Melabuhkan Sebuah Pilihan
Posted by sidicx

Nggak terasa udah lama banget saya nggak mengupdate blog saya ini. Sebenarnya banyak hal yang bisa diceritain, tapi karena satu dan lain hal akhirnya baru sempet ngeblog lagi sekarang. Yah, bisa dibilang alasan tadi hanyalah sekedar excuse saya saja karena saya sebenarnya sudah berjanji di resolusi tahun ini kalau saya akan kembali aktif menulis secara rutin. Kenyataannya, tidak. Membiasakan diri melakukan suatu hal setelah lama tidak melakukan hal tersebut ternyata cukup sulit ya
Okelah, untuk kali ini saya pengen bercerita tentang keseharian saya dengan pekerjaan yang saya jalani. Jujur, saya belum cukup yakin dengan pekerjaan saya saat ini. Saya belum yakin kalau inilah jalan hidup atau pilihan karir yang selanjutnya akan saya jalani. Dalam hati masih ada keinginan untuk mencari yang lebih baik. Dan karena itulah saya masih meng-apply pekerjaan ke tempat lain untuk posisi yang berbeda dengan yang saat ini saya jalani. Memang, pada saat pertama kali saya “tercebur” di dunia broadcasting dan entertainment ini background pendidikan saya tidak sesuai. Cukup banyak adaptasi yang perlu saya lakukan sampai saat ini. Tapi saya tidak menyesali pilihan itu, karena memang pilihan untuk menerima tawaran pekerjaan di perusahaan ini adalah keputusan saya sendiri. So, I have to take full responsibility about it.
Satu hal yang selalu saya yakini adalah, “Berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih baik bukan berarti tidak mensyukuri apa yang saat ini kita miliki”. Dan atas dasar itulah, saya tetap berusaha mencari pekerjaan yang lebih baik, dan tetap mensyukuri pekerjaan yang sekarang saya jalani. Bukan berarti pekerjaan sekarang tidak baik, bukan juga karena saya orang yang tidak pernah puas. Sungguh, tidak. Mungkin sebagian orang yang ada di sekitar saya, mungkin teman-teman saya di kantor ini akan menganggap saya tidak bersyukur diberikan pekerjaan ini oleh Allah. Saya tidak bisa menyalahkan mereka, tapi yang pasti saya punya alasan saya sendiri. Semoga mereka nantinya mengerti (kalau ternyata nantinya kami bareng-bareng lagi).
Memang saya sendiri yang menyatakan bahwa saya menghindari pekerjaan IT yang berhubungan dengan coding-mengcoding alias programming. Namun, sebenarnya saya juga tidak membayangkan akan keluar sebegitu jauh dari jalur pendidikan saya itu. Di dunia IT dan CS pun saya masih punya pilihan pekerjaan yang saya inginkan, misalnya sebagai IT Auditor, atau Business Process Analyst, atau pekerjaan lainnya yang tidak menuntut saya untuk programming. Jujur saja, saya merasa tidak cukup bisa untuk jenis pekerjaan itu, walaupun background saya Fasilkom UI. Saya hanya tidak ingin melakukan hal yang tidak optimal dan tidak menghasilkan hasil terbaik dengan effort yang optimal.
Saya tidak ingin mengeluh tentang pekerjaan saya, karena saya sudah pernah berjanji kepada diri sendiri untuk berusaha tidak mengeluhkan pekerjaan. Orang-orang pasti tidak nyaman mendengar/melihat keluhan saya, sama seperti ketidaknyamanan saya saat melihat/mendengar teman saya mengeluh tentang pekerjaannya. Saat ini saya hanya berusaha melakukan yang terbaik di sini, di pekerjaan ini. Sekalian juga mencari pengalaman sebanyak-banyaknya di “dunia luar” dari dunia yang biasanya saya tempati. Yah, hitung-hitung latihan survive di luar zona nyaman lah, hehe…
Saya selalu ingat janji Allah di Al-Quran, bahwa Apabila kita bersyukur, Allah akan menambah nikmat yang kita terima. Namun bila kita tidak bersyukur (dan justru terus mengeluh), maka justru nikmat itu akan diangkat dari kita. So, yuk mari teman-teman selalu bersyukur atas segala yang kita miliki dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. Kalau memang nantinya saya ditakdirkan bekerja di sini, saya yakin Allah punya skenario yang lebih baik dan indah bagi saya
Oh iya, saat ini saya bekerja sebagai Broadcast Development Program di PT Cipta TPI, saat ini sedang ditempatkan di Creative Center.
7 Tips Membuat CV Yang Baik (Employer’s View)
Posted by Kamal
[MustafaKamal.biz - Berisi tulisan-tulisan mengenai IT, Entrepreneurship, Web dan Internet, motivasi dan inspirasi... Pokoknya bermanfaat deh...]
Pekerjaan Linear dan Pekerjaan Eksponensial
Posted by Charles
Waktu menunjukkan pukul setengah satu siang ketika ayah saya sibuk mencari sebuah brosur di ruang kerjanya. Dia harus segera pergi untuk bertemu klien jam 2 siang itu. Ruang kerja itu sebenarnya tidak terlalu besar, tetapi penuh dengan tumpukan-tumpukan kertas yang tidak tertata rapi. Setelah menghabiskan waktu selama kurang lebih 15 menit dan mencari di tiga sudut berbeda, ayah saya masih belum dapat menemukan brosur yang dicari tersebut. Saya mulai mencoba membantu, tetapi nampaknya tidak banyak berguna karena saya pun tidak tahu wujud dari brosur itu.
Ayah saya mulai mengingat-ingat kembali, membongkar lemari, membuka kardus-kardus, dan memeriksa map-map yang ada. Tapi, brosur itu masih belum terlihat, setidaknya sampai ayah saya mencari di tengah salah satu tumpukan kertas yang tingginya mencapai setengah badan saya di pojok ruangan. Wujud brosur itu terlihat sekilas di tengah-tengah tumpukan. Ayah saya menjadi lebih lega. Tumpukan itu dibongkar, dan brosur itu akhirnya ditemukan juga. Lebih dari setengah jam waktu telah dihabiskan untuk mencari sebuah brosur. Waktu yang sebenarnya dapat dikurangi hingga kurang dari satu menit jika brosur-brosur itu telah ditata dengan rapi.
Kejadian itu yang membuat saya berpikir mengenai sebuah konsep tentang pekerjaan yang saya namakan “pekerjaan linear” dan “pekerjaan eksponensial”. Saya tidak akan membahas definisi dari “pekerjaan linear” dan “pekerjaan eksponensial”. Saya yakin, Anda dapat memahami konsep ini dengan lebih sederhana melalui contoh-contoh. Jangan pula terlalu dipusingkan tentang namanya, karena penamaan itu saya buat hanya untuk memudahkan penyebutan saja.
Dalam kasus di atas, “pekerjaan linear”-nya adalah “mencari brosur”. Sedangkan, “pekerjaan eksponensial”-nya adalah “merapikan brosur-brosur yang ada sehingga menjadi mudah dicari”.
“Belajar” adalah pekerjaan linear. “Belajar cara belajar yang efektif dan efisien” adalah pekerjaan eksponensial.
“Membajak sawah” adalah pekerjaan linear. “Menciptakan/membeli traktor untuk membajak sawah” adalah pekerjaan eksponensial.
“Mengerjakan suatu pekerjaan” adalah pekerjaan linear. “Melatih banyak orang untuk melakukan pekerjaan itu untuk Anda” adalah pekerjaan eksponensial.
“Menyalin selembar artikel sebanyak 10 kali” adalah pekerjaan linear. “Mengetik artikel tersebut sekali, dan mencetaknya 10 kali” adalah pekerjaan eksponensial.
“Menceritakan isi pikiran Anda kepada banyak orang” adalah pekerjaan linear. “Menuliskan isi pikiran Anda di dalam blog di Internet yang dapat diakses banyak orang” adalah pekerjaan eksponensial.
“Menghitung” adalah pekerjaan linear. “Menciptakan/membeli kalkulator” adalah pekerjaan eksponensial.
“Mengangkat barang dari lantai 1 ke lantai 4” adalah pekerjaan linear. “Menciptakan/membeli, serta memasang katrol untuk mengangkat barang tersebut dari lantai 1 ke lantai 4” adalah pekerjaan eksponensial.
Daftar di atas dapat terus dikembangkan dengan contoh-contoh Anda sendiri…
Nah, sekarang apakah Anda sudah memahami apakah “pekerjaan linear” dan “pekerjaan eksponensial” yang saya maksudkan dari contoh-contoh di atas? Intinya, pekerjaan yang perlu Anda lakukan yang bersifat berulang biasanya adalah “pekerjaan linear”, seperti belajar, mencari uang, menghitung, dll. Sedangkan, “pekerjaan eksponensial” adalah suatu pekerjaan yang dapat membuat pekerjaan linear dapat dilakukan dengan jauh lebih mudah. Jika pekerjaan eksponensial ini telah dilakukan, setiap pekerjaan linear akan dapat dilakukan puluhan kali, ratusan kali, bahkan ribuan kali lebih mudah dan lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Sekarang Anda bayangkan, brosur yang sudah tersusun rapi di dalam lemari. Mencari sebuah brosur dapat dilakukan dalam waktu 1 menit. 30 kali lebih cepat dibandingkan sebelumnya (30 menit). Seandainya akan dicari 60 buah brosur, perbandingannya akan semakin jelas, yaitu 1 jam dan 30 jam!
Ada orang-orang yang menyebut “pekerjaan eksponensial” ini adalah “kerja cerdas”. Tipikal dari “pekerjaan eksponensial” adalah dibutuhkan otak/kecerdasan untuk memikirkan bagaimana “pekerjaan linear” dapat dilakukan dengan jauh lebih mudah, cepat, dan baik.
Biasanya, sebuah “pekerjaan eksponensial” jauh lebih sulit dan lama untuk dilakukan jika dibandingkan dengan sebuah “pekerjaan linear”. Contohnya saja, kasus mencari brosur tadi. Untuk merapikan brosur-brosur tersebut (pekerjaan eksponensial), mungkin dibutuhkan waktu seharian, atau bahkan berhari-hari. Sedangkan, untuk mencari satu brosur secara normal dibutuhkan waktu 30 menit. Pekerjaan ini barulah menguntungkan jika Anda sangat sering mencari brosur. Jika Anda hanya perlu sekali saja mencari brosur dalam setahun, maka pekerjaan eksponensial ini tidak menguntungkan. Jadi, penting juga untuk menilai apakah suatu “pekerjaan eksponensial” layak untuk dilakukan.
So, saat ini carilah apa “pekerjaan linear” yang banyak memakan waktu dan tenaga Anda. Apa pekerjaan yang Anda sering lakukan berulang-ulang? Carilah dan lakukanlah “pekerjaan eksponensial” yang dapat membuat “pekerjaan linear” Anda tersebut dapat dilakukan dengan jauh lebih mudah, cepat, dan efisien.
Terakhir, saya ingin mengutip sebuah quote yang menjadi salah satu prinsip saya dalam bekerja. Memang prinsip ini tidak dapat diterapkan ke semua pekerjaan, tetapi Anda dapat menerapkannya untuk beberapa pekerjaan, dan hasilnya akan menjadi luar biasa. Prinsip itu adalah…
Do it once, the rest is automatic.
Lakukan “pekerjaan eksponensial” sekali, dan biarkan “pekerjaan linear” Anda dilakukan secara otomatis oleh hasil dari pekerjaan eksponensial Anda.
Pagi itu, untuk pertama kalinya saya mengeluarkan mobil yang setiap harinya ditaruh di dalam garasi rumah. Saya sudah cukup lancar dalam mengemudikan mobil. Saya sudah belajar mobil selama setengah tahun. Garasi rumah saya adalah sebuah garasi yang sempit, yang hanya mampu memuat satu mobil, dan itu pun sangat pas. Saya sudah terbiasa memasukkan mobil ke dalam garasi, namun saya belum pernah mengeluarkannya sekali pun. Hari ini adalah kesempatan pertama saya.
Karena sudah terbiasa memasukkan mobil ke dalam garasi, saya berpikir mengeluarkan mobil tentu tidak jauh berbeda. Saya cukup yakin saya dapat melakukannya dengan mudah. Saya masuk ke dalam mobil, menyalakannya, dan mulai memundurkan mobil. Namun, perkiraan saya meleset. Mengeluarkan mobil dari garasi rumah saya ternyata tidak semudah itu. Hal itu terlihat dari teriakan ayah saya yang melihat badan mobil yang hampir membentur pintu rumah, serta kaca spion mobil saya yang tersangkut di pintu rumah, membuat saya harus memaju-mundurkan mobil beberapa kali. Ternyata, terbiasa memasukkan mobil tidak menjamin kelancaran dalam mengeluarkan mobil.
Pada akhirnya, dengan bantuan arahan dari ayah dan adik saya, dan setelah beberapa kali memaju-mundurkan mobil, saya berhasil mengeluarkan mobil dari garasi rumah. Meskipun sempat gagal, pada akhirnya saya berhasil. Ada beberapa pelajaran yang saya ambil dari peristiwa ini.
- Jangan men-judge sebuah pekerjaan yang tidak pernah kita lakukan. Kesalahan saya adalah saya menganggap pekerjaan mengeluarkan mobil adalah perkara yang mudah karena saya sudah terbiasa memasukkan mobil. Padahal, saya belum pernah mengeluarkan mobil. Saya belajar untuk tidak menganggap remeh perkara-perkara yang kita anggap mudah, apalagi perkara yang belum pernah kita lakukan sebelumnya.
- Practices make perfect. Apa yang membuat saya kesulitan mengeluarkan mobil, padahal saya tidak mengalami kesulitan dalam memasukkannya? Apakah memang mengeluarkan mobil lebih sulit dari memasukkan mobil? Belum tentu. Menurut saya, penyebabnya adalah karena saya belum pernah mengeluarkan mobil, sedangkan saya sudah seringkali memasukkan mobil. Semakin banyak kita berlatih, kita akan semakin terbiasa, dan pada akhirnya perkara yang awalnya sulit buat kita akan menjadi mudah setelah kita terbiasa.
- Kegagalan adalah tanda kita harus belajar, bukan tanda kita harus menyerah. Apa yang terjadi jika ketika saya menyerah ketika mendengar teriakan ayah saya? Atau saya menyerah ketika kaca spion mobil membentur pintu rumah? Apa yang terjadi jika saat itu saya keluar dari mobil, saya berpikir bahwa saya tidak mampu mengeluarkan mobil, dan saya berjanji tidak akan mencobanya lagi? Hasilnya tentu sudah bisa dibayangkan. Selamanya, saya tidak akan bisa mengeluarkan mobil. Untunglah saya tidak berpikir seperti itu. Saya merasa kegagalan yang saya alami ketika itu adalah tanda untuk saya agar saya lebih banyak lagi belajar, lebih banyak lagi berlatih, dan bukan untuk membuat saya menyerah. Saya percaya, ketika saya lebih banyak belajar dan berlatih, saya akan semakin mampu melakukan hal tersebut. Apakah Anda setuju dengan saya?
Rangkuman
Kegagalan Adalah Tanda Kita Harus Belajar, Bukan Tanda Kita Harus Menyerah

Deadliner dan Parkinson’s Law
Posted by Charles
Baru-baru ini saya mendengar sebuah istilah: “Parkinson’s Law”. Saya mencoba mencari-cari tentang ini dan mendapatkan beberapa hal menarik.
Menurut Parkinson’s Law, jika seseorang diberikan waktu 24 jam untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan, maka tekanan waktu akan membuat orang tersebut fokus mengerjakan pekerjaannya, dan itu memaksa orang tersebut mengerjakan hal-hal yang benar-benar penting dan esensial. Akhirnya, pekerjaan tersebut dapat diselesaikan dalam waktu 24 jam.
Berikutnya, cobalah berikan pekerjaan yang sama dan berikan waktu satu minggu. Pekerjaan yang sebenarnya dapat diselesaikan dalam waktu 24 jam tersebut baru akan selesai setelah hari ketujuh… Jika diberikan waktu dua bulan, selama itu juga pekerjaan tersebut akan diselesaikan. Yang mengejutkan adalah, hasil pekerjaan yang dilakukan dalam 24 jam tidak kalah baik (bahkan mungkin lebih baik karena pengerjaan yang lebih fokus) jika dibandingkan dengan hasil pekerjaan yang dilakukan dalam waktu 2 bulan!
Sebagai seorang deadliner, saya merasakan Parkinson’s Law ini ada benarnya, dan sering saya rasakan. Jika saya diberikan waktu satu minggu, pekerjaan satu hari dapat menjadi pekerjaan satu minggu. Ternyata, deadline sangat mempengaruhi waktu penyelesaian pekerjaan. Seperti kata Parkinson, pekerjaan individual yang memiliki deadline yang panjang jarang diselesaikan di awal-awal, melainkan penyelesaiannya cenderung mendekati deadline.
Kabar baik buat bos-bos nih… “My employees will work better with short deadlines.”
Tapi jika hukum Parkinson ini disalahgunakan dapat mengakibatkan worker abuse… Kabar buruk buat para employee…
Bagaimana pendapat pembaca tentang hukum Parkinson ini? Kira-kira apa saja kebaikan dan keburukannya ya?
~beberapa deadline tugas masih menanti. Ngeblognya sampai di sini dulu yah…

