Jul 28

Sebuah Berita Mengejutkan Di Pagi Hari

“Ko, kayanya nanti saya ga kaer (kebaktian remaja) dan pembinaan deh… Rumah saya kebakaran!”

SMS itu masuk ke dalam inbox handphone saya pada hari Minggu kemarin, 25 Juli 2010 Pk 03:21 dini hari. Pengirimnya? Kurniawan, seorang anak bimbingan saya di gereja.

Saya baru membaca SMS itu ketika saya bangun jam setengah 6 pagi. Hampir saja saya menjatuhkan handphone saya saat membacanya. Saya langsung mencoba menghubungi dia.

Sia-sia. Handphone-nya tidak aktif. Saya malah menjadi bertambah khawatir. “Oh Tuhan, apa yang terjadi dengannya?”

Saya sungguh bergumul saat itu. Pagi itu, saya ada janji pergi dengan teman saya. Tapi, saya tidak akan mungkin dapat meninggalkan anak bimbingan saya dalam keadaan yang belum jelas dan sangat membuat saya khawatir. (Sebenarnya saya malu mengakui bahwa awalnya saya masih ragu-ragu untuk membantu anak bimbingan saya sendiri, tapi saya ingin bercerita dengan jujur). Kebingungan saya terjawab beberapa menit kemudian di kamar mandi saya.

Saya sedang mandi ketika saya bertanya kepada Tuhan di dalam hati saya, “Tuhan? Apa yang harus saya lakukan?” Dan saya percaya, Tuhan menjawabnya ketika ada sebuah suara yang saya rasakan sangat jelas di dalam hati saya: “Datanglah ke sana…”.

“Tapi Tuhan, apa yang bisa saya lakukan di sana?” Saya tidak pernah membantu orang yang mengalami musibah kebakaran sebelumnya. Meskipun di satu sisi saya sangat ingin membantu, di sisi lain saya merasa bingung dan tidak nyaman.

Semua keraguan saya sirna ketika suara itu bergema lagi di dalam hati saya: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.”

Singkat cerita, akhirnya saya membatalkan janji dengan teman saya. Dan saya pergi, ke lokasi kebakaran itu. Saat itu, saya sama sekali tidak tahu, bahwa Tuhan akan memberi saya berkat yang melimpah di sana.

Datang Ke Lokasi Kebakaran

Rumah Kurniawan, anak bimbingan saya tersebut, ada di daerah Tambora. Di sepanjang perjalanan, saya berdoa untuk keselamatan Kurniawan.

Saya pun sampai di depan gang dekat rel kereta api Bandengan. Saya melihat beberapa mobil pemadam kebakaran berjejer, dan banyak orang berkerumun. Saya mencoba untuk masuk ke dalam gang.

Saya melihat rumah-rumah yang berdempet-dempetan sepanjang gang itu. Saya melihat banyak orang berkerumun. Setelah saya agak jauh masuk ke dalam gang, saya mulai melihat rumah-rumah yang sudah hangus terbakar.

Saya masuk ke dalam gang rumah anak bimbingan saya. Saya tidak dapat sampai ke depan rumahnya. Petugas pemadam sedang sibuk menyemprotkan air ke rumah-rumah tersebut (yang sebenarnya sudah lebih mirip kumpulan tembok-tembok saat itu).

Saya sungguh terkejut. Saya tidak mengira kebakarannya sebesar ini. Meskipun saat itu api sudah berhasil dipadamkan, tetapi para petugas masih terus menyemprotkan air. Puluhan rumah habis terbakar si jago merah.

Sementara itu, saya masih mencari Kurniawan. Ya! Kurniawan… Di mana dia? Saya pun berusaha mencari di tengah kerumunan orang. Saat itulah, saya menyaksikan pemandangan di luar dugaan saya.

Sebuah Pemandangan Di Luar Dugaan

Apa yang Anda harapkan ketika Anda melihat seseorang yang rumahnya baru saja habis terbakar? Seorang yang sedang menangis tersedu-sedu? Seorang yang marah-marah? Seorang yang depresi? Seorang yang menunjuk orang lain dan berkata: “Ini semua salah kamu!!!”

Kawan, tidak satu pun dari orang-orang di atas yang saya temukan. Seberapa hebat pun saya mencari saat itu, tidak satu orang pun yang saya temukan menangis, marah-marah, depresi, atau saling menyalahkan. Setidaknya, sejauh yang saya lihat saat itu, saya tidak menemukannya.

Lalu, orang seperti apa yang saya temukan?

Yang saya temukan adalah orang yang sedang membeli banyak roti untuk tetangga-tetangganya, yang juga mengalami musibah.

Yang saya temukan adalah orang-orang yang saling membantu satu sama lain. Yang satu mengambil air. Yang lain menenteng ember. Yang lain lagi sedang menyiramkan isi ember itu ke sisa-sisa api.

Yang saya temukan adalah dua orang yang berpapasan. Yang seorang bertanya, “Hai… Gimana rumahmu?”. Dengan senyum terukir di wajahnya, yang lain menjawab, “Rumah habis semua. Tapi untung anak-anak selamat semua. Kamu bagaimana?”. Tersenyum juga, dia menjawab, “Sama. Tak ada yang tersisa, tapi keluarga aman.”

Hei, apakah tidak salah!? Mereka baru saja kehilangan rumah mereka, dan mereka dapat tersenyum begitu lepasnya. Mereka bahkan masih saling memperhatikan satu sama lain. Jika saya ada di posisi mereka, dapatkah saya melakukan hal yang sama? Suatu hal yang masih saya ragukan.

Saya yang awalnya berniat membantu, hanya bisa terdiam menyaksikan semua hal yang luar biasa tersebut. Saya merasakan aura positif di tengah kekacauan akibat kebakaran. Saya melihat begitu banyak orang yang luar biasa. Tidak terkecuali anak bimbingan saya.

Respon yang Luar Biasa

Saya masih terdiam ketika dia menepuk bahu saya.

“Hai koko!” sapaan yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Sapaan anak bimbingan saya. Kurniawan menghampiri saya.

“Hai Kur… Koko cari kamu dari tadi. Gimana rumah kamu?”

Tidak ada kesedihan yang terlihat di wajahnya. Hanya senyuman yang biasa dia tunjukkan. Dia menjawab, “Wah… Abis semua ko. Rumah saya uda jadi kaya lapangan bola…”

“Hah? Abis semua Kur?” saya terkejut.

“Iya. Baju aja tinggal yang saya pake sekarang. Cuma sempet ngeluarin motor dan sedikit baju dede saya.”

Oh Tuhan… Apa yang Engkau ingin nyatakan pada Kurniawan? Saya teringat, baru saja sehari sebelumnya kaki Kurniawan tertusuk paku. Dan hari itu, seharusnya dia mengikuti pertandingan basket. Pertandingan final. Baru juga sehari sebelumnya, dia membeli sepatu untuk dia pakai di pertandingan itu. Tapi sepatu itu lenyap dalam beberapa jam, tanpa sempat dipakai olehnya. Baru pula sehari sebelumnya, dia membantu kokonya bekerja seharian. Siapa yang menyangka, sekarang peralatan kerja kokonya pun sudah habis terbakar, di saat sebenarnya pekerjaan itu masih harus dilanjutkan hari itu.

Saya percaya, Tuhan ada rencana yang indah pada Kurniawan. Tapi, saat itu, segalanya terlihat begitu gelap. Ibarat orang yang sudah jatuh, tertimpa tangga, dan tertiban balok pula.

Tapi, respon Kurniawan menghadapi semua ujian ini sungguh baik. Tidak. Lebih dari baik, ini luar biasa! Kurniawan meresponi semua musibah ini dengan begitu positif. Dia meresponi dengan keyakinan Tuhan masih menyertainya sampai detik ini, meskipun dia sedang mengalami musibah yang hebat.

“Mama dan yang lain gimana Kur?” saya bertanya lagi.

“Puji Tuhan semua selamat ko. Saya barusan disuruh jaga motor sih, tapi sudah saya kunci. Koko mau lihat rumah saya?”

“Ga pa pa Kur motornya ditinggal?”

“Ga pa pa ko, aman… Uda saya kunci.” kata Kurniawan. Senyumnya masih terus terukir. Dan saya pun diantar ke gang rumahnya. Saya tidak dapat melihat dengan jelas saat itu, karena saya hanya melihat dari jauh. Petugas pemadam masih sibuk bekerja. Akhirnya, Kurniawan membawa saya bertemu mama dan adiknya.

Seperti orang-orang yang lain, mama Kurniawan pun tidak menunjukkan tanda-tanda kesedihan. Hei, saya tahu mereka semua sedang sedih. Tapi, mereka memilih untuk tidak memfokuskan diri mereka pada kesedihan mereka, melainkan pada hal-hal yang dapat mereka selamatkan, keluarga mereka. Dan itulah yang luar biasa.

Mama Kurniawan bercerita, “Kur tadi hebat loh, dia ingetin saya buat lepasin gas. Biar ga meledak katanya. Oh iya ya… Saya saja tidak ingat. Lalu saya lepasin gas. Abis itu langsung mati lampu. Dan ga berapa lama api udah nyamber. Tapi tabung gas itu selamat.”

“Ah, tapi sama aja ko… Yang lain ga lepasin gasnya, jadi meledak juga dari rumah yang lain ko… Hehehe.” kata Kurniawan sambil tertawa, membuat orang-orang di sekitarnya juga tertawa kecil.

“Tadi ribut-ribut saya kira ada tawuran… Jadi saya diemin aja. Terus saya kaget Kurniawan bilang kebakaran. Jadi saya baru bangun, untung semuanya bisa bangun dan selamat akhirnya…” mama Kurniawan cerita lagi.

“Hmm, ada korban jiwa ga ya di kebakaran ini?” saya bertanya lagi, penasaran.

“Tadi hampir ada ko… Kakek-kakek yang uda agak tuli. Digedor-gedor tetep ga bangun. Akhirnya pintunya didobrak, dan dia baru bisa dibangunin. Wah, kalo ga, uda jadi daging panggang ko…” kata Kurniawan.

Wow! Di tengah kepanikan, mereka masih ingat pada seorang kakek-kakek tua yang hampir tuli, yang hidup sendirian di dalam rumahnya yang terkunci. Mereka bahkan mendobrak pintu untuk menyelamatkan sang kakek. Mereka tidak berpikir keselamatan diri mereka sendiri saja, tapi juga keselamatan orang di sekitar mereka.

Api boleh membakar barang-barang mereka. Tapi mereka tetap bergembira karena mereka berhasil menyelamatkan setiap nyawa. Api tidak dapat membakar cinta kasih yang ada di dalam hati mereka.

Ingin Membantu, Malah Dibantu

Mau tahu akhir kisah yang tragis namun luar biasa pagi itu? Kurniawan mengantarkan saya pulang dengan motornya. Oh, saya mau menangis di perjalanan.

Diantar pulang naik motor mungkin sebuah hal yang biasa. Diantar pulang naik motor oleh seorang anak bimbingan yang rumahnya baru saja terbakar habis. Rasanya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Saya tahu, Kurniawan akan berkata “Ah, koko lebay…” ketika membaca tulisan ini. Tidak Kur, ini tidak lebay. Sungguh itu yang koko rasakan…

Tidak sekali pun terdengar keluhan. Tidak sekali pun terlontar makian. Tidak sekali pun dia meminta bantuan. Kenyataannya, justru sayalah yang dibantu. Saya benar-benar tidak membantunya pagi itu. Dia membantu saya dengan mengantarkan saya pulang.

Saya teringat kata-kata Tuhan tadi pagi: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.” Ini benar sekali. Tuhan ingin menunjukkan kepada saya seorang anak bimbingan saya yang sungguh luar biasa.

Tentunya, karena dia memiliki Tuhan yang luar biasa juga, yang telah mengubahkan hidupnya. Dan saya sangat bersyukur untuk semua itu.

Sungguh banyak berkat yang saya dapatkan, sehingga saya harus memecah tulisan ini menjadi beberapa bagian. Siang itu, saya datang lagi menemui Kurniawan, kali ini dengan teman-teman yang lain. Tapi ini cerita yang lain lagi, dengan berkat yang berbeda lagi yang saya dapatkan.

Apa yang Saya Pelajari

Lalu, apa yang saya pelajari pagi itu? Saya belajar untuk tidak egois, dan lebih memperhatikan orang lain. Saya belajar untuk mengandalkan Tuhan dan bersyukur senantiasa. Saya belajar untuk meresponi hal-hal buruk yang terjadi dengan sikap yang positif.

Tuhan yang mengajarkan itu kepada saya. Melalui anak bimbingan saya yang luar biasa.

Terima kasih Tuhan. Terima kasih Kurniawan.

Percayalah, Tuhan menyertaimu sampai kepada akhir zaman.

Teruslah percaya kepada-Nya. :D

Charles Christian

P.S. Yeremia 29:11. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Bersambung…


Jun 2

Kejadian ini terjadi di suatu hari yang cerah 2 tahun yang lalu. Seperti biasa, tidak ada bintang jatuh… Seperti biasa juga, saya pergi ke kampus pakai sendal, yang sebenernya saya tau tuh sendal uda rada ga bener, uda hampir putus, tapi karena saya yang keras kepala tetep aja saya pake tanpa sedikit pun rasa bersalah. Saya sampai di kampus dengan aman sentosa, sehat walafiat, tidak kekurangan suatu apa pun, setidaknya sampai terjadi tragedi itu.

Tragedi apa? Jadi ceritanya saya lagi turun tangga. Terus abis saya turun, ada genangan air ga jelas ada di depan WC (siapa sih yang pipis sembarangan di depan WC?), yang saya ga liat (saking rabunnya nih mata…). Dan genangan air itu berhasil membuat saya meluncur beberapa meter ke depan seperti maen ice skating dan membuat sendal saya bener-bener putus!!! Tuh genangan cuma gagal membuat saya jatuh, karena keseimbangan tubuh saya yang udah saya latih bertaon-taon dengan bertapa di atas gunung salak… (yang ini ga bener).

Okeh… Akhirnya sendal saya putus juga. Nyesel deh saya, napa saya tadi pagi masih keras kepala make tuh sendal. Trus sekarang, gimana saya bisa balik ke kos saya dengan sendal yang putus gitu? Huhuhu… Apa saya mesti ngesot2 atau nyeker ampe kaki berdarah2 ke kos saya??

 


Tiba2 terlintas sebuah ide brilian di otak saya. Yup, saya minta karet gelang atau lakban (bukan enem puluh rebo) aja sama pos satpam yang ada di depan gedung… Terus kan tinggal saya tempelin ke sendal saya… Lumayan lah. Oke… brilian sekali.

Akhirnya dengan ngesot2, saya berhasil sampe ke pos satpam di depan gedung…

“Pak… Ada karet gelang ga?” saya nanya.

“Wah… karet gelang ya?”, kata pak satpam sambil nyari2… “ga ada tuh… Coba kamu cari di dapur sebelah deh…”

“Nih pos satpam kesian banget. Karet gelang aja ga punya” pikir saya dalem hati. Tapi, yah daripada ngesot ampe kos, saya mendingan ngesot ke dapur sebelah. Dengan sedikit esotan, sampelah saya ke dapur sebelah. Saya buka pintunya, eh ada Pak Komar, janitor (karyawan/cleaning service –red) di kampus tercinta, yang lagi makan siang dengan enaknya. Saya berhasil mengganggu kenikmatan makan Pak Komar dengan sebuah pertanyaan:

“Pak Komar… Ada karet gelang ga?” saya nanya pertanyaan yang sama.

“Waduh… karet gelang ya…” Pak Komar langsung menghentikan kunyahannya dan langsung sibuk nyari2… “ga ada tuh…”

Setengah pasrah, saya nanya lagi, “kalo lakban ada ga pak?”

Setelah nyari2 n berhasil tidak menemukan sepotong lakban pun, Pak Komar menjawab, “Wah ga ada juga tuh… Buat apa sih?”

“Ini pak, sendal saya…” sambil nunjuk ke kaki yang lagi nginjek sendal putus dengan wajah memelas meminta belas kasihan.

“Wooh… itu mah ntar jelek klo dilakban… Lakban kan warna coklat. Sendalnya warna item…”

Dalem hati… “Gak peduli deh jelek2, yang penting gak usah ngesot2 ampe kos. Yang penting mengamankan kaki dulu dari kerikil2 tajem”. Akhirnya saya jawab, “Gapapa kok pak…”

“Eh, coba cari di satpam deh…”

Lagi2 dalem hati… “Duh2 Pak Komar… Tadi saya juga dari satpam… Ga ada pak!” Tapi karena Pak Komar juga keluar, saya ikutan keluar n ngesot lagi ampe pos satpam ngikutin Pak Komar. “Udah pak… ga ada di pos satpam”, lagi2 dalem hati…

Sampai di pos satpam yang tadi (lagi2 dengan beberapa esotan). Pak Komar nanya… “Woi, ada sendal jepit ga? Nih ada yang sendalnya putus”, terus dengan cepatnya sebuah sendal jepit uda ada di tangan Pak Komar…

Semua ide brilian saya langsung hancur… Jeger! Iya ya, ngapain juga saya minta2 karet gelang n lakban… Napa saya ga langsung aja minjem sendal jepit. Dodol…

Untung ada Pak Komar… Makasih pak. Ga jadi ngesot ampe kos deh, semoga ga akan pernah… hehehe.

Moral: Ide brilian kita belum tentu benar-benar brilian. :P

Ini adalah kisah saya yang saya tulis dua tahun yang lalu (dengan sedikit modifikasi). Menurut Anda, apakah peristiwa di atas tergolong keberuntungan atau ketidak-beruntungan? Saya dapat menganggap peristiwa di atas sebagai keberuntungan, karena peristiwa itu akhirnya menjadi sebuah pengalaman yang menarik dan lucu yang dapat saya ceritakan ke orang lain, termasuk kepada Anda saat ini. Jika sendal saya tidak putus saat itu, tidak ada kisah yang telah menghibur beberapa orang ini (emangnya menghibur ya? hehe).

OK, ini adalah satu contoh melihat sisi positif dari sebuah peristiwa. Peristiwa buruk di masa lalu, bisa saja menjadi peristiwa lucu yang menarik diceritakan sekarang. Jadi, peristiwa buruk di masa sekarang, bisa saja menjadi peristiwa lucu yang menarik di masa depan.

Saya pribadi percaya, setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup saya, entah itu baik atau buruk, pasti memiliki manfaat dalam membentuk diri kita menjadi seperti hari ini. Tuhan sudah merancangkannya untuk kebaikan kita. Jadi, apa pun yang terjadi pada diri kita saat ini, ada tujuan baik di balik semuanya itu. Mungkin kita tidak mengetahuinya sekarang. Kita akan mengetahuinya pada waktu-Nya. Saat itu, kita akan bersyukur bahwa kita sungguh beruntung memiliki Tuhan yang begitu baik dan penuh kejutan. Hei, mengapa harus menunggu saat itu untuk bersyukur? Saat itu pasti akan tiba. Bersyukurlah dari sekarang. :D


May 26

image

Apa yang Anda pikirkan ketika Anda membaca judul tulisan ini? Saya menebak, ada dari Anda yang mungkin berpikir seperti ini: “Ah, mana mungkin kita selalu beruntung dalam hidup. Realistis aja, hidup ada di atas ada di bawah, ada naik ada turun, ada untung ada rugi… Ga mungkin lah hidup selalu beruntung.” Melalui tulisan ini, saya ingin membukakan, bahwa kita dapat selalu beruntung dalam hidup ini, jika saja kita tahu caranya. Tidak percaya? Mau tahu caranya? Lanjutkan baca tulisan ini sampai selesai… :D

Suatu sore, ketika saya sedang membaca komik Paman Gober (atau komik Donal Bebek), saya menemukan sebuah kisah berikut. Diceritakan, Paman Gober sedang bekerja di dalam gudang uangnya. Tiba-tiba, Paman Gober mendengar ada keributan di luar gudang uangnya, yang begitu mengganggunya. Ketika dia melihat keluar jendela, ternyata keributan itu berasal dari kedua keponakannya, si Donal dan si Untung, yang sedang berkelahi di halaman depan gudang uang. Paman Gober yang merasa terganggu lalu meminta James, pelayannya, untuk membawakan kentang untung menimpuk keponakannya tersebut (mungkin sayang kalau ditimpuk pakai karung emas, jadi ditimpuknya pakai kentang. :P ). James lalu membawakan sebuah kentang yang akhirnya dilemparkan Paman Gober ke luar jendela, dan mengenai salah satu dari keponakannya tersebut. Coba Anda tebak, siapa yang terkena lemparan Paman Gober ini sampai membuat kepalanya benjol? Apakah si Untung? Atau si Donal?

Kalau Anda sering membaca komik Donal Bebek, tentunya Anda tahu kalau si Untung adalah bebek yang selalu beruntung, dan si Donal adalah bebek yang selalu sial. Mungkin, dengan pengetahuan itu, Anda akan menjawab si Donal yang akan tertimpuk kentang sampai benjol…

Ternyata, bukan si Donal yang kena timpuk, tapi si Untung! Untung Angsa, yang terkenal sebagai bebek yang selalu beruntung, terkena timpuk kentang sampai benjol. Apa yang kita katakan? Apakah Untung mengalami kesialan? Jika ceritanya berhenti sampai di sini, mungkin ya… Tetapi, cerita ini ada kelanjutannya.

Si Donal spontan tertawa puas melihat sepupunya yang selalu beruntung akhirnya mengalami kesialan juga. Si Untung tidak percaya kalau dia bisa tidak beruntung. Lantas, dia mengecek kentang yang membuat kepalanya benjol tersebut. Ternyata, di dalam kentang tersebut terselip sekeping emas yang sangat langka dan berharga.

Nah, sekarang, apakah si Untung sial atau beruntung dengan tertimpuk kentang tersebut? Mungkin sekarang kita akan berubah pikiran dengan mengatakan si Untung beruntung. Saya pun berpikir demikian. Tapi, saat itu, saya mencoba berpikir lebih dalam lagi. Kenapa saya menganggap si Untung beruntung? Bukankah dia tertimpuk kentang sampai benjol? Saya mencoba merumuskan, dan saya mendapat kesimpulan bahwa saya menganggap si Untung beruntung karena sisi positif yang dia dapatkan lebih besar dari sisi negatif yang dia terima. Mendapat sekeping emas yang sangat langka dan berharga itu lebih berharga dibandingkan kerugian akibat ditimpuk kentang. Jadi, rumusnya adalah:

Seseorang disebut “BERUNTUNG” jika lebih banyak “SISI POSITIF” yang dia terima dari sebuah peristiwa, dibandingkan dengan kerugian yang dia harus tanggung akibat “SISI NEGATIF” dari peristiwa tersebut.

Nah, berarti yang menentukan apakah kita BERUNTUNG atau tidak, bukanlah peristiwanya… Tapi, bagaimana cara kita memandang peristiwa tersebut. Masalahnya adalah bagaimana kita dapat melihat “SISI POSITIF” dari sebuah peristiwa yang lebih besar dibandingkan kerugian dari “SISI NEGATIF” yang diakibatkan peristiwa tersebut.

Penting bagi kita untuk menyadari hal ini. Kalau kita menganggap peristiwa yang terjadi pada kita yang menentukan keberuntungan kita, maka hidup kita bisa beruntung dan bisa kurang beruntung, tergantung peristiwa yang terjadi pada kita. Kita tidak punya kontrol apa pun atas keberuntungan kita, karena kita tidak bisa mengontrol peristiwa yang terjadi kepada kita. Tapi, kalau kita menganggap keberuntungan dengan definisi yang saya berikan di atas, maka kita bisa terus menerus beruntung, kalau kita bisa melihat sisi positif dari setiap peristiwa yang kita alami.

Kabar baiknya, setiap peristiwa yang kita alami pasti mempunyai sisi positif. Jadi, sebenarnya, kita bisa mengontrol keberuntungan kita dengan sengaja, dengan selalu melihat sisi positif dari sebuah peristiwa. Jika kita selalu melihat sisi positif dari sebuah peristiwa, takkan ada peristiwa yang merupakan kesialan bagi kita. Dengan kata lain, kita akan selalu beruntung. Masuk akal? :D

Berarti, sekarang masalahnya adalah bagaimana cara kita melihat sisi positif dari peristiwa yang kita alami. Saya tidak akan memaparkan teori apa-apa. Saya hanya akan membagikan cara-cara praktis yang saya lakukan untuk melihat sisi positif dari sebuah peristiwa (yang mungkin bagi sebagian besar adalah peristiwa buruk). Peristiwa yang akan saya bagikan adalah peristiwa yang nyata terjadi dalam kehidupan saya sehari-hari. Saya akan membagikan sharing saya tersebut dalam tulisan mendatang. So, ditunggu ya tulisan saya minggu depan…

Selamat menjalani hidup yang penuh dengan sisi positif. :D

Bersambung… ke Tips Agar Kita Selalu Beruntung Dalam Hidup (2)


Mar 24

Sisi Positif dari Penderitaan

Posted by Charles

Penderitaan. Di saat banyak orang yang mengaitkan kata ini dengan sejumlah hal-hal negatif seperti “bencana”, “kemiskinan”, “kesakitan”, dan lain sebagainya, saya tertantang untuk berpikir, sebenarnya ada tidak ya hal positif dari penderitaan?

Banyak orang yang mengatakan bahwa dirinya menderita. Menderita karena sakit penyakit, menderita karena ditinggal orang yang dikasihi, menderita karena ditolak saat nembak, menderita karena ditipu orang, menderita karena ketiban bencana alam, menderita karena perbuatannya yang tidak baik ketahuan orang lain, menderita karena diejek orang lain, menderita karena kemiskinan, dan lain sebagainya. Sekilas, mendengar semuanya itu, yang terlintas di pikiran kita, penderitaan adalah sesuatu yang sangat jelek, dan tidak ada positif-positifnya. Ternyata tidak juga kawan… Ada hal yang sangat positif yang bisa diambil dari penderitaan. Namun sayangnya, tidak banyak orang yang melihat sisi positif ini.

Jadi, apa sisi positif dari penderitaan? Sisi positifnya adalah ketika kita bisa memanfaatkan penderitaan yang kita alami untuk memotivasi kita untuk melakukan hal-hal yang positif dalam kehidupan kita. Ketika kita menderita, badan atau hati kita akan terluka, dan hal itu akan menciptakan suatu emosi yang dapat mendorong kita untuk membuat kita keluar dari penderitaan tersebut. Namun tentunya kita harus dapat memanfaatkan emosi tersebut dengan baik, dan bukannya malah menjadi depresi.

Seorang Tung Desem Waringin contohnya. Beliau saat ini telah menjadi pelatih sukses nomor satu di Indonesia, menjadi orang yang sukses. Apabila beliau ditanya, “Apa resep sukses Anda?”, beliau akan menjawab bahwa salah satu resep suksesnya adalah karena dia mempunyai alasan yang sangat kuat (untuk menjadi sukses). Ternyata, alasan yang sangat kuat yang dimaksud oleh beliau itu didapatkan saat ayah beliau sakit, dan ternyata gaji sebulan beliau saat itu sebagai seorang kepala cabang BCA, tidak cukup untuk membiayai perawatan ayahnya selama satu hari. Akhirnya, sang ayah dipindah ke ruang kelas tiga (dari ruang kelas satu). Di sana, sang ayah berkata kepada beliau, “Tung… Kamu sudah tidak punya uang lagi ya? Papa sudah mau mati kok masih dipindah ke ruangan ini?” Di sanalah, seorang Tung Desem Waringin seperti tersambar petir, menyadari bahwa dia tidak mampu memberikan perawatan terbaik untuk ayahnya saat itu, dan dia berjanji untuk menjadi lebih sukses lagi. Kalau-kalau saja Tuhan masih memberikan kesempatan kepadanya untuk berbuat lebih banyak lagi untuk orang tuanya.

Ketika kita dihadapkan pada penderitaan, kita bisa memilih apakah kita menjadi “tertekan” oleh penderitaan kita dan menjadi depresi… Atau kita menjadi “tertantang” untuk berbuat lebih banyak lagi supaya kita tidak menderita lagi di masa yang akan datang. Penderitaan bisa dijadikan sebuah pengungkit untuk memotivasi kita menjadi lebih baik lagi. Dan tentunya, jika kita bisa bertahan melalui penderitaan itu, kita akan menjadi pribadi yang lebih kuat.


Jan 4

Setiap hari, ada banyak peristiwa yang saya lewati. Tidak jarang, ketika saya mengalami suatu peristiwa, tiba-tiba melintas di kepala saya hal-hal yang saya dapat pelajari dari peristiwa tersebut. Peristiwa itu mungkin hanyalah sebuah peristiwa sederhana, yang ditemui oleh banyak orang setiap hari. Tetapi, jika kita melihat lebih dalam, ternyata ada banyak hal yang dapat dipelajari dari sebuah peristiwa sederhana.

Semangat inilah yang mendorong saya di awal untuk membuat sebuah blog dengan salah satu tagline “belajar dari kehidupan”. Saya percaya, kita semua adalah pembelajar seumur hidup kita, dan jika kita mau berpikir sejenak, ada banyak sekali hal-hal berharga yang dapat kita pelajari dari kehidupan ini, dari keseharian kita.

Mulai hari Senin mendatang, setiap hari Senin, teman-teman akan menemukan sebuah tulisan yang murni merupakan hasil pemikiran pribadi saya. Pemikiran yang mungkin muncul dari hal-hal sederhana yang terjadi dalam hidup saya. Pelajaran sederhana namun sangat berharga yang saya dapatkan dari kehidupan yang saya jalani.

Ya, ada banyak sekali hal yang terpikir begitu saja di kepala saya ketika saya menjalani keseharian saya. Bagaimana saya dapat mengambil lima hal positif ketika saya melihat pedagang-pedagang di dalam kereta, bagaimana saya belajar mengampuni dari menonton sepak bola, bagaimana saya berpikir tentang teman sejati, bagaimana saya belajar kerendahan hati dari tumbangnya Manchester United dan Chelsea, bagaimana saya belajar mensyukuri setiap makanan yang ada dari seorang anak kecil yang memakan sampah, apa yang saya pelajari dari kata-kata ayah saya tentang menggosok gigi, bagaimana saya belajar untuk lebih berhati-hati dari sakit sariawan yang saya derita, bagaimana saya belajar mengambil hikmah dari kegagalan ujian saya, bagaimana saya belajar introspeksi diri sebelum mencari kesalahan orang lain, bagaimana saya belajar untuk mempersiapkan skenario terburuk yang mungkin terjadi, apa yang saya pelajari dari cara saya memesan makanan di rumah makan, bagaimana saya belajar tentang rasa sayang sejati, bagaimana saya berpikir tentang rasa kehilangan dan reward yang tidak adil, bagaimana saya belajar tentang cinta dari kekalahan yang diderita klub favorit saya, bagaimana saya belajar tentang efektivitas teguran dari sebuah papan di Stasiun Kota, bagaimana saya menciptakan sebuah quote yang sangat positif tentang kehilangan, bagaimana saya melihat gelas setengah isi dan setengah kosong dari sudut pandang yang baru, bagaimana saya belajar tentang kehidupan dari kematian orang-orang yang dekat dengan saya, dan masih banyak lagi.

Contoh-contoh di atas adalah tulisan “pemikiran pribadi” yang telah saya tuliskan di blog ini sampai saat ini. Tulisan yang bahkan telah menginspirasi saya pribadi ketika saya membacanya kembali.

Tulisan-tulisan seperti itulah yang akan teman-teman dapatkan di blog ini setiap hari Senin. :D

Banyak hal kecil yang terjadi di keseharian hidup kita yang sebenarnya memiliki arti yang dalam yang dapat kita pelajari untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tulisan-tulisan ini hanyalah sebagian kecil di antaranya…

Shortlink to this post: http://wp.me/p6dQc-gN

Nov 16
May 19

Mengubah Dunia

Posted by Charles

Ketika saya masih muda dan bebas berimajinasi, saya bermimpi mengubah dunia. Seiring dengan bertambahnya usia dan kebijaksanaan, saya mendapati dunia yang tidak berubah, saya pun menyederhanakan keinginan saya dan memutuskan hanya ingin mengubah negeri saya. Akan tetapi, tampaknya tak ada yang berubah dengan negeri saya. Usia pun kian senja, usaha terakhir saya adalah berusaha mengubah keluarga, [...]
May 4

Dua bulan yang lalu, seorang teman sekelas saya yang kuliah di NTU pergi meninggalkan dunia ini dengan tiba-tiba karena jatuh. Bulan lalu, giliran saudara mama saya yang pergi karena sakit yang merenggut tubuhnya di usianya yang ke-51. Hari ini, giliran saudara papa saya yang menghembuskan nafasnya yang terakhir, kembali karena penyakit, di usianya yang ke-23.

Saya seakan tersentak. Seorang demi seorang orang yang saya kenal meninggalkan dunia ini, dengan cara yang berbeda-beda, dengan usia yang berbeda-beda pula. Suka atau tidak, cepat atau lambat, saya pun akan mendapatkan giliran. Ketika saat itu terjadi, kira-kira apakah saya sudah siap? Apakah saya sudah cukup membahagiakan orang-orang di sekitar saya? Apakah orang-orang yang saya kenal akan menangisi kepergian saya? Pengaruh seperti apa yang telah saya buat di dunia ini? Apakah saya akan diingat orang karena hal positif yang saya buat, atau hal negatif yang saya lakukan sepanjang hidup ini? Kira-kira, sudah puaskah Tuhan melihat hidup saya?

Dua hari yang lalu, ketika saya naik bajaj, saya memberikan uang bayaran dua ribu Rupiah lebih daripada ongkos yang kami sepakati. Saya menghargai kerja keras dia, dan terutama karena satu hal, dia tidak merokok. Ketika begitu banyak abang bajaj yang merokok, dia mengambil keputusan untuk tidak ikut-ikutan, dan saya sangat menghargainya. Tapi, ada yang lebih penting daripada sekadar dua ribu Rupiah tersebut. Saya melihat dia tersenyum, dan berterima kasih. Oh, saya sungguh bahagia melihat senyum tersebut. Saya tidak menyangka saya akan mendapatkan senyumnya yang menurut saya jauh lebih berharga dari dua ribu Rupiah milik saya.

Kemarin, saya menonton sebuah acara di RCTI, “Uang Kaget”. Di sana, ada seorang ibu yang cacat, tetapi tetap bekerja menjadi buruh cuci dan tukang pijat dengan penghasilan Rp 200.000,- sebulan. Sungguh sangat memprihatinkan. Ketika dia didatangi RCTI jam 4 sore, dia belum makan dari pagi, karena ketidakmampuannya membeli makanan. Namun, meskipun ibu itu miskin, tetapi dia tidak pernah menyusahkan orang. Bayangkan betapa bahagianya dia ketika diberikan “uang kaget” 11 juta Rupiah. Ketika waktu belanja telah habis, ibu itu langsung melakukan sujud syukur di jalan. “Terima kasih Tuhan,” katanya. Bayangkanlah betapa bahagianya kita jika kita dapat menolong orang-orang yang membutuhkan kita.

Tadi sore, saya mengunjungi rumah saudara sepupu saya yang masih bayi. Saat itu, saya melihat betapa indahnya senyum seorang bayi, begitu damai dan polos. Senyum yang tulus. Ketika saya bermain “ciluk ba” dengannya, bagaimana dia bisa tertawa dengan tulus. Bagaimana matanya menyipit, mulutnya mengembang, dengan suara “ehehe” yang keluar dari mulutnya. Sungguh indah melihat senyum yang tulus.

Selama hidup ini, seberapa banyak senyum yang telah saya berikan kepada orang lain. Sebuah pepatah Irlandia berkata “Tuhan sudah memberikan kita sebuah wajah, senyum harus kita lakukan sendiri.” Jika senyum itu begitu membahagiakan, mengapa saya harus tidak tersenyum? Dan, ketika saya pergi meninggalkan dunia ini, berapa banyak senyum yang telah saya kembangkan di wajah orang-orang? Apakah Tuhan akan tersenyum ketika saya bertemu dengan-Nya nanti?

Tuhan hanya memberikan saya hidup satu kali. Jika saya masih hidup saat ini, itu kesempatan yang Tuhan berikan. Saya akan manfaatkan dengan baik. Saya tidak akan menunda-nunda lagi. Setiap kali saya akan menunda, saya akan kembali membaca tulisan saya ini. Ini adalah keputusan saya, tujuan saya hidup di dunia ini, untuk membahagiakan Tuhan dan orang-orang yang juga hidup di dunia ini, sejauh mungkin yang saya dapat lakukan. Saya harus bersemangat menghadapi hidup ini, karena hidup ini adalah kesempatan saya membahagiakan orang lain. Akan saya hargai hidup ini, mumpung belum terlambat…

Terima kasih Tuhan.

Ketika kita datang ke dunia ini, kita menangis dan orang di sekitar kita tertawa bahagia.

Ketika kita pergi meninggalkan dunia ini, sebaliknya yang terjadi, orang di sekitar kita menangis dan kita tertawa bahagia.

Jika suatu saat kamu pergi meninggalkan dunia ini, apakah kamu akan bahagia bertemu Allah di Sorga, atau menangis di tengah api?

Jika suatu saat kamu pergi meninggalkan dunia ini, apakah kamu ingin orang-orang menangisi kepergianmu, atau orang-orang tertawa karena kamu telah pergi?

Jika suatu saat kamu pergi meninggalkan dunia ini, apa yang kamu ingin untuk orang-orang ingat tentangmu?

Lakukanlah hal tersebut, sekarang juga, selagi Tuhan masih memberikanmu waktu untuk hidup di dunia ini, selagi semuanya masih belum terlambat…

Apr 30

Ikan yang Kelaparan

Beberapa tahun yang lalu sebuah penelitian ilmiah yang penting tengah dilakukan. Saya mengetahui hal ini dari sebuah film dokumenter tentang pendidikan. Di situ ditampilkan Dr. Eden Ryl seorang psikolog spesialis perilaku. Ia juga dikenal sebagai pembicara. Di dalam eksperimennya, seekor ikan Great northern Pike (jenis salmon besar bisa tumbuh sampai sepanjang 1,4 meter dan beratnya mencapai 21 kilogram), dimasukkan ke dalam sebuah akuarium. Dia diberi makan berupa ikan-ikan minnow, sejenis ikan sungai berukuran kecil (biasanya berukuran 6-10 cm). Selama beberapa hari, beberapa kamera digunakan untuk merekam tingkah laku kedua jenis ikan tersebut.

Beberapa waktu kemudian, para peneliti mengubah kondisi akuarium itu. Mereka meletakkan penyekat dari kaca, untuk memisahkan ikan besar dari ikan-ikan kecil. Setiap kali ikan besar berupaya memangsa ikan kecil, setiap kali pula ia membentur penyekat kaca. Karena kegagalan demi kegagalan yang dialaminya dalam memperoleh mangsanya dan merasakan sakit di seluruh tubuhnya akibat benturan-benturan pada sekat kaca itu, ia pun menghentikan upaya menangkap ikan kecil. Setelah diperkirakan ikan besar sangat kelaparan, para peneliti mengangkat sekat pembatas tersebut. Ikan-ikan kecil pun bisa berenang bebas dalam akuarium tersebut. Mereka siap menjadi santapan ikan besar yang sedang kelaparan.

Herannya, ikan besar itu tidak lagi berusaha memburu ikan-ikan kecil. Sebaliknya, ia hanya berenang-renang dikelilingi buruannya. Sebetulnya ia sudah sangat kelaparan, tetapi ia sudah putus asa. Karena merasa gagal mendapatkan mangsanya dan luka-luka di tubuhnya akibat benturan, akhirnya ikan besar pun mati dalam keadaan kelaparan dalam akuarium yang justru dipenuhi dengan makanannya sendiri!

Makanan itu gagal didapatkannya.

Ikan itu sudah begitu YAKIN bahwa makanan itu tidak bisa diraih.

Sekarang ini, banyak orang yang keadaannya mirip seperti itu. Mereka terus memikirkan jerih payah, penderitaan yang mereka alami dalam usahanya meraih sukses, terus terpaku pada kegagalan masa lalu, rasa malu akibat gagal mencapai sasaran, kekecewaan karena mendapat penolakan dan hal-hal lainnya yang membuat patah semangat. Lama kelamaan, terbentuklah keyakinan dalam diri mereka bahwa keberhasilan dan kehidupan yang bermakna TIDAK AKAN PERNAH BISA MEREKA RAIH.

Karena mereka terus meyakini bahwa mereka tidak bisa sukses, kehidupan mereka pun bisa terancam. Nasib mereka akan berakhir sama dengan nasib yang dialami oleh ikan dalam eksperimen tersebut di atas. Selain itu, keadaan ini bisa menghilangkan KUALITAS kehidupan yang kita inginkan.

Sumber: Piano di Tepi Pantai, Jim Dornan.

Mar 23

Asramaku kebanjiran!

Posted by Anita

Minggu sore, 22 Maret 2009. Hujan deras menerpa Depok Timur. Sangat deras sampai-sampai kami penghuni yayasan yang sedang sibuk belajar untuk persiapan UTS tergoda untuk tidur siang. Hem, enak banget tidurnya… Menjelang jam 3 sore saya terbangun, beberapa menit kemudian suara adzan pun menggema dari masjid samping tempat tinggal kami. Dengan masih agak sedikit pusing, [...]
Jan 21
Ada satu kalimat yang selalu terpatri dalam hati dalam setiap peristiwa yang saya alami yaitu “Setiap waktu ku nikmati.” Ya, aku harus menikmati setiap waktu. Apapun yang terjadi pada waktu itu. Apapun itu, nikmati saja karena toh kejadian itu tak akan berlangsung abadi, kejadian itu hanya sementara. Memang ada beberapa peristiwa atau kejadian yang [...]
Nov 24
Mutiara… awalnya ia bukan apa-apa, hanya butiran pasir dan debu kotor yang tak ada harganya. Waktu yang kemudian membentuknya: detik demi detik, di kedalaman samudera, dalam kegelapan cangkang makhluk-Nya, dengan proses yang demikian panjang dan pelan, penuh kesabaran. Pun demikian, keindahannya juga tak dapat segera dinikmati dalam sekejap karena ia harus dijemput di kedalaman lautan, [...]
Nov 24

fenomena anak-anak jalanan

Posted by Anita

Minggu sore kemarin, saya pergi ke perpustakaan Gramedia… kenapa saya menyebutnya perpustakaan? Karena tujuan saya pergi ke sana hanyalah untuk membaca saja bukan untuk mebeli satu atau bahkan banyak buku. Memang, dengan alokasi dana dari ortu atau tambahan uang dari mengajar dan beasiswa rasanya cukup berat untuk menyisakan sebagian uang untuk membeli buku. Lagipula, [...]
Nov 23

Kadang saya bingung, kenapa ya seseorang bisa berubah drastis, dari mencintai seseorang tiba-tiba membenci orang yang dicintainya tersebut. Kenapa ya ada orang yang sangat mencintai pasangannya, dan tiba-tiba bisa begitu membencinya ketika pasangannya memutuskan hubungan mereka, atau pasangannya berbuat kesalahan yang sebenarnya adalah kesalahan yang sepele? Apakah batas cinta dan benci memang sedemikian tipisnya? Padahal cinta dan benci adalah sesuatu yang sangat bertolak belakang.

Kemarin saya menonton Arsenal, tim sepak bola kesayangan saya bermain. Pertandingannya disiarkan secara langsung, Arsenal vs Manchester City. Hasilnya? Arsenal kalah 0-3 dari Manchester City. Namun, bukan kekalahan itu yang akan saya bahas, tapi respon saya atas kekalahan “tim kesayangan saya” tersebut. Di akhir pertandingan, saya lebih cenderung menyalahkan dan menjatuhkan tim kesayangan saya tersebut, daripada memberikan support untuk membantunya bangkit. Apakah itu adalah respon kekecewaan saya? Mungkin, tapi saya tahu respon ini bukanlah untuk membangun Arsenal agar lebih baik lagi. Lalu, kenapa saya bisa begitu mudah “menjatuhkan”, meskipun hanya sesaat, tim kesayangan saya tersebut.

Saya lalu berpikir, kenapa saya mengharapkan Arsenal menang? Apakah itu untuk kebahagiaan “tim Arsenal” itu? Atau untuk kebahagiaan saya? Yah, secara jujur, saya mengharapkan Arsenal menang untuk kebahagiaan saya, yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Jadi, kalau Arsenal kalah, maka Arsenal telah merenggut “kebahagiaan saya” tersebut. Maka, sebagai respon, saya menghibur diri saya dengan “menjatuhkan” Arsenal yang tidak memberikan saya kebahagiaan.

Dari peristiwa itu, saya mulai berpikir hal yang saya angkat di awal tulisan. Kenapa orang bisa membenci orang yang dicintainya? Jawaban saya adalah, karena orang tersebut tidak mencintai dengan tulus (dan memang sangat sulit untuk mencintai dengan tulus). Dia mencintai seseorang karena orang tersebut memberikan kebahagiaan kepadanya. Maka, ketika orang tersebut tidak lagi memberikan kebahagiaan, dia berhenti mencintai orang tersebut. Pada kasus ekstrem, dia malah berbalik membencinya. 

Berhati-hatilah jika kamu terlalu mencintai seseorang sampai kamu menginginkannya jadi milikmu. Kemungkinan besar, ketika kamu telah merasa dia menjadi milikmu dan tiba-tiba dia tidak lagi menjadi milikmu, kamu akan berhenti mencintai dia. Mengasihi seseorang dengan tulus adalah mengasihi untuk membuat dia bahagia, dan kebahagiaan dia yang menjadi kebahagiaan kita. Bagaimana jika dia tidak membuat kita bahagia? Jika kasih tersebut tulus, sepanjang dia dapat bahagia, meskipun kita tidak bahagia, kita akan tetap mengasihi dia. Inilah kasih yang tulus, yang sangat jarang ditemui oleh manusia. Namun, Tuhan telah menunjukkan kasih-Nya yang tulus kepada kita.

“Kasihilah manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri”. Ternyata perintah ini sulit sekali dilakukan, karena kita terlalu mengasihi diri kita sendiri. Namun, marilah kita bersama-sama berusaha untuk saling mengasihi satu sama lain, dengan tulus.

      
Oct 22
Kelelahan… Entah kenapa akhir-akhir ini sering merasakannya atau memang lagi sengaja dirasakan Kan biasanya juga lelah, capek? Iya, memang, tapi banyak hak keluarga yang tidak saya tunaikan akhir-akhir ini… mulai dari jarang banget sms apalagi telepon, kalau di-sms pagi-pagi atau siang kadang balasnya pas malamnya, sambil bilang maaf ya baru balas.. Ada beberapa sms teman yang ga dibalas bahkan, email [...]
Oct 12

Ketika Kita Kehilangan

Posted by Charles


Skenario 1

Andaikan Anda sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi. Karena tidak mendapatkan tempat duduk, Anda berdiri di dalam gerbong tersebut. Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi Anda untuk menggoyang-goyangkan kaki. Di tengah perjalanan, Anda dikejutkan oleh seseorang yang menepuk bahu Anda. “Mas… Handphone mas barusan jatuh nih,” kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik Anda. Apa yang akan Anda lakukan kepada orang tersebut? Mungkin Anda akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.

Skenario 2

Sekarang kita beralih kepada skenario kedua. Andaikan Anda tidak sadar handphone Anda terjatuh, dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya. Orang itu tahu handphone itu milik Anda tetapi tidak langsung memberikannya kepada Anda. Hingga tiba saatnya Anda akan turun dari kereta. Sesaat sebelum Anda turun dari kereta, orang itu menepuk Anda dan menyodorkan handphone Anda sambil berkata “Mas… Handphone mas barusan jatuh nih.” Apa yang akan Anda lakukan kepada orang tersebut? Mungkin Anda akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut, tetapi saya pikir rasa terima kasih yang Anda berikan akan lebih besar daripada rasa terima kasih yang Anda berikan pada orang di skenario pertama (orang yang langsung memberikan handphone itu kepada Anda). Setelah itu mungkin Anda akan langsung turun dari kereta.

Skenario 3

Marilah kita beralih kepada skenario ketiga. Pada skenario ini, Anda tidak sadar handphone Anda terjatuh, hingga Anda menyadari handphone Anda tidak ada di kantong Anda saat Anda sudah turun dari kereta. Anda pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone Anda, berharap ada orang baik yang menemukan handphone Anda dan bersedia mengembalikannya kepada Anda. Orang yang sejak tadi menemukan handphone Anda (namun tidak memberikannya kepada Anda) menjawab telepon Anda. “Halo, selamat siang mas. Saya pemilik handphone yang ada pada mas sekarang,” kata Anda kepada orang yang sangat Anda harapkan berbaik hati mengembalikan handphone itu kembali kepada Anda. Gayung bersambut, orang yang menemukan handphone Anda berkata, “Oh, ini handphone mas ya… Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut. Biar mas ambil di sana nanti ya…” Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, Anda pun pergi ke stasiun berikut dan menemui “orang baik” tersebut. Orang itu pun memberikan handphone Anda yang telah hilang. Apa yang akan Anda lakukan pada orang tersebut? Satu hal yang pasti, Anda akan mengucapkan terima kasih, dan sepertinya akan lebih besar daripada rasa terima kasih Anda pada skenario kedua bukan? Bukan tidak mungkin kali ini Anda akan memberikan hadiah kecil kepada orang yang menemukan handphone Anda tersebut.

Skenario 4

Terakhir, mari kita perhatikan skenario keempat. Pada skenario ini, Anda tidak sadar handphone Anda terjatuh, Anda turun dari kereta dan menyadari bahwa handphone Anda telah hilang, Anda mencoba menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat. Sampai akhirnya Anda tiba di rumah. Malam harinya, Anda mencoba mengirimkan SMS: “Bapak/Ibu yang budiman. Saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak/ibu sekarang. Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak/ibu untuk dapat mengembalikan handphone itu kepada saya. Saya akan memberikan imbalan sepantasnya.” SMS pun dikirim dan tidak ada balasan. Anda sudah putus asa. Anda kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam handphone Anda. Ada begitu banyak nomor telepon teman Anda yang ikut hilang bersamanya. Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone Anda menjawab SMS Anda, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan handphone tersebut. Bagaimana kira-kira perasaan Anda? Tentunya Anda akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang diberikan oleh orang itu. Anda pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone Anda. Apa yang akan Anda berikan kepada orang tersebut? Anda pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan mungkin Anda akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih berharga dibandingkan hadiah yang mungkin Anda berikan di skenario ketiga).

Moral

Apa yang Anda dapatkan dari empat skenario cerita di atas? Pada keempat skenario tersebut, Anda sama-sama kehilangan handphone, dan ada orang yang menemukannya. Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada Anda. Anda berikan dia ucapan terima kasih. Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada Anda sesaat sebelum Anda turun dari kereta. Anda berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar. Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada Anda setelah Anda turun dari kereta. Anda berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah. Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah itu baru mengembalikannya kepada Anda. Anda berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.

Ada sebuah hal yang aneh di sini. Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, siapakah yang paling baik? Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada Anda, bukan? Dia adalah orang pada skenario pertama. Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara empat orang di atas. Manakah orang yang paling tidak baik? Tentunya orang pada skenario keempat, karena dia telah membuat Anda menunggu beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone Anda tersebut selama itu. Namun, ternyata dia adalah orang yang akan Anda berikan reward paling besar. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Anda memberikan reward kepada keempat orang tersebut secara tulus, tetapi orang yang seharusnya lebih baik dan lebih pantas mendapatkan banyak, Anda berikan lebih sedikit.

OK, kenapa bisa begitu? Ini karena rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap skenario. Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belum sadar handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali. Pada skenario kedua, kita juga belum merasakan kehilangan karena saat itu kita belum sadar, tetapi kita membayangkan rasa kehilangan yang mungkin akan kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari kereta. Pada skenario ketiga, Anda sempat merasakan kehilangan, namun tidak lama Anda mendapatkan kelegaan dan harapan Anda akan mendapatkan handphone Anda kembali. Pada skenario keempat, Anda sangat merasakan kehilangan itu. Anda mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang yang menemukan handphone Anda, asalkan handphone itu bisa kembali kepada Anda. Rasa kehilangan yang bertambah menyebabkan Anda semakin menghargai handphone yang Anda miliki.

Saat ini, adakah sesuatu yang kurang Anda syukuri? Apakah itu berupa rumah, handphone, teman-teman, kesempatan berkuliah, kesempatan bekerja, atau suatu hal lain… Ada satu cara yang benar-benar ampuh yang bisa dilakukan Tuhan untuk membuat kita mensyukuri sesuatu yang mungkin kita anggap biasa itu. Bagaimana? Dengan mengambilnya dari kita, hingga kita merasakan kehilangan. Saat itulah, kita akan mensyukuri segala sesuatu yang telah hilang tersebut. Namun, apakah kita perlu merasakan kehilangan itu agar kita dapat bersyukur? Saya rasa sebaiknya tidak. Syukurilah segala yang kita miliki, termasuk hidup kita, selagi itu masih ada. Jangan sampai kita menyesali karena tidak bersyukur ketika itu telah diambil dari kita.

      
Sep 16

Plagiarisme

Posted by Charles


Akhir-akhir ini di kuliah yang saya ambil banyak dibahas isu-isu mengenai plagiarisme. Baik plagiarisme dalam laporan kerja praktik, plagiarisme dalam hal mencontek saat ujian, plagiarisme dalam melakukan penelitian, dan lain-lain. Isu ini sebenarnya bukan isu yang baru muncul, dan seharusnya semua orang sudah tahu bahwa plagiarisme adalah sesuatu hal yang tidak baik. Namun hingga sekarang, masih banyak kasus plagiarisme yang terjadi, baik dari mencontek saat ujian (contoh: UAN), mencontek tugas-tugas sekolah atau kuliah, mencantumkan suatu content tanpa menyebutkan sumbernya, dan lain sebagainya.

Kadang saya berpikir, batas “plagiarisme” masih belum terlalu jelas. Memang ada tindakan-tindakan tertentu yang jelas adalah plagiarisme. Contohnya adalah mencontek. Dalam hal mencontek pun kadang masih ada kerancuan. Apakah jika pihak yang dicontek memperbolehkan dirinya dicontek, hal tersebut juga termasuk plagiarisme? Well, dalam kasus ini, plagiarisme atau bukan, yang mencontek tetap salah, dan pihak yang dengan rela hati dicontek juga turut salah dengan “membodohi” temannya.

Kembali ke batas plagiarisme. Wikipedia menuliskan definisi plagiarisme seperti berikut.

Plagiarisme adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri.

Yang digolongkan sebagai plagiarisme:

  • menggunakan tulisan orang lain secara mentah, tanpa memberikan tanda jelas (misalnya dengan menggunakan tanda kutip atau blok alinea yang berbeda) bahwa teks tersebut diambil persis dari tulisan lain
  • mengambil gagasan orang lain tanpa memberikan anotasi yang cukup tentang sumbernya

Hal-hal yang tidak tergolong plagiarisme:

  • menggunakan informasi yang berupa fakta umum.
  • menuliskan kembali (dengan mengubah kalimat atau parafrase) opini orang lain dengan memberikan sumber jelas.
  • mengutip secukupnya tulisan orang lain dengan memberikan tanda batas jelas bagian kutipan dan menuliskan sumbernya.

Hal pertama, apakah yang baru saja saya lakukan ini adalah plagiarisme? Saya memang telah mencantumkan sumber tulisan di atas, yaitu dari situs Wikipedia. Namun, mungkin saja orang yang menuliskannya di Wikipedia juga mengutipnya dari tempat lain. Haruskah saya mencantumkan rujukan yang ada di Wikipedia pula? Di sana ada 29 buah rujukan, tetapi tidak diketahui dengan jelas rujukan mana yang memuatan tulisan mengenai “penggolongan plagiarisme” di atas. Haruskah saya mencantumkan semuanya?

Hmm, kalau saya memaparkan semua yang saya pikirkan di sini, tulisan ini akan menjadi sangat panjang (atau emang udah panjang?), dan bisa membuat orang malas membacanya (bener ga? hehe). Kesimpulannya sih hindari plagiarisme. Apakah batasan plagiarisme itu? Tanyakanlah dengan jujur ke dalam hatimu, apakah itu adalah plagiarisme atau bukan. Kalau ingin mencontek, coba tanyakan pada hati nuranimu, “Salahkah ini?”.

Banyak orang tahu mana yang salah dan mana yang benar, namun sedikit yang mau melakukan yang benar. Mungkin ini bisa dimulai dari kita, termasuk juga saya, untuk melakukan yang benar dan menjadi lebih baik… D

Sep 9

Say your love…

Posted by Anita

Suatu ketika ada sms masuk ke inbox hp saya dari adek angkatan yang dimulai dengan sapaan: “aslm, mba nita sayaaaang …..” Ada juga dari teman seperjuangan: “ukhtiyku yang tersayang….” Lalu, dari temen seperjuangan di SMA: “Hai, ukhti sayang, udah ma’em belum?” Awalnya saya merasa agak jengah. Terlalu berlebihan kah? Pakai ada kata sayang2an. Apalagi saya yang mungkin terbiasa [...]
Sep 2
Semakin hari semakin tak terbendung saja tangan-tangan jahat manusia melakukan aksi keji pembunuhan. Seolah hukum tak punya gigi, tak dapat menahan hati untuk menahan diri agar jangan sampai menurutkan keinginan nafsunya menghabisi nyawa orang lain. Setiap saya melihat dan mendengar kasus-kasus pembunuhan dengan berbagai macam variasinya: dibakar, ditusuk, dimutilasi, diracun… Ini membuktikan bahwa telah terjadi penurunan nilai [...]
Aug 15

Benarkah kamu sayang padanya?

Posted by Charles


Apakah kamu memiliki seseorang yang sangat kamu kasihi? Mungkin dia orang yang spesial untukmu, atau keluargamu, atau temanmu, atau siapapun dia… Punya? Yah, saya yakin kamu pasti mempunyai orang yang kamu kasihi. Izinkan saya bertanya satu pertanyaan, benarkah kamu mengasihinya?

Apakah jika dia mengecewakanmu, kamu akan tetap mengasihinya?

Apakah ketika kamu memberinya hadiah dan dia menolaknya, bahkan menyakitimu, kamu akan marah padanya? Ataukah kamu akan berusaha dengan lebih keras untuk menyenangkannya?

Apakah ketika dia berbuat suatu hal yang memalukan, kamu akan meninggalkannya?

Jika dia tidak lagi mengasihimu, akankah kamu tetap mengasihinya?

Jika dia berbuat kesalahan yang sangat besar kepadamu, dapatkah kamu mengampuninya dan tetap mengasihinya seperti sedia kala?

Jadi, apakah kamu benar-benar mengasihinya? Apakah kamu benar-benar sayang padanya? Ataukah itu semua hanya untuk kesenanganmu?

Saya mempunyai sebuah cerita. Sebuah cerita yang menggambarkan kasih yang sesungguhnya. Rasa sayang yang sesungguhnya. Cerita yang mengharukan bagi sebagian orang, namun sayangnya, sangat sedikit orang yang dapat meneladaninya. Inilah ceritanya…

Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.

Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat.

Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.

Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.

Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.

Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.

Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.

Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.

Apa yang kamu dapatkan dari cerita di atas? Pertama kita bisa melihat betapa kurang ajarnya si anak bungsu karena dia telah meminta warisan sebelum ayahnya meninggal. Betapa dia tidak tahu berterima kasih. Dia telah mendapatkan hal-hal terbaik dari ayahnya, tetapi dia tidak puas. Dia malah memilih mengikuti jalannya sendiri dan pergi merantau dan berfoya-foya. Mungkin kita berkata, betapa buruk si anak bungsu ini. Tapi cobalah kita pikirkan, pernahkah kita menjadi seperti si anak bungsu ini? Di saat orang tua kita menasihati kita untuk kebaikan kita, apakah kita masih suka melawan? Apakah kita masih mengikuti jalan kita dan tidak mendengarkan nasihat orang tua kita? Bukankah itu yang dilakukan si anak bungsu? Melawan orang tuanya dan berbuat sekehendak hatinya…

Kedua kita melihat bagaimana hasil yang dituai oleh si anak bungsu yang mendurhakai orang tuanya ini. Bagaimana dia “bersenang-senang” dan menghamburkan uang yang didapatkannya. Sayangnya, dia tidak menyadari, kalau kesenangan yang dia alami hanyalah kesenangan semu yang sesaat. Mungkin saat itu, dia mempunyai banyak teman. Namun mereka bukanlah teman sejati, mereka hanyalah teman yang ada di saat suka, yang hanya ingin memanfaatkan si anak bungsu dan hartanya. Segera setelah harta si anak bungsu habis, teman-temannya meninggalkan dia. Seberapa sering kita berpikir bahwa kekayaan dan harta dapat membeli semua hal, termasuk teman? Seorang teman barulah teruji ketika kita mengalami kesulitan. Akankah mereka tetap setia? Si anak bungsu ini akhirnya mengalami masa-masa menderita, di mana tidak ada yang memberikan makanan kepadanya, bahkan ampas makanan babi pun tidak!

Hal ketiga adalah hal yang menjadi inti tulisan ini. Ketika si anak bungsu menyadari bahwa perbuatannya salah, dia memutuskan untuk kembali kepada ayahnya. Yang unik adalah sang ayah tidaklah marah dan membenci si anak bungsu yang telah mendurhakainya. Malah, ketika si anak bungsu ini masih jauh, sang ayah telah berlari menyambutnya. Itu berarti sang ayah dengan setia menunggu anak bungsunya kembali. Kasih sayang dan pengampunan yang diberikan sang ayah kepada anak bungsunya patut diacungi jempol. Sang ayah benar-benar sayang kepada anaknya!

Hal keempat yang menarik adalah bagaimana si anak sulung tidak senang ketika sang ayah menyambut si anak bungsu yang telah banyak berbuat salah. Si anak sulung tidak terima si anak bungsu yang buruk itu diperlakukan sebegitu istimewa, sedangkan dirinya yang baik tidak pernah diperlakukan begitu istimewa. Ini artinya si anak sulung tidak sungguh sayang kepada ayahnya, tetapi si anak sulung hanya menyayangi dirinya saja. Seandainya si anak sulung benar-benar sayang kepada ayahnya, tentunya dia juga ikut bersukacita karena ayah yang disayanginya bersukacita. Apakah kita juga pernah menjadi seperti si anak sulung tersebut?

Jadi, benarkah kamu menyanyangi dia yang kamu akui sebagai orang yang kamu sayangi? Rasa sayang tidak dapat dilepaskan dari kesetiaan. Seberapakah kamu setia padanya? Seperti sang ayah dengan setia menunggu anak bungsunya, rasa sayang yang sejati akan membuat kita tetap setia kepada orang yang kita sayangi. Dan waktulah yang akan mengujinya… D

Tulisan serupa: