalisasi seperti ini. Atau mungkin kita hanya bisa menjadi generasi 3F (fashion, food, fun) seperti yang pernah diutarakan oleh Sumbo Tinarbuko dalam tulisan ”Menjadi 100% Indonesia”.

Semoga tulisan ini jadi sebuah pengingat massal untuk negeri ku ini, jika anda tahu arti dari ungkapan 3F, sungguh kenyataan itu telah merongrong negeri ini jatuh kedalamnya. Mari mulai dari diri kita, dengan hal yang kecil bisa kita lakukan pada lingkungan yang ada disekitar, tidak selalu mengeluh dan hadapi perubahan global untuk bisa lebih cinta pada negeri ini. Sehingga generasi yang lahir pun tidak ikut lebai searah perubahan yang akan datang nantinya.[AK]


Filed under: Politisasi, Renungan, Santai Tagged: Cinta, Generasi, Indonesia, Korupsi, Lebai, Macan Asia, Nasionalisme, Negeri, Patriot, Pemerintah, Yos Sudarso
Mar 24

UN Membawa Berkah

Posted by Aulia

ujian nasional

Ilustrasi : Suaramerdeka.com

UJIAN. Itulah sebuah kata yang sangat singkat namun ditakuti oleh banyak orang. Sebenarnya yang menjadi kekhawatiran adalah bukan saat menghadapi ujiannya tetapi gagal dalam melalui ujian. Begitu juga dengan ujian akhir nasional (UAN) yang bagi kebanyakan pelajar Indonesia masih dianggap sebagai momok yang sangat menakutkan. Sebenarnya UAN tidak perlu ditakuti selama telah melakukan persiapan dengan baik dan matang. (Harian Global, 24 Maret 2010)

Sepenggal kalimat itu telah memberikan satu pertanda, bahwa ada rasa yang kadang hilang dan lekang dari semangat pelajar bangsa ini.

Kekhawatian dan ketakutan, entah sejak kapan dua kata tersebut kian menjelma diantara dada-dada mereka untuk didengunkan dengan berlebihan dan bahkan sampai mengelar acara untuk sunggeman.

Tak dipungkiri, sungguh terasa perbedaan ujian dulu dan sekarang ini. Disaat era globalisasi dan juga perkembangan teknologi. Banyak siswa atau pun sang orang tua kadang lalai dalam membina generasinya.

Kalau kata seorang motivator kondang Indonesia, dalam sebuah persiapan butuh proses. Saat proses telah dijalani dengan baik, maka persiapan untuk menghadapai akan terasa tenang dan biasa.

Dari sinilah kita bisa belajar, bahwa proses selama tiga tahun menjalani pendidikan ditingkat menengah atas atau pertama butuh proses yang baik, butuh pendidik yang baik, yang bisa membangkitkan semangat peserta didik untuk bisa melihat fenomena dan apa yang akan dihadapi.

Tidak selamanya bimbingan berupa latihan soal dan soal, kadang ini membuat otak yang berpikir akan terasa kesumat dengan kesemua rumus dan hafalan dari buku-buku yang tebal dan juga mahal itu. Untuk itulah butuh proses awal yang baik dan bisa membantu mereka (siswa, -pen) dalam memahami dan memantapkan diri untuk siap menjawab soal.

Lulus atau tidak lulus, adalah pilihan yang telah dijalani selama proses. Semua kembali pada pribadinya dan juga lingkungan serta orang tua mereka. Semoga hidup di negeri yang penuh peraturan ini, tidak selalu menyalahkan yang di di atas sana (pemerintah, -pen) melainkan juga melihat dan mengukur kemampuan diri terlebih dahulu. Makin lama, tantangan makin besar dan itulah dia awal untuk menjadi generasi yang mampu menembus arus dari segala rintangan global. Lalu bagaimana dengan Anda?[]


Filed under: Ekstrakurikuler, News, Renungan Tagged: Berkah, Fenomena, Jawaban, Motivasi, Orang Tua, Proses, Siswa, Teknologi, Ujian Nasional
Feb 28

Renungan: Dinding yang Kosong

Posted by Charles

Ada dua orang pasien pria yang menderita sakit parah. Mereka dirawat di rumah sakit yang sama. Pria pertama diizinkan duduk di tempat tidurnya setiap sore selama satu jam. Tujuannya adalah agar cairan dari paru-parunya bisa dikeluarkan. Tempat tidurnya terletak di dekat satu-satunya jendela yang ada di kamar itu. Sedang pria yang kedua harus selalu berbaring dalam keadaan terlentang. Karena di antara dua tempat tidur ada dinding pemisah yang cukup tinggi, pria yang tidur terlentang tidak bisa melihat ke jendela.

Kedua orang pria tersebut sering mengobrol. Macam-macam hal yang mereka bicarakan. Dari mengenai istri, keluarga, rumah, pekerjaan, wajib militer sampai tempat-tempat yang dikunjungi saat liburan. Sore hari, saat pria yang menempati tempat tidur dekat jendela diizinkan duduk, dia bercerita ke teman sekamarnya. Ia melaporkan apa-apa yang dilihatnya di balik jendela.

Pria yang hanya bisa terlentang lama-kelamaan bisa menikmati cerita temannya. Selama satu jam sehari, cara pandangnya diperluas dan dihidupkan kembali dengan mendengarkan tentang kegiatan dan warna-warni dunia luar. Jendela itu menghadap ke sebuah taman. Di taman itu juga ada sebuah danau yang indah dengan bebek-bebek dan angsa-angsa yang berenang di atasnya. Anak-anak bermain dengan mainan kapal layarnya. Pasangan suami isteri yang sedang dimabuk asmara berjalan sambil bergandengan tangan di antara bunga-bunga yang berwarna-warni bagaikan warna pelangi. Beberapa pohon besar tumbuh di atas rerumputan. Pemandangan indah kota terlihat dari kejauhan.

Pria yang berada di dekat jendela menceritakan semua ini dengan amat rinci. Pria yang mendengarkan, menutup matanya sambil membayangkan pemandangan-pemandangan yang dituturkan rekannya. Di suatu hari yang cukup terik, pria yang menempati tempat tidur dekat jendela melaporkan tentang sebuah pawai yang lewat di sana. Pria yang kedua tidak bisa mendengar musik bandnya. Namun, dia bisa melihat mereka dengan mata batinnya. Ia seakan melihat badut-badut yang menari-nari, bendera yang berwarna-warni serta mobil dan kuda yang dihias.

Hari pun berlalu. Di dalam hati pria yang tidak bisa melihat ke jendela diam-diam timbul rasa iri atas cerita-cerita yang disampaikan oleh teman sekamarnya, karena dia ingin sekali melihat sendiri semua yang diceritakannya. Dia pun mulai membenci teman sekamarnya, karena dia ingin sekali melihat sendiri semua yang diceritakannya. Dia pun mulai membenci teman sekamarnya dan merasa frustasi. Dia juga ingin menempati tempat tidur di dekat jendela!

Pada suatu pagi seorang juru rawat masuk ke kamarnya. Pria yang ditempatkan di dekat jendela ditemukan meninggal dengan tenang pada saat tidur. Dengan rasa sedih dia memanggil pegawai rumah sakit untuk memindahkan jenazahnya.

Setelah dianggap tepat waktunya, pria yang masih dirawat menanyakan apakah dia bisa dipindahkan ke tempat tidur dekat jendela. Perawat tidak berkeberatan untuk memindahkannya dan setelah yakin pasiennya dalam posisi yang aman, dia meninggalkannya sendirian. Pelan-pelan, sambil menahan rasa sakit, dia berupaya mengangkat tubuhnya dengan satu siku lengannya untuk melihat pertama kalinya dunia di luar jendela. Ia pikir, akhirnya dia bisa juga menikmati kebahagiaan saat melihat taman di luar dan semua kegiatan yang ada. Dia berusaha untuk melongok.

Namun ia menjadi amat terkejut karena ternyata yang dilihatnya hanya dinding yang kosong. Dia segera memanggil suster dan bertanya, “Bagaimana teman sekamar saya bisa melihat semua yang diceritakannya kepada saya? Bagaimana dia bisa menceritakan kepada saya tentang segala keindahan sampai yang sekecil-kecilnya, padahal saya hanya melihat dinding batu bata yang kusam!”

Perawat itu menjawab, “Lho, memang Bapak tidak tahu? Mantan teman sekamar Bapak kan buta, jadi dinding pun tidak mungkin bisa dilihatnya.” Kemudian sang perawat menambahkan, “Mungkin dia hanya ingin membesarkan hati Bapak saja.”

Apakah Anda bisa merasakan emosi yang terkandung dalam cerita ini?

Apakah pernah terpikir oleh Anda untuk menukar posisi Anda dengan posisi orang lain
Karena merasa iri kepada orang tersebut. Apakah Anda pernah merasa demikian kecewa, misalnya Anda menyangka sesuatu itu begitu indah, tetapi kenyataannya tidak seperti yang Anda bayangkan? Apakah Anda pernah diberi kata-kata pemberi semangat, tetapi Anda tidak pernah mau mensyukurinya?

Kalau hidup Anda terobsesi oleh segala yang dimiliki orang lain, maka Anda tidak merasakan indahnya hal-hal yang akan diberikan oleh orang lain kepada Anda.

Di zaman sekarang ini banyak sekali orang yang ingin memiliki apapun yang dimiliki orang lain. Ingin suami atau istri seperti yang dimiliki orang lain, ingin pekerjaan seperti pekerjaan orang lain, ingin penghargaan seperti yang telah diterima orang lain, ingin popularitas seperti yang diraih oleh orang lain, rumah yang dimiliki orang lain, posisi yang dimiliki oleh orang lain.

Sering pula mereka ingin hal-hal yang mereka anggap ada di dalam diri orang lain. Misalnya, kebahagiaan, rasa memiliki tujuan, kedamaian pikiran, rasa cinta dan kenyamanan. Yang sebenarnya adalah bahwa di setiap situasi pasti ada masalah, di setiap kehidupan pasti ada rintangan, di setiap hubungan pasti ada kesulitan, di setiap kesempatan pasti ada tantangan atau masalah yang berat. Pada dasarnya, pada setiap aspek yang positif selalu ada tandingannya yang bersifat negatif. Karena itu, tidak mungkin ada orang yang bebas dari masalah kehidupan.

Kalau begitu, bagaimana sikap kita dalam menghadapi hal ini?

Jadilah orang yang PANDAI BERSYUKUR untuk apa yang SUDAH ANDA MILIKI saat ini.

Bersikaplah POSITIF atas semua keadaan, karena KEBAHAGIAAN itu BUKAN DI LUAR DIRI tetapi ADA di DALAM DIRI.

Sumber: Jim Dornan, “Piano di Tepi Pantai”


Feb 21

Terinspirasi dari pengalaman saya naik bajaj. Saat itu, bajaj yang saya tumpangi tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Sang supir keluar dari bajaj. Saya merasa agak jengkel karena saya sedang buru-buru, dan saya merasa sang supir seenaknya saja menghentikan bajajnya. Tak lama kemudian, dia datang membawa cairan yang dia masukkan ke dalam mesinnya. Dia berkata, “Cairan ini sudah saatnya diganti, kalau ga bisa jadi mogok, atau bahkan kecelakaan…”

Saya baru sadar… Saya adalah penumpang. Supir lebih mengerti akan bajaj tersebut daripada penumpang. Ketika saya mulai berasa tahu (baca: sok tahu), di sanalah saya mulai salah paham. Tidak semua hal yang terlihat buruk itu benar-benar buruk. Beberapa di antaranya justru terjadi untuk kebaikan kita, tapi mungkin kita belum tahu saja…

Hidup pun begitu… Ketika mengalami hal buruk, kita seolah “merasa tahu” bahwa Tuhan merencanakan hal yang buruk untuk kita. Kita menjadi salah paham. Kenapa? Hanya karena kita tidak tahu saat itu bahwa Tuhan akan menggunakan kejadian buruk itu untuk kebaikan kita.

Duduklah yang manis sebagai penumpang, dan percayalah pada supir yang membawamu pergi, yang lebih mengetahui kendaraannya, yang telah membawanya setiap hari, daripada penumpang, yang baru sekali menumpanginya… :)


Feb 18

Pelajaran Berharga

Posted by Charles

Saya belajar, apa yang saya anggap terbaik, belum tentu yang terbaik dari-Nya. Dan sebaliknya, yang terbaik dari-Nya belum tentu kita senangi. Teruslah bersyukur kepada-Nya atas semua nikmat dan karunia-Nya. Manusia hanya dapat terus berdoa dan berusaha untuk mendapat yang terbaik dari-Nya

Saya belajar, seberat apa pun cobaan yang diberikan oleh-Nya, pada akhirnya akan membuat

kita menjadi manusia yang lebih bertanggung jawab dan berguna. Syukurilah seluruh anugerah-Nya dengan hati ikhlas dan tulus. Everything happens, happens for a reason.

Saya belajar, bahwa kedewasaan itu lebih berkaitan dengan berapa banyak pengalaman yang kita miliki dan apa yang kita pelajari dari pengalaman tersebut, dan kurang berkaitan dengan telah berapa tahun usia kita.

Saya belajar, walaupun kita berpikir tidak ada lagi yang dapat kita berikan dan lakukan, ketika seorang teman kesusahan dan membutuhkan kita, kita akan selalu menemukan kekuatan dan jalan untuk terus menolong.

Saya belajar, jangan membandingkan diri sendiri dan kesusahan kita dengan orang lain.

Saya belajar, bahwa latar belakang & lingkungan mempengaruhi pribadi saya, tapi kita tetap bertanggung jawab & menentukan masa depan kita sendiri.

Saya belajar, bahwa saya harus bertanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan, tidak peduli bagaimana perasaan saya.

Saya belajar, bahwa saya punya hak untuk marah, tetapi itu bukan berarti saya dapat berlaku sesuka hati saya tanpa memikirkan orang lain.

Saya belajar, bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi atau sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya…

Saya belajar, bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki, tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya….

Saya belajar, jangan menilai orang dari penampilannya saja. Itu bisa menipu. Bicara dan kenalilah orang tersebut lebih mendalam. Setiap orang memiliki kelebihan dan kebaikannya masing-masing,meskipun tidak ada orang yang sempurna di dunia.

Saya belajar, di saat susah, lebih terlihat mana teman sejati dan bukan.

Saya belajar, bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda yang sama, tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda….

Saya belajar, bahwa saya tidak dapat mengubah orang yang saya sayangi, tapi semua itu tergantung dari diri mereka sendiri….

Saya belajar, bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya beberapa saat saja untuk menghancurkannya…

Saya belajar, bahwa tidak masalah berapa buruknya patah hati itu, dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya…

Saya belajar, hanya karena dua orang berbeda pendapat dan tidak terlihat mesra, bukan berarti mereka tidak saling menyayangi, mencintai, dan setia. Dan hanya karena mereka selalu sependapat dan terlihat mesra, bukan berarti mereka selalu saling menyayangi, mencintai, dan saling setia.

Saya belajar, bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh walau dipisahkan oleh jarak yang jauh. Beberapa di antaranya melahirkan cinta sejati…

Saya belajar, bahwa jika seseorang tidak menunjukkan perhatian seperti yang saya inginkan, bukan berarti bahwa dia tidak menyayangi saya….

Saya belajar, bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain menyayangi saya. Saya hanya dapat menunjukkan dan melakukan sesuatu untuk orang yang saya sayangi… Selanjutnya terserah mereka.

Sumber: unknown

Feb 14

Tempat Cinta Diwujudkan

Posted by Charles


Kalau urusan cinta kasih, saya langsung teringat pada dua bersaudara itu, Daniel dan Tony. Daniel tetap membujang, sedangkan Tony berkeluarga dan punya lima anak. Di antara keduanya ada kesepakatan: hasil panen dibagi dua secara adil.

Malam menjelang tidur, Tony berpikir: “Ah, kasihan adikku, sendirian, tanpa keluarga. Bagaimana kalau ia sakit?” Maka tengah malam ia bangun dan membawa sekarung beras ke lumbung adiknya. Daniel juga berpikir: “Kasihan abangku, punya anak-istri, pasti butuh lebih banyak daripada aku yang sendirian.” Maka ia pun bangun ketika yang lain tidur lelap, membawa sekarung beras ke lumbung kakaknya.

Pada malam itu… keduanya bangun pada jam yang sama dan hampir bertabrakan. Ketika umat sedesa mencari tempat yang pas untuk mendirikan gereja, di mana lagi kalau bukan di tempat dua bersaudara itu bertemu. Itulah tempat cinta diwujudkan.

Oleh: Stephie Klenden-Beetz

Feb 13

Pelajaran dari Paku

Posted by Charles


Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk. Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku, dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain. Hari pertama dia memaku 37 batang di pagar. Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari.

Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar. Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya. Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar.

Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar. Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata: "Anakku, kamu sudah berlaku baik, tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada di pagar." Pagar ini tidak akan kembali seperti semula. Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar. Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka.Tak peduli berapa kali kau meminta maaf/menyesal, lukanya tinggal. Luka melalui ucapan sama perihnya seperti luka fisik.

Sahabat adalah perhiasan yang langka. Mereka membuatmu tertawa dan memberimu semangat. Mereka bersedia mendengarkan jika itu kau perlukan, mereka menunjang dan membuka hatimu. Tunjukkanlah kepada teman-temanmu betapa kau menyukai mereka. "Keindahan persahabatan

adalah bahwa kamu tahu kepada siapa kamu dapat mempercayakan rahasia."

Sisihkanlah beberapa menit untuk membaca ini. Ada beberapa pesan yang baik untuk jiwa kita.

  • Berilah kepada orang lebih dari yang mereka harapkan, dan lakukan secara bijaksana. Yakinlah pada dirimu ketika berkata: "Aku mencintaimu."
  • Jika kau berkata: "Aku menyesal," tataplah mata lawan bicaramu.
  • Jangan permainkan harapan orang lain.
  • Jangan adili orang lain, tetapi adili dirimu secara kritis.
  • Bicaralah pelan, tetapi cepat dalam berpikir.
  • Jika kau ditanya sesuatu yang tak ingin kau jawab, senyumlah, dan tanya: "Mengapa kamu mau tahu?".
  • Ingatlah bahwa kasih yang paling indah dan sukses yang terbesar mengandung banyak risiko. Jika kau kalah, jangan lupakan pelajaran dibalik kekalahan itu.
  • Hargai dirimu. Hargai orang lain. Bertanggung jawablah atas tindakanmu.
  • Jangan biarkan selisih paham merusak indahnya persahabatan.
  • Tersenyumlah ketika menjawab telepon, orang yang meneleponmu akan mendengarnya dari suaramu. :D