Apr 7

Ada sebuah cerita tentang seorang penjahat yang meninggal dunia. Ketika dia mau mati, dia sudah merasa pasti akan masuk neraka. Nah ketika dia mati, tiba-tiba dia dibangunkan. Dia melihat sesuatu yang tidak diharapkannya. "Wah kok suasananya bagus. Indah menarik dan menyenangkan sekali ya," katanya dalam hati. Dia melihat semua serba bahagia.

"Aduh rasanya saya keliru terkirim ke surga," katanya lirih. Tiba-tiba seorang bidadari mendatanginya. "Ayo-ayo bangun. Kamu ingin apa ? Di sini kamu apa saja diberi." Awalnya dia ragu. Tapi memberanikan juga untuk meminta, "Saya tidak mau kerja." "Ok," kata bidadari. Ting! Maka dia tidak usah kerja. Semuanya tercukupi.

Setelah keinginannya terwujud, dia mulai berani, "Saya boleh minta lagi ?" "Boleh," kata bidadari, "Kamu minta apa ?" "Saya minta uang yang banyak." Ting! Maka keluar uang yang banyak. Dia beli apa saja bisa. Dia ingin beli mobil baru, bisa. Beli apa saja, bisa.

Lalu dia datang lagi ke bidadari. "Bidadari, saya minta rumah yang bagus," pintanya. Ting! Dia dapat rumah yang sangat mewah, indah dan semuanya ada. "Wah apapun dikasih katanya. Ini betul-betul surga," teriaknya senang. Kemudian dia kembali ke bidadari. "Saya bisa tidak minta wanita- wanita yang cantik ?" Ting! Maka ada 10 wanita yang cantik yang siap melayani dia terus.

Dia senang sekali. Uang ada. Punya rumah. Dikelilingi wanita-wanita cantik. Dan dia tidak usah kerja. Makan apapun bisa sekenyang-kenyangnya. Dan semua itu berlalu dengan cepat. Sebulan, 2 bulan, 3 bulan dia mulai bosan. Jenuh. Dia tidak mau segala keenakan ini. Rasanya bikin ‘eneg’. Mual.

Maka dia menghadap bidadari. "Bidadari, saya mau kerja," katanya. Bidadari itu heran, "Tidak bisa, tidak bisa. Di sini tidak perlu kerja. Tidak ada kerjaan. Kamu tidak usah kerja. Kamu nikmati saja segala kenikmatan ini." Dia bingung. Kembali ke kegiatan sebelumnya dan dia coba menikmati lagi surganya. Makan lebih banyak lagi, sampai gendut. Tapi dia tetap jenuh karena tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan. Dia kembali lagi bidadari. "Aku minta kerja," katanya. Dan biadadari tegas berkata, "Tidak bisa. Di sini tidak ada kerja."

Akhirnya dia tidak tahan. Penjahat ini mengaku, "Bidadari yang baik, saya sebanarnya adalah penjahat. Saya tidak layak masuk surga ini. Saya seharusnya masuk neraka. Kalau di neraka, saya bisa kerja. Bahkan kerja keras. Saya bisa merasakan sakit dan sengsara. Saya tidak mau segala ini. Ternyata kenikmatan ini tidak enak," teriaknya marah.

Tiba-tiba wajah bidadari yang cantik dan menyenangkan dilihat ini, tiba-tiba berubah menyeramkan. Wajahnya berubah menjadi setan. Dia berkata keras, "Sebenarnya ini adalah neraka."

Cerita ini disadur dari salah satu episode seri TV kuno ‘Twilight Zone’.

Saya tidak mengatakan supaya anda semua menjadi penjahat supaya tidak masuk surga. Manusia baru ingat dan menghargai segala kenikmatan yang dia rasakan, ketika kesedihan dan kesengsaraan juga dirasakannya. Kehidupan adalah sebuah keseimbangan antara kenikmatan dan penderitaan, inilah yang memperkaya kazanah kehidupan kita. Selamat menghargai kesengsaraan anda, karena di sanalah akan anda temui kenikmatan yang lebih.

Sumber cerita: Business Wisdom Pak Tanadi Santoso

Itu adalah cerita yang saya dengarkan di radio hari Senin lalu. Cerita yang membuat saya berpikir. Ya, memang benar… Kesusahan perlu kita lalui agar kita bisa menghargai kebahagiaan. Suatu kebahagiaan tidak lagi jadi kebahagiaan untuk kita jika kita tidak merasakan kesusahan. Saya akan berikan contoh yang sederhana. Bayangkan Anda baru saja berjalan selama satu jam di bawah terik matahari siang hari, yang membuat Anda sangat berdahaga. Lalu, ketika sampai di tujuan, Anda ditawarkan sebotol Aqua dingin. Tentu karena Anda sedang sangat haus dan kepanasan, sebotol Aqua dingin tersebut menjadi sebuah kesenangan bagi Anda. Tapi, apa yang terjadi jika Anda sedang tidak haus dan diberikan sebotol Aqua dingin tersebut? Rasa nikmatnya tentu sangat berbeda bukan? Rasa nikmat yang Anda dapat dari sebotol Aqua dingin tergantung dari seberapa haus Anda saat Anda meminumnya. Semakin Anda merasa haus, atau mengalami penderitaan (kehausan), semakin banyak nikmat yang akan Anda rasakan dari sebotol Aqua dingin.

Contoh lainnya saya dapatkan dari pengalaman saya kemarin. Saat saya bangun pagi, saya merasakan kamar saya sangatlah dingin, dan saya menjadi kedinginan. Rasa dingin dari AC menjadi tidak enak untuk saya saat itu. Hal itu berbeda ketika saya sudah keluar dari kamar, mengerjakan banyak hal yang membuat keringat saya bercucuran. Ketika saya kembali masuk ke dalam kamar, rasa dingin AC menjadi suatu hal yang sangat enak untuk saya.

Suatu hal yang Anda anggap enak, takkan menjadi enak, kecuali Anda pernah merasakan apa yang Anda anggap tidak enak. Jadi, bersyukurlah atas penderitaan yang kita alami, karena penderitaan yang kita alami akan membuat pemulihan yang kita dapatkan nantinya menjadi semakin berharga untuk kita. Kebahagiaan yang kita rasakan bukanlah masalah seberapa tinggi hal yang kita capai, tapi seberapa jauhnya hal terendah dalam hidup kita dengan hal tertinggi dalam hidup kita. Jarak itulah yang menjadikan segalanya berharga. :D


Mar 10

Ada satu quote yang membuat saya berpikir. Quote itu adalah quote Arvan Pradiansyah yang saya dapatkan dari sebuah siaran radio. Quote itu berbunyi “If you want to be happy, be happy now!”

Awalnya saya berpikir quote itu hanyalah sebuah tagline yang digunakan oleh Arvan Pradiansyah, seolah-olah setiap motivator harus memiliki tagline-nya sendiri-sendiri. Seperti Mario Teguh yang “super”, Tung Desem Waringin yang “dahsyat”, atau quote “see you at the top” yang digunakan Bong Chandra. Demikian pula seorang Arvan Pradiansyah menggunakan tagline “If you want to be happy, be happy now!” dalam programnya: “Smart Happiness”.

Saya tidak tahu mengapa Arvan Pradiansyah memilih menggunakan quote tersebut. Tetapi, saya melihat ada kebenaran dari quote tersebut. “If you want to be happy, be happy now!” Ya… Jika kamu ingin menjadi senang, menjadi senanglah sekarang! Atau, dengan kata lain, kesenangan adalah suatu pilihan yang dapat kita pilih setiap saat. Kitalah yang menentukan apakah kita akan menjadi senang atau tidak, bukan lingkungan kita.

Banyak orang yang menggantungkan kesenangannya pada apa yang terjadi pada dirinya. Jika saya mendapatkan untung banyak, saya akan menjadi senang. Ketika suatu saat dia rugi, dia tidak bisa senang lagi.

Suatu hari, saya dan beberapa teman saya ingin menonton sebuah film di bioskop. Seorang teman saya yang membelikan tiket untuk kami. Ternyata, karena banyaknya penonton yang ingin menonton film itu, tinggal tersisa dua baris kursi terdepan. Bagi yang pernah menonton bioskop pasti tahu bahwa baris-baris terdepan adalah baris-baris yang paling tidak enak untuk menonton film. Namun, apa boleh buat, teman saya pun membeli tiket untuk kursi-kursi yang ada di baris kedua dari depan tersebut.

Selanjutnya, ketika teman saya yang membeli tiket ini memberitahu teman-teman yang lain bahwa kami harus duduk di baris depan, berbagai respon pun muncul. Ada yang menyalahkan dia kenapa dia tetap membeli tiket, ada yang mengumpat, ada yang marah-marah, dan ada yang diam saja. Intinya, sebagian besar dari mereka merespon negatif terhadap berita ini. Mereka sudah yakin mereka tidak akan senang menonton film itu. Kenapa? Karena mereka membiarkan lingkungan mereka yang mengontrol kesenangan mereka. Mereka sudah menetapkan bahwa mereka akan senang kalau filmnya bagus dan mereka dapat menonton dengan enak dari baris belakang.

Lalu, bagaimana seharusnya meresponi kabar buruk tersebut? Menurut saya, akan sangat baik kalau kita menetapkan “apa pun yang terjadi pada saya, saya akan selalu mencari hal positif dari peristiwa itu, dan hal itu akan membuat saya senang”. Saya yakin, di setiap peristiwa buruk pasti ada hal positif yang bisa diambil. Contohnya, pada kasus di atas, bisa saja hal positifnya adalah pengalaman duduk di bagian depan bioskop yang mungkin suatu saat nanti bisa diceritakan ke teman-teman kita.

Jadi, kesenangan itu adalah sebuah pilihan, dan kita dapat memilih secara sadar apakah kita akan senang atau tidak senang. Saya memilih untuk senang, dan mengambil hal positif dari segala hal yang terjadi dalam hidup saya. Bagaimana dengan Anda? :D


Jan 9
A