Blame Disease
Posted by Charles
“Char, belok di sini…” saya mendengar suara teman saya di sebelah saya.
“Bukan di sini… Di depan ada satu belokan lagi…” saya menjawab dengan begitu yakinnya, sambil terus menyetir mobil saya terus maju melewati belokan itu.
Tapi, benar kata teman saya, tidak ada belokan lagi di depan. Saya baru saja melewati belokan yang benar.
“Tuh kan, ga ada belokan lagi… Bener kan tadi gua bilang. Lo ga ikutin sih, nyasar dah…” teman saya geleng-geleng kepala.
Ouch. Percaya saya, tidak pernah menyenangkan mengetahui kita salah pilih jalan, apalagi karena kita yang keras kepala.
“Oke… Kalau gitu kita putar balik saja, terus belok kiri.” saran teman saya lagi.
Saya betul-betul tergoda untuk mengikuti saran-saran teman saya selanjutnya. Namun, sejujurnya, bukan karena saya mempercayainya. Tapi, karena saya tidak ingin bertanggung jawab atas kesalahan yang terjadi.
Kalau sarannya benar, itu bagus. Kalau sarannya salah, dan kita jadi nyasar, ada yang bisa disalahkan. Siapa lagi, kalau bukan teman saya yang memberi saran itu.
Itu benar-benar godaan yang besar. Godaan untuk melepas tanggung jawab, dan menyalahkan orang lain. Apa pun yang terjadi, kita aman. Kalau benar, bagus. Kalau salah, orang lain yang akan kita salahkan.
Saya rasa, ini lebih dari sekedar godaan. Ini adalah sebuah penyakit. Saya menyebutnya, “Penyakit Saling Menyalahkan”, atau “Blame Disease”.
Tanda-tanda penyakit ini sangat mudah dilihat. Tanda-tandanya adalah orang yang terjangkit penyakit “Blame Disease” akan selalu mencari kambing hitam (hal-hal yang bisa dia salahkan) ketika suatu hal yang buruk terjadi.
- Ujian dapat nilai jelek karena kebanyakan main game, yang disalahkan adalah guru yang ga bisa ngajar.
- Jadi sakit karena kurang tidur, yang disalahkan adalah bos yang memberi banyak pekerjaan.
- Jatuh ke dalam lubang karena jalan ga lihat-lihat, yang disalahkan adalah pekerja yang menggali lubang.
Menyalahkan sepertinya sangat enak. Melepas tanggung jawab sepertinya membuat kita aman.
Tapi benarkah kita benar-benar aman ketika melepas tanggung jawab?
Kembali ke cerita saya, saya berpikir lagi, siapa yang rugi kalau akhirnya kita nyasar? Apakah hanya teman saya yang rugi? Tidak… Saya juga rugi.
Bukankah kita akan lebih menyesal jika kita salah karena tidak mengikuti kata hati kita (yang ternyata benar)?
Saat itu juga, saya putuskan untuk mengikuti saran teman saya, tapi tetap bertanggung jawab atas segala risikonya (dan syukurlah ternyata sarannya tepat
).
Ketika seseorang terjangkit “Blame Disease” stadium lanjut, kita bahkan bisa menghancurkan diri kita sendiri hanya agar kita bisa menyalahkan orang lain, dan membuat orang lain merasa bersalah.
Itulah yang terjadi dengan orang yang memilih bunuh diri karena ditinggalkan pacarnya. Kenapa mereka bunuh diri? Karena mereka ingin menyalahkan mantan pacarnya yang telah meninggalkannya. Mereka ingin berkata kepada mantan pacarnya, “Lihatlah kematianku. Ini terjadi karena kamu meninggalkanku!” dan membuat mantan pacarnya merasa bersalah.
Seolah, mereka berhasil dengan membuat mantan pacarnya merasa bersalah. Mereka berhasil menyalahkan. Tapi, faktanya mereka kehilangan nyawanya. Mereka menukarkan nyawa mereka untuk kepuasan atas rasa bersalah mantan pacar mereka! Bukankah ini sangat tidak masuk akal? Tapi ironisnya, ada saja yang melakukan kebodohan ini.
Jadi, bagaimana menyembuhkan “Blame Disease” ini? Saya menyarankan dua langkah berikut.
1. Bertanggung jawablah atas apa pun yang kita lakukan dan apa pun yang terjadi dalam hidup kita.
Bertanggung jawab di sini bukan berarti kita menyalahkan diri kita sendiri. Bertanggung jawab berarti ketika kita salah, kita mengakui kesalahan kita, dan belajar dari kesalahan itu. Kita selalu melihat apa yang dapat kita ubah dari diri kita sendiri untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Fokus kita bukan lagi mencari kambing hitam, tapi mengubah diri kita menjadi lebih baik.
2. Selalu melihat sisi positif dari segala hal buruk yang terjadi, dan syukurilah.
Saya yakin, semua hal buruk yang terjadi pada diri kita pasti mempunyai sisi positif. Ketika kita bisa memfokuskan diri kita pada hal-hal positif tersebut, kita menjadi mampu mensyukuri hal buruk yang terjadi pada diri kita. Dan kita tidak akan menyalahkan siapa-siapa ketika kita mulai bersyukur. Kenapa? Sederhana saja, karena kita tidak lagi menganggap kesalahan itu sebagai sebuah kesalahan. Kita melihatnya sebagai sebuah pelajaran yang berharga. Malah, mungkin saja kita malah berterima kasih kepada orang-orang yang semula kita jadikan kambing hitam.
Tuhan menginginkan kita saling mengasihi, bukan saling menyalahkan.
Mari kita bebaskan diri kita dari “Blame Disease” ini.
Tuhan memberkati kita semua.
Charles Christian
Ketika Kita Berhenti Mengeluh, Kita Menjadi Lebih Kuat
Posted by Charles
Kemarin, ketika saya sedang menjelajah internet, saya menemukan sebuah video yang lucu berikut.
Bagaimana komentar Anda ketika melihat kedua orang yang ada di eskalator tersebut? Banyak dari Anda mungkin berpikir kedua orang itu sungguh konyol. Ngapain juga teriak-teriak minta tolong dan sibuk mengeluh karena eskalator mati di tengah jalan? Kenapa mereka ga langsung aja naik sendiri dengan jalan kaki?
Kita mungkin gregetan ketika melihat tingkah kedua orang itu. Tapi, ternyata banyak dari kita yang melakukan hal yang sama dalam hidup kita. Berapa banyak orang yang sibuk mengeluh ketika menghadapi masalah? Berapa sering kita sibuk menyalahkan orang lain karena hal buruk yang menimpa kita?
Mungkin Anda berkata, tapi dia yang membuat saya mengalami hal buruk ini.
Ya, mungkin dialah yang menyebabkan hal buruk itu terjadi. Tapi, ketika kita menyalahkan orang lain, secara tidak langsung kita memberikan kontrol hidup kita kepada mereka. Merekalah yang menentukan nasib kita. Apakah kita menjadi sedih atau gembira, mereka yang menentukan. Kita seolah menjadi tidak punya kuasa atas hidup kita sendiri.
Jadi, daripada menyalahkan orang lain, lebih baik kita bertanggung jawab 100% atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Sebagai contoh, seorang guru pernah berkata, “Murid-murid saya begitu nakal… Mereka tidak akan pernah dapat diajar.” Jika sang guru terus berpikir muridnya yang salah, dia tidak sempat berpikir tentang mengubah dirinya sendiri. Dia akan terus dan terus menunggu muridnya berubah. Dan, kita tidak tahu kapan murid-murid itu akan berubah. Kita menjadi seorang yang pasif, berpikir kalau kita adalah korban dari kenakalan murid-murid itu.
Coba bandingkan dengan pola pemikiran berikut: “Tidak ada murid yang resisten. Yang ada hanya guru yang tidak fleksibel.” Ketika kita berpikir seperti ini, kita tidak akan tergoda untuk menyalahkan murid-murid itu. Ketika mereka tidak belajar dengan baik, kita sebagai guru akan berpikir, apa yang dapat saya lakukan untuk meningkatkan minat belajar mereka? Mungkin saya harus mengubah cara mengajar saya menjadi lebih menyenangkan. Mungkin saya harus lebih memperhatikan mereka. Dan lain-lain. Kali ini, kita mengambil tanggung jawab 100% dari apa yang terjadi. Kita tidak menyalahkan orang lain. Hasilnya? Kita menjadi mempunyai kuasa untuk mengubah keadaan, sesuatu yang jauh lebih pasti, yaitu dengan mengubah diri kita sendiri terlebih dahulu.
Kembali ke cerita eskalator tadi, orang itu tentunya tidak akan mendapatkan apa-apa jika mereka terus mengeluh, mengeluh, dan mengeluh. Menyalahkan orang lain takkan membawa mereka naik. Tapi, ketika mereka mulai berpikir, “Apa yang saya (ya, SAYA, bukan orang lain!) dapat lakukan untuk mengatasi masalah ini?”, mereka akan mulai menemukan cara. Mereka akan naik dengan kaki mereka sendiri, dan mengatasi masalah yang mereka hadapi.
Jadi, ketika kita menghadapi masalah, janganlah bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, kenapa masalah ini menimpaku? Kau sungguh tak adil…”. Melainkan, bertanyalah, “Tuhan, saya yakin Engkau punya rencana yang indah dari masalah yang engkau berikan kepada saya. Sekarang, apa yang dapat saya lakukan, Tuhan, untuk dapat menggenapi rencana-Mu tersebut?”
Mari kita berhenti mengeluh dan menyalahkan orang lain dan menjadi seorang korban yang lemah. Marilah kita mulai memikul tanggung jawab atas apa yang terjadi pada diri kita, berikan respon yang tepat, dan jadilah pemenang. Ketika kita berhenti mengeluh, kita akan menjadi seorang yang lebih kuat.
Tanggung Jawab Seorang Asdos
Posted by Charles
Hari ini, lagi-lagi saya memberikan asistensi MD 2 sendirian… Asistensi dijadwalkan dimulai jam 3. Saat itu saya sedang bersama seorang asdos lainnya, tapi karena dia mau print tugasnya dulu sebentar, jadi saya naik duluan. Sampai di atas, saya sudah melihat beberapa anak 2007 berkumpul menunggu asistensi dimulai. Saya langsung mencari Pak Wiryo untuk meminjam ruangan untuk asistensi (maaf pak Wiryo, saya terlambat memberitahu…). Pak Wiryo dengan baiknya langsung memberikan ruangan di lantai 3, dengan syarat bangkunya diberesin setelah asistensi. Makasih, pak… ^^
Waktu sudah menunjukkan pukul 15:05 ketika saya masuk ke dalam ruangan asistensi. Seperti yang saya duga, di antara 3 asdos yang telah sepakat mengadakan asistensi hari itu (bahkan yang menentukan jamnya adalah salah satu dari 2 asdos sisanya selain saya), hanya saya saja yang ada. Jujur, saya belum siap mengadakan asistensi saat itu. Banyak kesibukan lain yang membuat saya belum mempelajari apa yang akan saya ajarkan hari itu. Kepada anak 2007 yang mengikuti asistensi saya hari ini, saya mohon maaf karena saya tidak memberikan banyak hal dalam asistensi itu (seperti juga minggu sebelumnya, kebanyakan berisi hal-hal yang sebenarnya kalian sudah tahu atau bisa pelajari sendiri).
OK, back to the story… Hari itu seharusnya kami (3 orang asdos MD 2, sebutlah si A, si B, dan saya) memberikan asistensi dengan topik relasi. Saya sudah mencari-cari worksheet dan soal-soal jaman bahala. Si A sudah bersedia memberikan asistensi tentang worksheet tahun lalu (yang belum sempat saya pelajari lagi). Karena itu, saya meng-copy worksheet itu untuk semua peserta asistensi (dengan harapan nanti si A akan menjelaskan). Nyatanya? Si A yang menentukan jadwal asistensi ini ternyata tidak hadir saat asistensi, tanpa pemberitahuan apapun kepada saya, bahkan sepuluh menit sebelum saya mengadakan asistensi, dia masih bersama saya tanpa mengatakan kalau dia tidak akan datang ke asistensi.
Begitu juga dengan si B. Sudah pukul 15:15, si B masih tidak terlihat. Memberi kabar pun tidak. Padahal sehari sebelumnya, saya memberikan sebagian handout yang saya punya untuk dia pelajari. Hhh…
Akhirnya, di asistensi ketiga ini, saya kembali sendiri… Di asistensi pertama, saya bersama si A, tapi si A ga ngomong sama sekali. Belum siap katanya… Di asistensi kedua, saya asistensi sendiri, saat itu saya juga ditinggalkan si A tanpa kabar. Kalau si B tidak hadir mungkin memang salah saya yang tidak mengabari dia kalau akan ada asistensi, meskipun saya bukan koordinator asdos MD 2 kan? OK, belajar dari kesalahan, saya mengabari si B kalau akan ada asistensi hari ini, memberikannya bekal untuk belajar, dan meminta A yang menetapkan jadwal asistensi (dengan harapan si A pasti bisa hadir). Namun kenyataannya, usaha saya kembali sia-sia… Saya asistensi sendiri lagi.
Jam menunjukkan pukul 15:20. Saya sudah memberikan worksheet kepada peserta asistensi yang hadir, dengan harapan sambil menunggu si A dan si B. Namun, karena batang hidung mereka pun tidak terlihat, saya telepon si A juga tidak diangkat, kembali saya mengalami dilema… Dilema apa? Di satu sisi, saya belum siap untuk memberikan semua topik relasi (harusnya dibagi-bagi dengan si A dan si B). Kalau yang ini sih kesalahan saya yang kurang bisa membagi waktu di tengah kesibukan saya. Di sisi lain, saya mempunyai tanggung jawab sebagai seorang asdos untuk membantu peserta kuliah mengerti tentang topik kuliah itu. Saya sebenarnya masih ingat topik yang harus saya berikan, tapi saya masih harus me-refresh-nya kembali karena sudah setahun berlalu. Siap tidak siap, saya harus memberikan apa yang saya tahu untuk membantu mereka. Akhirnya, saya pun memulai asistensi itu… sendiri!
Seperti yang telah diduga, awal asistensi berlangsung dengan kacau. Bahkan, tiba-tiba saya menjadi blank, hingga pertanyaan paling dasar, “Apa itu relasi?” saja tidak bisa saya jawab. Saya tahu, asalkan melihat handout, saya pasti bisa menjawab pertanyaan itu. Tapi ternyata handout saya dibawa si B, peserta asistensi yang lain pun tidak ada yang membawa handout, akhirnya saya pun terlihat seperti ayam kehilangan induknya, bingung harus menjawab apa…
Asistensi terus berlangsung. Saya memilih soal-soal yang saya pernah jawab dan cukup saya kuasai untuk saya berikan di depan kelas. Awalnya memang terasa sangat sulit, namun seiring berjalannya waktu, saya sudah mulai beradaptasi dan bisa memberikan “sesuatu” kepada mereka, meskipun sedikit. Di tengah asistensi, tiba-tiba si B datang dan mengabari kalau dia tidak bisa asistensi. Hm, meskipun dia agak terlambat memberitahu, tapi saya hargai dia memberikan kabar.
Meskipun berlangsung kacau, akhirnya asistensi itu selesai juga… Saya memberikan semua yang bisa saya berikan, yang sebenarnya sangat terbatas. Saya belajar untuk mempersiapkan asistensi lebih serius dan membagi waktu dengan lebih baik. Saya belajar untuk tetap bertanggung jawab atas apa yang menjadi tanggung jawab saya, dan tidak melarikan diri begitu saja. Siap ataupun tidak siap, harus saya tanggung, karena itu tanggung jawab saya. Kalau saya tidak siap, itu artinya salah saya. Jangan korbankan peserta asistensi yang telah menunggu dengan setia.
Untuk A dan B, saya tidak ada masalah pribadi apa-apa… Saya cuma mau mengajak kalian untuk lebih bertanggung jawab. Kalau pun tidak bisa hadir, beri kabarlah dari jauh-jauh waktu sehingga saya bisa mempersiapkan asistensi sendiri dari jauh-jauh waktu juga. Kita harus lebih peduli ke mahasiswa bimbingan kita. Kalau kita bisa membantu mereka sehingga mereka bisa lebih mengerti, mengapa tidak kita lakukan? Terlebih, inilah tanggung jawab kita sebagai seorang asdos.
Untuk semua peserta asistensi tadi… Maafkan saya karena saya kurang mempersiapkan bahan. Tadi saya sudah berusaha berhati-hati dalam berbicara agar tidak menyesatkan, namun ada baiknya diperiksa lagi ya dengan handout-nya. Maaf kalau apa yang saya bagikan di dua asistensi terakhir ini tidak maksimal, malah cenderung membosankan karena mengulang hal-hal yang dasar. Sebagai gantinya, saya akan mencoba mempelajari lagi topik-topik itu, dan saya akan ada di perpustakaan hari Senin nanti jam 10 pagi sampai jam 1 siang. Jika ada yang masih bingung atau ingin ditanyakan, bisa ditanyakan saat itu. Saya tidak janji pasti bisa, tapi saya akan berusaha semampu saya membantu kalian. Satu hal yang menjadi pesan saya, jangan bolos kuliah yah… Saya sengaja memberikan waktu lebih panjang (3 jam) supaya kalian bisa tetap kuliah. Terima kasih untuk kehadirannya di asistensi tadi, untuk perhatiannya, dan untuk kerjasamanya dengan aktif menjawab saat saya memberikan pertanyaan. I appreciate it! Good luck for the exams…
update: B ternyata SMS saya, tanya asistensinya di mana. Yah meskipun asistensi pasti di lantai 3 atau 4, OK lah, mungkin B tidak tahu di ruangan mana. B juga baru saya beri kabar kemarin sih. Untuk B masih bisa saya maklumi… Tapi si A !!???

