Sep 1

Judul di atas adalah sebuah quote yang cukup populer. Mungkin awalnya ada dari Anda yang tidak menyetujui quote tersebut. Masakan kita bisa atau tidak bisa berdasarkan apa yang kita pikirkan. Tidak dong, itu tergantung kemampuan kita, anugerah Tuhan, dan lain-lain (yang sebenarnya itu semua benar juga).

Saya pun awalnya berpikir seperti itu. Wah, betapa enaknya kalau quote ini benar. Saya tinggal berpikir, “Saya juara kelas”, maka saya akan menjadi juara kelas. Ketika saya berpikir, “Saya bisa jadi miliarder”, maka saya akan menjadi miliarder.

Kesalahan orang biasanya (termasuk saya dahulu) adalah menganggap semua proses itu akan didapatkan secara instan. Ketika saya berpikir “saya juara kelas”, saya mengharapkan saya bisa jadi juara kelas secara instan. Saya bisa tetap bermalas-malasan, tidak pernah belajar, tidak pernah mendengarkan guru… dan saya mengharapkan saya menjadi juara kelas karena saya percaya quote di atas. Saya mau katakan, ini sama sekali bukan yang dimaksud oleh quote tersebut. Quote tersebut bukanlah berbicara sesuatu yang supernatural dan instan. Ketika Anda berpikir Anda bisa, bukan berarti secara instan Anda pasti akan langsung bisa tanpa berusaha.

Namun demikian, saya percaya pada quote di atas. Saya akhirnya menemukan sebuah penjelasan yang masuk akal yang menjelaskan mengapa quote di atas bisa menjadi benar.

Yang dimaksud oleh quote di atas sebenarnya adalah mengenai fokus pikiran kita. Ketika kita memfokuskan diri kalau kita bisa, itu akan mempengaruhi kita. Seperti apa pengaruhnya? Pengaruhnya akan terlihat ketika kita mencari dan ketika kita gagal.

Pengaruh Pertama: Ketika Kita Mencari

Pengalaman ini saya dapatkan ketika saya mencari parkir di sebuah gedung parkir. Saya berpikir saya pasti akan mendapatkan tempat kosong dalam gedung parkir itu. Saya pasti akan mendapatkan parkir! Karena saya berpikir saya pasti mendapatkan parkir, itu membuat saya mengemudikan mobil lebih lambat, dan saya mencari ke sekeliling apakah ada tempat kosong. Karena saya fokus kepada tempat kosong, saya akan dapat melihat dengan mudah jika terdapat tempat kosong. Ini sama halnya ketika Anda fokus kepada warna merah, Anda akan melihat banyak warna merah di sekeliling Anda. Itu bukan karena warna merahnya yang bertambah banyak, tetapi karena Anda memfokuskan diri Anda pada warna merah. Akhirnya, tidak heran jika saya mendapatkan tempat kosong untuk parkir.

Pasti akan berbeda halnya jika saya berpikir sebaliknya, tidak ada tempat kosong di dalam gedung parkir tersebut. Jika saya berpikir begitu, mungkin saja dari awal saya akan enggan masuk ke dalam gedung parkir itu (yang membuat saya menyerah sebelum mencoba). Kalaupun saya masuk ke dalam gedung parkir itu, saya akan masuk dengan pesimis, mengemudikan mobil lebih cepat, kurang melihat sekeliling, dan ingin cepat-cepat keluar dari gedung parkir tersebut untuk membuktikan bahwa diri saya memang benar. Memang tidak ada tempat kosong lagi di dalam gedung parkir tersebut.

Ini akan membawa saya ke dalam sebuah dilema. Di satu sisi, saya ingin mendapatkan parkir. Di sisi lain, saya yakin tidak ada tempat kosong yang tersisa. Jika saya mendapatkan parkir, itu berarti keyakinan saya salah, dan semua orang tentu tidak senang kalau keyakinannya disalahkan. Jika saya tidak mendapatkan parkir, itu berarti saya akan bangga karena keyakinan saya benar, tetapi justru tujuan saya untuk mendapatkan parkir tidak tercapai. Mengapa saya harus menceburkan diri saya dalam dilema ini dengan bersikap pesimis?

Namun bukankah bersikap pesimis dapat mengurangi kekecewaan kita jika memang tidak ada tempat kosong lagi di dalam gedung parkir tersebut? Nah, ini dia kesalahannya. Kebanyakan orang berfokus pada mengurangi kekecewaan karena tidak mendapatkan, daripada berusaha terus untuk mendapatkan. Ini membawa saya pada pengaruh yang kedua…

Pengaruh Kedua: Ketika Kita Gagal

Jika saya berpikir pesimis, “Ah, tidak ada lagi tempat kosong di dalam gedung parkir itu…”, ketika pada akhirnya saya gagal dan tidak mendapatkan tempat parkir, saya akan semakin memperkuat keyakinan saya. “Tuh kan benar kata saya, tidak ada lagi tempat kosong…”, dan akhirnya mengurungkan niat saya untuk mencari tempat parkir lagi. Saya akan mudah menyerah. Tujuan saya tidak tercapai. Bahkan, di kesempatan berikutnya, saya akan menjadi semakin pesimis, mengingat kejadian-kejadian yang ada di masa lalu.

Namun, ketika saya berpikir “Saya pasti akan mendapatkan tempat parkir”, ketika saya mengitari gedung tersebut dan tidak mendapatkan tempat kosong, saya tidak akan mudah menyerah. Kurang lebih, yang saya katakan adalah seperti ini, “Ah masa sih, ga ada tempat kosong? Saya yakin ada kok… Mungkin tadi saya kelewatan. Saya akan coba cari lagi deh, kali ini lebih hati-hati.” Nah, akhirnya saya akan mencoba mencari lagi. Tentu kemungkinan mendapatkan tempat parkir jika kita mengitari gedung parkir dua kali akan lebih besar ketimbang hanya mengitari sekali. Tidak heran jika saya mungkin akan mendapatkan parkir ketika saya mengitari gedung parkir untuk kedua kalinya.

Jadi, “bisa” atau “tidak bisa” karena pikiran kita bukanlah sesuatu hal yang instan dan supernatural. Tapi, pikiran kita akan mempengaruhi tindakan kita. Dan, tindakan kita akan mempengaruhi hasil yang kita dapatkan.

Mari kita memfokuskan diri kita pada hal-hal yang positif, yang semakin mendekatkan diri kita pada tujuan hidup kita.

Tuhan memberkati kita semua.

Charles Christian


Aug 11

Egois sudah menjadi sifat dasar manusia. Setiap orang cenderung akan lebih memperhatikan dirinya sendiri dibandingkan orang lain. Salah satu contohnya, jika kamu melihat sebuah foto, siapakah yang akan pertama kali kamu cari? Jika kamu ada di dalam foto itu, kemungkinan besar yang kamu cari pertama kali adalah dirimu sendiri. Kenapa? Karena kamu ingin meyakinkan dirimu kalau kamu tampil baik di foto itu, atau jika kamu tampil jelek, kamu akan mencoba untuk mencegah foto itu untuk dilihat orang lain.

Jika kita menawarkan sesuatu kepada orang lain, seringkali kita hanya melihat kepentingan kita sendiri. Kita tidak memperhatikan kebutuhan orang yang kita tawarkan. Seringkali inilah yang menjadi masalah orang yang kita tawarkan menolak tawaran kita. Mereka berpikir, “Apa hubungannya denganku? Apa untungnya bagiku? Kenapa aku harus melakukan ini?”

Hal yang sama terjadi ketika kita mengobrol. Seringkali kita berbicara tentang diri kita. Kita menjadi semangat kalau kita sedang membicarakan topik yang kita sukai, atau tentang diri kita. Namun, ketika tiba saatnya untuk mendengarkan orang lain yang bercerita tentang dirinya dan hal yang dia sukai, kita menjadi kurang antusias. Padahal, itu adalah kesempatan kita untuk mengambil hati lawan bicara kita. Mereka akan senang kalau kita senang mereka berbicara tentang diri mereka.

Sekarang saya belajar, bahwa saya juga harus memperhatikan kepentingan orang lain, kebutuhan orang lain, dan jangan menjadi terlalu egois. Dengan memperhatikan kepentingan orang lain, kita bisa membuka pintu kerja sama dan komunikasi yang lebih baik lagi.


Jul 14

Michael Jordan memiliki sebuah catatan prestasi yang menarik. Dia rata-rata menghasilkan 32 poin untuk timnya dalam satu pertandingan basket. Ketika ditanya, bagaimana dia dapat melakukannya, dia menjawab, “Fokus saya adalah menciptakan 8 poin dalam setiap quarter. Karena ada 4 quarter dalam sebuah pertandingan, maka saya menghasilkan 32 poin dalam satu pertandingan.”

Memiliki mimpi yang besar itu sangat bagus. Tapi, terkadang mimpi yang besar membuat orang-orang yang mempunyai mimpi itu menjadi bingung bagaimana mereka dapat mencapainya. Seolah-olah, mimpi itu adalah suatu hal yang tak dapat dicapai oleh mereka. Kenapa? Karena mereka merasa mimpi itu terlalu besar untuk mereka.

Jadi, apa yang seharusnya mereka lakukan? Mereka harus membagi mimpi mereka ke dalam pekerjaan-pekerjaan yang lebih kecil yang mendukung mimpi mereka. Selanjutnya, mereka harus fokus melakukan pekerjaan yang lebih kecil tersebut, dengan harapan atau dengan sebuah visi untuk mencapai mimpi mereka yang lebih besar.

Anggaplah mimpi Michael Jordan adalah menghasilkan 36 poin dalam satu pertandingan. Untuk mencapainya, Michael membagi mimpinya ke hal yang lebih kecil, yaitu menghasilkan 9 poin dalam satu pertandingan.

Fokus untuk menciptakan 32 poin dalam satu pertandingan akan lebih sulit dibandingkan fokus untuk menciptakan 8 poin dalam satu quarter. Padahal, keduanya menghasilkan hasil akhir yang sama. Mengapa tidak kita memilih yang lebih mudah untuk kita lakukan?

Dalam relasi kita dengan Tuhan, memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan adalah sebuah mimpi yang besar.

Kita dapat membagi hal besar itu kepada beberapa hal yang lebih kecil. Mungkin hal yang lebih kecil itu adalah membina hubungan dengan Tuhan dalam saat teduh dan doa pribadi. Mungkin hal kecil yang lain adalah dengan mengasihi sesama. Dan lain-lain.

Bahkan, kita bisa membagi hal kecil tersebut ke dalam hal yang lebih kecil lagi. Kita dapat membagi “mengasihi sesama” menjadi hal-hal yang lebih kecil, seperti “mengasihi keluarga”, “mengasihi teman”, “mengasihi musuh”, dan lain-lain.

Mengasihi keluarga dapat di-break-down lagi menjadi menghormati orang tua, mengasihi saudara, dan lain-lain.

Kembali menghormati orang tua juga dapat di-break-down menjadi membantu orang tua, mendengarkan nasihat orang tua, menasihati orang tua dengan penuh kasih jika beliau salah, mengampuni kesalahan orang tua, dan lain-lain.

Terakhir, kita bisa membagi “membantu orang tua” ke dalam hal yang benar-benar kecil. Mungkin itu adalah menyapu lantai di rumah, membantu mengangkat barang belanjaan ketika orang tua pulang berbelanja, atau melakukan hal-hal yang menyenangkan hati mereka dengan penuh kasih.

Ketika kita menyapu lantai di rumah, membereskan tempat tidur kita, menyenangkan hati orang tua kita… Kita memang sedang melakukan hal-hal kecil. Tapi dengan hal-hal kecil itu, kita dapat mewujudkan mimpi kita yang terbesar, yaitu memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan.

Find God in the ordinary. Dalam melakukan semua hal kecil itu, temukan Tuhan di dalamnya. Rasakan hadirat Tuhan nyata dalam setiap perbuatan-perbuatan kecil yang kamu lakukan.

Apa mimpi besarmu saat ini?

Bagilah mimpi itu menjadi pekerjaan-pekerjaan yang lebih kecil. Lakukanlah pekerjaan itu dengan setia dan dengan visi untuk mencapai mimpi besarmu. Jangan lupa pula untuk senantiasa bersandar kepada Tuhan.

Semoga mimpimu dapat tercapai.

Charles Christian.


Jun 16

Kemarin, ketika saya sedang menjelajah internet, saya menemukan sebuah video yang lucu berikut.

Bagaimana komentar Anda ketika melihat kedua orang yang ada di eskalator tersebut? Banyak dari Anda mungkin berpikir kedua orang itu sungguh konyol. Ngapain juga teriak-teriak minta tolong dan sibuk mengeluh karena eskalator mati di tengah jalan? Kenapa mereka ga langsung aja naik sendiri dengan jalan kaki?

Kita mungkin gregetan ketika melihat tingkah kedua orang itu. Tapi, ternyata banyak dari kita yang melakukan hal yang sama dalam hidup kita. Berapa banyak orang yang sibuk mengeluh ketika menghadapi masalah? Berapa sering kita sibuk menyalahkan orang lain karena hal buruk yang menimpa kita?

Mungkin Anda berkata, tapi dia yang membuat saya mengalami hal buruk ini.

Ya, mungkin dialah yang menyebabkan hal buruk itu terjadi. Tapi, ketika kita menyalahkan orang lain, secara tidak langsung kita memberikan kontrol hidup kita kepada mereka. Merekalah yang menentukan nasib kita. Apakah kita menjadi sedih atau gembira, mereka yang menentukan. Kita seolah menjadi tidak punya kuasa atas hidup kita sendiri.

Jadi, daripada menyalahkan orang lain, lebih baik kita bertanggung jawab 100% atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Sebagai contoh, seorang guru pernah berkata, “Murid-murid saya begitu nakal… Mereka tidak akan pernah dapat diajar.” Jika sang guru terus berpikir muridnya yang salah, dia tidak sempat berpikir tentang mengubah dirinya sendiri. Dia akan terus dan terus menunggu muridnya berubah. Dan, kita tidak tahu kapan murid-murid itu akan berubah. Kita menjadi seorang yang pasif, berpikir kalau kita adalah korban dari kenakalan murid-murid itu.

Coba bandingkan dengan pola pemikiran berikut: “Tidak ada murid yang resisten. Yang ada hanya guru yang tidak fleksibel.” Ketika kita berpikir seperti ini, kita tidak akan tergoda untuk menyalahkan murid-murid itu. Ketika mereka tidak belajar dengan baik, kita sebagai guru akan berpikir, apa yang dapat saya lakukan untuk meningkatkan minat belajar mereka? Mungkin saya harus mengubah cara mengajar saya menjadi lebih menyenangkan. Mungkin saya harus lebih memperhatikan mereka. Dan lain-lain. Kali ini, kita mengambil tanggung jawab 100% dari apa yang terjadi. Kita tidak menyalahkan orang lain. Hasilnya? Kita menjadi mempunyai kuasa untuk mengubah keadaan, sesuatu yang jauh lebih pasti, yaitu dengan mengubah diri kita sendiri terlebih dahulu.

Kembali ke cerita eskalator tadi, orang itu tentunya tidak akan mendapatkan apa-apa jika mereka terus mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Menyalahkan orang lain takkan membawa mereka naik. Tapi, ketika mereka mulai berpikir, “Apa yang saya (ya, SAYA, bukan orang lain!) dapat lakukan untuk mengatasi masalah ini?”, mereka akan mulai menemukan cara. Mereka akan naik dengan kaki mereka sendiri, dan mengatasi masalah yang mereka hadapi.

Jadi, ketika kita menghadapi masalah, janganlah bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, kenapa masalah ini menimpaku? Kau sungguh tak adil…”. Melainkan, bertanyalah, “Tuhan, saya yakin Engkau punya rencana yang indah dari masalah yang engkau berikan kepada saya. Sekarang, apa yang dapat saya lakukan, Tuhan, untuk dapat menggenapi rencana-Mu tersebut?”

Mari kita berhenti mengeluh dan menyalahkan orang lain dan menjadi seorang korban yang lemah. Marilah kita mulai memikul tanggung jawab atas apa yang terjadi pada diri kita, berikan respon yang tepat, dan jadilah pemenang. Ketika kita berhenti mengeluh, kita akan menjadi seorang yang lebih kuat. :D


Jun 2

Kejadian ini terjadi di suatu hari yang cerah 2 tahun yang lalu. Seperti biasa, tidak ada bintang jatuh… Seperti biasa juga, saya pergi ke kampus pakai sendal, yang sebenernya saya tau tuh sendal uda rada ga bener, uda hampir putus, tapi karena saya yang keras kepala tetep aja saya pake tanpa sedikit pun rasa bersalah. Saya sampai di kampus dengan aman sentosa, sehat walafiat, tidak kekurangan suatu apa pun, setidaknya sampai terjadi tragedi itu.

Tragedi apa? Jadi ceritanya saya lagi turun tangga. Terus abis saya turun, ada genangan air ga jelas ada di depan WC (siapa sih yang pipis sembarangan di depan WC?), yang saya ga liat (saking rabunnya nih mata…). Dan genangan air itu berhasil membuat saya meluncur beberapa meter ke depan seperti maen ice skating dan membuat sendal saya bener-bener putus!!! Tuh genangan cuma gagal membuat saya jatuh, karena keseimbangan tubuh saya yang udah saya latih bertaon-taon dengan bertapa di atas gunung salak… (yang ini ga bener).

Okeh… Akhirnya sendal saya putus juga. Nyesel deh saya, napa saya tadi pagi masih keras kepala make tuh sendal. Trus sekarang, gimana saya bisa balik ke kos saya dengan sendal yang putus gitu? Huhuhu… Apa saya mesti ngesot2 atau nyeker ampe kaki berdarah2 ke kos saya??

 


Tiba2 terlintas sebuah ide brilian di otak saya. Yup, saya minta karet gelang atau lakban (bukan enem puluh rebo) aja sama pos satpam yang ada di depan gedung… Terus kan tinggal saya tempelin ke sendal saya… Lumayan lah. Oke… brilian sekali.

Akhirnya dengan ngesot2, saya berhasil sampe ke pos satpam di depan gedung…

“Pak… Ada karet gelang ga?” saya nanya.

“Wah… karet gelang ya?”, kata pak satpam sambil nyari2… “ga ada tuh… Coba kamu cari di dapur sebelah deh…”

“Nih pos satpam kesian banget. Karet gelang aja ga punya” pikir saya dalem hati. Tapi, yah daripada ngesot ampe kos, saya mendingan ngesot ke dapur sebelah. Dengan sedikit esotan, sampelah saya ke dapur sebelah. Saya buka pintunya, eh ada Pak Komar, janitor (karyawan/cleaning service –red) di kampus tercinta, yang lagi makan siang dengan enaknya. Saya berhasil mengganggu kenikmatan makan Pak Komar dengan sebuah pertanyaan:

“Pak Komar… Ada karet gelang ga?” saya nanya pertanyaan yang sama.

“Waduh… karet gelang ya…” Pak Komar langsung menghentikan kunyahannya dan langsung sibuk nyari2… “ga ada tuh…”

Setengah pasrah, saya nanya lagi, “kalo lakban ada ga pak?”

Setelah nyari2 n berhasil tidak menemukan sepotong lakban pun, Pak Komar menjawab, “Wah ga ada juga tuh… Buat apa sih?”

“Ini pak, sendal saya…” sambil nunjuk ke kaki yang lagi nginjek sendal putus dengan wajah memelas meminta belas kasihan.

“Wooh… itu mah ntar jelek klo dilakban… Lakban kan warna coklat. Sendalnya warna item…”

Dalem hati… “Gak peduli deh jelek2, yang penting gak usah ngesot2 ampe kos. Yang penting mengamankan kaki dulu dari kerikil2 tajem”. Akhirnya saya jawab, “Gapapa kok pak…”

“Eh, coba cari di satpam deh…”

Lagi2 dalem hati… “Duh2 Pak Komar… Tadi saya juga dari satpam… Ga ada pak!” Tapi karena Pak Komar juga keluar, saya ikutan keluar n ngesot lagi ampe pos satpam ngikutin Pak Komar. “Udah pak… ga ada di pos satpam”, lagi2 dalem hati…

Sampai di pos satpam yang tadi (lagi2 dengan beberapa esotan). Pak Komar nanya… “Woi, ada sendal jepit ga? Nih ada yang sendalnya putus”, terus dengan cepatnya sebuah sendal jepit uda ada di tangan Pak Komar…

Semua ide brilian saya langsung hancur… Jeger! Iya ya, ngapain juga saya minta2 karet gelang n lakban… Napa saya ga langsung aja minjem sendal jepit. Dodol…

Untung ada Pak Komar… Makasih pak. Ga jadi ngesot ampe kos deh, semoga ga akan pernah… hehehe.

Moral: Ide brilian kita belum tentu benar-benar brilian. :P

Ini adalah kisah saya yang saya tulis dua tahun yang lalu (dengan sedikit modifikasi). Menurut Anda, apakah peristiwa di atas tergolong keberuntungan atau ketidak-beruntungan? Saya dapat menganggap peristiwa di atas sebagai keberuntungan, karena peristiwa itu akhirnya menjadi sebuah pengalaman yang menarik dan lucu yang dapat saya ceritakan ke orang lain, termasuk kepada Anda saat ini. Jika sendal saya tidak putus saat itu, tidak ada kisah yang telah menghibur beberapa orang ini (emangnya menghibur ya? hehe).

OK, ini adalah satu contoh melihat sisi positif dari sebuah peristiwa. Peristiwa buruk di masa lalu, bisa saja menjadi peristiwa lucu yang menarik diceritakan sekarang. Jadi, peristiwa buruk di masa sekarang, bisa saja menjadi peristiwa lucu yang menarik di masa depan.

Saya pribadi percaya, setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup saya, entah itu baik atau buruk, pasti memiliki manfaat dalam membentuk diri kita menjadi seperti hari ini. Tuhan sudah merancangkannya untuk kebaikan kita. Jadi, apa pun yang terjadi pada diri kita saat ini, ada tujuan baik di balik semuanya itu. Mungkin kita tidak mengetahuinya sekarang. Kita akan mengetahuinya pada waktu-Nya. Saat itu, kita akan bersyukur bahwa kita sungguh beruntung memiliki Tuhan yang begitu baik dan penuh kejutan. Hei, mengapa harus menunggu saat itu untuk bersyukur? Saat itu pasti akan tiba. Bersyukurlah dari sekarang. :D


Apr 14

My Best Quotes

Posted by Charles

Berikut adalah kumpulan quote/status facebook original yang saya buat selama kurang lebih setengah tahun terakhir. They have inspired me, and may they inspire you, too… :D

23 September 2009 Banyak orang berpikir bunuh diri dapat mengakhiri kesulitan mereka. Namun, kenyataannya adalah bunuh diri mengubah kesulitan "sementara" di dunia menjadi kesulitan "kekal" di akhirat.

28 September 2009 Banyak "masalah" yang terjadi karena "salah paham". Banyak "salah paham" yang terjadi karena "kesalahan komunikasi". Banyak "kesalahan komunikasi" yang terjadi karena kurangnya kita belajar cara berkomunikasi yang baik.

30 September 2009 Emosi kita menentukan keputusan kita dan cara kita bertindak. Untuk mengambil keputusan dan cara bertindak yang bijak, kita harus mengontrol emosi kita terlebih dahulu.

1 Oktober 2009 I want to know and worship You, Lord, simply because You are my and only God.

12 Oktober 2009 Kunci untuk menjadi yang teratas adalah terus bergerak ke atas dan meminta bantuan kepada yang ada di atas, bukan menjatuhkan semua yang ada di atas.

13 Oktober 2009 Suatu hal yang salah yang kita lakukan tidak akan menjadi benar hanya karena orang lain juga melakukan kesalahan yang sama.

16 Oktober 2009 Bulan yang menjadi penerang di tengah malam takkan dapat bersinar tanpa matahari yang menjadi sumber cahayanya. Demikian pula manusia yang "menerangi" dunia ini takkan dapat berbuat apa-apa tanpa Tuhan yang menjadi sumber kekuatan mereka.

17 Oktober 2009 Ada orang turun tangga dari lantai 50 karena gempa. Pas sampai bawah gedungnya tetap berdiri kokoh. Respon #1: "Yaah, gedungnya ga roboh… Sia-sia deh gw turun tangga cape2". Respon #2: "Huff. Syukurlah gedungnya ga roboh… ^^" Mana respon yang kamu pilih?

18 Oktober 2009 To love someone is to keep a commitment.

21 Oktober 2009 Tell computer what you want it to do, and it will do for you much faster than you do… P.S. Don’t forget you have to use programming language and describe every single detail to communicate with it.

23 Oktober 2009 Banyak orang yang mencari perhatian dengan melakukan hal-hal yang buruk, karena mereka tidak mendapatkan perhatian yang cukup ketika mereka melakukan hal-hal yang baik dan benar. Mulailah memberi perhatian dan penghargaan kepada orang-orang yang melakukan hal yang baik dan benar, dan mereka akan terus melakukan hal baik tersebut dengan senang hati.

24 Oktober 2009 Sometimes, God let you lose many things in your life so that you can find Him as the only and ultimate source of joy.

30 Oktober 2009 Ketika suatu hari nanti kamu meninggalkan dunia ini, apa yang kamu ingin orang lain ingat tentang dirimu? Lakukanlah itu selagi kamu masih ada di dunia ini.

11 November 2009 When we blame someone, give excuses or justify other, we make the other people take control of what happened to us. So, instead of think like a victim, let’s take 100% responsibility for what happened to us, and it’ll give us power to change it to a better one.

14 November 2009 Tips memotivasi diri sendiri dari rasa malas dalam melakukan hal sepele untuk orang yang kita kasihi (misal: membantu orang tua): bayangkan betapa menyesalnya kita jika kita tidak sempat melakukan hal sepele tersebut di saat dia sudah tiada. Saya coba lakukan tips ini, dan cukup sukses memotivasi saya. :)

20 November 2009 "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." – Kita harus dapat mengasihi diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum kita dapat mengasihi sesama kita. :)

23 November 2009 Lakukan lebih dari apa yang orang lain ekspektasikan dari dirimu, dan kamu akan mendapatkan lebih dari yang kamu ekspektasikan. :)

30 November 2009 I believe that God guides my everyday’s life through His way and God’s way is always the best way, even though I don’t understand now. The only thing I need is to trust Him. :)

19 Desember 2009 Kegagalan adalah tanda kita harus belajar, bukan tanda kita harus menyerah.

21 Desember 2009 Tuhan membuat kita tidak nyaman berpijak di bulan agar kita dapat meninggalkan bulan dan menggapai bintang.

25 Desember 2009 Christmas is about Christ, who surprisingly came to our world. Be joyful. Be thankful. Be transformed. Merry Christmas. :)

18 Januari 2010 Janganlah kita pilihkan jalan hidup bagi orang lain, tapi bantulah dia mencapai keberhasilan tertinggi dalam pilihan hidupnya, selama pilihannya masih dalam jalan yang benar.

27 Januari 2010 Jangan hilangkan fondasi bangunanmu untuk mempertinggi bangunan itu. Uno Stacko selalu roboh karena prinsip ini dilanggar…

25 Februari 2010 Gunakan waktumu lebih banyak untuk pekerjaan "eksponensial" daripada pekerjaan "linear".

6 Maret 2010 The human brain is so powerful, but also, so weak. While the human brain can create many masterpieces, the same brain can also so easily be destroyed by one hit. Be grateful and use it wisely.

11 Maret 2010 Everyone has their own strengths and weaknesses.

12 Maret 2010 Different point of view blends with a missed communication may lead to a wrong assumption that may lead to broken relationship. Be careful with your mind, your saying, your intonation, and your body language.

16 Maret 2010 Sebuah pertanyaan untuk evaluasi diri: "Apakah orang-orang menunggu saat-saat bersamamu atau menghindari setiap pertemuan denganmu?"

Every status has its own background, so i can’t pick one that i love the most. They’re all my favorite in their own time. I’m so inspired, and I hope those quotes can inspire you, too. Have a better day. :)


Mar 24

UN Membawa Berkah

Posted by Aulia

ujian nasional

Ilustrasi : Suaramerdeka.com

UJIAN. Itulah sebuah kata yang sangat singkat namun ditakuti oleh banyak orang. Sebenarnya yang menjadi kekhawatiran adalah bukan saat menghadapi ujiannya tetapi gagal dalam melalui ujian. Begitu juga dengan ujian akhir nasional (UAN) yang bagi kebanyakan pelajar Indonesia masih dianggap sebagai momok yang sangat menakutkan. Sebenarnya UAN tidak perlu ditakuti selama telah melakukan persiapan dengan baik dan matang. (Harian Global, 24 Maret 2010)

Sepenggal kalimat itu telah memberikan satu pertanda, bahwa ada rasa yang kadang hilang dan lekang dari semangat pelajar bangsa ini.

Kekhawatian dan ketakutan, entah sejak kapan dua kata tersebut kian menjelma diantara dada-dada mereka untuk didengunkan dengan berlebihan dan bahkan sampai mengelar acara untuk sunggeman.

Tak dipungkiri, sungguh terasa perbedaan ujian dulu dan sekarang ini. Disaat era globalisasi dan juga perkembangan teknologi. Banyak siswa atau pun sang orang tua kadang lalai dalam membina generasinya.

Kalau kata seorang motivator kondang Indonesia, dalam sebuah persiapan butuh proses. Saat proses telah dijalani dengan baik, maka persiapan untuk menghadapai akan terasa tenang dan biasa.

Dari sinilah kita bisa belajar, bahwa proses selama tiga tahun menjalani pendidikan ditingkat menengah atas atau pertama butuh proses yang baik, butuh pendidik yang baik, yang bisa membangkitkan semangat peserta didik untuk bisa melihat fenomena dan apa yang akan dihadapi.

Tidak selamanya bimbingan berupa latihan soal dan soal, kadang ini membuat otak yang berpikir akan terasa kesumat dengan kesemua rumus dan hafalan dari buku-buku yang tebal dan juga mahal itu. Untuk itulah butuh proses awal yang baik dan bisa membantu mereka (siswa, -pen) dalam memahami dan memantapkan diri untuk siap menjawab soal.

Lulus atau tidak lulus, adalah pilihan yang telah dijalani selama proses. Semua kembali pada pribadinya dan juga lingkungan serta orang tua mereka. Semoga hidup di negeri yang penuh peraturan ini, tidak selalu menyalahkan yang di di atas sana (pemerintah, -pen) melainkan juga melihat dan mengukur kemampuan diri terlebih dahulu. Makin lama, tantangan makin besar dan itulah dia awal untuk menjadi generasi yang mampu menembus arus dari segala rintangan global. Lalu bagaimana dengan Anda?[]


Filed under: Ekstrakurikuler, News, Renungan Tagged: Berkah, Fenomena, Jawaban, Motivasi, Orang Tua, Proses, Siswa, Teknologi, Ujian Nasional
Mar 24

Sisi Positif dari Penderitaan

Posted by Charles

Penderitaan. Di saat banyak orang yang mengaitkan kata ini dengan sejumlah hal-hal negatif seperti “bencana”, “kemiskinan”, “kesakitan”, dan lain sebagainya, saya tertantang untuk berpikir, sebenarnya ada tidak ya hal positif dari penderitaan?

Banyak orang yang mengatakan bahwa dirinya menderita. Menderita karena sakit penyakit, menderita karena ditinggal orang yang dikasihi, menderita karena ditolak saat nembak, menderita karena ditipu orang, menderita karena ketiban bencana alam, menderita karena perbuatannya yang tidak baik ketahuan orang lain, menderita karena diejek orang lain, menderita karena kemiskinan, dan lain sebagainya. Sekilas, mendengar semuanya itu, yang terlintas di pikiran kita, penderitaan adalah sesuatu yang sangat jelek, dan tidak ada positif-positifnya. Ternyata tidak juga kawan… Ada hal yang sangat positif yang bisa diambil dari penderitaan. Namun sayangnya, tidak banyak orang yang melihat sisi positif ini.

Jadi, apa sisi positif dari penderitaan? Sisi positifnya adalah ketika kita bisa memanfaatkan penderitaan yang kita alami untuk memotivasi kita untuk melakukan hal-hal yang positif dalam kehidupan kita. Ketika kita menderita, badan atau hati kita akan terluka, dan hal itu akan menciptakan suatu emosi yang dapat mendorong kita untuk membuat kita keluar dari penderitaan tersebut. Namun tentunya kita harus dapat memanfaatkan emosi tersebut dengan baik, dan bukannya malah menjadi depresi.

Seorang Tung Desem Waringin contohnya. Beliau saat ini telah menjadi pelatih sukses nomor satu di Indonesia, menjadi orang yang sukses. Apabila beliau ditanya, “Apa resep sukses Anda?”, beliau akan menjawab bahwa salah satu resep suksesnya adalah karena dia mempunyai alasan yang sangat kuat (untuk menjadi sukses). Ternyata, alasan yang sangat kuat yang dimaksud oleh beliau itu didapatkan saat ayah beliau sakit, dan ternyata gaji sebulan beliau saat itu sebagai seorang kepala cabang BCA, tidak cukup untuk membiayai perawatan ayahnya selama satu hari. Akhirnya, sang ayah dipindah ke ruang kelas tiga (dari ruang kelas satu). Di sana, sang ayah berkata kepada beliau, “Tung… Kamu sudah tidak punya uang lagi ya? Papa sudah mau mati kok masih dipindah ke ruangan ini?” Di sanalah, seorang Tung Desem Waringin seperti tersambar petir, menyadari bahwa dia tidak mampu memberikan perawatan terbaik untuk ayahnya saat itu, dan dia berjanji untuk menjadi lebih sukses lagi. Kalau-kalau saja Tuhan masih memberikan kesempatan kepadanya untuk berbuat lebih banyak lagi untuk orang tuanya.

Ketika kita dihadapkan pada penderitaan, kita bisa memilih apakah kita menjadi “tertekan” oleh penderitaan kita dan menjadi depresi… Atau kita menjadi “tertantang” untuk berbuat lebih banyak lagi supaya kita tidak menderita lagi di masa yang akan datang. Penderitaan bisa dijadikan sebuah pengungkit untuk memotivasi kita menjadi lebih baik lagi. Dan tentunya, jika kita bisa bertahan melalui penderitaan itu, kita akan menjadi pribadi yang lebih kuat.


Mar 17

Menabung Kebaikan

Posted by Charles

Apa yang terlintas di benak Anda jika mendengar kata “menabung”? Sebagian besar orang akan berpikir tentang “uang” atau tentang “bank”. Tidak dapat dipungkiri, di zaman sekarang ini, uang menjadi suatu hal yang sangat penting bagi banyak orang. Katanya, “Zaman sekarang, apa sih yang ga pake duit?”. Banyak orang berpikir, uang sama dengan kuasa. Siapa yang punya lebih banyak uanglah yang akan lebih berkuasa. Tidak heran, banyak orang yang menginginkan mempunyai uang yang banyak.

Keinginan mempunyai uang yang banyak ternyata menjerumuskan sebagian orang ke dalam sifat egois mereka. Mereka mulai mencari banyak cara, dari yang putih, yang abu-abu, sampai yang hitam, untuk mendapatkan lebih banyak uang. Mereka akan menilai setiap hal yang mereka lakukan. “Apa untungnya ini bagiku? Kalau tidak ada untungnya, ngapain aku lakukan…”

Sayangnya, banyak orang yang hanya berpikir keuntungan jangka pendek.

  • Seorang karyawan yang mendapatkan gaji sejumlah tertentu untuk bekerja selama 8 jam sehari, merasa rugi jika suatu hari perusahaan meminta mereka lembur tanpa tambahan gaji.
  • Seorang pebisnis yang menjual suatu barang, merasa rugi jika sang customer meminta service secara cuma-cuma.
  • Seorang siswa merasa rugi mempelajari bab yang tidak ikut diujikan di ujian.
  • Seorang wajib pajak merasa rugi jika berlaku jujur melaporkan semua penghasilannya yang berujung pada semakin banyaknya pajak yang harus dibayar.
  • Bahkan, seorang bisa merasa rugi jika dia harus memberikan persembahan atau sedekah yang seharusnya dia lakukan.

Mereka semua berpikir, “Melakukan ini tidak akan menambah kekayaanku saat ini. Melakukan ini malah mengurangi kekayaanku saat ini.”

Saat ini, saya ingin mengajak Anda berpikir secara berbeda. Marilah kita berpikir untuk keuntungan jangka panjang…

  • Jika Anda sebagai seorang karyawan yang mendapatkan gaji sejumlah tertentu untuk bekerja selama 8 jam sehari, dan suatu hari perusahaan meminta Anda lembur tanpa tambahan gaji. Lakukanlah dengan senang hati, dan mungkin saja Anda mendapatkan promosi yang lebih cepat dan lebih tinggi karena bos menilai Anda seorang yang rajin, tulus, dan berharga bagi perusahaannya.
  • Jika Anda sebagai seorang pebisnis yang menjual suatu barang, dan suatu hari sang customer meminta service secara cuma-cuma. Lakukanlah dengan senang hati, dan mungkin saja sang customer akan membeli barang lainnya dari Anda karena mereka puas dengan service yang Anda berikan.
  • Jika Anda sebagai seorang siswa yang akan ujian dengan bahan 8 bab tapi sang guru meminta Anda mempelajari bab kesembilan juga. Lakukanlah dengan senang hati, dan mungkin Anda bisa mendapatkan cara yang jauh lebih cepat dan mudah untuk mengerjakan sebuah soal, yang hanya dijelaskan di bab kesembilan.
  • Jika Anda sebagai seorang wajib pajak, dan Anda diminta untuk berlaku jujur melaporkan semua penghasilan Anda yang akan berujung pada semakin banyaknya pajak yang harus Anda bayar. Lakukanlah dengan senang hati, dan Anda tidak akan terjerat masalah hukum yang mungkin dialami wajib pajak yang tidak jujur suatu hari nanti.
  • Jika Anda diminta untuk memberikan persembahan atau sedekah yang seharusnya Anda lakukan. Lakukanlah dengan senang hati, besar upahmu di Surga.

Ketika kita mulai berpikir hal-hal jangka panjang, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa ternyata tidak hanya uang yang dapat kita tabung. Kita dapat menabung kebaikan, yang mungkin tidak menguntungkan kita saat ini, tapi dapat menguntungkan kita di masa mendatang.

Kalau begitu, mungkin Anda bertanya-tanya, “Kalau begitu, itu namanya pamrih dong? Mengharapkan imbalan atau balasan di masa depan…”

Well, sangat baik jika Anda adalah seorang yang bisa melakukan sesuatu dengan tulus tanpa pamrih sedikit pun. Namun, realitanya, sangat sedikit orang yang bisa melakukan segala sesuatunya dengan benar-benar tulus. Jika Anda jujur, Anda pasti akan menemukan alasan dari setiap hal yang Anda lakukan, yang ujung-ujungnya hampir pasti adalah untuk kesenangan Anda.

Apakah selalu salah jika menyenangkan diri sendiri? Ini semua tergantung bagaimana kita memaknainya. Saya pribadi berpikir tidak salah menyenangkan diri sendiri, jika kesenangan kita tersebut adalah kesenangan orang lain juga. Kalau istilah kerennya, win-win solution. Dan, yang paling utama, bagaimana menjadikan kesenangan Tuhan menjadi kesenangan kita.

Jadi, mari kita sikapi kejadian yang terjadi di hidup kita dengan cara pandang yang baru, cara pandang jangka panjang. Marilah kita mulai menabung kebaikan sebanyak-banyaknya yang memberikan nilai tambah bagi orang lain… Dan bersiap-siaplah untuk melihat banyak “bunga” yang mungkin tidak Anda duga dari tabungan kebaikan yang Anda lakukan. :D


Mar 10

Ada satu quote yang membuat saya berpikir. Quote itu adalah quote Arvan Pradiansyah yang saya dapatkan dari sebuah siaran radio. Quote itu berbunyi “If you want to be happy, be happy now!”

Awalnya saya berpikir quote itu hanyalah sebuah tagline yang digunakan oleh Arvan Pradiansyah, seolah-olah setiap motivator harus memiliki tagline-nya sendiri-sendiri. Seperti Mario Teguh yang “super”, Tung Desem Waringin yang “dahsyat”, atau quote “see you at the top” yang digunakan Bong Chandra. Demikian pula seorang Arvan Pradiansyah menggunakan tagline “If you want to be happy, be happy now!” dalam programnya: “Smart Happiness”.

Saya tidak tahu mengapa Arvan Pradiansyah memilih menggunakan quote tersebut. Tetapi, saya melihat ada kebenaran dari quote tersebut. “If you want to be happy, be happy now!” Ya… Jika kamu ingin menjadi senang, menjadi senanglah sekarang! Atau, dengan kata lain, kesenangan adalah suatu pilihan yang dapat kita pilih setiap saat. Kitalah yang menentukan apakah kita akan menjadi senang atau tidak, bukan lingkungan kita.

Banyak orang yang menggantungkan kesenangannya pada apa yang terjadi pada dirinya. Jika saya mendapatkan untung banyak, saya akan menjadi senang. Ketika suatu saat dia rugi, dia tidak bisa senang lagi.

Suatu hari, saya dan beberapa teman saya ingin menonton sebuah film di bioskop. Seorang teman saya yang membelikan tiket untuk kami. Ternyata, karena banyaknya penonton yang ingin menonton film itu, tinggal tersisa dua baris kursi terdepan. Bagi yang pernah menonton bioskop pasti tahu bahwa baris-baris terdepan adalah baris-baris yang paling tidak enak untuk menonton film. Namun, apa boleh buat, teman saya pun membeli tiket untuk kursi-kursi yang ada di baris kedua dari depan tersebut.

Selanjutnya, ketika teman saya yang membeli tiket ini memberitahu teman-teman yang lain bahwa kami harus duduk di baris depan, berbagai respon pun muncul. Ada yang menyalahkan dia kenapa dia tetap membeli tiket, ada yang mengumpat, ada yang marah-marah, dan ada yang diam saja. Intinya, sebagian besar dari mereka merespon negatif terhadap berita ini. Mereka sudah yakin mereka tidak akan senang menonton film itu. Kenapa? Karena mereka membiarkan lingkungan mereka yang mengontrol kesenangan mereka. Mereka sudah menetapkan bahwa mereka akan senang kalau filmnya bagus dan mereka dapat menonton dengan enak dari baris belakang.

Lalu, bagaimana seharusnya meresponi kabar buruk tersebut? Menurut saya, akan sangat baik kalau kita menetapkan “apa pun yang terjadi pada saya, saya akan selalu mencari hal positif dari peristiwa itu, dan hal itu akan membuat saya senang”. Saya yakin, di setiap peristiwa buruk pasti ada hal positif yang bisa diambil. Contohnya, pada kasus di atas, bisa saja hal positifnya adalah pengalaman duduk di bagian depan bioskop yang mungkin suatu saat nanti bisa diceritakan ke teman-teman kita.

Jadi, kesenangan itu adalah sebuah pilihan, dan kita dapat memilih secara sadar apakah kita akan senang atau tidak senang. Saya memilih untuk senang, dan mengambil hal positif dari segala hal yang terjadi dalam hidup saya. Bagaimana dengan Anda? :D


Mar 3

Seringkali, kita tidak termotivasi melakukan sesuatu karena kita menganggap pekerjaan itu terlalu rumit untuk dilakukan. Hal itu membawa kita kepada banyak pertimbangan, dan membuat kita sulit untuk memulai.

Tapi, bagaimana jika pekerjaan itu adalah pekerjaan yang mudah dan sederhana? Kita akan lebih mudah untuk memulai tanpa banyak pertimbangan yang kadang tidak masuk akal. Kita akan melakukannya segera, karena pekerjaan itu cukup mudah untuk kita lakukan.

Oleh karena itu, saya belajar, untuk membuat saya termotivasi melakukan suatu pekerjaan besar, bagilah pekerjaan tersebut menjadi pekerjaan-pekerjaan kecil yang sederhana, yang membuat saya memulai mengerjakannya dengan segera.


Feb 28

Renungan: Dinding yang Kosong

Posted by Charles

Ada dua orang pasien pria yang menderita sakit parah. Mereka dirawat di rumah sakit yang sama. Pria pertama diizinkan duduk di tempat tidurnya setiap sore selama satu jam. Tujuannya adalah agar cairan dari paru-parunya bisa dikeluarkan. Tempat tidurnya terletak di dekat satu-satunya jendela yang ada di kamar itu. Sedang pria yang kedua harus selalu berbaring dalam keadaan terlentang. Karena di antara dua tempat tidur ada dinding pemisah yang cukup tinggi, pria yang tidur terlentang tidak bisa melihat ke jendela.

Kedua orang pria tersebut sering mengobrol. Macam-macam hal yang mereka bicarakan. Dari mengenai istri, keluarga, rumah, pekerjaan, wajib militer sampai tempat-tempat yang dikunjungi saat liburan. Sore hari, saat pria yang menempati tempat tidur dekat jendela diizinkan duduk, dia bercerita ke teman sekamarnya. Ia melaporkan apa-apa yang dilihatnya di balik jendela.

Pria yang hanya bisa terlentang lama-kelamaan bisa menikmati cerita temannya. Selama satu jam sehari, cara pandangnya diperluas dan dihidupkan kembali dengan mendengarkan tentang kegiatan dan warna-warni dunia luar. Jendela itu menghadap ke sebuah taman. Di taman itu juga ada sebuah danau yang indah dengan bebek-bebek dan angsa-angsa yang berenang di atasnya. Anak-anak bermain dengan mainan kapal layarnya. Pasangan suami isteri yang sedang dimabuk asmara berjalan sambil bergandengan tangan di antara bunga-bunga yang berwarna-warni bagaikan warna pelangi. Beberapa pohon besar tumbuh di atas rerumputan. Pemandangan indah kota terlihat dari kejauhan.

Pria yang berada di dekat jendela menceritakan semua ini dengan amat rinci. Pria yang mendengarkan, menutup matanya sambil membayangkan pemandangan-pemandangan yang dituturkan rekannya. Di suatu hari yang cukup terik, pria yang menempati tempat tidur dekat jendela melaporkan tentang sebuah pawai yang lewat di sana. Pria yang kedua tidak bisa mendengar musik bandnya. Namun, dia bisa melihat mereka dengan mata batinnya. Ia seakan melihat badut-badut yang menari-nari, bendera yang berwarna-warni serta mobil dan kuda yang dihias.

Hari pun berlalu. Di dalam hati pria yang tidak bisa melihat ke jendela diam-diam timbul rasa iri atas cerita-cerita yang disampaikan oleh teman sekamarnya, karena dia ingin sekali melihat sendiri semua yang diceritakannya. Dia pun mulai membenci teman sekamarnya, karena dia ingin sekali melihat sendiri semua yang diceritakannya. Dia pun mulai membenci teman sekamarnya dan merasa frustasi. Dia juga ingin menempati tempat tidur di dekat jendela!

Pada suatu pagi seorang juru rawat masuk ke kamarnya. Pria yang ditempatkan di dekat jendela ditemukan meninggal dengan tenang pada saat tidur. Dengan rasa sedih dia memanggil pegawai rumah sakit untuk memindahkan jenazahnya.

Setelah dianggap tepat waktunya, pria yang masih dirawat menanyakan apakah dia bisa dipindahkan ke tempat tidur dekat jendela. Perawat tidak berkeberatan untuk memindahkannya dan setelah yakin pasiennya dalam posisi yang aman, dia meninggalkannya sendirian. Pelan-pelan, sambil menahan rasa sakit, dia berupaya mengangkat tubuhnya dengan satu siku lengannya untuk melihat pertama kalinya dunia di luar jendela. Ia pikir, akhirnya dia bisa juga menikmati kebahagiaan saat melihat taman di luar dan semua kegiatan yang ada. Dia berusaha untuk melongok.

Namun ia menjadi amat terkejut karena ternyata yang dilihatnya hanya dinding yang kosong. Dia segera memanggil suster dan bertanya, “Bagaimana teman sekamar saya bisa melihat semua yang diceritakannya kepada saya? Bagaimana dia bisa menceritakan kepada saya tentang segala keindahan sampai yang sekecil-kecilnya, padahal saya hanya melihat dinding batu bata yang kusam!”

Perawat itu menjawab, “Lho, memang Bapak tidak tahu? Mantan teman sekamar Bapak kan buta, jadi dinding pun tidak mungkin bisa dilihatnya.” Kemudian sang perawat menambahkan, “Mungkin dia hanya ingin membesarkan hati Bapak saja.”

Apakah Anda bisa merasakan emosi yang terkandung dalam cerita ini?

Apakah pernah terpikir oleh Anda untuk menukar posisi Anda dengan posisi orang lain
Karena merasa iri kepada orang tersebut. Apakah Anda pernah merasa demikian kecewa, misalnya Anda menyangka sesuatu itu begitu indah, tetapi kenyataannya tidak seperti yang Anda bayangkan? Apakah Anda pernah diberi kata-kata pemberi semangat, tetapi Anda tidak pernah mau mensyukurinya?

Kalau hidup Anda terobsesi oleh segala yang dimiliki orang lain, maka Anda tidak merasakan indahnya hal-hal yang akan diberikan oleh orang lain kepada Anda.

Di zaman sekarang ini banyak sekali orang yang ingin memiliki apapun yang dimiliki orang lain. Ingin suami atau istri seperti yang dimiliki orang lain, ingin pekerjaan seperti pekerjaan orang lain, ingin penghargaan seperti yang telah diterima orang lain, ingin popularitas seperti yang diraih oleh orang lain, rumah yang dimiliki orang lain, posisi yang dimiliki oleh orang lain.

Sering pula mereka ingin hal-hal yang mereka anggap ada di dalam diri orang lain. Misalnya, kebahagiaan, rasa memiliki tujuan, kedamaian pikiran, rasa cinta dan kenyamanan. Yang sebenarnya adalah bahwa di setiap situasi pasti ada masalah, di setiap kehidupan pasti ada rintangan, di setiap hubungan pasti ada kesulitan, di setiap kesempatan pasti ada tantangan atau masalah yang berat. Pada dasarnya, pada setiap aspek yang positif selalu ada tandingannya yang bersifat negatif. Karena itu, tidak mungkin ada orang yang bebas dari masalah kehidupan.

Kalau begitu, bagaimana sikap kita dalam menghadapi hal ini?

Jadilah orang yang PANDAI BERSYUKUR untuk apa yang SUDAH ANDA MILIKI saat ini.

Bersikaplah POSITIF atas semua keadaan, karena KEBAHAGIAAN itu BUKAN DI LUAR DIRI tetapi ADA di DALAM DIRI.

Sumber: Jim Dornan, “Piano di Tepi Pantai”


Feb 18

Pelajaran Berharga

Posted by Charles

Saya belajar, apa yang saya anggap terbaik, belum tentu yang terbaik dari-Nya. Dan sebaliknya, yang terbaik dari-Nya belum tentu kita senangi. Teruslah bersyukur kepada-Nya atas semua nikmat dan karunia-Nya. Manusia hanya dapat terus berdoa dan berusaha untuk mendapat yang terbaik dari-Nya

Saya belajar, seberat apa pun cobaan yang diberikan oleh-Nya, pada akhirnya akan membuat

kita menjadi manusia yang lebih bertanggung jawab dan berguna. Syukurilah seluruh anugerah-Nya dengan hati ikhlas dan tulus. Everything happens, happens for a reason.

Saya belajar, bahwa kedewasaan itu lebih berkaitan dengan berapa banyak pengalaman yang kita miliki dan apa yang kita pelajari dari pengalaman tersebut, dan kurang berkaitan dengan telah berapa tahun usia kita.

Saya belajar, walaupun kita berpikir tidak ada lagi yang dapat kita berikan dan lakukan, ketika seorang teman kesusahan dan membutuhkan kita, kita akan selalu menemukan kekuatan dan jalan untuk terus menolong.

Saya belajar, jangan membandingkan diri sendiri dan kesusahan kita dengan orang lain.

Saya belajar, bahwa latar belakang & lingkungan mempengaruhi pribadi saya, tapi kita tetap bertanggung jawab & menentukan masa depan kita sendiri.

Saya belajar, bahwa saya harus bertanggung jawab atas apa yang telah saya lakukan, tidak peduli bagaimana perasaan saya.

Saya belajar, bahwa saya punya hak untuk marah, tetapi itu bukan berarti saya dapat berlaku sesuka hati saya tanpa memikirkan orang lain.

Saya belajar, bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi atau sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya…

Saya belajar, bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki, tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya….

Saya belajar, jangan menilai orang dari penampilannya saja. Itu bisa menipu. Bicara dan kenalilah orang tersebut lebih mendalam. Setiap orang memiliki kelebihan dan kebaikannya masing-masing,meskipun tidak ada orang yang sempurna di dunia.

Saya belajar, di saat susah, lebih terlihat mana teman sejati dan bukan.

Saya belajar, bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda yang sama, tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda….

Saya belajar, bahwa saya tidak dapat mengubah orang yang saya sayangi, tapi semua itu tergantung dari diri mereka sendiri….

Saya belajar, bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya beberapa saat saja untuk menghancurkannya…

Saya belajar, bahwa tidak masalah berapa buruknya patah hati itu, dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya…

Saya belajar, hanya karena dua orang berbeda pendapat dan tidak terlihat mesra, bukan berarti mereka tidak saling menyayangi, mencintai, dan setia. Dan hanya karena mereka selalu sependapat dan terlihat mesra, bukan berarti mereka selalu saling menyayangi, mencintai, dan saling setia.

Saya belajar, bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh walau dipisahkan oleh jarak yang jauh. Beberapa di antaranya melahirkan cinta sejati…

Saya belajar, bahwa jika seseorang tidak menunjukkan perhatian seperti yang saya inginkan, bukan berarti bahwa dia tidak menyayangi saya….

Saya belajar, bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain menyayangi saya. Saya hanya dapat menunjukkan dan melakukan sesuatu untuk orang yang saya sayangi… Selanjutnya terserah mereka.

Sumber: unknown

Feb 11

Suatu hari, Kura-Kura dan Kancil berdebat tentang siapa yang lebih cepat. Mereka menyetujui jalur tertentu untuk bertanding dan mulailah mereka bertanding. Sang Kancil melesat dengan cepat dan setelah merasa jauh melampaui Kura-Kura, dia berhenti sejenak di bawah pohon untuk beristirahat

sebelum memulai lagi perlombaannya. Sang Kancil terduduk dibawah pohon dan akhirnya tertidur. Akhirnya, Kura-Kura berhasil melampauinya dan keluar sebagai juara. Sang Kancil terbangun dan mendapatkan dirinya kalah didalam perlombaan tersebut.

Moral:

  • Jangan meremehkan orang lain.
  • Mereka yang lambat, apabila konsisten, akan dapat memenangkan pertandingan.

Cerita di atas masih ada kelanjutannya…

Sang Kancil sangat kecewa dengan kekalahannya, lalu melakukan analisis penyebabnya. Dia sadar bahwa dia kalah karena terlampau percaya diri, kurang hati-hati, dan terlena. Kalau saja dia bisa lebih waspada, maka tidaklah mungkin Kura-Kura bisa mengalahkannya.

Lalu ditantangnya lagi Kura-Kura tersebut untuk melakukan lomba ulang yang disetujui oleh Kura-Kura. Kali ini, sang Kancil menang mutlak karena dia berlari tanpa henti.

Moral:

Cepat dan konsisten akan mengalahkan yang lambat dan konsisten. Kalau ada dua orang di perusahaan, yang satu lambat dan handal, sedangkan yang satu lagi cekatan dan handal, maka yang cekatan dan handal akan maju lebih cepat. Lambat tapi konsisten itu bagus. Akan tetapi, lebih bagus lagi kalau cepat dan konsisten.

Tetapi ceritanya tidak hanya sampai di sini…

Kali ini sang Kura-Kura mulai berpikir dan sadar bahwa tidaklah mungkin berlomba dengan Kancil pada jalur seperti yang lalu. Setelah berpikir keras, kali ini Kura-Kura menantang sang Kancil untuk

berlomba lagi pada jalur perlombaan yang berbeda. Sang Kancil setuju.

Mereka mulai berpacu dan sang Kancil berlari dengan cepat tanpa berhenti, sampai akhirnya terpaksa berhenti di tepi sungai, karena harus menyeberang. Rupanya, garis finish-nya terletak beberapa ratus meter setelah tepi di seberang sungai . Sang Kancil bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Tak lama kemudian, muncul Kura-Kura menyusul, dan dengan santainya menyeberang sampai ke garis finish dan memenangkan pertandingan.

Moral:

Pertama, temukan kekuatan utama Anda, kemudian carilah tempat bertanding yang sesuai dengan kekuatan utama Anda. Di Perusahaan, kalau Anda pandai berbicara, carilah kesempatan untuk memberikan presentasi sehingga pimpinan Anda bisa melihat kemampuan Anda. Kalau kekuatan Anda adalah menganalisis, carilah peran yang membutuhkan kemampuan analisis. Bekerja pada kekuatanmu bukan hanya menunjukkan kehebatanmu, akan tetapi juga menciptakan kesempatan untuk maju dan berkembang. Kalau kekuatanmu adalah mengorganisir, carilah peran untuk mengorganisir sesuatu kegiatan penting, agar perusahaan tahu bahwa Anda mungkin pantas menjadi manager. Kalau kekuatanmu adalah waspada dan teliti, carilah peran yang membutuhkan kewaspadaan dan ketelitian seperti peran yang terkait dengan keselamatan, hukum, atau keuangan.

Ceritanya belum selesai lho…

Kali ini sang Kancil dan Kura Kura menjadi bersahabat dan mulai memikirkan solusi masalah bersama sama. Keduanya sadar bahwa lomba yang terakhir bisa dilakukan dengan jauh lebih baik. Jadi, mereka memutuskan untuk melakukan perlombaan lagi , cuma kali ini mereka berlari dalam satu tim.

Mereka mulai berlari… Mula-mula, sang Kancil menggendong Kura-Kura sampai ke tepi sungai. Kemudian, di sini Kura-Kura yang menggendong Kancil untuk menyeberangi sungai. Di seberang satunya, Kancil mulai menggendong Kura-Kura lagi sampai ke garis finish. Sampai di garis finish, keduanya merasa puas karena berhasil tiba dengan waktu yang jauh lebih cepat dari lomba sebelumnya.

Moral:

Bagus menjadi orang yang brilian dan mempunyai kekuatan utama, akan tetapi tanpa bisa bekerjasama di dalam suatu tim dan menjalin masing-masing kekuatan utama, hasilnya tidak akan maksimal. Kenapa? Karena selalu ada situasi di mana Anda berkinerja kurang, sedangkan rekan lainnya lebih baik.

Kerjasama adalah masalah kepemimpinan yang sesuai dengan situasi, yaitu dengan memberikan kesempatan kepada seseorang yang memiliki kompetensi inti yang sesuai dengan situasi mengambil alih kepemimpinan.

Ada hal apa lagi yang dapat dipelajari di sini? Catat bahwa baik Kancil maupun Kura-Kura tidak pernah menyerah setelah mengalami kegagalan. Bahkan, Sang Kancil bekerja lebih keras setelah kegagalannya. Sedangkan, Kura-Kura mengubah strateginya karena dia sudah berusaha

sekuat tenaga.

Dalam hidup, kalau kita menghadapi kegagalan, terkadang bisa diatasi dengan bekerja lebih keras dan menambahkan usaha. Kadang, akan lebih cocok untuk mengubah strategi dan melakukan sesuatu yang berbeda. Dan terkadang, lebih cocok melakukan keduanya.

Keduanya juga belajar sesuatu pelajaran yang sangat penting: “Kalau kita berhenti berkompetisi dengan saingan kita lalu mulai berkompetisi dengan situasi, kita akan bisa mendapatkan kinerja yang

jauh lebih baik.”

Rangkuman:

  • Cepat dan konsisten akan selalu lebih baik daripada lambat dan konsisten,
  • Ambilah peran yang sesuai dengan kekuatan utama Anda,
  • Kumpulkan kekuatan dan bekerja di dalam tim akan selalu mengalahkan jagoan individu,
  • Jangan pernah menyerah kalau gagal,
  • dan akhirnya, bersainglah melawan situasi, jangan melawan pesaing.
Feb 1

Di tengah kelelahan dan kaki yang sudah pegal-pegal, saya berjalan menyusuri jalan Bandengan menuju rumah saya di daerah Pluit. Sebelumnya, saya sudah menyusuri jalan Angke dan berputar-putar di Sawah Lio. Bagi beberapa orang berjalan beberapa kilometer sudah menjadi hal biasa. Sebenarnya saya juga cukup biasa jalan kaki, tetapi jarak yang saya tempuh saat ini lebih jauh dari yang biasa saya jalani.

Jam saya menunjukkan pukul sepuluh malam. Ingin rasanya saat itu saya memanggil bajaj dan pulang dengan bajaj, namun sayangnya sudah tidak ada lagi bajaj yang lewat. Daripada saya berdiam diri dan menunggu bajaj lewat, saya memutuskan untuk berjalan kaki. Selangkah kaki saya dapat mendekatkan diri saya pada tujuan saya, yaitu rumah saya.

Tidak terasa, saya sudah sampai pada perempatan Jembatan Tiga. Kaki saya sudah sangat pegal, tetapi langkah konstan yang saya lakukan membuatnya terus bertahan. Ternyata hukum Newton benar juga, benda yang bergerak akan cenderung untuk terus bergerak. Kaki saya yang sudah bergerak cenderung untuk terus bergerak. Awalnya memang sulit, tetapi ketika sudah mencapai tengah, langkah kaki semakin enteng.

Langkah kaki yang enteng tidak mengurangi rasa pegal pada kaki saya. Rasanya, ingin sekali saya beristirahat. Ingin sekali saya naik kendaraan umum. Namun, motivasi saya kian menguat ketika saya melihat dari kejauhan sebuah jembatan penyeberangan yang tidak jauh dari rumah saya. Ya, saya sudah melihat jembatan penyeberangan itu, dan setiap langkah yang saya lakukan akan mendekatkan diri saya pada jembatan itu. Itu artinya, sebentar lagi saya sampai! Semangat saya kembali berkobar, sampai akhirnya saya mencapai jembatan penyeberangan tersebut.

Dari jembatan penyeberangan tersebut, saya melihat di kejauhan, kompleks rumah saya. Ya, sedikit lagi saya akan sampai di kompleks rumah. Saya pun semakin semangat, melihat kompleks rumah saya yang semakin lama semakin besar, menandakan jarak saya yang semakin dekat dengannya.

Akhirnya saya mencapai gerbang kompleks rumah saya. Dan di kejauhan, saya melihat rumah saya. Inilah tujuan akhir saya. Akhirnya sebentar lagi saya sampai di rumah. Dan benar saja, saya akhirnya sampai di rumah. Sungguh betapa leganya saya ketika saya sampai di rumah. Tidak saya sangka, saya dapat mengatasi rasa pegal yang saya alami, dan dapat berjalan kaki dari Bandengan sampai ke rumah saya di Jembatan Tiga, setelah perjalanan panjang yang saya lalui sebelumnya dengan berjalan kaki juga.

Saya berpikir, terkadang hidup ini pun seperti itu. Kadang kita kehilangan semangat kita menjalani hidup ini. Namun, yang mungkin tidak kita sadari, ketika kita melihat diri kita semakin dekat dengan tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang kita, kita memiliki semangat ekstra. Kita memiliki motivasi lebih untuk mencapai tujuan kita. Itulah pentingnya kita memiliki tujuan dalam hidup ini. Tujuan yang dapat diukur, dan kita harus senantiasa mengevaluasinya. Ketika kita menyadari, bahwa langkah-langkah hidup kita membawa kita semakin dekat dengan tujuan, masalah-masalah yang kita alami dalam melangkah di dalam hidup ini menjadi tidak berarti lagi. Yang ada hanyalah semangat untuk mencapai tujuan hidup yang telah kita tetapkan. :D

Rangkuman:

Hal itu dapat menjadi motivasi dan semangat bagi kita, ketika kita melihat diri kita semakin dekat dengan tujuan.

Jan 7

Setiap hari selalu ada saja inspirasi yang saya dapatkan dari orang lain, entah itu dari tulisan di blog, ngobrol-ngobrol, buku-buku, seminar, dan lain-lain. Terutama, di tahun 2009, ketika saya cukup rajin mengikuti seminar dan membaca buku-buku dan tulisan-tulisan inspiratif, saya merasa saya telah mendapatkan banyak inspirasi tetapi kurang membagikannya. Itulah yang mendorong saya menggunakan tagline “Be Inspired, Inspire Others” untuk blog saya di tahun 2010 ini.

Terlalu sayang rasanya jika hanya saya sendiri yang menikmati inspirasi-inspirasi ini. Maka dari itu, sejak dua tahun yang lalu, saya sudah mulai membagikan beberapa inspirasi tersebut, inspirasi yang telah saya dapatkan dari orang lain, yang saya teruskan melalui blog ini, dengan harapan semakin banyak orang yang dapat terinspirasi. Inspirasi itu antara lain adalah inspirasi yang saya dapatkan dari blog mas Priyadi tentang ilusi finansial, inspirasi yang saya dapatkan dari buku “Berbohong dengan Statistik”, cerita dua manusia super di Jembatan Setiabudi yang saya dapatkan dari milis yang sukses membuat saya terharu, inspirasi yang saya dapatkan dari orang-orang yang cacat fisik, bagaimana seorang anak yang cacat mengajarkan saya untuk memberi dengan kasih, inspirasi yang saya dapatkan tentang deadliner dan Parkinson’s Law, fakta (mengejutkan) tentang rokok dan perokok, inspirasi yang saya dapatkan dari jiwa dagang teman saya dan pedagang alat sulap, inspirasi yang saya dapatkan dari quote-quote Mother Teresa, inspirasi yang saya dapatkan dari quote-quote tentang arti kebahagiaan, inspirasi yang saya dapatkan dari seorang gadis buta berusia 5 tahun yang jago bermain piano, definisi sukses dan bahagia, inspirasi yang saya dapatkan dari sebuah buku tentang mengubah dunia, inspirasi yang saya dapatkan dari cerita cinta yang tulus, inspirasi yang saya dapatkan dari sebuah buku tentang bagaimana cara mengubah orang lain, inspirasi yang saya dapatkan dari komik Andrie Wongso tentang cara mengambil keputusan di tengah situasi hidup dan mati, dan lain-lain.

Akan ada inspirasi-inspirasi lain yang akan saya bagikan di blog ini setiap hari Kamis. Inspirasi-inspirasi yang telah membuat hidup saya berubah menjadi lebih baik lagi. Inspirasi-inspirasi yang bukan tidak mungkin dapat mengubah hidup Anda secara dahsyat. :D

Be Inspired, Inspire Others.

Shortlink to this post: http://wp.me/p6dQc-h2

May 19

Mengubah Dunia

Posted by Charles

Ketika saya masih muda dan bebas berimajinasi, saya bermimpi mengubah dunia. Seiring dengan bertambahnya usia dan kebijaksanaan, saya mendapati dunia yang tidak berubah, saya pun menyederhanakan keinginan saya dan memutuskan hanya ingin mengubah negeri saya. Akan tetapi, tampaknya tak ada yang berubah dengan negeri saya. Usia pun kian senja, usaha terakhir saya adalah berusaha mengubah keluarga, [...]
May 4

Dua bulan yang lalu, seorang teman sekelas saya yang kuliah di NTU pergi meninggalkan dunia ini dengan tiba-tiba karena jatuh. Bulan lalu, giliran saudara mama saya yang pergi karena sakit yang merenggut tubuhnya di usianya yang ke-51. Hari ini, giliran saudara papa saya yang menghembuskan nafasnya yang terakhir, kembali karena penyakit, di usianya yang ke-23.

Saya seakan tersentak. Seorang demi seorang orang yang saya kenal meninggalkan dunia ini, dengan cara yang berbeda-beda, dengan usia yang berbeda-beda pula. Suka atau tidak, cepat atau lambat, saya pun akan mendapatkan giliran. Ketika saat itu terjadi, kira-kira apakah saya sudah siap? Apakah saya sudah cukup membahagiakan orang-orang di sekitar saya? Apakah orang-orang yang saya kenal akan menangisi kepergian saya? Pengaruh seperti apa yang telah saya buat di dunia ini? Apakah saya akan diingat orang karena hal positif yang saya buat, atau hal negatif yang saya lakukan sepanjang hidup ini? Kira-kira, sudah puaskah Tuhan melihat hidup saya?

Dua hari yang lalu, ketika saya naik bajaj, saya memberikan uang bayaran dua ribu Rupiah lebih daripada ongkos yang kami sepakati. Saya menghargai kerja keras dia, dan terutama karena satu hal, dia tidak merokok. Ketika begitu banyak abang bajaj yang merokok, dia mengambil keputusan untuk tidak ikut-ikutan, dan saya sangat menghargainya. Tapi, ada yang lebih penting daripada sekadar dua ribu Rupiah tersebut. Saya melihat dia tersenyum, dan berterima kasih. Oh, saya sungguh bahagia melihat senyum tersebut. Saya tidak menyangka saya akan mendapatkan senyumnya yang menurut saya jauh lebih berharga dari dua ribu Rupiah milik saya.

Kemarin, saya menonton sebuah acara di RCTI, “Uang Kaget”. Di sana, ada seorang ibu yang cacat, tetapi tetap bekerja menjadi buruh cuci dan tukang pijat dengan penghasilan Rp 200.000,- sebulan. Sungguh sangat memprihatinkan. Ketika dia didatangi RCTI jam 4 sore, dia belum makan dari pagi, karena ketidakmampuannya membeli makanan. Namun, meskipun ibu itu miskin, tetapi dia tidak pernah menyusahkan orang. Bayangkan betapa bahagianya dia ketika diberikan “uang kaget” 11 juta Rupiah. Ketika waktu belanja telah habis, ibu itu langsung melakukan sujud syukur di jalan. “Terima kasih Tuhan,” katanya. Bayangkanlah betapa bahagianya kita jika kita dapat menolong orang-orang yang membutuhkan kita.

Tadi sore, saya mengunjungi rumah saudara sepupu saya yang masih bayi. Saat itu, saya melihat betapa indahnya senyum seorang bayi, begitu damai dan polos. Senyum yang tulus. Ketika saya bermain “ciluk ba” dengannya, bagaimana dia bisa tertawa dengan tulus. Bagaimana matanya menyipit, mulutnya mengembang, dengan suara “ehehe” yang keluar dari mulutnya. Sungguh indah melihat senyum yang tulus.

Selama hidup ini, seberapa banyak senyum yang telah saya berikan kepada orang lain. Sebuah pepatah Irlandia berkata “Tuhan sudah memberikan kita sebuah wajah, senyum harus kita lakukan sendiri.” Jika senyum itu begitu membahagiakan, mengapa saya harus tidak tersenyum? Dan, ketika saya pergi meninggalkan dunia ini, berapa banyak senyum yang telah saya kembangkan di wajah orang-orang? Apakah Tuhan akan tersenyum ketika saya bertemu dengan-Nya nanti?

Tuhan hanya memberikan saya hidup satu kali. Jika saya masih hidup saat ini, itu kesempatan yang Tuhan berikan. Saya akan manfaatkan dengan baik. Saya tidak akan menunda-nunda lagi. Setiap kali saya akan menunda, saya akan kembali membaca tulisan saya ini. Ini adalah keputusan saya, tujuan saya hidup di dunia ini, untuk membahagiakan Tuhan dan orang-orang yang juga hidup di dunia ini, sejauh mungkin yang saya dapat lakukan. Saya harus bersemangat menghadapi hidup ini, karena hidup ini adalah kesempatan saya membahagiakan orang lain. Akan saya hargai hidup ini, mumpung belum terlambat…

Terima kasih Tuhan.

Ketika kita datang ke dunia ini, kita menangis dan orang di sekitar kita tertawa bahagia.

Ketika kita pergi meninggalkan dunia ini, sebaliknya yang terjadi, orang di sekitar kita menangis dan kita tertawa bahagia.

Jika suatu saat kamu pergi meninggalkan dunia ini, apakah kamu akan bahagia bertemu Allah di Sorga, atau menangis di tengah api?

Jika suatu saat kamu pergi meninggalkan dunia ini, apakah kamu ingin orang-orang menangisi kepergianmu, atau orang-orang tertawa karena kamu telah pergi?

Jika suatu saat kamu pergi meninggalkan dunia ini, apa yang kamu ingin untuk orang-orang ingat tentangmu?

Lakukanlah hal tersebut, sekarang juga, selagi Tuhan masih memberikanmu waktu untuk hidup di dunia ini, selagi semuanya masih belum terlambat…

Apr 30

Ikan yang Kelaparan

Beberapa tahun yang lalu sebuah penelitian ilmiah yang penting tengah dilakukan. Saya mengetahui hal ini dari sebuah film dokumenter tentang pendidikan. Di situ ditampilkan Dr. Eden Ryl seorang psikolog spesialis perilaku. Ia juga dikenal sebagai pembicara. Di dalam eksperimennya, seekor ikan Great northern Pike (jenis salmon besar bisa tumbuh sampai sepanjang 1,4 meter dan beratnya mencapai 21 kilogram), dimasukkan ke dalam sebuah akuarium. Dia diberi makan berupa ikan-ikan minnow, sejenis ikan sungai berukuran kecil (biasanya berukuran 6-10 cm). Selama beberapa hari, beberapa kamera digunakan untuk merekam tingkah laku kedua jenis ikan tersebut.

Beberapa waktu kemudian, para peneliti mengubah kondisi akuarium itu. Mereka meletakkan penyekat dari kaca, untuk memisahkan ikan besar dari ikan-ikan kecil. Setiap kali ikan besar berupaya memangsa ikan kecil, setiap kali pula ia membentur penyekat kaca. Karena kegagalan demi kegagalan yang dialaminya dalam memperoleh mangsanya dan merasakan sakit di seluruh tubuhnya akibat benturan-benturan pada sekat kaca itu, ia pun menghentikan upaya menangkap ikan kecil. Setelah diperkirakan ikan besar sangat kelaparan, para peneliti mengangkat sekat pembatas tersebut. Ikan-ikan kecil pun bisa berenang bebas dalam akuarium tersebut. Mereka siap menjadi santapan ikan besar yang sedang kelaparan.

Herannya, ikan besar itu tidak lagi berusaha memburu ikan-ikan kecil. Sebaliknya, ia hanya berenang-renang dikelilingi buruannya. Sebetulnya ia sudah sangat kelaparan, tetapi ia sudah putus asa. Karena merasa gagal mendapatkan mangsanya dan luka-luka di tubuhnya akibat benturan, akhirnya ikan besar pun mati dalam keadaan kelaparan dalam akuarium yang justru dipenuhi dengan makanannya sendiri!

Makanan itu gagal didapatkannya.

Ikan itu sudah begitu YAKIN bahwa makanan itu tidak bisa diraih.

Sekarang ini, banyak orang yang keadaannya mirip seperti itu. Mereka terus memikirkan jerih payah, penderitaan yang mereka alami dalam usahanya meraih sukses, terus terpaku pada kegagalan masa lalu, rasa malu akibat gagal mencapai sasaran, kekecewaan karena mendapat penolakan dan hal-hal lainnya yang membuat patah semangat. Lama kelamaan, terbentuklah keyakinan dalam diri mereka bahwa keberhasilan dan kehidupan yang bermakna TIDAK AKAN PERNAH BISA MEREKA RAIH.

Karena mereka terus meyakini bahwa mereka tidak bisa sukses, kehidupan mereka pun bisa terancam. Nasib mereka akan berakhir sama dengan nasib yang dialami oleh ikan dalam eksperimen tersebut di atas. Selain itu, keadaan ini bisa menghilangkan KUALITAS kehidupan yang kita inginkan.

Sumber: Piano di Tepi Pantai, Jim Dornan.

Feb 10

Yoo Ye Eun. Seorang gadis buta berusia 5 tahun yang luar biasa. Meskipun dia buta sejak lahir, dan ditinggalkan orang tuanya karena kebutaannya, dan diadopsi oleh sepasang suami-istri yang tidak bisa mempunyai anak, dia diberikan karunia yang luar biasa oleh Tuhan. Dia dapat memainkan lagu dengan piano hanya dengan sekali saja mendengarkannya.

Pada usia 5 tahun, dengan motivasi “ingin bermain piano untuk semua orang”, dia ikut sebuah acara pencari bakat Korea, Star King. Berikut adalah cuplikan penampilannya yang luar biasa dan mengharukan. Cobalah tonton sampai selesai, dan Anda akan merasakan sesuatu yang luar biasa. I even cried when watching this clip.

Tuhan memberikan karunia yang berbeda-beda kepada semua orang. Tuhan baik kepada semua orang. Masalahnya hanyalah bagaimana orang tersebut dapat melihat kebaikan Tuhan, melihat apa yang dimilikinya, bukan yang tidak dimilikinya, dan menggunakan yang dimilikinya tersebut untuk memuliakan Tuhan, penciptanya.