May 19

Kesalahan yang Membawa Berkah

Posted by Charles

Saya yakin, setiap dari kita pasti pernah berbuat salah, entah disengaja atau tidak disengaja. Tidak sedikit pula yang akhirnya menyesali kesalahannya terus-menerus. Kesalahan itu membawa malapetaka bagi mereka. Namun, jika kita tahu caranya, ternyata kita bisa membalikkan kesalahan yang seharusnya membawa malapetaka bagi kita, menjadi berkah untuk kita. Setidaknya, itu yang saya dapatkan dari kisah yang saya alami berikut.

Kisah ini terjadi hari Minggu lalu, ketika saya dan keluarga makan malam bersama di Pizza Hut Pluit Village. Seperti biasa, sang waiter memberikan daftar menu, dan mencatat pesanan kami. Sebelum dia pergi, dia berkata “Baik Pak… Menunya bisa saya ambil ya Pak? Pizzanya ditunggu 15 menit. Terima kasih.” Kata-kata itu mungkin tidak asing bagi Anda yang sering makan di Pizza Hut. Tampaknya, itu sudah menjadi suatu standar pelayanan Pizza Hut, agar waiter berkata-kata seperti itu, dan menjanjikan pizza yang dipesan akan datang dalam waktu 15 menit.

Kami pun menunggu… 10 menit kemudian, salah satu pesanan kami, yaitu Spaghetti, datang. Spaghetti pun saya lahap sembari menunggu pizza yang belum datang. Waktu terus berlalu, 5 menit, 10 menit, hingga 15 menit kemudian, ketika Spaghetti telah habis saya lahap, ternyata pizza yang kami pesan belum kunjung tiba. Ini berarti sudah terlambat lebih dari 10 menit dari waktu yang dijanjikan sebelumnya.

Saat itu, yang ada di pikiran saya adalah “Wah, kok pelayanan mereka ke customer kaya gini ya?”, “Wah, mereka melanggar janji”, “Wah, mereka sudah melakukan kesalahan…”, “Wah, kalau pelayanan mereka begini, mereka bisa kehilangan customer mereka.” dan lain sebagainya. Intinya, saya menganggap Pizza Hut telah berbuat kesalahan besar dan tidak profesional dengan membiarkan customernya menunggu terlalu lama, lebih dari waktu yang dijanjikan. Kami mulai kesal, dan memanggil sang waiter menanyakan pizza yang kami pesan.

“Mas, mana pizza yang kami pesan? Sudah setengah jam kok belum keluar? Janjinya kan 15 menit…” protes kami.

“Wah, maaf pak… Pizzanya masih belum jadi,” sang waiter kebingungan.

“Wah, kok di sini ga profesional ya pelayanannya? Kalau dulu saya di Pizza Hut lain kaya gini, harusnya uda ada yang digratisin nih.” kami melampiaskan kekesalan kami.

“Maaf pak… Saya akan antarkan pizzanya secepatnya,” sang waiter kembali meminta maaf.

5 menit lagi berlalu, dan pizza kami masih belum datang juga. Saya sudah mulai memikirkan untuk meng-cancel pesanan tersebut, dan pindah ke restoran lain. Image “Pizza Hut” menjadi buruk bagi kami, karena pelayanan mereka yang buruk ini. Setidaknya, ini adalah kesalahan mereka, yang hampir membawa malapetaka bagi mereka. Sampai akhirnya, momen itu tiba… Momen yang mengubah kesalahan mereka dari malapetaka menjadi berkah.

Tiba-tiba, sang waiter datang menghampiri kami membawa sebuah mangkuk sup kosong, dan berkata, “Maaf pak, pizzanya masih belum datang. Sambil menunggu pizzanya, silakan bapak nikmati dulu supnya… GRATIS…” Dan mangkuk itu pun diletakkan di meja kami.

Tiba-tiba pula, kalimat pertama yang terlontar di kepala saya saat itu adalah “Wow… Pizza Hut benar-benar profesional dan gentleman.” Entahlah kenapa saya berpikir begitu, tapi itulah kalimat pertama yang saya pikirkan ketika mangkuk sup itu diletakkan di atas meja, dan ketika saya mendengar kata-kata “silakan bapak nikmati dulu supnya… GRATIS…”

Suasana hati saya yang tadinya kesal, tiba-tiba berubah menjadi gembira. Ya, siapa yang tidak gembira diberikan barang gratis? Hehe…

Kemudian, sembari menikmati sup gratis itu, saya berpikir lagi. Kok bisa ya saya tiba-tiba berubah pikiran dari anggapan bahwa “Pelayanan Pizza Hut buruk” menjadi “Pelayanan Pizza Hut memuaskan”. Mereka tetap salah kok, dengan ingkar janji dan membiarkan saya menunggu terlalu lama. Tapi, mereka memberikan saya sup gratis (meskipun menurut saya, mereka tidak rugi memberikan sup gratis itu, karena waktu itu sudah malam, dan sup yang tersisa di gentong mereka masih banyak… Yah, daripada dibuang kan bisa untuk memuaskan customer yang terluka? Bener ga? Hehe).

Inilah yang saya sebut, kesalahan yang membawa berkah. Setelah peristiwa itu, saya jadi bercerita ke teman-teman saya tentang image positif dari Pizza Hut. Kesalahan itu tertutupi dengan respon mereka dalam memperbaiki kesalahan itu. Dan bahkan menurut saya, efek positif yang timbul karena peristiwa ini, melebihi dari efek positif jika mereka tidak berbuat kesalahan. Dengan adanya kejadian unik ini, saya jadi mengingat kejadian ini, dan bukan tidak mungkin saya bisa berpromosi tentang Pizza Hut tanpa bayaran dengan cerita-cerita saya ke teman-teman saya, termasuk dalam blog ini. :D

Mengingat kejadian itu, saya jadi ingat bagaimana restoran Pizza lain di luar negeri mempromosikan Pizza mereka. Mereka mempunyai tagline “Pizza yang Anda pesan sampai ke rumah Anda dalam 30 menit atau GRATIS!”. Lalu, uniknya, dalam beberapa kesempatan tertentu, mereka sengaja mengantar pizza pesanan itu terlambat 1 atau 2 menit (meskipun mereka sudah sampai di lokasi tepat waktu, tapi mereka sengaja menunggu untuk membuat mereka terlambat), lalu mengetuk pintu rumah dan berkata, “Maaf kak, kami terlambat 1 menit mengantar pesanan kakak. Karena itu, kakak tidak perlu bayar. Pizza ini GRATIS untuk kakak.”

Apakah kesalahan mereka dengan terlambat mengantar pizza ini membawa malapetaka? Menurut saya, justru sebaliknya, kesalahan ini membawa berkah. (Meskipun memang kesalahan ini disengaja :P ). Mereka tinggal menunggu si kakak menceritakan pengalamannya tersebut kepada teman-temannya, dan memberikan promosi gratis pada mereka.

Jadi, jika Anda berbuat sebuah kesalahan, janganlah berkecil hati dulu. Cobalah cari cara untuk memperbaiki kesalahan tersebut (bahkan menjadi lebih baik daripada Anda tidak melakukan kesalahan itu), dan kesalahan itu takkan menjadi malapetaka lagi bagi Anda. Sebaliknya, Anda akan mengenang kesalahan yang Anda buat tersebut, sebagai sebuah kesalahan yang membawa berkah bagi Anda.

Selamat memperbaiki kesalahan Anda. :D


Feb 8

Tuhan mungkin membuat kita tidak nyaman berpijak di bulan agar kita dapat meninggalkan bulan dan menggapai bintang. –Charles Christian

  • Kita mungkin menyangka kita sudah cukup sukses dengan mencapai bulan (karena kita tinggal di bumi), dan merasa bahwa bulan adalah pencapaian yang tertinggi, sehingga kita nyaman dan berhenti ketika sampai di bulan.
  • Tuhan membuat kita tidak nyaman lagi di bulan yang mungkin kita kenal sebagai “surga” untuk menunjukkan kepada kita bahwa ada bintang di atas bulan. Ada hal yang lebih baik daripada apa yang kita anggap “surga”. Tuhan menawarkan kepada kita sukacita penuh dengan kehadiran-Nya.
  • Saat kita tidak nyaman lagi berpijak di bulan, kita mempunyai dua pilihan. Kita bisa tetap bersikeras tinggal di bulan meskipun tidak nyaman, atau kita akan meninggalkan bulan. Jika kita bersikeras tinggal di bulan, kita akan merasakan ada suatu hal yang hampa dalam hidup kita seperti rasa tidak nyaman kita di bulan.
  • Kalau kita memutuskan untuk pergi dari bulan, ada dua kemungkinan yang dapat terjadi. Kita dapat semakin mendekati bintang atau semakin menjauhi bintang. Apakah kita semakin mendekati atau menjauhi, itu tergantung apakah kita taat dan mengikuti Tuhan yang menunjukkan jalan kepada bintang itu kepada kita? Tuhan sudah menunjukkan jalannya melalui Firman-Nya. Tugas kita adalah mencarinya dan berjalan di jalan yang sudah ditunjukkan Tuhan. Maka, kita pasti akan menggapai bintang itu pada akhirnya.
  • Ketika kita sudah menggapai bintang, kita akan melihat betapa bodohnya kita dahulu yang merasa nyaman berada di bulan. Kita akan menyadari bahwa bintang adalah jauh lebih baik daripada bulan, dan kita akan mendapat sukacita sejati, yang tidak kita dapatkan ketika kita ada di bulan. Tuhan akan menyambut kita di bintang tersebut.

Perubahan memang tidak selalu membawa kita kepada hal yang lebih baik, tetapi hal yang lebih baik takkan terjadi tanpa perubahan. Maka, jangan takut untuk berubah, selama di dalam perubahan itu kita terus dipimpin oleh Tuhan, yang tahu jalan menuju arah yang lebih baik.

Teruslah berusaha menggapai bintang Anda. :D

Oct 22
Sepanjang hidup kita, pasti ada orang-orang di sekitar kita yang kita harapkan untuk berubah. Namun, tidak jarang orang tersebut tidak kunjung berubah dan malah kita yang menjadi frustrasi. Pernah mengalaminya? Saya tertarik dengan sebuah kisah yang ditulis di dalam sebuah buku yang saya baca. Kisah ini menceritakan bagaimana seorang pangeran yang gila dapat diubahkan dan disembuhkan [...]
May 19

Mengubah Dunia

Posted by Charles

Ketika saya masih muda dan bebas berimajinasi, saya bermimpi mengubah dunia. Seiring dengan bertambahnya usia dan kebijaksanaan, saya mendapati dunia yang tidak berubah, saya pun menyederhanakan keinginan saya dan memutuskan hanya ingin mengubah negeri saya. Akan tetapi, tampaknya tak ada yang berubah dengan negeri saya. Usia pun kian senja, usaha terakhir saya adalah berusaha mengubah keluarga, [...]
May 15

Aksi tetaplah tidak efektif

Posted by kamal87


Hari senin 12 mei 2008 lalu, saya berangkat dengan jaket kuning melekat ditubuh. Saya duduk diatap bis sambil meneriakkan orasi-orasi dan nyanyian-nyanyian khas aksi mahasiswa. Sesampainya di dekat patung tugu tani, saya mulai berjalan. Saya menjadi border dalam aksi tersebut. Saya ikuti setiap instruksi yang diturunkan dari komando aksi nasional tersebut. Saya masih dapat menikmati apa yang saya lakukan.

Paragraf pertama dari tulisan saya ini memang terlihat kontradiktif dengan apa yang saya tulis pada postingan saya yang sebelumnya: Arah pergerakan mahasiswa masa depan. Dalam postingan tersebut, saya jabarkan beberapa alasan saya kenapa saya tidak setuju dengan aksi tersebut. Saya tuliskan dengan gamblang bahwa pergerakan mahasiswa saat ini harus mencari arah lain, arah yang lebih efektif untuk menunjukkan kontribusi mahasiswa dalam pembangunan bangsa. Saya katakan disana, bahwa selama ini kita mahasiswa telah salah arah. Namun, apa yang saya lakukan? saya justru ikuti aksi tersebut. Bahkan saya mampu menikmati apa yang saya lakukan disana. Melalui tulisan ini saya akan menjabarkan beberapa alasan kenapa saya tetap mengikuti aksi walaupun saya tidak setuju dengan upaya tersebut. Dan saya akan menekankan sekali lagi tentang pentingnya merubah arah gerak mahasiswa kedepan.

Kenapa saya ikuti aksi tersebut walaupun saya tidak menyetujuinya??? pertama, ada satu komentar dalam postingan saya sebelumnya yang saya anggap cukup cerdas, ini dia komentarnya. Intinya, mas Arul, sang pemberi komentar tersebut mengatakan bahwa masing-masing kita punya cara yang berbeda untuk bergerak. Saya bisa terima hal tersebut. Mungkin memang ada tipe mahasiswa yang lebih tertarik pada kegiatan aksi demonstrasi turun kejalan (pengingatan pada pemerintah: social control). Ada juga tipe mahasiswa yang lebih senang bergerak konkrit yang dapat memberikan perubahan secara langsung (pemberdayaan masyarakat: agent of change). Saya setuju bahwa kedua peran tersebut harus dijalankan secara beriringan. Saya setuju kita harus tetap mengingatkan pemerintah disamping kita sebagai mahasiswa juga haru membantu pemerintah dengan aksi nyata langsung apa yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa untuk membantu memperbaiki kondisi bangsa. Tapi, saya tegaskan bahwa saya tetap tidak setuju dengan AKSI tersebut.

lho… giman sih? tadi katanya setuju, tapi koq tiba-tiba berubah lagi jadi gak setuju?? saya ingin tekankan bahwa saya setuju bahwa kita mahasiswa harus senantiasa mengingatkan pemerintah akan amanah-amanahnya. Tapi saya tidak setuju jika caranya dilakukan dengan sebuah aksi demonstrasi. Kenapa saya tidak setuju dengan metode tersebut. Beberapa alasannya sudah saya tuliskan dalam postingan saya yang sebelumnya. Nah… disini saya ingin menambahkan point-point kenapa saya tidak setuju dengan metode aksi demonstrasi turun kejalan pada suasana yang seperti ini. Aksi-aksi tersebut biasanya selalu mengarah pada perlawanan akan bentuk represi. Akhirnya, dalam aksi-aksi itu diperlukan cara-cara yang agak kasar. Contoh: pada aksi senin lalu, salah seorang ketua BEM SI membuat yel seperti ini “SBY-JK, LAWAN!!!”. Sekarang saya mempertanyakan lagi, sebenarnya apa yang perlu dilawan dari SBY JK, apakah kedua orang itu menyuruh militer untuk menembaki kita? apakah kedua orang itu mengintimidasi kita? entu tidak. Lalu apa yang perlu dilawan dari mereka? mereka tidak perlu perlawanan, mereka cuma butuh pengingatan, dan yang lebih penting lagi: sokongan. Akhirnya, kita mahasiswa terjebak dalam cara-cara yang tidak ahsan (baik) dalam memberikan pengingatan pada pemerintah. Cara-cara kasar seperti itu, saya tekankan sekali lagi hanya cocok untuk pemerintahan otoriter yang mengintimidasi rakyatnya sendiri. sleain itu, aksi mahasiswa ini juga semkain menumbuhkan arogansi kita sebagai mahasiswa. Seringkali kita pada saat melaksanakan aksi menuntut dengan tuntutan macam-macam. Biasanya kita minta orang yang berkepentingan untuk menemui kita. Biasanya juga, orang yang berkepntingan itu idak bisa menemui kita. entah karena takut atau karena memang sedang sibuk. Lalu biasanya mereka memberikan alternatif pertemuan. Misal, silahkan bertemu dengan bawahan saya terlebih dahulu. Atau mari kita diskusi tapi hanya sekian orang perwakilan saja. Nah… pada saat itulah, kita para mahasiswa yang emosinya sudah terlanjur meluap-luap dengan cuaca terik dan orasi-orasi emosional, akhirnya menjadi bersikap arogan. Biasanya aksi itu akan berujung seperti ini “KAMI TIDAK BUTUH KALIAN!! KALIAN SUDAH MEMBUKTIKAN BAHWA KALIAN PENGECUT blablabla…”. Lantas kalau sudah seperti itu, kita pergi mencari spot aksi lain. Setelah jadwal aksi sudah berjalan sampai akhir. lantas kita masing-masing pulang kembali kerumah. Mengerjakan kembali tugas2 kuliah kita yang masih terbengkalai. Akhirnya…. aksi-aksi tersebut benar-benar tidak membawa hasil, karena ketika kesempatan diskusi sudah terbuka, kita pergi begitu saja sambil terus bersampah serapah dalam orasi-orasi kita. Saya katakan pada rekan-rekan semua, bahwasanya kondisi aksi senin lalu ternyata tak jauh berbeda dengan skenario yang saya tuliskan diatas. SBY, melalui Andi malarangeng mengatakan silahkan bicara dulu dengan menteri-menteri terkait. Kita sudah diberi kesempatan untuuk berdiskusi dengan para menteri, tapi ternyata kita menolak mentah-mentah. Kita tetap memaksa SBY datang kemudian menandatangani lembara tugu rakyat yang isinya HANYA TUNTUTAN buat pak SBY. kasian betul pak SBY itu… sudah terliaht sekali dia bingung mengurus negeri ini, eh… kita mahasiswa malah tambaha bikin ngerecokin kebingungannnya beliau. Seharusnya kita bantu dia mengusir kebingungannya dengan mengatakan pada beliau: “Pak SBY, kami siap mensupport Anda dalam bidang-bidang yang kami kuasai. Apa yang bisa kami lakukan untuk membantu program-program anda akan kami coba kerjakan”

Wah… mas kamal ini gimana sih??? tulisannya panjang lebar menentang aksi tapi koq kemarin tetap ikut aksi? Ok… disini saya akan berikan jawabannya… Satu hal yang menjadi alasan saya kenapa ingin ikut aksi ini adlah saya ingin memberikan contoh pada sahabat-sahabat saya yang lain yang ada di fasilkom. Say sudah meliaht Fasilkom tidak tawazun, tidak seimbang. Terlalu menitikberatkan pada aspek keilmuan tapi aspek pengingatannya diabaikan sama sekali. Saya akui, Banyak, sangat banyak mahasiswa fasilkom yang merasa tidak punya tanggung jawab untuk mengingatkan pemerintah. Dikampus saya itu, lebih banyak orang yang ingin belaja tentang IT karena dia ingin dirinya jago dibidang IT. Dikampus saya, lebih banyak orang yang ingin berprestasi supaya dirinya bisa memberikan kebermanfaatan yang luas. Tapi sayangnya banyak dari mereka yang lupa dengan perannya yang lain, yaitu peran social control. bahkan para pejabat BEM Fasilkom pun banyak yang punya pandangan seperti itu (Ayo donk, sodara-sodara dan sahabat-shabat ku di BEM, be tawazun/seimbang dalam bergerak! Jalankan semua peran mahasiswa secara optimal). Dengan ikut aksi tersebut, saya ingin memberikan teladan pada teman-teman saya dikampus fasilkom. Untuk itulah, sesaat sebelum berangkat aksi itu, saya berjalan berkeliling sendiri dikampus saya dengan mengenakan jaket kuning yang ngejreng itu. Walhasil, banyak yg nanya “mo ngapain lu mal!!” ) Alhamdulillah, aksi yang saya ikuti itu memberikan pengaruh yang cukup besar buat beberapa orang sahabat saya. Semoga pergerakan mahasiswa dikampus saya kedepannya bisa lebih seimbang.

Sekarang, saya sudah menjabarkan bahwa aksi itu tidak efektif. tentunya saya tidak boleh hanya berkoar-koar saja berteriak-teraik bahwa aksi tidak efektif tanpa memberikan solusi jalan lain yang lebih efektif untuk mengingatkan pemerintah. Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah dengan mengundang tokoh politisi yang ingin kita ingatkan itu dalam diskusi yang lebih sopan dan konstruktif. Kita bisa saja mengundang sang presiden atau sang menteri untuk menjadi pembicara di seminar yang kita adakan. Dalam acara itu kita bisa memberikan pengingatan secara lebih elegan. Selain itu, kita juga bisa datangi media, untuk meminta slot khusus untuk menyampaikan pendapat kita. Kalau untuk menundukkan DPR/MPR saja kita bisa, apalagi kalau cuma sekedar meminta waktu pada media untuk memberikan pengingatan pada pemerintah sekaligus juga memberikan pencerdasan pada masyarakat. Ketahuilah… aksi sama sekali tidak mendidik masyarakat, lihatlah di daerah-daerah, mereka-mereka yang berusaha mengikuti cara kita dengan berdemosntrasi ternyata justru terseret pada sikap anarkisme. Kita, para mahasiswa insan intelektual bangsa mungkin bisa mengendalikan aksi secara kondusif dan tidak anarkis, Tapi mereka diluar sana yang tidak mau tahu bagaimana caranya, yang penting tuntutan mereka terpenuhi. Mereka pasti akan terodorng pada aksi anarkisme.

Sebenarnya masih ada banyak sekali cara lain yang bisa kita lakukan untuk mengingatkan pemerintah dengan cara yang lebih elegan dan mendidik. Kita pasti bisa mengexplor semua cara tersebut. Syaratnya, kita para mahasiswa harus benar-benar bersatu. Kita harus sama-sama sepakat bahwa mahasiswa perlu merubah pola gerakannya. Dari situ baru kita bisa sama-sama memikirkan pola gerakan yang paling tepat dan cocok untuk kondisi Indonesia saat ini.

~ HIDUP RAKYAT INDONESIA