Jul 21

Blame Disease

Posted by Charles

“Char, belok di sini…” saya mendengar suara teman saya di sebelah saya.

“Bukan di sini… Di depan ada satu belokan lagi…” saya menjawab dengan begitu yakinnya, sambil terus menyetir mobil saya terus maju melewati belokan itu.

Tapi, benar kata teman saya, tidak ada belokan lagi di depan. Saya baru saja melewati belokan yang benar.

“Tuh kan, ga ada belokan lagi… Bener kan tadi gua bilang. Lo ga ikutin sih, nyasar dah…” teman saya geleng-geleng kepala.

Ouch. Percaya saya, tidak pernah menyenangkan mengetahui kita salah pilih jalan, apalagi karena kita yang keras kepala.

“Oke… Kalau gitu kita putar balik saja, terus belok kiri.” saran teman saya lagi.

Saya betul-betul tergoda untuk mengikuti saran-saran teman saya selanjutnya. Namun, sejujurnya, bukan karena saya mempercayainya. Tapi, karena saya tidak ingin bertanggung jawab atas kesalahan yang terjadi.

Kalau sarannya benar, itu bagus. Kalau sarannya salah, dan kita jadi nyasar, ada yang bisa disalahkan. Siapa lagi, kalau bukan teman saya yang memberi saran itu.

Itu benar-benar godaan yang besar. Godaan untuk melepas tanggung jawab, dan menyalahkan orang lain. Apa pun yang terjadi, kita aman. Kalau benar, bagus. Kalau salah, orang lain yang akan kita salahkan.

Saya rasa, ini lebih dari sekedar godaan. Ini adalah sebuah penyakit. Saya menyebutnya, “Penyakit Saling Menyalahkan”, atau “Blame Disease”.

Tanda-tanda penyakit ini sangat mudah dilihat. Tanda-tandanya adalah orang yang terjangkit penyakit “Blame Disease” akan selalu mencari kambing hitam (hal-hal yang bisa dia salahkan) ketika suatu hal yang buruk terjadi.

  • Ujian dapat nilai jelek karena kebanyakan main game, yang disalahkan adalah guru yang ga bisa ngajar.
  • Jadi sakit karena kurang tidur, yang disalahkan adalah bos yang memberi banyak pekerjaan.
  • Jatuh ke dalam lubang karena jalan ga lihat-lihat, yang disalahkan adalah pekerja yang menggali lubang.

Menyalahkan sepertinya sangat enak. Melepas tanggung jawab sepertinya membuat kita aman.

Tapi benarkah kita benar-benar aman ketika melepas tanggung jawab?

Kembali ke cerita saya, saya berpikir lagi, siapa yang rugi kalau akhirnya kita nyasar? Apakah hanya teman saya yang rugi? Tidak… Saya juga rugi.

Bukankah kita akan lebih menyesal jika kita salah karena tidak mengikuti kata hati kita (yang ternyata benar)?

Saat itu juga, saya putuskan untuk mengikuti saran teman saya, tapi tetap bertanggung jawab atas segala risikonya (dan syukurlah ternyata sarannya tepat :) ).

Ketika seseorang terjangkit “Blame Disease” stadium lanjut, kita bahkan bisa menghancurkan diri kita sendiri hanya agar kita bisa menyalahkan orang lain, dan membuat orang lain merasa bersalah.

Itulah yang terjadi dengan orang yang memilih bunuh diri karena ditinggalkan pacarnya. Kenapa mereka bunuh diri? Karena mereka ingin menyalahkan mantan pacarnya yang telah meninggalkannya. Mereka ingin berkata kepada mantan pacarnya, “Lihatlah kematianku. Ini terjadi karena kamu meninggalkanku!” dan membuat mantan pacarnya merasa bersalah.

Seolah, mereka berhasil dengan membuat mantan pacarnya merasa bersalah. Mereka berhasil menyalahkan. Tapi, faktanya mereka kehilangan nyawanya. Mereka menukarkan nyawa mereka untuk kepuasan atas rasa bersalah mantan pacar mereka! Bukankah ini sangat tidak masuk akal? Tapi ironisnya, ada saja yang melakukan kebodohan ini.

Jadi, bagaimana menyembuhkan “Blame Disease” ini? Saya menyarankan dua langkah berikut.

1. Bertanggung jawablah atas apa pun yang kita lakukan dan apa pun yang terjadi dalam hidup kita.

Bertanggung jawab di sini bukan berarti kita menyalahkan diri kita sendiri. Bertanggung jawab berarti ketika kita salah, kita mengakui kesalahan kita, dan belajar dari kesalahan itu. Kita selalu melihat apa yang dapat kita ubah dari diri kita sendiri untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Fokus kita bukan lagi mencari kambing hitam, tapi mengubah diri kita menjadi lebih baik.

2. Selalu melihat sisi positif dari segala hal buruk yang terjadi, dan syukurilah.

Saya yakin, semua hal buruk yang terjadi pada diri kita pasti mempunyai sisi positif. Ketika kita bisa memfokuskan diri kita pada hal-hal positif tersebut, kita menjadi mampu mensyukuri hal buruk yang terjadi pada diri kita. Dan kita tidak akan menyalahkan siapa-siapa ketika kita mulai bersyukur. Kenapa? Sederhana saja, karena kita tidak lagi menganggap kesalahan itu sebagai sebuah kesalahan. Kita melihatnya sebagai sebuah pelajaran yang berharga. Malah, mungkin saja kita malah berterima kasih kepada orang-orang yang semula kita jadikan kambing hitam.

Tuhan menginginkan kita saling mengasihi, bukan saling menyalahkan.

Mari kita bebaskan diri kita dari “Blame Disease” ini.

Tuhan memberkati kita semua.

Charles Christian


Apr 20

Humor: Cara Berbisnis :))

Posted by Charles


Ayah: Aku mau kamu menikahi gadis yang telah kupilihkan untukmu…
Anak: Aku akan memilih calon istriku sendiri!
Ayah: Tapi, gadis itu adalah putri Bill Gates…
Anak: Oh, kalau begitu sih nggak nolak…

Keesokan harinya, sang ayah menemui Bill Gates.

Ayah: Aku punya calon suami untuk putrimu…
Bill Gates: Tapi putriku masih terlalu muda untuk menikah!
Ayah: Tapi orang muda ini adalah vice-president Bank Dunia…
Bill Gates: Ah, kalau begitu, OK…

Terakhir sang ayah pergi menemui presiden Bank Dunia.

Ayah: Aku punya seorang muda yang dapat direkomendasikan jadi vice-president…
Presiden: Tapi jumlah vice-president yang kupunyai saat ini sudah lebih dari yang kubutuhkan!
Ayah: Tapi orang muda ini adalah menantu Bill Gates, loh…
Presiden: Oooh… Kalau dalam kasus ini, OK…

Dan bisnis pun selesai dilakukan dengan sukses… :))

Moral: Bahkan saat kamu tidak mempunyai (modal) apa-apa, kamu bisa mendapatkan segalanya… Milikilah attitude yang baik… D