Aug 25

Apakah Anda pernah mengalami sebuah kejadian yang sangat berkesan untuk Anda? Saya rasa semua orang pasti pernah mengalaminya. Tetapi, apakah semua kejadian-kejadian yang berkesan tersebut masih Anda ingat sampai sekarang? Saya sendiri, banyak kejadian-kejadian menarik dan penuh makna yang saya alami, yang tidak bisa saya ingat lagi sekarang. Kesalahan saya adalah tidak mendokumentasikan kejadian tersebut di saat saya masih mengingatnya.

Ada banyak cara mendokumentasikan sebuah kejadian. Salah satu caranya adalah dengan menuliskannya. Tuliskanlah kejadian itu beserta dengan pesan yang Anda dapatkan dari kejadian itu. Tuliskanlah di mana saja. Di buku harian. Di agenda pribadi Anda. Di blog Anda. Atau di komputer Anda, dan simpan di folder pribadi Anda.

Saya yakin suatu saat nanti, tulisan yang Anda buat pasti akan bermanfaat. Di kemudian hari, Anda akan terkejut melihat tulisan Anda sendiri. Nilai tulisan itu akan semakin bernilai jika Anda telah melupakan kejadian tersebut, sehingga Anda seperti belajar dan tercerahkan kembali oleh tulisan Anda sendiri di masa lalu.

Jangan biarkan diri Anda dipusingkan dengan berbagai perencanaan yang menghambat Anda untuk mulai menulis. Anda tidak sedang membuat sebuah penelitian ilmiah. Yang penting, menulislah terlebih dahulu. Tulislah apa yang ada di pikiran Anda saat ini. Ide yang muncul di kepala Anda saat ini belum tentu muncul kembali esok hari. Ide itu dapat dengan mudah saja lenyap. Sangat disayangkan jika Anda melewatkan ide-ide brilian di kepala Anda, yang sebenarnya bernilai sangat tinggi. Kalau saja Anda menuliskan ide-ide tersebut… Anda tidak perlu takut melupakannya. Jadi, tuliskanlah ide-ide yang ada di kepala Anda.

Kebanyakan orang mempermasalahkan masalah-masalah kecil seperti gaya bahasa, kalimat yang baku, kata-kata yang tepat. Anda tidak perlu memikirkan itu semua di saat menulis pertama kali. Ingat, tulisan itu bisa Anda edit kembali. Yang tidak akan kembali adalah idenya. Anda bisa memperbaiki tulisan Anda di kemudian hari, tetapi Anda sudah menangkap idenya terlebih dahulu. Jadi, kalau Anda mempunyai sebuah ide di kepala Anda, segeralah tulis dengan bahasa Anda sendiri. Tulislah dengan bahasa yang membuat Anda nyaman. Alirkanlah ide di kepala Anda tersebut ke atas kertas atau ke dalam sebuah dokumen. Tuliskanlah semuanya. Jangan biarkan Anda diganggu dengan masalah-masalah teknis yang menghambat Anda dalam menulis.

Mulailah menulis. Curahkanlah isi hati dan pikiran Anda ke dalam tulisan Anda.

Tuhan memberkati kita,

Charles Christian


Jul 28

Sebuah Berita Mengejutkan Di Pagi Hari

“Ko, kayanya nanti saya ga kaer (kebaktian remaja) dan pembinaan deh… Rumah saya kebakaran!”

SMS itu masuk ke dalam inbox handphone saya pada hari Minggu kemarin, 25 Juli 2010 Pk 03:21 dini hari. Pengirimnya? Kurniawan, seorang anak bimbingan saya di gereja.

Saya baru membaca SMS itu ketika saya bangun jam setengah 6 pagi. Hampir saja saya menjatuhkan handphone saya saat membacanya. Saya langsung mencoba menghubungi dia.

Sia-sia. Handphone-nya tidak aktif. Saya malah menjadi bertambah khawatir. “Oh Tuhan, apa yang terjadi dengannya?”

Saya sungguh bergumul saat itu. Pagi itu, saya ada janji pergi dengan teman saya. Tapi, saya tidak akan mungkin dapat meninggalkan anak bimbingan saya dalam keadaan yang belum jelas dan sangat membuat saya khawatir. (Sebenarnya saya malu mengakui bahwa awalnya saya masih ragu-ragu untuk membantu anak bimbingan saya sendiri, tapi saya ingin bercerita dengan jujur). Kebingungan saya terjawab beberapa menit kemudian di kamar mandi saya.

Saya sedang mandi ketika saya bertanya kepada Tuhan di dalam hati saya, “Tuhan? Apa yang harus saya lakukan?” Dan saya percaya, Tuhan menjawabnya ketika ada sebuah suara yang saya rasakan sangat jelas di dalam hati saya: “Datanglah ke sana…”.

“Tapi Tuhan, apa yang bisa saya lakukan di sana?” Saya tidak pernah membantu orang yang mengalami musibah kebakaran sebelumnya. Meskipun di satu sisi saya sangat ingin membantu, di sisi lain saya merasa bingung dan tidak nyaman.

Semua keraguan saya sirna ketika suara itu bergema lagi di dalam hati saya: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.”

Singkat cerita, akhirnya saya membatalkan janji dengan teman saya. Dan saya pergi, ke lokasi kebakaran itu. Saat itu, saya sama sekali tidak tahu, bahwa Tuhan akan memberi saya berkat yang melimpah di sana.

Datang Ke Lokasi Kebakaran

Rumah Kurniawan, anak bimbingan saya tersebut, ada di daerah Tambora. Di sepanjang perjalanan, saya berdoa untuk keselamatan Kurniawan.

Saya pun sampai di depan gang dekat rel kereta api Bandengan. Saya melihat beberapa mobil pemadam kebakaran berjejer, dan banyak orang berkerumun. Saya mencoba untuk masuk ke dalam gang.

Saya melihat rumah-rumah yang berdempet-dempetan sepanjang gang itu. Saya melihat banyak orang berkerumun. Setelah saya agak jauh masuk ke dalam gang, saya mulai melihat rumah-rumah yang sudah hangus terbakar.

Saya masuk ke dalam gang rumah anak bimbingan saya. Saya tidak dapat sampai ke depan rumahnya. Petugas pemadam sedang sibuk menyemprotkan air ke rumah-rumah tersebut (yang sebenarnya sudah lebih mirip kumpulan tembok-tembok saat itu).

Saya sungguh terkejut. Saya tidak mengira kebakarannya sebesar ini. Meskipun saat itu api sudah berhasil dipadamkan, tetapi para petugas masih terus menyemprotkan air. Puluhan rumah habis terbakar si jago merah.

Sementara itu, saya masih mencari Kurniawan. Ya! Kurniawan… Di mana dia? Saya pun berusaha mencari di tengah kerumunan orang. Saat itulah, saya menyaksikan pemandangan di luar dugaan saya.

Sebuah Pemandangan Di Luar Dugaan

Apa yang Anda harapkan ketika Anda melihat seseorang yang rumahnya baru saja habis terbakar? Seorang yang sedang menangis tersedu-sedu? Seorang yang marah-marah? Seorang yang depresi? Seorang yang menunjuk orang lain dan berkata: “Ini semua salah kamu!!!”

Kawan, tidak satu pun dari orang-orang di atas yang saya temukan. Seberapa hebat pun saya mencari saat itu, tidak satu orang pun yang saya temukan menangis, marah-marah, depresi, atau saling menyalahkan. Setidaknya, sejauh yang saya lihat saat itu, saya tidak menemukannya.

Lalu, orang seperti apa yang saya temukan?

Yang saya temukan adalah orang yang sedang membeli banyak roti untuk tetangga-tetangganya, yang juga mengalami musibah.

Yang saya temukan adalah orang-orang yang saling membantu satu sama lain. Yang satu mengambil air. Yang lain menenteng ember. Yang lain lagi sedang menyiramkan isi ember itu ke sisa-sisa api.

Yang saya temukan adalah dua orang yang berpapasan. Yang seorang bertanya, “Hai… Gimana rumahmu?”. Dengan senyum terukir di wajahnya, yang lain menjawab, “Rumah habis semua. Tapi untung anak-anak selamat semua. Kamu bagaimana?”. Tersenyum juga, dia menjawab, “Sama. Tak ada yang tersisa, tapi keluarga aman.”

Hei, apakah tidak salah!? Mereka baru saja kehilangan rumah mereka, dan mereka dapat tersenyum begitu lepasnya. Mereka bahkan masih saling memperhatikan satu sama lain. Jika saya ada di posisi mereka, dapatkah saya melakukan hal yang sama? Suatu hal yang masih saya ragukan.

Saya yang awalnya berniat membantu, hanya bisa terdiam menyaksikan semua hal yang luar biasa tersebut. Saya merasakan aura positif di tengah kekacauan akibat kebakaran. Saya melihat begitu banyak orang yang luar biasa. Tidak terkecuali anak bimbingan saya.

Respon yang Luar Biasa

Saya masih terdiam ketika dia menepuk bahu saya.

“Hai koko!” sapaan yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Sapaan anak bimbingan saya. Kurniawan menghampiri saya.

“Hai Kur… Koko cari kamu dari tadi. Gimana rumah kamu?”

Tidak ada kesedihan yang terlihat di wajahnya. Hanya senyuman yang biasa dia tunjukkan. Dia menjawab, “Wah… Abis semua ko. Rumah saya uda jadi kaya lapangan bola…”

“Hah? Abis semua Kur?” saya terkejut.

“Iya. Baju aja tinggal yang saya pake sekarang. Cuma sempet ngeluarin motor dan sedikit baju dede saya.”

Oh Tuhan… Apa yang Engkau ingin nyatakan pada Kurniawan? Saya teringat, baru saja sehari sebelumnya kaki Kurniawan tertusuk paku. Dan hari itu, seharusnya dia mengikuti pertandingan basket. Pertandingan final. Baru juga sehari sebelumnya, dia membeli sepatu untuk dia pakai di pertandingan itu. Tapi sepatu itu lenyap dalam beberapa jam, tanpa sempat dipakai olehnya. Baru pula sehari sebelumnya, dia membantu kokonya bekerja seharian. Siapa yang menyangka, sekarang peralatan kerja kokonya pun sudah habis terbakar, di saat sebenarnya pekerjaan itu masih harus dilanjutkan hari itu.

Saya percaya, Tuhan ada rencana yang indah pada Kurniawan. Tapi, saat itu, segalanya terlihat begitu gelap. Ibarat orang yang sudah jatuh, tertimpa tangga, dan tertiban balok pula.

Tapi, respon Kurniawan menghadapi semua ujian ini sungguh baik. Tidak. Lebih dari baik, ini luar biasa! Kurniawan meresponi semua musibah ini dengan begitu positif. Dia meresponi dengan keyakinan Tuhan masih menyertainya sampai detik ini, meskipun dia sedang mengalami musibah yang hebat.

“Mama dan yang lain gimana Kur?” saya bertanya lagi.

“Puji Tuhan semua selamat ko. Saya barusan disuruh jaga motor sih, tapi sudah saya kunci. Koko mau lihat rumah saya?”

“Ga pa pa Kur motornya ditinggal?”

“Ga pa pa ko, aman… Uda saya kunci.” kata Kurniawan. Senyumnya masih terus terukir. Dan saya pun diantar ke gang rumahnya. Saya tidak dapat melihat dengan jelas saat itu, karena saya hanya melihat dari jauh. Petugas pemadam masih sibuk bekerja. Akhirnya, Kurniawan membawa saya bertemu mama dan adiknya.

Seperti orang-orang yang lain, mama Kurniawan pun tidak menunjukkan tanda-tanda kesedihan. Hei, saya tahu mereka semua sedang sedih. Tapi, mereka memilih untuk tidak memfokuskan diri mereka pada kesedihan mereka, melainkan pada hal-hal yang dapat mereka selamatkan, keluarga mereka. Dan itulah yang luar biasa.

Mama Kurniawan bercerita, “Kur tadi hebat loh, dia ingetin saya buat lepasin gas. Biar ga meledak katanya. Oh iya ya… Saya saja tidak ingat. Lalu saya lepasin gas. Abis itu langsung mati lampu. Dan ga berapa lama api udah nyamber. Tapi tabung gas itu selamat.”

“Ah, tapi sama aja ko… Yang lain ga lepasin gasnya, jadi meledak juga dari rumah yang lain ko… Hehehe.” kata Kurniawan sambil tertawa, membuat orang-orang di sekitarnya juga tertawa kecil.

“Tadi ribut-ribut saya kira ada tawuran… Jadi saya diemin aja. Terus saya kaget Kurniawan bilang kebakaran. Jadi saya baru bangun, untung semuanya bisa bangun dan selamat akhirnya…” mama Kurniawan cerita lagi.

“Hmm, ada korban jiwa ga ya di kebakaran ini?” saya bertanya lagi, penasaran.

“Tadi hampir ada ko… Kakek-kakek yang uda agak tuli. Digedor-gedor tetep ga bangun. Akhirnya pintunya didobrak, dan dia baru bisa dibangunin. Wah, kalo ga, uda jadi daging panggang ko…” kata Kurniawan.

Wow! Di tengah kepanikan, mereka masih ingat pada seorang kakek-kakek tua yang hampir tuli, yang hidup sendirian di dalam rumahnya yang terkunci. Mereka bahkan mendobrak pintu untuk menyelamatkan sang kakek. Mereka tidak berpikir keselamatan diri mereka sendiri saja, tapi juga keselamatan orang di sekitar mereka.

Api boleh membakar barang-barang mereka. Tapi mereka tetap bergembira karena mereka berhasil menyelamatkan setiap nyawa. Api tidak dapat membakar cinta kasih yang ada di dalam hati mereka.

Ingin Membantu, Malah Dibantu

Mau tahu akhir kisah yang tragis namun luar biasa pagi itu? Kurniawan mengantarkan saya pulang dengan motornya. Oh, saya mau menangis di perjalanan.

Diantar pulang naik motor mungkin sebuah hal yang biasa. Diantar pulang naik motor oleh seorang anak bimbingan yang rumahnya baru saja terbakar habis. Rasanya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Saya tahu, Kurniawan akan berkata “Ah, koko lebay…” ketika membaca tulisan ini. Tidak Kur, ini tidak lebay. Sungguh itu yang koko rasakan…

Tidak sekali pun terdengar keluhan. Tidak sekali pun terlontar makian. Tidak sekali pun dia meminta bantuan. Kenyataannya, justru sayalah yang dibantu. Saya benar-benar tidak membantunya pagi itu. Dia membantu saya dengan mengantarkan saya pulang.

Saya teringat kata-kata Tuhan tadi pagi: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.” Ini benar sekali. Tuhan ingin menunjukkan kepada saya seorang anak bimbingan saya yang sungguh luar biasa.

Tentunya, karena dia memiliki Tuhan yang luar biasa juga, yang telah mengubahkan hidupnya. Dan saya sangat bersyukur untuk semua itu.

Sungguh banyak berkat yang saya dapatkan, sehingga saya harus memecah tulisan ini menjadi beberapa bagian. Siang itu, saya datang lagi menemui Kurniawan, kali ini dengan teman-teman yang lain. Tapi ini cerita yang lain lagi, dengan berkat yang berbeda lagi yang saya dapatkan.

Apa yang Saya Pelajari

Lalu, apa yang saya pelajari pagi itu? Saya belajar untuk tidak egois, dan lebih memperhatikan orang lain. Saya belajar untuk mengandalkan Tuhan dan bersyukur senantiasa. Saya belajar untuk meresponi hal-hal buruk yang terjadi dengan sikap yang positif.

Tuhan yang mengajarkan itu kepada saya. Melalui anak bimbingan saya yang luar biasa.

Terima kasih Tuhan. Terima kasih Kurniawan.

Percayalah, Tuhan menyertaimu sampai kepada akhir zaman.

Teruslah percaya kepada-Nya. :D

Charles Christian

P.S. Yeremia 29:11. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Bersambung…


Jul 7

Pada dua tulisan sebelumnya, saya sudah menjelaskan mengenai pergumulan yang saya hadapi seputar uang, kekayaan, dan spiritualitas (khususnya iman Kristen saya). Pada tulisan ini, saya akan membagikan posisi saya saat ini. Bagaimana pandangan saya saat ini tentang uang, kekayaan, dan spiritualitas?

Mari kita kembali ke pertanyaan awal yang saya ajukan di awal tulisan pertama saya: “Apakah orang Kristen boleh kaya?” Jawaban yang saya yakini saat ini adalah: “Orang Kristen sudah seharusnya dan harus berjuang terus untuk menjadi kaya.” Tolong jangan salah paham dan menelan pernyataan saya tersebut mentah-mentah sebelum membaca penjelasan saya mengenai definisi “kaya” menurut saya…

Apa Itu Kekayaan?

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar yang harus dijawab terlebih dahulu. Jawaban dari pertanyaan: “Apakah orang Kristen boleh kaya?” akan sangat bergantung pada definisi “kekayaan” bagimu.

Umumnya, orang akan mendefinisikan kekayaan berdasarkan banyaknya harta materi atau uang yang dia miliki. Majalah Forbes menyatakan seseorang disebut kaya jika memiliki penghasilan lebih dari 1 juta US$ per tahun. Ada lagi paham lain yang menyatakan seorang disebut kaya jika dia sudah mempunyai passive income yang lebih besar daripada pengeluarannya. Kekayaan seringkali diidentikkan dengan kebebasan finansial.

Mari saya beritahu satu hal, kawan… Kekayaan jauh lebih berharga dari sekedar mempunyai banyak uang.

Bagi saya, kekayaan lebih adalah mengenai “hubungan” daripada “uang”. Definisi kekayaan saya adalah terjalinnya hubungan yang baik antara saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama saya. Semakin erat hubungan saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama, maka semakin kaya saya.

Tapi Charles, Bukankah Kita Juga Butuh Uang!?

Ya, saya mengakui, seringkali uang dibutuhkan untuk membuat hubungan saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama menjadi semakin erat. Uang dibutuhkan untuk menghidupi diri saya dan keluarga saya. Uang dibutuhkan untuk membantu sesama kita yang kesulitan finansial. Uang dibutuhkan para hamba Tuhan yang memberitakan Injil. Uang dibutuhkan untuk membangun tempat-tempat ibadah.

Tapi, intinya, uang bukanlah tujuan akhirnya. Uang hanyalah alat yang dapat saya gunakan untuk membangun hubungan saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama menjadi lebih baik lagi. Hanya jika uang itu dapat digunakan untuk mendekatkan diri saya pada Tuhan, uang menjadi hal yang baik.

Lihat, inilah hal yang seringkali membuat orang-orang sulit mengaitkan uang, kekayaan, dan spiritualitas. Itu adalah karena mereka menetapkan dua tujuan dalam satu waktu. Tujuan pertama adalah kaya secara rohani. Dan tujuan kedua adalah kaya secara finansial. Apakah keduanya bisa tercapai dalam satu waktu? Belum tentu…

Banyak orang yang seolah memaksa Tuhan untuk menjadikannya kaya secara finansial agar dia dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Mereka berpikir, jika mereka kaya secara finansial, barulah mereka dapat menjadi berkat. Ini adalah pemikiran yang terbalik! Justru, menjadi berkat haruslah dilakukan bahkan jika kita tidak kaya secara finansial. Dan, kalau Tuhan menganugerahkan kekayaan finansial kepada kita, kita harus mengucap syukur dan terus menjadi berkat bagi orang lain. Tidak ada kewajiban Tuhan untuk menjadikan kita kaya secara finansial.

Jadi, mungkinkah kita kaya secara rohani dan kaya secara finansial juga? Saya percaya, ini mungkin! Tapi, kekayaan rohani haruslah yang jadi utama, dan kekayaan finansial kita gunakan untuk lebih memperkaya rohani kita. Ini bukanlah hal yang mudah (lihatlah betapa banyaknya orang yang jatuh secara rohani karena kekayaan finansial). Itulah sebabnya Allah benar-benar memilih setiap dari kita yang sudah siap untuk itu.

Orang Salehlah yang Justru Diuji Tuhan

Banyak paham teologi sukses mengatakan, orang yang saleh akan lepas dari kesulitan. Allah akan memberikan kesuksesan dan kelimpahan terus menerus bagi orang yang taat kepada-Nya. Sungguhkah seperti itu? Jika kita dengan teliti membaca Alkitab, kita seharusnya sudah tahu jawabannya adalah tidak. Justru sebaliknya… Orang salehlah yang justru diuji Tuhan.

Di kitab Kejadian, kita melihat Tuhan menguji iman Abraham dengan memintanya mempersembahkan anaknya, Ishak. Di kitab Ayub, kita melihat Tuhan justru yang berkata pertama kali kepada Iblis tentang Ayub yang begitu saleh. Dan, Tuhan juga yang mengizinkan Iblis untuk mencobai Ayub.

Mengapa Allah mengizinkan Iblis mencobai Ayub? Pada akhirnya, Allah menganugerahi Ayub harta berkali-kali lipat dibandingkan hartanya sebelumnya. Tapi, mengapa Ayub perlu mengalami penderitaan sebelum mendapatkan anugerah Allah tersebut? Itu karena Allah menginginkan Ayub betul-betul sangat amat kaya secara rohani sebelum dia akhirnya kaya juga secara finansial.

Orang yang belum kaya secara rohani sangat berbahaya jika kaya secara finansial. Kekayaan finansial akan membuat kebebasan kita bertambah besar. Dan, kebebasan yang bertambah besar akan sangat berbahaya jika kita belum bisa bertanggung jawab. Bayangkan Anda membiarkan anak Anda yang masih balita mengendarai mobil Anda. Bukankah itu akan menjadi sebuah bencana? Begitu pula, uang di tangan orang-orang yang belum kaya secara rohani akan menjadi bencana bagi dirinya dan orang lain.

Tapi, kalau mobil itu dikendarai oleh kita yang sudah tahu bagaimana cara mengendarainya, bagaimana peraturan yang harus diikuti, bagaimana etika yang ada di jalan raya… Mobil akan menjadi hal yang baik. Mobil akan mempercepat kita sampai pada tujuan. Uang di tangan orang-orang yang sudah kaya secara rohani akan membuat mereka semakin kaya secara rohani.

Inilah mengapa Allah memperkaya Ayub secara rohani terlebih dahulu. Pada awalnya, Ayub memang sudah kaya rohani. Tapi, setelah mengalami sederetan cobaan Iblis, Ayub menjadi sangat-sangat-sangat kaya secara rohani.

Ayub 42:5 mengatakan, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”

Lihatlah perbedaan kekayaan rohani Ayub sebelum dan sesudah dia dicobai. Sebelumnya, Ayub hanya mendengar dari orang saja tentang Allah, tetapi sekarang matanya sendiri memandang Allah. Ayub merasakan sendiri kuasa Allah di dalam hidupnya.

Kekayaan Sejati

Jadi kawan, kekayaan sejati bukanlah kekayaan finansial. Banyak orang yang kaya secara finansial yang tidak bahagia. Kekayaan yang sejati adalah kekayaan hubungan. Hubungan yang kaya dengan Tuhan, dan hubungan yang kaya dengan sesama kita.

Kekayaan finansial akan menjadi baik hanya jika kekayaan finansial itu semakin memperkaya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama.

Kawan, kejarlah kekayaan sejati terlebih dahulu. Dan Tuhan akan menganugerahkanmu kekayaan finansial, jika Allah berkenan memberikannya dan kita sudah siap menerimanya.

Kejarlah apa yang mendamaikan hatimu. Itulah yang diinginkan Tuhan. Kejarlah kekayaan finansial hanya jika kamu sudah mencapai level mengejar kekayaan finansial itu mendamaikan hatimu. Dan, saya percaya, saat mengejar kekayaan finansial mendamaikan hati kita, kita telah kaya secara rohani. Maka kita pasti akan menggunakan kekayaan finansial itu untuk lebih memperkaya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama, menjadi seorang yang lebih rendah hati, dan menjadi lebih banyak berkat dengan menolong lebih banyak orang yang membutuhkan di sekitar kita.

Itulah definisi “kekayaan” bagi saya.

Apa definisi “kekayaan” bagimu?

Tuhan memberkati kita.

Charles Christian


Jun 30

Empat bulan yang lalu, paman saya sakit, dan masuk ke rumah sakit. Begitu banyak sakit komplikasi yang dideritanya. Berita buruknya, dia tidak mempunyai uang untuk biaya pengobatan.

Sehari di rumah sakit menghabiskan dana jutaan rupiah. Dia tidak dapat menanggungnya. Istrinya juga tidak bisa menanggungnya.

Menjadi satu-satunya keluarga yang diharapkan saat itu, keluarga saya yang menanggung biaya pengobatannya. Namun, keadaan bertambah berat ketika setelah beberapa minggu di rumah sakit, tidak ada tanda-tanda pemulihan, yang ada malah biaya yang bertambah besar setiap harinya.

Pertengkaran demi pertengkaran mulai terdengar di rumah saya. Mama saya, yang mengurus keuangan keluarga, melihat kondisi keuangan akan semakin kritis jika pengobatan dilanjutkan.

Dilema terbesar ada di pundak papa saya. Meskipun kakak papa saya ini bukanlah seorang yang menyenangkan dan telah berbuat begitu banyak kesalahan, dia tetaplah kakak papa saya, dan dia sedang terbaring sakit di rumah sakit saat ini, seperti menunggu ajal menjemput yang tidak tahu kapan terjadi. Konon, ikatan batin antar saudara kandung begitu besarnya, melampaui semua logika akuntansi dan perencanaan keuangan.

Papa saya begitu sedih, karena seolah dihadapkan pada sebuah pilihan yang tidak seharusnya, antara kakak kandungnya atau istrinya.

Suatu hari, saya menjenguk paman saya ini di rumah sakit. Sebenarnya, saat itu adalah kali pertama saya datang menjenguk paman saya. Sebelumnya, saya hanya mendengar kabar paman saya dari papa dan mama saya. Karena saya tidak dekat dengan sang paman, saya tidak merasakan apa yang dirasakan oleh papa saya. Tapi, segalanya berubah ketika saya melihat dia untuk pertama kalinya di rumah sakit.

clip_image002

Saya melihatnya di atas tempat tidur. Selang oksigen ada di hidungnya. Matanya membuka setengah. Kakinya penuh dengan perban. Sudah berminggu-minggu dia tidak bangun dari tempat tidurnya, bukan karena tidak mau, tapi karena dia tidak bisa. Saya mendengar suara-suara yang dikeluarkannya, seolah dia berjuang begitu rupa untuk setiap nafas yang ditariknya.

Tiba-tiba, saya merasakan sebuah kepedihan yang amat sangat, dan saya menangis. Saya tidak dapat menahan air mata keluar dari mata saya.

Tahukah kawan, mengapa saya menangis? Karena wajahnya benar-benar mirip dengan wajah papa saya! Ketika saya melihat paman saya terbaring di sana, saya seperti melihat papa saya yang sedang terbaring di sana. Lemah. Tidak berdaya.

Yang menyentak saya lebih hebat lagi adalah sebuah kenyataan bahwa saya tidak mempunyai cukup uang untuk memberikan pengobatan kepada papa saya, seandainya papa saya yang menderita sakit saat itu.

Saya melihat papa saya, dengan wajahnya yang sangat sedih dan prihatin, mengambil satu botol Aqua. Dia membuka tutupnya, dan menuangkan sedikit air ke tutupnya, dan mulai menuangkannya ke dalam mulut paman saya. Itulah ritual yang biasa dilakukan papa saya ketika menjenguk paman saya. Memberinya minum, dan duduk di sampingnya. Papa saya terus setia melakukannya, meskipun tiada kata terima kasih yang terlontar dari mulut paman saya. Ya, itulah kasih.

Saat itu, saya benar-benar ingin menjadi kaya. Bukan untuk diri saya sendiri, tapi untuk membantu orang lain. Dengan uang yang saya miliki, saya punya kebebasan lebih untuk membantu orang-orang yang saya kasihi. Saya membayangkan betapa menyesalnya saya kalau saya tidak dapat memberikan pengobatan kepada papa saya jika papa saya sakit. Itu benar-benar menyakitkan hati saya.

Kini, paman saya telah tiada. Tuhan memanggilnya pulang dua bulan yang lalu. Tapi, saya tidak bisa melupakan momen itu, ketika saya melihatnya terbaring di rumah sakit. Setiap kali saya mengingatnya, setiap kali pula keinginan saya untuk menjadi kaya begitu berkobarnya. Namun, jauh di lubuk hati saya, saya tetap menganggap “ada yang salah dengan menjadi kaya.” Rasanya, menjadi kaya seperti menjauhkan diri dari Tuhan, dan memilih mamon.

Sampai bulan lalu, saya membaca satu tulisan yang sangat menginspirasi saya. Di sana, saya seperti menemukan puzzle yang hilang dari pembahasan tentang kekayaan dan spiritualitas. Saya menyadari kesalahan dari konsep yang saya anut dahulu. Kini, menjadi kaya adalah suatu hal yang mendamaikan bagi saya. Saya tidak lagi menganggap Tuhan sebagai anti kekayaan. Tapi, sebelumnya, kita perlu mendefinisikan ulang kekayaan itu. Saya akan menjelaskannya pada Anda tentang apa yang saya dapatkan dari tulisan itu, dan bagaimana tulisan itu telah mengubah konsep saya tentang kekayaan dan spiritualitas.

Bersambung…


Jun 2

Kejadian ini terjadi di suatu hari yang cerah 2 tahun yang lalu. Seperti biasa, tidak ada bintang jatuh… Seperti biasa juga, saya pergi ke kampus pakai sendal, yang sebenernya saya tau tuh sendal uda rada ga bener, uda hampir putus, tapi karena saya yang keras kepala tetep aja saya pake tanpa sedikit pun rasa bersalah. Saya sampai di kampus dengan aman sentosa, sehat walafiat, tidak kekurangan suatu apa pun, setidaknya sampai terjadi tragedi itu.

Tragedi apa? Jadi ceritanya saya lagi turun tangga. Terus abis saya turun, ada genangan air ga jelas ada di depan WC (siapa sih yang pipis sembarangan di depan WC?), yang saya ga liat (saking rabunnya nih mata…). Dan genangan air itu berhasil membuat saya meluncur beberapa meter ke depan seperti maen ice skating dan membuat sendal saya bener-bener putus!!! Tuh genangan cuma gagal membuat saya jatuh, karena keseimbangan tubuh saya yang udah saya latih bertaon-taon dengan bertapa di atas gunung salak… (yang ini ga bener).

Okeh… Akhirnya sendal saya putus juga. Nyesel deh saya, napa saya tadi pagi masih keras kepala make tuh sendal. Trus sekarang, gimana saya bisa balik ke kos saya dengan sendal yang putus gitu? Huhuhu… Apa saya mesti ngesot2 atau nyeker ampe kaki berdarah2 ke kos saya??

 


Tiba2 terlintas sebuah ide brilian di otak saya. Yup, saya minta karet gelang atau lakban (bukan enem puluh rebo) aja sama pos satpam yang ada di depan gedung… Terus kan tinggal saya tempelin ke sendal saya… Lumayan lah. Oke… brilian sekali.

Akhirnya dengan ngesot2, saya berhasil sampe ke pos satpam di depan gedung…

“Pak… Ada karet gelang ga?” saya nanya.

“Wah… karet gelang ya?”, kata pak satpam sambil nyari2… “ga ada tuh… Coba kamu cari di dapur sebelah deh…”

“Nih pos satpam kesian banget. Karet gelang aja ga punya” pikir saya dalem hati. Tapi, yah daripada ngesot ampe kos, saya mendingan ngesot ke dapur sebelah. Dengan sedikit esotan, sampelah saya ke dapur sebelah. Saya buka pintunya, eh ada Pak Komar, janitor (karyawan/cleaning service –red) di kampus tercinta, yang lagi makan siang dengan enaknya. Saya berhasil mengganggu kenikmatan makan Pak Komar dengan sebuah pertanyaan:

“Pak Komar… Ada karet gelang ga?” saya nanya pertanyaan yang sama.

“Waduh… karet gelang ya…” Pak Komar langsung menghentikan kunyahannya dan langsung sibuk nyari2… “ga ada tuh…”

Setengah pasrah, saya nanya lagi, “kalo lakban ada ga pak?”

Setelah nyari2 n berhasil tidak menemukan sepotong lakban pun, Pak Komar menjawab, “Wah ga ada juga tuh… Buat apa sih?”

“Ini pak, sendal saya…” sambil nunjuk ke kaki yang lagi nginjek sendal putus dengan wajah memelas meminta belas kasihan.

“Wooh… itu mah ntar jelek klo dilakban… Lakban kan warna coklat. Sendalnya warna item…”

Dalem hati… “Gak peduli deh jelek2, yang penting gak usah ngesot2 ampe kos. Yang penting mengamankan kaki dulu dari kerikil2 tajem”. Akhirnya saya jawab, “Gapapa kok pak…”

“Eh, coba cari di satpam deh…”

Lagi2 dalem hati… “Duh2 Pak Komar… Tadi saya juga dari satpam… Ga ada pak!” Tapi karena Pak Komar juga keluar, saya ikutan keluar n ngesot lagi ampe pos satpam ngikutin Pak Komar. “Udah pak… ga ada di pos satpam”, lagi2 dalem hati…

Sampai di pos satpam yang tadi (lagi2 dengan beberapa esotan). Pak Komar nanya… “Woi, ada sendal jepit ga? Nih ada yang sendalnya putus”, terus dengan cepatnya sebuah sendal jepit uda ada di tangan Pak Komar…

Semua ide brilian saya langsung hancur… Jeger! Iya ya, ngapain juga saya minta2 karet gelang n lakban… Napa saya ga langsung aja minjem sendal jepit. Dodol…

Untung ada Pak Komar… Makasih pak. Ga jadi ngesot ampe kos deh, semoga ga akan pernah… hehehe.

Moral: Ide brilian kita belum tentu benar-benar brilian. :P

Ini adalah kisah saya yang saya tulis dua tahun yang lalu (dengan sedikit modifikasi). Menurut Anda, apakah peristiwa di atas tergolong keberuntungan atau ketidak-beruntungan? Saya dapat menganggap peristiwa di atas sebagai keberuntungan, karena peristiwa itu akhirnya menjadi sebuah pengalaman yang menarik dan lucu yang dapat saya ceritakan ke orang lain, termasuk kepada Anda saat ini. Jika sendal saya tidak putus saat itu, tidak ada kisah yang telah menghibur beberapa orang ini (emangnya menghibur ya? hehe).

OK, ini adalah satu contoh melihat sisi positif dari sebuah peristiwa. Peristiwa buruk di masa lalu, bisa saja menjadi peristiwa lucu yang menarik diceritakan sekarang. Jadi, peristiwa buruk di masa sekarang, bisa saja menjadi peristiwa lucu yang menarik di masa depan.

Saya pribadi percaya, setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup saya, entah itu baik atau buruk, pasti memiliki manfaat dalam membentuk diri kita menjadi seperti hari ini. Tuhan sudah merancangkannya untuk kebaikan kita. Jadi, apa pun yang terjadi pada diri kita saat ini, ada tujuan baik di balik semuanya itu. Mungkin kita tidak mengetahuinya sekarang. Kita akan mengetahuinya pada waktu-Nya. Saat itu, kita akan bersyukur bahwa kita sungguh beruntung memiliki Tuhan yang begitu baik dan penuh kejutan. Hei, mengapa harus menunggu saat itu untuk bersyukur? Saat itu pasti akan tiba. Bersyukurlah dari sekarang. :D


Apr 7

Ada sebuah cerita tentang seorang penjahat yang meninggal dunia. Ketika dia mau mati, dia sudah merasa pasti akan masuk neraka. Nah ketika dia mati, tiba-tiba dia dibangunkan. Dia melihat sesuatu yang tidak diharapkannya. "Wah kok suasananya bagus. Indah menarik dan menyenangkan sekali ya," katanya dalam hati. Dia melihat semua serba bahagia.

"Aduh rasanya saya keliru terkirim ke surga," katanya lirih. Tiba-tiba seorang bidadari mendatanginya. "Ayo-ayo bangun. Kamu ingin apa ? Di sini kamu apa saja diberi." Awalnya dia ragu. Tapi memberanikan juga untuk meminta, "Saya tidak mau kerja." "Ok," kata bidadari. Ting! Maka dia tidak usah kerja. Semuanya tercukupi.

Setelah keinginannya terwujud, dia mulai berani, "Saya boleh minta lagi ?" "Boleh," kata bidadari, "Kamu minta apa ?" "Saya minta uang yang banyak." Ting! Maka keluar uang yang banyak. Dia beli apa saja bisa. Dia ingin beli mobil baru, bisa. Beli apa saja, bisa.

Lalu dia datang lagi ke bidadari. "Bidadari, saya minta rumah yang bagus," pintanya. Ting! Dia dapat rumah yang sangat mewah, indah dan semuanya ada. "Wah apapun dikasih katanya. Ini betul-betul surga," teriaknya senang. Kemudian dia kembali ke bidadari. "Saya bisa tidak minta wanita- wanita yang cantik ?" Ting! Maka ada 10 wanita yang cantik yang siap melayani dia terus.

Dia senang sekali. Uang ada. Punya rumah. Dikelilingi wanita-wanita cantik. Dan dia tidak usah kerja. Makan apapun bisa sekenyang-kenyangnya. Dan semua itu berlalu dengan cepat. Sebulan, 2 bulan, 3 bulan dia mulai bosan. Jenuh. Dia tidak mau segala keenakan ini. Rasanya bikin ‘eneg’. Mual.

Maka dia menghadap bidadari. "Bidadari, saya mau kerja," katanya. Bidadari itu heran, "Tidak bisa, tidak bisa. Di sini tidak perlu kerja. Tidak ada kerjaan. Kamu tidak usah kerja. Kamu nikmati saja segala kenikmatan ini." Dia bingung. Kembali ke kegiatan sebelumnya dan dia coba menikmati lagi surganya. Makan lebih banyak lagi, sampai gendut. Tapi dia tetap jenuh karena tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan. Dia kembali lagi bidadari. "Aku minta kerja," katanya. Dan biadadari tegas berkata, "Tidak bisa. Di sini tidak ada kerja."

Akhirnya dia tidak tahan. Penjahat ini mengaku, "Bidadari yang baik, saya sebanarnya adalah penjahat. Saya tidak layak masuk surga ini. Saya seharusnya masuk neraka. Kalau di neraka, saya bisa kerja. Bahkan kerja keras. Saya bisa merasakan sakit dan sengsara. Saya tidak mau segala ini. Ternyata kenikmatan ini tidak enak," teriaknya marah.

Tiba-tiba wajah bidadari yang cantik dan menyenangkan dilihat ini, tiba-tiba berubah menyeramkan. Wajahnya berubah menjadi setan. Dia berkata keras, "Sebenarnya ini adalah neraka."

Cerita ini disadur dari salah satu episode seri TV kuno ‘Twilight Zone’.

Saya tidak mengatakan supaya anda semua menjadi penjahat supaya tidak masuk surga. Manusia baru ingat dan menghargai segala kenikmatan yang dia rasakan, ketika kesedihan dan kesengsaraan juga dirasakannya. Kehidupan adalah sebuah keseimbangan antara kenikmatan dan penderitaan, inilah yang memperkaya kazanah kehidupan kita. Selamat menghargai kesengsaraan anda, karena di sanalah akan anda temui kenikmatan yang lebih.

Sumber cerita: Business Wisdom Pak Tanadi Santoso

Itu adalah cerita yang saya dengarkan di radio hari Senin lalu. Cerita yang membuat saya berpikir. Ya, memang benar… Kesusahan perlu kita lalui agar kita bisa menghargai kebahagiaan. Suatu kebahagiaan tidak lagi jadi kebahagiaan untuk kita jika kita tidak merasakan kesusahan. Saya akan berikan contoh yang sederhana. Bayangkan Anda baru saja berjalan selama satu jam di bawah terik matahari siang hari, yang membuat Anda sangat berdahaga. Lalu, ketika sampai di tujuan, Anda ditawarkan sebotol Aqua dingin. Tentu karena Anda sedang sangat haus dan kepanasan, sebotol Aqua dingin tersebut menjadi sebuah kesenangan bagi Anda. Tapi, apa yang terjadi jika Anda sedang tidak haus dan diberikan sebotol Aqua dingin tersebut? Rasa nikmatnya tentu sangat berbeda bukan? Rasa nikmat yang Anda dapat dari sebotol Aqua dingin tergantung dari seberapa haus Anda saat Anda meminumnya. Semakin Anda merasa haus, atau mengalami penderitaan (kehausan), semakin banyak nikmat yang akan Anda rasakan dari sebotol Aqua dingin.

Contoh lainnya saya dapatkan dari pengalaman saya kemarin. Saat saya bangun pagi, saya merasakan kamar saya sangatlah dingin, dan saya menjadi kedinginan. Rasa dingin dari AC menjadi tidak enak untuk saya saat itu. Hal itu berbeda ketika saya sudah keluar dari kamar, mengerjakan banyak hal yang membuat keringat saya bercucuran. Ketika saya kembali masuk ke dalam kamar, rasa dingin AC menjadi suatu hal yang sangat enak untuk saya.

Suatu hal yang Anda anggap enak, takkan menjadi enak, kecuali Anda pernah merasakan apa yang Anda anggap tidak enak. Jadi, bersyukurlah atas penderitaan yang kita alami, karena penderitaan yang kita alami akan membuat pemulihan yang kita dapatkan nantinya menjadi semakin berharga untuk kita. Kebahagiaan yang kita rasakan bukanlah masalah seberapa tinggi hal yang kita capai, tapi seberapa jauhnya hal terendah dalam hidup kita dengan hal tertinggi dalam hidup kita. Jarak itulah yang menjadikan segalanya berharga. :D


Mar 2

Rencana Evaluasi Blog

Posted by Charles

Dua bulan sudah berlalu sejak saya bertekad untuk menulis secara rutin di blog ini. Selama dua bulan itu, sudah lebih dari 60 tulisan baru yang saya bagikan di blog ini. Jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan jumlah tulisan di blog saya sepanjang tahun 2009, yang hanya berisi 26 tulisan.

Dua bulan yang lalu, saya begitu semangat dalam membagi ide-ide, opini, dan inspirasi-inspirasi yang saya dapatkan. Saat itu, rasanya begitu banyak tulisan yang ingin saya bagikan. Sampai-sampai, saya memutuskan untuk meng-update blog ini setiap hari.

Kini, sebenarnya masih banyak ide-ide dan pemikiran saya yang ingin saya bagikan. Namun, waktu untuk menuangkan ide-ide itu ke dalam tulisan menjadi semakin terbatas. Saya merasa, jika saya terlalu memaksakan untuk menulis, saya menjadi lebih merasa tertekan untuk menulis dibandingkan menikmati waktu-waktu menulis saya. Dan, itu dapat mempengaruhi kualitas-kualitas tulisan saya.

Beberapa blogger yang pernah mengalami hal ini, atau yang sedang kehabisan ide menulis, memilih untuk hiatus. Hiatus di sini maksudnya adalah seperti “beristirahat sejenak” dari dunia per-blog-an, berusaha mengumpulkan semangat dan ide-ide baru. Saya pun pernah hiatus dari blog ini selama beberapa bulan sejak pertengahan hingga akhir tahun 2009 lalu.

Tidak, saya tidak akan hiatus saat ini. Masih banyak ide-ide dan inspirasi yang ingin saya bagikan dalam blog ini, yang masih ada dalam kepala saya, menunggu dituangkan dalam bentuk tulisan. Tapi, saya mulai memikirkan untuk mengurangi frekuensi update blog ini, dari setiap hari, menjadi seminggu sekali atau seminggu dua kali.

Semoga ini tidak menjadi alasan saya untuk tidak menulis. Kadang, kita memang harus dipaksa untuk dapat melakukan sesuatu, tapi untuk melakukan sesuatu yang hebat, kita harus melakukannya dengan senang hati. :D

So, saya akan mengevaluasi blog ini kembali, dan saya akan mengabarkan keputusan saya di blog ini hari Sabtu nanti, tentang akan saya bawa ke mana blog ini, dan frekuensi update yang baru.

Jika Anda punya masukan untuk blog saya, silakan berikan dalam kolom komentar. Bagaimana pendapat Anda tentang blog ini selama dua bulan terakhir ini? Tulisan-tulisan apa yang Anda sukai? Atau apapun juga… Saya akan sangat menghargainya dan itu juga akan menjadi bahan pertimbangan dan evaluasi saya.

Terima kasih. :D


Jan 9

Yeah! Tiba saatnya untuk tulisan bebas… Setiap hari Sabtu, saya akan menulis hal-hal bebas, yang tidak berkaitan dengan keenam subtopik yang ada di hari Minggu sampai Jumat.

Tulisan bebas di sini bisa berupa curhat-curhat dari kehidupan saya, pengalaman-pengalaman menarik yang saya dapatkan, info-info menarik, ucapan-ucapan selamat, perkembangan blog ini, dan masih banyak lagi tulisan-tulisan bebas lainnya.

Sampai jumpa di tulisan bebas saya yang lain Sabtu mendatang… :D

Jan 3

Be Inspired, Inspire Others

Posted by Charles


Mengapa saya memutuskan untuk melakukan perubahan besar pada blog ini?

Tagline blog saya di tahun 2008 adalah “Membuka wawasan, bersama belajar dari kehidupan”. Saat itu saya menyadari banyak hal sederhana namun penting yang secara sadar atau tidak sadar kita dapatkan dari kehidupan ini, yang dapat membuat kita menjadi lebih baik lagi.

Tagline blog saya di tahun 2009 adalah “Feel a life that better than good”. Hidup itu indah, bahkan sebenarnya hidup itu lebih dari sekedar baik, jika kita tahu cara menjalankannya. Saya ingin mengajak para pembaca untuk menghargai dan menikmati hidup ini.

Tagline blog saya di tahun 2010 ini adalah “Be Inspired, Inspire Others”. Saya termotivasi dengan tagline ini setelah saya mendapatkan begitu banyak inspirasi di tahun 2009, namun kurang dalam membagikannya kepada orang lain.

Mengapa harus saya bagikan? Kenapa tidak buat saya sendiri saja?

Karena saya percaya, berbagi ilmu itu menguntungkan. Ketika kita mendapatkan sebuah ilmu atau inspirasi, dan kita ceritakan lagi kepada orang lain, kita akan lebih ingat dan lebih memahami ilmu tersebut. Di sisi lain, kita juga dapat membantu orang lain. Kita tidak dapat menjadi sukses seorang diri. Yang saya percayai adalah, kita dapat menjadi sukses dengan mensukseskan orang lain. Dan sebelum kita dapat menginspirasi orang lain (“inspire others”), kita harus terlebih dahulu terinspirasi (“be inspired”). Oleh karena itu, saya juga akan mencari berbagai inspirasi yang ada dari berbagai buku, seminar, blog teman-teman, dan banyak sumber lainnya.

Terakhir, yang memotivasi saya untuk melakukan hal ini, adalah karena hal ini sejalan dengan visi hidup saya, dan sejalan dengan apa yang menjadi passion saya. Apa visi hidup saya? Apa itu passion? Apa yang menjadi passion saya? Jika Tuhan mengizinkan, saya akan membagikannya pada tulisan-tulisan saya di masa mendatang. :D

So guys, be inspired, and inspire others…

Jan 2

Blog ini telah membawa banyak perubahan positif pada diri saya. Sebelum melangkah maju, saya akan mengevaluasi blog ini, agar saya tidak mengulangi kesalahan yang sama, dan dapat menjadi lebih baik lagi.

Saya memulai blog Charles’ Notes sejak awal tahun 2008. Dengan sebuah tagline “membuka wawasan, bersama belajar dari kehidupan”, dengan semangat saya membagikan ilmu dan pemikiran saya kepada para pembaca. Hari ini, blog ini hampir berusia 2 tahun. Kemarin, saya sudah mengumumkan komitmen saya untuk dapat menginspirasi lebih banyak orang lagi melalui blog saya. Sebelum saya melanjutkannya, saya ingin mengevaluasi dua tahun perjalanan blog ini, untuk suka-duka yang saya temui bersama blog ini, tentang bagaimana blog ini telah mengubah hidup saya, dan tentang para pembaca blog ini (dan mungkin saja Anda) yang telah menginspirasi saya dan memberikan saya semangat dengan begitu banyaknya komentar positif.

Saya memulai blog saya dengan sebuah tulisan “Selamat Jalan Pak Harto”, pada tanggal 31 Januari 2008. Dalam tulisan saya yang pertama, saya membagikan satu pesan yang saya dapatkan dari wafatnya Pak Harto, yaitu “Hargailah orang ketika orang tersebut masih ada. Ini bukan artinya kita tidak boleh memberikan penghargaan saat seorang telah wafat, namun alangkah baiknya (dan tentu akan jauh lebih baik) jika penghargaan itu diberikan saat orang itu masih ada.”

Di awal saya membuat blog ini, saya mempunyai harapan dengan adanya blog ini saya dapat berinteraksi dengan lebih banyak orang, dan dapat mengurangi sifat introvert saya. Saat ini, saya dapat mengatakan bahwa blog ini benar-benar membuat saya menjadi orang yang lebih ekstrovert/terbuka, dan saya bisa menjalin hubungan dengan lebih banyak orang, dan mendapatkan banyak inspirasi dari mereka.

Bulan Februari 2008, saya sangat aktif ngeblog, dan menghasilkan 28 tulisan. Setelah dua tahun berjalan, hari ini, ada 146 tulisan di blog ini, termasuk tulisan ini. Berarti sekitar 20% tulisan saya, saya tulis di bulan pertama saya ngeblog. Yang menyedihkan adalah di tahun 2009 saya hanya menghasilkan 26 tulisan. Itu artinya selama 12 bulan di tahun 2009, jumlah tuliskan yang saya hasilkan lebih sedikit dibandingkan tulisan yang saya hasilkan selama 1 bulan di bulan Februari 2008, saat saya baru mulai ngeblog dan sedang semangat-semangatnya. Saya harap hal ini tidak terjadi lagi sekarang, dan saya dapat terus menulis secara konsisten sepanjang tahun ini, setiap hari, seperti yang sudah menjadi komitmen saya.

Berikutnya, dari jumlah pengunjung, rata-rata ada 150+ pageviews per hari di tahun 2008, dan meningkat menjadi 600+ pageviews per hari di tahun 2009. Saya sangat bersyukur, karena menurut saya, angka itu adalah angka yang cukup besar untuk ukuran blog pemula seperti saya (thanks to blog agregator CSUI05 :D ). Terima kasih juga untuk para pengunjung blog ini, dan teman-teman yang sudah meninggalkan jejak di blog ini. Angka-angka ini menjadi motivasi bagi saya untuk melakukan perubahan besar di blog saya. Lebih lengkapnya akan saya jelaskan besok.

Saat ini, di tahun 2010, saya sudah melihat ke belakang, sebuah perjalanan kehidupan yang telah saya lalui bersama dengan blog ini. Saya akan belajar dari kesalahan-kesalahan yang ada di masa lalu, dan memperbaikinya agar tidak terulang kembali di masa depan. Sekarang saya akan melihat ke depan. Saya akan membawa blog ini ke arah yang lebih baik lagi, yang memberikan lebih banyak manfaat pada pembacanya.

Apakah ada evaluasi yang ingin teman-teman sampaikan tentang blog ini? Silakan teman-teman berikan dalam kolom komentar. Komentar teman-teman akan sangat berharga untuk saya dan untuk kemajuan blog ini. Terima kasih. :D

Dec 31

Refleksi 2009

Posted by Charles


Akhir tahun memang saat yang tepat untuk melakukan refleksi. Saatnya mengevaluasi apa yang telah kita capai sepanjang tahun ini. Bagi saya, tahun 2009 ini sangatlah luar biasa. Tahun ini adalah tahun transisi saya. Saya belajar begitu banyak hal, dan ada beberapa titik-titik penting yang saya lewati dalam kehidupan saya di tahun ini. Syukur kepada Tuhan yang telah memimpin saya di sepanjang tahun 2009 ini. Berikut adalah hasil refleksi saya di tahun 2009 ini.

1. Lulus kuliah dan menjadi wakil wisudawan
Ini adalah satu titik yang sangat penting dalam kehidupan saya. Sungguh merupakan anugerah Tuhan yang luar biasa, yang membuat saya dapat lulus dari Fasilkom UI setelah menjalani 3,5 tahun masa studi. Saya mendapatkan begitu banyak hal berharga selama saya kuliah. Hal lain yang luar biasa yang Tuhan berikan kepada saya adalah ketika saya dapat lulus dengan predikat cum laude, dan bahkan terpilih menjadi wakil wisudawan fakultas saya. Saya bahkan tidak pernah berpikir akan menjadi lulusan terbaik sebelumnya, tetapi Tuhan berikan kepada saya.

2. Mulai mendapatkan penghasilan
Tahun ini saya mulai mendapatkan penghasilan sendiri dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Setidaknya, saat ini, saya dapat mencukupi kebutuhan saya sendiri, meskipun hanya kebutuhan minimal saya. Jika ada hal yang aneh, itu adalah sampai saat ini saya tidak memiliki pekerjaan tetap. Lebih jauh tentang ini akan saya ceritakan di tulisan-tulisan saya yang lain.

3. Kembali jomblo
Tahun ini saya mengakhiri hubungan yang telah saya jalin selama hampir tiga tahun. Masa-masa yang berat untuk saya, ketika saya harus mengakhiri hubungan ini menjelang saya sidang skripsi. Tapi, sekarang saya dapat melihat bahwa hal itu adalah rencana Tuhan yang baik untuk saya, dan saya bersyukur hingga saat ini, saya dapat mempertahankan relasi yang baik dengan mantan saya.

4. Perubahan pola pikir
Ini adalah sebuah revolusi yang besar dalam hidup saya. Tahun ini, saya banyak dibukakan tentang pola pikir yang membuat saya dapat menikmati hidup yang Tuhan berikan kepada saya dengan lebih baik lagi. Orang-orang yang cukup dekat dengan saya mungkin menyadari perubahan yang terjadi pada saya, di mana saya menjadi seorang yang lebih bersemangat dan lebih positif. Salah satu hal yang paling mempengaruhi saya dalam perubahan pola pikir ini adalah seminar Tung Desem Waringin “Financial Revolution” yang saya ikuti. Saya mengikuti tiga seminar beliau tahun ini, dan saya sungguh bersyukur saya dapat mengenal beliau.

5. Menjadi pembimbing KTB (Kelompok Tumbuh Bersama)
Ini adalah sebuah titik besar lainnya di dalam kehidupan saya, ketika Tuhan boleh mempercayakan lima orang yang boleh saya bimbing di gereja saya. Sebelumnya, saya juga membimbing sebuah kelompok serupa di kampus saya yang beranggotakan empat orang.

6. Belajar mobil
Ini adalah target yang tidak kesampaian dari tiga tahun yang lalu, namun akhirnya tahun ini dapat tercapai juga.

7. Blog
Nah, hal yang terakhir ini adalah tentang blog ini. Tahun ini saya mengalami kemunduran yang jauh dibanding tahun lalu di bidang ini. Jumlah tulisan yang saya buat menurun drastis. Bahkan, yang paling parah, saya sempat tidak update blog ini selama tiga bulan! Namun, saya begitu terkejut ketika melihat jumlah pengunjung blog saya justru naik hingga empat kali lipat dari tahun lalu, dan saya bisa mendapatkan penghasilan pertama saya dari blog ini tahun ini.

Saat ini, saya ingin mohon maaf pada para pembaca setia blog ini (kalau ada, hehe) yang menanti-nantikan tulisan saya, tetapi seringkali dikecewakan ketika datang ke blog saya yang tidak terurus dengan baik ini. Tahun ini, saya mendapatkan begitu banyak inspirasi, begitu banyak pengetahuan baru, begitu banyak pengalaman berharga, namun saya merasa sangat kurang dalam membagikannya. Syukurlah, saat ini saya sudah cukup termotivasi kembali untuk menulis di blog ini, dan rencananya, saya akan melakukan revolusi besar di blog ini. Untuk lebih detail, akan saya jelaskan di tulisan saya berikutnya. So, tunggu ya… :D

Sebenarnya masih ada banyak hal lain yang saya dapatkan di tahun 2009 ini. Mungkin hal-hal lain itu akan saya bagikan sedikit demi sedikit di tulisan-tulisan saya di masa mendatang. Intinya, saya sungguh bersyukur kepada Tuhan untuk apa yang boleh saya capai di tahun 2009. Menjelang tahun 2010, saya juga sudah membuat resolusi. Resolusi yang berisi 100 target yang ingin saya capai di tahun 2010 mendatang, jika Tuhan mengizinkan.

Terakhir, saya mau memberikan sedikit rahasia… Blog ini akan mengalami revolusi dahsyat di tahun 2010, dan sang pemilik blog menargetkan untuk melakukan update blog harian secara rutin, memberikan sebanyak mungkin inspirasi yang telah terlebih dahulu menginspirasi dirinya. Kalau kamu tertarik, jangan lupa untuk berkunjung lagi besok ke blog ini untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi. :D

NB. Gimana nih dengan refleksi teman-teman di tahun 2009, dan resolusi di tahun 2010? :mrgreen:

Oct 26

Hari Sabtu lalu, tepatnya tanggal 24 Oktober 2009 lalu bisa dibilang adalah salah satu hari bersejarah bagi diri saya. Yah, setidaknya dalam 3 tahun terakhir ini. Semuanya diawali dari sebuah sms di pagi hari yang berasal dari Kak Pandu. Di sms itu beliau minta saya untuk datang sore harinya jam 5 untuk ikut liqo (untuk selanjutnya saya akan menggunakan kata ngaji, just my preference not to use ‘liqo’ too much ). Jujur saya kaget dan 3/4 nggak percaya. Kenapa begitu? nanti di bagian bawah saya ceritakan. Karena nggak percaya, akhirnya saya nge-sms Sonny buat nanyain sms itu beneran nggak atau cuma salah kirim. Karena lama nggak dibales sama Sonny, akhirnya saya telpon aja dan di-confirm sama Sonny bahwa sms ajakan itu valid. Wah, Alhamdulillah banget…akhirnya penantian yang “cukup lama” bisa kesampaian juga.

Kenapa sampai Alhamdulillah banget?? Jawabannya adalah karena saya udah lama nggak ngaji, dalam artian ngaji (liqo), bukan ngaji yang lain. Terakhir saya ingat benar-benar ngaji adalah Ramadhan tahun 2006, udah lama kan?? Waktu itu alasan nya ‘menghilang’ adalah nggak begitu cocok sama abang yang baru, karena pas itu saya baru aja di-transfer ke kelompok yang baru. Awalnya males dateng, berlanjut nggak pernah dateng, sampe akhirnya saya ‘menghilang’. Saya menjadi anak hilang yang benar-benar hilang dari alumni rohis 68. Selama 2 tahun selanjutnya, hampir nggak pernah saya datang ke 68. Saya sibuk ‘bermain’ dan beraktivitas di UI, tepatnya kampus saya di Fasilkom UI. Ya, saya saat itu dianggap anak hilang.

Memang sih pernah sewaktu tahun 2007 saya diajak untuk ngaji lagi sama Bang Hendrico, alumni 68 yang juga alumni Fasilkom. Awalnya saya bisa ngikut, tapi lama kelamaan karena jadwalnya nggak tentu kadang ada kadang enggak, ditambah lagi teman sekelompok yang masih ‘kurang dekat’ akhirnya saya kembali ‘menghilang’ dan nggak ikut lagi. Setelah itu, sampai kemaren sebelum hari Sabtu sore, saya belum pernah ngaji lagi. Tapi, bukan berarti saya nggak belajar Islam karena saya nggak ngaji. Saya tetap ngejalanin ibadah wajib atau sunnah, ikut kajian, diskusi islam juga. Bedanya, saya nggak ngaji.

Walaupun begitu, ternyata batin saya ngerasain bahwa ada yang ‘kurang’ kalo belum ngaji. Dan hal itu benar-benar membuncah dan sampai pada puncaknya saat saya berusaha bangkit dari keterpurukan saya di pertengahan tahun ini. Pada saat itu, di saat saya lagi down-downnya, saya berpikir bahwa satu-satunya yang bisa ngebantu saya cuma Allah. Dan cara untuk itu adalah dengan mendekatkan diri dengan Allah, salah satunya dengan ngaji lagi. Setelah itu saya langsung berusaha untuk bisa kembali ngaji lagi. Sayangnya saat itu saya masih ngerasa malu dan nggak pede mau cerita ke sahabat-sahabat saya di kampus. So, saya berusaha minta tolong ke link di alumni 68 aja.

Akhirnya langkah nyata pertama saya adalah dengan dateng ke SMA 68 lagi. Yah, kedatangan on purpose yang pertama kalinya setelah 2-3 tahun, yaitu untuk bermain futsal. Waktu itu kalo nggak salah hari kedua puasa, saya diundang Zulhanif dateng buat maen bola sambil nunggu buka puasa di 68. Saya putuskan untuk dateng, sekalian juga untuk mengembalikan kepercayaan diri saya untuk menghadapi dunia (saat itu adalah masih masa recovery saya). Nah, pas bermain futsal itu saya ketemu sama Ismud, mantan ketua rohis sebelum saya. Pas ngeliat saya datang, dia langsung bilang, “wah, ada Sidik…kemane aja ente??”. Sudah saya duga sih, hehe…*garuk-garuk kepala* Setelah selesai maen bola, saya ngobrol empat mata dengan dia, saya ceritakan masalah saya termasuk masalah kelulusan yang tertunda dan kondisi tarbiyah saya. Ismud berjanji untuk mencarikan abang dan kelompok untuk saya, dan akan ngasih kabar dalam 1 pekan.

Dan satu pekan pun telah berlalu. Nggak ada kabar dari Ismud, yang membuat tekad dan niat saya untuk ‘kembali’ sempat surut. Padahal waktu itu saya udah memproklamasikan diri untuk tidak menjadi Bang Thoyib. Oia, mungkin ada yang masih nggak ngeh yah. Bang Thoyib kan di lagu dangdut itu katanya udah 3 kali puasa 3 kali lebaran nggak pulang-pulang. Nah, kalo saya Ramadhan tahun ini masih belum ‘kembali’ juga, artinya saya sama aja sama Bang Thoyib, udah 3 kali puasa 3 kali lebaran nggak pulang-pulang (buat ngaji lagi). Gitu maksudnya. Namun, akhirnya saya terpaksa jadi Bang Thoyib juga karena sampai lebaran pun masih nggak ada kabar.

Tapi saya tetap nggak putus asa. Saat itu yang saya lakukan ada mempersiapkan diri untuk ngaji lagi, walaupun saya akui kadang masih suka ngaco juga kelakuannya (karena belum ngaji lagi). Harapan datang lagi diawali adanya sms dari Kak Pandu pada tanggal 5 September yang memberi tahu tentang pernikahannya yang akan dilakukan tanggal 17 September. Yang saya pikirkan saat itu hanya 2 hal: datang atau tidak datang. Nggak datang karena saya nggak pede ketemu lagi sama alumni-alumni rohis, setelah saya jadi anak hilang begitu lama. Tapi di lain sisi, saya harus datang karena ini kesempatan baik untuk bisa berhubungan lagi dengan teman-teman alumni rohis. Sekalian juga kesempatan buat saya untuk bisa ngaji lagi. Keputusan akhir: saya datang, Insya Allah!

Waktu berlalu, tibalah H-1 dari walimah Kak Pandu. Karena saya mencari teman untuk datang ke acara itu, saya akhirnya mengontak Sonny, sahabat saya yang sudah 3 tahun tidak saya hubungi (karena jadi anak hilang). Alhamdulillah penerimaannya baik dan kita janjian ketemu pas hari-H di paginya untuk ngasih tau tempat dan peta lokasi. Hari-H adalah tanggal 17, hari Sabtu, waktu yang sama dengan pelaksanaan Sabtu Pelangi di kampus saya. Awalnya saya berniat untuk ke kampus dulu dateng ke SabPel, baru kemudian datang ke walimahannya agak siangan dengan menggunakan motor. Setelah ketemu dan dikasih lihat petanya, saya langsung bingung, kuatir nggak nyampe ke lokasi alias nyasar muter-muter Bekasi :D. Setelah dipikir-pikir, akhirnya saya membatalkan niat saya ke Depok, dan motor saya titipkan di kampus UI Salemba. Kami ber-8 barengan naek kendaraan umum ke lokasi.

Singkat cerita, selama pelaksanaan walimah, saya banyak cerita saya Sonny tentang kondisi saya, sambil minta tolong untuk ngasih tahu Kak Pandu untuk mencarikan kelompok ngaji buat saya. Di acara itu juga saya akhirnya setelah 2 tahun lebih ketemu sama Kak Nalen, Kak Amar, dan yang lainnya. Senang rasanya seperti saudara yang udah lama nggak ketemu. Perjalanan juga overall seru dan asyik, dan bikin saya bisa kenal dengan calon teman-teman saya di kelompok saya selanjutnya (wah, spoiler! :D). Selain cerita-cerita sama Sonny, kita juga merencanakan untuk membuat Silaturahim Rohis 68 angkatan 2005 “Robbaniyyin”, setelah mungkin 4 tahun nggak pernah ngumpul-ngumpul. Sonny ngasih kepercayaan buat saya yang ngurus (wajar sih…bentuk pertanggungjawaban, hehe…) dan dengan senang hati saya terima, coz I love to organize event, apalagi acara yang bagus kayak gini.

Pulang dari acara walimahan, saya punya ekspektasi besar untuk bisa kembali dengan sukses. So, sejak Sabtu tanggal 17 itu saya nunggu kabar dari Sonny. Tapi emang Sonny nggak ngasih tau kalo dia ternyata udah bilang ke Kak Pandu. Eh, tau-tau yang datang adalah sms langsung dari bos-nya, haha…Tapi, sekali lagi ini Alhamdulillah banget karena ternyata prosesnya nggak ribet sama sekali, nggak perlu macem-macem langsung diajak ikut ngaji ke kelompok yang udah established. Padahal pada saat ini ‘level’ saya jelas ketinggalan jauh dibanding teman yang lainnya. Bayangkan seorang banyak pelari yang berlari bersama-sama. Di tengah jalan ada yang berhenti sebentar, ada yang berhenti lama, dan ada yang berhenti 3 TAHUN! entah sudah sejauh mana pelari yang terus melanjutkan larinya…

Dan akhirnya harapan saya kesampaian juga, ngaji lagi untuk pertama kalinya setelah 3 tahun lebih (yang tahun 2007 nggak saya hitung karena nggak dapet feel-nya :D). Wow! rasanya campur aduk banget deh…dari mulai excited, ragu-ragu, grogi, kaku, sampe sok nyantai, haha…Tapi semuanya hilang segera setelah ngaji dimulai dengan segala isinya…At that time, I knew that my decision was right! This is what I’m looking for…and thanks to Allah the Almighty, now I can have chance to improve myself via this ‘ngaji’ :D

Terima kasih Ya Allah untuk kesempatan yang entah yang keberapa kalinya. Terima kasih Kak Pandu yang dengan penuh keterbukaan menerima saya yang kembali menjadi ‘newbie’ lagi di dunia ngaji ini. Terima kasih buat Ismud dan Sonny yang membantu proses kembalinya saya. Terima kasih kepada kelompok terbaruku yang bersedia menerima saya gabung, semoga kita bisa jadi saudara selamanya ya. Terima kasih kepada diri saya sendiri yang nggak pernah berhenti untuk berusaha untuk kembali.

Dan sekarang, ini saatnya untuk mengejar ketertinggalan dan memperbaiki diri untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah dan lebih baik. Ganbatte kudasai!!

Epilog: Ini pertama kalinya saya menceritakan semua hal ini kepada umum. Sebelumnya saya menyimpannya untuk diri saya sendiri. Namun, kali ini saya berani mengungkapkan ini. Alasannya simpel, karena ini juga bagian dari perjalanan hidup saya yang nggak bisa saya hapus. Saya harus bisa melewatinya dengan elegan, dan bisa memaafkan diri saya sendiri. Setelah itu, saya baru bisa maju lagi tanpa harus terus-terusan dibayang-bayangi oleh hal yang lalu-lalu. Saya anggap semua yang saya ceritakan disini adalah pengalaman yang menjadi pelajaran bagi diri saya, dan juga untuk diambil hikmahnya. Satu insight/pelajaran/hikmah yang saya dapat dari semua ini, bahwa “Allah selalu punya solusi untuk setiap permasalahan hambanya, dan kita bisa menemukan solusi tersebut, asalkan kita punya niat dan tekad yang kuat, serta tidak berhenti untuk terus berusaha sampai berhasil menyelesaikan masalah tersebut.”

Oct 23

Senandung Hati Yang Sepi

Posted by sidicx

Prolog: yap…you’ve already knew…this is another old poet from my last old blog…

Senyap.
Gelap.
Tanpa senyummu.
Tanpa hadirmu.

Dingin.
Ingin.
Membunuh sepi.
Hadirkan hati.

Dirimu.
Wajahmu.
Menghuni hatiku.
Walaupun dahulu.

Raga.
Sukma.
Memanggil namamu.
Lantunkan senandungmu.

Syahdu.
Mengadu.
Kupanjatkan harapku.
Pasrah tertuju.

Kamu.
Aku.
Akankah satu?
Tanpa meragu.

Karya puisi terbaru saya. Dibikin hari Sabtu malam / malam Minggu tanggal 2 Februari 2008. Sebenarnya puisi ini dibilang ungkapan hati ya bener juga, tapi dibilang nggak juga bener juga. Ya pokoknya pas itu tau-tau bikin puisi ini dan langsung jadi. Nggak ada niat bikin buat siapa-siapa. Bikinnya ada nggak niat banget karena ditulis menjadi suatu SMS di hape kesayangan gw.

Makna dari puisi ini adalah ungkapan hati seorang pecinta atas kegagalan cintanya di masa lalu. Bisa dibilang dia masih mencintai seseorang dari masa lalu itu. Ia masih mengharapkan agar mereka bisa bersatu. Yang paling saya suka itu adalah bait terakhir dari puisi ini, seakan bener-bener menutup dan menyimpulkan dengan cantik.

Kamu.
Aku.
Akankah satu?
Tanpa meragu.

Hehehe…pokoknya selamat menikmati lah…

Oct 19

Melodi Hari Ini

Posted by sidicx

Prolog: Yak…another old poetry from my archives…gw suka klo nulis puisi tuh yang ada unsur-unsur keindahan alam dan ciptaan Allah SWT…kalo nggak salah puisi ini dibuat sekitar 2,5 tahun lalu…

Enjoy!

oleh: Mohamad Sidik

Ketika ku lihat semburat dari ufuk timur
Oh…indahnya hari ini, sayangku
Dan ketika ku pandang awan berarak riang
Ingin ku rangkai mereka membentuk wajahmu

Kicauan burung ramaikan suasana di hati
Alunan melodi indah karya Illahi
Bunga-bunga di taman pun tersenyum padaku
Teriring salam hantarkan kebahagiaan

Namun, Entah mengapa pagi ini tak indah lagi
Apakah yang terjadi pada hariku?
Cakrawala tersamar gelap kabut tanpa pelita
Alamku menggigil gemeretak gemetar hatinya

Mungkin ada keindahan yang akan pergi jauh
Tinggalkan diriku dalam penantian jiwa
Kapankah kau membawa kembali ceria
Dalam hatiku yang sedang dilanda gulana

Gulana tak terperi terasa berat di hati
Sampai hilang rasa dari sekumpulan nyawa
Entah bagaimana ku dapat kembali berdiri
Bangkit berlari mengejar mimpi-mimpi

Bawakan bintang ke atas langitku, sayangku
Hiasi dengan tawa sejukkan sudut sanubari
Biarkan diriku kembali hadirkan rindu
Tuk bersama dirimu sepanjang hari ini

Jul 5

Alkisah di suatu tempat sedang terjadi diskusi sederhana antara seorang ‘abang’ dengan beberapa remaja biasa. Mereka duduk membentuk lingkaran. Diskusi mulai agak hangat saat seorang remaja biasa yang memiliki rasa ingin tahu dan kreatifitas tinggi bertanya pada sang abang. Sebut saja dia sebagai X.

X: Bang, untuk pilpres besok sebenarnya saya udah ada pilihan bang, dan saya yakin kalo pilihan saya itu yang paling tepat untuk jadi presiden negara kita. Tapi pilihan saya ini beda sama pasangan calon yang didukung oleh partai yang saya pilih pas pemilu legistatif. Gimana tuh bang??

Abang: Oh begitu ya. Kenapa kamu milih pasangan calon kamu itu? Memangnya kamu nggak tau kalo kita sudah diperintahkan untuk memilih pasangan calon yang itu?

Teman-teman X: Iya tuh, kamu gimana sih? itu kan udah perintah dari dewan tertinggi, jadi kita harus taat dan nggak boleh bantah, ntar kena akibatnya loh…

X: Saya milih pasangan calon itu juga nggak asal bang, nggak cuma ngikut-ngikut perintah aja. Sejak beberapa pekan ini saya udah nyari tahu tentang ketiga pasangan calon yang ada. Setelah tau kelebihan, kekurangan, karakteristik, visi misi, afiliasi, program kerja, dan track recordnya, saya lalu membuat penilaian sederhana aja. Kriteria penilaiannya simpel aja sih bang, kan saya juga biasa aja nggak hebat kayak abang. Saya bikin kriterianya, seberapa beragamakah masing-masing pasangan calon itu, baik dari pribadi, keluarga, lingkungan, afiliasi, juga visi misi dan program kerjanya. Yah, sesuai lah sama apa yang saya pelajari dari abang, bahwa kalo memilih pemimpin lihatlah dari agamanya terlebih dahulu.

Abang: Wah, bagus donk kalo gitu..trus gimana hasil penilaian kamu?

X: Hasilnya ya kayak yang saya bilang tadi, pilihan terbaik jatuh kepada pasangan calon yang justru tidak didukung oleh partai yang saya pilih…Makanya saya jadi bingung, kok bisa yah partai yang dulu saya pilih itu malah mendukung pasangan calon yang itu. Padahal setahu saya partai itu partai agama…

Abang: Dari tadi kamu ngomong partai terus, emang kamu milih partai apa sih? sama kan sama saya??

X: Ya iyalah bang…Partai Anu, partainya abang juga…

Abang: Begitu ya…walaupun hasil penilaian kamu itu berbeda dengan apa yang didukung oleh partai Anu, sebagai keder partai itu kamu harus taat dan patuh donk terhadap apa yang diperintahkan oleh dewan tertinggi…

X: Dulu emang saya keder partai Anu bang…tapi kayaknya masa keanggotaan saya udah abis deh bang, hehe…. Jadi, saya sekarang udah bukan anggota keder partai itu lagi, cuma jadi rakyat biasa aja…

Abang: Tapi tetep aja, kan kamu ikut diskusi sama saya, jadi tetep harus ngikut perintah donk!

X: Gini ya bang…Saya yakin orang-orang yang ada di dewan tertinggi adalah orang-orang cerdas, bijaksana, dan penuh pertimbangan dalam mengambil keputusan. NAMUN, bukan berarti keputusan mereka adalah hal yang mutlak benar…mereka sangat mungkin berbuat kesalahan. Dan PASTINYA, keputusan salah yang mereka keluarkan dapat membuat banyak orang menjadi ikut-ikutan salah, karena HARUS mengikuti apa yang mereka perintahkan…

Abang: Wah, kayaknya ada yang salah sama kamu deh…

X: Salah? Saya yakin kok bang dengan keputusan saya…dan kalaupun saya ragu, saya langsung mengkonsultasikannya dengan Tuhan saya, Tuhan abang juga, Yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi makhluknya.

Teman-teman X: Wah, kamu kok jadi gitu sih X?? Ga seharusnya kamu kayak gitu…

X: Karena saya berpikir dan meminta petunjuk dari Tuhan saya, dan saya yakini apa yang saya lakukan.

Abang: Sudah-sudah…sepertinya diskusi kita harus kita cukupkan sampai di sini. Lain kali kita lanjutkan lagi. Dan khusus untuk X, saya minta kamu untuk menghadiri diskusi dengan Abang yang lain, karena menurut saya ada yang salah dengan diri kamu. Semoga abang itu bisa membenarkan yang salah dalam diri kamu.

Diskusi pun berakhir, X tetap tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan yang mengganjal di hatinya. X justru disuruh Abangnya untuk menemui abang yang lain, yang mungkin saja juga menyuruhnya menemui abang-abang yang lainnya. Satu hal yang diyakini oleh X, bahwa pilihan yang dia buat adalah yang tepat dan terbaik, tentunya setelah berkonsultasi dengan Tuhan Yang Maha Bijaksana. Jadi, untuk saat ini, dia menguatkan tekadnya untuk memilih pilihan yang diyakininya itu dan tidak ikut-ikutan, walaupun harus berbeda dengan abang dan teman-teman diskusinya, pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden mendatang.

NB: hanya di dunia imajiner

Jul 1

Ternyata memang tidak mudah…selain hikmah yang gw ambil sebagai pelajaran, ternyata (pasti) ada efek samping dan akibat dari hal yang terjadi dalam hidup gw beberapa waktu lalu.

Seperti yang udah gw ceritain pada postingan gw yang sebelumnya (kalo blom baca silahkan dibaca dulu yah), gw belum akan lulus semesternya. Singkat kata, gw nggak bisa lulus dalam 4 tahun/8 semester dan harus nambah 1 semester lagi jadi 4,5 tahun.

Akibat langsungnya pastilah waktu kuliah gw bertambah, berimplikasi langsung juga pada pengeluaran untuk BOP yang harus dibayarkan pada semester depan. Selain akibat itu, ada juga beberapa akibat langsung yang secara langsung mau tidak langsung mempengaruhi kehidupan gw. Satu hal yang telah gw sadari dari beberapa waktu lalu adalah gw membuat beberapa pihak kecewa. Mereka kecewa karena gw nggak berhasil lulus tepat waktu (baca: 4 tahun), dan mungkin ditambah dengan tidak melanjutkan TAnya. Jujur, gw sedih dan merasa bersalah karena harus bikin mereka kecewa. Ortu, keluarga, sahabat, teman, dosen, Limas, dll. Makanya, setelah gw ngasih tau ke publik mengenai kondisi gw, saatnya gw ngasih penjelasan kepada mereka ini, agar mereka juga bisa memahami kondisi gw.

Alhamdulillah gw udah berhasil menjelaskan ke ortu gw, juga ke keluarga inti gw (kecuali Mas Dody, belum ada kesempatan). Ke temen dan sahabat juga udah beberapa. Tapi ke sahabat terdekat gw, Indra, gw justru belum. Gw yakin dia pasti bakal kecewa banget kalo tau kita nggak bisa lulus dan wisuda bareng. Yah, tapi gw yakin pada akhirnya dia pasti bakalan ngerti, karena dia sahabat yang paling bisa ngerti gw. Ke dosen, udah beberapa, terutama yang terkait dengan gw. Tapi ada yang belum juga, Insya Allah dalam waktu dekat. Satu lagi ke pihak Limas.

Nah, untuk yang terakhir ini, sebenarnya dari awal tahun ini antara gw (dan penerima beasiswa lainnya) terjadi kurang komunikasi, terutama dalam bentuk ketemuan atau kontrol akademis. Biasanya di awal tahun ada pertemuan antara direksi dengan penerima beasiswa, tapi tahun ini belum ada. Bagi diri gw, hal itu berimbas pada kurangnya responsible dan keterikatan gw dengan pihak mereka. Namun, sore ini pihak Limas menelpon ke hape gw lewat mas Daiz. Dia menanyakan kondisi akademis gw, terutama tentang kelulusan gw. Awalnya gw sempet kaget, karena udah lama banget nggak ada kabar, eh tau-tau nelpon nanya kagak gitu. Ya udah gw jelasin aja kondisi gw yang bakal nambah 1 semester lagi. Dari nada bicaranya, jelas dia kecewa dan agak bete gitu. Gw tau banget hal itu karena gw udah kenal dia dari pertama dapet beasiswa. Setelah dia puas/cape nanyain kenapa, akhirnya dia minta gw untuk ngirimin email yang jelasin alasan dan kondisi gw saat ini. Katanya sih buat pertanggungjawaban dia ke atasannya, direksi salah satunya.

Dari awal gw berani ngambil keputusan ini, gw udah tau resiko yang harus gw tanggung karena gw nggak bisa menuhin syarat di kontrak beasiswa. Gw sampe baca ulang tiap klausul yang ada di surat kontrak, untuk memastikan resiko yang gw terima. Insya Allah gw udah siap jelasin ke pihak-pihak yang perlu tau. Gw harap mereka bisa ngerti kondisi gw.

Selain efek samping dan akibat yang gw alamin, ada juga beberapa pelajaran tambahan yang gw rasain. Terutama banget masalah kesabaran dan keikhlasan. Dalam beberapa pekan ke depan mungkin gw harus tahan dan sabar dengan pertanyaan dari orang-orang yang belum tau kalo gw lulus semester depan. Bakal sering muncul pertanyaan: “Kapan sidang?”, “Kapan wisuda?”, “Kenapa belum lulus sekarang?”, dll yang berkali-kali ditanyakan ke gw. Yah, itu namanya efek samping, Insya Allah bakal jadi tes kesabaran buat gw. Gw juga jadi bisa belajar ikhlas nerima kenyataan gw nggak bisa lulus dan wisuda bareng sama sahabat dan temen-temen gw. Belajar ikhlas nggak lulus semester ini, padahal dia otak udah bertumpuk ide dan rencana buat acara wisuda semester ini. Belajar ikhlas belum bisa mencantumkan gelar strata 1 pada saat nyari kerjaan. Belajar ikhlas dan menikmati proses yang terjadi dalam hidup gw sendiri.

Hikmah lain yang gw rasain juga setelah hal ini, gw jadi lebih dewasa dalam memandang hidup. Nggak lagi over-ambitious like i was. Nggak lagi menggunakan ‘aku’ dalam memecahkan semua masalah. Kalo dipikir dengan jernih, mungkin yang kemaren itu gw telah sampai pada satu titik di hidup gw dimana terjadi stagnansi. Nah, Allah Yang Super Duper Maha Bijaksana memutuskan bahwa gw harus berubah, dengan menjadikan kenyataan yang sekarang gw alami. So, pasti ini adalah suatu proses. Nggak selamanya gw ada di atas, dan nggak selamanya juga gw ada di bawah. Saat ini berarti gw sedang mendaki menuju puncak lagi. Untungnya gw suka mendaki, seberapapun tingginya puncak gunung tersebut, hehe…

Momen ulang tahun alias milad gw kemaren juga membawa dampak positif dalam usaha perbaikan gw. Gw jadi punya kesempatan menyambung lagi ikatan yang sempat terputus. Gw jadi bisa ngobrol dan sharing lagi sama febi, bisa bertukar kabar dan kondisi dengan vita, bisa nanya-nanya, ngasih semangat, minta saran dan masukan, dll yang biasa dilakukan manusia dalam berinteraksi dengan manusia lain. Satu hal lagi yang gw sadarin adalah bahwa ternyata banyak orang yang peduli dan perhatian sama gw. Sangat amat egois kalo gw harus jadi orang yang tertutup dan ngabur. So, ini kesempatan buat gw nunjukin ke dunia bahwa gw bisa bangkit dan jadi Sidik yang lebih baik dari sebelumnya.

Minta doanya yah kawan agar saya bisa tetap istiqomah dan tegar dalam proses pendakian hidup ini…

Go Go Sidik Go!!

Jun 27

Hari ini, 27 Juni 2009, saya genap berusia 21 tahun.

Selama 21 tahun perjalanan hidup saya sejak dilahirkan pada tahun 1988 hingga saat ini, telah banyak hal yang saya lakukan, rasakan, dan alami. Namun, saya merasakan bahwa proses pertambahan usia saya dari 20 tahun ke 21 tahun sangatlah berkesan. Berkesan dalam artian saya mengalami banyak sekali hal, yang menyenangkan dan menyedihkan, ada naik dan ada turun, ada kesuksesan ada keterpurukan, semuanya tersaji selama 1 tahun terakhir dimulai dari ulang tahun saya yang ke-20.

Masih sangat lekat dalam ingatan saya, ulang tahun saya yang ke-20 tahun lalu saya rayakan bersama keluarga baru saya di Limas saat saya melaksanakan kerja praktik di sana. Sebagai anak baru di sana, Alhamdulillah saya diberi selamat oleh rekan-rekan kerja sekantor di Patra Kuningan. Saya juga berkesempatan untuk berbagi sedikit rezeki yang saya miliki dengan membeli beberapa makanan ringan untuk dibawa ke kantor. Benar-benar berkesan, karena mereka dengan tulus menerima kehadiran saya, hal yang saya syukuri.

Setelah itu mulailah perjalanan selama 1 tahun dari hari itu untuk tiba pada hari ini, di saat usia saya bertambah 1 tahun. 1 tahun perjalanan itu ternyata menjadi salah satu bagian yang paling berat yang saya alami dalam hidup saya. Pada masa itu saya untuk pertama kalinya benar-benar merasa terpuruk dan tidak bisa berpikir dengan jernih. Saya berusaha lari dari masalah. Saya mengambil jalan yang termudah, walaupun jelas itu bukan yang terbaik. Saya menghilang dari dunia saya. Saya tiba-tiba menjadi orang yang tertutup, yang tidak mau berbagi ke orang lain, termasuk orang-orang terdekat saya. Saya menjadi orang yang lain. Yah, walaupun itu hanya terjadi di separuh 1 tahun tersebut, tapi bisa disebut itu sebagai masa kegelapan bagi saya.

Sampai tiba akhirnya saya menyadari bahwa saya tidak bisa selamanya berada dalam zona nyaman yang saya anggap sebagai tempat yang aman dari masalah. Padahal sesungguhnya itu hanyalah alasan saya untuk melarikan diri dari masalah. Tepat 10 hari sebelum hari ini saya benar-benar berpikir sebenarnya apa yang terjadi dengan diri saya, apa yang salah dengan diri saya, apa yang sebenarnya saya inginkan di dunia ini, dan re-state kembali rencana hidup saya. Alhamdulillah, Allah masih memberi kesempatan bagi diri saya untuk bisa menyadari kondisi tersebut dan berusaha untuk memperbaikinya. Dan sampai akhirnya saya memproklamasikan bahwa pada hari ini, 27 Juni 2009 adalah titik tolak kebangkitan bagi kehidupan saya, juga menjadi momen pendewasaan diri saya menuju Sidik yang lebih baik.

Satu hal yang sangat-sangat salah yang saya lakukan beberapa waktu lalu adalah berusaha untuk menjauh dari orang lain dan mencoba-coba “hidup” menyendiri. Dan Alhamdulillah sekarang saya telah sadar sesadar-sadarnya bahwa saya tidak bisa hidup sendiri, menjadi manusia introvert dan jauh dari orang-orang yang saya sayangi dan perhatian ke saya. Saya sadar saya sangat membutuhkan keluarga saya, dan berbagi apabila sedang mengalami masalah agar mendapatkan solusi yang terbaik. Saya sadar bahwa saya sangat butuh sahabat-sahabat saya, teman-teman saya, tempat untuk bercerita dan berbagi, mendapatkan saran, masukan, dan kritik atas apa yang saya lakukan. Saya sadar bahwa saya butuh kegiatan yang dapat memfasilitasi saya untuk bersosialisasi seluas-luasnya dengan orang banyak. Intinya, saya tidak bisa hidup sendiri, bahkan saat hanya mencoba-coba.

Ini adalah saatnya saya bangkit. Bangkit kembali menjadi Sidik yang optimis. Sidik yang mempunyai visi besar bagi Indonesia, Islam, dan dunia. Sidik yang ceria dan easy-going. Sidik yang lugas, tegas, dan berani. Sidik yang pekerja keras. Bukan menjadi Sidik yang pesimis, pemalas, hanya memikirkan hal-hal kecil yang kadang tidak penting, berpikiran negatif, dan tertutup. Tentunya bangkit dan berubah menjadi Sidik yang lebih baik, yang meminimalisasi sifat dan sikap negatifnya, yang mengoptimalkan segala yang positif dalam dirinya. Dan ini juga merupakan momen yang sangat tepat untuk proses pendewasaan diri saya. Selama setahun terakhir, banyak masalah yang saya alami. Dan saya berharap semua masalah tersebut menjadikan saya menjadi Sidik yang lebih dewasa dalam berpikir, memandang masalah, dan bertindak.

Pada akhirnya, kita tidak dapat kembali ke masa yang lalu untuk mengubah takdir yang sudah terjadi. Saat ini saya telah berdamai dengan keadaan dan berusaha memaafkan masa lalu. Namun, saya tidak akan melupakannya sebagai pelajaran agar saya tidak melakukan kesalahan yang sama dan menjadi manusia yang lebih baik. Saya telah menerima kenyataan bahwa tidak semua hal yang saya rencanakan dan inginkan bisa saya dapatkan. Saya sangat yakin Allah super duper Maha Bijaksana dan tahu apa yang terbaik untuk diri saya. Untuk itu, yang selanjutnya akan saya lakukan adalah kembali menjalani hidup ini dan memperbaharui tujuan hidup saya, dengan Allah menjadi tujuan akhir.

***

Di momen 21 tahun usia saya ini, saya ingin mendedikasikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setingginya bagi orang-orang yang telah mendukung saya secara sadar ataupun tidak, yang telah memberikan sokongan yang saya sadari ataupun tidak, dan telah menghadirkan hal-hal baik dan mengesankan dalam hidup saya. Terima kasih dan segala puji bagi Allah yang masih memberikan saya kesempatan untuk merasakan usia 21. Terima kasih dan sayang baktiku untuk Bapak dan Ibu yang selalu menerima dan mendukung saya, bagaimanapun adanya saya. Terima kasih untuk Mas Dody, Teh Tuti, Mbak Septi, Mas Nur, Mbak Yanti, dan Aa Muhyidin, kakak-kakakku yang telah memberi perhatian, kasih sayang, dan semangat. Terima kasih dan peluk cium sayang untuk Terabitha, Naufal, Afifah, dan Rafif, keponakanku yang imut-imut dan lucu-lucu, yang selalu memberi warna-warni dalam hidup saya.

Terima kasih untuk Munir, Indra, Ilman, Franova, Dani, Kemal, Bram, Mia, Danu, Hari, Irvan, Yudha, Fithri, Mardian, Dyta, Yoyo, Nisa, Rina, Novi, Aqien, Krisna, Ichsan, Meldi, Nur, Nanta, Nulad, Jenggo, Niko, Kamal, Mursal, Lia, Pipit, Anjar, Yans, Haris, Ikhlas, Ipur, Didit, Andreas, Mahend, Arya, Jono, Agung, Leni, Meri, Chandra, Irene, Toni, Zebew, Rama, Chamat, Zahra, Lutfi, Dhiemas, Irsyad (Keluarga Kecil BEM Fasilkom 2008), Metti, Berna, Chubby, Hening, Haryadi, Ricky, Adhit NR, Kelompok C2, C3, dan C4 (Asdos PPL dan Kelompok PPL kelas C), Dita, Putri, Sela, Alfi, Ating, Ace, Leo, Ikhma, Cabe, Lezi, Haido, Pak Ilham, Mas Daiz, Bu Monic, Om Bos Khrisna, Pak Arif, Pak Arief, Kang Toni, Pak Jono (rekan kerja di Limas), dan semua yang telah menjadi sahabat, teman, sobat, dan bagian dari hidup saya. Terima kasih untuk Bu Ika, Bu Kasiyah, Bu Aminah, Bu Putu, Pak Thalib, Pak Harry, para dosen yang telah banyak membantu saya dan saya repotkan terutama selama 1 tahun ini.

Terima kasih juga buat semua yang udah ngasih selamat dan doa lewat sms, email, plurk, blog, facebook, friendster, ataupun secara langsung. Terima kasih buat semua yang mungkin lupa disebut, karena banyak banget orang yang udah berjasa bagi diri saya, terutama selama 1 tahun ini. Semoga Allah akan membalas kebaikan yang telah diberikan pada saya dan semoga kita bisa sukses dan berhasil dalam apapun hal yang kita lakukan, Amin.

Jun 19

Dengan adanya tulisan di blog ini, saya ingin memberitahukan bahwa saya belum akan lulus semester ini. Artinya, saya tidak menyelesaikan studi dalam 4 tahun dan Insya Allah diperpanjang menjadi 4,5 tahun.

Ada beberapa hal sebenarnya yang membuat saya pada akhirnya mau tidak mau (baca: terpaksa) mengambil keputusan ini.

Pertama, sejak awal semester lalu, saya jelas tidak serius ingin menjadikan TA sebagai bagian dari syarat kelulusan saya. Dari awal niat pun sudah agak salah sebenarnya. Memang, sejak awal saya mempertimbangkan dua pilihan, antara lulus dengan course-based atau memberanikan diri mengambil TA. Pada akhirnya saya memilih mengambil TA, utamanya karena 2 alasan, alasan baik dan alasan laten (kurang baik). Alasan baiknya adalah karena saya tidak ingin masa studi saya di Fasilkom selama 4 tahun ini tidak menghasilkan suatu karya yang bermanfaat di akhir. Sedangkan alasan latennya, saya ngerasa kalo lulus tanpa TA (atau SP) itu nggak seru dan nggak keren. Dalam perjalanannya, akhirnya kedua alasan tersebut tidak cukup kuat untuk membuat saya berjuang sekuat tenaga dan mendedikasikan waktu saya untuk mengerjakannya.

Kedua, kesalahan strategi dalam pengambilan mata kuliah. Harusnya, pada saat saya mengambil TA sebagai mata kuliah pilihan, saya telah mendapatkan 144 sks sampai akhir semester ini. Sehingga, apabila TA belum selesai, saya tetap bisa lulus karena telah mendapatkan 144 sks. Untuk kasus ini saya sendiri belum memastikan apakah bisa seperti itu. Namun, seharusnya sih bisa karena TA kan mata kuliah pilihan. Akibatnya paling hanya mata kuliah TA di transkrip tertulis nilai I atau tidak lengkap.

Ketiga, sekali lagi faktor dari diri saya yaitu saya tidak bisa menikmati (walaupun harus) mengerjakan sesuatu (khususnya karya tulis) pada bidang yang saya tidak cintai. Mungkin bagi sebagian orang hal ini hanya excuse saya saja. Namun, memang hal itu yang saya rasakan. Saya sampai saat ini tidak menemukan sesuatu yang menyenangkan dan menarik pada saat saya ngoding ataupun hal lain di bidang ilmu komputer. Biasa saja. Seperti yang selalu dibilang oleh Ilman yang meng-quote omongannya Steve Jobs (eh, pake ’s’ nggak sih??), kira-kira begini, lakukan sesuatu yang engkau yakini hal tersebut merupakan hal yang hebat/besar dan engkau mencintainya/memiliki passion. Nah, yang saya rasakan, hal ini bukan hal besar dan tidak saya cintai. Kurang apa lagi? doh…

Yah, ketiga alasan itu hanya sebagian saja alasan yang mungkin sekali lagi bagi sebagian orang cuma excuse saya saja. Penyesalan pun sudah terlambat karena nggak akan mengubah kenyataan bahwa saya harus bertahan Insya Allah 1 semester lagi di Fasilkom.

Akan tetapi, dibalik kenyataan kurang mengenakkan bahwa saya tidak bisa lulus semester ini, saya juga bisa mengambil beberapa pelajaran dan hikmah yang dapat membantu saya untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Mengambil kata-kata dari Bapak Jusuf Kalla dalam debat capres semalam, beliau meng-quote perkataan dari Nelson Mandela, “Forgive but not Forget”. Walaupun hal ini nggak enak, tapi saya harus belajar berdamai dengan keadaan, belajar memaafkan saya yang lalu, namun tidak melupakan hal-hal buruk di masa lalu sebagai pelajaran agar menjadi lebih baik di masa depan.

Pertama, dalam mengerjakan sesuatu itu memang sebaiknya dengan serius, dan memilih sesuatu yang memang kita memiliki passion dan kecintaan kepadanya, sehingga dalam mengerjakannya kita dapat merasakan senang dan terpacu. Dalam salah satu episode Oprah Show, Oprah Winfrey pernah mengatakan sebuah kalimat yang cukup manis, kira-kira isinya “Cari tahu bagaimana agar kita dibayar/mendapatkan uang, untuk melakukan sesuatu yang kita cintai”. Memang paling enak jika kita mengerjakan sesuatu yang kita cintai. Hal ini menjadi suatu pengingatan bagi saya bahwa saya harus segera mengetahui dengan jelas hal apa yang saya cintai dan akan menjadi jalan hidup saya nantinya, karena jelas saya tidak mencintai dunia ilmu komputer (baca: programming).

Kedua, Allah memberikan saya perpanjangan waktu minimal 1 semester untuk tetap menjadi mahasiswa, dan saya yakin hal ini pasti ada tujuannya. Allah punya rencana indah bagi saya. Saya sadari, memang masih ada beberapa hal yang masih tertinggal yang perlu saya selesaikan dengan baik. Semoga dalam masa 1 semester mendatang, masalah-masalah yang masih ada dapat saya selesaikan sehingga pada saatnya nanti ketika saya lulus dari Fasilkom, saya bisa meninggalkan sejarah yang baik. Selain itu, 1 semester ini harus saya lihat sebagai suatu peluang untuk bisa berbuat lebih, karena dari sekarang sampai nantinya perkuliahan semester mendatang dimulai, saya tidak begitu sibuk kuliah, jadi dapat memanfaatkan waktu untuk mengerjakan hal-hal lain yang produktif, misalnya mengurus acara jalan-jalan CSUI05.

Ketiga, ini sebenarnya hikmah laten yang sebenarnya tidak secara langsung berpengaruh terhadap studi saya. Dengan kenyataan bahwa saya harus lulus lebih dari 4 tahun, berarti saya telah gagal untuk mempertahankan beasiswa prestasi Limas yang saya peroleh. Sesuai klausul kontrak beasiswa, apabila penerima beasiswa tidak dapat lulus dalam masa studi 8 semester, maka penerima beasiswa tidak lagi menerima beasiswa dari Limas. Artinya, saya tidak lagi terikat dengan kontrak dan ketentuan yang ada di dalamnya, termasuk kewajiban untuk bekerja selama 2 tahun di bidang ekonomi dan pasar modal setelah lulus. Hal ini bisa berarti keuntungan bagi saya, karena saya bebas untuk menentukan langkah hidup saya setelah lulus nanti, apakah akan meneruskan studi, bekerja di bidang apapun, atau memulai usaha sendiri. Yah, walaupun pastinya ada pengorbanan yang harus saya lakukan, yaitu harus mengeluarkan biaya tambahan untuk BOP 1 semester mendatang. Alhamdulillah, seluruh biaya pendidikan saya telah dapat saya tanggung sendiri tanpa sokongan finansial dari orangtua, sehingga biaya BOP pun saya yang menanggung sendiri dari tabungan saya.

Yang harus saya lakukan mulai sekarang adalah menerima kenyataan ini dan segera merancang rencana hidup yang disesuaikan dengan kondisi ini. Tidak mudah memang, karena rencana awalnya saya ingin lulus 4 tahun dan kemudian langsung bekerja. Perlu penyesuaian dan strategi yang baik agar hidup saya tetap produktif walaupun ‘nanggung’ masih jadi mahasiswa. Rencananya, Insya Allah di semester mendatang saya akan mengambil 4-6 sks untuk menggenapkan 140 sks yang telah saya peroleh sampai semester ini. TA rencananya tidak akan saya lanjutkan (semoga bisa, amin) dan beralih untuk berusaha lulus dengan course-based. 4-6 sks berarti adalah 2 mata kuliah, dan saya berencana mengambil mata kuliah luar Fasilkom. Saya ingin mencoba mata kuliah yang ditawarkan di fakultas lain, sekaligus refreshing. Kemungkinan juga saya akan mengambil mata kuliah pilihan lintas program studi SI, jika tersedia.

Nah, sambil kuliah ‘nanggung’ tersebut, Insya Allah saya akan mencari kerjaan yang memungkinkan saya bisa bekerja sambil kuliah tersebut. Rencananya, 2 mata kuliah tersebut saya usahakan agar berada pada 1 hari yang sama, sehingga hari-hari lain dapat saya fokuskan untuk bekerja. Saya juga berencana untuk merealisasikan mimpi-mimpi saya, seperti menjadi duta anti-rokok dan/atau duta donor darah, membuka usaha sendiri yang sudah saya rancang dengan judul Pondok Betawi Bang Sidik (restoran keluarga), dan mengaktualisasikan diri saya seluas-luasnya, selama masih ‘nanggung’ menjadi mahasiswa.

Insya Allah perpanjangan waktu 1 semester ini bukanlah kiamat bagi saya, namun justru menjadi kesempatan dan peluang bagi saya untuk menjadi lebih baik lagi, amin. Saya mengucapkan selamat bagi teman-teman saya Fasilkom angkatan 2005 yang akan lulus pada semester ini. Selamat berjuang dan semoga sukses pada kehidupan pasca-kampusnya nanti. Doakan saya ya semoga bisa tetap berjuang dan sukses bersama-sama dengan kalian!

Sidik, mahasiswa ‘nanggung’ yang berusaha untuk selalu menjadi lebih baik dari sebelumnya.

NB: Makasih banget buat Franova “Smel” Herdiyanto karena udah mau dengerin gw cerita dan ngasih masukan+encouragement.

May 25

Acara TV Kurang Ide!

Posted by Aulia


curhat

ilustrasi dok. pribadi

Lagi-lagi Televisi Pendidikan Indonesia (TPI)–juga sering dipleset dengan Tivi Pilem India–mencemari nama Pendidikan, tak urung disetiap waktu  menjadi bahan yang tidak berarti. Mulai dari acara-acara yang tidak mempunyai nilai didik (ingat tidak semua) sampai ke acara talk show yang mengundang tawa terhadapa aib orang lain (yang nonton pun suka).

Bukan niat saya untuk menunggu program acara televisi tersebut, namun entah mengapa sekilas ketika saya memindahkan channel TV melihat acara tersebut dengan sajian ‘vulgar’ alias tidak tahu diri (bukan pornografi).

Walaupun dikecam oleh anggota dewan di Senayan, tetap saja ini membuat label pendidikan telah disalah nobatkan bagi stasiun televesi tersebut dan bagaiamana tindakan olah KPI (Komisi Penyiaran Indonesia).

Wahai orang pertelevisian yang punya banyak duit, dan wahai para orang-orang ide kreatif! Tolonglah bangsa ini dari kemorosotan Moral dan jangan ubar ide hanya buat memenuhi nafsu pribadi.

Ditengah-tengah kecaman facebook oleh ulama di Jawa Timur, namun belum lihai dalam menyoroti acara di TV yang banyak sudah memakan korban moral anak bangsa.

Posted in News, Renungan, Santai Tagged: Anjasmara, Curhat, Facebook, MUI, Talk Show, Televisi Pendidikan Indonesia, Tivi Pilem India, TPI
May 17
Setelah setiap hari saya mengamati blog saya, baik dari statistik dan komentar-komentar yang masuk, saya mengamati ada beberapa fenomena menarik. Apakah fenomena menarik tersebut? Yang pertama adalah mengenai banyaknya orang yang masuk ke blog saya dari search engine dengan kata kunci “trik sulap angka”, “sulap matematika”, dan “sulap angka”. Yang menarik adalah jumlah pencarian ini melonjak [...]