10 Hari Terakhir!!!
Posted by heningsept
kereta khusus wanita… horee
Posted by heningsept
Jika Aku Menjadi
Posted by heningsept
Seorang Anak Bimbingan Yang Menjadi Berkat Untuk Saya (1)
Posted by Charles
Sebuah Berita Mengejutkan Di Pagi Hari
“Ko, kayanya nanti saya ga kaer (kebaktian remaja) dan pembinaan deh… Rumah saya kebakaran!”
SMS itu masuk ke dalam inbox handphone saya pada hari Minggu kemarin, 25 Juli 2010 Pk 03:21 dini hari. Pengirimnya? Kurniawan, seorang anak bimbingan saya di gereja.
Saya baru membaca SMS itu ketika saya bangun jam setengah 6 pagi. Hampir saja saya menjatuhkan handphone saya saat membacanya. Saya langsung mencoba menghubungi dia.
Sia-sia. Handphone-nya tidak aktif. Saya malah menjadi bertambah khawatir. “Oh Tuhan, apa yang terjadi dengannya?”
Saya sungguh bergumul saat itu. Pagi itu, saya ada janji pergi dengan teman saya. Tapi, saya tidak akan mungkin dapat meninggalkan anak bimbingan saya dalam keadaan yang belum jelas dan sangat membuat saya khawatir. (Sebenarnya saya malu mengakui bahwa awalnya saya masih ragu-ragu untuk membantu anak bimbingan saya sendiri, tapi saya ingin bercerita dengan jujur). Kebingungan saya terjawab beberapa menit kemudian di kamar mandi saya.
Saya sedang mandi ketika saya bertanya kepada Tuhan di dalam hati saya, “Tuhan? Apa yang harus saya lakukan?” Dan saya percaya, Tuhan menjawabnya ketika ada sebuah suara yang saya rasakan sangat jelas di dalam hati saya: “Datanglah ke sana…”.
“Tapi Tuhan, apa yang bisa saya lakukan di sana?” Saya tidak pernah membantu orang yang mengalami musibah kebakaran sebelumnya. Meskipun di satu sisi saya sangat ingin membantu, di sisi lain saya merasa bingung dan tidak nyaman.
Semua keraguan saya sirna ketika suara itu bergema lagi di dalam hati saya: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.”
Singkat cerita, akhirnya saya membatalkan janji dengan teman saya. Dan saya pergi, ke lokasi kebakaran itu. Saat itu, saya sama sekali tidak tahu, bahwa Tuhan akan memberi saya berkat yang melimpah di sana.
Datang Ke Lokasi Kebakaran
Rumah Kurniawan, anak bimbingan saya tersebut, ada di daerah Tambora. Di sepanjang perjalanan, saya berdoa untuk keselamatan Kurniawan.
Saya pun sampai di depan gang dekat rel kereta api Bandengan. Saya melihat beberapa mobil pemadam kebakaran berjejer, dan banyak orang berkerumun. Saya mencoba untuk masuk ke dalam gang.
Saya melihat rumah-rumah yang berdempet-dempetan sepanjang gang itu. Saya melihat banyak orang berkerumun. Setelah saya agak jauh masuk ke dalam gang, saya mulai melihat rumah-rumah yang sudah hangus terbakar.
Saya masuk ke dalam gang rumah anak bimbingan saya. Saya tidak dapat sampai ke depan rumahnya. Petugas pemadam sedang sibuk menyemprotkan air ke rumah-rumah tersebut (yang sebenarnya sudah lebih mirip kumpulan tembok-tembok saat itu).
Saya sungguh terkejut. Saya tidak mengira kebakarannya sebesar ini. Meskipun saat itu api sudah berhasil dipadamkan, tetapi para petugas masih terus menyemprotkan air. Puluhan rumah habis terbakar si jago merah.
Sementara itu, saya masih mencari Kurniawan. Ya! Kurniawan… Di mana dia? Saya pun berusaha mencari di tengah kerumunan orang. Saat itulah, saya menyaksikan pemandangan di luar dugaan saya.
Sebuah Pemandangan Di Luar Dugaan
Apa yang Anda harapkan ketika Anda melihat seseorang yang rumahnya baru saja habis terbakar? Seorang yang sedang menangis tersedu-sedu? Seorang yang marah-marah? Seorang yang depresi? Seorang yang menunjuk orang lain dan berkata: “Ini semua salah kamu!!!”
Kawan, tidak satu pun dari orang-orang di atas yang saya temukan. Seberapa hebat pun saya mencari saat itu, tidak satu orang pun yang saya temukan menangis, marah-marah, depresi, atau saling menyalahkan. Setidaknya, sejauh yang saya lihat saat itu, saya tidak menemukannya.
Lalu, orang seperti apa yang saya temukan?
Yang saya temukan adalah orang yang sedang membeli banyak roti untuk tetangga-tetangganya, yang juga mengalami musibah.
Yang saya temukan adalah orang-orang yang saling membantu satu sama lain. Yang satu mengambil air. Yang lain menenteng ember. Yang lain lagi sedang menyiramkan isi ember itu ke sisa-sisa api.
Yang saya temukan adalah dua orang yang berpapasan. Yang seorang bertanya, “Hai… Gimana rumahmu?”. Dengan senyum terukir di wajahnya, yang lain menjawab, “Rumah habis semua. Tapi untung anak-anak selamat semua. Kamu bagaimana?”. Tersenyum juga, dia menjawab, “Sama. Tak ada yang tersisa, tapi keluarga aman.”
Hei, apakah tidak salah!? Mereka baru saja kehilangan rumah mereka, dan mereka dapat tersenyum begitu lepasnya. Mereka bahkan masih saling memperhatikan satu sama lain. Jika saya ada di posisi mereka, dapatkah saya melakukan hal yang sama? Suatu hal yang masih saya ragukan.
Saya yang awalnya berniat membantu, hanya bisa terdiam menyaksikan semua hal yang luar biasa tersebut. Saya merasakan aura positif di tengah kekacauan akibat kebakaran. Saya melihat begitu banyak orang yang luar biasa. Tidak terkecuali anak bimbingan saya.
Respon yang Luar Biasa
Saya masih terdiam ketika dia menepuk bahu saya.
“Hai koko!” sapaan yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Sapaan anak bimbingan saya. Kurniawan menghampiri saya.
“Hai Kur… Koko cari kamu dari tadi. Gimana rumah kamu?”
Tidak ada kesedihan yang terlihat di wajahnya. Hanya senyuman yang biasa dia tunjukkan. Dia menjawab, “Wah… Abis semua ko. Rumah saya uda jadi kaya lapangan bola…”
“Hah? Abis semua Kur?” saya terkejut.
“Iya. Baju aja tinggal yang saya pake sekarang. Cuma sempet ngeluarin motor dan sedikit baju dede saya.”
Oh Tuhan… Apa yang Engkau ingin nyatakan pada Kurniawan? Saya teringat, baru saja sehari sebelumnya kaki Kurniawan tertusuk paku. Dan hari itu, seharusnya dia mengikuti pertandingan basket. Pertandingan final. Baru juga sehari sebelumnya, dia membeli sepatu untuk dia pakai di pertandingan itu. Tapi sepatu itu lenyap dalam beberapa jam, tanpa sempat dipakai olehnya. Baru pula sehari sebelumnya, dia membantu kokonya bekerja seharian. Siapa yang menyangka, sekarang peralatan kerja kokonya pun sudah habis terbakar, di saat sebenarnya pekerjaan itu masih harus dilanjutkan hari itu.
Saya percaya, Tuhan ada rencana yang indah pada Kurniawan. Tapi, saat itu, segalanya terlihat begitu gelap. Ibarat orang yang sudah jatuh, tertimpa tangga, dan tertiban balok pula.
Tapi, respon Kurniawan menghadapi semua ujian ini sungguh baik. Tidak. Lebih dari baik, ini luar biasa! Kurniawan meresponi semua musibah ini dengan begitu positif. Dia meresponi dengan keyakinan Tuhan masih menyertainya sampai detik ini, meskipun dia sedang mengalami musibah yang hebat.
“Mama dan yang lain gimana Kur?” saya bertanya lagi.
“Puji Tuhan semua selamat ko. Saya barusan disuruh jaga motor sih, tapi sudah saya kunci. Koko mau lihat rumah saya?”
“Ga pa pa Kur motornya ditinggal?”
“Ga pa pa ko, aman… Uda saya kunci.” kata Kurniawan. Senyumnya masih terus terukir. Dan saya pun diantar ke gang rumahnya. Saya tidak dapat melihat dengan jelas saat itu, karena saya hanya melihat dari jauh. Petugas pemadam masih sibuk bekerja. Akhirnya, Kurniawan membawa saya bertemu mama dan adiknya.
Seperti orang-orang yang lain, mama Kurniawan pun tidak menunjukkan tanda-tanda kesedihan. Hei, saya tahu mereka semua sedang sedih. Tapi, mereka memilih untuk tidak memfokuskan diri mereka pada kesedihan mereka, melainkan pada hal-hal yang dapat mereka selamatkan, keluarga mereka. Dan itulah yang luar biasa.
Mama Kurniawan bercerita, “Kur tadi hebat loh, dia ingetin saya buat lepasin gas. Biar ga meledak katanya. Oh iya ya… Saya saja tidak ingat. Lalu saya lepasin gas. Abis itu langsung mati lampu. Dan ga berapa lama api udah nyamber. Tapi tabung gas itu selamat.”
“Ah, tapi sama aja ko… Yang lain ga lepasin gasnya, jadi meledak juga dari rumah yang lain ko… Hehehe.” kata Kurniawan sambil tertawa, membuat orang-orang di sekitarnya juga tertawa kecil.
“Tadi ribut-ribut saya kira ada tawuran… Jadi saya diemin aja. Terus saya kaget Kurniawan bilang kebakaran. Jadi saya baru bangun, untung semuanya bisa bangun dan selamat akhirnya…” mama Kurniawan cerita lagi.
“Hmm, ada korban jiwa ga ya di kebakaran ini?” saya bertanya lagi, penasaran.
“Tadi hampir ada ko… Kakek-kakek yang uda agak tuli. Digedor-gedor tetep ga bangun. Akhirnya pintunya didobrak, dan dia baru bisa dibangunin. Wah, kalo ga, uda jadi daging panggang ko…” kata Kurniawan.
Wow! Di tengah kepanikan, mereka masih ingat pada seorang kakek-kakek tua yang hampir tuli, yang hidup sendirian di dalam rumahnya yang terkunci. Mereka bahkan mendobrak pintu untuk menyelamatkan sang kakek. Mereka tidak berpikir keselamatan diri mereka sendiri saja, tapi juga keselamatan orang di sekitar mereka.
Api boleh membakar barang-barang mereka. Tapi mereka tetap bergembira karena mereka berhasil menyelamatkan setiap nyawa. Api tidak dapat membakar cinta kasih yang ada di dalam hati mereka.
Ingin Membantu, Malah Dibantu
Mau tahu akhir kisah yang tragis namun luar biasa pagi itu? Kurniawan mengantarkan saya pulang dengan motornya. Oh, saya mau menangis di perjalanan.
Diantar pulang naik motor mungkin sebuah hal yang biasa. Diantar pulang naik motor oleh seorang anak bimbingan yang rumahnya baru saja terbakar habis. Rasanya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Saya tahu, Kurniawan akan berkata “Ah, koko lebay…” ketika membaca tulisan ini. Tidak Kur, ini tidak lebay. Sungguh itu yang koko rasakan…
Tidak sekali pun terdengar keluhan. Tidak sekali pun terlontar makian. Tidak sekali pun dia meminta bantuan. Kenyataannya, justru sayalah yang dibantu. Saya benar-benar tidak membantunya pagi itu. Dia membantu saya dengan mengantarkan saya pulang.
Saya teringat kata-kata Tuhan tadi pagi: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.” Ini benar sekali. Tuhan ingin menunjukkan kepada saya seorang anak bimbingan saya yang sungguh luar biasa.
Tentunya, karena dia memiliki Tuhan yang luar biasa juga, yang telah mengubahkan hidupnya. Dan saya sangat bersyukur untuk semua itu.
Sungguh banyak berkat yang saya dapatkan, sehingga saya harus memecah tulisan ini menjadi beberapa bagian. Siang itu, saya datang lagi menemui Kurniawan, kali ini dengan teman-teman yang lain. Tapi ini cerita yang lain lagi, dengan berkat yang berbeda lagi yang saya dapatkan.
Apa yang Saya Pelajari
Lalu, apa yang saya pelajari pagi itu? Saya belajar untuk tidak egois, dan lebih memperhatikan orang lain. Saya belajar untuk mengandalkan Tuhan dan bersyukur senantiasa. Saya belajar untuk meresponi hal-hal buruk yang terjadi dengan sikap yang positif.
Tuhan yang mengajarkan itu kepada saya. Melalui anak bimbingan saya yang luar biasa.
Terima kasih Tuhan. Terima kasih Kurniawan.
Percayalah, Tuhan menyertaimu sampai kepada akhir zaman.
Teruslah percaya kepada-Nya.
Charles Christian
P.S. Yeremia 29:11. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Bersambung…
norak norak bergembira
Posted by heningsept
Melabuhkan Sebuah Pilihan
Posted by sidicx

Nggak terasa udah lama banget saya nggak mengupdate blog saya ini. Sebenarnya banyak hal yang bisa diceritain, tapi karena satu dan lain hal akhirnya baru sempet ngeblog lagi sekarang. Yah, bisa dibilang alasan tadi hanyalah sekedar excuse saya saja karena saya sebenarnya sudah berjanji di resolusi tahun ini kalau saya akan kembali aktif menulis secara rutin. Kenyataannya, tidak. Membiasakan diri melakukan suatu hal setelah lama tidak melakukan hal tersebut ternyata cukup sulit ya
Okelah, untuk kali ini saya pengen bercerita tentang keseharian saya dengan pekerjaan yang saya jalani. Jujur, saya belum cukup yakin dengan pekerjaan saya saat ini. Saya belum yakin kalau inilah jalan hidup atau pilihan karir yang selanjutnya akan saya jalani. Dalam hati masih ada keinginan untuk mencari yang lebih baik. Dan karena itulah saya masih meng-apply pekerjaan ke tempat lain untuk posisi yang berbeda dengan yang saat ini saya jalani. Memang, pada saat pertama kali saya “tercebur” di dunia broadcasting dan entertainment ini background pendidikan saya tidak sesuai. Cukup banyak adaptasi yang perlu saya lakukan sampai saat ini. Tapi saya tidak menyesali pilihan itu, karena memang pilihan untuk menerima tawaran pekerjaan di perusahaan ini adalah keputusan saya sendiri. So, I have to take full responsibility about it.
Satu hal yang selalu saya yakini adalah, “Berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih baik bukan berarti tidak mensyukuri apa yang saat ini kita miliki”. Dan atas dasar itulah, saya tetap berusaha mencari pekerjaan yang lebih baik, dan tetap mensyukuri pekerjaan yang sekarang saya jalani. Bukan berarti pekerjaan sekarang tidak baik, bukan juga karena saya orang yang tidak pernah puas. Sungguh, tidak. Mungkin sebagian orang yang ada di sekitar saya, mungkin teman-teman saya di kantor ini akan menganggap saya tidak bersyukur diberikan pekerjaan ini oleh Allah. Saya tidak bisa menyalahkan mereka, tapi yang pasti saya punya alasan saya sendiri. Semoga mereka nantinya mengerti (kalau ternyata nantinya kami bareng-bareng lagi).
Memang saya sendiri yang menyatakan bahwa saya menghindari pekerjaan IT yang berhubungan dengan coding-mengcoding alias programming. Namun, sebenarnya saya juga tidak membayangkan akan keluar sebegitu jauh dari jalur pendidikan saya itu. Di dunia IT dan CS pun saya masih punya pilihan pekerjaan yang saya inginkan, misalnya sebagai IT Auditor, atau Business Process Analyst, atau pekerjaan lainnya yang tidak menuntut saya untuk programming. Jujur saja, saya merasa tidak cukup bisa untuk jenis pekerjaan itu, walaupun background saya Fasilkom UI. Saya hanya tidak ingin melakukan hal yang tidak optimal dan tidak menghasilkan hasil terbaik dengan effort yang optimal.
Saya tidak ingin mengeluh tentang pekerjaan saya, karena saya sudah pernah berjanji kepada diri sendiri untuk berusaha tidak mengeluhkan pekerjaan. Orang-orang pasti tidak nyaman mendengar/melihat keluhan saya, sama seperti ketidaknyamanan saya saat melihat/mendengar teman saya mengeluh tentang pekerjaannya. Saat ini saya hanya berusaha melakukan yang terbaik di sini, di pekerjaan ini. Sekalian juga mencari pengalaman sebanyak-banyaknya di “dunia luar” dari dunia yang biasanya saya tempati. Yah, hitung-hitung latihan survive di luar zona nyaman lah, hehe…
Saya selalu ingat janji Allah di Al-Quran, bahwa Apabila kita bersyukur, Allah akan menambah nikmat yang kita terima. Namun bila kita tidak bersyukur (dan justru terus mengeluh), maka justru nikmat itu akan diangkat dari kita. So, yuk mari teman-teman selalu bersyukur atas segala yang kita miliki dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. Kalau memang nantinya saya ditakdirkan bekerja di sini, saya yakin Allah punya skenario yang lebih baik dan indah bagi saya
Oh iya, saat ini saya bekerja sebagai Broadcast Development Program di PT Cipta TPI, saat ini sedang ditempatkan di Creative Center.
kincir jus jeruk bernama Forkom (via flumina~)
Posted by heningsept
Tips Agar Kita Selalu Beruntung Dalam Hidup (2)
Posted by Charles
Kejadian ini terjadi di suatu hari yang cerah 2 tahun yang lalu. Seperti biasa, tidak ada bintang jatuh… Seperti biasa juga, saya pergi ke kampus pakai sendal, yang sebenernya saya tau tuh sendal uda rada ga bener, uda hampir putus, tapi karena saya yang keras kepala tetep aja saya pake tanpa sedikit pun rasa bersalah. Saya sampai di kampus dengan aman sentosa, sehat walafiat, tidak kekurangan suatu apa pun, setidaknya sampai terjadi tragedi itu.
Tragedi apa? Jadi ceritanya saya lagi turun tangga. Terus abis saya turun, ada genangan air ga jelas ada di depan WC (siapa sih yang pipis sembarangan di depan WC?), yang saya ga liat (saking rabunnya nih mata…). Dan genangan air itu berhasil membuat saya meluncur beberapa meter ke depan seperti maen ice skating dan membuat sendal saya bener-bener putus!!! Tuh genangan cuma gagal membuat saya jatuh, karena keseimbangan tubuh saya yang udah saya latih bertaon-taon dengan bertapa di atas gunung salak… (yang ini ga bener).
Okeh… Akhirnya sendal saya putus juga. Nyesel deh saya, napa saya tadi pagi masih keras kepala make tuh sendal. Trus sekarang, gimana saya bisa balik ke kos saya dengan sendal yang putus gitu? Huhuhu… Apa saya mesti ngesot2 atau nyeker ampe kaki berdarah2 ke kos saya??
Tiba2 terlintas sebuah ide brilian di otak saya. Yup, saya minta karet gelang atau lakban (bukan enem puluh rebo) aja sama pos satpam yang ada di depan gedung… Terus kan tinggal saya tempelin ke sendal saya… Lumayan lah. Oke… brilian sekali.
Akhirnya dengan ngesot2, saya berhasil sampe ke pos satpam di depan gedung…
“Pak… Ada karet gelang ga?” saya nanya.
“Wah… karet gelang ya?”, kata pak satpam sambil nyari2… “ga ada tuh… Coba kamu cari di dapur sebelah deh…”
“Nih pos satpam kesian banget. Karet gelang aja ga punya” pikir saya dalem hati. Tapi, yah daripada ngesot ampe kos, saya mendingan ngesot ke dapur sebelah. Dengan sedikit esotan, sampelah saya ke dapur sebelah. Saya buka pintunya, eh ada Pak Komar, janitor (karyawan/cleaning service –red) di kampus tercinta, yang lagi makan siang dengan enaknya. Saya berhasil mengganggu kenikmatan makan Pak Komar dengan sebuah pertanyaan:
“Pak Komar… Ada karet gelang ga?” saya nanya pertanyaan yang sama.
“Waduh… karet gelang ya…” Pak Komar langsung menghentikan kunyahannya dan langsung sibuk nyari2… “ga ada tuh…”
Setengah pasrah, saya nanya lagi, “kalo lakban ada ga pak?”
Setelah nyari2 n berhasil tidak menemukan sepotong lakban pun, Pak Komar menjawab, “Wah ga ada juga tuh… Buat apa sih?”
“Ini pak, sendal saya…” sambil nunjuk ke kaki yang lagi nginjek sendal putus dengan wajah memelas meminta belas kasihan.
“Wooh… itu mah ntar jelek klo dilakban… Lakban kan warna coklat. Sendalnya warna item…”
Dalem hati… “Gak peduli deh jelek2, yang penting gak usah ngesot2 ampe kos. Yang penting mengamankan kaki dulu dari kerikil2 tajem”. Akhirnya saya jawab, “Gapapa kok pak…”
“Eh, coba cari di satpam deh…”
Lagi2 dalem hati… “Duh2 Pak Komar… Tadi saya juga dari satpam… Ga ada pak!” Tapi karena Pak Komar juga keluar, saya ikutan keluar n ngesot lagi ampe pos satpam ngikutin Pak Komar. “Udah pak… ga ada di pos satpam”, lagi2 dalem hati…
Sampai di pos satpam yang tadi (lagi2 dengan beberapa esotan). Pak Komar nanya… “Woi, ada sendal jepit ga? Nih ada yang sendalnya putus”, terus dengan cepatnya sebuah sendal jepit uda ada di tangan Pak Komar…
Semua ide brilian saya langsung hancur… Jeger! Iya ya, ngapain juga saya minta2 karet gelang n lakban… Napa saya ga langsung aja minjem sendal jepit. Dodol…
Untung ada Pak Komar… Makasih pak. Ga jadi ngesot ampe kos deh, semoga ga akan pernah… hehehe.
Moral: Ide brilian kita belum tentu benar-benar brilian.
![]()
Ini adalah kisah saya yang saya tulis dua tahun yang lalu (dengan sedikit modifikasi). Menurut Anda, apakah peristiwa di atas tergolong keberuntungan atau ketidak-beruntungan? Saya dapat menganggap peristiwa di atas sebagai keberuntungan, karena peristiwa itu akhirnya menjadi sebuah pengalaman yang menarik dan lucu yang dapat saya ceritakan ke orang lain, termasuk kepada Anda saat ini. Jika sendal saya tidak putus saat itu, tidak ada kisah yang telah menghibur beberapa orang ini (emangnya menghibur ya? hehe).
OK, ini adalah satu contoh melihat sisi positif dari sebuah peristiwa. Peristiwa buruk di masa lalu, bisa saja menjadi peristiwa lucu yang menarik diceritakan sekarang. Jadi, peristiwa buruk di masa sekarang, bisa saja menjadi peristiwa lucu yang menarik di masa depan.
Saya pribadi percaya, setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup saya, entah itu baik atau buruk, pasti memiliki manfaat dalam membentuk diri kita menjadi seperti hari ini. Tuhan sudah merancangkannya untuk kebaikan kita. Jadi, apa pun yang terjadi pada diri kita saat ini, ada tujuan baik di balik semuanya itu. Mungkin kita tidak mengetahuinya sekarang. Kita akan mengetahuinya pada waktu-Nya. Saat itu, kita akan bersyukur bahwa kita sungguh beruntung memiliki Tuhan yang begitu baik dan penuh kejutan. Hei, mengapa harus menunggu saat itu untuk bersyukur? Saat itu pasti akan tiba. Bersyukurlah dari sekarang.
Tips Agar Kita Selalu Beruntung Dalam Hidup (1)
Posted by Charles
Apa yang Anda pikirkan ketika Anda membaca judul tulisan ini? Saya menebak, ada dari Anda yang mungkin berpikir seperti ini: “Ah, mana mungkin kita selalu beruntung dalam hidup. Realistis aja, hidup ada di atas ada di bawah, ada naik ada turun, ada untung ada rugi… Ga mungkin lah hidup selalu beruntung.” Melalui tulisan ini, saya ingin membukakan, bahwa kita dapat selalu beruntung dalam hidup ini, jika saja kita tahu caranya. Tidak percaya? Mau tahu caranya? Lanjutkan baca tulisan ini sampai selesai…
Suatu sore, ketika saya sedang membaca komik Paman Gober (atau komik Donal Bebek), saya menemukan sebuah kisah berikut. Diceritakan, Paman Gober sedang bekerja di dalam gudang uangnya. Tiba-tiba, Paman Gober mendengar ada keributan di luar gudang uangnya, yang begitu mengganggunya. Ketika dia melihat keluar jendela, ternyata keributan itu berasal dari kedua keponakannya, si Donal dan si Untung, yang sedang berkelahi di halaman depan gudang uang. Paman Gober yang merasa terganggu lalu meminta James, pelayannya, untuk membawakan kentang untung menimpuk keponakannya tersebut (mungkin sayang kalau ditimpuk pakai karung emas, jadi ditimpuknya pakai kentang.
). James lalu membawakan sebuah kentang yang akhirnya dilemparkan Paman Gober ke luar jendela, dan mengenai salah satu dari keponakannya tersebut. Coba Anda tebak, siapa yang terkena lemparan Paman Gober ini sampai membuat kepalanya benjol? Apakah si Untung? Atau si Donal?
Kalau Anda sering membaca komik Donal Bebek, tentunya Anda tahu kalau si Untung adalah bebek yang selalu beruntung, dan si Donal adalah bebek yang selalu sial. Mungkin, dengan pengetahuan itu, Anda akan menjawab si Donal yang akan tertimpuk kentang sampai benjol…
Ternyata, bukan si Donal yang kena timpuk, tapi si Untung! Untung Angsa, yang terkenal sebagai bebek yang selalu beruntung, terkena timpuk kentang sampai benjol. Apa yang kita katakan? Apakah Untung mengalami kesialan? Jika ceritanya berhenti sampai di sini, mungkin ya… Tetapi, cerita ini ada kelanjutannya.
Si Donal spontan tertawa puas melihat sepupunya yang selalu beruntung akhirnya mengalami kesialan juga. Si Untung tidak percaya kalau dia bisa tidak beruntung. Lantas, dia mengecek kentang yang membuat kepalanya benjol tersebut. Ternyata, di dalam kentang tersebut terselip sekeping emas yang sangat langka dan berharga.
Nah, sekarang, apakah si Untung sial atau beruntung dengan tertimpuk kentang tersebut? Mungkin sekarang kita akan berubah pikiran dengan mengatakan si Untung beruntung. Saya pun berpikir demikian. Tapi, saat itu, saya mencoba berpikir lebih dalam lagi. Kenapa saya menganggap si Untung beruntung? Bukankah dia tertimpuk kentang sampai benjol? Saya mencoba merumuskan, dan saya mendapat kesimpulan bahwa saya menganggap si Untung beruntung karena sisi positif yang dia dapatkan lebih besar dari sisi negatif yang dia terima. Mendapat sekeping emas yang sangat langka dan berharga itu lebih berharga dibandingkan kerugian akibat ditimpuk kentang. Jadi, rumusnya adalah:
Seseorang disebut “BERUNTUNG” jika lebih banyak “SISI POSITIF” yang dia terima dari sebuah peristiwa, dibandingkan dengan kerugian yang dia harus tanggung akibat “SISI NEGATIF” dari peristiwa tersebut.
Nah, berarti yang menentukan apakah kita BERUNTUNG atau tidak, bukanlah peristiwanya… Tapi, bagaimana cara kita memandang peristiwa tersebut. Masalahnya adalah bagaimana kita dapat melihat “SISI POSITIF” dari sebuah peristiwa yang lebih besar dibandingkan kerugian dari “SISI NEGATIF” yang diakibatkan peristiwa tersebut.
Penting bagi kita untuk menyadari hal ini. Kalau kita menganggap peristiwa yang terjadi pada kita yang menentukan keberuntungan kita, maka hidup kita bisa beruntung dan bisa kurang beruntung, tergantung peristiwa yang terjadi pada kita. Kita tidak punya kontrol apa pun atas keberuntungan kita, karena kita tidak bisa mengontrol peristiwa yang terjadi kepada kita. Tapi, kalau kita menganggap keberuntungan dengan definisi yang saya berikan di atas, maka kita bisa terus menerus beruntung, kalau kita bisa melihat sisi positif dari setiap peristiwa yang kita alami.
Kabar baiknya, setiap peristiwa yang kita alami pasti mempunyai sisi positif. Jadi, sebenarnya, kita bisa mengontrol keberuntungan kita dengan sengaja, dengan selalu melihat sisi positif dari sebuah peristiwa. Jika kita selalu melihat sisi positif dari sebuah peristiwa, takkan ada peristiwa yang merupakan kesialan bagi kita. Dengan kata lain, kita akan selalu beruntung. Masuk akal?
Berarti, sekarang masalahnya adalah bagaimana cara kita melihat sisi positif dari peristiwa yang kita alami. Saya tidak akan memaparkan teori apa-apa. Saya hanya akan membagikan cara-cara praktis yang saya lakukan untuk melihat sisi positif dari sebuah peristiwa (yang mungkin bagi sebagian besar adalah peristiwa buruk). Peristiwa yang akan saya bagikan adalah peristiwa yang nyata terjadi dalam kehidupan saya sehari-hari. Saya akan membagikan sharing saya tersebut dalam tulisan mendatang. So, ditunggu ya tulisan saya minggu depan…
Selamat menjalani hidup yang penuh dengan sisi positif.
Bersambung… ke Tips Agar Kita Selalu Beruntung Dalam Hidup (2)
Perjalanan Sang Blogger
Posted by Aulia

Foto : KOMPAS.COM/Yudistira Bayu A
TANGGAL bisa saja terus berganti, namun seorang pribadi jarang bisa terganti. Itulah kata yang mungkin cocok bagi pribadi saya kini menjalani hidup lebih dari dua dasarwarsa.
Ada sepenggal kalimat yang saya torehkan pada lembaran status mukabuku dengan sebuah tag sederhana yakni, semangathidup23. Kalimat tersebut berbunyi, “SUNGGUH waktu telah berjalan dalam setiap hitungan detik yg berlalu, banyak sejarah yang ikut bersamanya. Walaupun bkn beban yg berat, tapi sebuah tanggung jawab yg melekat pada diri ini untuk bisa memberikan yg tebaik. Perjuangan tdk akan usai begitu saja, banyaknya kerikil yang kadang membuat jatuh ditengah jalan, itulah celah yg harus jd pijakan utama untuk terus berusaha yg tdk lepas dari do’a.”
Jika anda melihat gambar di atas, tentu anda akan memikir sebuah kata atau kalimat yang mungkin akan sangat sederhana walaupun banyak orang akan menafsirkan secara berbeda-beda. Seorang yang berjalan di atas rel kereta api, lihatlah kedepannya rel yang tidak begitu lurus, namun ada saja belokan kecil dan kadang antara satu rel yang lain menyatu dalam satu rel lainnya.
Itulah makna yang saya tangkap dari gambar tersebut, mungkin ibarat kata juga saya memaknai bahwa hidup yang telah saya lalui lebih dari dua puluh tahun ini kadang tidak selalu mulus, kerikil-kerikil tajam dalam setiap rel waktu itu selalu ada. Saya dan juga anda semua mungkin tidak akan mengelak dari itu, tapi yang diperlukan adalah cara kita memaknai dari setiap yang kita lewati sebagai pengalaman hidup yang berharga.
Kadang saya sering merasa menjadi orang yang terpuruk dalam sebuah perjalanan ini, terlebih waktu sekarang dalam menghadapi masa-masa menjadi seorang mahasiswa. Namun, ada satu kata disaat-saat rasa itu kian menyelimuti hati ini, “Allah akan menunjukki kita/hamba-Nya jalan sesuai dengan kehendak-Nya”. Kata-kata seperti ini terasa kadang harus merenung dari apa yang sudah kita perbuat dan selebihnya berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Menjadi Blogger
Mempunyai ilmu dengan banyak, tanpa bisa membagikan dengan orang lain, sungguh ini sesuatu yang kadang juga sirna begitu saja. Walaupun tidak mempunyai kemampuan yang lebih dalam akademik, saya mencoba untuk ‘menerjukan’ diri dalam ranah blogging.
Sejak 21 Februari 2007, akhirnya saya menjerumukan diri dalam dunia ini (baca: blog). Memang hanya berniat semata untuk mencoba, terlebih dari itu ingin membagikan sesuatu yang kiranya berguna bagi orang lain dan mencoba berinteraksi dengan sesama walaupun itu hanya lewat dunia maya.
Tiga tahun bersama blog yang sering saya sebut dengan OWL (Orekan Waktu Luang) membuat saya kadang berpikir lebih, ada hal-hal yang baru yang kadang jarang saya jumpa di dunia nyata. Mencoba dalam menulis, memposisikan diri sebagai orang lain dalam memahami tulisan saya, terus saya coba. Kadang ide-ide aneh yang mungkin jarang terpikirkan, akhirnya bisa beredar menjadi wacana nyata.
Aceh Blogger salah satunya, dimana saya menemukan orang-orang lain dalam sebuah aktifitas yang sama, sehingga melahirkan komunitas tersendiri. Awal sebelum itu, dalam rangka menyatukan anak-anak Aceh di Universitas Indonesia, saya berinisiatif membuat blog SAMAN UI, dan alhasil kini cukup mendapat respon dalam menyebarkan informasi khususnya pendidikan.
Mungkin itulah segelintir kisah, perjalanan hidup saya dan ngeblog selama 3 tahun yang sudah berlalu (insyaAllah akan lanjut terus). Masih banyak hal yang ingin saya lakukan, terutama untuk mewujudkan tanggung jawab kelak nanti, membahagiakan orang tua, memberikan yang terbaik untuk orang disekitar yang saya sayangin dan kasihi. Karena mereka telah banyak membantu dalam hidup saya ini, saya yakin bahwa hidup dalam kesendiri an tanpa ‘mereka’ yang tidak bisa disebut satu persatu adalah nihil adanya seperti sekarang ini.
Untuk mengingat hari jadi semangathidup23, saya juga mulai menoreh langkah baru untuk terus belajar dalam menulis, yakni dengan bergabung di Media Warga (Citizen Media) Kompasiana. Sungguh sebuah keberuntungan tulisan Menilisik Silsilah Raja-Raja Islam di Aceh menjadi headlines disana.
Di akhir tulisan ini, saya ucapkan banyak-banyak terima kasih kepada ibu/bapak/kakak/adik serta teman-teman yang sudah memberikan sesuatu yang berkesan, baik itu pesan, jempol dan juga ucapan di Facebook, semoga atas do’anya membuat saya lebih menjadi bagian hidup dalam sebuah lingkungan dan keluarga ini, dimana saya belajar banyak dari lingkungan yang sekarang ini saya berada. Semoga Yang Kuasa membalas yang terbaik pula atas do’a-do’a anda semua. Amiin[]
Filed under: Blogger, Blogging, Ekstrakurikuler, ICT, Internet, Kampus, Kesan, Renungan, Santai Tagged: Blog, Doa, Hidup, Keluarga, Kuliah, Menulis, Perjalanan
Kesenangan Tanpa Kesusahan Adalah Kosong
Posted by Charles
Ada sebuah cerita tentang seorang penjahat yang meninggal dunia. Ketika dia mau mati, dia sudah merasa pasti akan masuk neraka. Nah ketika dia mati, tiba-tiba dia dibangunkan. Dia melihat sesuatu yang tidak diharapkannya. "Wah kok suasananya bagus. Indah menarik dan menyenangkan sekali ya," katanya dalam hati. Dia melihat semua serba bahagia.
"Aduh rasanya saya keliru terkirim ke surga," katanya lirih. Tiba-tiba seorang bidadari mendatanginya. "Ayo-ayo bangun. Kamu ingin apa ? Di sini kamu apa saja diberi." Awalnya dia ragu. Tapi memberanikan juga untuk meminta, "Saya tidak mau kerja." "Ok," kata bidadari. Ting! Maka dia tidak usah kerja. Semuanya tercukupi.
Setelah keinginannya terwujud, dia mulai berani, "Saya boleh minta lagi ?" "Boleh," kata bidadari, "Kamu minta apa ?" "Saya minta uang yang banyak." Ting! Maka keluar uang yang banyak. Dia beli apa saja bisa. Dia ingin beli mobil baru, bisa. Beli apa saja, bisa.
Lalu dia datang lagi ke bidadari. "Bidadari, saya minta rumah yang bagus," pintanya. Ting! Dia dapat rumah yang sangat mewah, indah dan semuanya ada. "Wah apapun dikasih katanya. Ini betul-betul surga," teriaknya senang. Kemudian dia kembali ke bidadari. "Saya bisa tidak minta wanita- wanita yang cantik ?" Ting! Maka ada 10 wanita yang cantik yang siap melayani dia terus.
Dia senang sekali. Uang ada. Punya rumah. Dikelilingi wanita-wanita cantik. Dan dia tidak usah kerja. Makan apapun bisa sekenyang-kenyangnya. Dan semua itu berlalu dengan cepat. Sebulan, 2 bulan, 3 bulan dia mulai bosan. Jenuh. Dia tidak mau segala keenakan ini. Rasanya bikin ‘eneg’. Mual.
Maka dia menghadap bidadari. "Bidadari, saya mau kerja," katanya. Bidadari itu heran, "Tidak bisa, tidak bisa. Di sini tidak perlu kerja. Tidak ada kerjaan. Kamu tidak usah kerja. Kamu nikmati saja segala kenikmatan ini." Dia bingung. Kembali ke kegiatan sebelumnya dan dia coba menikmati lagi surganya. Makan lebih banyak lagi, sampai gendut. Tapi dia tetap jenuh karena tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan. Dia kembali lagi bidadari. "Aku minta kerja," katanya. Dan biadadari tegas berkata, "Tidak bisa. Di sini tidak ada kerja."
Akhirnya dia tidak tahan. Penjahat ini mengaku, "Bidadari yang baik, saya sebanarnya adalah penjahat. Saya tidak layak masuk surga ini. Saya seharusnya masuk neraka. Kalau di neraka, saya bisa kerja. Bahkan kerja keras. Saya bisa merasakan sakit dan sengsara. Saya tidak mau segala ini. Ternyata kenikmatan ini tidak enak," teriaknya marah.
Tiba-tiba wajah bidadari yang cantik dan menyenangkan dilihat ini, tiba-tiba berubah menyeramkan. Wajahnya berubah menjadi setan. Dia berkata keras, "Sebenarnya ini adalah neraka."
Cerita ini disadur dari salah satu episode seri TV kuno ‘Twilight Zone’.
Saya tidak mengatakan supaya anda semua menjadi penjahat supaya tidak masuk surga. Manusia baru ingat dan menghargai segala kenikmatan yang dia rasakan, ketika kesedihan dan kesengsaraan juga dirasakannya. Kehidupan adalah sebuah keseimbangan antara kenikmatan dan penderitaan, inilah yang memperkaya kazanah kehidupan kita. Selamat menghargai kesengsaraan anda, karena di sanalah akan anda temui kenikmatan yang lebih.
Sumber cerita: Business Wisdom Pak Tanadi Santoso
Itu adalah cerita yang saya dengarkan di radio hari Senin lalu. Cerita yang membuat saya berpikir. Ya, memang benar… Kesusahan perlu kita lalui agar kita bisa menghargai kebahagiaan. Suatu kebahagiaan tidak lagi jadi kebahagiaan untuk kita jika kita tidak merasakan kesusahan. Saya akan berikan contoh yang sederhana. Bayangkan Anda baru saja berjalan selama satu jam di bawah terik matahari siang hari, yang membuat Anda sangat berdahaga. Lalu, ketika sampai di tujuan, Anda ditawarkan sebotol Aqua dingin. Tentu karena Anda sedang sangat haus dan kepanasan, sebotol Aqua dingin tersebut menjadi sebuah kesenangan bagi Anda. Tapi, apa yang terjadi jika Anda sedang tidak haus dan diberikan sebotol Aqua dingin tersebut? Rasa nikmatnya tentu sangat berbeda bukan? Rasa nikmat yang Anda dapat dari sebotol Aqua dingin tergantung dari seberapa haus Anda saat Anda meminumnya. Semakin Anda merasa haus, atau mengalami penderitaan (kehausan), semakin banyak nikmat yang akan Anda rasakan dari sebotol Aqua dingin.
Contoh lainnya saya dapatkan dari pengalaman saya kemarin. Saat saya bangun pagi, saya merasakan kamar saya sangatlah dingin, dan saya menjadi kedinginan. Rasa dingin dari AC menjadi tidak enak untuk saya saat itu. Hal itu berbeda ketika saya sudah keluar dari kamar, mengerjakan banyak hal yang membuat keringat saya bercucuran. Ketika saya kembali masuk ke dalam kamar, rasa dingin AC menjadi suatu hal yang sangat enak untuk saya.
Suatu hal yang Anda anggap enak, takkan menjadi enak, kecuali Anda pernah merasakan apa yang Anda anggap tidak enak. Jadi, bersyukurlah atas penderitaan yang kita alami, karena penderitaan yang kita alami akan membuat pemulihan yang kita dapatkan nantinya menjadi semakin berharga untuk kita. Kebahagiaan yang kita rasakan bukanlah masalah seberapa tinggi hal yang kita capai, tapi seberapa jauhnya hal terendah dalam hidup kita dengan hal tertinggi dalam hidup kita. Jarak itulah yang menjadikan segalanya berharga.
Sisi Positif dari Penderitaan
Posted by Charles
Penderitaan. Di saat banyak orang yang mengaitkan kata ini dengan sejumlah hal-hal negatif seperti “bencana”, “kemiskinan”, “kesakitan”, dan lain sebagainya, saya tertantang untuk berpikir, sebenarnya ada tidak ya hal positif dari penderitaan?
Banyak orang yang mengatakan bahwa dirinya menderita. Menderita karena sakit penyakit, menderita karena ditinggal orang yang dikasihi, menderita karena ditolak saat nembak, menderita karena ditipu orang, menderita karena ketiban bencana alam, menderita karena perbuatannya yang tidak baik ketahuan orang lain, menderita karena diejek orang lain, menderita karena kemiskinan, dan lain sebagainya. Sekilas, mendengar semuanya itu, yang terlintas di pikiran kita, penderitaan adalah sesuatu yang sangat jelek, dan tidak ada positif-positifnya. Ternyata tidak juga kawan… Ada hal yang sangat positif yang bisa diambil dari penderitaan. Namun sayangnya, tidak banyak orang yang melihat sisi positif ini.
Jadi, apa sisi positif dari penderitaan? Sisi positifnya adalah ketika kita bisa memanfaatkan penderitaan yang kita alami untuk memotivasi kita untuk melakukan hal-hal yang positif dalam kehidupan kita. Ketika kita menderita, badan atau hati kita akan terluka, dan hal itu akan menciptakan suatu emosi yang dapat mendorong kita untuk membuat kita keluar dari penderitaan tersebut. Namun tentunya kita harus dapat memanfaatkan emosi tersebut dengan baik, dan bukannya malah menjadi depresi.
Seorang Tung Desem Waringin contohnya. Beliau saat ini telah menjadi pelatih sukses nomor satu di Indonesia, menjadi orang yang sukses. Apabila beliau ditanya, “Apa resep sukses Anda?”, beliau akan menjawab bahwa salah satu resep suksesnya adalah karena dia mempunyai alasan yang sangat kuat (untuk menjadi sukses). Ternyata, alasan yang sangat kuat yang dimaksud oleh beliau itu didapatkan saat ayah beliau sakit, dan ternyata gaji sebulan beliau saat itu sebagai seorang kepala cabang BCA, tidak cukup untuk membiayai perawatan ayahnya selama satu hari. Akhirnya, sang ayah dipindah ke ruang kelas tiga (dari ruang kelas satu). Di sana, sang ayah berkata kepada beliau, “Tung… Kamu sudah tidak punya uang lagi ya? Papa sudah mau mati kok masih dipindah ke ruangan ini?” Di sanalah, seorang Tung Desem Waringin seperti tersambar petir, menyadari bahwa dia tidak mampu memberikan perawatan terbaik untuk ayahnya saat itu, dan dia berjanji untuk menjadi lebih sukses lagi. Kalau-kalau saja Tuhan masih memberikan kesempatan kepadanya untuk berbuat lebih banyak lagi untuk orang tuanya.
Ketika kita dihadapkan pada penderitaan, kita bisa memilih apakah kita menjadi “tertekan” oleh penderitaan kita dan menjadi depresi… Atau kita menjadi “tertantang” untuk berbuat lebih banyak lagi supaya kita tidak menderita lagi di masa yang akan datang. Penderitaan bisa dijadikan sebuah pengungkit untuk memotivasi kita menjadi lebih baik lagi. Dan tentunya, jika kita bisa bertahan melalui penderitaan itu, kita akan menjadi pribadi yang lebih kuat.
Bagaimana Prinsip 90/10 Mempengaruhi Hidup Anda
Posted by Charles
Prinsip 90/10 adalah sebuah prinsip yang dapat mengubah hidup Anda, atau setidaknya, mengubah cara Anda bereaksi dalam suatu situasi yang buruk.
Berikut adalah bunyi dari prinsip 90/10 ini:
10% hidup Anda ditentukan oleh apa yang terjadi pada hidup Anda. 90% sisanya ditentukan oleh bagaimana reaksimu terhadap kejadian tersebut…
Apa artinya? Artinya, kita tidak mempunyai kontrol terhadap yang 10% tersebut, yaitu terhadap apa yang terjadi pada diri kita.
Tapi, berbeda dengan 90% sisanya. Andalah yang menentukan 90% tersebut. Bagaimana? Dengan reaksi Anda.
Anda tidak dapat mengontrol musibah yang mungkin terjadi dalam hidup Anda. Namun, Anda dapat mengontrol reaksi Anda terhadap musibah tersebut. Seringkali, justru reaksi Andalah yang menentukan apakah akan ada musibah-musibah berikutnya atau tidak.
Mari kita lihat sebuah contoh.
Andaikan Anda sedang sarapan dengan keluarga Anda. Tiba-tiba, putri Anda menumpahkan kopi ke kemeja kerja Anda.
Anda tidak mempunyai kontrol terhadap musibah yang baru saja terjadi ini. Namun, apa yang terjadi berikutnya akan ditentukan dari bagaimana Anda bereaksi.
Lalu Anda mulai mengomel. Anda memarahi putri Anda dengan keras karena menyenggol cangkir kopi itu. Putri Anda lalu mulai menangis.
Setelah memarahi putri Anda, Anda mulai beralih ke istri Anda, dan menyalahkan dia karena terlalu pinggir dalam menaruh cangkir kopi itu di atas meja. Perang mulut singkat pun terjadi.
Dengan terus mengomel, Anda pergi ke kamar dan mengganti kemeja Anda. Ketika Anda kembali, Anda mendapati putri Anda terlalu sibuk menangis sampai-sampai dia tidak menyelesaikan sarapannya dan terlambat menyiapkan diri untuk ke sekolah. Akhirnya, dia ketinggalan bis yang biasa mengantarnya ke sekolah.
Istri Anda harus segera pergi kerja. Akhirnya, terpaksa Anda yang mengantarkan putri Anda ke sekolah. Karena Anda sudah terlambat, Anda mengebut mobil Anda dan menerobos lampu merah.
Setelah 10 menit berurusan dengan polisi dan mendapatkan surat tilang, Anda sampai di sekolah. Putri Anda langsung berlari pergi tanpa mengucapkan apa pun.
Ketika Anda telah sampai di kantor setelah terlambat 1 jam, Anda baru sadar Anda meninggalkan tas kerja Anda.
Hari Anda berawal dengan buruk, dan semakin lama, menjadi semakin buruk dan terus semakin buruk. Sampai akhirnya waktunya Anda pulang ke rumah.
Ketika Anda sampai di rumah, Anda merasakan suasana yang berbeda dari biasanya. Suasana menjadi lebih dingin, dan hubungan Anda dengan putri dan istri Anda menjadi kurang baik.
Kenapa ini semua terjadi? Itu akibat reaksi Anda pagi tadi.
Kenapa hari Anda menjadi buruk?
A) Apakah secangkir kopi yang menyebabkannya?
B) Apakah putri Anda yang menyebabkannya?
C) Apakah polisi yang menilang Anda yang menyebabkannya?
D) Apakah Anda yang menyebabkannya?
Jadwabannya adalah “D”
Anda tidak mempunyai kontrol terhadap apa yang terjadi terhadap kopi yang tumpah di kemeja Anda. Putri Anda yang menyebabkan hal itu. Namun, reaksi Anda 5 detik berikutnyalah yang menyebabkan hari buruk Anda.
Seandainya saja saat itu Anda melakukan reaksi yang berbeda.
Kopi tumpah di kemeja Anda. Putri Anda baru saja akan menangis. Dengan lembut dan sebuah senyuman Anda berkata, “Tenang Nak, tidak apa-apa… Ini hal yang biasa terjadi. Kamu hanya perlu lebih berhati-hati ya lain kali…”
Lalu Anda mengambil handuk, pergi ke kamar Anda, dan mengganti kemeja Anda. Anda mengambil tas kerja Anda, dan kembali ke ruang makan. Ketika Anda kembali, Anda melihat dari jendela, putri Anda sedang naik ke dalam bis. Dia melambaikan tangannya kepada Anda. Anda sampai di kantor 5 menit lebih awal, dan dengan gembira Anda menyapa staf-staf Anda.
Lihat perbedaannya?
Dua skenario berbeda.
Keduanya diawali dengan kejadian yang sama.
Keduanya mempunyai akhir yang berbeda.
Kenapa? Karena reaksi Anda. Anda benar-benar tidak mempunyai kontrol terhadap 10% dari apa yang terjadi pada hidup Anda, namun 90% sisanya ditentukan dari bagaimana Anda bereaksi.
Sekarang, Anda sudah tahu prinsip 90/10. Aplikasikan prinsip ini dan Anda akan terkejut dengan hasilnya. Silakan buktikan sendiri.
Pelajaran dari Seorang Supir Bajaj
Posted by Charles
Terinspirasi dari pengalaman saya naik bajaj. Saat itu, bajaj yang saya tumpangi tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Sang supir keluar dari bajaj. Saya merasa agak jengkel karena saya sedang buru-buru, dan saya merasa sang supir seenaknya saja menghentikan bajajnya. Tak lama kemudian, dia datang membawa cairan yang dia masukkan ke dalam mesinnya. Dia berkata, “Cairan ini sudah saatnya diganti, kalau ga bisa jadi mogok, atau bahkan kecelakaan…”
Saya baru sadar… Saya adalah penumpang. Supir lebih mengerti akan bajaj tersebut daripada penumpang. Ketika saya mulai berasa tahu (baca: sok tahu), di sanalah saya mulai salah paham. Tidak semua hal yang terlihat buruk itu benar-benar buruk. Beberapa di antaranya justru terjadi untuk kebaikan kita, tapi mungkin kita belum tahu saja…
Hidup pun begitu… Ketika mengalami hal buruk, kita seolah “merasa tahu” bahwa Tuhan merencanakan hal yang buruk untuk kita. Kita menjadi salah paham. Kenapa? Hanya karena kita tidak tahu saat itu bahwa Tuhan akan menggunakan kejadian buruk itu untuk kebaikan kita.
Duduklah yang manis sebagai penumpang, dan percayalah pada supir yang membawamu pergi, yang lebih mengetahui kendaraannya, yang telah membawanya setiap hari, daripada penumpang, yang baru sekali menumpanginya…
Pelajaran Berharga
Posted by Charles
Saya belajar, apa yang saya anggap terbaik, belum tentu yang terbaik dari-Nya. Dan sebaliknya, yang terbaik dari-Nya belum tentu kita senangi. Teruslah bersyukur kepada-Nya atas semua nikmat dan karunia-Nya. Manusia hanya dapat terus berdoa dan berusaha untuk mendapat yang terbaik dari-Nya
Saya belajar, seberat apa pun cobaan yang diberikan oleh-Nya, pada akhirnya akan membuat
kita menjadi manusia yang lebih bertanggung jawab dan berguna. Syukurilah seluruh anugerah-Nya dengan hati ikhlas dan tulus. Everything happens, happens for a reason.
Saya belajar, bahwa kedewasaan itu lebih berkaitan dengan berapa banyak pengalaman yang kita miliki dan apa yang kita pelajari dari pengalaman tersebut, dan kurang berkaitan dengan telah berapa tahun usia kita.
Saya belajar, walaupun kita berpikir tidak ada lagi yang dapat kita berikan dan lakukan, ketika seorang teman kesusahan dan membutuhkan kita, kita akan selalu menemukan kekuatan dan jalan untuk terus menolong.
Saya belajar, jangan membandingkan diri sendiri dan kesusahan kita dengan orang lain.
Saya belajar, bahwa latar belakang & lingkungan mempengaruhi pribadi saya, tapi kita tetap bertanggung jawab & menentukan masa depan kita sendiri.
Saya belajar, bahwa saya harus bertanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan, tidak peduli bagaimana perasaan saya.
Saya belajar, bahwa saya punya hak untuk marah, tetapi itu bukan berarti saya dapat berlaku sesuka hati saya tanpa memikirkan orang lain.
Saya belajar, bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi atau sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya…
Saya belajar, bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki, tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya….
Saya belajar, jangan menilai orang dari penampilannya saja. Itu bisa menipu. Bicara dan kenalilah orang tersebut lebih mendalam. Setiap orang memiliki kelebihan dan kebaikannya masing-masing,meskipun tidak ada orang yang sempurna di dunia.
Saya belajar, di saat susah, lebih terlihat mana teman sejati dan bukan.
Saya belajar, bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda yang sama, tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda….
Saya belajar, bahwa saya tidak dapat mengubah orang yang saya sayangi, tapi semua itu tergantung dari diri mereka sendiri….
Saya belajar, bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya beberapa saat saja untuk menghancurkannya…
Saya belajar, bahwa tidak masalah berapa buruknya patah hati itu, dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya…
Saya belajar, hanya karena dua orang berbeda pendapat dan tidak terlihat mesra, bukan berarti mereka tidak saling menyayangi, mencintai, dan setia. Dan hanya karena mereka selalu sependapat dan terlihat mesra, bukan berarti mereka selalu saling menyayangi, mencintai, dan saling setia.
Saya belajar, bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh walau dipisahkan oleh jarak yang jauh. Beberapa di antaranya melahirkan cinta sejati…
Saya belajar, bahwa jika seseorang tidak menunjukkan perhatian seperti yang saya inginkan, bukan berarti bahwa dia tidak menyayangi saya….
Saya belajar, bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain menyayangi saya. Saya hanya dapat menunjukkan dan melakukan sesuatu untuk orang yang saya sayangi… Selanjutnya terserah mereka.
Sumber: unknown
Dua Cara Untuk Menjadi yang Terbaik
Posted by Charles
Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk menjadi yang terbaik. Cara pertama adalah dengan menjatuhkan semua orang yang lebih baik dari kita, sehingga pada akhirnya kita menjadi yang terbaik. Cara kedua adalah dengan meningkatkan kualitas diri kita, sehingga kita bisa naik tingkat dan melebihi orang-orang yang lebih baik dari kita, dan pada akhirnya menjadi yang terbaik juga. Cara mana yang Anda pilih?
Ada sebagian orang yang tidak suka ketika melihat orang sukses, orang yang lebih baik dari diri mereka. Mereka merasa iri kepada orang-orang sukses tersebut. Mereka akan menjelekkan orang-orang sukses tersebut dan banyak membuat alasan untuk membenarkan diri mereka. Ada dua respon dari orang-orang dengan tipe ini. Respon pertama adalah mereka tidak akan pernah mau menjadi orang sukses (karena mereka tidak mau dipandang jelek… Ingat, mereka mengidentikkan sukses dengan sesuatu yang jelek). Respon kedua adalah mereka akan memilih cara pertama untuk mencapai sukses. Mereka akan berusaha untuk menjatuhkan sebanyak mungkin orang dan mendapatkan kepuasan dari kegagalan orang lain.
Sementara itu, ada pula sebagian orang lain yang menjadi terinspirasi ketika melihat orang sukses. Mereka akan belajar dari orang-orang sukses tersebut. Mereka termotivasi untuk terus mengembangkan diri mereka agar mereka dapat menjadi yang terbaik. Mereka adalah orang-orang yang memilih cara kedua untuk mencapai sukses.
Termasuk kelompok orang yang manakah Anda?
Saya pribadi sangat menganjurkan Anda memilih cara kedua untuk menjadi sukses, dan cara inilah yang saya pilih. Saya memilih untuk terus meningkatkan kualitas diri saya, sehingga saya dapat terus menjadi semakin baik, dan pada akhirnya menjadi yang terbaik.
Anjuran saya ini bukannya tanpa alasan. Apabila Anda memilih untuk menjatuhkan orang lain yang ada di atas Anda, berapa banyak orang-orang yang harus Anda jatuhkan? Selain itu, Anda pun tidak akan menjadi lebih baik. Yang ada adalah Anda membuat orang lain menjadi lebih buruk. Karena Anda tidak menjadi lebih baik, meskipun Anda sudah menjatuhkan semua orang yang ada di atas Anda, Anda akan dapat dilewati kembali dengan mudah oleh orang-orang yang memilih cara kedua, yang terus mengembangkan dirinya menjadi lebih baik. Selain itu, tentulah menjatuhkan orang lain adalah sebuah perbuatan yang tercela.
Bedakan jika Anda memilih cara kedua dan terus meningkatkan diri Anda. Anda belajar dari yang terbaik. Anda juga membantu orang-orang yang ada di bawah Anda untuk terus naik. Karena Anda terus meningkatkan diri Anda melebihi yang lain, Anda akan menjadi yang terbaik pada akhirnya. Ketika Anda sudah sampai pada posisi puncak, posisi Anda akan jauh lebih sulit digeser dibandingkan Anda menjadi puncak dengan cara pertama. Selain itu, tindakan Anda yang turut memajukan orang lain adalah sebuah perbuatan yang terpuji.
So, daripada menjadi tertekan dan iri hati, terinspirasilah oleh orang-orang yang lebih sukses dari Anda. Belajarlah dari mereka dan terus tingkatkan kualitas diri Anda. Jadilah yang terbaik dengan cara yang terpuji.
P.S. Untuk menjadi yang terbaik di bidang Anda, sangat penting bagi Anda untuk melakukan hal yang Anda sukai. Kenapa? Karena jika Anda tidak menyukai yang Anda lakukan, motivasi Anda untuk melakukan hal itu akan selalu kalah dibandingkan motivasi orang-orang yang menyukai hal-hal yang mereka lakukan. Akhirnya, hasil yang diberikan oleh orang-orang yang menyukai pekerjaan mereka akan lebih baik dibandingkan hasil yang diberikan oleh orang-orang yang tidak menyukai pekerjaan mereka. Jadi, tentukanlah terlebih dahulu bidang yang Anda sukai, dan jadilah yang terbaik pada bidang tersebut.
Pelajaran dari Paku
Posted by Charles
Pernah ada anak lelaki dengan watak buruk. Ayahnya memberi dia sekantung penuh paku, dan menyuruh memaku satu batang paku di pagar pekarangan setiap kali dia kehilangan kesabarannya atau berselisih paham dengan orang lain. Hari pertama dia memaku 37 batang di pagar. Pada minggu-minggu berikutnya dia belajar untuk menahan diri, dan jumlah paku yang dipakainya berkurang dari hari ke hari.
Dia mendapatkan bahwa lebih gampang menahan diri daripada memaku di pagar. Akhirnya tiba hari ketika dia tidak perlu lagi memaku sebatang paku pun dan dengan gembira disampaikannya hal itu kepada ayahnya. Ayahnya kemudian menyuruhnya mencabut sebatang paku dari pagar setiap hari bila dia berhasil menahan diri/bersabar.
Hari-hari berlalu dan akhirnya tiba harinya dia bisa menyampaikan kepada ayahnya bahwa semua paku sudah tercabut dari pagar. Sang ayah membawa anaknya ke pagar dan berkata: "Anakku, kamu sudah berlaku baik, tetapi coba lihat betapa banyak lubang yang ada di pagar." Pagar ini tidak akan kembali seperti semula. Kalau kamu berselisih paham atau bertengkar dengan orang lain, hal itu selalu meninggalkan luka seperti pada pagar. Kau bisa menusukkan pisau di punggung orang dan mencabutnya kembali, tetapi akan meninggalkan luka.Tak peduli berapa kali kau meminta maaf/menyesal, lukanya tinggal. Luka melalui ucapan sama perihnya seperti luka fisik.
Sahabat adalah perhiasan yang langka. Mereka membuatmu tertawa dan memberimu semangat. Mereka bersedia mendengarkan jika itu kau perlukan, mereka menunjang dan membuka hatimu. Tunjukkanlah kepada teman-temanmu betapa kau menyukai mereka. "Keindahan persahabatan
adalah bahwa kamu tahu kepada siapa kamu dapat mempercayakan rahasia."
Sisihkanlah beberapa menit untuk membaca ini. Ada beberapa pesan yang baik untuk jiwa kita.
- Berilah kepada orang lebih dari yang mereka harapkan, dan lakukan secara bijaksana. Yakinlah pada dirimu ketika berkata: "Aku mencintaimu."
- Jika kau berkata: "Aku menyesal," tataplah mata lawan bicaramu.
- Jangan permainkan harapan orang lain.
- Jangan adili orang lain, tetapi adili dirimu secara kritis.
- Bicaralah pelan, tetapi cepat dalam berpikir.
- Jika kau ditanya sesuatu yang tak ingin kau jawab, senyumlah, dan tanya: "Mengapa kamu mau tahu?".
- Ingatlah bahwa kasih yang paling indah dan sukses yang terbesar mengandung banyak risiko. Jika kau kalah, jangan lupakan pelajaran dibalik kekalahan itu.
- Hargai dirimu. Hargai orang lain. Bertanggung jawablah atas tindakanmu.
- Jangan biarkan selisih paham merusak indahnya persahabatan.
- Tersenyumlah ketika menjawab telepon, orang yang meneleponmu akan mendengarnya dari suaramu.
Termotivasi Karena Fokus pada Tujuan
Posted by Charles
Di tengah kelelahan dan kaki yang sudah pegal-pegal, saya berjalan menyusuri jalan Bandengan menuju rumah saya di daerah Pluit. Sebelumnya, saya sudah menyusuri jalan Angke dan berputar-putar di Sawah Lio. Bagi beberapa orang berjalan beberapa kilometer sudah menjadi hal biasa. Sebenarnya saya juga cukup biasa jalan kaki, tetapi jarak yang saya tempuh saat ini lebih jauh dari yang biasa saya jalani.
Jam saya menunjukkan pukul sepuluh malam. Ingin rasanya saat itu saya memanggil bajaj dan pulang dengan bajaj, namun sayangnya sudah tidak ada lagi bajaj yang lewat. Daripada saya berdiam diri dan menunggu bajaj lewat, saya memutuskan untuk berjalan kaki. Selangkah kaki saya dapat mendekatkan diri saya pada tujuan saya, yaitu rumah saya.
Tidak terasa, saya sudah sampai pada perempatan Jembatan Tiga. Kaki saya sudah sangat pegal, tetapi langkah konstan yang saya lakukan membuatnya terus bertahan. Ternyata hukum Newton benar juga, benda yang bergerak akan cenderung untuk terus bergerak. Kaki saya yang sudah bergerak cenderung untuk terus bergerak. Awalnya memang sulit, tetapi ketika sudah mencapai tengah, langkah kaki semakin enteng.
Langkah kaki yang enteng tidak mengurangi rasa pegal pada kaki saya. Rasanya, ingin sekali saya beristirahat. Ingin sekali saya naik kendaraan umum. Namun, motivasi saya kian menguat ketika saya melihat dari kejauhan sebuah jembatan penyeberangan yang tidak jauh dari rumah saya. Ya, saya sudah melihat jembatan penyeberangan itu, dan setiap langkah yang saya lakukan akan mendekatkan diri saya pada jembatan itu. Itu artinya, sebentar lagi saya sampai! Semangat saya kembali berkobar, sampai akhirnya saya mencapai jembatan penyeberangan tersebut.
Dari jembatan penyeberangan tersebut, saya melihat di kejauhan, kompleks rumah saya. Ya, sedikit lagi saya akan sampai di kompleks rumah. Saya pun semakin semangat, melihat kompleks rumah saya yang semakin lama semakin besar, menandakan jarak saya yang semakin dekat dengannya.
Akhirnya saya mencapai gerbang kompleks rumah saya. Dan di kejauhan, saya melihat rumah saya. Inilah tujuan akhir saya. Akhirnya sebentar lagi saya sampai di rumah. Dan benar saja, saya akhirnya sampai di rumah. Sungguh betapa leganya saya ketika saya sampai di rumah. Tidak saya sangka, saya dapat mengatasi rasa pegal yang saya alami, dan dapat berjalan kaki dari Bandengan sampai ke rumah saya di Jembatan Tiga, setelah perjalanan panjang yang saya lalui sebelumnya dengan berjalan kaki juga.
Saya berpikir, terkadang hidup ini pun seperti itu. Kadang kita kehilangan semangat kita menjalani hidup ini. Namun, yang mungkin tidak kita sadari, ketika kita melihat diri kita semakin dekat dengan tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang kita, kita memiliki semangat ekstra. Kita memiliki motivasi lebih untuk mencapai tujuan kita. Itulah pentingnya kita memiliki tujuan dalam hidup ini. Tujuan yang dapat diukur, dan kita harus senantiasa mengevaluasinya. Ketika kita menyadari, bahwa langkah-langkah hidup kita membawa kita semakin dekat dengan tujuan, masalah-masalah yang kita alami dalam melangkah di dalam hidup ini menjadi tidak berarti lagi. Yang ada hanyalah semangat untuk mencapai tujuan hidup yang telah kita tetapkan.
Rangkuman:
Hal itu dapat menjadi motivasi dan semangat bagi kita, ketika kita melihat diri kita semakin dekat dengan tujuan.
Ulang Tahun Setiap Hari untuk Bayi Berumur 99 Hari
Posted by Charles
Kisah perjuangan hidup bayi Eliot Mooney yang terkena trisomi 18 begitu mengharukan. Eliot hanya mampu bertahan 99 hari karena sejak dalam kandungan ibunya, Eliot sudah terdeteksi penyakit kelainan genetik.
Kedua orangtuanya Matt dan Ginny Mooney yang berasal dari Arkansas AS, bertekad akan membuat hari-hari si kecil Eliot penuh arti hingga ajal menjemputnya pada Oktober 2006. Di hari pemakamannya Matt dan Ginny melepas 99 balon warna-warni di atas kuburan Eliot sebagai bentuk penghormatannya.
Matt dan Ginny merekam hari demi hari kondisi Eliot tanpa rasa sedih tapi penuh kegembiraan. Mereka berjanji tidak akan sedih selama mendampingi Eliot dan menganggap Eliot anugerah paling indah dan tidak pernah menyesali kelahirannya. Mereka bahkan merayakan ulang-tahun Eliot setiap hari, menyadari bahwa setiap hari bersama Eliot adalah anugerah.
Mungkin banyak orang tua yang tidak tahu mengenai penyakit trisomi 18. Penyakit ini menyebabkan bayi yang baru lahir tidak bisa bertahan hidup lebih dari beberapa hari dan hanya menunggu vonis mati.
Penyakit trisomi 18 biasa disebut dengan Edwards syndrome, yaitu kondisi kelainan pada kromoson 18 yang menyebabkan kemampuan intelektual anak berkurang dan ketidaknormalan beberapa bagian tubuh.
Perjalanan hidup Eliot dapat dilihat di blog http://mattandginny.blogspot.com dan videonya bisa dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=th6Njr-qkq0.
Terakhir, saya akan membagikan kata-kata orang tua Eliot di hari pemakamannya yang selalu menjadi inspirasi buat saya. Saya menebalkan kata-kata yang menjadi favorit saya. Semoga kata-kata tersebut juga dapat menginspirasi Anda.
Ginny and I, and many of our friends and family, gathered Monday to celebrate Eliot’s life. It was perfect. Following a song entitled, “Everything’s Alright”, I struggled through the following:
____________________________________________________________“‘Everything’s Alright’…not your ordinary funeral song, and ‘Don’t wear black’ are not your ordinary funeral instructions. But Eliot was no ordinary boy. His life was extraordinary.
A dad speaking at his son’s funeral is probably a little strange as well. But Eliot’s is a story I must tell. Ginny and I have things to say, and I’m going to try to say them today. We also have a saying as of late which is “go ahead & cry. We do”
But, if at all possible, hold it in for the next couple of minutes, or I’ll probably lose it with you. I have a tag team partner on board so I can tap out at any moment. With that said, I apologize for reading. My communications teacher would be disappointed. But I am just gonna try to make it through.I want to thank you all for being here today. Ginny & I wish we could personally sat down with each one of you and express how much your actions have made our burden lighter.
Thanks for making a call when it had to be awkward for you do so. Thanks for letters & birthday cards for Eliot. Thanks for feeding us, when food was the last thing on our mind. Thanks for surprise one month birthday parties & blog posts & law school softball tournaments for Eliot. Thank you- family- for your love and support. Thank you Josh, Becky, Heather & Paul for walking through this with us.Thank you all for joining us today to celebrate the life of a special boy who impacted so many.
We view today as a celebration. We celebrate the greatest gift the Lord has ever given us. In Eliot, we enjoyed so much. We loved so much. We learned so much.
Although, Ginny and I had seats near the front of the class, you all joined in on the lessons & the classroom kept expanding to include people we had never even met. We all sat in awe as God, Himself, took a sick little boy and pulled back the veil to reveal lessons about Himself.
An underdeveloped lung. A heart with a hole in it. And DNA that placed faulty information into each and every cell of Eliot’s body – could not stop the living God from screaming of Himself through a child who never uttered a word. To an outsider it may seem nothing short of foolish to credit all this teaching to Eliot, but
I Corinthians says that…”the message of the cross is foolishness to those who are perishing, but to us who are being saved it is the power of God.”
It goes on to say that God’s wisdom is unlike ours and his tools are not what we would imagine. His tools are not the ones we would craft.
Not a pulpit. Not a slick presentation. Not a bestselling book. But a 6lb. boy with Trisomy 18. God found great pleasure to take a lowly thing in the eyes of the world and show Truth.
Every aspect of Eliot’s life was a paradox. Because I hate it when people use words that I do not understand- let me define.
A paradox is defined as
“a seemingly absurd or contradictory proposition that upon investigation proves to be true”Truly, all of Christianity is a paradox. G.K. Chesterton writes that, “Christianity is a superhuman paradox whereby two opposite passions may blaze beside each other”.
Our God teaches us that:
To become greatest I must become least.
That as a believer, I have total freedom & yet strive not to sin.
And ultimately, that I find life – in none other than the death of man named Jesus.
Through Eliot we experienced the paradox of joy and pain ablaze side by side.Truly, the Lord did not ask us to take a path which He had not already traveled on our behalf. Although we did not willingly give up Eliot , his life & death have given new meaning to the sacrifice the Father made when He gave His only Son unto death, that we could have life.
And so today, we celebrate. Eliot is well. And, although we miss him more than we can express, we are only separated from him by our time left on earth. We anxiously wait to join Him in worshiping the Lord.
So today we propose a new standard.
How do you measure a life? By years? By esteem? By productivity?Eliot Hartman Mooney
99 days, 98 birthday parties (& today makes 99)
18 nurses
17, 557 visits to his website
0 minutes unattendedAlthough these statistics are fun. They all fall woefully short of a metric whereby to judge Eliot’s life. We propose that Eliot’s life be measured by impact.
Thus, truly his was a full life.
We encourage you today to not forget Eliot. To not forget whatever his sweet life taught you. Please go & do that which has been stirred in you through his life. And we look forward to hearing of the ripples he has made in eternity.
Finally, when you arrived you were handed a flower. We believe that Eliot’s life is best understood when pictured much like the flower you hold.
A flower is picked to be enjoyed. Sweet to smell & viewed by all.
When your flower was picked, a process began whereby the flower’s life will end. But this is not the way we view a flower. We just enjoy it. We take it in.
Thank you, Eliot. You were the joy of mine & your mom’s life.”Sumber: http://mattandginny.blogspot.com/2006/11/celebration-of-life.html
Sumber: http://health.detik.com/read/2009/08/31/132619/1193105/764/vonis-mati-bayi-trisomi-18, dengan beberapa tambahan oleh Charles Christian.
Perjalanan Hidup dan Mati
Posted by Aulia

Ilustrasi oleh by applemintred I batman
TAK ada yang menduga bahwa akhir dari perjalanan kita nanti sebuah kematian. Sesuatu yang sering melintas disemua pikiran anak manusia yang telah dewasa dan tahu hidupnya.
Secarik kertas mungkin bisa digoresi tinta, namun melalui sebuah postingan ku mencoba melukiskannya itu, walaupun tidak semua bisa terucap sampai ke jari-jari ini.
Saat-saat dunia makin lemah
Ku melihat berbagai karma menghujamnya
Sang Pemimpin dengan segala titahnya
Si miskin dengan upaya menahan perutnya
Berseru dan menyeru untuk sebuah kuasa dan daya
Terkadang melihat mereka senyum lepas
Malah jiwa ini terasa terkekang dengan semua pikiran
Malam yang sepi menjadi sebuah ilusi
Tidak bisa hilang begitu saja
Sungguh beda dan memang tidak akan terasa habis
Semua akan terselesai dengan upaya
Hanya berusaha dan tawakal kepada-Nya
Setiap helaan nafas untuk mendapat keberkahan
Mengharap ini bisa hadir dalam satu saat nanti
Membuktikan bahwa semua ini bisa berlaku
Hidup dan mati berpulang pada-Nya
Tercipta untuk membahagian mereka semua
Orang-orang yang penuh jasa dan kasih sayangnya
Mereka yang telah membawa sejuta asa dan harapan
Ini adalah sebuah perjalanan
Yang nanti akan berhenti disaat semua telah terselesaikan
Memohon doa dan ampunan
Untuk semua orang yang telah mendoakan ku
Semoga mereka selalu dalam keadaan sehat
Tidak lepas dari kekuatan iman
Semoga kita nanti menjadi satu bagian
Bagian dimana indahnya hidup
Dalam sebuah duka dan ridha Allah
Posted in Fiksi & ~Fiksi, History, Kampus, Renungan Tagged: Hidup, Mati, Usaha


