Sep 1

Judul di atas adalah sebuah quote yang cukup populer. Mungkin awalnya ada dari Anda yang tidak menyetujui quote tersebut. Masakan kita bisa atau tidak bisa berdasarkan apa yang kita pikirkan. Tidak dong, itu tergantung kemampuan kita, anugerah Tuhan, dan lain-lain (yang sebenarnya itu semua benar juga).

Saya pun awalnya berpikir seperti itu. Wah, betapa enaknya kalau quote ini benar. Saya tinggal berpikir, “Saya juara kelas”, maka saya akan menjadi juara kelas. Ketika saya berpikir, “Saya bisa jadi miliarder”, maka saya akan menjadi miliarder.

Kesalahan orang biasanya (termasuk saya dahulu) adalah menganggap semua proses itu akan didapatkan secara instan. Ketika saya berpikir “saya juara kelas”, saya mengharapkan saya bisa jadi juara kelas secara instan. Saya bisa tetap bermalas-malasan, tidak pernah belajar, tidak pernah mendengarkan guru… dan saya mengharapkan saya menjadi juara kelas karena saya percaya quote di atas. Saya mau katakan, ini sama sekali bukan yang dimaksud oleh quote tersebut. Quote tersebut bukanlah berbicara sesuatu yang supernatural dan instan. Ketika Anda berpikir Anda bisa, bukan berarti secara instan Anda pasti akan langsung bisa tanpa berusaha.

Namun demikian, saya percaya pada quote di atas. Saya akhirnya menemukan sebuah penjelasan yang masuk akal yang menjelaskan mengapa quote di atas bisa menjadi benar.

Yang dimaksud oleh quote di atas sebenarnya adalah mengenai fokus pikiran kita. Ketika kita memfokuskan diri kalau kita bisa, itu akan mempengaruhi kita. Seperti apa pengaruhnya? Pengaruhnya akan terlihat ketika kita mencari dan ketika kita gagal.

Pengaruh Pertama: Ketika Kita Mencari

Pengalaman ini saya dapatkan ketika saya mencari parkir di sebuah gedung parkir. Saya berpikir saya pasti akan mendapatkan tempat kosong dalam gedung parkir itu. Saya pasti akan mendapatkan parkir! Karena saya berpikir saya pasti mendapatkan parkir, itu membuat saya mengemudikan mobil lebih lambat, dan saya mencari ke sekeliling apakah ada tempat kosong. Karena saya fokus kepada tempat kosong, saya akan dapat melihat dengan mudah jika terdapat tempat kosong. Ini sama halnya ketika Anda fokus kepada warna merah, Anda akan melihat banyak warna merah di sekeliling Anda. Itu bukan karena warna merahnya yang bertambah banyak, tetapi karena Anda memfokuskan diri Anda pada warna merah. Akhirnya, tidak heran jika saya mendapatkan tempat kosong untuk parkir.

Pasti akan berbeda halnya jika saya berpikir sebaliknya, tidak ada tempat kosong di dalam gedung parkir tersebut. Jika saya berpikir begitu, mungkin saja dari awal saya akan enggan masuk ke dalam gedung parkir itu (yang membuat saya menyerah sebelum mencoba). Kalaupun saya masuk ke dalam gedung parkir itu, saya akan masuk dengan pesimis, mengemudikan mobil lebih cepat, kurang melihat sekeliling, dan ingin cepat-cepat keluar dari gedung parkir tersebut untuk membuktikan bahwa diri saya memang benar. Memang tidak ada tempat kosong lagi di dalam gedung parkir tersebut.

Ini akan membawa saya ke dalam sebuah dilema. Di satu sisi, saya ingin mendapatkan parkir. Di sisi lain, saya yakin tidak ada tempat kosong yang tersisa. Jika saya mendapatkan parkir, itu berarti keyakinan saya salah, dan semua orang tentu tidak senang kalau keyakinannya disalahkan. Jika saya tidak mendapatkan parkir, itu berarti saya akan bangga karena keyakinan saya benar, tetapi justru tujuan saya untuk mendapatkan parkir tidak tercapai. Mengapa saya harus menceburkan diri saya dalam dilema ini dengan bersikap pesimis?

Namun bukankah bersikap pesimis dapat mengurangi kekecewaan kita jika memang tidak ada tempat kosong lagi di dalam gedung parkir tersebut? Nah, ini dia kesalahannya. Kebanyakan orang berfokus pada mengurangi kekecewaan karena tidak mendapatkan, daripada berusaha terus untuk mendapatkan. Ini membawa saya pada pengaruh yang kedua…

Pengaruh Kedua: Ketika Kita Gagal

Jika saya berpikir pesimis, “Ah, tidak ada lagi tempat kosong di dalam gedung parkir itu…”, ketika pada akhirnya saya gagal dan tidak mendapatkan tempat parkir, saya akan semakin memperkuat keyakinan saya. “Tuh kan benar kata saya, tidak ada lagi tempat kosong…”, dan akhirnya mengurungkan niat saya untuk mencari tempat parkir lagi. Saya akan mudah menyerah. Tujuan saya tidak tercapai. Bahkan, di kesempatan berikutnya, saya akan menjadi semakin pesimis, mengingat kejadian-kejadian yang ada di masa lalu.

Namun, ketika saya berpikir “Saya pasti akan mendapatkan tempat parkir”, ketika saya mengitari gedung tersebut dan tidak mendapatkan tempat kosong, saya tidak akan mudah menyerah. Kurang lebih, yang saya katakan adalah seperti ini, “Ah masa sih, ga ada tempat kosong? Saya yakin ada kok… Mungkin tadi saya kelewatan. Saya akan coba cari lagi deh, kali ini lebih hati-hati.” Nah, akhirnya saya akan mencoba mencari lagi. Tentu kemungkinan mendapatkan tempat parkir jika kita mengitari gedung parkir dua kali akan lebih besar ketimbang hanya mengitari sekali. Tidak heran jika saya mungkin akan mendapatkan parkir ketika saya mengitari gedung parkir untuk kedua kalinya.

Jadi, “bisa” atau “tidak bisa” karena pikiran kita bukanlah sesuatu hal yang instan dan supernatural. Tapi, pikiran kita akan mempengaruhi tindakan kita. Dan, tindakan kita akan mempengaruhi hasil yang kita dapatkan.

Mari kita memfokuskan diri kita pada hal-hal yang positif, yang semakin mendekatkan diri kita pada tujuan hidup kita.

Tuhan memberkati kita semua.

Charles Christian


Jul 21

Blame Disease

Posted by Charles

“Char, belok di sini…” saya mendengar suara teman saya di sebelah saya.

“Bukan di sini… Di depan ada satu belokan lagi…” saya menjawab dengan begitu yakinnya, sambil terus menyetir mobil saya terus maju melewati belokan itu.

Tapi, benar kata teman saya, tidak ada belokan lagi di depan. Saya baru saja melewati belokan yang benar.

“Tuh kan, ga ada belokan lagi… Bener kan tadi gua bilang. Lo ga ikutin sih, nyasar dah…” teman saya geleng-geleng kepala.

Ouch. Percaya saya, tidak pernah menyenangkan mengetahui kita salah pilih jalan, apalagi karena kita yang keras kepala.

“Oke… Kalau gitu kita putar balik saja, terus belok kiri.” saran teman saya lagi.

Saya betul-betul tergoda untuk mengikuti saran-saran teman saya selanjutnya. Namun, sejujurnya, bukan karena saya mempercayainya. Tapi, karena saya tidak ingin bertanggung jawab atas kesalahan yang terjadi.

Kalau sarannya benar, itu bagus. Kalau sarannya salah, dan kita jadi nyasar, ada yang bisa disalahkan. Siapa lagi, kalau bukan teman saya yang memberi saran itu.

Itu benar-benar godaan yang besar. Godaan untuk melepas tanggung jawab, dan menyalahkan orang lain. Apa pun yang terjadi, kita aman. Kalau benar, bagus. Kalau salah, orang lain yang akan kita salahkan.

Saya rasa, ini lebih dari sekedar godaan. Ini adalah sebuah penyakit. Saya menyebutnya, “Penyakit Saling Menyalahkan”, atau “Blame Disease”.

Tanda-tanda penyakit ini sangat mudah dilihat. Tanda-tandanya adalah orang yang terjangkit penyakit “Blame Disease” akan selalu mencari kambing hitam (hal-hal yang bisa dia salahkan) ketika suatu hal yang buruk terjadi.

  • Ujian dapat nilai jelek karena kebanyakan main game, yang disalahkan adalah guru yang ga bisa ngajar.
  • Jadi sakit karena kurang tidur, yang disalahkan adalah bos yang memberi banyak pekerjaan.
  • Jatuh ke dalam lubang karena jalan ga lihat-lihat, yang disalahkan adalah pekerja yang menggali lubang.

Menyalahkan sepertinya sangat enak. Melepas tanggung jawab sepertinya membuat kita aman.

Tapi benarkah kita benar-benar aman ketika melepas tanggung jawab?

Kembali ke cerita saya, saya berpikir lagi, siapa yang rugi kalau akhirnya kita nyasar? Apakah hanya teman saya yang rugi? Tidak… Saya juga rugi.

Bukankah kita akan lebih menyesal jika kita salah karena tidak mengikuti kata hati kita (yang ternyata benar)?

Saat itu juga, saya putuskan untuk mengikuti saran teman saya, tapi tetap bertanggung jawab atas segala risikonya (dan syukurlah ternyata sarannya tepat :) ).

Ketika seseorang terjangkit “Blame Disease” stadium lanjut, kita bahkan bisa menghancurkan diri kita sendiri hanya agar kita bisa menyalahkan orang lain, dan membuat orang lain merasa bersalah.

Itulah yang terjadi dengan orang yang memilih bunuh diri karena ditinggalkan pacarnya. Kenapa mereka bunuh diri? Karena mereka ingin menyalahkan mantan pacarnya yang telah meninggalkannya. Mereka ingin berkata kepada mantan pacarnya, “Lihatlah kematianku. Ini terjadi karena kamu meninggalkanku!” dan membuat mantan pacarnya merasa bersalah.

Seolah, mereka berhasil dengan membuat mantan pacarnya merasa bersalah. Mereka berhasil menyalahkan. Tapi, faktanya mereka kehilangan nyawanya. Mereka menukarkan nyawa mereka untuk kepuasan atas rasa bersalah mantan pacar mereka! Bukankah ini sangat tidak masuk akal? Tapi ironisnya, ada saja yang melakukan kebodohan ini.

Jadi, bagaimana menyembuhkan “Blame Disease” ini? Saya menyarankan dua langkah berikut.

1. Bertanggung jawablah atas apa pun yang kita lakukan dan apa pun yang terjadi dalam hidup kita.

Bertanggung jawab di sini bukan berarti kita menyalahkan diri kita sendiri. Bertanggung jawab berarti ketika kita salah, kita mengakui kesalahan kita, dan belajar dari kesalahan itu. Kita selalu melihat apa yang dapat kita ubah dari diri kita sendiri untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Fokus kita bukan lagi mencari kambing hitam, tapi mengubah diri kita menjadi lebih baik.

2. Selalu melihat sisi positif dari segala hal buruk yang terjadi, dan syukurilah.

Saya yakin, semua hal buruk yang terjadi pada diri kita pasti mempunyai sisi positif. Ketika kita bisa memfokuskan diri kita pada hal-hal positif tersebut, kita menjadi mampu mensyukuri hal buruk yang terjadi pada diri kita. Dan kita tidak akan menyalahkan siapa-siapa ketika kita mulai bersyukur. Kenapa? Sederhana saja, karena kita tidak lagi menganggap kesalahan itu sebagai sebuah kesalahan. Kita melihatnya sebagai sebuah pelajaran yang berharga. Malah, mungkin saja kita malah berterima kasih kepada orang-orang yang semula kita jadikan kambing hitam.

Tuhan menginginkan kita saling mengasihi, bukan saling menyalahkan.

Mari kita bebaskan diri kita dari “Blame Disease” ini.

Tuhan memberkati kita semua.

Charles Christian


May 26

image

Apa yang Anda pikirkan ketika Anda membaca judul tulisan ini? Saya menebak, ada dari Anda yang mungkin berpikir seperti ini: “Ah, mana mungkin kita selalu beruntung dalam hidup. Realistis aja, hidup ada di atas ada di bawah, ada naik ada turun, ada untung ada rugi… Ga mungkin lah hidup selalu beruntung.” Melalui tulisan ini, saya ingin membukakan, bahwa kita dapat selalu beruntung dalam hidup ini, jika saja kita tahu caranya. Tidak percaya? Mau tahu caranya? Lanjutkan baca tulisan ini sampai selesai… :D

Suatu sore, ketika saya sedang membaca komik Paman Gober (atau komik Donal Bebek), saya menemukan sebuah kisah berikut. Diceritakan, Paman Gober sedang bekerja di dalam gudang uangnya. Tiba-tiba, Paman Gober mendengar ada keributan di luar gudang uangnya, yang begitu mengganggunya. Ketika dia melihat keluar jendela, ternyata keributan itu berasal dari kedua keponakannya, si Donal dan si Untung, yang sedang berkelahi di halaman depan gudang uang. Paman Gober yang merasa terganggu lalu meminta James, pelayannya, untuk membawakan kentang untung menimpuk keponakannya tersebut (mungkin sayang kalau ditimpuk pakai karung emas, jadi ditimpuknya pakai kentang. :P ). James lalu membawakan sebuah kentang yang akhirnya dilemparkan Paman Gober ke luar jendela, dan mengenai salah satu dari keponakannya tersebut. Coba Anda tebak, siapa yang terkena lemparan Paman Gober ini sampai membuat kepalanya benjol? Apakah si Untung? Atau si Donal?

Kalau Anda sering membaca komik Donal Bebek, tentunya Anda tahu kalau si Untung adalah bebek yang selalu beruntung, dan si Donal adalah bebek yang selalu sial. Mungkin, dengan pengetahuan itu, Anda akan menjawab si Donal yang akan tertimpuk kentang sampai benjol…

Ternyata, bukan si Donal yang kena timpuk, tapi si Untung! Untung Angsa, yang terkenal sebagai bebek yang selalu beruntung, terkena timpuk kentang sampai benjol. Apa yang kita katakan? Apakah Untung mengalami kesialan? Jika ceritanya berhenti sampai di sini, mungkin ya… Tetapi, cerita ini ada kelanjutannya.

Si Donal spontan tertawa puas melihat sepupunya yang selalu beruntung akhirnya mengalami kesialan juga. Si Untung tidak percaya kalau dia bisa tidak beruntung. Lantas, dia mengecek kentang yang membuat kepalanya benjol tersebut. Ternyata, di dalam kentang tersebut terselip sekeping emas yang sangat langka dan berharga.

Nah, sekarang, apakah si Untung sial atau beruntung dengan tertimpuk kentang tersebut? Mungkin sekarang kita akan berubah pikiran dengan mengatakan si Untung beruntung. Saya pun berpikir demikian. Tapi, saat itu, saya mencoba berpikir lebih dalam lagi. Kenapa saya menganggap si Untung beruntung? Bukankah dia tertimpuk kentang sampai benjol? Saya mencoba merumuskan, dan saya mendapat kesimpulan bahwa saya menganggap si Untung beruntung karena sisi positif yang dia dapatkan lebih besar dari sisi negatif yang dia terima. Mendapat sekeping emas yang sangat langka dan berharga itu lebih berharga dibandingkan kerugian akibat ditimpuk kentang. Jadi, rumusnya adalah:

Seseorang disebut “BERUNTUNG” jika lebih banyak “SISI POSITIF” yang dia terima dari sebuah peristiwa, dibandingkan dengan kerugian yang dia harus tanggung akibat “SISI NEGATIF” dari peristiwa tersebut.

Nah, berarti yang menentukan apakah kita BERUNTUNG atau tidak, bukanlah peristiwanya… Tapi, bagaimana cara kita memandang peristiwa tersebut. Masalahnya adalah bagaimana kita dapat melihat “SISI POSITIF” dari sebuah peristiwa yang lebih besar dibandingkan kerugian dari “SISI NEGATIF” yang diakibatkan peristiwa tersebut.

Penting bagi kita untuk menyadari hal ini. Kalau kita menganggap peristiwa yang terjadi pada kita yang menentukan keberuntungan kita, maka hidup kita bisa beruntung dan bisa kurang beruntung, tergantung peristiwa yang terjadi pada kita. Kita tidak punya kontrol apa pun atas keberuntungan kita, karena kita tidak bisa mengontrol peristiwa yang terjadi kepada kita. Tapi, kalau kita menganggap keberuntungan dengan definisi yang saya berikan di atas, maka kita bisa terus menerus beruntung, kalau kita bisa melihat sisi positif dari setiap peristiwa yang kita alami.

Kabar baiknya, setiap peristiwa yang kita alami pasti mempunyai sisi positif. Jadi, sebenarnya, kita bisa mengontrol keberuntungan kita dengan sengaja, dengan selalu melihat sisi positif dari sebuah peristiwa. Jika kita selalu melihat sisi positif dari sebuah peristiwa, takkan ada peristiwa yang merupakan kesialan bagi kita. Dengan kata lain, kita akan selalu beruntung. Masuk akal? :D

Berarti, sekarang masalahnya adalah bagaimana cara kita melihat sisi positif dari peristiwa yang kita alami. Saya tidak akan memaparkan teori apa-apa. Saya hanya akan membagikan cara-cara praktis yang saya lakukan untuk melihat sisi positif dari sebuah peristiwa (yang mungkin bagi sebagian besar adalah peristiwa buruk). Peristiwa yang akan saya bagikan adalah peristiwa yang nyata terjadi dalam kehidupan saya sehari-hari. Saya akan membagikan sharing saya tersebut dalam tulisan mendatang. So, ditunggu ya tulisan saya minggu depan…

Selamat menjalani hidup yang penuh dengan sisi positif. :D

Bersambung… ke Tips Agar Kita Selalu Beruntung Dalam Hidup (2)


May 19

Kesalahan yang Membawa Berkah

Posted by Charles

Saya yakin, setiap dari kita pasti pernah berbuat salah, entah disengaja atau tidak disengaja. Tidak sedikit pula yang akhirnya menyesali kesalahannya terus-menerus. Kesalahan itu membawa malapetaka bagi mereka. Namun, jika kita tahu caranya, ternyata kita bisa membalikkan kesalahan yang seharusnya membawa malapetaka bagi kita, menjadi berkah untuk kita. Setidaknya, itu yang saya dapatkan dari kisah yang saya alami berikut.

Kisah ini terjadi hari Minggu lalu, ketika saya dan keluarga makan malam bersama di Pizza Hut Pluit Village. Seperti biasa, sang waiter memberikan daftar menu, dan mencatat pesanan kami. Sebelum dia pergi, dia berkata “Baik Pak… Menunya bisa saya ambil ya Pak? Pizzanya ditunggu 15 menit. Terima kasih.” Kata-kata itu mungkin tidak asing bagi Anda yang sering makan di Pizza Hut. Tampaknya, itu sudah menjadi suatu standar pelayanan Pizza Hut, agar waiter berkata-kata seperti itu, dan menjanjikan pizza yang dipesan akan datang dalam waktu 15 menit.

Kami pun menunggu… 10 menit kemudian, salah satu pesanan kami, yaitu Spaghetti, datang. Spaghetti pun saya lahap sembari menunggu pizza yang belum datang. Waktu terus berlalu, 5 menit, 10 menit, hingga 15 menit kemudian, ketika Spaghetti telah habis saya lahap, ternyata pizza yang kami pesan belum kunjung tiba. Ini berarti sudah terlambat lebih dari 10 menit dari waktu yang dijanjikan sebelumnya.

Saat itu, yang ada di pikiran saya adalah “Wah, kok pelayanan mereka ke customer kaya gini ya?”, “Wah, mereka melanggar janji”, “Wah, mereka sudah melakukan kesalahan…”, “Wah, kalau pelayanan mereka begini, mereka bisa kehilangan customer mereka.” dan lain sebagainya. Intinya, saya menganggap Pizza Hut telah berbuat kesalahan besar dan tidak profesional dengan membiarkan customernya menunggu terlalu lama, lebih dari waktu yang dijanjikan. Kami mulai kesal, dan memanggil sang waiter menanyakan pizza yang kami pesan.

“Mas, mana pizza yang kami pesan? Sudah setengah jam kok belum keluar? Janjinya kan 15 menit…” protes kami.

“Wah, maaf pak… Pizzanya masih belum jadi,” sang waiter kebingungan.

“Wah, kok di sini ga profesional ya pelayanannya? Kalau dulu saya di Pizza Hut lain kaya gini, harusnya uda ada yang digratisin nih.” kami melampiaskan kekesalan kami.

“Maaf pak… Saya akan antarkan pizzanya secepatnya,” sang waiter kembali meminta maaf.

5 menit lagi berlalu, dan pizza kami masih belum datang juga. Saya sudah mulai memikirkan untuk meng-cancel pesanan tersebut, dan pindah ke restoran lain. Image “Pizza Hut” menjadi buruk bagi kami, karena pelayanan mereka yang buruk ini. Setidaknya, ini adalah kesalahan mereka, yang hampir membawa malapetaka bagi mereka. Sampai akhirnya, momen itu tiba… Momen yang mengubah kesalahan mereka dari malapetaka menjadi berkah.

Tiba-tiba, sang waiter datang menghampiri kami membawa sebuah mangkuk sup kosong, dan berkata, “Maaf pak, pizzanya masih belum datang. Sambil menunggu pizzanya, silakan bapak nikmati dulu supnya… GRATIS…” Dan mangkuk itu pun diletakkan di meja kami.

Tiba-tiba pula, kalimat pertama yang terlontar di kepala saya saat itu adalah “Wow… Pizza Hut benar-benar profesional dan gentleman.” Entahlah kenapa saya berpikir begitu, tapi itulah kalimat pertama yang saya pikirkan ketika mangkuk sup itu diletakkan di atas meja, dan ketika saya mendengar kata-kata “silakan bapak nikmati dulu supnya… GRATIS…”

Suasana hati saya yang tadinya kesal, tiba-tiba berubah menjadi gembira. Ya, siapa yang tidak gembira diberikan barang gratis? Hehe…

Kemudian, sembari menikmati sup gratis itu, saya berpikir lagi. Kok bisa ya saya tiba-tiba berubah pikiran dari anggapan bahwa “Pelayanan Pizza Hut buruk” menjadi “Pelayanan Pizza Hut memuaskan”. Mereka tetap salah kok, dengan ingkar janji dan membiarkan saya menunggu terlalu lama. Tapi, mereka memberikan saya sup gratis (meskipun menurut saya, mereka tidak rugi memberikan sup gratis itu, karena waktu itu sudah malam, dan sup yang tersisa di gentong mereka masih banyak… Yah, daripada dibuang kan bisa untuk memuaskan customer yang terluka? Bener ga? Hehe).

Inilah yang saya sebut, kesalahan yang membawa berkah. Setelah peristiwa itu, saya jadi bercerita ke teman-teman saya tentang image positif dari Pizza Hut. Kesalahan itu tertutupi dengan respon mereka dalam memperbaiki kesalahan itu. Dan bahkan menurut saya, efek positif yang timbul karena peristiwa ini, melebihi dari efek positif jika mereka tidak berbuat kesalahan. Dengan adanya kejadian unik ini, saya jadi mengingat kejadian ini, dan bukan tidak mungkin saya bisa berpromosi tentang Pizza Hut tanpa bayaran dengan cerita-cerita saya ke teman-teman saya, termasuk dalam blog ini. :D

Mengingat kejadian itu, saya jadi ingat bagaimana restoran Pizza lain di luar negeri mempromosikan Pizza mereka. Mereka mempunyai tagline “Pizza yang Anda pesan sampai ke rumah Anda dalam 30 menit atau GRATIS!”. Lalu, uniknya, dalam beberapa kesempatan tertentu, mereka sengaja mengantar pizza pesanan itu terlambat 1 atau 2 menit (meskipun mereka sudah sampai di lokasi tepat waktu, tapi mereka sengaja menunggu untuk membuat mereka terlambat), lalu mengetuk pintu rumah dan berkata, “Maaf kak, kami terlambat 1 menit mengantar pesanan kakak. Karena itu, kakak tidak perlu bayar. Pizza ini GRATIS untuk kakak.”

Apakah kesalahan mereka dengan terlambat mengantar pizza ini membawa malapetaka? Menurut saya, justru sebaliknya, kesalahan ini membawa berkah. (Meskipun memang kesalahan ini disengaja :P ). Mereka tinggal menunggu si kakak menceritakan pengalamannya tersebut kepada teman-temannya, dan memberikan promosi gratis pada mereka.

Jadi, jika Anda berbuat sebuah kesalahan, janganlah berkecil hati dulu. Cobalah cari cara untuk memperbaiki kesalahan tersebut (bahkan menjadi lebih baik daripada Anda tidak melakukan kesalahan itu), dan kesalahan itu takkan menjadi malapetaka lagi bagi Anda. Sebaliknya, Anda akan mengenang kesalahan yang Anda buat tersebut, sebagai sebuah kesalahan yang membawa berkah bagi Anda.

Selamat memperbaiki kesalahan Anda. :D


Mar 24

Sisi Positif dari Penderitaan

Posted by Charles

Penderitaan. Di saat banyak orang yang mengaitkan kata ini dengan sejumlah hal-hal negatif seperti “bencana”, “kemiskinan”, “kesakitan”, dan lain sebagainya, saya tertantang untuk berpikir, sebenarnya ada tidak ya hal positif dari penderitaan?

Banyak orang yang mengatakan bahwa dirinya menderita. Menderita karena sakit penyakit, menderita karena ditinggal orang yang dikasihi, menderita karena ditolak saat nembak, menderita karena ditipu orang, menderita karena ketiban bencana alam, menderita karena perbuatannya yang tidak baik ketahuan orang lain, menderita karena diejek orang lain, menderita karena kemiskinan, dan lain sebagainya. Sekilas, mendengar semuanya itu, yang terlintas di pikiran kita, penderitaan adalah sesuatu yang sangat jelek, dan tidak ada positif-positifnya. Ternyata tidak juga kawan… Ada hal yang sangat positif yang bisa diambil dari penderitaan. Namun sayangnya, tidak banyak orang yang melihat sisi positif ini.

Jadi, apa sisi positif dari penderitaan? Sisi positifnya adalah ketika kita bisa memanfaatkan penderitaan yang kita alami untuk memotivasi kita untuk melakukan hal-hal yang positif dalam kehidupan kita. Ketika kita menderita, badan atau hati kita akan terluka, dan hal itu akan menciptakan suatu emosi yang dapat mendorong kita untuk membuat kita keluar dari penderitaan tersebut. Namun tentunya kita harus dapat memanfaatkan emosi tersebut dengan baik, dan bukannya malah menjadi depresi.

Seorang Tung Desem Waringin contohnya. Beliau saat ini telah menjadi pelatih sukses nomor satu di Indonesia, menjadi orang yang sukses. Apabila beliau ditanya, “Apa resep sukses Anda?”, beliau akan menjawab bahwa salah satu resep suksesnya adalah karena dia mempunyai alasan yang sangat kuat (untuk menjadi sukses). Ternyata, alasan yang sangat kuat yang dimaksud oleh beliau itu didapatkan saat ayah beliau sakit, dan ternyata gaji sebulan beliau saat itu sebagai seorang kepala cabang BCA, tidak cukup untuk membiayai perawatan ayahnya selama satu hari. Akhirnya, sang ayah dipindah ke ruang kelas tiga (dari ruang kelas satu). Di sana, sang ayah berkata kepada beliau, “Tung… Kamu sudah tidak punya uang lagi ya? Papa sudah mau mati kok masih dipindah ke ruangan ini?” Di sanalah, seorang Tung Desem Waringin seperti tersambar petir, menyadari bahwa dia tidak mampu memberikan perawatan terbaik untuk ayahnya saat itu, dan dia berjanji untuk menjadi lebih sukses lagi. Kalau-kalau saja Tuhan masih memberikan kesempatan kepadanya untuk berbuat lebih banyak lagi untuk orang tuanya.

Ketika kita dihadapkan pada penderitaan, kita bisa memilih apakah kita menjadi “tertekan” oleh penderitaan kita dan menjadi depresi… Atau kita menjadi “tertantang” untuk berbuat lebih banyak lagi supaya kita tidak menderita lagi di masa yang akan datang. Penderitaan bisa dijadikan sebuah pengungkit untuk memotivasi kita menjadi lebih baik lagi. Dan tentunya, jika kita bisa bertahan melalui penderitaan itu, kita akan menjadi pribadi yang lebih kuat.


Feb 28

Renungan: Dinding yang Kosong

Posted by Charles

Ada dua orang pasien pria yang menderita sakit parah. Mereka dirawat di rumah sakit yang sama. Pria pertama diizinkan duduk di tempat tidurnya setiap sore selama satu jam. Tujuannya adalah agar cairan dari paru-parunya bisa dikeluarkan. Tempat tidurnya terletak di dekat satu-satunya jendela yang ada di kamar itu. Sedang pria yang kedua harus selalu berbaring dalam keadaan terlentang. Karena di antara dua tempat tidur ada dinding pemisah yang cukup tinggi, pria yang tidur terlentang tidak bisa melihat ke jendela.

Kedua orang pria tersebut sering mengobrol. Macam-macam hal yang mereka bicarakan. Dari mengenai istri, keluarga, rumah, pekerjaan, wajib militer sampai tempat-tempat yang dikunjungi saat liburan. Sore hari, saat pria yang menempati tempat tidur dekat jendela diizinkan duduk, dia bercerita ke teman sekamarnya. Ia melaporkan apa-apa yang dilihatnya di balik jendela.

Pria yang hanya bisa terlentang lama-kelamaan bisa menikmati cerita temannya. Selama satu jam sehari, cara pandangnya diperluas dan dihidupkan kembali dengan mendengarkan tentang kegiatan dan warna-warni dunia luar. Jendela itu menghadap ke sebuah taman. Di taman itu juga ada sebuah danau yang indah dengan bebek-bebek dan angsa-angsa yang berenang di atasnya. Anak-anak bermain dengan mainan kapal layarnya. Pasangan suami isteri yang sedang dimabuk asmara berjalan sambil bergandengan tangan di antara bunga-bunga yang berwarna-warni bagaikan warna pelangi. Beberapa pohon besar tumbuh di atas rerumputan. Pemandangan indah kota terlihat dari kejauhan.

Pria yang berada di dekat jendela menceritakan semua ini dengan amat rinci. Pria yang mendengarkan, menutup matanya sambil membayangkan pemandangan-pemandangan yang dituturkan rekannya. Di suatu hari yang cukup terik, pria yang menempati tempat tidur dekat jendela melaporkan tentang sebuah pawai yang lewat di sana. Pria yang kedua tidak bisa mendengar musik bandnya. Namun, dia bisa melihat mereka dengan mata batinnya. Ia seakan melihat badut-badut yang menari-nari, bendera yang berwarna-warni serta mobil dan kuda yang dihias.

Hari pun berlalu. Di dalam hati pria yang tidak bisa melihat ke jendela diam-diam timbul rasa iri atas cerita-cerita yang disampaikan oleh teman sekamarnya, karena dia ingin sekali melihat sendiri semua yang diceritakannya. Dia pun mulai membenci teman sekamarnya, karena dia ingin sekali melihat sendiri semua yang diceritakannya. Dia pun mulai membenci teman sekamarnya dan merasa frustasi. Dia juga ingin menempati tempat tidur di dekat jendela!

Pada suatu pagi seorang juru rawat masuk ke kamarnya. Pria yang ditempatkan di dekat jendela ditemukan meninggal dengan tenang pada saat tidur. Dengan rasa sedih dia memanggil pegawai rumah sakit untuk memindahkan jenazahnya.

Setelah dianggap tepat waktunya, pria yang masih dirawat menanyakan apakah dia bisa dipindahkan ke tempat tidur dekat jendela. Perawat tidak berkeberatan untuk memindahkannya dan setelah yakin pasiennya dalam posisi yang aman, dia meninggalkannya sendirian. Pelan-pelan, sambil menahan rasa sakit, dia berupaya mengangkat tubuhnya dengan satu siku lengannya untuk melihat pertama kalinya dunia di luar jendela. Ia pikir, akhirnya dia bisa juga menikmati kebahagiaan saat melihat taman di luar dan semua kegiatan yang ada. Dia berusaha untuk melongok.

Namun ia menjadi amat terkejut karena ternyata yang dilihatnya hanya dinding yang kosong. Dia segera memanggil suster dan bertanya, “Bagaimana teman sekamar saya bisa melihat semua yang diceritakannya kepada saya? Bagaimana dia bisa menceritakan kepada saya tentang segala keindahan sampai yang sekecil-kecilnya, padahal saya hanya melihat dinding batu bata yang kusam!”

Perawat itu menjawab, “Lho, memang Bapak tidak tahu? Mantan teman sekamar Bapak kan buta, jadi dinding pun tidak mungkin bisa dilihatnya.” Kemudian sang perawat menambahkan, “Mungkin dia hanya ingin membesarkan hati Bapak saja.”

Apakah Anda bisa merasakan emosi yang terkandung dalam cerita ini?

Apakah pernah terpikir oleh Anda untuk menukar posisi Anda dengan posisi orang lain
Karena merasa iri kepada orang tersebut. Apakah Anda pernah merasa demikian kecewa, misalnya Anda menyangka sesuatu itu begitu indah, tetapi kenyataannya tidak seperti yang Anda bayangkan? Apakah Anda pernah diberi kata-kata pemberi semangat, tetapi Anda tidak pernah mau mensyukurinya?

Kalau hidup Anda terobsesi oleh segala yang dimiliki orang lain, maka Anda tidak merasakan indahnya hal-hal yang akan diberikan oleh orang lain kepada Anda.

Di zaman sekarang ini banyak sekali orang yang ingin memiliki apapun yang dimiliki orang lain. Ingin suami atau istri seperti yang dimiliki orang lain, ingin pekerjaan seperti pekerjaan orang lain, ingin penghargaan seperti yang telah diterima orang lain, ingin popularitas seperti yang diraih oleh orang lain, rumah yang dimiliki orang lain, posisi yang dimiliki oleh orang lain.

Sering pula mereka ingin hal-hal yang mereka anggap ada di dalam diri orang lain. Misalnya, kebahagiaan, rasa memiliki tujuan, kedamaian pikiran, rasa cinta dan kenyamanan. Yang sebenarnya adalah bahwa di setiap situasi pasti ada masalah, di setiap kehidupan pasti ada rintangan, di setiap hubungan pasti ada kesulitan, di setiap kesempatan pasti ada tantangan atau masalah yang berat. Pada dasarnya, pada setiap aspek yang positif selalu ada tandingannya yang bersifat negatif. Karena itu, tidak mungkin ada orang yang bebas dari masalah kehidupan.

Kalau begitu, bagaimana sikap kita dalam menghadapi hal ini?

Jadilah orang yang PANDAI BERSYUKUR untuk apa yang SUDAH ANDA MILIKI saat ini.

Bersikaplah POSITIF atas semua keadaan, karena KEBAHAGIAAN itu BUKAN DI LUAR DIRI tetapi ADA di DALAM DIRI.

Sumber: Jim Dornan, “Piano di Tepi Pantai”


Jan 23


Internet. photo credit by: TransCam

Hari Kamis, 21 Januari 2010 lalu, saya diundang oleh Depkominfo untuk menghadiri forum diskusi dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas konten lokal. Diskusi ini diadakan antara Kepala Badan Informasi Publik, Freddy Tulung dan jajarannya, beserta para komunitas TIK, asosiasi-asosiasi dalam industri TIK, serta dari praktisi website dan portal Indonesia.

Sebelum lanjut, temen-temen pasti sudah tahu istilah konten kan ya? Maksudnya konten ini adalah dalam konteks teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Buat yang mungkin belum tahu, gw pengen jelasin sedikit berdasarkan pemahaman gw. Jadi, dalam bidang TIK, ada tiga buah aspek teknologi yang berperan (tolong koreksi kalau salah): infrastruktur, aplikasi, dan konten.

Infrastruktur adalah perangkat keras TIK, hal paling dasar yang membuat kita punya akses pada TIK. Aplikasi adalah perangkat lunak yang berjalan di atas infrastruktur tersebut, yang membuat kita bisa memanfaatkan perangkat-perangkat keras yang ada untuk melakukan fungsi-fungsi tertentu. Sedangkan konten adalah ‘isi’ yang kita lihat, kita baca, dengar, mainkan, manipulasi, dll, dengan bantuan aplikasi-aplikasi tersebut.

Contoh nyatanya seperti ini. Jaringan internet dan komputer yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia adalah infrastruktur, sedangkan website-website kaya Facebook, Twitter, WordPress, Detik, anakUI.com (:D), apapun, adalah aplikasinya. Apa kontennya? Ya tulisan-tulisan, foto-foto, film-film, dan sebagainya yang bisa kita lihat dari aplikasi-aplikasi itu.

Contoh dari bidang yang lain misalnya gini. Frekuensi radio dan tivi dan antena parabola dsb itu adalah infrastruktur (ini bidang penyiaran). Terus stasiun radio dan tivi, yang izinnya dikeluarkan oleh Depkominfo itu adalah aplikasi. Sedangkan acara TV dan radionya, adalah kontennya. Mudah-mudahan kedua ilustrasi ini cukup jelas untuk menggambarkan apa itu konten.

Nah, sama dengan infrastruktur dan aplikasi, konten itu sangat penting! Coba kita sedikit refleksikan apa yang ada di Indonesia, bagaimana kondisi kontennya. Dalam bidang Internet, kita masih banyak banget ngeliat website-website porno, tulisan-tulisan bohong alias hoax, yang membuat permusuhan dan perpecahan antar agama, dsb. Negatif banget deh.. Terus kondisi konten yang netral, kita juga biasanya make Internet buat ‘bersenang-senang’, bersosialisasi, update-update status, nonton-nonton video, ngetag dan komen foto, dsb..

Dalam bidang TV, kita masih ngeliat acara-acara gosip dan sinetron ga mendidik. Atau dalam bidang seluler, kita ngeliat orang-orang pada ngabisin pulsa buat nelepon gosip, atau ikutan SMS-SMS premium yg agak gak jelas itu. Atau dalam bidang seni, musik-musik bajakan berkeliaran dimana-mana.

Perkembangan TIK yang sangat pesat ini membuat lebih banyak orang bisa mengakses teknologi. Pengguna-pengguna baru teknologi pun semakin bermunculan, bahkan anak-anak dan remaja sudah nggak asing lagi dengan Internet. Nah, sekarang coba kita bayangkan kalau sehari-hari menggunakan TIK (baca Internet, nonton TV, dsb) kita sebagai pengguna teknologi yang sudah lama, atau para pengguna baru, banyak melihat konten-konten tidak mendidik. Entah sekedar hiburan (tapi kalo hiburan yang kebablasan kan nggak enak juga), melihat informasi bohong, atau bahkan melihat konten yang merusak dan ga bermanfaat. Mau jadi apa bangsa ini ke depan?

Itulah yang menjadi kekhawatiran pemerintah. Pemerintah sekarang sedang giat mengembangkan infrastruktur TIK sampai ke desa-desa. Pemerintah punya program jangka menengah yang bertahap: Desa berdering (desa yang memiliki jaringan telepon), lalu Desa Pinter (desa yang punya Internet), dan paling tinggi adalah Desa Informasi (desa cerdas yang memiliki akses informasi luas). Bayangkan kalau infrastruktur meluas dan semakin banyak dari bangsa ini yang bisa mengakses teknologi, tapi isi yang mereka akses atau konsumsi ini nggak membawa nilai manfaat atau nilai edukasi?

Intinya adalah bangsa Indonesia harus punya lebih banyak lagi konten-konten yang bermanfaat, mendidik, dan bisa mengembangkan potensi bangsa ini. Konten-konten lokal yang positif itu harus bisa dinikmati sejajar dengan konten-konten ‘biasa saja’ dan ‘merusak bangsa’ yang sudah banyak ada sebelumnya.

Ya, jadi tujuan pemerintah mengundang komunitas-komunitas, pengusaha, dan praktisi bidang Internet untuk duduk bareng mensinergikan langkah-langkah untuk terus menggiatkan penciptaan dan peningkatan kualitas konten-konten lokal. Diskusi kemarin baru diskusi awal dan perkenalan, dan pemerintah bilang akan diadakan forum selanjutnya yang akan lebih detail.

Beberapa pihak yang hadir kemarin adalah:

Pada diskusi, beberapa dari yang hadir menceritakan apa yang sudah dilakukan dengan tujuan meningkatkan kualitas dan kuantitas konten lokal. Misalnya Wikimedia Indonesia terus berupaya meningkatkan jumlah kontributor Wikipedia, mas Aris dari Bekasi yang cerita tentang para blogger yang menggiatkan pelatihan-pelatihan Internet dan ngeBlog di daerah-daerah, dari AMIDI merangkul major label untuk bisa berjualan musik online sepeti iTunes, Kaskus yang mempromosikan berita-berita positif tentang Indonesia, ICT Watch yang menyelenggarakan Internet Sehat Blog Award, serta komunitas-komunitas yang giat berbagi ilmu dan inspirasi. Dan pemerintah pun melaksanakan tugasnya mengembangkan infrastruktur dan menjadi regulator.

Pada diskusi itu juga terungkap kesulitan-kesulitan kita dalam upaya peningkatkan konten-konten lokal. Misalnya adanya pembajakan musik lewat Internet, membuat penjualan musik online kalah saing. Lalu Detik.com yang kesulitan mencari pihak-pihak yang mau bekerjasama mengembangkan konten-konten lokal, lalu masalah dasar yang dikemukakan Mas Ivan yaitu bangsa Indonesia yang sulit menulis, lalu dari pihak industri konten yang butuh insentif lebih dari pemerintah.

Gw sendiri ikut sumbang saran tentang pentingnya mempromosikan dan mengembangkan aplikasi-aplikasi user generated content (seperti blog, wiki, website komunitas, dsb) untuk meningkatkan kuantitas. Dengan user generated content (yang diarahkan dengan benar loh ya), kita akan memfasilitasi puluhan juta pengguna Internet Indonesia untuk mewarnai konten-konten lokal yang positif. anakUI.com, Kompasiana, dan Wikipedia adalah beberapa contohnya.

Lalu untuk meningkatkan kualitas konten-konten itu, gw bilang perlu diadakan lebih banyak lagi award-award seperti INAICTA, Bubu Award, Internet Sehat Blog Award, dll dsb. Alhamdulillah banyak juga yang mengadakan lomba-lomba blog. Masyarakat akan semakin terdorong untuk menciptakan konten-konten positif dengan apresiasi tersebut, sekaligus jadi paham, standar konten yang bagus itu seperti apa, agar bisa dicontoh oleh masyarakat.

Walaupun ini adalah diskusi awal yang belum menghasilkan kesimpulan yang jelas, rasanya semua yang hadir akan sepakat, bahwa satu semangat yang harus ditumbuhkan di bangsa ini adalah kita harus jadi produsen konten, jangan cuma jadi konsumen! Artinya kita harus jadi bangsa yang kreatif, yang melakukan penciptaan, jadi bangsa yang gemar membaca dan menulis, gemar berbagi, gemar memberikan manfaat.

Jadi teman-teman, mulailah memproduksi konten lokal, mulailah dari menulis (ini yang paling sederhana!) di Internet agar indeks Google tidak dipenuhi oleh hal-hal negatif saja, atau kembangkan konten sesuai dengan keahlian kita (boleh buat website, foto, musik, game, animasi, dsb dll!), dan kita akan melihat Indonesia yang lebih baik di masa yang akan datang! :)

Ayo, sama-sama yuk, kita jadi produsen konten-konten lokal berkualitas!

Tulisan-tulisan blogger lain yang hadir:

  1. Kang Dhodie - Forum Diskusi Pengembangan Konten Lokal
  2. Mbak Ratu ‘Quinie’ - Diskusi di Kamis Pagi
  3. Blogger Bekasi - Kamis pagi di Depkominfo
  4. Pak Eko - Pengembangan Konten Lokal (tulisannya lengkap, plus banyak poin detail)

Bonus

Beberapa Blogger yang Hadir (iya, jadi blogger ga lengkap tanpa narsis-narsisan :D). Foto diambil dari Kang Dhodie

[ki-ka]: Dhodie (deBlogger), Ratu (be-Blog), Ilman Akbar (anakUI), Mas Amril (Anging Mammiri), Tikabanget (Dagdigdug), Simbok Venus (Ngerumpi), Chic (Kopdar Jakarta). Gambar diambil oleh Pak Eko (Blogger Cikarang).

Jan 14

Cara Pandang Positif

Posted by Charles


Saya pernah mendengar cerita tentang seorang pemain golf profesional. Pada suatu hari, ia baru saja meninggalkan klub golfnya setelah memenangkan sebuah turnamen. Di tempat parkir, ia bertemu dengan seorang wanita yang mengatakan kepadanya bahwa bayinya sedang dirawat di Rumah Sakit. Karena tidak punya uang, ia meminta bantuan pemain golf tersebut agar mau menyumbangkan sebagian uang hadiah kemenangannya. Alasannya, anaknya sedang sakit keras. Orang tersebut sangat tersentuh dan ingin menolong. Ia pun lalu memberikan seluruh uang hadiahnya untuk membayar biaya operasi guna menyelamatkan sang bayi.

Satu atau dua hari kemudian, pemain golf itu kembali ke lapangan gold. Ia menceritakan hal tersebut kepada teman-temannya di sana. Beberapa orang berkomentar, “Wah! Kamu tertipu. Ini bukan pertama kalinya perempuan itu berbuat begitu. Kasihan kamu jadi korbannya lagi. Mata pencahariannya memang dari menipu!”

Pemain golf itu berkata, “Jadi, tidak ada bayi yang sakit keras?”

Mereka menjawab, “Jelas tidak!”

Lalu pemain golf itu berkata lagi, “Bagus! Saya lega karena ternyata tidak ada yang sakit.

Waktu pertama kali saya mendengar cerita ini saya sempat merenung sejenak. Saya mencoba mencerna pesan yang terkandung dalam kata-katanya itu. Saya bertanya pada diri sendiri, apa reaksi saya kalau ada yang bilang saya baru saja memberikan uang saya kepada penipu. Apakah saya akan merasa lega karena ternyata kekhawatiran saya pada bayi yang sakit itu tidak beralasan? Ataukah saya akan lebih memikirkan uang saya yang hilang?

Pemain golf ini memiliki cara pandang yang luar biasa. Ini merupakan ujian kemampuan untuk melihat hal positif di balik sesuatu. Ketika pemain golf itu memandang dengan cara pandang positif, hatinya menjadi lebih damai dan itu membuatnya tidak diliputi kemarahan atau penyesalan yang merugikan dirinya. Ketika kita bisa memandang segala hal dari sisi yang lebih positif, tiba-tiba segala hal menjadi lebih baik. Mari kita ubah cara pandang kita seperti cara pandang positif pemain golf tersebut. :D

Sumber inspirasi: Jim Dornan, “Piano di Tepi Pantai”

Rangkuman:

Ketika kita bisa memandang segala hal dari sisi yang lebih positif, tiba-tiba segala hal menjadi lebih baik.

Feb 23

Adalah sebuah gelas. Gelas itu setengahnya terisi dengan air. Atau, dengan kata lain, setengah dari gelas itu kosong. Gelas itu setengah isi, dan juga setengah kosong. Konon, ada yang mengatakan bahwa orang optimis melihat gelas itu setengah isi, dan orang pesimis melihat gelas itu setengah kosong. Pernah mendengar cerita ini sebelumnya? Jadi, mana yang lebih baik, melihat gelas itu sebagai gelas setengah isi atau melihat gelas itu sebagai gelas setengah kosong? Untuk menjawabnya, mari kita renungkan pertanyaan berikut.

Mana yang lebih baik, orang yang melihat gelas setengah isi dan merasa puas (dan tidak mencoba untuk memenuhi gelas itu), atau orang yang melihat gelas setengah kosong dan ingin mengisi kekosongan tersebut hingga gelas tersebut menjadi penuh?

Mana yang lebih baik, orang yang melihat gelas setengah isi dan bersyukur gelas tersebut masih dapat terisi setengahnya, atau orang yang melihat gelas setengah kosong dan mengeluh selalu karena terdapat kekosongan di gelas itu?

Jadi, mana yang lebih baik? Melihat gelas itu setengah isi atau setengah kosong?

Menurut saya, yang lebih baik adalah orang yang melihat gelas setengah isi dan bersyukur gelas tersebut masih dapat terisi setengahnya, dan orang yang melihat gelas setengah kosong dan ingin mengisi kekosongan tersebut hingga gelas tersebut menjadi penuh.

Ternyata, bukan cara melihat gelasnya yang lebih penting, melainkan respon kita setelah melihat gelas tersebut…

Aug 6

Wahh… udah lama juga gak ngeblog. Akhirnya sekarang baru sempat. Beberapa minggu belakangan ini saya sedang disibukkan oleh Kerja Praktek. Saya harus ngutak-ngatik openbravo dengan printer dan cash drawernya. Seru juga sih ngutak-ngatik gituan. Nanti kapan-kapan saya mau tulis tutorial lengkapnya deh ) Sebelumnya saya sudah sempat posting juga salah satu tutorial tentang openbravo ERP disini: Openbravo ERP Empty Region Problem.

Berkaitan dengan judul diatas, sebenarnya mungkin kurang tepat. Tapi karena saya bingung memilih judul yang ringkas, akhirnya terpilihlah kalimat tersebut sebagai judul dari postingan kali ini. Sugesti positif, obat segala penyakit.

Kalau tadi saya bilang bahwa judulnya kurang tepat, maka disini saya jelaskan dulu dimana letak ketidaktepatannya. Sebenarnya sugesti positif itu bukanlah obatnya. Namun dengan sugesti positif itu paling tidak kita tidak akan terlalu merasa sakit dengan sakit yang memang kita alami. Hmm… bingung ya… ) nih saya kasih contoh.

Baca contohnya di blog utama saya ya :) MustafaKamal.biz - Sugesti Positif, Obat Segala Penyakit

Nov 26

Kenapa mengeluh??

Posted by kamal87

A