Kalau Anda Berpikir Anda Bisa, Anda Bisa. Kalau Anda Berpikir Anda Tidak Bisa, Anda Tidak Bisa
Posted by Charles
Judul di atas adalah sebuah quote yang cukup populer. Mungkin awalnya ada dari Anda yang tidak menyetujui quote tersebut. Masakan kita bisa atau tidak bisa berdasarkan apa yang kita pikirkan. Tidak dong, itu tergantung kemampuan kita, anugerah Tuhan, dan lain-lain (yang sebenarnya itu semua benar juga).
Saya pun awalnya berpikir seperti itu. Wah, betapa enaknya kalau quote ini benar. Saya tinggal berpikir, “Saya juara kelas”, maka saya akan menjadi juara kelas. Ketika saya berpikir, “Saya bisa jadi miliarder”, maka saya akan menjadi miliarder.
Kesalahan orang biasanya (termasuk saya dahulu) adalah menganggap semua proses itu akan didapatkan secara instan. Ketika saya berpikir “saya juara kelas”, saya mengharapkan saya bisa jadi juara kelas secara instan. Saya bisa tetap bermalas-malasan, tidak pernah belajar, tidak pernah mendengarkan guru… dan saya mengharapkan saya menjadi juara kelas karena saya percaya quote di atas. Saya mau katakan, ini sama sekali bukan yang dimaksud oleh quote tersebut. Quote tersebut bukanlah berbicara sesuatu yang supernatural dan instan. Ketika Anda berpikir Anda bisa, bukan berarti secara instan Anda pasti akan langsung bisa tanpa berusaha.
Namun demikian, saya percaya pada quote di atas. Saya akhirnya menemukan sebuah penjelasan yang masuk akal yang menjelaskan mengapa quote di atas bisa menjadi benar.
Yang dimaksud oleh quote di atas sebenarnya adalah mengenai fokus pikiran kita. Ketika kita memfokuskan diri kalau kita bisa, itu akan mempengaruhi kita. Seperti apa pengaruhnya? Pengaruhnya akan terlihat ketika kita mencari dan ketika kita gagal.
Pengaruh Pertama: Ketika Kita Mencari
Pengalaman ini saya dapatkan ketika saya mencari parkir di sebuah gedung parkir. Saya berpikir saya pasti akan mendapatkan tempat kosong dalam gedung parkir itu. Saya pasti akan mendapatkan parkir! Karena saya berpikir saya pasti mendapatkan parkir, itu membuat saya mengemudikan mobil lebih lambat, dan saya mencari ke sekeliling apakah ada tempat kosong. Karena saya fokus kepada tempat kosong, saya akan dapat melihat dengan mudah jika terdapat tempat kosong. Ini sama halnya ketika Anda fokus kepada warna merah, Anda akan melihat banyak warna merah di sekeliling Anda. Itu bukan karena warna merahnya yang bertambah banyak, tetapi karena Anda memfokuskan diri Anda pada warna merah. Akhirnya, tidak heran jika saya mendapatkan tempat kosong untuk parkir.
Pasti akan berbeda halnya jika saya berpikir sebaliknya, tidak ada tempat kosong di dalam gedung parkir tersebut. Jika saya berpikir begitu, mungkin saja dari awal saya akan enggan masuk ke dalam gedung parkir itu (yang membuat saya menyerah sebelum mencoba). Kalaupun saya masuk ke dalam gedung parkir itu, saya akan masuk dengan pesimis, mengemudikan mobil lebih cepat, kurang melihat sekeliling, dan ingin cepat-cepat keluar dari gedung parkir tersebut untuk membuktikan bahwa diri saya memang benar. Memang tidak ada tempat kosong lagi di dalam gedung parkir tersebut.
Ini akan membawa saya ke dalam sebuah dilema. Di satu sisi, saya ingin mendapatkan parkir. Di sisi lain, saya yakin tidak ada tempat kosong yang tersisa. Jika saya mendapatkan parkir, itu berarti keyakinan saya salah, dan semua orang tentu tidak senang kalau keyakinannya disalahkan. Jika saya tidak mendapatkan parkir, itu berarti saya akan bangga karena keyakinan saya benar, tetapi justru tujuan saya untuk mendapatkan parkir tidak tercapai. Mengapa saya harus menceburkan diri saya dalam dilema ini dengan bersikap pesimis?
Namun bukankah bersikap pesimis dapat mengurangi kekecewaan kita jika memang tidak ada tempat kosong lagi di dalam gedung parkir tersebut? Nah, ini dia kesalahannya. Kebanyakan orang berfokus pada mengurangi kekecewaan karena tidak mendapatkan, daripada berusaha terus untuk mendapatkan. Ini membawa saya pada pengaruh yang kedua…
Pengaruh Kedua: Ketika Kita Gagal
Jika saya berpikir pesimis, “Ah, tidak ada lagi tempat kosong di dalam gedung parkir itu…”, ketika pada akhirnya saya gagal dan tidak mendapatkan tempat parkir, saya akan semakin memperkuat keyakinan saya. “Tuh kan benar kata saya, tidak ada lagi tempat kosong…”, dan akhirnya mengurungkan niat saya untuk mencari tempat parkir lagi. Saya akan mudah menyerah. Tujuan saya tidak tercapai. Bahkan, di kesempatan berikutnya, saya akan menjadi semakin pesimis, mengingat kejadian-kejadian yang ada di masa lalu.
Namun, ketika saya berpikir “Saya pasti akan mendapatkan tempat parkir”, ketika saya mengitari gedung tersebut dan tidak mendapatkan tempat kosong, saya tidak akan mudah menyerah. Kurang lebih, yang saya katakan adalah seperti ini, “Ah masa sih, ga ada tempat kosong? Saya yakin ada kok… Mungkin tadi saya kelewatan. Saya akan coba cari lagi deh, kali ini lebih hati-hati.” Nah, akhirnya saya akan mencoba mencari lagi. Tentu kemungkinan mendapatkan tempat parkir jika kita mengitari gedung parkir dua kali akan lebih besar ketimbang hanya mengitari sekali. Tidak heran jika saya mungkin akan mendapatkan parkir ketika saya mengitari gedung parkir untuk kedua kalinya.
Jadi, “bisa” atau “tidak bisa” karena pikiran kita bukanlah sesuatu hal yang instan dan supernatural. Tapi, pikiran kita akan mempengaruhi tindakan kita. Dan, tindakan kita akan mempengaruhi hasil yang kita dapatkan.
Mari kita memfokuskan diri kita pada hal-hal yang positif, yang semakin mendekatkan diri kita pada tujuan hidup kita.
Tuhan memberkati kita semua.
Charles Christian
Ingin Disukai Orang Lain? Belajarlah Menyukai Orang Lain!
Posted by Charles
Egois sudah menjadi sifat dasar manusia. Setiap orang cenderung akan lebih memperhatikan dirinya sendiri dibandingkan orang lain. Salah satu contohnya, jika kamu melihat sebuah foto, siapakah yang akan pertama kali kamu cari? Jika kamu ada di dalam foto itu, kemungkinan besar yang kamu cari pertama kali adalah dirimu sendiri. Kenapa? Karena kamu ingin meyakinkan dirimu kalau kamu tampil baik di foto itu, atau jika kamu tampil jelek, kamu akan mencoba untuk mencegah foto itu untuk dilihat orang lain.
Jika kita menawarkan sesuatu kepada orang lain, seringkali kita hanya melihat kepentingan kita sendiri. Kita tidak memperhatikan kebutuhan orang yang kita tawarkan. Seringkali inilah yang menjadi masalah orang yang kita tawarkan menolak tawaran kita. Mereka berpikir, “Apa hubungannya denganku? Apa untungnya bagiku? Kenapa aku harus melakukan ini?”
Hal yang sama terjadi ketika kita mengobrol. Seringkali kita berbicara tentang diri kita. Kita menjadi semangat kalau kita sedang membicarakan topik yang kita sukai, atau tentang diri kita. Namun, ketika tiba saatnya untuk mendengarkan orang lain yang bercerita tentang dirinya dan hal yang dia sukai, kita menjadi kurang antusias. Padahal, itu adalah kesempatan kita untuk mengambil hati lawan bicara kita. Mereka akan senang kalau kita senang mereka berbicara tentang diri mereka.
Sekarang saya belajar, bahwa saya juga harus memperhatikan kepentingan orang lain, kebutuhan orang lain, dan jangan menjadi terlalu egois. Dengan memperhatikan kepentingan orang lain, kita bisa membuka pintu kerja sama dan komunikasi yang lebih baik lagi.
Blame Disease
Posted by Charles
“Char, belok di sini…” saya mendengar suara teman saya di sebelah saya.
“Bukan di sini… Di depan ada satu belokan lagi…” saya menjawab dengan begitu yakinnya, sambil terus menyetir mobil saya terus maju melewati belokan itu.
Tapi, benar kata teman saya, tidak ada belokan lagi di depan. Saya baru saja melewati belokan yang benar.
“Tuh kan, ga ada belokan lagi… Bener kan tadi gua bilang. Lo ga ikutin sih, nyasar dah…” teman saya geleng-geleng kepala.
Ouch. Percaya saya, tidak pernah menyenangkan mengetahui kita salah pilih jalan, apalagi karena kita yang keras kepala.
“Oke… Kalau gitu kita putar balik saja, terus belok kiri.” saran teman saya lagi.
Saya betul-betul tergoda untuk mengikuti saran-saran teman saya selanjutnya. Namun, sejujurnya, bukan karena saya mempercayainya. Tapi, karena saya tidak ingin bertanggung jawab atas kesalahan yang terjadi.
Kalau sarannya benar, itu bagus. Kalau sarannya salah, dan kita jadi nyasar, ada yang bisa disalahkan. Siapa lagi, kalau bukan teman saya yang memberi saran itu.
Itu benar-benar godaan yang besar. Godaan untuk melepas tanggung jawab, dan menyalahkan orang lain. Apa pun yang terjadi, kita aman. Kalau benar, bagus. Kalau salah, orang lain yang akan kita salahkan.
Saya rasa, ini lebih dari sekedar godaan. Ini adalah sebuah penyakit. Saya menyebutnya, “Penyakit Saling Menyalahkan”, atau “Blame Disease”.
Tanda-tanda penyakit ini sangat mudah dilihat. Tanda-tandanya adalah orang yang terjangkit penyakit “Blame Disease” akan selalu mencari kambing hitam (hal-hal yang bisa dia salahkan) ketika suatu hal yang buruk terjadi.
- Ujian dapat nilai jelek karena kebanyakan main game, yang disalahkan adalah guru yang ga bisa ngajar.
- Jadi sakit karena kurang tidur, yang disalahkan adalah bos yang memberi banyak pekerjaan.
- Jatuh ke dalam lubang karena jalan ga lihat-lihat, yang disalahkan adalah pekerja yang menggali lubang.
Menyalahkan sepertinya sangat enak. Melepas tanggung jawab sepertinya membuat kita aman.
Tapi benarkah kita benar-benar aman ketika melepas tanggung jawab?
Kembali ke cerita saya, saya berpikir lagi, siapa yang rugi kalau akhirnya kita nyasar? Apakah hanya teman saya yang rugi? Tidak… Saya juga rugi.
Bukankah kita akan lebih menyesal jika kita salah karena tidak mengikuti kata hati kita (yang ternyata benar)?
Saat itu juga, saya putuskan untuk mengikuti saran teman saya, tapi tetap bertanggung jawab atas segala risikonya (dan syukurlah ternyata sarannya tepat
).
Ketika seseorang terjangkit “Blame Disease” stadium lanjut, kita bahkan bisa menghancurkan diri kita sendiri hanya agar kita bisa menyalahkan orang lain, dan membuat orang lain merasa bersalah.
Itulah yang terjadi dengan orang yang memilih bunuh diri karena ditinggalkan pacarnya. Kenapa mereka bunuh diri? Karena mereka ingin menyalahkan mantan pacarnya yang telah meninggalkannya. Mereka ingin berkata kepada mantan pacarnya, “Lihatlah kematianku. Ini terjadi karena kamu meninggalkanku!” dan membuat mantan pacarnya merasa bersalah.
Seolah, mereka berhasil dengan membuat mantan pacarnya merasa bersalah. Mereka berhasil menyalahkan. Tapi, faktanya mereka kehilangan nyawanya. Mereka menukarkan nyawa mereka untuk kepuasan atas rasa bersalah mantan pacar mereka! Bukankah ini sangat tidak masuk akal? Tapi ironisnya, ada saja yang melakukan kebodohan ini.
Jadi, bagaimana menyembuhkan “Blame Disease” ini? Saya menyarankan dua langkah berikut.
1. Bertanggung jawablah atas apa pun yang kita lakukan dan apa pun yang terjadi dalam hidup kita.
Bertanggung jawab di sini bukan berarti kita menyalahkan diri kita sendiri. Bertanggung jawab berarti ketika kita salah, kita mengakui kesalahan kita, dan belajar dari kesalahan itu. Kita selalu melihat apa yang dapat kita ubah dari diri kita sendiri untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Fokus kita bukan lagi mencari kambing hitam, tapi mengubah diri kita menjadi lebih baik.
2. Selalu melihat sisi positif dari segala hal buruk yang terjadi, dan syukurilah.
Saya yakin, semua hal buruk yang terjadi pada diri kita pasti mempunyai sisi positif. Ketika kita bisa memfokuskan diri kita pada hal-hal positif tersebut, kita menjadi mampu mensyukuri hal buruk yang terjadi pada diri kita. Dan kita tidak akan menyalahkan siapa-siapa ketika kita mulai bersyukur. Kenapa? Sederhana saja, karena kita tidak lagi menganggap kesalahan itu sebagai sebuah kesalahan. Kita melihatnya sebagai sebuah pelajaran yang berharga. Malah, mungkin saja kita malah berterima kasih kepada orang-orang yang semula kita jadikan kambing hitam.
Tuhan menginginkan kita saling mengasihi, bukan saling menyalahkan.
Mari kita bebaskan diri kita dari “Blame Disease” ini.
Tuhan memberkati kita semua.
Charles Christian
Uang, Kekayaan, dan Spiritualitas (3): Apa Definisi “Kekayaan” Bagimu?
Posted by Charles
Pada dua tulisan sebelumnya, saya sudah menjelaskan mengenai pergumulan yang saya hadapi seputar uang, kekayaan, dan spiritualitas (khususnya iman Kristen saya). Pada tulisan ini, saya akan membagikan posisi saya saat ini. Bagaimana pandangan saya saat ini tentang uang, kekayaan, dan spiritualitas?
Mari kita kembali ke pertanyaan awal yang saya ajukan di awal tulisan pertama saya: “Apakah orang Kristen boleh kaya?” Jawaban yang saya yakini saat ini adalah: “Orang Kristen sudah seharusnya dan harus berjuang terus untuk menjadi kaya.” Tolong jangan salah paham dan menelan pernyataan saya tersebut mentah-mentah sebelum membaca penjelasan saya mengenai definisi “kaya” menurut saya…
Apa Itu Kekayaan?
Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar yang harus dijawab terlebih dahulu. Jawaban dari pertanyaan: “Apakah orang Kristen boleh kaya?” akan sangat bergantung pada definisi “kekayaan” bagimu.
Umumnya, orang akan mendefinisikan kekayaan berdasarkan banyaknya harta materi atau uang yang dia miliki. Majalah Forbes menyatakan seseorang disebut kaya jika memiliki penghasilan lebih dari 1 juta US$ per tahun. Ada lagi paham lain yang menyatakan seorang disebut kaya jika dia sudah mempunyai passive income yang lebih besar daripada pengeluarannya. Kekayaan seringkali diidentikkan dengan kebebasan finansial.
Mari saya beritahu satu hal, kawan… Kekayaan jauh lebih berharga dari sekedar mempunyai banyak uang.
Bagi saya, kekayaan lebih adalah mengenai “hubungan” daripada “uang”. Definisi kekayaan saya adalah terjalinnya hubungan yang baik antara saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama saya. Semakin erat hubungan saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama, maka semakin kaya saya.
Tapi Charles, Bukankah Kita Juga Butuh Uang!?
Ya, saya mengakui, seringkali uang dibutuhkan untuk membuat hubungan saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama menjadi semakin erat. Uang dibutuhkan untuk menghidupi diri saya dan keluarga saya. Uang dibutuhkan untuk membantu sesama kita yang kesulitan finansial. Uang dibutuhkan para hamba Tuhan yang memberitakan Injil. Uang dibutuhkan untuk membangun tempat-tempat ibadah.
Tapi, intinya, uang bukanlah tujuan akhirnya. Uang hanyalah alat yang dapat saya gunakan untuk membangun hubungan saya dengan Tuhan, keluarga, dan sesama menjadi lebih baik lagi. Hanya jika uang itu dapat digunakan untuk mendekatkan diri saya pada Tuhan, uang menjadi hal yang baik.
Lihat, inilah hal yang seringkali membuat orang-orang sulit mengaitkan uang, kekayaan, dan spiritualitas. Itu adalah karena mereka menetapkan dua tujuan dalam satu waktu. Tujuan pertama adalah kaya secara rohani. Dan tujuan kedua adalah kaya secara finansial. Apakah keduanya bisa tercapai dalam satu waktu? Belum tentu…
Banyak orang yang seolah memaksa Tuhan untuk menjadikannya kaya secara finansial agar dia dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Mereka berpikir, jika mereka kaya secara finansial, barulah mereka dapat menjadi berkat. Ini adalah pemikiran yang terbalik! Justru, menjadi berkat haruslah dilakukan bahkan jika kita tidak kaya secara finansial. Dan, kalau Tuhan menganugerahkan kekayaan finansial kepada kita, kita harus mengucap syukur dan terus menjadi berkat bagi orang lain. Tidak ada kewajiban Tuhan untuk menjadikan kita kaya secara finansial.
Jadi, mungkinkah kita kaya secara rohani dan kaya secara finansial juga? Saya percaya, ini mungkin! Tapi, kekayaan rohani haruslah yang jadi utama, dan kekayaan finansial kita gunakan untuk lebih memperkaya rohani kita. Ini bukanlah hal yang mudah (lihatlah betapa banyaknya orang yang jatuh secara rohani karena kekayaan finansial). Itulah sebabnya Allah benar-benar memilih setiap dari kita yang sudah siap untuk itu.
Orang Salehlah yang Justru Diuji Tuhan
Banyak paham teologi sukses mengatakan, orang yang saleh akan lepas dari kesulitan. Allah akan memberikan kesuksesan dan kelimpahan terus menerus bagi orang yang taat kepada-Nya. Sungguhkah seperti itu? Jika kita dengan teliti membaca Alkitab, kita seharusnya sudah tahu jawabannya adalah tidak. Justru sebaliknya… Orang salehlah yang justru diuji Tuhan.
Di kitab Kejadian, kita melihat Tuhan menguji iman Abraham dengan memintanya mempersembahkan anaknya, Ishak. Di kitab Ayub, kita melihat Tuhan justru yang berkata pertama kali kepada Iblis tentang Ayub yang begitu saleh. Dan, Tuhan juga yang mengizinkan Iblis untuk mencobai Ayub.
Mengapa Allah mengizinkan Iblis mencobai Ayub? Pada akhirnya, Allah menganugerahi Ayub harta berkali-kali lipat dibandingkan hartanya sebelumnya. Tapi, mengapa Ayub perlu mengalami penderitaan sebelum mendapatkan anugerah Allah tersebut? Itu karena Allah menginginkan Ayub betul-betul sangat amat kaya secara rohani sebelum dia akhirnya kaya juga secara finansial.
Orang yang belum kaya secara rohani sangat berbahaya jika kaya secara finansial. Kekayaan finansial akan membuat kebebasan kita bertambah besar. Dan, kebebasan yang bertambah besar akan sangat berbahaya jika kita belum bisa bertanggung jawab. Bayangkan Anda membiarkan anak Anda yang masih balita mengendarai mobil Anda. Bukankah itu akan menjadi sebuah bencana? Begitu pula, uang di tangan orang-orang yang belum kaya secara rohani akan menjadi bencana bagi dirinya dan orang lain.
Tapi, kalau mobil itu dikendarai oleh kita yang sudah tahu bagaimana cara mengendarainya, bagaimana peraturan yang harus diikuti, bagaimana etika yang ada di jalan raya… Mobil akan menjadi hal yang baik. Mobil akan mempercepat kita sampai pada tujuan. Uang di tangan orang-orang yang sudah kaya secara rohani akan membuat mereka semakin kaya secara rohani.
Inilah mengapa Allah memperkaya Ayub secara rohani terlebih dahulu. Pada awalnya, Ayub memang sudah kaya rohani. Tapi, setelah mengalami sederetan cobaan Iblis, Ayub menjadi sangat-sangat-sangat kaya secara rohani.
Ayub 42:5 mengatakan, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”
Lihatlah perbedaan kekayaan rohani Ayub sebelum dan sesudah dia dicobai. Sebelumnya, Ayub hanya mendengar dari orang saja tentang Allah, tetapi sekarang matanya sendiri memandang Allah. Ayub merasakan sendiri kuasa Allah di dalam hidupnya.
Kekayaan Sejati
Jadi kawan, kekayaan sejati bukanlah kekayaan finansial. Banyak orang yang kaya secara finansial yang tidak bahagia. Kekayaan yang sejati adalah kekayaan hubungan. Hubungan yang kaya dengan Tuhan, dan hubungan yang kaya dengan sesama kita.
Kekayaan finansial akan menjadi baik hanya jika kekayaan finansial itu semakin memperkaya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama.
Kawan, kejarlah kekayaan sejati terlebih dahulu. Dan Tuhan akan menganugerahkanmu kekayaan finansial, jika Allah berkenan memberikannya dan kita sudah siap menerimanya.
Kejarlah apa yang mendamaikan hatimu. Itulah yang diinginkan Tuhan. Kejarlah kekayaan finansial hanya jika kamu sudah mencapai level mengejar kekayaan finansial itu mendamaikan hatimu. Dan, saya percaya, saat mengejar kekayaan finansial mendamaikan hati kita, kita telah kaya secara rohani. Maka kita pasti akan menggunakan kekayaan finansial itu untuk lebih memperkaya hubungan kita dengan Tuhan dan sesama, menjadi seorang yang lebih rendah hati, dan menjadi lebih banyak berkat dengan menolong lebih banyak orang yang membutuhkan di sekitar kita.
Itulah definisi “kekayaan” bagi saya.
Apa definisi “kekayaan” bagimu?
Tuhan memberkati kita.
Charles Christian
Tips Agar Kita Selalu Beruntung Dalam Hidup (2)
Posted by Charles
Kejadian ini terjadi di suatu hari yang cerah 2 tahun yang lalu. Seperti biasa, tidak ada bintang jatuh… Seperti biasa juga, saya pergi ke kampus pakai sendal, yang sebenernya saya tau tuh sendal uda rada ga bener, uda hampir putus, tapi karena saya yang keras kepala tetep aja saya pake tanpa sedikit pun rasa bersalah. Saya sampai di kampus dengan aman sentosa, sehat walafiat, tidak kekurangan suatu apa pun, setidaknya sampai terjadi tragedi itu.
Tragedi apa? Jadi ceritanya saya lagi turun tangga. Terus abis saya turun, ada genangan air ga jelas ada di depan WC (siapa sih yang pipis sembarangan di depan WC?), yang saya ga liat (saking rabunnya nih mata…). Dan genangan air itu berhasil membuat saya meluncur beberapa meter ke depan seperti maen ice skating dan membuat sendal saya bener-bener putus!!! Tuh genangan cuma gagal membuat saya jatuh, karena keseimbangan tubuh saya yang udah saya latih bertaon-taon dengan bertapa di atas gunung salak… (yang ini ga bener).
Okeh… Akhirnya sendal saya putus juga. Nyesel deh saya, napa saya tadi pagi masih keras kepala make tuh sendal. Trus sekarang, gimana saya bisa balik ke kos saya dengan sendal yang putus gitu? Huhuhu… Apa saya mesti ngesot2 atau nyeker ampe kaki berdarah2 ke kos saya??
Tiba2 terlintas sebuah ide brilian di otak saya. Yup, saya minta karet gelang atau lakban (bukan enem puluh rebo) aja sama pos satpam yang ada di depan gedung… Terus kan tinggal saya tempelin ke sendal saya… Lumayan lah. Oke… brilian sekali.
Akhirnya dengan ngesot2, saya berhasil sampe ke pos satpam di depan gedung…
“Pak… Ada karet gelang ga?” saya nanya.
“Wah… karet gelang ya?”, kata pak satpam sambil nyari2… “ga ada tuh… Coba kamu cari di dapur sebelah deh…”
“Nih pos satpam kesian banget. Karet gelang aja ga punya” pikir saya dalem hati. Tapi, yah daripada ngesot ampe kos, saya mendingan ngesot ke dapur sebelah. Dengan sedikit esotan, sampelah saya ke dapur sebelah. Saya buka pintunya, eh ada Pak Komar, janitor (karyawan/cleaning service –red) di kampus tercinta, yang lagi makan siang dengan enaknya. Saya berhasil mengganggu kenikmatan makan Pak Komar dengan sebuah pertanyaan:
“Pak Komar… Ada karet gelang ga?” saya nanya pertanyaan yang sama.
“Waduh… karet gelang ya…” Pak Komar langsung menghentikan kunyahannya dan langsung sibuk nyari2… “ga ada tuh…”
Setengah pasrah, saya nanya lagi, “kalo lakban ada ga pak?”
Setelah nyari2 n berhasil tidak menemukan sepotong lakban pun, Pak Komar menjawab, “Wah ga ada juga tuh… Buat apa sih?”
“Ini pak, sendal saya…” sambil nunjuk ke kaki yang lagi nginjek sendal putus dengan wajah memelas meminta belas kasihan.
“Wooh… itu mah ntar jelek klo dilakban… Lakban kan warna coklat. Sendalnya warna item…”
Dalem hati… “Gak peduli deh jelek2, yang penting gak usah ngesot2 ampe kos. Yang penting mengamankan kaki dulu dari kerikil2 tajem”. Akhirnya saya jawab, “Gapapa kok pak…”
“Eh, coba cari di satpam deh…”
Lagi2 dalem hati… “Duh2 Pak Komar… Tadi saya juga dari satpam… Ga ada pak!” Tapi karena Pak Komar juga keluar, saya ikutan keluar n ngesot lagi ampe pos satpam ngikutin Pak Komar. “Udah pak… ga ada di pos satpam”, lagi2 dalem hati…
Sampai di pos satpam yang tadi (lagi2 dengan beberapa esotan). Pak Komar nanya… “Woi, ada sendal jepit ga? Nih ada yang sendalnya putus”, terus dengan cepatnya sebuah sendal jepit uda ada di tangan Pak Komar…
Semua ide brilian saya langsung hancur… Jeger! Iya ya, ngapain juga saya minta2 karet gelang n lakban… Napa saya ga langsung aja minjem sendal jepit. Dodol…
Untung ada Pak Komar… Makasih pak. Ga jadi ngesot ampe kos deh, semoga ga akan pernah… hehehe.
Moral: Ide brilian kita belum tentu benar-benar brilian.
![]()
Ini adalah kisah saya yang saya tulis dua tahun yang lalu (dengan sedikit modifikasi). Menurut Anda, apakah peristiwa di atas tergolong keberuntungan atau ketidak-beruntungan? Saya dapat menganggap peristiwa di atas sebagai keberuntungan, karena peristiwa itu akhirnya menjadi sebuah pengalaman yang menarik dan lucu yang dapat saya ceritakan ke orang lain, termasuk kepada Anda saat ini. Jika sendal saya tidak putus saat itu, tidak ada kisah yang telah menghibur beberapa orang ini (emangnya menghibur ya? hehe).
OK, ini adalah satu contoh melihat sisi positif dari sebuah peristiwa. Peristiwa buruk di masa lalu, bisa saja menjadi peristiwa lucu yang menarik diceritakan sekarang. Jadi, peristiwa buruk di masa sekarang, bisa saja menjadi peristiwa lucu yang menarik di masa depan.
Saya pribadi percaya, setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup saya, entah itu baik atau buruk, pasti memiliki manfaat dalam membentuk diri kita menjadi seperti hari ini. Tuhan sudah merancangkannya untuk kebaikan kita. Jadi, apa pun yang terjadi pada diri kita saat ini, ada tujuan baik di balik semuanya itu. Mungkin kita tidak mengetahuinya sekarang. Kita akan mengetahuinya pada waktu-Nya. Saat itu, kita akan bersyukur bahwa kita sungguh beruntung memiliki Tuhan yang begitu baik dan penuh kejutan. Hei, mengapa harus menunggu saat itu untuk bersyukur? Saat itu pasti akan tiba. Bersyukurlah dari sekarang.
Tips Agar Kita Selalu Beruntung Dalam Hidup (1)
Posted by Charles
Apa yang Anda pikirkan ketika Anda membaca judul tulisan ini? Saya menebak, ada dari Anda yang mungkin berpikir seperti ini: “Ah, mana mungkin kita selalu beruntung dalam hidup. Realistis aja, hidup ada di atas ada di bawah, ada naik ada turun, ada untung ada rugi… Ga mungkin lah hidup selalu beruntung.” Melalui tulisan ini, saya ingin membukakan, bahwa kita dapat selalu beruntung dalam hidup ini, jika saja kita tahu caranya. Tidak percaya? Mau tahu caranya? Lanjutkan baca tulisan ini sampai selesai…
Suatu sore, ketika saya sedang membaca komik Paman Gober (atau komik Donal Bebek), saya menemukan sebuah kisah berikut. Diceritakan, Paman Gober sedang bekerja di dalam gudang uangnya. Tiba-tiba, Paman Gober mendengar ada keributan di luar gudang uangnya, yang begitu mengganggunya. Ketika dia melihat keluar jendela, ternyata keributan itu berasal dari kedua keponakannya, si Donal dan si Untung, yang sedang berkelahi di halaman depan gudang uang. Paman Gober yang merasa terganggu lalu meminta James, pelayannya, untuk membawakan kentang untung menimpuk keponakannya tersebut (mungkin sayang kalau ditimpuk pakai karung emas, jadi ditimpuknya pakai kentang.
). James lalu membawakan sebuah kentang yang akhirnya dilemparkan Paman Gober ke luar jendela, dan mengenai salah satu dari keponakannya tersebut. Coba Anda tebak, siapa yang terkena lemparan Paman Gober ini sampai membuat kepalanya benjol? Apakah si Untung? Atau si Donal?
Kalau Anda sering membaca komik Donal Bebek, tentunya Anda tahu kalau si Untung adalah bebek yang selalu beruntung, dan si Donal adalah bebek yang selalu sial. Mungkin, dengan pengetahuan itu, Anda akan menjawab si Donal yang akan tertimpuk kentang sampai benjol…
Ternyata, bukan si Donal yang kena timpuk, tapi si Untung! Untung Angsa, yang terkenal sebagai bebek yang selalu beruntung, terkena timpuk kentang sampai benjol. Apa yang kita katakan? Apakah Untung mengalami kesialan? Jika ceritanya berhenti sampai di sini, mungkin ya… Tetapi, cerita ini ada kelanjutannya.
Si Donal spontan tertawa puas melihat sepupunya yang selalu beruntung akhirnya mengalami kesialan juga. Si Untung tidak percaya kalau dia bisa tidak beruntung. Lantas, dia mengecek kentang yang membuat kepalanya benjol tersebut. Ternyata, di dalam kentang tersebut terselip sekeping emas yang sangat langka dan berharga.
Nah, sekarang, apakah si Untung sial atau beruntung dengan tertimpuk kentang tersebut? Mungkin sekarang kita akan berubah pikiran dengan mengatakan si Untung beruntung. Saya pun berpikir demikian. Tapi, saat itu, saya mencoba berpikir lebih dalam lagi. Kenapa saya menganggap si Untung beruntung? Bukankah dia tertimpuk kentang sampai benjol? Saya mencoba merumuskan, dan saya mendapat kesimpulan bahwa saya menganggap si Untung beruntung karena sisi positif yang dia dapatkan lebih besar dari sisi negatif yang dia terima. Mendapat sekeping emas yang sangat langka dan berharga itu lebih berharga dibandingkan kerugian akibat ditimpuk kentang. Jadi, rumusnya adalah:
Seseorang disebut “BERUNTUNG” jika lebih banyak “SISI POSITIF” yang dia terima dari sebuah peristiwa, dibandingkan dengan kerugian yang dia harus tanggung akibat “SISI NEGATIF” dari peristiwa tersebut.
Nah, berarti yang menentukan apakah kita BERUNTUNG atau tidak, bukanlah peristiwanya… Tapi, bagaimana cara kita memandang peristiwa tersebut. Masalahnya adalah bagaimana kita dapat melihat “SISI POSITIF” dari sebuah peristiwa yang lebih besar dibandingkan kerugian dari “SISI NEGATIF” yang diakibatkan peristiwa tersebut.
Penting bagi kita untuk menyadari hal ini. Kalau kita menganggap peristiwa yang terjadi pada kita yang menentukan keberuntungan kita, maka hidup kita bisa beruntung dan bisa kurang beruntung, tergantung peristiwa yang terjadi pada kita. Kita tidak punya kontrol apa pun atas keberuntungan kita, karena kita tidak bisa mengontrol peristiwa yang terjadi kepada kita. Tapi, kalau kita menganggap keberuntungan dengan definisi yang saya berikan di atas, maka kita bisa terus menerus beruntung, kalau kita bisa melihat sisi positif dari setiap peristiwa yang kita alami.
Kabar baiknya, setiap peristiwa yang kita alami pasti mempunyai sisi positif. Jadi, sebenarnya, kita bisa mengontrol keberuntungan kita dengan sengaja, dengan selalu melihat sisi positif dari sebuah peristiwa. Jika kita selalu melihat sisi positif dari sebuah peristiwa, takkan ada peristiwa yang merupakan kesialan bagi kita. Dengan kata lain, kita akan selalu beruntung. Masuk akal?
Berarti, sekarang masalahnya adalah bagaimana cara kita melihat sisi positif dari peristiwa yang kita alami. Saya tidak akan memaparkan teori apa-apa. Saya hanya akan membagikan cara-cara praktis yang saya lakukan untuk melihat sisi positif dari sebuah peristiwa (yang mungkin bagi sebagian besar adalah peristiwa buruk). Peristiwa yang akan saya bagikan adalah peristiwa yang nyata terjadi dalam kehidupan saya sehari-hari. Saya akan membagikan sharing saya tersebut dalam tulisan mendatang. So, ditunggu ya tulisan saya minggu depan…
Selamat menjalani hidup yang penuh dengan sisi positif.
Bersambung… ke Tips Agar Kita Selalu Beruntung Dalam Hidup (2)
Kesalahan yang Membawa Berkah
Posted by Charles
Saya yakin, setiap dari kita pasti pernah berbuat salah, entah disengaja atau tidak disengaja. Tidak sedikit pula yang akhirnya menyesali kesalahannya terus-menerus. Kesalahan itu membawa malapetaka bagi mereka. Namun, jika kita tahu caranya, ternyata kita bisa membalikkan kesalahan yang seharusnya membawa malapetaka bagi kita, menjadi berkah untuk kita. Setidaknya, itu yang saya dapatkan dari kisah yang saya alami berikut.
Kisah ini terjadi hari Minggu lalu, ketika saya dan keluarga makan malam bersama di Pizza Hut Pluit Village. Seperti biasa, sang waiter memberikan daftar menu, dan mencatat pesanan kami. Sebelum dia pergi, dia berkata “Baik Pak… Menunya bisa saya ambil ya Pak? Pizzanya ditunggu 15 menit. Terima kasih.” Kata-kata itu mungkin tidak asing bagi Anda yang sering makan di Pizza Hut. Tampaknya, itu sudah menjadi suatu standar pelayanan Pizza Hut, agar waiter berkata-kata seperti itu, dan menjanjikan pizza yang dipesan akan datang dalam waktu 15 menit.
Kami pun menunggu… 10 menit kemudian, salah satu pesanan kami, yaitu Spaghetti, datang. Spaghetti pun saya lahap sembari menunggu pizza yang belum datang. Waktu terus berlalu, 5 menit, 10 menit, hingga 15 menit kemudian, ketika Spaghetti telah habis saya lahap, ternyata pizza yang kami pesan belum kunjung tiba. Ini berarti sudah terlambat lebih dari 10 menit dari waktu yang dijanjikan sebelumnya.
Saat itu, yang ada di pikiran saya adalah “Wah, kok pelayanan mereka ke customer kaya gini ya?”, “Wah, mereka melanggar janji”, “Wah, mereka sudah melakukan kesalahan…”, “Wah, kalau pelayanan mereka begini, mereka bisa kehilangan customer mereka.” dan lain sebagainya. Intinya, saya menganggap Pizza Hut telah berbuat kesalahan besar dan tidak profesional dengan membiarkan customernya menunggu terlalu lama, lebih dari waktu yang dijanjikan. Kami mulai kesal, dan memanggil sang waiter menanyakan pizza yang kami pesan.
“Mas, mana pizza yang kami pesan? Sudah setengah jam kok belum keluar? Janjinya kan 15 menit…” protes kami.
“Wah, maaf pak… Pizzanya masih belum jadi,” sang waiter kebingungan.
“Wah, kok di sini ga profesional ya pelayanannya? Kalau dulu saya di Pizza Hut lain kaya gini, harusnya uda ada yang digratisin nih.” kami melampiaskan kekesalan kami.
“Maaf pak… Saya akan antarkan pizzanya secepatnya,” sang waiter kembali meminta maaf.
5 menit lagi berlalu, dan pizza kami masih belum datang juga. Saya sudah mulai memikirkan untuk meng-cancel pesanan tersebut, dan pindah ke restoran lain. Image “Pizza Hut” menjadi buruk bagi kami, karena pelayanan mereka yang buruk ini. Setidaknya, ini adalah kesalahan mereka, yang hampir membawa malapetaka bagi mereka. Sampai akhirnya, momen itu tiba… Momen yang mengubah kesalahan mereka dari malapetaka menjadi berkah.
Tiba-tiba, sang waiter datang menghampiri kami membawa sebuah mangkuk sup kosong, dan berkata, “Maaf pak, pizzanya masih belum datang. Sambil menunggu pizzanya, silakan bapak nikmati dulu supnya… GRATIS…” Dan mangkuk itu pun diletakkan di meja kami.
Tiba-tiba pula, kalimat pertama yang terlontar di kepala saya saat itu adalah “Wow… Pizza Hut benar-benar profesional dan gentleman.” Entahlah kenapa saya berpikir begitu, tapi itulah kalimat pertama yang saya pikirkan ketika mangkuk sup itu diletakkan di atas meja, dan ketika saya mendengar kata-kata “silakan bapak nikmati dulu supnya… GRATIS…”
Suasana hati saya yang tadinya kesal, tiba-tiba berubah menjadi gembira. Ya, siapa yang tidak gembira diberikan barang gratis? Hehe…
Kemudian, sembari menikmati sup gratis itu, saya berpikir lagi. Kok bisa ya saya tiba-tiba berubah pikiran dari anggapan bahwa “Pelayanan Pizza Hut buruk” menjadi “Pelayanan Pizza Hut memuaskan”. Mereka tetap salah kok, dengan ingkar janji dan membiarkan saya menunggu terlalu lama. Tapi, mereka memberikan saya sup gratis (meskipun menurut saya, mereka tidak rugi memberikan sup gratis itu, karena waktu itu sudah malam, dan sup yang tersisa di gentong mereka masih banyak… Yah, daripada dibuang kan bisa untuk memuaskan customer yang terluka? Bener ga? Hehe).
Inilah yang saya sebut, kesalahan yang membawa berkah. Setelah peristiwa itu, saya jadi bercerita ke teman-teman saya tentang image positif dari Pizza Hut. Kesalahan itu tertutupi dengan respon mereka dalam memperbaiki kesalahan itu. Dan bahkan menurut saya, efek positif yang timbul karena peristiwa ini, melebihi dari efek positif jika mereka tidak berbuat kesalahan. Dengan adanya kejadian unik ini, saya jadi mengingat kejadian ini, dan bukan tidak mungkin saya bisa berpromosi tentang Pizza Hut tanpa bayaran dengan cerita-cerita saya ke teman-teman saya, termasuk dalam blog ini.
Mengingat kejadian itu, saya jadi ingat bagaimana restoran Pizza lain di luar negeri mempromosikan Pizza mereka. Mereka mempunyai tagline “Pizza yang Anda pesan sampai ke rumah Anda dalam 30 menit atau GRATIS!”. Lalu, uniknya, dalam beberapa kesempatan tertentu, mereka sengaja mengantar pizza pesanan itu terlambat 1 atau 2 menit (meskipun mereka sudah sampai di lokasi tepat waktu, tapi mereka sengaja menunggu untuk membuat mereka terlambat), lalu mengetuk pintu rumah dan berkata, “Maaf kak, kami terlambat 1 menit mengantar pesanan kakak. Karena itu, kakak tidak perlu bayar. Pizza ini GRATIS untuk kakak.”
Apakah kesalahan mereka dengan terlambat mengantar pizza ini membawa malapetaka? Menurut saya, justru sebaliknya, kesalahan ini membawa berkah. (Meskipun memang kesalahan ini disengaja
). Mereka tinggal menunggu si kakak menceritakan pengalamannya tersebut kepada teman-temannya, dan memberikan promosi gratis pada mereka.
Jadi, jika Anda berbuat sebuah kesalahan, janganlah berkecil hati dulu. Cobalah cari cara untuk memperbaiki kesalahan tersebut (bahkan menjadi lebih baik daripada Anda tidak melakukan kesalahan itu), dan kesalahan itu takkan menjadi malapetaka lagi bagi Anda. Sebaliknya, Anda akan mengenang kesalahan yang Anda buat tersebut, sebagai sebuah kesalahan yang membawa berkah bagi Anda.
Selamat memperbaiki kesalahan Anda.
Inilah Alasan Kenapa Orang Menjauhi Kita
Posted by Charles
Suatu hari, teman saya bertanya kepada saya, “Kenapa ya banyak orang yang ngejauhin saya? Kenapa ya ga ada orang yang mau peduli sama saya?”
Saya mencoba menjawabnya dengan sebuah pertanyaan lain, “Menurut kamu, kamu lebih banyak jadi solusi atau lebih banyak jadi masalah?”
Dia lalu mulai berpikir… “Saya ga pernah jadi masalah kok… Saya kan cuma mau sharing sama teman-teman saya, dan saya mau mereka memperhatikan saya.”
Saya bertanya balik padanya, “Apakah kamu sendiri pernah memperhatikan masalah teman-temanmu?”
Acuh tak acuh, dia tersenyum sinis… “Heh… Buat apa perhatiin masalah mereka? Toh mereka semua juga ga ada yang memperhatikan saya.”
Apa yang Anda tangkap dari percakapan di atas? Apakah Anda juga pernah menjumpai percakapan serupa? Yang saya tangkap dari percakapan di atas adalah, teman saya tersebut merasa dijauhi dan tidak diperhatikan oleh teman-teman di sekelilingnya. Namun, meskipun dia ingin diperhatikan, dia tidak mau proaktif memperhatikan teman-temannya terlebih dahulu. Intinya, teman saya tersebut menjadi bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi, meskipun dia sendiri tidak mengakui atau menyadari dirinya adalah bagian dari masalah.
Cepat atau lambat, orang-orang yang selalu memposisikan dirinya menjadi bagian dari masalah, akan dijauhi oleh orang lain. Kenapa? Sederhana saja, karena pada dasarnya, orang-orang tidak suka dikasih masalah. Apalagi kalau ada orang yang setiap kali datang cuma mau kasih masalah? Pastilah orang itu yang akan ditolak pertama kali.
Apakah Anda ingin menjadi pribadi yang banyak dicari, disukai, dan diperhatikan oleh orang lain? Kalau ya, jadilah pribadi yang menjadi bagian dari solusi. Tawarkanlah solusi Anda untuk memecahkan masalah-masalah teman-teman Anda. Buatlah orang-orang yang mendekati Anda merasa semakin banyak dia berinteraksi dengan Anda, semakin banyak masalahnya yang terselesaikan. Dengan begitu, Anda pastilah menjadi pribadi yang dicari, disukai, dan diperhatikan banyak orang.
Ketika Anda sudah menjadi pribadi yang disukai banyak orang, jangan heran ketika Anda mempunyai masalah, tiba-tiba ada saja orang-orang yang menawarkan solusi atas masalah Anda untuk Anda. Tiba-tiba, ada saja orang-orang yang bersedia membantu Anda dan memperhatikan Anda.
Jadi, kembali ke pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini: “Kenapa banyak orang menjauhi kita?” Banyak orang menjauhi kita karena kita hanyalah menjadi bagian dari masalah untuk mereka.
Oleh karena itu, jadilah pribadi yang menjadi bagian dari solusi bagi orang lain, bukan bagian dari masalah… Dan jangan heran jika pada akhirnya Anda akan menemukan banyak orang yang menjadi bagian dari solusi masalah-masalah Anda.
Yang Baik Dituntut Sempurna, Yang Kurang Baik Didiamkan
Posted by Charles
Terinspirasi dari suatu sore beberapa bulan yang lalu, di mana saya akan memimpin sebuah rapat jam 3 sore. Tepat jam 3 sore, hanya ada satu orang peserta rapat, (anggaplah namanya Denny), yang sudah datang dan sedang duduk menunggu di sofa, sedangkan yang lainnya belum datang.
Saat itu, saya berkata kepada Denny, “Den, coba lihat jam, jam berapa sekarang… Jam 3 kan, dan kita akan mulai rapat jam 3. Kenapa kamu masih duduk santai aja di sofa? Ayo cepat masuk ke dalam ruang rapat!”
Saat saya teringat kembali atas peristiwa tersebut, saya mulai berpikir. Bukankah Denny adalah seseorang yang sangat baik dengan datang tepat waktu, bahkan sebelum waktu yang dijanjikan. Bukankah dia lebih baik dari teman-temannya yang saat itu belum datang, atau bahkan tidak datang? Tapi, kenapa justru dia yang sangat baik tersebut, yang saya tuntut lebih? Kenapa dia yang justru saya lebih disiplinkan, dan kenapa justru dia yang merasakan energi negatif saya yang muncul karena banyaknya anak-anak yang belum datang rapat di waktu yang dijanjikan? Kalau dia yang sudah melakukan hal yang baik, malah mendapatkan respon negatif dari saya, bukankah itu akan membuatnya kecewa dan menjadi enggan datang tepat waktu lagi untuk menghindari energi negatif saya?
Di sisi lain, banyak anak-anak yang akhirnya tidak datang rapat. Namun, saya tidak mem-follow-up mereka. Kenapa? Karena untuk mem-follow-up mereka membutuhkan waktu, tenaga, dan dana ekstra. Dimulai dari waktu untuk mencari keberadaan mereka, tenaga yang dikeluarkan untuk mencari mereka, dan dana untuk menelepon mereka. Akhirnya, mereka “selamat” dari energi negatif saya. Mereka saya diamkan. Mereka merasa baik-baik saja dengan tidak datang rapat tepat waktu, atau bahkan tidak datang rapat sama sekali. Akhirnya, mereka cenderung untuk mengulanginya.
Ironis sekali. Bukankah keinginan saya adalah agar mereka datang tepat waktu? Tapi mengapa mereka yang datang tepat waktu yang justru mendapatkan perlakuan buruk? Sedangkan, mereka yang tidak datang tepat waktu toh “baik-baik saja”.
Marilah Kita Mulai Memberikan Apresiasi
Saya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kita ada di zaman di mana apresiasi adalah hal yang langka. Orang-orang cenderung untuk melihat hal-hal yang buruk dibanding hal-hal yang baik. Mereka banyak menegur hal-hal yang buruk, namun mereka lupa bahwa ada lebih banyak lagi hal-hal baik yang seharusnya mereka apresiasi, dan mereka melupakannya.
Apa langkah yang dapat diambil selanjutnya? Saya memutuskan, bukankah lebih baik bagi saya untuk menunjukkan energi positif dan mengapresiasi Denny yang sudah datang tepat waktu? Ya, dia layak untuk diapresiasi, karena dia lebih baik daripada teman-temannya yang lain dengan datang tepat waktu. Akan baik pula jika saya berikan apresiasi tersebut di depan teman-teman yang lain, yang membuat Denny merasa tindakannya dihargai. Denny akan senang, dan akan senang untuk datang tepat waktu di kesempatan-kesempatan berikutnya. Begitu pula dengan teman-temannya yang lain, akan termotivasi untuk menjadi Denny-Denny yang lain dan akan datang tepat waktu juga di kesempatan berikutnya.
Bagaimana dengan teman-teman yang tidak datang tepat waktu atau bahkan tidak datang? Dibutuhkan sesuatu yang dapat menjadi efek jera bagi mereka. Hal yang paling baik menurut saya adalah memberikan nilai tambah bagi orang-orang yang datang tepat waktu. Berikan mereka sesuatu yang berharga yang tidak didapatkan orang-orang yang tidak datang tepat waktu. Atau, berikan hukuman kepada mereka yang tidak datang tepat waktu. Namun, perlu diperhitungkan pula, bahwa hukuman untuk mereka yang tidak datang sama sekali haruslah lebih berat daripada hukuman untuk mereka yang tidak datang tepat waktu. Atau, mereka akan cenderung memilih untuk tidak datang sama sekali di saat mereka terlambat.
Akhir kata, saya juga mau mengapresiasi Denny atas usahanya untuk datang tepat waktu saat itu.
My Best Quotes
Posted by Charles
Berikut adalah kumpulan quote/status facebook original yang saya buat selama kurang lebih setengah tahun terakhir. They have inspired me, and may they inspire you, too…
23 September 2009 Banyak orang berpikir bunuh diri dapat mengakhiri kesulitan mereka. Namun, kenyataannya adalah bunuh diri mengubah kesulitan "sementara" di dunia menjadi kesulitan "kekal" di akhirat.
28 September 2009 Banyak "masalah" yang terjadi karena "salah paham". Banyak "salah paham" yang terjadi karena "kesalahan komunikasi". Banyak "kesalahan komunikasi" yang terjadi karena kurangnya kita belajar cara berkomunikasi yang baik.
30 September 2009 Emosi kita menentukan keputusan kita dan cara kita bertindak. Untuk mengambil keputusan dan cara bertindak yang bijak, kita harus mengontrol emosi kita terlebih dahulu.
1 Oktober 2009 I want to know and worship You, Lord, simply because You are my and only God.
12 Oktober 2009 Kunci untuk menjadi yang teratas adalah terus bergerak ke atas dan meminta bantuan kepada yang ada di atas, bukan menjatuhkan semua yang ada di atas.
13 Oktober 2009 Suatu hal yang salah yang kita lakukan tidak akan menjadi benar hanya karena orang lain juga melakukan kesalahan yang sama.
16 Oktober 2009 Bulan yang menjadi penerang di tengah malam takkan dapat bersinar tanpa matahari yang menjadi sumber cahayanya. Demikian pula manusia yang "menerangi" dunia ini takkan dapat berbuat apa-apa tanpa Tuhan yang menjadi sumber kekuatan mereka.
17 Oktober 2009 Ada orang turun tangga dari lantai 50 karena gempa. Pas sampai bawah gedungnya tetap berdiri kokoh. Respon #1: "Yaah, gedungnya ga roboh… Sia-sia deh gw turun tangga cape2". Respon #2: "Huff. Syukurlah gedungnya ga roboh… ^^" Mana respon yang kamu pilih?
18 Oktober 2009 To love someone is to keep a commitment.
21 Oktober 2009 Tell computer what you want it to do, and it will do for you much faster than you do… P.S. Don’t forget you have to use programming language and describe every single detail to communicate with it.
23 Oktober 2009 Banyak orang yang mencari perhatian dengan melakukan hal-hal yang buruk, karena mereka tidak mendapatkan perhatian yang cukup ketika mereka melakukan hal-hal yang baik dan benar. Mulailah memberi perhatian dan penghargaan kepada orang-orang yang melakukan hal yang baik dan benar, dan mereka akan terus melakukan hal baik tersebut dengan senang hati.
24 Oktober 2009 Sometimes, God let you lose many things in your life so that you can find Him as the only and ultimate source of joy.
30 Oktober 2009 Ketika suatu hari nanti kamu meninggalkan dunia ini, apa yang kamu ingin orang lain ingat tentang dirimu? Lakukanlah itu selagi kamu masih ada di dunia ini.
11 November 2009 When we blame someone, give excuses or justify other, we make the other people take control of what happened to us. So, instead of think like a victim, let’s take 100% responsibility for what happened to us, and it’ll give us power to change it to a better one.
14 November 2009 Tips memotivasi diri sendiri dari rasa malas dalam melakukan hal sepele untuk orang yang kita kasihi (misal: membantu orang tua): bayangkan betapa menyesalnya kita jika kita tidak sempat melakukan hal sepele tersebut di saat dia sudah tiada. Saya coba lakukan tips ini, dan cukup sukses memotivasi saya.
20 November 2009 "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." – Kita harus dapat mengasihi diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum kita dapat mengasihi sesama kita.
23 November 2009 Lakukan lebih dari apa yang orang lain ekspektasikan dari dirimu, dan kamu akan mendapatkan lebih dari yang kamu ekspektasikan.
30 November 2009 I believe that God guides my everyday’s life through His way and God’s way is always the best way, even though I don’t understand now. The only thing I need is to trust Him.
19 Desember 2009 Kegagalan adalah tanda kita harus belajar, bukan tanda kita harus menyerah.
21 Desember 2009 Tuhan membuat kita tidak nyaman berpijak di bulan agar kita dapat meninggalkan bulan dan menggapai bintang.
25 Desember 2009 Christmas is about Christ, who surprisingly came to our world. Be joyful. Be thankful. Be transformed. Merry Christmas.
18 Januari 2010 Janganlah kita pilihkan jalan hidup bagi orang lain, tapi bantulah dia mencapai keberhasilan tertinggi dalam pilihan hidupnya, selama pilihannya masih dalam jalan yang benar.
27 Januari 2010 Jangan hilangkan fondasi bangunanmu untuk mempertinggi bangunan itu. Uno Stacko selalu roboh karena prinsip ini dilanggar…
25 Februari 2010 Gunakan waktumu lebih banyak untuk pekerjaan "eksponensial" daripada pekerjaan "linear".
6 Maret 2010 The human brain is so powerful, but also, so weak. While the human brain can create many masterpieces, the same brain can also so easily be destroyed by one hit. Be grateful and use it wisely.
11 Maret 2010 Everyone has their own strengths and weaknesses.
12 Maret 2010 Different point of view blends with a missed communication may lead to a wrong assumption that may lead to broken relationship. Be careful with your mind, your saying, your intonation, and your body language.
16 Maret 2010 Sebuah pertanyaan untuk evaluasi diri: "Apakah orang-orang menunggu saat-saat bersamamu atau menghindari setiap pertemuan denganmu?"
Every status has its own background, so i can’t pick one that i love the most. They’re all my favorite in their own time. I’m so inspired, and I hope those quotes can inspire you, too. Have a better day.
Kesenangan Tanpa Kesusahan Adalah Kosong
Posted by Charles
Ada sebuah cerita tentang seorang penjahat yang meninggal dunia. Ketika dia mau mati, dia sudah merasa pasti akan masuk neraka. Nah ketika dia mati, tiba-tiba dia dibangunkan. Dia melihat sesuatu yang tidak diharapkannya. "Wah kok suasananya bagus. Indah menarik dan menyenangkan sekali ya," katanya dalam hati. Dia melihat semua serba bahagia.
"Aduh rasanya saya keliru terkirim ke surga," katanya lirih. Tiba-tiba seorang bidadari mendatanginya. "Ayo-ayo bangun. Kamu ingin apa ? Di sini kamu apa saja diberi." Awalnya dia ragu. Tapi memberanikan juga untuk meminta, "Saya tidak mau kerja." "Ok," kata bidadari. Ting! Maka dia tidak usah kerja. Semuanya tercukupi.
Setelah keinginannya terwujud, dia mulai berani, "Saya boleh minta lagi ?" "Boleh," kata bidadari, "Kamu minta apa ?" "Saya minta uang yang banyak." Ting! Maka keluar uang yang banyak. Dia beli apa saja bisa. Dia ingin beli mobil baru, bisa. Beli apa saja, bisa.
Lalu dia datang lagi ke bidadari. "Bidadari, saya minta rumah yang bagus," pintanya. Ting! Dia dapat rumah yang sangat mewah, indah dan semuanya ada. "Wah apapun dikasih katanya. Ini betul-betul surga," teriaknya senang. Kemudian dia kembali ke bidadari. "Saya bisa tidak minta wanita- wanita yang cantik ?" Ting! Maka ada 10 wanita yang cantik yang siap melayani dia terus.
Dia senang sekali. Uang ada. Punya rumah. Dikelilingi wanita-wanita cantik. Dan dia tidak usah kerja. Makan apapun bisa sekenyang-kenyangnya. Dan semua itu berlalu dengan cepat. Sebulan, 2 bulan, 3 bulan dia mulai bosan. Jenuh. Dia tidak mau segala keenakan ini. Rasanya bikin ‘eneg’. Mual.
Maka dia menghadap bidadari. "Bidadari, saya mau kerja," katanya. Bidadari itu heran, "Tidak bisa, tidak bisa. Di sini tidak perlu kerja. Tidak ada kerjaan. Kamu tidak usah kerja. Kamu nikmati saja segala kenikmatan ini." Dia bingung. Kembali ke kegiatan sebelumnya dan dia coba menikmati lagi surganya. Makan lebih banyak lagi, sampai gendut. Tapi dia tetap jenuh karena tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan. Dia kembali lagi bidadari. "Aku minta kerja," katanya. Dan biadadari tegas berkata, "Tidak bisa. Di sini tidak ada kerja."
Akhirnya dia tidak tahan. Penjahat ini mengaku, "Bidadari yang baik, saya sebanarnya adalah penjahat. Saya tidak layak masuk surga ini. Saya seharusnya masuk neraka. Kalau di neraka, saya bisa kerja. Bahkan kerja keras. Saya bisa merasakan sakit dan sengsara. Saya tidak mau segala ini. Ternyata kenikmatan ini tidak enak," teriaknya marah.
Tiba-tiba wajah bidadari yang cantik dan menyenangkan dilihat ini, tiba-tiba berubah menyeramkan. Wajahnya berubah menjadi setan. Dia berkata keras, "Sebenarnya ini adalah neraka."
Cerita ini disadur dari salah satu episode seri TV kuno ‘Twilight Zone’.
Saya tidak mengatakan supaya anda semua menjadi penjahat supaya tidak masuk surga. Manusia baru ingat dan menghargai segala kenikmatan yang dia rasakan, ketika kesedihan dan kesengsaraan juga dirasakannya. Kehidupan adalah sebuah keseimbangan antara kenikmatan dan penderitaan, inilah yang memperkaya kazanah kehidupan kita. Selamat menghargai kesengsaraan anda, karena di sanalah akan anda temui kenikmatan yang lebih.
Sumber cerita: Business Wisdom Pak Tanadi Santoso
Itu adalah cerita yang saya dengarkan di radio hari Senin lalu. Cerita yang membuat saya berpikir. Ya, memang benar… Kesusahan perlu kita lalui agar kita bisa menghargai kebahagiaan. Suatu kebahagiaan tidak lagi jadi kebahagiaan untuk kita jika kita tidak merasakan kesusahan. Saya akan berikan contoh yang sederhana. Bayangkan Anda baru saja berjalan selama satu jam di bawah terik matahari siang hari, yang membuat Anda sangat berdahaga. Lalu, ketika sampai di tujuan, Anda ditawarkan sebotol Aqua dingin. Tentu karena Anda sedang sangat haus dan kepanasan, sebotol Aqua dingin tersebut menjadi sebuah kesenangan bagi Anda. Tapi, apa yang terjadi jika Anda sedang tidak haus dan diberikan sebotol Aqua dingin tersebut? Rasa nikmatnya tentu sangat berbeda bukan? Rasa nikmat yang Anda dapat dari sebotol Aqua dingin tergantung dari seberapa haus Anda saat Anda meminumnya. Semakin Anda merasa haus, atau mengalami penderitaan (kehausan), semakin banyak nikmat yang akan Anda rasakan dari sebotol Aqua dingin.
Contoh lainnya saya dapatkan dari pengalaman saya kemarin. Saat saya bangun pagi, saya merasakan kamar saya sangatlah dingin, dan saya menjadi kedinginan. Rasa dingin dari AC menjadi tidak enak untuk saya saat itu. Hal itu berbeda ketika saya sudah keluar dari kamar, mengerjakan banyak hal yang membuat keringat saya bercucuran. Ketika saya kembali masuk ke dalam kamar, rasa dingin AC menjadi suatu hal yang sangat enak untuk saya.
Suatu hal yang Anda anggap enak, takkan menjadi enak, kecuali Anda pernah merasakan apa yang Anda anggap tidak enak. Jadi, bersyukurlah atas penderitaan yang kita alami, karena penderitaan yang kita alami akan membuat pemulihan yang kita dapatkan nantinya menjadi semakin berharga untuk kita. Kebahagiaan yang kita rasakan bukanlah masalah seberapa tinggi hal yang kita capai, tapi seberapa jauhnya hal terendah dalam hidup kita dengan hal tertinggi dalam hidup kita. Jarak itulah yang menjadikan segalanya berharga.
Rumput Tetangga Mungkin Lebih Hijau, Tapi Buah Kebun Kita Lebih Manis
Posted by Charles
Suatu siang di daerah Tanjung Duren, saya sedang mengendarai mobil. Jalan cukup macet saat itu, meski masih bergerak. Mobil saya ada di jalur tengah. Saya melihat ke jalur di sebelah kiri saya. Entah hanya perasaan atau bukan, saya merasa jalur di sebelah kiri saya lebih lancar. Mobil-mobil yang ada di sebelah saya melaju lebih cepat. Saya jadi ingat sebuah pepatah, “Rumput tetangga terlihat lebih hijau dari rumput di kebun kita sendiri”. Saya pun berinisiatif untuk berpindah jalur ke jalur di sebelah kiri saya.
Ternyata berpindah jalur tidak semudah yang saya bayangkan. Mobil-mobil yang ada di jalur kiri tentu tidak membiarkan begitu saja jalannya diambil oleh mobil saya. Di sini berlaku, siapa yang lebih cepat dan lebih tinggi skill-nya, dia yang akan mendapatkan jalan. Alhasil, setelah beberapa detik berusaha, saya masih belum berhasil berpindah jalur. Lalu, saya kaget ketika mendengar bunyi klakson mobil di belakang saya. Saya melihat ke depan, dan ternyata mobil di depan saya sudah berada jauh di depan saya, dan tercipta ruang kosong yang cukup banyak di jalur saya. Saya begitu terobsesi pada jalur sebelah saya sampai saya tidak memperhatikan jalur saya sendiri. Akhirnya saya mengurungkan niat saya untuk berpindah jalur dan meneruskan perjalanan pada jalur saya.
Saat itu, ada satu kalimat yang terlewat di pikiran saya: “Rumput Tetangga Mungkin Lebih Hijau, Tapi Buah Kebun Kita Lebih Manis”. Salah satu sifat buruk manusia adalah sifat tidak pernah puas yang membuatnya menjadi kurang bersyukur. Seringkali kita membandingkan diri kita dengan orang lain, dan mungkin kita melihat banyak kelebihan orang lain yang lebih baik daripada kita, dan kita menjadi menginginkannya. Kita melihat rumput tetangga lebih hijau daripada rumput kita. Tapi, kita kadang tidak menyadari banyak kelebihan-kelebihan kita yang patut kita syukuri dan gunakan untuk membantu orang lain. Kita hanya melihat rumput, kita tidak melihat buah kebun kita lebih manis daripada buah kebun tetangga kita. Kita hanya melihat yang kita tidak miliki, dan kita menjadi kurang bersyukur dengan apa yang telah kita miliki. Apa yang telah kita miliki mungkin kita anggap biasa saja. Kita tidak menyadari betapa berharganya hal itu sampai itu diambil dari kita.
Dari hal sederhana ini, saya belajar untuk mensyukuri apa yang saya miliki. Keluarga yang saya miliki, kesehatan yang saya miliki, bakat/talenta yang saya miliki, teman-teman yang saya miliki, dan masih banyak lagi. Kita akan sulit sekali bersyukur jika kita selalu memfokuskan diri kita kepada hal yang tidak kita miliki. Karena itu, jangan lupakan kelebihan yang kita miliki, meskipun mungkin sangat sederhana, untuk kita syukuri. Mungkin bagi orang lain, kelebihan yang sangat sederhana itu sangatlah besar artinya. Rumput tetangga boleh lebih hijau, tapi jangan lupa buah kebun kita lebih manis. Setiap orang pasti mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Lihatlah semuanya secara seimbang, dan marilah kita syukuri apa yang kita miliki.
Menabung Kebaikan
Posted by Charles
Apa yang terlintas di benak Anda jika mendengar kata “menabung”? Sebagian besar orang akan berpikir tentang “uang” atau tentang “bank”. Tidak dapat dipungkiri, di zaman sekarang ini, uang menjadi suatu hal yang sangat penting bagi banyak orang. Katanya, “Zaman sekarang, apa sih yang ga pake duit?”. Banyak orang berpikir, uang sama dengan kuasa. Siapa yang punya lebih banyak uanglah yang akan lebih berkuasa. Tidak heran, banyak orang yang menginginkan mempunyai uang yang banyak.
Keinginan mempunyai uang yang banyak ternyata menjerumuskan sebagian orang ke dalam sifat egois mereka. Mereka mulai mencari banyak cara, dari yang putih, yang abu-abu, sampai yang hitam, untuk mendapatkan lebih banyak uang. Mereka akan menilai setiap hal yang mereka lakukan. “Apa untungnya ini bagiku? Kalau tidak ada untungnya, ngapain aku lakukan…”
Sayangnya, banyak orang yang hanya berpikir keuntungan jangka pendek.
- Seorang karyawan yang mendapatkan gaji sejumlah tertentu untuk bekerja selama 8 jam sehari, merasa rugi jika suatu hari perusahaan meminta mereka lembur tanpa tambahan gaji.
- Seorang pebisnis yang menjual suatu barang, merasa rugi jika sang customer meminta service secara cuma-cuma.
- Seorang siswa merasa rugi mempelajari bab yang tidak ikut diujikan di ujian.
- Seorang wajib pajak merasa rugi jika berlaku jujur melaporkan semua penghasilannya yang berujung pada semakin banyaknya pajak yang harus dibayar.
- Bahkan, seorang bisa merasa rugi jika dia harus memberikan persembahan atau sedekah yang seharusnya dia lakukan.
Mereka semua berpikir, “Melakukan ini tidak akan menambah kekayaanku saat ini. Melakukan ini malah mengurangi kekayaanku saat ini.”
Saat ini, saya ingin mengajak Anda berpikir secara berbeda. Marilah kita berpikir untuk keuntungan jangka panjang…
- Jika Anda sebagai seorang karyawan yang mendapatkan gaji sejumlah tertentu untuk bekerja selama 8 jam sehari, dan suatu hari perusahaan meminta Anda lembur tanpa tambahan gaji. Lakukanlah dengan senang hati, dan mungkin saja Anda mendapatkan promosi yang lebih cepat dan lebih tinggi karena bos menilai Anda seorang yang rajin, tulus, dan berharga bagi perusahaannya.
- Jika Anda sebagai seorang pebisnis yang menjual suatu barang, dan suatu hari sang customer meminta service secara cuma-cuma. Lakukanlah dengan senang hati, dan mungkin saja sang customer akan membeli barang lainnya dari Anda karena mereka puas dengan service yang Anda berikan.
- Jika Anda sebagai seorang siswa yang akan ujian dengan bahan 8 bab tapi sang guru meminta Anda mempelajari bab kesembilan juga. Lakukanlah dengan senang hati, dan mungkin Anda bisa mendapatkan cara yang jauh lebih cepat dan mudah untuk mengerjakan sebuah soal, yang hanya dijelaskan di bab kesembilan.
- Jika Anda sebagai seorang wajib pajak, dan Anda diminta untuk berlaku jujur melaporkan semua penghasilan Anda yang akan berujung pada semakin banyaknya pajak yang harus Anda bayar. Lakukanlah dengan senang hati, dan Anda tidak akan terjerat masalah hukum yang mungkin dialami wajib pajak yang tidak jujur suatu hari nanti.
- Jika Anda diminta untuk memberikan persembahan atau sedekah yang seharusnya Anda lakukan. Lakukanlah dengan senang hati, besar upahmu di Surga.
Ketika kita mulai berpikir hal-hal jangka panjang, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa ternyata tidak hanya uang yang dapat kita tabung. Kita dapat menabung kebaikan, yang mungkin tidak menguntungkan kita saat ini, tapi dapat menguntungkan kita di masa mendatang.
Kalau begitu, mungkin Anda bertanya-tanya, “Kalau begitu, itu namanya pamrih dong? Mengharapkan imbalan atau balasan di masa depan…”
Well, sangat baik jika Anda adalah seorang yang bisa melakukan sesuatu dengan tulus tanpa pamrih sedikit pun. Namun, realitanya, sangat sedikit orang yang bisa melakukan segala sesuatunya dengan benar-benar tulus. Jika Anda jujur, Anda pasti akan menemukan alasan dari setiap hal yang Anda lakukan, yang ujung-ujungnya hampir pasti adalah untuk kesenangan Anda.
Apakah selalu salah jika menyenangkan diri sendiri? Ini semua tergantung bagaimana kita memaknainya. Saya pribadi berpikir tidak salah menyenangkan diri sendiri, jika kesenangan kita tersebut adalah kesenangan orang lain juga. Kalau istilah kerennya, win-win solution. Dan, yang paling utama, bagaimana menjadikan kesenangan Tuhan menjadi kesenangan kita.
Jadi, mari kita sikapi kejadian yang terjadi di hidup kita dengan cara pandang yang baru, cara pandang jangka panjang. Marilah kita mulai menabung kebaikan sebanyak-banyaknya yang memberikan nilai tambah bagi orang lain… Dan bersiap-siaplah untuk melihat banyak “bunga” yang mungkin tidak Anda duga dari tabungan kebaikan yang Anda lakukan.
Inilah Caranya Bagaimana Kita Bisa Senang Senantiasa
Posted by Charles
Ada satu quote yang membuat saya berpikir. Quote itu adalah quote Arvan Pradiansyah yang saya dapatkan dari sebuah siaran radio. Quote itu berbunyi “If you want to be happy, be happy now!”
Awalnya saya berpikir quote itu hanyalah sebuah tagline yang digunakan oleh Arvan Pradiansyah, seolah-olah setiap motivator harus memiliki tagline-nya sendiri-sendiri. Seperti Mario Teguh yang “super”, Tung Desem Waringin yang “dahsyat”, atau quote “see you at the top” yang digunakan Bong Chandra. Demikian pula seorang Arvan Pradiansyah menggunakan tagline “If you want to be happy, be happy now!” dalam programnya: “Smart Happiness”.
Saya tidak tahu mengapa Arvan Pradiansyah memilih menggunakan quote tersebut. Tetapi, saya melihat ada kebenaran dari quote tersebut. “If you want to be happy, be happy now!” Ya… Jika kamu ingin menjadi senang, menjadi senanglah sekarang! Atau, dengan kata lain, kesenangan adalah suatu pilihan yang dapat kita pilih setiap saat. Kitalah yang menentukan apakah kita akan menjadi senang atau tidak, bukan lingkungan kita.
Banyak orang yang menggantungkan kesenangannya pada apa yang terjadi pada dirinya. Jika saya mendapatkan untung banyak, saya akan menjadi senang. Ketika suatu saat dia rugi, dia tidak bisa senang lagi.
Suatu hari, saya dan beberapa teman saya ingin menonton sebuah film di bioskop. Seorang teman saya yang membelikan tiket untuk kami. Ternyata, karena banyaknya penonton yang ingin menonton film itu, tinggal tersisa dua baris kursi terdepan. Bagi yang pernah menonton bioskop pasti tahu bahwa baris-baris terdepan adalah baris-baris yang paling tidak enak untuk menonton film. Namun, apa boleh buat, teman saya pun membeli tiket untuk kursi-kursi yang ada di baris kedua dari depan tersebut.
Selanjutnya, ketika teman saya yang membeli tiket ini memberitahu teman-teman yang lain bahwa kami harus duduk di baris depan, berbagai respon pun muncul. Ada yang menyalahkan dia kenapa dia tetap membeli tiket, ada yang mengumpat, ada yang marah-marah, dan ada yang diam saja. Intinya, sebagian besar dari mereka merespon negatif terhadap berita ini. Mereka sudah yakin mereka tidak akan senang menonton film itu. Kenapa? Karena mereka membiarkan lingkungan mereka yang mengontrol kesenangan mereka. Mereka sudah menetapkan bahwa mereka akan senang kalau filmnya bagus dan mereka dapat menonton dengan enak dari baris belakang.
Lalu, bagaimana seharusnya meresponi kabar buruk tersebut? Menurut saya, akan sangat baik kalau kita menetapkan “apa pun yang terjadi pada saya, saya akan selalu mencari hal positif dari peristiwa itu, dan hal itu akan membuat saya senang”. Saya yakin, di setiap peristiwa buruk pasti ada hal positif yang bisa diambil. Contohnya, pada kasus di atas, bisa saja hal positifnya adalah pengalaman duduk di bagian depan bioskop yang mungkin suatu saat nanti bisa diceritakan ke teman-teman kita.
Jadi, kesenangan itu adalah sebuah pilihan, dan kita dapat memilih secara sadar apakah kita akan senang atau tidak senang. Saya memilih untuk senang, dan mengambil hal positif dari segala hal yang terjadi dalam hidup saya. Bagaimana dengan Anda?
Buatlah Hal Itu Semudah Mungkin untuk Dilakukan
Posted by Charles
Seringkali, kita tidak termotivasi melakukan sesuatu karena kita menganggap pekerjaan itu terlalu rumit untuk dilakukan. Hal itu membawa kita kepada banyak pertimbangan, dan membuat kita sulit untuk memulai.
Tapi, bagaimana jika pekerjaan itu adalah pekerjaan yang mudah dan sederhana? Kita akan lebih mudah untuk memulai tanpa banyak pertimbangan yang kadang tidak masuk akal. Kita akan melakukannya segera, karena pekerjaan itu cukup mudah untuk kita lakukan.
Oleh karena itu, saya belajar, untuk membuat saya termotivasi melakukan suatu pekerjaan besar, bagilah pekerjaan tersebut menjadi pekerjaan-pekerjaan kecil yang sederhana, yang membuat saya memulai mengerjakannya dengan segera.
Pekerjaan Linear dan Pekerjaan Eksponensial
Posted by Charles
Waktu menunjukkan pukul setengah satu siang ketika ayah saya sibuk mencari sebuah brosur di ruang kerjanya. Dia harus segera pergi untuk bertemu klien jam 2 siang itu. Ruang kerja itu sebenarnya tidak terlalu besar, tetapi penuh dengan tumpukan-tumpukan kertas yang tidak tertata rapi. Setelah menghabiskan waktu selama kurang lebih 15 menit dan mencari di tiga sudut berbeda, ayah saya masih belum dapat menemukan brosur yang dicari tersebut. Saya mulai mencoba membantu, tetapi nampaknya tidak banyak berguna karena saya pun tidak tahu wujud dari brosur itu.
Ayah saya mulai mengingat-ingat kembali, membongkar lemari, membuka kardus-kardus, dan memeriksa map-map yang ada. Tapi, brosur itu masih belum terlihat, setidaknya sampai ayah saya mencari di tengah salah satu tumpukan kertas yang tingginya mencapai setengah badan saya di pojok ruangan. Wujud brosur itu terlihat sekilas di tengah-tengah tumpukan. Ayah saya menjadi lebih lega. Tumpukan itu dibongkar, dan brosur itu akhirnya ditemukan juga. Lebih dari setengah jam waktu telah dihabiskan untuk mencari sebuah brosur. Waktu yang sebenarnya dapat dikurangi hingga kurang dari satu menit jika brosur-brosur itu telah ditata dengan rapi.
Kejadian itu yang membuat saya berpikir mengenai sebuah konsep tentang pekerjaan yang saya namakan “pekerjaan linear” dan “pekerjaan eksponensial”. Saya tidak akan membahas definisi dari “pekerjaan linear” dan “pekerjaan eksponensial”. Saya yakin, Anda dapat memahami konsep ini dengan lebih sederhana melalui contoh-contoh. Jangan pula terlalu dipusingkan tentang namanya, karena penamaan itu saya buat hanya untuk memudahkan penyebutan saja.
Dalam kasus di atas, “pekerjaan linear”-nya adalah “mencari brosur”. Sedangkan, “pekerjaan eksponensial”-nya adalah “merapikan brosur-brosur yang ada sehingga menjadi mudah dicari”.
“Belajar” adalah pekerjaan linear. “Belajar cara belajar yang efektif dan efisien” adalah pekerjaan eksponensial.
“Membajak sawah” adalah pekerjaan linear. “Menciptakan/membeli traktor untuk membajak sawah” adalah pekerjaan eksponensial.
“Mengerjakan suatu pekerjaan” adalah pekerjaan linear. “Melatih banyak orang untuk melakukan pekerjaan itu untuk Anda” adalah pekerjaan eksponensial.
“Menyalin selembar artikel sebanyak 10 kali” adalah pekerjaan linear. “Mengetik artikel tersebut sekali, dan mencetaknya 10 kali” adalah pekerjaan eksponensial.
“Menceritakan isi pikiran Anda kepada banyak orang” adalah pekerjaan linear. “Menuliskan isi pikiran Anda di dalam blog di Internet yang dapat diakses banyak orang” adalah pekerjaan eksponensial.
“Menghitung” adalah pekerjaan linear. “Menciptakan/membeli kalkulator” adalah pekerjaan eksponensial.
“Mengangkat barang dari lantai 1 ke lantai 4” adalah pekerjaan linear. “Menciptakan/membeli, serta memasang katrol untuk mengangkat barang tersebut dari lantai 1 ke lantai 4” adalah pekerjaan eksponensial.
Daftar di atas dapat terus dikembangkan dengan contoh-contoh Anda sendiri…
Nah, sekarang apakah Anda sudah memahami apakah “pekerjaan linear” dan “pekerjaan eksponensial” yang saya maksudkan dari contoh-contoh di atas? Intinya, pekerjaan yang perlu Anda lakukan yang bersifat berulang biasanya adalah “pekerjaan linear”, seperti belajar, mencari uang, menghitung, dll. Sedangkan, “pekerjaan eksponensial” adalah suatu pekerjaan yang dapat membuat pekerjaan linear dapat dilakukan dengan jauh lebih mudah. Jika pekerjaan eksponensial ini telah dilakukan, setiap pekerjaan linear akan dapat dilakukan puluhan kali, ratusan kali, bahkan ribuan kali lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Sekarang Anda bayangkan, brosur yang sudah tersusun rapi di dalam lemari. Mencari sebuah brosur dapat dilakukan dalam waktu 1 menit. 30 kali lebih cepat dibandingkan sebelumnya (30 menit). Seandainya akan dicari 60 buah brosur, perbandingannya akan semakin jelas, yaitu 1 jam dan 30 jam!
Ada orang-orang yang menyebut “pekerjaan eksponensial” ini adalah “kerja cerdas”. Tipikal dari “pekerjaan eksponensial” adalah dibutuhkan otak/kecerdasan untuk memikirkan bagaimana “pekerjaan linear” dapat dilakukan dengan jauh lebih mudah, cepat, dan baik.
Biasanya, sebuah “pekerjaan eksponensial” jauh lebih sulit dan lama untuk dilakukan jika dibandingkan dengan sebuah “pekerjaan linear”. Contohnya saja, kasus mencari brosur tadi. Untuk merapikan brosur-brosur tersebut (pekerjaan eksponensial), mungkin dibutuhkan waktu seharian, atau bahkan berhari-hari. Sedangkan, untuk mencari satu brosur secara normal dibutuhkan waktu 30 menit. Pekerjaan ini barulah menguntungkan jika Anda sangat sering mencari brosur. Jika Anda hanya perlu sekali saja mencari brosur dalam setahun, maka pekerjaan eksponensial ini tidak menguntungkan. Jadi, penting juga untuk menilai apakah suatu “pekerjaan eksponensial” layak untuk dilakukan.
So, saat ini carilah apa “pekerjaan linear” yang banyak memakan waktu dan tenaga Anda. Apa pekerjaan yang Anda sering lakukan berulang-ulang? Carilah dan lakukanlah “pekerjaan eksponensial” yang dapat membuat “pekerjaan linear” Anda tersebut dapat dilakukan dengan jauh lebih mudah, cepat, dan efisien.
Terakhir, saya ingin mengutip sebuah quote yang menjadi salah satu prinsip saya dalam bekerja. Memang prinsip ini tidak dapat diterapkan ke semua pekerjaan, tetapi Anda dapat menerapkannya untuk beberapa pekerjaan, dan hasilnya akan menjadi luar biasa. Prinsip itu adalah…
Do it once, the rest is automatic.
Lakukan “pekerjaan eksponensial” sekali, dan biarkan “pekerjaan linear” Anda dilakukan secara otomatis oleh hasil dari pekerjaan eksponensial Anda.
Mencapai Target, Tapi Tidak Bahagia
Posted by Charles
Pada dasarnya, sifat manusia memanglah tidak pernah merasa puas. Contohnya, suatu hari, satu orang menetapkan dia akan senang kalau dia mendapatkan uang satu juta rupiah. Nyatanya, sebulan kemudian, ada orang yang memberinya satu juta rupiah kepadanya, tetapi ternyata dia tidak menjadi bahagia. Kenapa? Karena orang itu memberi tetangganya dua juta rupiah. Ternyata, sebulan yang lalu, tetangganya juga ditanya sebuah angka yang dapat membuatnya bahagia, dan tetangganya memberikan angka dua juta rupiah.
Kenyataan bahwa dia mendapatkan uang satu juta rupiah adalah sebuah anugerah. Dan, angka itu pun sudah sesuai dengan harapannya. Namun, mengapa dia tidak juga bahagia? Karena dia membandingkan apa yang dia dapatkan dengan apa yang didapat orang lain. Atau, dia membayangkan sebenarnya dia bisa mendapatkan lebih besar dari itu, seandainya dia mengatakan angka yang lebih besar di masa lalu.
Pelajaran yang dapat diambil: Syukuri apa yang kita dapatkan sekarang, dan perbuatlah apa yang terbaik yang dapat kita lakukan sekarang, dan jangan pernah menyesalinya di kemudian hari. Jangan pernah menyesali keputusan yang salah yang pernah kita lakukan di masa lalu, tapi jadikanlah hal itu sebagai pelajaran bagi kita, agar kita tidak mengulanginya. Lupakan rasa sakitnya, tapi jangan lupakan pelajarannya.
Rangkuman:
Jangan menyesali pencapaian target yang terlalu rendah. Syukurilah itu dan belajarlah dari pengalaman itu.
Dua Cara Untuk Menjadi yang Terbaik
Posted by Charles
Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk menjadi yang terbaik. Cara pertama adalah dengan menjatuhkan semua orang yang lebih baik dari kita, sehingga pada akhirnya kita menjadi yang terbaik. Cara kedua adalah dengan meningkatkan kualitas diri kita, sehingga kita bisa naik tingkat dan melebihi orang-orang yang lebih baik dari kita, dan pada akhirnya menjadi yang terbaik juga. Cara mana yang Anda pilih?
Ada sebagian orang yang tidak suka ketika melihat orang sukses, orang yang lebih baik dari diri mereka. Mereka merasa iri kepada orang-orang sukses tersebut. Mereka akan menjelekkan orang-orang sukses tersebut dan banyak membuat alasan untuk membenarkan diri mereka. Ada dua respon dari orang-orang dengan tipe ini. Respon pertama adalah mereka tidak akan pernah mau menjadi orang sukses (karena mereka tidak mau dipandang jelek… Ingat, mereka mengidentikkan sukses dengan sesuatu yang jelek). Respon kedua adalah mereka akan memilih cara pertama untuk mencapai sukses. Mereka akan berusaha untuk menjatuhkan sebanyak mungkin orang dan mendapatkan kepuasan dari kegagalan orang lain.
Sementara itu, ada pula sebagian orang lain yang menjadi terinspirasi ketika melihat orang sukses. Mereka akan belajar dari orang-orang sukses tersebut. Mereka termotivasi untuk terus mengembangkan diri mereka agar mereka dapat menjadi yang terbaik. Mereka adalah orang-orang yang memilih cara kedua untuk mencapai sukses.
Termasuk kelompok orang yang manakah Anda?
Saya pribadi sangat menganjurkan Anda memilih cara kedua untuk menjadi sukses, dan cara inilah yang saya pilih. Saya memilih untuk terus meningkatkan kualitas diri saya, sehingga saya dapat terus menjadi semakin baik, dan pada akhirnya menjadi yang terbaik.
Anjuran saya ini bukannya tanpa alasan. Apabila Anda memilih untuk menjatuhkan orang lain yang ada di atas Anda, berapa banyak orang-orang yang harus Anda jatuhkan? Selain itu, Anda pun tidak akan menjadi lebih baik. Yang ada adalah Anda membuat orang lain menjadi lebih buruk. Karena Anda tidak menjadi lebih baik, meskipun Anda sudah menjatuhkan semua orang yang ada di atas Anda, Anda akan dapat dilewati kembali dengan mudah oleh orang-orang yang memilih cara kedua, yang terus mengembangkan dirinya menjadi lebih baik. Selain itu, tentulah menjatuhkan orang lain adalah sebuah perbuatan yang tercela.
Bedakan jika Anda memilih cara kedua dan terus meningkatkan diri Anda. Anda belajar dari yang terbaik. Anda juga membantu orang-orang yang ada di bawah Anda untuk terus naik. Karena Anda terus meningkatkan diri Anda melebihi yang lain, Anda akan menjadi yang terbaik pada akhirnya. Ketika Anda sudah sampai pada posisi puncak, posisi Anda akan jauh lebih sulit digeser dibandingkan Anda menjadi puncak dengan cara pertama. Selain itu, tindakan Anda yang turut memajukan orang lain adalah sebuah perbuatan yang terpuji.
So, daripada menjadi tertekan dan iri hati, terinspirasilah oleh orang-orang yang lebih sukses dari Anda. Belajarlah dari mereka dan terus tingkatkan kualitas diri Anda. Jadilah yang terbaik dengan cara yang terpuji.
P.S. Untuk menjadi yang terbaik di bidang Anda, sangat penting bagi Anda untuk melakukan hal yang Anda sukai. Kenapa? Karena jika Anda tidak menyukai yang Anda lakukan, motivasi Anda untuk melakukan hal itu akan selalu kalah dibandingkan motivasi orang-orang yang menyukai hal-hal yang mereka lakukan. Akhirnya, hasil yang diberikan oleh orang-orang yang menyukai pekerjaan mereka akan lebih baik dibandingkan hasil yang diberikan oleh orang-orang yang tidak menyukai pekerjaan mereka. Jadi, tentukanlah terlebih dahulu bidang yang Anda sukai, dan jadilah yang terbaik pada bidang tersebut.
Termotivasi Karena Fokus pada Tujuan
Posted by Charles
Di tengah kelelahan dan kaki yang sudah pegal-pegal, saya berjalan menyusuri jalan Bandengan menuju rumah saya di daerah Pluit. Sebelumnya, saya sudah menyusuri jalan Angke dan berputar-putar di Sawah Lio. Bagi beberapa orang berjalan beberapa kilometer sudah menjadi hal biasa. Sebenarnya saya juga cukup biasa jalan kaki, tetapi jarak yang saya tempuh saat ini lebih jauh dari yang biasa saya jalani.
Jam saya menunjukkan pukul sepuluh malam. Ingin rasanya saat itu saya memanggil bajaj dan pulang dengan bajaj, namun sayangnya sudah tidak ada lagi bajaj yang lewat. Daripada saya berdiam diri dan menunggu bajaj lewat, saya memutuskan untuk berjalan kaki. Selangkah kaki saya dapat mendekatkan diri saya pada tujuan saya, yaitu rumah saya.
Tidak terasa, saya sudah sampai pada perempatan Jembatan Tiga. Kaki saya sudah sangat pegal, tetapi langkah konstan yang saya lakukan membuatnya terus bertahan. Ternyata hukum Newton benar juga, benda yang bergerak akan cenderung untuk terus bergerak. Kaki saya yang sudah bergerak cenderung untuk terus bergerak. Awalnya memang sulit, tetapi ketika sudah mencapai tengah, langkah kaki semakin enteng.
Langkah kaki yang enteng tidak mengurangi rasa pegal pada kaki saya. Rasanya, ingin sekali saya beristirahat. Ingin sekali saya naik kendaraan umum. Namun, motivasi saya kian menguat ketika saya melihat dari kejauhan sebuah jembatan penyeberangan yang tidak jauh dari rumah saya. Ya, saya sudah melihat jembatan penyeberangan itu, dan setiap langkah yang saya lakukan akan mendekatkan diri saya pada jembatan itu. Itu artinya, sebentar lagi saya sampai! Semangat saya kembali berkobar, sampai akhirnya saya mencapai jembatan penyeberangan tersebut.
Dari jembatan penyeberangan tersebut, saya melihat di kejauhan, kompleks rumah saya. Ya, sedikit lagi saya akan sampai di kompleks rumah. Saya pun semakin semangat, melihat kompleks rumah saya yang semakin lama semakin besar, menandakan jarak saya yang semakin dekat dengannya.
Akhirnya saya mencapai gerbang kompleks rumah saya. Dan di kejauhan, saya melihat rumah saya. Inilah tujuan akhir saya. Akhirnya sebentar lagi saya sampai di rumah. Dan benar saja, saya akhirnya sampai di rumah. Sungguh betapa leganya saya ketika saya sampai di rumah. Tidak saya sangka, saya dapat mengatasi rasa pegal yang saya alami, dan dapat berjalan kaki dari Bandengan sampai ke rumah saya di Jembatan Tiga, setelah perjalanan panjang yang saya lalui sebelumnya dengan berjalan kaki juga.
Saya berpikir, terkadang hidup ini pun seperti itu. Kadang kita kehilangan semangat kita menjalani hidup ini. Namun, yang mungkin tidak kita sadari, ketika kita melihat diri kita semakin dekat dengan tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang kita, kita memiliki semangat ekstra. Kita memiliki motivasi lebih untuk mencapai tujuan kita. Itulah pentingnya kita memiliki tujuan dalam hidup ini. Tujuan yang dapat diukur, dan kita harus senantiasa mengevaluasinya. Ketika kita menyadari, bahwa langkah-langkah hidup kita membawa kita semakin dekat dengan tujuan, masalah-masalah yang kita alami dalam melangkah di dalam hidup ini menjadi tidak berarti lagi. Yang ada hanyalah semangat untuk mencapai tujuan hidup yang telah kita tetapkan.
Rangkuman:
Hal itu dapat menjadi motivasi dan semangat bagi kita, ketika kita melihat diri kita semakin dekat dengan tujuan.
Tulisan Kategori “Pemikiran Pribadi”
Posted by Charles
Setiap hari, ada banyak peristiwa yang saya lewati. Tidak jarang, ketika saya mengalami suatu peristiwa, tiba-tiba melintas di kepala saya hal-hal yang saya dapat pelajari dari peristiwa tersebut. Peristiwa itu mungkin hanyalah sebuah peristiwa sederhana, yang ditemui oleh banyak orang setiap hari. Tetapi, jika kita melihat lebih dalam, ternyata ada banyak hal yang dapat dipelajari dari sebuah peristiwa sederhana.
Semangat inilah yang mendorong saya di awal untuk membuat sebuah blog dengan salah satu tagline “belajar dari kehidupan”. Saya percaya, kita semua adalah pembelajar seumur hidup kita, dan jika kita mau berpikir sejenak, ada banyak sekali hal-hal berharga yang dapat kita pelajari dari kehidupan ini, dari keseharian kita.
Mulai hari Senin mendatang, setiap hari Senin, teman-teman akan menemukan sebuah tulisan yang murni merupakan hasil pemikiran pribadi saya. Pemikiran yang mungkin muncul dari hal-hal sederhana yang terjadi dalam hidup saya. Pelajaran sederhana namun sangat berharga yang saya dapatkan dari kehidupan yang saya jalani.
Ya, ada banyak sekali hal yang terpikir begitu saja di kepala saya ketika saya menjalani keseharian saya. Bagaimana saya dapat mengambil lima hal positif ketika saya melihat pedagang-pedagang di dalam kereta, bagaimana saya belajar mengampuni dari menonton sepak bola, bagaimana saya berpikir tentang teman sejati, bagaimana saya belajar kerendahan hati dari tumbangnya Manchester United dan Chelsea, bagaimana saya belajar mensyukuri setiap makanan yang ada dari seorang anak kecil yang memakan sampah, apa yang saya pelajari dari kata-kata ayah saya tentang menggosok gigi, bagaimana saya belajar untuk lebih berhati-hati dari sakit sariawan yang saya derita, bagaimana saya belajar mengambil hikmah dari kegagalan ujian saya, bagaimana saya belajar introspeksi diri sebelum mencari kesalahan orang lain, bagaimana saya belajar untuk mempersiapkan skenario terburuk yang mungkin terjadi, apa yang saya pelajari dari cara saya memesan makanan di rumah makan, bagaimana saya belajar tentang rasa sayang sejati, bagaimana saya berpikir tentang rasa kehilangan dan reward yang tidak adil, bagaimana saya belajar tentang cinta dari kekalahan yang diderita klub favorit saya, bagaimana saya belajar tentang efektivitas teguran dari sebuah papan di Stasiun Kota, bagaimana saya menciptakan sebuah quote yang sangat positif tentang kehilangan, bagaimana saya melihat gelas setengah isi dan setengah kosong dari sudut pandang yang baru, bagaimana saya belajar tentang kehidupan dari kematian orang-orang yang dekat dengan saya, dan masih banyak lagi.
Contoh-contoh di atas adalah tulisan “pemikiran pribadi” yang telah saya tuliskan di blog ini sampai saat ini. Tulisan yang bahkan telah menginspirasi saya pribadi ketika saya membacanya kembali.
Tulisan-tulisan seperti itulah yang akan teman-teman dapatkan di blog ini setiap hari Senin.
Banyak hal kecil yang terjadi di keseharian hidup kita yang sebenarnya memiliki arti yang dalam yang dapat kita pelajari untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tulisan-tulisan ini hanyalah sebagian kecil di antaranya…
Shortlink to this post: http://wp.me/p6dQc-gN

