Aug 25

Apakah Anda pernah mengalami sebuah kejadian yang sangat berkesan untuk Anda? Saya rasa semua orang pasti pernah mengalaminya. Tetapi, apakah semua kejadian-kejadian yang berkesan tersebut masih Anda ingat sampai sekarang? Saya sendiri, banyak kejadian-kejadian menarik dan penuh makna yang saya alami, yang tidak bisa saya ingat lagi sekarang. Kesalahan saya adalah tidak mendokumentasikan kejadian tersebut di saat saya masih mengingatnya.

Ada banyak cara mendokumentasikan sebuah kejadian. Salah satu caranya adalah dengan menuliskannya. Tuliskanlah kejadian itu beserta dengan pesan yang Anda dapatkan dari kejadian itu. Tuliskanlah di mana saja. Di buku harian. Di agenda pribadi Anda. Di blog Anda. Atau di komputer Anda, dan simpan di folder pribadi Anda.

Saya yakin suatu saat nanti, tulisan yang Anda buat pasti akan bermanfaat. Di kemudian hari, Anda akan terkejut melihat tulisan Anda sendiri. Nilai tulisan itu akan semakin bernilai jika Anda telah melupakan kejadian tersebut, sehingga Anda seperti belajar dan tercerahkan kembali oleh tulisan Anda sendiri di masa lalu.

Jangan biarkan diri Anda dipusingkan dengan berbagai perencanaan yang menghambat Anda untuk mulai menulis. Anda tidak sedang membuat sebuah penelitian ilmiah. Yang penting, menulislah terlebih dahulu. Tulislah apa yang ada di pikiran Anda saat ini. Ide yang muncul di kepala Anda saat ini belum tentu muncul kembali esok hari. Ide itu dapat dengan mudah saja lenyap. Sangat disayangkan jika Anda melewatkan ide-ide brilian di kepala Anda, yang sebenarnya bernilai sangat tinggi. Kalau saja Anda menuliskan ide-ide tersebut… Anda tidak perlu takut melupakannya. Jadi, tuliskanlah ide-ide yang ada di kepala Anda.

Kebanyakan orang mempermasalahkan masalah-masalah kecil seperti gaya bahasa, kalimat yang baku, kata-kata yang tepat. Anda tidak perlu memikirkan itu semua di saat menulis pertama kali. Ingat, tulisan itu bisa Anda edit kembali. Yang tidak akan kembali adalah idenya. Anda bisa memperbaiki tulisan Anda di kemudian hari, tetapi Anda sudah menangkap idenya terlebih dahulu. Jadi, kalau Anda mempunyai sebuah ide di kepala Anda, segeralah tulis dengan bahasa Anda sendiri. Tulislah dengan bahasa yang membuat Anda nyaman. Alirkanlah ide di kepala Anda tersebut ke atas kertas atau ke dalam sebuah dokumen. Tuliskanlah semuanya. Jangan biarkan Anda diganggu dengan masalah-masalah teknis yang menghambat Anda dalam menulis.

Mulailah menulis. Curahkanlah isi hati dan pikiran Anda ke dalam tulisan Anda.

Tuhan memberkati kita,

Charles Christian


Jul 28

Sebuah Berita Mengejutkan Di Pagi Hari

“Ko, kayanya nanti saya ga kaer (kebaktian remaja) dan pembinaan deh… Rumah saya kebakaran!”

SMS itu masuk ke dalam inbox handphone saya pada hari Minggu kemarin, 25 Juli 2010 Pk 03:21 dini hari. Pengirimnya? Kurniawan, seorang anak bimbingan saya di gereja.

Saya baru membaca SMS itu ketika saya bangun jam setengah 6 pagi. Hampir saja saya menjatuhkan handphone saya saat membacanya. Saya langsung mencoba menghubungi dia.

Sia-sia. Handphone-nya tidak aktif. Saya malah menjadi bertambah khawatir. “Oh Tuhan, apa yang terjadi dengannya?”

Saya sungguh bergumul saat itu. Pagi itu, saya ada janji pergi dengan teman saya. Tapi, saya tidak akan mungkin dapat meninggalkan anak bimbingan saya dalam keadaan yang belum jelas dan sangat membuat saya khawatir. (Sebenarnya saya malu mengakui bahwa awalnya saya masih ragu-ragu untuk membantu anak bimbingan saya sendiri, tapi saya ingin bercerita dengan jujur). Kebingungan saya terjawab beberapa menit kemudian di kamar mandi saya.

Saya sedang mandi ketika saya bertanya kepada Tuhan di dalam hati saya, “Tuhan? Apa yang harus saya lakukan?” Dan saya percaya, Tuhan menjawabnya ketika ada sebuah suara yang saya rasakan sangat jelas di dalam hati saya: “Datanglah ke sana…”.

“Tapi Tuhan, apa yang bisa saya lakukan di sana?” Saya tidak pernah membantu orang yang mengalami musibah kebakaran sebelumnya. Meskipun di satu sisi saya sangat ingin membantu, di sisi lain saya merasa bingung dan tidak nyaman.

Semua keraguan saya sirna ketika suara itu bergema lagi di dalam hati saya: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.”

Singkat cerita, akhirnya saya membatalkan janji dengan teman saya. Dan saya pergi, ke lokasi kebakaran itu. Saat itu, saya sama sekali tidak tahu, bahwa Tuhan akan memberi saya berkat yang melimpah di sana.

Datang Ke Lokasi Kebakaran

Rumah Kurniawan, anak bimbingan saya tersebut, ada di daerah Tambora. Di sepanjang perjalanan, saya berdoa untuk keselamatan Kurniawan.

Saya pun sampai di depan gang dekat rel kereta api Bandengan. Saya melihat beberapa mobil pemadam kebakaran berjejer, dan banyak orang berkerumun. Saya mencoba untuk masuk ke dalam gang.

Saya melihat rumah-rumah yang berdempet-dempetan sepanjang gang itu. Saya melihat banyak orang berkerumun. Setelah saya agak jauh masuk ke dalam gang, saya mulai melihat rumah-rumah yang sudah hangus terbakar.

Saya masuk ke dalam gang rumah anak bimbingan saya. Saya tidak dapat sampai ke depan rumahnya. Petugas pemadam sedang sibuk menyemprotkan air ke rumah-rumah tersebut (yang sebenarnya sudah lebih mirip kumpulan tembok-tembok saat itu).

Saya sungguh terkejut. Saya tidak mengira kebakarannya sebesar ini. Meskipun saat itu api sudah berhasil dipadamkan, tetapi para petugas masih terus menyemprotkan air. Puluhan rumah habis terbakar si jago merah.

Sementara itu, saya masih mencari Kurniawan. Ya! Kurniawan… Di mana dia? Saya pun berusaha mencari di tengah kerumunan orang. Saat itulah, saya menyaksikan pemandangan di luar dugaan saya.

Sebuah Pemandangan Di Luar Dugaan

Apa yang Anda harapkan ketika Anda melihat seseorang yang rumahnya baru saja habis terbakar? Seorang yang sedang menangis tersedu-sedu? Seorang yang marah-marah? Seorang yang depresi? Seorang yang menunjuk orang lain dan berkata: “Ini semua salah kamu!!!”

Kawan, tidak satu pun dari orang-orang di atas yang saya temukan. Seberapa hebat pun saya mencari saat itu, tidak satu orang pun yang saya temukan menangis, marah-marah, depresi, atau saling menyalahkan. Setidaknya, sejauh yang saya lihat saat itu, saya tidak menemukannya.

Lalu, orang seperti apa yang saya temukan?

Yang saya temukan adalah orang yang sedang membeli banyak roti untuk tetangga-tetangganya, yang juga mengalami musibah.

Yang saya temukan adalah orang-orang yang saling membantu satu sama lain. Yang satu mengambil air. Yang lain menenteng ember. Yang lain lagi sedang menyiramkan isi ember itu ke sisa-sisa api.

Yang saya temukan adalah dua orang yang berpapasan. Yang seorang bertanya, “Hai… Gimana rumahmu?”. Dengan senyum terukir di wajahnya, yang lain menjawab, “Rumah habis semua. Tapi untung anak-anak selamat semua. Kamu bagaimana?”. Tersenyum juga, dia menjawab, “Sama. Tak ada yang tersisa, tapi keluarga aman.”

Hei, apakah tidak salah!? Mereka baru saja kehilangan rumah mereka, dan mereka dapat tersenyum begitu lepasnya. Mereka bahkan masih saling memperhatikan satu sama lain. Jika saya ada di posisi mereka, dapatkah saya melakukan hal yang sama? Suatu hal yang masih saya ragukan.

Saya yang awalnya berniat membantu, hanya bisa terdiam menyaksikan semua hal yang luar biasa tersebut. Saya merasakan aura positif di tengah kekacauan akibat kebakaran. Saya melihat begitu banyak orang yang luar biasa. Tidak terkecuali anak bimbingan saya.

Respon yang Luar Biasa

Saya masih terdiam ketika dia menepuk bahu saya.

“Hai koko!” sapaan yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Sapaan anak bimbingan saya. Kurniawan menghampiri saya.

“Hai Kur… Koko cari kamu dari tadi. Gimana rumah kamu?”

Tidak ada kesedihan yang terlihat di wajahnya. Hanya senyuman yang biasa dia tunjukkan. Dia menjawab, “Wah… Abis semua ko. Rumah saya uda jadi kaya lapangan bola…”

“Hah? Abis semua Kur?” saya terkejut.

“Iya. Baju aja tinggal yang saya pake sekarang. Cuma sempet ngeluarin motor dan sedikit baju dede saya.”

Oh Tuhan… Apa yang Engkau ingin nyatakan pada Kurniawan? Saya teringat, baru saja sehari sebelumnya kaki Kurniawan tertusuk paku. Dan hari itu, seharusnya dia mengikuti pertandingan basket. Pertandingan final. Baru juga sehari sebelumnya, dia membeli sepatu untuk dia pakai di pertandingan itu. Tapi sepatu itu lenyap dalam beberapa jam, tanpa sempat dipakai olehnya. Baru pula sehari sebelumnya, dia membantu kokonya bekerja seharian. Siapa yang menyangka, sekarang peralatan kerja kokonya pun sudah habis terbakar, di saat sebenarnya pekerjaan itu masih harus dilanjutkan hari itu.

Saya percaya, Tuhan ada rencana yang indah pada Kurniawan. Tapi, saat itu, segalanya terlihat begitu gelap. Ibarat orang yang sudah jatuh, tertimpa tangga, dan tertiban balok pula.

Tapi, respon Kurniawan menghadapi semua ujian ini sungguh baik. Tidak. Lebih dari baik, ini luar biasa! Kurniawan meresponi semua musibah ini dengan begitu positif. Dia meresponi dengan keyakinan Tuhan masih menyertainya sampai detik ini, meskipun dia sedang mengalami musibah yang hebat.

“Mama dan yang lain gimana Kur?” saya bertanya lagi.

“Puji Tuhan semua selamat ko. Saya barusan disuruh jaga motor sih, tapi sudah saya kunci. Koko mau lihat rumah saya?”

“Ga pa pa Kur motornya ditinggal?”

“Ga pa pa ko, aman… Uda saya kunci.” kata Kurniawan. Senyumnya masih terus terukir. Dan saya pun diantar ke gang rumahnya. Saya tidak dapat melihat dengan jelas saat itu, karena saya hanya melihat dari jauh. Petugas pemadam masih sibuk bekerja. Akhirnya, Kurniawan membawa saya bertemu mama dan adiknya.

Seperti orang-orang yang lain, mama Kurniawan pun tidak menunjukkan tanda-tanda kesedihan. Hei, saya tahu mereka semua sedang sedih. Tapi, mereka memilih untuk tidak memfokuskan diri mereka pada kesedihan mereka, melainkan pada hal-hal yang dapat mereka selamatkan, keluarga mereka. Dan itulah yang luar biasa.

Mama Kurniawan bercerita, “Kur tadi hebat loh, dia ingetin saya buat lepasin gas. Biar ga meledak katanya. Oh iya ya… Saya saja tidak ingat. Lalu saya lepasin gas. Abis itu langsung mati lampu. Dan ga berapa lama api udah nyamber. Tapi tabung gas itu selamat.”

“Ah, tapi sama aja ko… Yang lain ga lepasin gasnya, jadi meledak juga dari rumah yang lain ko… Hehehe.” kata Kurniawan sambil tertawa, membuat orang-orang di sekitarnya juga tertawa kecil.

“Tadi ribut-ribut saya kira ada tawuran… Jadi saya diemin aja. Terus saya kaget Kurniawan bilang kebakaran. Jadi saya baru bangun, untung semuanya bisa bangun dan selamat akhirnya…” mama Kurniawan cerita lagi.

“Hmm, ada korban jiwa ga ya di kebakaran ini?” saya bertanya lagi, penasaran.

“Tadi hampir ada ko… Kakek-kakek yang uda agak tuli. Digedor-gedor tetep ga bangun. Akhirnya pintunya didobrak, dan dia baru bisa dibangunin. Wah, kalo ga, uda jadi daging panggang ko…” kata Kurniawan.

Wow! Di tengah kepanikan, mereka masih ingat pada seorang kakek-kakek tua yang hampir tuli, yang hidup sendirian di dalam rumahnya yang terkunci. Mereka bahkan mendobrak pintu untuk menyelamatkan sang kakek. Mereka tidak berpikir keselamatan diri mereka sendiri saja, tapi juga keselamatan orang di sekitar mereka.

Api boleh membakar barang-barang mereka. Tapi mereka tetap bergembira karena mereka berhasil menyelamatkan setiap nyawa. Api tidak dapat membakar cinta kasih yang ada di dalam hati mereka.

Ingin Membantu, Malah Dibantu

Mau tahu akhir kisah yang tragis namun luar biasa pagi itu? Kurniawan mengantarkan saya pulang dengan motornya. Oh, saya mau menangis di perjalanan.

Diantar pulang naik motor mungkin sebuah hal yang biasa. Diantar pulang naik motor oleh seorang anak bimbingan yang rumahnya baru saja terbakar habis. Rasanya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Saya tahu, Kurniawan akan berkata “Ah, koko lebay…” ketika membaca tulisan ini. Tidak Kur, ini tidak lebay. Sungguh itu yang koko rasakan…

Tidak sekali pun terdengar keluhan. Tidak sekali pun terlontar makian. Tidak sekali pun dia meminta bantuan. Kenyataannya, justru sayalah yang dibantu. Saya benar-benar tidak membantunya pagi itu. Dia membantu saya dengan mengantarkan saya pulang.

Saya teringat kata-kata Tuhan tadi pagi: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.” Ini benar sekali. Tuhan ingin menunjukkan kepada saya seorang anak bimbingan saya yang sungguh luar biasa.

Tentunya, karena dia memiliki Tuhan yang luar biasa juga, yang telah mengubahkan hidupnya. Dan saya sangat bersyukur untuk semua itu.

Sungguh banyak berkat yang saya dapatkan, sehingga saya harus memecah tulisan ini menjadi beberapa bagian. Siang itu, saya datang lagi menemui Kurniawan, kali ini dengan teman-teman yang lain. Tapi ini cerita yang lain lagi, dengan berkat yang berbeda lagi yang saya dapatkan.

Apa yang Saya Pelajari

Lalu, apa yang saya pelajari pagi itu? Saya belajar untuk tidak egois, dan lebih memperhatikan orang lain. Saya belajar untuk mengandalkan Tuhan dan bersyukur senantiasa. Saya belajar untuk meresponi hal-hal buruk yang terjadi dengan sikap yang positif.

Tuhan yang mengajarkan itu kepada saya. Melalui anak bimbingan saya yang luar biasa.

Terima kasih Tuhan. Terima kasih Kurniawan.

Percayalah, Tuhan menyertaimu sampai kepada akhir zaman.

Teruslah percaya kepada-Nya. :D

Charles Christian

P.S. Yeremia 29:11. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Bersambung…


Jun 18

Melabuhkan Sebuah Pilihan

Posted by sidicx

the choice

Nggak terasa udah lama banget saya nggak mengupdate blog saya ini. Sebenarnya banyak hal yang bisa diceritain, tapi karena satu dan lain hal akhirnya baru sempet ngeblog lagi sekarang. Yah, bisa dibilang alasan tadi hanyalah sekedar excuse saya saja karena saya sebenarnya sudah berjanji di resolusi tahun ini kalau saya akan kembali aktif menulis secara rutin. Kenyataannya, tidak. Membiasakan diri melakukan suatu hal setelah lama tidak melakukan hal tersebut ternyata cukup sulit ya :)

Okelah, untuk kali ini saya pengen bercerita tentang keseharian saya dengan pekerjaan yang saya jalani. Jujur, saya belum cukup yakin dengan pekerjaan saya saat ini. Saya belum yakin kalau inilah jalan hidup atau pilihan karir yang selanjutnya akan saya jalani. Dalam hati masih ada keinginan untuk mencari yang lebih baik. Dan karena itulah saya masih meng-apply pekerjaan ke tempat lain untuk posisi yang berbeda dengan yang saat ini saya jalani. Memang, pada saat pertama kali saya “tercebur” di dunia broadcasting dan entertainment ini background pendidikan saya tidak sesuai. Cukup banyak adaptasi yang perlu saya lakukan sampai saat ini. Tapi saya tidak menyesali pilihan itu, karena memang pilihan untuk menerima tawaran pekerjaan di perusahaan ini adalah keputusan saya sendiri. So, I have to take full responsibility about it. :)

Satu hal yang selalu saya yakini adalah, “Berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih baik bukan berarti tidak mensyukuri apa yang saat ini kita miliki”. Dan atas dasar itulah, saya tetap berusaha mencari pekerjaan yang lebih baik, dan tetap mensyukuri pekerjaan yang sekarang saya jalani. Bukan berarti pekerjaan sekarang tidak baik, bukan juga karena saya orang yang tidak pernah puas. Sungguh, tidak. Mungkin sebagian orang yang ada di sekitar saya, mungkin teman-teman saya di kantor ini akan menganggap saya tidak bersyukur diberikan pekerjaan ini oleh Allah. Saya tidak bisa menyalahkan mereka, tapi yang pasti saya punya alasan saya sendiri. Semoga mereka nantinya mengerti (kalau ternyata nantinya kami bareng-bareng lagi).

Memang saya sendiri yang menyatakan bahwa saya menghindari pekerjaan IT yang berhubungan dengan coding-mengcoding alias programming. Namun, sebenarnya saya juga tidak membayangkan akan keluar sebegitu jauh dari jalur pendidikan saya itu. Di dunia IT dan CS pun saya masih punya pilihan pekerjaan yang saya inginkan, misalnya sebagai IT Auditor, atau Business Process Analyst, atau pekerjaan lainnya yang tidak menuntut saya untuk programming. Jujur saja, saya merasa tidak cukup bisa untuk jenis pekerjaan itu, walaupun background saya Fasilkom UI. Saya hanya tidak ingin melakukan hal yang tidak optimal dan tidak menghasilkan hasil terbaik dengan effort yang optimal.

Saya tidak ingin mengeluh tentang pekerjaan saya, karena saya sudah pernah berjanji kepada diri sendiri untuk berusaha tidak mengeluhkan pekerjaan. Orang-orang pasti tidak nyaman mendengar/melihat keluhan saya, sama seperti ketidaknyamanan saya saat melihat/mendengar teman saya mengeluh tentang pekerjaannya. Saat ini saya hanya berusaha melakukan yang terbaik di sini, di pekerjaan ini. Sekalian juga mencari pengalaman sebanyak-banyaknya di “dunia luar” dari dunia yang biasanya saya tempati. Yah, hitung-hitung latihan survive di luar zona nyaman lah, hehe…

Saya selalu ingat janji Allah di Al-Quran, bahwa Apabila kita bersyukur, Allah akan menambah nikmat yang kita terima. Namun bila kita tidak bersyukur (dan justru terus mengeluh), maka justru nikmat itu akan diangkat dari kita. So, yuk mari teman-teman selalu bersyukur atas segala yang kita miliki dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. Kalau memang nantinya saya ditakdirkan bekerja di sini, saya yakin Allah punya skenario yang lebih baik dan indah bagi saya :)

Oh iya, saat ini saya bekerja sebagai Broadcast Development Program di PT Cipta TPI, saat ini sedang ditempatkan di Creative Center.


Apr 29

reflection
(cc) photo credit: Kristina B
Kalo beberapa postingan terakhir 1-2 bulan ini terasa agak ngawang dan ga konkret, tentang passion dan impian aja, sekarang mau cerita yang lebih konkret aja deh. Tentang gimana perjalanan gw di Univind beberapa bulan terakhir ini. Sekedar buat ngerefresh, terakhir gw ngasih update itu di postingan ini: Sekarang Saya adalah Full-time Entrepreneur :)

Sekarang gw mau cerita gimana kondisi gw pribadi dan kondisi perusahaan konsultan web gw, Univind.

Dari November 2009 - April 2010, berarti udah hampir enam bulan gw jadi entrepreneur penuh waktu, dan enam bulan pula Univind berjalan full time (dulu sampingan kuliah).

Udah enam bulan pula laporan keuangan perusahaan dibuat. Alhamdulillah, ternyata Univind ga salah bikin strategi untuk dari awal seriusin bikin laporan keuangan. Laporan keuangan ini bener-bener jadi salah satu indikator terbaik untuk ngukur kinerja usaha.

Sejak pertama dibuat bulan Oktober 2009 sampai bulan Februari 2010, laporan keuangan Univind itu selalu merah. Artinya kita merugi, pendapatan lebih sedikit dari pengeluaran. Alhamdulillahnya, ruginya itu progresif. Setiap bulan, kerugian selalu berkurang, karena pendapatan (lewat unit bisnis hosting namanya NeoHoster dan proyek-proyek) berhasil ditingkatkan, dan pengeluaran berhasil ditekan.

Alhamdulillah, untuk pertama kalinya, laporan keuangan bulan Maret 2010 berhasil menjadi biru, artinya kita berhasil meraup keuntungan. Nggak gede, masih kecil banget, ga signifikan. Tapi tetap sangat disyukuri, karena ini nunjukin bahwa Univind berkembang.

Teruus, sejak pertama jadi entrepreneur fulltime, gw dan Kamal nggak gajian dalam beberapa bulan. Mendahulukan tim kita dulu, baru kita sendiri. Baru sejak awal bulan Maret kemarin, Alhamdulillah kita bener2-bener bisa gajian, langsung dalam jumlah yang ‘layak’ dan ‘mendekati standar’ gaji yang lain :)

Terus juga, alhamdulillah, ternyata hal yang dulu pas masih kuliah gw cuma bisa denger ga percaya, ternyata beneran kenyataan. Yaitu kenyataan bahwa di IT, kita nggak bakal kehabisan proyek. Jadi Univind sekarang sudah beberapa kali menolak atau mengalihkan atau merekomendasikan ke temen-temen kita yang lain, tawaran-tawaran proyek yang tidak bisa dipegang oleh kita. Ayo buka usaha di bidang IT, insya Allah selalu ada pintu rezeki terbuka!

NeoHoster alhamdulillah setiap bulannya selalu meningkat juga omsetnya. Dua kali bagi hasil dengan Pak Yugo, dosen Fasilkom yang jadi investor NeoHoster bulan Maret dan April ini, jumlahnya selalu bertambah. Uang halal yang diputar dengan jujur dan halal, hasilnya juga berkah, yaitu berlipat ganda. Alhamdulillah :)

Tentang proyek-proyek yang dijalankan oleh Univind, kita Alhamdulillah udah megang berbagai jenis klien, dari lembaga penelitian di tingkat fakultas, perusahaan menengah, LSM, seorang tokoh publik, bahkan kita juga insya Allah bakal kerjasama dengan kampus sendiri, Fasilkom UI.

Terus lagi, secara personal, gw dan Kamal juga saling membuka jaringan pribadi masing-masing. Gw lebih aktif di komunitas blogger, aktivis online, dan bisnis Internet. Sedangkan Kamal lebih aktif di komunitas-komunitas pengusaha, seperti komunitas Tangan Di Atas (TDA) Kota Depok, komunitas pengusaha UI, dan yang lainnya. Ini ’strategi’ tak tertulis, supaya jaringan Univind juga makin meluas di berbagai bidang, seiring bertambahnya jaringan pribadi para founder-nya.

Seneng banget juga, karena kita Alhamdulillah sering menemukan & mendapatkan hal-hal tak terduga. Tawaran kerjasama, undangan-undangan ini itu, koneksi baru, kesempatan-kesempatan pengembangan diri dan usaha, dan semua hal yang membuat kita sangat bersyukur.

Jalan ini ga selalu bahagia dan lancar-lancar saja. Selalu ada masalah yang menerpa di Univind, baik itu masalah komunikasi, masalah dengan klien, masalah teknis (contohnya ini), masalah yang tidak terduga, dan masalah-masalah lainnya. Tapi semua masalah itu alhamdulillah bisa diatasi, dan kalo ngambil bahasa Kamal, membuat kita “naik kelas”.

Dan, semua yang disebutin di atas ga bakal terwujud tanpa kerja tim. Tanpa sebuah keluarga bernama UnivindCrew. 6-person crew inilah yang membuat semua cerita di sini bisa terjadi.

Eko, ownernya Univind juga & yang 2 tahun lalu ngediriin NeoHoster, meskipun sekarang ga full time di Univind karena masih kerja juga tempat lain, punya porsi sangat besar dalam bikin NeoHoster bisa jadi kaya gini sekarang. Ayo ko, cepetan full di Univind :D

Rizkiansyah yang jadi ujung tombak NeoHoster. Dia bener-bener belajar dari 0 enam bulan lalu saat diajakin gabung di Univind. Sekarang dia berhasil bikin omset NeoHoster naik jadi lebih dari 5 kali lipat dibandingin dulu. Alhamdulillaah..

Terus Ai, yang semangat belajarnya tinggi banget, membangun sistem keuangan Univind dari 0. Berkat Ai, kita jadi bersyukur, nasihat pebisnis senior untuk “bikin laporan keuangan yang bener” itu bisa dijalani juga. Entah apa jadinya kalo dulu kita ga dapet partner seperti Ai.

Isti, yang gabung di Univind baru sejak 2010, paling semangat buat gabung di Univind, tapi sempet ditunda2 karena belum ada proyek juga. Sejak ada Isti, Alhamdulillah, pemasukan Univind lewat proyek jadi lebih lancar. Dan kalo lg ada Isti, kantor pasti rame, ada jajan-jajan makan-makan juga, hehe

Dan terakhir ya Kamal, founder, leader, dan inspiratornya Univind. Satu paragraf ga cukup buat nyeritain, pokoknya sejarah Univind ya sejarah Kamal juga. Silakan search di blog ini buat tahu ceritanya :D

UnivindCrew

UnivindCrew. Ki-ka: Rizki, Isti, Ai, Ikhlas (ga masuk UnivindCrew, tapi termasuk ownernya Univind), Ilman, Eko, Kamal

Intinya, I’m very happy with my life.

Menjadi pengusaha, di bidang Internet, memang merupakan passion sekaligus impian gw dan Kamal. Kami bener-bener bersyukur dan bahagia menempuh jalan “nekad” seperti ini.

Alhamdulillaah..

pesan sponsor: gw bisa bahagia hidup seperti ini karena Alhamdulillah sudah nemu passion gw. Temen-temen sudah bahagia belum? Kalau belum, mudah-mudahan ebook karya gw ini bisa membantu. Passion: Find and Live It!

Apr 7

Ada sebuah cerita tentang seorang penjahat yang meninggal dunia. Ketika dia mau mati, dia sudah merasa pasti akan masuk neraka. Nah ketika dia mati, tiba-tiba dia dibangunkan. Dia melihat sesuatu yang tidak diharapkannya. "Wah kok suasananya bagus. Indah menarik dan menyenangkan sekali ya," katanya dalam hati. Dia melihat semua serba bahagia.

"Aduh rasanya saya keliru terkirim ke surga," katanya lirih. Tiba-tiba seorang bidadari mendatanginya. "Ayo-ayo bangun. Kamu ingin apa ? Di sini kamu apa saja diberi." Awalnya dia ragu. Tapi memberanikan juga untuk meminta, "Saya tidak mau kerja." "Ok," kata bidadari. Ting! Maka dia tidak usah kerja. Semuanya tercukupi.

Setelah keinginannya terwujud, dia mulai berani, "Saya boleh minta lagi ?" "Boleh," kata bidadari, "Kamu minta apa ?" "Saya minta uang yang banyak." Ting! Maka keluar uang yang banyak. Dia beli apa saja bisa. Dia ingin beli mobil baru, bisa. Beli apa saja, bisa.

Lalu dia datang lagi ke bidadari. "Bidadari, saya minta rumah yang bagus," pintanya. Ting! Dia dapat rumah yang sangat mewah, indah dan semuanya ada. "Wah apapun dikasih katanya. Ini betul-betul surga," teriaknya senang. Kemudian dia kembali ke bidadari. "Saya bisa tidak minta wanita- wanita yang cantik ?" Ting! Maka ada 10 wanita yang cantik yang siap melayani dia terus.

Dia senang sekali. Uang ada. Punya rumah. Dikelilingi wanita-wanita cantik. Dan dia tidak usah kerja. Makan apapun bisa sekenyang-kenyangnya. Dan semua itu berlalu dengan cepat. Sebulan, 2 bulan, 3 bulan dia mulai bosan. Jenuh. Dia tidak mau segala keenakan ini. Rasanya bikin ‘eneg’. Mual.

Maka dia menghadap bidadari. "Bidadari, saya mau kerja," katanya. Bidadari itu heran, "Tidak bisa, tidak bisa. Di sini tidak perlu kerja. Tidak ada kerjaan. Kamu tidak usah kerja. Kamu nikmati saja segala kenikmatan ini." Dia bingung. Kembali ke kegiatan sebelumnya dan dia coba menikmati lagi surganya. Makan lebih banyak lagi, sampai gendut. Tapi dia tetap jenuh karena tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan. Dia kembali lagi bidadari. "Aku minta kerja," katanya. Dan biadadari tegas berkata, "Tidak bisa. Di sini tidak ada kerja."

Akhirnya dia tidak tahan. Penjahat ini mengaku, "Bidadari yang baik, saya sebanarnya adalah penjahat. Saya tidak layak masuk surga ini. Saya seharusnya masuk neraka. Kalau di neraka, saya bisa kerja. Bahkan kerja keras. Saya bisa merasakan sakit dan sengsara. Saya tidak mau segala ini. Ternyata kenikmatan ini tidak enak," teriaknya marah.

Tiba-tiba wajah bidadari yang cantik dan menyenangkan dilihat ini, tiba-tiba berubah menyeramkan. Wajahnya berubah menjadi setan. Dia berkata keras, "Sebenarnya ini adalah neraka."

Cerita ini disadur dari salah satu episode seri TV kuno ‘Twilight Zone’.

Saya tidak mengatakan supaya anda semua menjadi penjahat supaya tidak masuk surga. Manusia baru ingat dan menghargai segala kenikmatan yang dia rasakan, ketika kesedihan dan kesengsaraan juga dirasakannya. Kehidupan adalah sebuah keseimbangan antara kenikmatan dan penderitaan, inilah yang memperkaya kazanah kehidupan kita. Selamat menghargai kesengsaraan anda, karena di sanalah akan anda temui kenikmatan yang lebih.

Sumber cerita: Business Wisdom Pak Tanadi Santoso

Itu adalah cerita yang saya dengarkan di radio hari Senin lalu. Cerita yang membuat saya berpikir. Ya, memang benar… Kesusahan perlu kita lalui agar kita bisa menghargai kebahagiaan. Suatu kebahagiaan tidak lagi jadi kebahagiaan untuk kita jika kita tidak merasakan kesusahan. Saya akan berikan contoh yang sederhana. Bayangkan Anda baru saja berjalan selama satu jam di bawah terik matahari siang hari, yang membuat Anda sangat berdahaga. Lalu, ketika sampai di tujuan, Anda ditawarkan sebotol Aqua dingin. Tentu karena Anda sedang sangat haus dan kepanasan, sebotol Aqua dingin tersebut menjadi sebuah kesenangan bagi Anda. Tapi, apa yang terjadi jika Anda sedang tidak haus dan diberikan sebotol Aqua dingin tersebut? Rasa nikmatnya tentu sangat berbeda bukan? Rasa nikmat yang Anda dapat dari sebotol Aqua dingin tergantung dari seberapa haus Anda saat Anda meminumnya. Semakin Anda merasa haus, atau mengalami penderitaan (kehausan), semakin banyak nikmat yang akan Anda rasakan dari sebotol Aqua dingin.

Contoh lainnya saya dapatkan dari pengalaman saya kemarin. Saat saya bangun pagi, saya merasakan kamar saya sangatlah dingin, dan saya menjadi kedinginan. Rasa dingin dari AC menjadi tidak enak untuk saya saat itu. Hal itu berbeda ketika saya sudah keluar dari kamar, mengerjakan banyak hal yang membuat keringat saya bercucuran. Ketika saya kembali masuk ke dalam kamar, rasa dingin AC menjadi suatu hal yang sangat enak untuk saya.

Suatu hal yang Anda anggap enak, takkan menjadi enak, kecuali Anda pernah merasakan apa yang Anda anggap tidak enak. Jadi, bersyukurlah atas penderitaan yang kita alami, karena penderitaan yang kita alami akan membuat pemulihan yang kita dapatkan nantinya menjadi semakin berharga untuk kita. Kebahagiaan yang kita rasakan bukanlah masalah seberapa tinggi hal yang kita capai, tapi seberapa jauhnya hal terendah dalam hidup kita dengan hal tertinggi dalam hidup kita. Jarak itulah yang menjadikan segalanya berharga. :D


Jan 9

Yeah! Tiba saatnya untuk tulisan bebas… Setiap hari Sabtu, saya akan menulis hal-hal bebas, yang tidak berkaitan dengan keenam subtopik yang ada di hari Minggu sampai Jumat.

Tulisan bebas di sini bisa berupa curhat-curhat dari kehidupan saya, pengalaman-pengalaman menarik yang saya dapatkan, info-info menarik, ucapan-ucapan selamat, perkembangan blog ini, dan masih banyak lagi tulisan-tulisan bebas lainnya.

Sampai jumpa di tulisan bebas saya yang lain Sabtu mendatang… :D

Aug 20

Assalamualaikum…

Temen-temen Kuncung, Alhamdulillah Jalan-Jalan Kuncung telah berhasil dilaksanakan dengan sukses dan lancar. Harapan gw, kita semua yang dateng di acara itu bisa merasakan senang, bahagia, seru, asik, fantasticx, spesial, ultimate, dll. Sama seperti yang gw rasain…

Total yang dateng ada 46 orang:

  1. Bary
  2. Aqien
  3. Adhit NR
  4. Munir
  5. Agung
  6. Yoyo
  7. Ananta
  8. Dani
  9. Yonathan
  10. Bembi
  11. Bayu
  12. Berna
  13. Chandra
  14. Charles
  15. Chubby
  16. Danu
  17. Dyta
  18. Hansel
  19. Haryadi
  20. Isti
  21. Kemal
  22. Mia
  23. Lia
  24. Sidik
  25. Yudha
  26. Irvan
  27. Ilman
  28. Mursal
  29. Kamal
  30. Nulad
  31. Nur
  32. Bram
  33. Jenggo
  34. Mardi
  35. Fithri
  36. Teddy
  37. Vinky
  38. Yenni
  39. Yohannes
  40. Nisa
  41. Eko
  42. Hari
  43. Elsa
  44. Meldi
  45. Ichsan
  46. Rizal M

Selama acara kemaren, foto-foto kita banyak banget ternyata. Ada beberapa yang udah di-upload di album facebook. Nah, sekarang lagi diusahain untuk ngumpulin semua foto-foto dari semua yang bawa kamera, ntar dijadiin satu dan di-burn ke DVD. Sementara ini, silahkan menikmati foto-foto di album facebook Nisa, Mia, Mardi, Dyta, Danu, Jenggo, Adhit NR, dkk.

Gw pribadi mengucapkan terima kasih buat semua Kuncungers yang telah ikut menyukseskan acara Jalan-Jalan Kuncung. 3 hari 2 malem kemaren itu sungguh berkesan bagi gw…Semoga ke depannya, walaupun kita akan misah dalam artian nggak bareng-bareng jadi Mahasiswa Fasilkom UI angkatan 2005 lagi, tapi gw pengen kita tetep bisa kompak, solid, dan bareng-bareng terus. Dari gw pribadi, Insya Allah bakal ngasi ide atau bikin acara supaya kita bisa ngumpul-ngumpul, silaturahmi, dan sharing. Salah satunya acara “BUKA BARENG KUNCUNG”.

Sekali lagi makasih buat semuanya. Mohon maaf sebesar-besarnya kalo dalam penyelenggaraan kemaren ada hal-hal yang kurang memuaskan atau bikin kalian nggak berkenan. Sekalian menjelang bulan Ramadhan, gw mohon maaf lahir dan bathin atas segala kesalahan yang terjadi selama kita kenal dan bergaul. Semoga Ramadhan tahun ini bisa lebih baik daripada sebelumnya, Amin.

Wassalamualaikum…

KUNCUNG’S FANTASTIC AND SPECIAL ULTIMATE TRIP

Kuncung Jaya!
Kuncung Hebat!
Kuncung Oke!

Jul 1

Ternyata memang tidak mudah…selain hikmah yang gw ambil sebagai pelajaran, ternyata (pasti) ada efek samping dan akibat dari hal yang terjadi dalam hidup gw beberapa waktu lalu.

Seperti yang udah gw ceritain pada postingan gw yang sebelumnya (kalo blom baca silahkan dibaca dulu yah), gw belum akan lulus semesternya. Singkat kata, gw nggak bisa lulus dalam 4 tahun/8 semester dan harus nambah 1 semester lagi jadi 4,5 tahun.

Akibat langsungnya pastilah waktu kuliah gw bertambah, berimplikasi langsung juga pada pengeluaran untuk BOP yang harus dibayarkan pada semester depan. Selain akibat itu, ada juga beberapa akibat langsung yang secara langsung mau tidak langsung mempengaruhi kehidupan gw. Satu hal yang telah gw sadari dari beberapa waktu lalu adalah gw membuat beberapa pihak kecewa. Mereka kecewa karena gw nggak berhasil lulus tepat waktu (baca: 4 tahun), dan mungkin ditambah dengan tidak melanjutkan TAnya. Jujur, gw sedih dan merasa bersalah karena harus bikin mereka kecewa. Ortu, keluarga, sahabat, teman, dosen, Limas, dll. Makanya, setelah gw ngasih tau ke publik mengenai kondisi gw, saatnya gw ngasih penjelasan kepada mereka ini, agar mereka juga bisa memahami kondisi gw.

Alhamdulillah gw udah berhasil menjelaskan ke ortu gw, juga ke keluarga inti gw (kecuali Mas Dody, belum ada kesempatan). Ke temen dan sahabat juga udah beberapa. Tapi ke sahabat terdekat gw, Indra, gw justru belum. Gw yakin dia pasti bakal kecewa banget kalo tau kita nggak bisa lulus dan wisuda bareng. Yah, tapi gw yakin pada akhirnya dia pasti bakalan ngerti, karena dia sahabat yang paling bisa ngerti gw. Ke dosen, udah beberapa, terutama yang terkait dengan gw. Tapi ada yang belum juga, Insya Allah dalam waktu dekat. Satu lagi ke pihak Limas.

Nah, untuk yang terakhir ini, sebenarnya dari awal tahun ini antara gw (dan penerima beasiswa lainnya) terjadi kurang komunikasi, terutama dalam bentuk ketemuan atau kontrol akademis. Biasanya di awal tahun ada pertemuan antara direksi dengan penerima beasiswa, tapi tahun ini belum ada. Bagi diri gw, hal itu berimbas pada kurangnya responsible dan keterikatan gw dengan pihak mereka. Namun, sore ini pihak Limas menelpon ke hape gw lewat mas Daiz. Dia menanyakan kondisi akademis gw, terutama tentang kelulusan gw. Awalnya gw sempet kaget, karena udah lama banget nggak ada kabar, eh tau-tau nelpon nanya kagak gitu. Ya udah gw jelasin aja kondisi gw yang bakal nambah 1 semester lagi. Dari nada bicaranya, jelas dia kecewa dan agak bete gitu. Gw tau banget hal itu karena gw udah kenal dia dari pertama dapet beasiswa. Setelah dia puas/cape nanyain kenapa, akhirnya dia minta gw untuk ngirimin email yang jelasin alasan dan kondisi gw saat ini. Katanya sih buat pertanggungjawaban dia ke atasannya, direksi salah satunya.

Dari awal gw berani ngambil keputusan ini, gw udah tau resiko yang harus gw tanggung karena gw nggak bisa menuhin syarat di kontrak beasiswa. Gw sampe baca ulang tiap klausul yang ada di surat kontrak, untuk memastikan resiko yang gw terima. Insya Allah gw udah siap jelasin ke pihak-pihak yang perlu tau. Gw harap mereka bisa ngerti kondisi gw.

Selain efek samping dan akibat yang gw alamin, ada juga beberapa pelajaran tambahan yang gw rasain. Terutama banget masalah kesabaran dan keikhlasan. Dalam beberapa pekan ke depan mungkin gw harus tahan dan sabar dengan pertanyaan dari orang-orang yang belum tau kalo gw lulus semester depan. Bakal sering muncul pertanyaan: “Kapan sidang?”, “Kapan wisuda?”, “Kenapa belum lulus sekarang?”, dll yang berkali-kali ditanyakan ke gw. Yah, itu namanya efek samping, Insya Allah bakal jadi tes kesabaran buat gw. Gw juga jadi bisa belajar ikhlas nerima kenyataan gw nggak bisa lulus dan wisuda bareng sama sahabat dan temen-temen gw. Belajar ikhlas nggak lulus semester ini, padahal dia otak udah bertumpuk ide dan rencana buat acara wisuda semester ini. Belajar ikhlas belum bisa mencantumkan gelar strata 1 pada saat nyari kerjaan. Belajar ikhlas dan menikmati proses yang terjadi dalam hidup gw sendiri.

Hikmah lain yang gw rasain juga setelah hal ini, gw jadi lebih dewasa dalam memandang hidup. Nggak lagi over-ambitious like i was. Nggak lagi menggunakan ‘aku’ dalam memecahkan semua masalah. Kalo dipikir dengan jernih, mungkin yang kemaren itu gw telah sampai pada satu titik di hidup gw dimana terjadi stagnansi. Nah, Allah Yang Super Duper Maha Bijaksana memutuskan bahwa gw harus berubah, dengan menjadikan kenyataan yang sekarang gw alami. So, pasti ini adalah suatu proses. Nggak selamanya gw ada di atas, dan nggak selamanya juga gw ada di bawah. Saat ini berarti gw sedang mendaki menuju puncak lagi. Untungnya gw suka mendaki, seberapapun tingginya puncak gunung tersebut, hehe…

Momen ulang tahun alias milad gw kemaren juga membawa dampak positif dalam usaha perbaikan gw. Gw jadi punya kesempatan menyambung lagi ikatan yang sempat terputus. Gw jadi bisa ngobrol dan sharing lagi sama febi, bisa bertukar kabar dan kondisi dengan vita, bisa nanya-nanya, ngasih semangat, minta saran dan masukan, dll yang biasa dilakukan manusia dalam berinteraksi dengan manusia lain. Satu hal lagi yang gw sadarin adalah bahwa ternyata banyak orang yang peduli dan perhatian sama gw. Sangat amat egois kalo gw harus jadi orang yang tertutup dan ngabur. So, ini kesempatan buat gw nunjukin ke dunia bahwa gw bisa bangkit dan jadi Sidik yang lebih baik dari sebelumnya.

Minta doanya yah kawan agar saya bisa tetap istiqomah dan tegar dalam proses pendakian hidup ini…

Go Go Sidik Go!!

Jun 27

Hari ini, 27 Juni 2009, saya genap berusia 21 tahun.

Selama 21 tahun perjalanan hidup saya sejak dilahirkan pada tahun 1988 hingga saat ini, telah banyak hal yang saya lakukan, rasakan, dan alami. Namun, saya merasakan bahwa proses pertambahan usia saya dari 20 tahun ke 21 tahun sangatlah berkesan. Berkesan dalam artian saya mengalami banyak sekali hal, yang menyenangkan dan menyedihkan, ada naik dan ada turun, ada kesuksesan ada keterpurukan, semuanya tersaji selama 1 tahun terakhir dimulai dari ulang tahun saya yang ke-20.

Masih sangat lekat dalam ingatan saya, ulang tahun saya yang ke-20 tahun lalu saya rayakan bersama keluarga baru saya di Limas saat saya melaksanakan kerja praktik di sana. Sebagai anak baru di sana, Alhamdulillah saya diberi selamat oleh rekan-rekan kerja sekantor di Patra Kuningan. Saya juga berkesempatan untuk berbagi sedikit rezeki yang saya miliki dengan membeli beberapa makanan ringan untuk dibawa ke kantor. Benar-benar berkesan, karena mereka dengan tulus menerima kehadiran saya, hal yang saya syukuri.

Setelah itu mulailah perjalanan selama 1 tahun dari hari itu untuk tiba pada hari ini, di saat usia saya bertambah 1 tahun. 1 tahun perjalanan itu ternyata menjadi salah satu bagian yang paling berat yang saya alami dalam hidup saya. Pada masa itu saya untuk pertama kalinya benar-benar merasa terpuruk dan tidak bisa berpikir dengan jernih. Saya berusaha lari dari masalah. Saya mengambil jalan yang termudah, walaupun jelas itu bukan yang terbaik. Saya menghilang dari dunia saya. Saya tiba-tiba menjadi orang yang tertutup, yang tidak mau berbagi ke orang lain, termasuk orang-orang terdekat saya. Saya menjadi orang yang lain. Yah, walaupun itu hanya terjadi di separuh 1 tahun tersebut, tapi bisa disebut itu sebagai masa kegelapan bagi saya.

Sampai tiba akhirnya saya menyadari bahwa saya tidak bisa selamanya berada dalam zona nyaman yang saya anggap sebagai tempat yang aman dari masalah. Padahal sesungguhnya itu hanyalah alasan saya untuk melarikan diri dari masalah. Tepat 10 hari sebelum hari ini saya benar-benar berpikir sebenarnya apa yang terjadi dengan diri saya, apa yang salah dengan diri saya, apa yang sebenarnya saya inginkan di dunia ini, dan re-state kembali rencana hidup saya. Alhamdulillah, Allah masih memberi kesempatan bagi diri saya untuk bisa menyadari kondisi tersebut dan berusaha untuk memperbaikinya. Dan sampai akhirnya saya memproklamasikan bahwa pada hari ini, 27 Juni 2009 adalah titik tolak kebangkitan bagi kehidupan saya, juga menjadi momen pendewasaan diri saya menuju Sidik yang lebih baik.

Satu hal yang sangat-sangat salah yang saya lakukan beberapa waktu lalu adalah berusaha untuk menjauh dari orang lain dan mencoba-coba “hidup” menyendiri. Dan Alhamdulillah sekarang saya telah sadar sesadar-sadarnya bahwa saya tidak bisa hidup sendiri, menjadi manusia introvert dan jauh dari orang-orang yang saya sayangi dan perhatian ke saya. Saya sadar saya sangat membutuhkan keluarga saya, dan berbagi apabila sedang mengalami masalah agar mendapatkan solusi yang terbaik. Saya sadar bahwa saya sangat butuh sahabat-sahabat saya, teman-teman saya, tempat untuk bercerita dan berbagi, mendapatkan saran, masukan, dan kritik atas apa yang saya lakukan. Saya sadar bahwa saya butuh kegiatan yang dapat memfasilitasi saya untuk bersosialisasi seluas-luasnya dengan orang banyak. Intinya, saya tidak bisa hidup sendiri, bahkan saat hanya mencoba-coba.

Ini adalah saatnya saya bangkit. Bangkit kembali menjadi Sidik yang optimis. Sidik yang mempunyai visi besar bagi Indonesia, Islam, dan dunia. Sidik yang ceria dan easy-going. Sidik yang lugas, tegas, dan berani. Sidik yang pekerja keras. Bukan menjadi Sidik yang pesimis, pemalas, hanya memikirkan hal-hal kecil yang kadang tidak penting, berpikiran negatif, dan tertutup. Tentunya bangkit dan berubah menjadi Sidik yang lebih baik, yang meminimalisasi sifat dan sikap negatifnya, yang mengoptimalkan segala yang positif dalam dirinya. Dan ini juga merupakan momen yang sangat tepat untuk proses pendewasaan diri saya. Selama setahun terakhir, banyak masalah yang saya alami. Dan saya berharap semua masalah tersebut menjadikan saya menjadi Sidik yang lebih dewasa dalam berpikir, memandang masalah, dan bertindak.

Pada akhirnya, kita tidak dapat kembali ke masa yang lalu untuk mengubah takdir yang sudah terjadi. Saat ini saya telah berdamai dengan keadaan dan berusaha memaafkan masa lalu. Namun, saya tidak akan melupakannya sebagai pelajaran agar saya tidak melakukan kesalahan yang sama dan menjadi manusia yang lebih baik. Saya telah menerima kenyataan bahwa tidak semua hal yang saya rencanakan dan inginkan bisa saya dapatkan. Saya sangat yakin Allah super duper Maha Bijaksana dan tahu apa yang terbaik untuk diri saya. Untuk itu, yang selanjutnya akan saya lakukan adalah kembali menjalani hidup ini dan memperbaharui tujuan hidup saya, dengan Allah menjadi tujuan akhir.

***

Di momen 21 tahun usia saya ini, saya ingin mendedikasikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setingginya bagi orang-orang yang telah mendukung saya secara sadar ataupun tidak, yang telah memberikan sokongan yang saya sadari ataupun tidak, dan telah menghadirkan hal-hal baik dan mengesankan dalam hidup saya. Terima kasih dan segala puji bagi Allah yang masih memberikan saya kesempatan untuk merasakan usia 21. Terima kasih dan sayang baktiku untuk Bapak dan Ibu yang selalu menerima dan mendukung saya, bagaimanapun adanya saya. Terima kasih untuk Mas Dody, Teh Tuti, Mbak Septi, Mas Nur, Mbak Yanti, dan Aa Muhyidin, kakak-kakakku yang telah memberi perhatian, kasih sayang, dan semangat. Terima kasih dan peluk cium sayang untuk Terabitha, Naufal, Afifah, dan Rafif, keponakanku yang imut-imut dan lucu-lucu, yang selalu memberi warna-warni dalam hidup saya.

Terima kasih untuk Munir, Indra, Ilman, Franova, Dani, Kemal, Bram, Mia, Danu, Hari, Irvan, Yudha, Fithri, Mardian, Dyta, Yoyo, Nisa, Rina, Novi, Aqien, Krisna, Ichsan, Meldi, Nur, Nanta, Nulad, Jenggo, Niko, Kamal, Mursal, Lia, Pipit, Anjar, Yans, Haris, Ikhlas, Ipur, Didit, Andreas, Mahend, Arya, Jono, Agung, Leni, Meri, Chandra, Irene, Toni, Zebew, Rama, Chamat, Zahra, Lutfi, Dhiemas, Irsyad (Keluarga Kecil BEM Fasilkom 2008), Metti, Berna, Chubby, Hening, Haryadi, Ricky, Adhit NR, Kelompok C2, C3, dan C4 (Asdos PPL dan Kelompok PPL kelas C), Dita, Putri, Sela, Alfi, Ating, Ace, Leo, Ikhma, Cabe, Lezi, Haido, Pak Ilham, Mas Daiz, Bu Monic, Om Bos Khrisna, Pak Arif, Pak Arief, Kang Toni, Pak Jono (rekan kerja di Limas), dan semua yang telah menjadi sahabat, teman, sobat, dan bagian dari hidup saya. Terima kasih untuk Bu Ika, Bu Kasiyah, Bu Aminah, Bu Putu, Pak Thalib, Pak Harry, para dosen yang telah banyak membantu saya dan saya repotkan terutama selama 1 tahun ini.

Terima kasih juga buat semua yang udah ngasih selamat dan doa lewat sms, email, plurk, blog, facebook, friendster, ataupun secara langsung. Terima kasih buat semua yang mungkin lupa disebut, karena banyak banget orang yang udah berjasa bagi diri saya, terutama selama 1 tahun ini. Semoga Allah akan membalas kebaikan yang telah diberikan pada saya dan semoga kita bisa sukses dan berhasil dalam apapun hal yang kita lakukan, Amin.

Jun 19

Dengan adanya tulisan di blog ini, saya ingin memberitahukan bahwa saya belum akan lulus semester ini. Artinya, saya tidak menyelesaikan studi dalam 4 tahun dan Insya Allah diperpanjang menjadi 4,5 tahun.

Ada beberapa hal sebenarnya yang membuat saya pada akhirnya mau tidak mau (baca: terpaksa) mengambil keputusan ini.

Pertama, sejak awal semester lalu, saya jelas tidak serius ingin menjadikan TA sebagai bagian dari syarat kelulusan saya. Dari awal niat pun sudah agak salah sebenarnya. Memang, sejak awal saya mempertimbangkan dua pilihan, antara lulus dengan course-based atau memberanikan diri mengambil TA. Pada akhirnya saya memilih mengambil TA, utamanya karena 2 alasan, alasan baik dan alasan laten (kurang baik). Alasan baiknya adalah karena saya tidak ingin masa studi saya di Fasilkom selama 4 tahun ini tidak menghasilkan suatu karya yang bermanfaat di akhir. Sedangkan alasan latennya, saya ngerasa kalo lulus tanpa TA (atau SP) itu nggak seru dan nggak keren. Dalam perjalanannya, akhirnya kedua alasan tersebut tidak cukup kuat untuk membuat saya berjuang sekuat tenaga dan mendedikasikan waktu saya untuk mengerjakannya.

Kedua, kesalahan strategi dalam pengambilan mata kuliah. Harusnya, pada saat saya mengambil TA sebagai mata kuliah pilihan, saya telah mendapatkan 144 sks sampai akhir semester ini. Sehingga, apabila TA belum selesai, saya tetap bisa lulus karena telah mendapatkan 144 sks. Untuk kasus ini saya sendiri belum memastikan apakah bisa seperti itu. Namun, seharusnya sih bisa karena TA kan mata kuliah pilihan. Akibatnya paling hanya mata kuliah TA di transkrip tertulis nilai I atau tidak lengkap.

Ketiga, sekali lagi faktor dari diri saya yaitu saya tidak bisa menikmati (walaupun harus) mengerjakan sesuatu (khususnya karya tulis) pada bidang yang saya tidak cintai. Mungkin bagi sebagian orang hal ini hanya excuse saya saja. Namun, memang hal itu yang saya rasakan. Saya sampai saat ini tidak menemukan sesuatu yang menyenangkan dan menarik pada saat saya ngoding ataupun hal lain di bidang ilmu komputer. Biasa saja. Seperti yang selalu dibilang oleh Ilman yang meng-quote omongannya Steve Jobs (eh, pake ’s’ nggak sih??), kira-kira begini, lakukan sesuatu yang engkau yakini hal tersebut merupakan hal yang hebat/besar dan engkau mencintainya/memiliki passion. Nah, yang saya rasakan, hal ini bukan hal besar dan tidak saya cintai. Kurang apa lagi? doh…

Yah, ketiga alasan itu hanya sebagian saja alasan yang mungkin sekali lagi bagi sebagian orang cuma excuse saya saja. Penyesalan pun sudah terlambat karena nggak akan mengubah kenyataan bahwa saya harus bertahan Insya Allah 1 semester lagi di Fasilkom.

Akan tetapi, dibalik kenyataan kurang mengenakkan bahwa saya tidak bisa lulus semester ini, saya juga bisa mengambil beberapa pelajaran dan hikmah yang dapat membantu saya untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang. Mengambil kata-kata dari Bapak Jusuf Kalla dalam debat capres semalam, beliau meng-quote perkataan dari Nelson Mandela, “Forgive but not Forget”. Walaupun hal ini nggak enak, tapi saya harus belajar berdamai dengan keadaan, belajar memaafkan saya yang lalu, namun tidak melupakan hal-hal buruk di masa lalu sebagai pelajaran agar menjadi lebih baik di masa depan.

Pertama, dalam mengerjakan sesuatu itu memang sebaiknya dengan serius, dan memilih sesuatu yang memang kita memiliki passion dan kecintaan kepadanya, sehingga dalam mengerjakannya kita dapat merasakan senang dan terpacu. Dalam salah satu episode Oprah Show, Oprah Winfrey pernah mengatakan sebuah kalimat yang cukup manis, kira-kira isinya “Cari tahu bagaimana agar kita dibayar/mendapatkan uang, untuk melakukan sesuatu yang kita cintai”. Memang paling enak jika kita mengerjakan sesuatu yang kita cintai. Hal ini menjadi suatu pengingatan bagi saya bahwa saya harus segera mengetahui dengan jelas hal apa yang saya cintai dan akan menjadi jalan hidup saya nantinya, karena jelas saya tidak mencintai dunia ilmu komputer (baca: programming).

Kedua, Allah memberikan saya perpanjangan waktu minimal 1 semester untuk tetap menjadi mahasiswa, dan saya yakin hal ini pasti ada tujuannya. Allah punya rencana indah bagi saya. Saya sadari, memang masih ada beberapa hal yang masih tertinggal yang perlu saya selesaikan dengan baik. Semoga dalam masa 1 semester mendatang, masalah-masalah yang masih ada dapat saya selesaikan sehingga pada saatnya nanti ketika saya lulus dari Fasilkom, saya bisa meninggalkan sejarah yang baik. Selain itu, 1 semester ini harus saya lihat sebagai suatu peluang untuk bisa berbuat lebih, karena dari sekarang sampai nantinya perkuliahan semester mendatang dimulai, saya tidak begitu sibuk kuliah, jadi dapat memanfaatkan waktu untuk mengerjakan hal-hal lain yang produktif, misalnya mengurus acara jalan-jalan CSUI05.

Ketiga, ini sebenarnya hikmah laten yang sebenarnya tidak secara langsung berpengaruh terhadap studi saya. Dengan kenyataan bahwa saya harus lulus lebih dari 4 tahun, berarti saya telah gagal untuk mempertahankan beasiswa prestasi Limas yang saya peroleh. Sesuai klausul kontrak beasiswa, apabila penerima beasiswa tidak dapat lulus dalam masa studi 8 semester, maka penerima beasiswa tidak lagi menerima beasiswa dari Limas. Artinya, saya tidak lagi terikat dengan kontrak dan ketentuan yang ada di dalamnya, termasuk kewajiban untuk bekerja selama 2 tahun di bidang ekonomi dan pasar modal setelah lulus. Hal ini bisa berarti keuntungan bagi saya, karena saya bebas untuk menentukan langkah hidup saya setelah lulus nanti, apakah akan meneruskan studi, bekerja di bidang apapun, atau memulai usaha sendiri. Yah, walaupun pastinya ada pengorbanan yang harus saya lakukan, yaitu harus mengeluarkan biaya tambahan untuk BOP 1 semester mendatang. Alhamdulillah, seluruh biaya pendidikan saya telah dapat saya tanggung sendiri tanpa sokongan finansial dari orangtua, sehingga biaya BOP pun saya yang menanggung sendiri dari tabungan saya.

Yang harus saya lakukan mulai sekarang adalah menerima kenyataan ini dan segera merancang rencana hidup yang disesuaikan dengan kondisi ini. Tidak mudah memang, karena rencana awalnya saya ingin lulus 4 tahun dan kemudian langsung bekerja. Perlu penyesuaian dan strategi yang baik agar hidup saya tetap produktif walaupun ‘nanggung’ masih jadi mahasiswa. Rencananya, Insya Allah di semester mendatang saya akan mengambil 4-6 sks untuk menggenapkan 140 sks yang telah saya peroleh sampai semester ini. TA rencananya tidak akan saya lanjutkan (semoga bisa, amin) dan beralih untuk berusaha lulus dengan course-based. 4-6 sks berarti adalah 2 mata kuliah, dan saya berencana mengambil mata kuliah luar Fasilkom. Saya ingin mencoba mata kuliah yang ditawarkan di fakultas lain, sekaligus refreshing. Kemungkinan juga saya akan mengambil mata kuliah pilihan lintas program studi SI, jika tersedia.

Nah, sambil kuliah ‘nanggung’ tersebut, Insya Allah saya akan mencari kerjaan yang memungkinkan saya bisa bekerja sambil kuliah tersebut. Rencananya, 2 mata kuliah tersebut saya usahakan agar berada pada 1 hari yang sama, sehingga hari-hari lain dapat saya fokuskan untuk bekerja. Saya juga berencana untuk merealisasikan mimpi-mimpi saya, seperti menjadi duta anti-rokok dan/atau duta donor darah, membuka usaha sendiri yang sudah saya rancang dengan judul Pondok Betawi Bang Sidik (restoran keluarga), dan mengaktualisasikan diri saya seluas-luasnya, selama masih ‘nanggung’ menjadi mahasiswa.

Insya Allah perpanjangan waktu 1 semester ini bukanlah kiamat bagi saya, namun justru menjadi kesempatan dan peluang bagi saya untuk menjadi lebih baik lagi, amin. Saya mengucapkan selamat bagi teman-teman saya Fasilkom angkatan 2005 yang akan lulus pada semester ini. Selamat berjuang dan semoga sukses pada kehidupan pasca-kampusnya nanti. Doakan saya ya semoga bisa tetap berjuang dan sukses bersama-sama dengan kalian!

Sidik, mahasiswa ‘nanggung’ yang berusaha untuk selalu menjadi lebih baik dari sebelumnya.

NB: Makasih banget buat Franova “Smel” Herdiyanto karena udah mau dengerin gw cerita dan ngasih masukan+encouragement.

Nov 25

Kisah Tembok dan Kayu

Posted by sidicx

Kisah pertama

Ceritanya gw lagi berjalan di sisian tembok…
Awalnya gw melihat ada celah sempit yang bisa gw masuki…
Tapi lama kelamaan celahnya menyempit dan gw terdesak keluar…
Sekarang celahnya sudah tertutup rapat…

Setelah itu gw coba berjalan lagi di sisian tembok…
Hanya berjalan saja. Mungkin akan ada celah yang terbuka lagi…
Tapi sekarang gw udah sadar dan nggak mau jalan di sisian tembok lagi…
Ini saatnya gw kembali ke tengah-tengah keramaian, seperti biasa…

Selesai.

Kisah kedua

Ada seseorang yang terapung di tengah samudera yang luas…
Dia hanya berpegang erat pada sebongkah kayu yang terlihat rapuh…
Kemudian datang sebuah kapal yang berniat untuk menolongnya…
Di kapal itu ceritanya gw yang jadi nahkodanya…

Tapi apa yang terjadi…
Orang itu tidak mau melepaskan pegangannya dari bongkahan kayu tersebut…
Waktu berlalu. Ia tetap berpegang erat, makin erat…
Sang nahkoda sadar mungkin memang orang itu tidak mau ditolong dan pergi…

Selesai.

========

Kisah yang menarik (penting banget dah, hahaha…tapi dari kemaren-kemaren pengen banget gw posting)

Semangat Dik !!!

Nov 24

Romance Is Not My Thing

Posted by sidicx

Beberapa hari yang lalu gw mengikuti personality test yang ada di ipersonic.com. Tes itu memakai sistem yang ditemukan oleh Mbak Carl Gustav Jung. Pemikiran si Mbah Jung tadi kemudian dikembangin lagi. Jadi masing-masing orang katanya akan terbagi ke dalam 16 tipe yang berbeda gitu sesuai dengan Myers-Briggs Type Indicator (MBTI).

Pertama yang diuji adalah Attitudes, Extraversion (E) alias Extrovert atau Introversion (I) alias Introvert. Kedua yang diuji adalah Perceiving functions, Sensing (S) atau Intuition (N). Ketiga yang diuji adalah Judging functions, Thinking (T) atau Feeling (F). Terakhir, yang diuji adalah Lifestyle, Judgment (J) atau Perception (P).

Nah, setelah gw mengikuti tes di situs tersebut, ternyata gw dikategorikan sebagai Dynamic Thinker alias si DT. Hmm, dulu gw juga pernah tes-tes kayak ginian, tapi yang muncul bukan DT atau DI, tapi hasil dari masing-masing tahap yang diujikan. Dan hasilnya tetep sama dari dulu sampe sekarang, yaitu ENTJ alias Extrovert, Intuition, Thinking, dan Judgment.

Menurut si ipersonic.com itu, Dynamic Thinker tuh orangnya kayak gini nih…

==========

Dynamic Thinkers are confident and independent persons. They radiate enthusiasm and energy. Dynamic Thinkers pursue their objectives actively and energetically. They love nothing better than new challenges. This type is the born leader, competent, energetic and responsible. They have a sharp eye for errors and can criticise without mercy if they see the success of a project endangered. They are completely unconcerned as to whether they alienate anyone in the process. But they are always open to objective arguments; they love discussions, they are very gifted rhetorically and they are good at convincing and enthusing others.

As they are very sociable, Dynamic Thinkers like to have a lot of friends around them, preferably those with whom they can share their interests and discuss all sorts of subjects. They are very direct but never in an underhand or scheming manner. If you can bear being spoken to frankly, you have in them a loyal and unwavering advisor as friend. Everything new and unknown stimulates Dynamic Thinkers and awakens their curiosity. However, rules, routine and traditional things arouse their resistance. If something does not go the way they want it to, they can react rather pigheadedly and obstinately.

Dynamic Thinkers expect a great deal of themselves and of others. Whoever does not fit in with their scheme of things does not have it easy. They sometimes appear to be rather severe due to their frankness. Partners and family also find it difficult to satisfy Dynamic Thinkers. They know exactly what they want and compromising is inconceivable to them. Whoever has an Dynamic Thinker as partner should have a strong personality and have a great deal of independence and sufficient self-confidence in order to give this dominating type some opposition. Normally, for Dynamic Thinkers, a partnership only takes second place after their profession. But they like to have someone at their side who is a match for them intellectually, with whom they can pursue mutual objectives and have interesting discussions all night long; preferably factual discussions – sentimentalism and romance are not their thing.

Adjectives which describe your type

extroverted, theoretical, logical, planning, rational, self-confident, ambitious, direct, open, severe, organised, determined, witty, independent, purposeful, dynamic, energetic, optimistic, competent, responsible, clever, intellectual, enthusiastic, demanding, structured, controlled, aggressive

These subjects could interest you

literature, sport (golf, tennis, running), travel, career, strategy games, politics

(Diambil dari http://www.ipersonic.com/type/DT.html)

===========

Ternyata memang sesuai banget dengan kepribadian gw. Bahkan semua kata sifat yang mendeskripsikan sang Dynamic Thinker juga mendeskripsikan diri gw, hehe…

Yang menarik bagi gw adalah kalimat penutup dari paragraf panjang yang menjelaskan mengenai sang Dynamic Thinker. Kalimat itu adalah “Sentimentalism and romance are not their thing”. Pertama baca kalimat itu gw langsung ketawa ngakak, hahahaha…

Kenapa bisa seperti itu ya?? Haha…mungkin karena si DT ini orangnya ambitius, bebas, dan dinamis kali ya sampe-sampe nggak mikirin masalah cinta romance ya?? Atau karena terlalu sibuk dengan segala macam “kesempurnaan dunianya” akhirnya selalu gagal dalam masalah cinta romance itu?? Haha…gw cuma bisa ketawa aja…

Saking menariknya tuh kalimat, sampe-sampe gw jadiin quote gw mulai hari ini hingga waktu yang tidak ditentukan, “ROMANCE IS NOT MY THING”.

Nov 19

8 yang sekali seumur hidup

Posted by ginanjarck

Dalam hidup ini pasti ada peristiwa yang hanya pernah terjadi satu kali dalam hidup kita. Entah peristiwa apa pun itu. Nah, di sini saya coba list 8 hal/pengalaman yang hanya pernah saya alami sekali seumur hidup, setidaknya sampai tulisan ini muncul.

  1. Menyembelih ayam. Mungkin sudah ada yang pernah, atau bahkan sudah biasa. Tapi pasti ada juga yang belum pernah. Alhamdulillah, saya berkesempatan punya pengalaman yang satu ini. Ceritanya waktu kelas 2 SMU, pengurus Bidang IMTAQ Ormasic (Organisasi Asrama IC) mengadakan kegiatan pelatihan menyembelih ayam. Tujuannya supaya para siswa tau tata cara menyembelih yang benar dan tidak hanya sekedar teori saja, melainkan langsung prakteknya. Karena siswanya banyak, ga mungkin setiap anak pegang ayam. Akhirnya 1 kamar pegang 1 ayam (1 kamar = 4 jiwa). Dari kamar saya, sayalah eksekutornya..hehe. Dari pengamatan saya, ada teman yg menyembelihnya sampai putus lehernya, ada yang sempat terangkat pisaunya, dll. Alhamdulillah, cara saya memotong dinilai benar dan bagus oleh Guru Pembimbing (Ustadz Abdul Jalil). Sepertinya skill yg satu ini perlu juga dimiliki. Apalagi yang laki-laki. Bayangin kalo punya istri, terus istrinya ngidam ingin makan ayam, tapi cuma mau makan kalau suaminya yang motong itu ayam, terus suaminya ga bisa/berani motong, gimana hayo??? Untuk pengalaman yang ini, boleh lah diulang lagi kapan-kapan.
  2. Pegang senapan + menembak. Ini terjadi di masa SMP , kalo ga salah kelas 2 atau 3. Di SMP saya ada satu pelajaran yang namanya Kepanduan. Di situ kita belajar banyak tentang hal-hal yang berhubungan dengan alam, pramuka, ketangkasan, ya kepanduanlah. Contohnya seperti belajar tali temali, bikin tandu, flying fox, berenang, perang-perangan pake tanah, jalan-jalan ke hutan, melintasi sungai, dll. Pokoknya ini menjadi pelajaran favorit saat itu. Nah, salah satu materinya adalah menembak. Senapan yang dipake adalah senapan angin laras panjang, yang harus dikokang dulu beberapa kali. Untuk kokangnya aja udah jadi olah raga tersendiri, padahal belum menembaknya. Waktu itu sasaran tembak kita adalah buah melinjo yg bertengger di pohon. Giliran saya tiba, saya bidik itu melinjo dan segera menarik pelatuk…tessss…tembakan saya tepat mengenai angin yang berhembus. Sama seperti pengalaman no 1, skill ini rasanya bagus juga kita miliki. Untuk pengalaman yang ini, ingin saya mengulangnya kalau ada kesempatan.
  3. Makan lobster. Lobster sepertinya masih satu keluarga besar dengan udang. Hanya saja yang ini adalah udang raksasa. Pertama kali sekaligus yang terakhir kali saya makan lobster adalah waktu jaman SD. Pulang dari rekreasi ke Anyer, orang tua beli lobster lumayan banyak. Setelah diolah di rumah saya coba makan lobster itu. Hasilnya? Hampir seluruh bagian mulut saya mulai dari bibir, lidah, gusi, langit-langit mulut gatal semua. Bener-bener deh. Untuk pengalaman yang satu ini, kayaknya cukup sekali saja. Ga lagi-lagi makan lobster.
  4. Ultah berhadiah lumpur. Saya jarang dapet hadiah pas ulang tahun, apalagi hadiah yang macam satu ini. Saat itu ultah ke-16 kalo ga salah, kelas 2 SMU. Kita seangkatan sedang melakukan LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan), khusus buat siswa kelas 2 di Cibodas. Setelah melakukan kegiatan kotor-kotoran, hujan turun amat deras. Tanpa saya tau, ternyata teman-teman telah merencanakan kejutan khusus buat saya dan 2 orang teman saya yg juga ultah deketan tanggalnya. Di tengah siraman air hujan yg deras, kita membuat lingkaran besar dengan kami bertiga berada di tengah. Beberapa teman kemudian menyiapkan lumpur dalam ember, dan dengan brutal menyiraminya ke kami bertiga. Sambil bersalaman, berpelukan. Wah…pokoknya seru banget saat itu. Untuk pengalaman yang ini, hmmm…mau ga ya diulang?
  5. Donor darah. Saya paling takut sama jarum suntik. Rasanya serem aja tubuh kita ditusuk sama benda seperti itu. Dulu waktu kecil pernah saya meronta-ronta kayak orang kesurupan ketika mau disuntik imunisasi. Tapi untuk donor darah kali ini, saya coba memberanikan diri. Apalagi saya termasuk salah satu panitia penyelenggaranya, masa ga ikutan donor…hehe. Akhirnya donorlah saya. Dan ternyata ga apa-apa. Ga terasa sakit, biasa aja deh pokoknya. Ketakutan saya tidak berasalan. Untuk pengalaman yang satu ini, saya mau mengulangnya lagi.
  6. Dikhitan. Khitan adalah salah satu sunah Rasulullah SAW yang sangat dianjurkan untuk dilakukan. Khitan disinyalir dapat mengurangi infeksi atau radang saluran kencing. Untuk pengalaman yang ini, sangat jelas sepertinya. Cukup sekali saja seumur hidup. Tak mau lah diulang-ulang lagi.
  7. Mampir ke negeri seberang. Tepatnya ke negeri Paman Sam. Umur saya masih 7 bulan saat itu, kata orang tua. Ayah saya melanjutkan studi S2 di sana. Karena akan makan waktu lama, maka keluarga pun diboyonglah ke sana. Alhamdulillah, sempat merasakan sekolah TK di sana. Sempat merasakan berinteraksi dengan orang-orang sana. Mungkin karena saat itu masih cilik, saya bahkan tidak begitu sadar kalo saya ini orang Indonesia. Waktu mau pulang kampung pun masih bertanya apakah akan kembali ke sana lagi. Untuk pengalaman yang satu ini, jelas saya ingin mengulanginya lagi. Kalo perlu ke beberapa negara, menambah wawasan pengetahuan saya tentang budaya negeri-negeri seberang.
  8. Hidup ini.Yup, hidup di dunia ini hanya sekali saja seumur hidup. Ketika nafas sudah tak berhembus, jantung sudah berhenti berdetak, darah sudah enggan mengalir, saat itulah hidup di dunia ini berakhir. Dan itu adalah pasti.  Ketika telah datang ajal itu, maka sedikit pun tak dapat dimundurkan atau pun dimajukan. Pertanyaannya, sudah siapkah kita ketika saat itu tiba?
Nov 19

Ironis…

Posted by sidicx

~buset dah, udah lama gw nggak posting di blog…~

Assalamualaikum…

Judulnya agak-agak berbau sinetron gitu sih, wakakaka…

Ada beberapa hal yang gw targetkan (kebiasaan) dan ternyata justru apa yang terjadi malah 180 derajat terbalik…makanya gw bilang ironis, hehe…

Memang Allah udah menggariskan apa yang akan terjadi dalam hidup gw. So, belum tentu apa yang kita inginkan bakal sesuai dengan yang terjadi. Untuk kasus gw malah 180 derajat berlawanan, hehe…

Gw pengen mengurangi kebiasaan memprediksi suatu hal…karena justru bakal mengecewakan kalo yang terjadi malah sebaliknya. Mending berusaha ngasih yang terbaik deh yang gw bisa…cape klo memprediksi, terus berusaha banget supaya prediksi itu terjadi. Padahal kan ada takdir Allah yang udah mutlak…

Hmmm, kayaknya ini momen yang tepat buat gw untuk kembali menyusun bunga seroja satu per satu bagian dari mimpi gw. Yakin aja, sama diri sendiri, sama kemampuan diri, sama keluarga dan sahabat yang selalu ngasih semangat dan dukungan, sama Allah yang pasti tau yang terbaik bagi kita. Insya Allah, bisa…

Ayo Berjuang Dik, Semangat !!!

Nov 5

Kalo kita melintasi jalanan tol, biasanya kita akan menemukan papan-papan peringatan tentang safety riding. Mulai dari bahaya ban bocor, jaga jarak antara kendaraan, maximum speed, larangan menyalip dari sebelah kiri atau pun bahu jalan, sampai peringatan tentang mengantuk sebagai sumber kecelakaan. Nah, poin terakhir ini membuat saya teringat kejadian beberapa waktu silam.

Ceritanya saya dan Ibu (kalo ga salah sama adek juga, lupa hehe) pergi ke Cimahi dari Depok dengan kendaraan pribadi. Saya yang pegang setir.  Berhubung sudah ada sarana Tol Cipularang, mobil pun di arahkan ke sana. Hmm..sebetulnya saya agak kurang suka melewati Tol Cipularang, terutama saat malam hari. Karena saat-saat seperti itu Tol Cipularang suka mengeluarkan sihirnya, yaitu sihir kantuk. Hehe. Bayangin aja: malam hari jalanan sepi, kita mengendarai mobil dengan kecepatan cukup tinggi, tidak ada variasi jalan alias lurus tok (ya..belok-belok dikit lah), variasi kecepatan mobil pun relatif minim, minimnya variasi jalan dan kecepatan bikin posisi duduk, tangan, dan mata monoton. Tidak jarang hal ini membuat pengemudi mengantuk, salah satunya saya. Beda cerita kalo kita melewati jalanan Puncak yang penuh tantangan, berliku-liku, dan butuh konsentrasi tingkat tinggi, ditambah adanya ancaman dari depan. Kalo sudah lewat Puncak jarang sekali saya mengantuk, sebaliknya justru menikmati perjalanan. Apalagi pemandangannya indah dan udaranya sejuk. Agenda rutin kalo lewat Puncak biasanya mampir ke warung-warung pinggir jalan. Makan jagung bakar asin, mie rebus pake telor, telur asin, plus susu coklat panas. Wah…uenak tenan! Kadang-kadang mampir juga ke masjid At Ta’awun. Alah kok jadi ngalor ngidul gini, oke kembali ke cerita.

Perjalanan waktu itu siang hari. Jadi saya tidak (begitu) mengantuk. Seperti perjalanan yang sering saya lakukan sebelumnya, perjalanan kali ini pun sepertinya biasa saja alias lancar-lancar saja. Sampai ketika memasuki kilometer 35 (kalo ga salah ini daerah Karawang), saya mau menyusul truk di depan. Saya ambil jalur kanan. Perlahan saya mulai mau menyusul truk di depan, yang sekarang berarti posisi truknya ada di jalur kiri. Baru saja mau nyusul tiba-tiba truk yag mau saya susul itu bergerak perlahan pindah jalur ke kanan seolah mau menyusul truk lain yang ada di depannya. Agak kaget juga saya, soalnya jarak saya sama truk itu sudah cukup dekat. Kalo dalam dunia persilatan eh per-transportasian, mestinya dia tahu saya mau menyusul dan memberikan kesempatan buat saya nyusul dia. Tapi saya pikir ya sudahlah, biarin aja dia nyusul duluan.

Eh…eh..tapi aneh. Kok truk itu setelah pindah dari jalur kiri ke kanan, bukannya nyusul malah terus bergerak ke kanan. Keluar dari jalur jalan tol, berpindah ke pembatas jalan tol yang isinya rumput-rumput dan pohon-pohon kecil itu. Menerjang lampu pembatas (itu tuh…bukan lampu sih, tapi seperti lampu yang kalo disorot cahaya dia menyala. Seperti di sepeda), bahkan yang bikin saya tegang truk itu hampir aja pindah ke jalur yang sebelah sana (sebelah sana mana??). Jalur yang arah berlawanan, yang dari arah Bandung (saya kan dari arah Jakarta). Yang bikin tegang lagi, ketika truk itu hampir pindah jalur, saat yang bersamaan melintas dari arah Bandung jalur kanan sebuah truk besar (lebih besar dari truk yang nyasar itu) dan hampir saja terjadi tabrakan .

Saya yang berada persis di belakangnya cuma bisa klaksonin aja. Kalo-kalo dia ketiduran biar bangun gitu maksudnya. Saya bisa sedikit melihat ke arah sopir truk itu yang sibuk mengendalikan dirinya eh truknya. Tapi Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah si Pengemudi truk nampaknya bisa mengendalikan truknya sehingga terhindar dari kecelakaan. Yang terlihat di spion kanan saya, truk itu berhasil berhenti di tengah-tengah antara jalur dari arah Jakarta dan arah Bandung.

Cerita lain di waktu yang lain, kali ini perjalanan di malam hari (tepatnya tengah malam). Tujuan masih sama, ke Cimahi dari Depok. Jalan yang dipakai masih sama, yaitu Tol Cipularang. Yang pegang setir pun masih sama, yaitu saya. Sebetulnya dari awal perjalanan saya sudah agak mengantuk. Soalnya sebelum berangkat tak sempet tidur dulu. Dalam perjalanan di jalan Tol, tidak jarang saya harus memaksa mata untuk tetap terbuka. Caranya dengan sesekali membelalak, melotot, mengedepankan badan ke setir, senam tangan dan kepala, bahkan senam kaki. Tapi memasuki kilometer berapa gitu, ga merhatiin, saya tiba-tiba sempat tertidur beberapa detik (ga sampe 5 detik sih). Kalo orang sunda nyebutnya ‘ngalenyap’. Tapi ‘ngalenyap’ yang hanya sebentar itu sudah cukup membuat mobil saya pindah jalur tanpa saya sadari, dari jalur kanan ke kiri. Alhamdulillah saya masih sempet sadar lagi. Akhirnya saya memutuskan beristirahat di rest area terdekat.

Dari cerita di atas, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sebelum atau saat bepergian jauh supaya ga mengantuk:

  1. Sebelum berangkat usahakan tidur dulu minimal sekitar 30-60 menit. Lebih lama lebih bagus. Tapi jangan kelamaan juga, ntar ga jadi berangkat. Kalo bisa tidurnya yang pulas dan nyenyak supaya pas bangun badan fresh kembali. Tapi ini khusus buat Pak Supir aja, kalo penumpang mah mau ngantuk berat juga ga masalah. Tinggal tidur aja di mobil. Lha kalo supir???
  2. Setelah bangun tidur, enaknya kita ngemil dulu sedikit. Makan roti, kue, ditambah susu coklat atau susu kopi atau apapun yang hangat-hangat kayaknya asyik juga nih. Apalagi kalo yang bikinin ‘orang lain’, tambah nikmat deh. Kita cuma tinggal menikmati.
  3. Jangan lupa siapkan perbekalan cemilan selama perjalanan, kue-kue dan minuman. Kalo mau bawa nasi juga boleh, minta suapin deh. Suapin sama siapa hayo??? Ini lumayan ampuh untuk mengusir kantuk pas lagi nyetir. Biarkan mulut kita bergerak, bersenam mengikuti irama kue yang dimakan. Halah!
  4. Sebelum berangkat, jangan lupa baca doa dulu. Manusia hanya bisa berusaha, Allah jua yang berkehendak. Doanya apa hayo???
  5. Hmm..biasanya kalo nyetir malam suasana mobil tak ubahnya rumah ditinggal penghuni. Sepiiii banget soalnya si supir ditinggal tidur sama para penumpang. Mau coba nyalain radio atau tape, eh disuruh matiin sama penumpang. Katanya berisik, mengganggu orang tidur aja. Lha, nasib kita (kita???)  gimana dong? Ya udah, bawa aja MP3 player, walkman, discman, atau yang sejenisnya yang bisa mengeluarkan bunyi. Pake deh earphone atau headset di telinga. Setel deh murotal atau nasyid pilihan. Kalo ada yang punya selera lain ya silakan aja. Tapi hati-hati, volume suaranya jangan terlalu keras. Salah-salah kita malah ga bisa denger kondisi di luar.
  6. Nah, yang ini bisa dipraktekan kalo udah terlanjur mulai mengantuk saat nyetir. Kita bisa senam. Senam mata, kepala, tangan, kaki, bahu, dan jangan lupa senam mulut (makan cemilan maksudnya).
  7. Kalo ternyata ngantuknya ga mau pergi juga, ya sudah apa mau dikata. Carilah tempat peristirahatan terdekat. Jangan dipaksakan menyetir, terlalu berbahaya. Ingat, masih ada sanak saudara dan keluarga yang menunggu di rumah. Kalo bisa tempat istirahatnya yang bagus fasilitasnya supaya nyaman. Kalo mau ke Bandung via Tol Cipularang bisa dicoba Rest Area km 57 (promosi nih…hehe). Konon katanya ini adalah yang terbaik se Indonesia.

Terakhir, nikmatilah setiap perjalanan kita dan semoga selamat sampai tujuan.

Oct 8

Kalau pada bagian sebelumnya saya sudah menjelaskan latar belakang dan cerita seputar prosesnya, nah sekarang langsung ke smsnya. Saya akan mengeksplorasi sms-sms tersebut, mulai dari kesamaan, kemiripan, tipe-tipe, sampai gaya bahasa. Hmmmm, kebiasaan suka menganalisis saya sedang ingin dipenuhi nih…

- Tahun ini yang adalah tahunnya mengirim sms lebaran atas nama paket. Maksudnya, si orang yang ngirim sms tidak hanya atas nama pribadi tapi juga mengatasnamakan orang lain. Bingung?? Begini loh maksudnya.
> Atas nama pribadi dan keluarga. Yang ini sih biasa, dari tahun lalu juga banyak yang kayak gini. Namun, tahun ini semakin banyak orang yang mengirim sms atas nama keluarga. Kalo saya pribadi sih nggak atas nama keluarga karena kebanyakan yang saya kirimin sms yang berinteraksinya hanya dengan saya saja, tidak dengan ortu atau kakak-kakak saya,
> Atas nama dirinya dan pacarnya. Tahun ini ada beberapa orang yang mengatasnamakan dirinya dan pacarnya. Diulang: pacarnya, bukan istri atau suaminya. Saya sih kurang sreg sama yang seperti ini. Tapi untuk yang atas nama dirinya dan pasangan resminya sih oke-oke saja.
> Atas nama pribadi dan “keluarga”. Haha, yang ini sih becanda saja, tapi menurut saya sih lucu. Ada 2 orang teman saya yang sangat kreatif dalam menyusun kata. Pertama, Idjoel dengan kata-kata “belum berkeluarga. Mohon doanya”. Asli dah, pas baca saya ngakak. Jul..Jul..jadi lo sekalian minta didoain biar cepet berkeluarga yaa, haha…Kedua, Lutfi dengan kata-kata “Lutfi dan keluarga, kecuali istri dan anak”. Pas baca ini saya juga ngakak, sampe dijelasin kayak gitu, haha…

- Ternyata, anak Fasilkom nggak jauh-jauh dari codingan. Buktinya, pas bikin sms lebaran aja pake di-coding segala. Tahun ini jumlah orang yang ngoding sms lebaran makin banyak dengan bahasa pemrograman yang lebih beragam. Ada java, html, dan kawan-kawannya yang lain. Susah deh emang anak ilmu komputer, hehe…

- Ternyata juga, ada operator seluler yang pengiriman smsnya selalu telat sampai sewaktu masa-masa orang ngirim sms lebaran. Hayo tebak operator apa?? Yap, jawabannya adalah Telkomsel. Buset dah, telatnya parah. Mulai dari hitungan menit sampai lebih dari 6 jam. Semua teman-teman dengan nomor yang depannya 0811, 0812, 0813, dan 0852 semua sms lebarannya sampai dengan terlambat di inbox hape saya. Operator lain?? Sepertinya tidak ada masalah, kecuali teman-teman saya dengan nomor XL sangat sedikit yang membalas sms lebaran saya, hehe…

- Yang lucu dan nggak sengaja saya sadari, ada 2 sms dari 2 orang teman saya yang berbeda, ternyata isinya sama persis! Dari awal sampai akhir bedanya cuma nama pengirim di akhir sms. Hehe, kok bisa seperti itu yaa?? Wah, saya mencium indikasi plagiarisme pada sms lebaran, haha…

- SMS lebaran yang paling berkesan dan paling saya senang saat menerimanya adalah dari Bu Kasiyah M Junus dan dari Kak Pandu. Balasan sms Bu Kasiyah memang tertuju bagi saya pribadi, jadi benar-benar ter-personalisasi (istilah yang cukup aneh). Kalo sms lebaran dari Kak Pandu sangat nggak saya duga. Dari mana beliau dapat no hape saya?? Wallahu ‘Alam. Anyway, syukron kak atas sms lebarannya.

- Ada beberapa orang yang saya harapkan akan membalas sms lebaran saya, namun nyatanya tidak ada balasan. Sedikit kecewa sih jujur, tapi nggak lama langsung hilang. Mencoba untuk ber-husnudzon kepada teman kita itu aja. Ada yang nggak balas, tapi setelah itu kita malah smsan biasa aja, hehe…

- Gara-gara di hape baru ada beberapa nomor yang belum ter-update, jadi ada beberapa sms yang saya kirim ke nomor yang lama. Bahkan ada orang-orang yang ingin saya kirimi tapi batal karena ternyata nomornya belum masuk ke hape yang ini.

Seperti apapun isi dan bentuk dari sms lebaran, yang paling penting adalah niat dan keinginan dari si pengirim untuk bisa meminta maaf dan saling mendoakan. Percuma sms sudah terkirim kalau misalnya di hati masih ada yang mengganjal. Yang lebih penting, sms tidak bisa menggantikan tatap muka dan minta maaf secara langsung menurut saya lebih afdhol.

~Lebaran jadi lebih berwarna dengan adanya sms lebaran~

Oct 8

~Maaf telat karena www.sidicx.com sempat down dari tanggal 4-7 karena habis masa hostingannya~

Mari dimulai dengan “www.sidicx.com mengucapkan selamat idul fithri, taqabalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin.”

Lebaran tahun ini, seperti lebaran tahun lalu, juga dihiasi dengan sms ucapan lebaran yang beragam dan cukup menarik untuk diceritakan. Begini ceritanya

Alhamdulillah tahun ini saya menggunakan strategi pengiriman sms lebaran yang agak berbeda dengan tahun lalu. Sedikit flashback, pada lebaran tahun lalu saya membeli voucher IM3 200 sms biar modal pengiriman jadi lebih ringan. Tahun ini saya juga memesan voucher itu khusus kepada Furqon. Namun, ada bedanya. Tahun lalu sms hanya bisa dipake untuk sesama Indosat, sedangkan sekarang bisa dipake untuk ke semua operator.

Hal tersebut cukup berpengaruh dalam proses pengiriman sms lebaran. Kalau tahun lalu saya masih mikir-mikir ketika akan mengirimkan sms ke teman atau kenalan yang nomornya bukan Indosat, tahun ini hal tersebut tidak terjadi lagi. Saya ingat banget, tahun lalu tuh saya membatasi mengirim ke nomor selain Indosat karena pulsa sedang langka. Alhamdulillah tahun ini tidak terjadi lagi. Sewaktu mengirimkan sms kemarin dan hari ini, saya hampir tidak memikirkan pulsa untuk pengiriman lagi.

Imbasnya adalah pada banyaknya sms lebaran yang saya kirimkan. Jumlahnya bertambah cukup signifikan dibandingkan dengan tahun lalu. Alhamdulillah tahun ini saya mengirimkan 145 buah sms ke teman, kerabat, serta kenalan saya. Sewaktu mengirimkan niat saya hanya ingin meminta maaf atas kesalahan saya serta mengucapkan selamat Idul Fithri. Dari 145 sms tadi, ada 75 sms balasan. Oia, selain saya mengirimkan sms lebaran ke teman-teman saya, ada 29 sms lebaran yang masuk terlebih dulu ke inbox hape saya. Jadi kalo ditotal saya menerima 104 sms lebaran dan mengirimkan 171 sms lebaran.

Berbeda juga dengan tahun lalu, lebaran sekarang saya lebih memilih untuk mengirimkan sms lebaran lebih dahulu dibandingkan menunggu ada yang mengirim ke saya kemudian saya balas. Alasannya simpel saja, karena saya merasa bahwa memang saya memiliki salah dan ingin meminta maaf sesegera mungkin. Jadi buat apa menunggu dulu. Masalah nantinya sms lebaran saya itu dibalas atau tidak, bagi saya tidak terlalu masalah karena tujuan utama meminta maaf sudah tercapai.

Yang berbeda juga, tahun ini saya menyiapkan 2 buah template sms. 1 sms bila saya mengirimkan sms lebaran dan 1 sms untuk membalas sms lebaran yang masuk ke inbox hape. Hal ini saya pelajari dari pengalaman tahun lalu saat ada seorang teman saya curhat di blognya kalau dia kecewa ada yang membalas sms lebarannya hanya dengan sms template. So, tahun ini saya ingin lebih menyempurnakan agar lebih ada personalisasi bagi tiap orang.

Setiap Ramadhan harapan saya adalah bisa semakin baik dan semakin baik lagi. Yang saya rasakan proses pengiriman sms lebaran tahun ini sudah lebih baik dari tahun lalu. Alhamdulillah berarti tercapai harapan saya, setidaknya untuk satu aspek ini.

(berlanjut ke sms part 2)

Sep 15

~Akhir-akhir ini banyak orang yang nge-sms gw…Gw nggak kenal dan katanya tau nomor gw dari internet~

Semalem ada orang nge-sms gw…dia minta tolong bikinin puisi buat orang yang dia sayang yang besok akan ultah…Yang unik, orang ini langsung cerita aja masalahnya dia kayak orang curhat, padahal baru juga kenal lewat hape…ya udah berhubung gw orangnya baik (halah…), ya gw bikinin…

Mungkin banyak yang ngeliat gw suka bikin puisi dari postingan-postingan gw di blog ini kali ya. Tapi emang bener gw suka sih…Tapi nggak semua jenis puisi gw bisa dapet inspirasi dengan gampang…contohnya pas dimintain tolong sama Meri atau Agung buat bikin puisi yang bersemangat dan bakal ditempel di Ruang BEM Fasilkom, sampai sekarang blom jadi-jadi juga. Atau pas diminta Chandra bikin puisi haroki yang akan dibacain pas tampil nasyid di Ifthor Jama’i Fasilkom besok, sampai sekarang nggak jadi-jadi tuh…

Tapi…giliran diminta bikin puisi romantis alias cinta-cintaan, beeeh…lancar banget. Hehe, mungkin memang jadi genre tersendiri kali ya…gara-gara kebanyakan gaul sama pujangga macam si Duo Indra itu, haha…

Langsung deh ke puisinya, awal bikin gw nggak mikir judulnya apa. Setelah selesai baru deh kepikiran judulnya apa…Sedikit cerita lagi, sebenarnya gw nggak terlalu suka sih sama bahasa yang ada di puisi ini. Kenapa begitu?? Karena agak lebai alias berlebihan aja…Secinta-cintanya manusia kepada manusia, kan nggak boleh cintanya lebih dari cinta kepada Allah. Namun, berhubung tuh orang mintanya puisi yang daleeem bangeeett, ya udah jadi deh…

Ok, silahkan dinikmati…

Satu

Seiring bergulirnya waktu
Ku ingin selalu bersamamu
Habiskan hari memandangmu
Nikmati hangatnya tawamu

Kini, kau bertambah usia
Bertambah dewasa dalam menatap dunia
Namun ku tetap ada di sisimu
Menggenggammu erat, dalam dekapan hatiku

Sayangku, bukalah kedua matamu
Pandanglah ruang di hatiku
Ada aku, lirih membisikkan namamu

Sayangku, kuberikan nafasku untukmu
Resapi maknanya, aku ada untukmu
Mengalir tulus dalam tiap detik hidupmu

Jangan kau pergi dariku
Kembalilah pada hatiku
Karena aku dan kamu
Satu…

~Komen boleh kok, hehe…~

Aug 22

dokumentasi

Posted by heningsept


dalam sebuah organisasi, penting banget tuh ya yg namanya dokumentasi kegiatan. Dari mulai notulensi rapat2, laporan pertanggungjawaban kegiatan, data2, dan lain sebagainya.

Gw ngalamin neeehhhh.. lack of documentation dan gw telat nanya2 ke penyelenggara kegiatan tahun2 sebelumnya. Apa yang terjadi? Bisa2 ngulangin kesalahan yang terjadi tahun sebelumnya dan melakukan hal yang gak perlu dilakukan. Semua itu karena gak tau evaluasi dan kondisi pelaksanaan taun kemaren kayak gimana. Gak belajar dari pengalaman.

Ah, dudul. Gimana seh… Iya, gw yg dudul.

Gw pengen nyari bentuk KNOWLEDGE MANAGEMENT yang tepat buat diterapin di organisasi kemahasiswaan.

Aug 16

Kebanyakan anak-anak SD gw SMPnya masuk ke SMP 10 sama SMP 228. Kalo gw masuknya ke SMP 10 alias Chap-Toen. Gile nih sekolah. Isinya banyak preman-preman, haha…Kerjaannya tawuran mulu, tapi menang terus, hehe…Mulailah gw dikenalkan dengan hal-hal baru. Dulu pernah ditawarin rokok, maklum anak SMP kan pada penasaran gitu. Tapi gw langsung nolak mentah-mentah. Uh, Alhamdulillah dari kecil gw udah anti sama yang namanya ROKOK !!

Selain itu, gw juga mulai rajin maen bola, ya di lapangan sekolah ataupun sepulang sekolah ke lapangan Pirus. Di situ mulai deh dibuka pertandingan bola antar kelas. Dari mulai kelas 1 sampai kelas 3 gw rajin ikutan kalo ada pertandingan antar kelas. Dan satu hal, pertandingan kayak gitu nggak seru kalo nggak ada yang namanya taruhan (Astaghfirullah). So, 3 taon maen bola pasti adalah taruhannya. Yang paling gampang ya yang kalah beliin minum yang menang. Di SMP gw juga mulai dikenalin sama Nge-Band. Mulai dari kelas 1 SMP semenjak gw kenal dan sahabatan sama Indra (yang sampai sekarang masih jadi sahabat terbaik gw), gw udah mulai ngeband. Yah, namanya juga anak kelas 1 smp, duitnya masih cekak. Gw dulu pernah nyobain studio band yang sewa per jam nya cuma 8000 perak !!! Waduh, itu studio udah sempit, drum nya juga suaranya kayak jerigen minyak dipukul, hahaha…

Di SMP 10, gw masuk tahun 1999 dan alhamdulillah lulus tahun 2002. Berarti gw angkatan 2002. Satu angkatan ada 9 kelas dengan 1 kelasnya sekitar 40 orang. Total ada sekitar 360 orang. Pas kelas 1 gw masuk ke kelas 1-3. Di kelas 2 gw masuk kelas 2-9. Di kelas 3 gw masuk kelas 3-2. Dulu pas lulus dari SMP, gw hapal lebih dari setengah angkatan gw. Sekarang mah udah lupa, udah lama.

Di kelas 1-3, temen-temen yang masih gw inget ada Sahabat karib gw Indra, trus ada si Diki yang agak-agak kemayu, ada si Gilang yang seinget gw dia pernah mabok pas lagi takbiran, ada si Baihaqi yang pendiem tapi berani banget. Ada si Fadil yang isengnya berlebihan. Ada si Johan pasangannya si Fadil. Udah segitu aja yang gw inget. Yang pasti, gw nemu sahabat terbaik gw di kelas ini. Dan kita selama 1 tahun duduk satu meja. Wali kelas gw pas itu namanya Ibu Juwariyah guru Agama Islam. Nah, dimulai deh rekor gw yang selalu punya wali kelas ibu-ibu, hehe…

Di kelas 2-9, lebih banyak yang gw inget karena kelas ini lebih asik dan lebih oke. Di kelas ini gw mulai bersahabat dekat dengan temennya si Indra, si Indra, hehe…pasti bingung. Sahabat gw yang pertama namanya Indra Adi Putra. Nah, yang gw baru kenal deket di kelas 2-9 itu Indra Aji Saputra. Gw duduk satu meja sama si Indra ini (sebut Aji aja). Selain sama Aji, di kelas 2-9 ada juga Sri Wahyuni yang pinter dan suaranya bagus, dulu sering nyanyi bareng sama gw. Ada Melly yang cantik banget dah, dulu aja sempet jadi SPG. Hahaha…ternyata nggak banyak denk…udah lupa juga…yang pasti gw inget sih 3 orang itu, soalnya gw duduk semeja sama Aji di meja nomor 2 dari depan. Nah, si Dhani sama Melly di depan kita. Oooh, masih ada denk. Ada Moya yang kembarannya si Maya. Ada si Adit Mr. Bean yang emang mukanya kayak mister Bean. Trus ada Big Boss, Banu Dewantoro, haha…Gile nih orang, kaya buanget. Dulu pernah gw maen ke rumahnya yang kayak istana di Sunter Agung. Wuuihhh…buat manggil dia yang lagi di kamar aja pake interkom, nunggunya aja 15 menit sendiri. Dari SMP kelas 1 udah bisa nyetir mobil, ikutan rally segala. Gile dah. Kalo di kelas 2-9 wali kelas gw itu Almarhumah Ibu Afrida. Beliau dulu ngajar Bahasa Indonesia.

Lanjut ke kelas 3-2, di sini seru juga nih. Gw duduk semeja sama anak baru pindahan dari Sukabumi. Namanya Syarief Ahmad Rangga Kusuma Dewa-Dewi, haha…Nggak denk, nggak pake dewa-dewi segala. Oke nih orang, awalnya pendiem banget, ehhh…nyatanya gila juga. Gara-gara nih orang gw jadi demen sama Green Day. Gimana nggak, setiap maen ke rumah, pasti muterin lagu Green Day. Akhirnya si Rangga ini jadi sobat karib gw juga. Nah, ini dia awal dimulainya petualangan panjang grup band Fusion. Udah lengkap. 4 orang keren membentuk band keren. Gw jadi vocalist, Indra jadi drummer, Aji jadi guitarist, dan Rangga jadi bassist. Hehe, asik dah, temen-temen satu meja gw jadi sahabat gw dan se-band sama gw.

Selain si Rangga, di 3-2 banyak orang-orang oke juga. Ada si Fika yang pinter juga, walaupun nasibnya jadi rangking 3 terus (di bawah gw donk pastinya dan di bawah si Rangga). Ada Agis yang cantik dan oke. Ada Nining yang baik dan sering ngobrol sama gw. Ada si Ika yang cuma sebentar doank ada di kelas karena pindah ke Kalimantan. Ada Abdul yang pinter, saingannya si Fika buat dapetin rangking 3. Ada Agus temennya si Abdul, nempel mulu kemana-mana. Ada si Heri jagoan lapangan bola, jago abis dah nih orang, apalagi klo maen bola lapangan. Siapa lagi ya?? hmmm…lupa. Nah, klo di kelas 3-2 ini wali kelasnya Ibu Tri guru Matematika yang baek banget. Oia, di kelas 3 ini ada satu hal yang gw inget banget sampe sekarang, haha…pertama kalinya gw pacaran. Sama siapa pacarannya??? Sama anak kelas 1 yang namanya Elvina Rossa, si penyanyi cilik yang suaranya oke banget. Sekarang sih udah gede, tapi suaranya tetep bagus, kuliah di Univ. Negeri Surabaya.

Setelah 3 tahun menuntut ilmu di sekolah yang seru ini, tibalah saatnya Ebtanas. Nah, alhamdulillah gw berhasil masuk sekolah favorit (gw nggak pernah bilang SMA 68 sekolah unggulan) bareng sama Indra dan Rangga. Si Indra terdampar di SMA 5 deket rumah, hehe…Perpisahannya kita nginep 2 hari 1 malam di Cibodas. Huh…banyak banget kenangan di situ, mulai dari yang nyenengin sampe yang bener-bener ngeselin dan nyedihin. Yang nyenengin adalah pas itu dikasih penghargaan buat 10 peraih NEM tertinggi. Alhamdulillah gw dapet peringkat tertinggi kedua di bawah si Hendri (Woi, dimane lo sekarang?? nggak ada kabar). Seneng juga karena sahabat gw masuk 5 besar juga. Si Rangga peringkat 4 dan si Indra peringkat 5. Tebak siapa peringkat 3 nya?? Anak 2005 Fasilkom pasti kenal, heheh…itu si Kukuh Setiadi alias KuSe…

Yang nyedihin, huhu…ada deh. Yang pasti waktu itu lagunya Dewa 19 yang judulnya Pupus cocok banget sama kondisi hati gw. Yang ngeselin, nggak ada sih, cuma banyak kenyataan yang cukup berat diterima aja. Seru banget dah di SMP itu…lebih seru dan nyenengin malah dibandingin di SMA.

SMA - Skip…(berlanjut ke bagian 3)