Jul 28

Sebuah Berita Mengejutkan Di Pagi Hari

“Ko, kayanya nanti saya ga kaer (kebaktian remaja) dan pembinaan deh… Rumah saya kebakaran!”

SMS itu masuk ke dalam inbox handphone saya pada hari Minggu kemarin, 25 Juli 2010 Pk 03:21 dini hari. Pengirimnya? Kurniawan, seorang anak bimbingan saya di gereja.

Saya baru membaca SMS itu ketika saya bangun jam setengah 6 pagi. Hampir saja saya menjatuhkan handphone saya saat membacanya. Saya langsung mencoba menghubungi dia.

Sia-sia. Handphone-nya tidak aktif. Saya malah menjadi bertambah khawatir. “Oh Tuhan, apa yang terjadi dengannya?”

Saya sungguh bergumul saat itu. Pagi itu, saya ada janji pergi dengan teman saya. Tapi, saya tidak akan mungkin dapat meninggalkan anak bimbingan saya dalam keadaan yang belum jelas dan sangat membuat saya khawatir. (Sebenarnya saya malu mengakui bahwa awalnya saya masih ragu-ragu untuk membantu anak bimbingan saya sendiri, tapi saya ingin bercerita dengan jujur). Kebingungan saya terjawab beberapa menit kemudian di kamar mandi saya.

Saya sedang mandi ketika saya bertanya kepada Tuhan di dalam hati saya, “Tuhan? Apa yang harus saya lakukan?” Dan saya percaya, Tuhan menjawabnya ketika ada sebuah suara yang saya rasakan sangat jelas di dalam hati saya: “Datanglah ke sana…”.

“Tapi Tuhan, apa yang bisa saya lakukan di sana?” Saya tidak pernah membantu orang yang mengalami musibah kebakaran sebelumnya. Meskipun di satu sisi saya sangat ingin membantu, di sisi lain saya merasa bingung dan tidak nyaman.

Semua keraguan saya sirna ketika suara itu bergema lagi di dalam hati saya: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.”

Singkat cerita, akhirnya saya membatalkan janji dengan teman saya. Dan saya pergi, ke lokasi kebakaran itu. Saat itu, saya sama sekali tidak tahu, bahwa Tuhan akan memberi saya berkat yang melimpah di sana.

Datang Ke Lokasi Kebakaran

Rumah Kurniawan, anak bimbingan saya tersebut, ada di daerah Tambora. Di sepanjang perjalanan, saya berdoa untuk keselamatan Kurniawan.

Saya pun sampai di depan gang dekat rel kereta api Bandengan. Saya melihat beberapa mobil pemadam kebakaran berjejer, dan banyak orang berkerumun. Saya mencoba untuk masuk ke dalam gang.

Saya melihat rumah-rumah yang berdempet-dempetan sepanjang gang itu. Saya melihat banyak orang berkerumun. Setelah saya agak jauh masuk ke dalam gang, saya mulai melihat rumah-rumah yang sudah hangus terbakar.

Saya masuk ke dalam gang rumah anak bimbingan saya. Saya tidak dapat sampai ke depan rumahnya. Petugas pemadam sedang sibuk menyemprotkan air ke rumah-rumah tersebut (yang sebenarnya sudah lebih mirip kumpulan tembok-tembok saat itu).

Saya sungguh terkejut. Saya tidak mengira kebakarannya sebesar ini. Meskipun saat itu api sudah berhasil dipadamkan, tetapi para petugas masih terus menyemprotkan air. Puluhan rumah habis terbakar si jago merah.

Sementara itu, saya masih mencari Kurniawan. Ya! Kurniawan… Di mana dia? Saya pun berusaha mencari di tengah kerumunan orang. Saat itulah, saya menyaksikan pemandangan di luar dugaan saya.

Sebuah Pemandangan Di Luar Dugaan

Apa yang Anda harapkan ketika Anda melihat seseorang yang rumahnya baru saja habis terbakar? Seorang yang sedang menangis tersedu-sedu? Seorang yang marah-marah? Seorang yang depresi? Seorang yang menunjuk orang lain dan berkata: “Ini semua salah kamu!!!”

Kawan, tidak satu pun dari orang-orang di atas yang saya temukan. Seberapa hebat pun saya mencari saat itu, tidak satu orang pun yang saya temukan menangis, marah-marah, depresi, atau saling menyalahkan. Setidaknya, sejauh yang saya lihat saat itu, saya tidak menemukannya.

Lalu, orang seperti apa yang saya temukan?

Yang saya temukan adalah orang yang sedang membeli banyak roti untuk tetangga-tetangganya, yang juga mengalami musibah.

Yang saya temukan adalah orang-orang yang saling membantu satu sama lain. Yang satu mengambil air. Yang lain menenteng ember. Yang lain lagi sedang menyiramkan isi ember itu ke sisa-sisa api.

Yang saya temukan adalah dua orang yang berpapasan. Yang seorang bertanya, “Hai… Gimana rumahmu?”. Dengan senyum terukir di wajahnya, yang lain menjawab, “Rumah habis semua. Tapi untung anak-anak selamat semua. Kamu bagaimana?”. Tersenyum juga, dia menjawab, “Sama. Tak ada yang tersisa, tapi keluarga aman.”

Hei, apakah tidak salah!? Mereka baru saja kehilangan rumah mereka, dan mereka dapat tersenyum begitu lepasnya. Mereka bahkan masih saling memperhatikan satu sama lain. Jika saya ada di posisi mereka, dapatkah saya melakukan hal yang sama? Suatu hal yang masih saya ragukan.

Saya yang awalnya berniat membantu, hanya bisa terdiam menyaksikan semua hal yang luar biasa tersebut. Saya merasakan aura positif di tengah kekacauan akibat kebakaran. Saya melihat begitu banyak orang yang luar biasa. Tidak terkecuali anak bimbingan saya.

Respon yang Luar Biasa

Saya masih terdiam ketika dia menepuk bahu saya.

“Hai koko!” sapaan yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Sapaan anak bimbingan saya. Kurniawan menghampiri saya.

“Hai Kur… Koko cari kamu dari tadi. Gimana rumah kamu?”

Tidak ada kesedihan yang terlihat di wajahnya. Hanya senyuman yang biasa dia tunjukkan. Dia menjawab, “Wah… Abis semua ko. Rumah saya uda jadi kaya lapangan bola…”

“Hah? Abis semua Kur?” saya terkejut.

“Iya. Baju aja tinggal yang saya pake sekarang. Cuma sempet ngeluarin motor dan sedikit baju dede saya.”

Oh Tuhan… Apa yang Engkau ingin nyatakan pada Kurniawan? Saya teringat, baru saja sehari sebelumnya kaki Kurniawan tertusuk paku. Dan hari itu, seharusnya dia mengikuti pertandingan basket. Pertandingan final. Baru juga sehari sebelumnya, dia membeli sepatu untuk dia pakai di pertandingan itu. Tapi sepatu itu lenyap dalam beberapa jam, tanpa sempat dipakai olehnya. Baru pula sehari sebelumnya, dia membantu kokonya bekerja seharian. Siapa yang menyangka, sekarang peralatan kerja kokonya pun sudah habis terbakar, di saat sebenarnya pekerjaan itu masih harus dilanjutkan hari itu.

Saya percaya, Tuhan ada rencana yang indah pada Kurniawan. Tapi, saat itu, segalanya terlihat begitu gelap. Ibarat orang yang sudah jatuh, tertimpa tangga, dan tertiban balok pula.

Tapi, respon Kurniawan menghadapi semua ujian ini sungguh baik. Tidak. Lebih dari baik, ini luar biasa! Kurniawan meresponi semua musibah ini dengan begitu positif. Dia meresponi dengan keyakinan Tuhan masih menyertainya sampai detik ini, meskipun dia sedang mengalami musibah yang hebat.

“Mama dan yang lain gimana Kur?” saya bertanya lagi.

“Puji Tuhan semua selamat ko. Saya barusan disuruh jaga motor sih, tapi sudah saya kunci. Koko mau lihat rumah saya?”

“Ga pa pa Kur motornya ditinggal?”

“Ga pa pa ko, aman… Uda saya kunci.” kata Kurniawan. Senyumnya masih terus terukir. Dan saya pun diantar ke gang rumahnya. Saya tidak dapat melihat dengan jelas saat itu, karena saya hanya melihat dari jauh. Petugas pemadam masih sibuk bekerja. Akhirnya, Kurniawan membawa saya bertemu mama dan adiknya.

Seperti orang-orang yang lain, mama Kurniawan pun tidak menunjukkan tanda-tanda kesedihan. Hei, saya tahu mereka semua sedang sedih. Tapi, mereka memilih untuk tidak memfokuskan diri mereka pada kesedihan mereka, melainkan pada hal-hal yang dapat mereka selamatkan, keluarga mereka. Dan itulah yang luar biasa.

Mama Kurniawan bercerita, “Kur tadi hebat loh, dia ingetin saya buat lepasin gas. Biar ga meledak katanya. Oh iya ya… Saya saja tidak ingat. Lalu saya lepasin gas. Abis itu langsung mati lampu. Dan ga berapa lama api udah nyamber. Tapi tabung gas itu selamat.”

“Ah, tapi sama aja ko… Yang lain ga lepasin gasnya, jadi meledak juga dari rumah yang lain ko… Hehehe.” kata Kurniawan sambil tertawa, membuat orang-orang di sekitarnya juga tertawa kecil.

“Tadi ribut-ribut saya kira ada tawuran… Jadi saya diemin aja. Terus saya kaget Kurniawan bilang kebakaran. Jadi saya baru bangun, untung semuanya bisa bangun dan selamat akhirnya…” mama Kurniawan cerita lagi.

“Hmm, ada korban jiwa ga ya di kebakaran ini?” saya bertanya lagi, penasaran.

“Tadi hampir ada ko… Kakek-kakek yang uda agak tuli. Digedor-gedor tetep ga bangun. Akhirnya pintunya didobrak, dan dia baru bisa dibangunin. Wah, kalo ga, uda jadi daging panggang ko…” kata Kurniawan.

Wow! Di tengah kepanikan, mereka masih ingat pada seorang kakek-kakek tua yang hampir tuli, yang hidup sendirian di dalam rumahnya yang terkunci. Mereka bahkan mendobrak pintu untuk menyelamatkan sang kakek. Mereka tidak berpikir keselamatan diri mereka sendiri saja, tapi juga keselamatan orang di sekitar mereka.

Api boleh membakar barang-barang mereka. Tapi mereka tetap bergembira karena mereka berhasil menyelamatkan setiap nyawa. Api tidak dapat membakar cinta kasih yang ada di dalam hati mereka.

Ingin Membantu, Malah Dibantu

Mau tahu akhir kisah yang tragis namun luar biasa pagi itu? Kurniawan mengantarkan saya pulang dengan motornya. Oh, saya mau menangis di perjalanan.

Diantar pulang naik motor mungkin sebuah hal yang biasa. Diantar pulang naik motor oleh seorang anak bimbingan yang rumahnya baru saja terbakar habis. Rasanya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Saya tahu, Kurniawan akan berkata “Ah, koko lebay…” ketika membaca tulisan ini. Tidak Kur, ini tidak lebay. Sungguh itu yang koko rasakan…

Tidak sekali pun terdengar keluhan. Tidak sekali pun terlontar makian. Tidak sekali pun dia meminta bantuan. Kenyataannya, justru sayalah yang dibantu. Saya benar-benar tidak membantunya pagi itu. Dia membantu saya dengan mengantarkan saya pulang.

Saya teringat kata-kata Tuhan tadi pagi: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.” Ini benar sekali. Tuhan ingin menunjukkan kepada saya seorang anak bimbingan saya yang sungguh luar biasa.

Tentunya, karena dia memiliki Tuhan yang luar biasa juga, yang telah mengubahkan hidupnya. Dan saya sangat bersyukur untuk semua itu.

Sungguh banyak berkat yang saya dapatkan, sehingga saya harus memecah tulisan ini menjadi beberapa bagian. Siang itu, saya datang lagi menemui Kurniawan, kali ini dengan teman-teman yang lain. Tapi ini cerita yang lain lagi, dengan berkat yang berbeda lagi yang saya dapatkan.

Apa yang Saya Pelajari

Lalu, apa yang saya pelajari pagi itu? Saya belajar untuk tidak egois, dan lebih memperhatikan orang lain. Saya belajar untuk mengandalkan Tuhan dan bersyukur senantiasa. Saya belajar untuk meresponi hal-hal buruk yang terjadi dengan sikap yang positif.

Tuhan yang mengajarkan itu kepada saya. Melalui anak bimbingan saya yang luar biasa.

Terima kasih Tuhan. Terima kasih Kurniawan.

Percayalah, Tuhan menyertaimu sampai kepada akhir zaman.

Teruslah percaya kepada-Nya. :D

Charles Christian

P.S. Yeremia 29:11. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Bersambung…


Jun 2

Kejadian ini terjadi di suatu hari yang cerah 2 tahun yang lalu. Seperti biasa, tidak ada bintang jatuh… Seperti biasa juga, saya pergi ke kampus pakai sendal, yang sebenernya saya tau tuh sendal uda rada ga bener, uda hampir putus, tapi karena saya yang keras kepala tetep aja saya pake tanpa sedikit pun rasa bersalah. Saya sampai di kampus dengan aman sentosa, sehat walafiat, tidak kekurangan suatu apa pun, setidaknya sampai terjadi tragedi itu.

Tragedi apa? Jadi ceritanya saya lagi turun tangga. Terus abis saya turun, ada genangan air ga jelas ada di depan WC (siapa sih yang pipis sembarangan di depan WC?), yang saya ga liat (saking rabunnya nih mata…). Dan genangan air itu berhasil membuat saya meluncur beberapa meter ke depan seperti maen ice skating dan membuat sendal saya bener-bener putus!!! Tuh genangan cuma gagal membuat saya jatuh, karena keseimbangan tubuh saya yang udah saya latih bertaon-taon dengan bertapa di atas gunung salak… (yang ini ga bener).

Okeh… Akhirnya sendal saya putus juga. Nyesel deh saya, napa saya tadi pagi masih keras kepala make tuh sendal. Trus sekarang, gimana saya bisa balik ke kos saya dengan sendal yang putus gitu? Huhuhu… Apa saya mesti ngesot2 atau nyeker ampe kaki berdarah2 ke kos saya??

 


Tiba2 terlintas sebuah ide brilian di otak saya. Yup, saya minta karet gelang atau lakban (bukan enem puluh rebo) aja sama pos satpam yang ada di depan gedung… Terus kan tinggal saya tempelin ke sendal saya… Lumayan lah. Oke… brilian sekali.

Akhirnya dengan ngesot2, saya berhasil sampe ke pos satpam di depan gedung…

“Pak… Ada karet gelang ga?” saya nanya.

“Wah… karet gelang ya?”, kata pak satpam sambil nyari2… “ga ada tuh… Coba kamu cari di dapur sebelah deh…”

“Nih pos satpam kesian banget. Karet gelang aja ga punya” pikir saya dalem hati. Tapi, yah daripada ngesot ampe kos, saya mendingan ngesot ke dapur sebelah. Dengan sedikit esotan, sampelah saya ke dapur sebelah. Saya buka pintunya, eh ada Pak Komar, janitor (karyawan/cleaning service –red) di kampus tercinta, yang lagi makan siang dengan enaknya. Saya berhasil mengganggu kenikmatan makan Pak Komar dengan sebuah pertanyaan:

“Pak Komar… Ada karet gelang ga?” saya nanya pertanyaan yang sama.

“Waduh… karet gelang ya…” Pak Komar langsung menghentikan kunyahannya dan langsung sibuk nyari2… “ga ada tuh…”

Setengah pasrah, saya nanya lagi, “kalo lakban ada ga pak?”

Setelah nyari2 n berhasil tidak menemukan sepotong lakban pun, Pak Komar menjawab, “Wah ga ada juga tuh… Buat apa sih?”

“Ini pak, sendal saya…” sambil nunjuk ke kaki yang lagi nginjek sendal putus dengan wajah memelas meminta belas kasihan.

“Wooh… itu mah ntar jelek klo dilakban… Lakban kan warna coklat. Sendalnya warna item…”

Dalem hati… “Gak peduli deh jelek2, yang penting gak usah ngesot2 ampe kos. Yang penting mengamankan kaki dulu dari kerikil2 tajem”. Akhirnya saya jawab, “Gapapa kok pak…”

“Eh, coba cari di satpam deh…”

Lagi2 dalem hati… “Duh2 Pak Komar… Tadi saya juga dari satpam… Ga ada pak!” Tapi karena Pak Komar juga keluar, saya ikutan keluar n ngesot lagi ampe pos satpam ngikutin Pak Komar. “Udah pak… ga ada di pos satpam”, lagi2 dalem hati…

Sampai di pos satpam yang tadi (lagi2 dengan beberapa esotan). Pak Komar nanya… “Woi, ada sendal jepit ga? Nih ada yang sendalnya putus”, terus dengan cepatnya sebuah sendal jepit uda ada di tangan Pak Komar…

Semua ide brilian saya langsung hancur… Jeger! Iya ya, ngapain juga saya minta2 karet gelang n lakban… Napa saya ga langsung aja minjem sendal jepit. Dodol…

Untung ada Pak Komar… Makasih pak. Ga jadi ngesot ampe kos deh, semoga ga akan pernah… hehehe.

Moral: Ide brilian kita belum tentu benar-benar brilian. :P

Ini adalah kisah saya yang saya tulis dua tahun yang lalu (dengan sedikit modifikasi). Menurut Anda, apakah peristiwa di atas tergolong keberuntungan atau ketidak-beruntungan? Saya dapat menganggap peristiwa di atas sebagai keberuntungan, karena peristiwa itu akhirnya menjadi sebuah pengalaman yang menarik dan lucu yang dapat saya ceritakan ke orang lain, termasuk kepada Anda saat ini. Jika sendal saya tidak putus saat itu, tidak ada kisah yang telah menghibur beberapa orang ini (emangnya menghibur ya? hehe).

OK, ini adalah satu contoh melihat sisi positif dari sebuah peristiwa. Peristiwa buruk di masa lalu, bisa saja menjadi peristiwa lucu yang menarik diceritakan sekarang. Jadi, peristiwa buruk di masa sekarang, bisa saja menjadi peristiwa lucu yang menarik di masa depan.

Saya pribadi percaya, setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup saya, entah itu baik atau buruk, pasti memiliki manfaat dalam membentuk diri kita menjadi seperti hari ini. Tuhan sudah merancangkannya untuk kebaikan kita. Jadi, apa pun yang terjadi pada diri kita saat ini, ada tujuan baik di balik semuanya itu. Mungkin kita tidak mengetahuinya sekarang. Kita akan mengetahuinya pada waktu-Nya. Saat itu, kita akan bersyukur bahwa kita sungguh beruntung memiliki Tuhan yang begitu baik dan penuh kejutan. Hei, mengapa harus menunggu saat itu untuk bersyukur? Saat itu pasti akan tiba. Bersyukurlah dari sekarang. :D


Apr 21

Terinspirasi dari suatu sore beberapa bulan yang lalu, di mana saya akan memimpin sebuah rapat jam 3 sore. Tepat jam 3 sore, hanya ada satu orang peserta rapat, (anggaplah namanya Denny), yang sudah datang dan sedang duduk menunggu di sofa, sedangkan yang lainnya belum datang.

Saat itu, saya berkata kepada Denny, “Den, coba lihat jam, jam berapa sekarang… Jam 3 kan, dan kita akan mulai rapat jam 3. Kenapa kamu masih duduk santai aja di sofa? Ayo cepat masuk ke dalam ruang rapat!”

Saat saya teringat kembali atas peristiwa tersebut, saya mulai berpikir. Bukankah Denny adalah seseorang yang sangat baik dengan datang tepat waktu, bahkan sebelum waktu yang dijanjikan. Bukankah dia lebih baik dari teman-temannya yang saat itu belum datang, atau bahkan tidak datang? Tapi, kenapa justru dia yang sangat baik tersebut, yang saya tuntut lebih? Kenapa dia yang justru saya lebih disiplinkan, dan kenapa justru dia yang merasakan energi negatif saya yang muncul karena banyaknya anak-anak yang belum datang rapat di waktu yang dijanjikan? Kalau dia yang sudah melakukan hal yang baik, malah mendapatkan respon negatif dari saya, bukankah itu akan membuatnya kecewa dan menjadi enggan datang tepat waktu lagi untuk menghindari energi negatif saya?

Di sisi lain, banyak anak-anak yang akhirnya tidak datang rapat. Namun, saya tidak mem-follow-up mereka. Kenapa? Karena untuk mem-follow-up mereka membutuhkan waktu, tenaga, dan dana ekstra. Dimulai dari waktu untuk mencari keberadaan mereka, tenaga yang dikeluarkan untuk mencari mereka, dan dana untuk menelepon mereka. Akhirnya, mereka “selamat” dari energi negatif saya. Mereka saya diamkan. Mereka merasa baik-baik saja dengan tidak datang rapat tepat waktu, atau bahkan tidak datang rapat sama sekali. Akhirnya, mereka cenderung untuk mengulanginya.

Ironis sekali. Bukankah keinginan saya adalah agar mereka datang tepat waktu? Tapi mengapa mereka yang datang tepat waktu yang justru mendapatkan perlakuan buruk? Sedangkan, mereka yang tidak datang tepat waktu toh “baik-baik saja”.

Marilah Kita Mulai Memberikan Apresiasi

Saya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kita ada di zaman di mana apresiasi adalah hal yang langka. Orang-orang cenderung untuk melihat hal-hal yang buruk dibanding hal-hal yang baik. Mereka banyak menegur hal-hal yang buruk, namun mereka lupa bahwa ada lebih banyak lagi hal-hal baik yang seharusnya mereka apresiasi, dan mereka melupakannya.

Apa langkah yang dapat diambil selanjutnya? Saya memutuskan, bukankah lebih baik bagi saya untuk menunjukkan energi positif dan mengapresiasi Denny yang sudah datang tepat waktu? Ya, dia layak untuk diapresiasi, karena dia lebih baik daripada teman-temannya yang lain dengan datang tepat waktu. Akan baik pula jika saya berikan apresiasi tersebut di depan teman-teman yang lain, yang membuat Denny merasa tindakannya dihargai. Denny akan senang, dan akan senang untuk datang tepat waktu di kesempatan-kesempatan berikutnya. Begitu pula dengan teman-temannya yang lain, akan termotivasi untuk menjadi Denny-Denny yang lain dan akan datang tepat waktu juga di kesempatan berikutnya.

Bagaimana dengan teman-teman yang tidak datang tepat waktu atau bahkan tidak datang? Dibutuhkan sesuatu yang dapat menjadi efek jera bagi mereka. Hal yang paling baik menurut saya adalah memberikan nilai tambah bagi orang-orang yang datang tepat waktu. Berikan mereka sesuatu yang berharga yang tidak didapatkan orang-orang yang tidak datang tepat waktu. Atau, berikan hukuman kepada mereka yang tidak datang tepat waktu. Namun, perlu diperhitungkan pula, bahwa hukuman untuk mereka yang tidak datang sama sekali haruslah lebih berat daripada hukuman untuk mereka yang tidak datang tepat waktu. Atau, mereka akan cenderung memilih untuk tidak datang sama sekali di saat mereka terlambat.

Akhir kata, saya juga mau mengapresiasi Denny atas usahanya untuk datang tepat waktu saat itu. :D


Jan 9

Yeah! Tiba saatnya untuk tulisan bebas… Setiap hari Sabtu, saya akan menulis hal-hal bebas, yang tidak berkaitan dengan keenam subtopik yang ada di hari Minggu sampai Jumat.

Tulisan bebas di sini bisa berupa curhat-curhat dari kehidupan saya, pengalaman-pengalaman menarik yang saya dapatkan, info-info menarik, ucapan-ucapan selamat, perkembangan blog ini, dan masih banyak lagi tulisan-tulisan bebas lainnya.

Sampai jumpa di tulisan bebas saya yang lain Sabtu mendatang… :D

Jan 4

Setiap hari, ada banyak peristiwa yang saya lewati. Tidak jarang, ketika saya mengalami suatu peristiwa, tiba-tiba melintas di kepala saya hal-hal yang saya dapat pelajari dari peristiwa tersebut. Peristiwa itu mungkin hanyalah sebuah peristiwa sederhana, yang ditemui oleh banyak orang setiap hari. Tetapi, jika kita melihat lebih dalam, ternyata ada banyak hal yang dapat dipelajari dari sebuah peristiwa sederhana.

Semangat inilah yang mendorong saya di awal untuk membuat sebuah blog dengan salah satu tagline “belajar dari kehidupan”. Saya percaya, kita semua adalah pembelajar seumur hidup kita, dan jika kita mau berpikir sejenak, ada banyak sekali hal-hal berharga yang dapat kita pelajari dari kehidupan ini, dari keseharian kita.

Mulai hari Senin mendatang, setiap hari Senin, teman-teman akan menemukan sebuah tulisan yang murni merupakan hasil pemikiran pribadi saya. Pemikiran yang mungkin muncul dari hal-hal sederhana yang terjadi dalam hidup saya. Pelajaran sederhana namun sangat berharga yang saya dapatkan dari kehidupan yang saya jalani.

Ya, ada banyak sekali hal yang terpikir begitu saja di kepala saya ketika saya menjalani keseharian saya. Bagaimana saya dapat mengambil lima hal positif ketika saya melihat pedagang-pedagang di dalam kereta, bagaimana saya belajar mengampuni dari menonton sepak bola, bagaimana saya berpikir tentang teman sejati, bagaimana saya belajar kerendahan hati dari tumbangnya Manchester United dan Chelsea, bagaimana saya belajar mensyukuri setiap makanan yang ada dari seorang anak kecil yang memakan sampah, apa yang saya pelajari dari kata-kata ayah saya tentang menggosok gigi, bagaimana saya belajar untuk lebih berhati-hati dari sakit sariawan yang saya derita, bagaimana saya belajar mengambil hikmah dari kegagalan ujian saya, bagaimana saya belajar introspeksi diri sebelum mencari kesalahan orang lain, bagaimana saya belajar untuk mempersiapkan skenario terburuk yang mungkin terjadi, apa yang saya pelajari dari cara saya memesan makanan di rumah makan, bagaimana saya belajar tentang rasa sayang sejati, bagaimana saya berpikir tentang rasa kehilangan dan reward yang tidak adil, bagaimana saya belajar tentang cinta dari kekalahan yang diderita klub favorit saya, bagaimana saya belajar tentang efektivitas teguran dari sebuah papan di Stasiun Kota, bagaimana saya menciptakan sebuah quote yang sangat positif tentang kehilangan, bagaimana saya melihat gelas setengah isi dan setengah kosong dari sudut pandang yang baru, bagaimana saya belajar tentang kehidupan dari kematian orang-orang yang dekat dengan saya, dan masih banyak lagi.

Contoh-contoh di atas adalah tulisan “pemikiran pribadi” yang telah saya tuliskan di blog ini sampai saat ini. Tulisan yang bahkan telah menginspirasi saya pribadi ketika saya membacanya kembali.

Tulisan-tulisan seperti itulah yang akan teman-teman dapatkan di blog ini setiap hari Senin. :D

Banyak hal kecil yang terjadi di keseharian hidup kita yang sebenarnya memiliki arti yang dalam yang dapat kita pelajari untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tulisan-tulisan ini hanyalah sebagian kecil di antaranya…

Shortlink to this post: http://wp.me/p6dQc-gN

Nov 13

Kemajuan teknologi informasi dewasa ini, khususnya di Indonesia, telah membuka kesempatan yang besar bagi banyak hal. Salah satunya adalah penggunaan teknologi informasi (TI) untuk melakukan syiar Islam dan aktivitas kebaikan lainnya. TI memberikan pilihan baru bagi umat Islam dalam mencari ilmu, bertukar pengetahuan, atau bertanya mengenai topik-topik keislaman. TI juga memberikan kemudahan bagi kita untuk bisa melakukan aktivitas kebaikan dengan jangkauan yang luas, bahkan seluruh dunia. Keuntungan-keuntungan yang dimungkinkan dengan adanya TI ini sepatutnya kita gunakan dalam hal-hal yang positif dan bermanfaat serta tetap syar’i.

Akan tetapi, TI tidak hanya dimanfaatkan oleh manusia sebagai sarana melakukan hal-hal positif saja. Seperti kita ketahui, internet sebagai media dari pelaksanaan TI berisi berbagai macam konten, mulai dari konten yang sangat baik hingga yang sangat buruk. Semua konten itu bercampur baur di internet, dan kita sebagai penggunanya mempunyai akses baik ke konten yang positif maupun konten yang negatif. Memang sudah sunnatullah bahwa ada yang baik dan ada yang buruk di dunia ini. Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa menjadi baik dan meminimalisasi bahkan menghilangkan keburukan.

Didasari atas kondisi internet yang di dalamnya terdapat konten positif dan negatif, saya mempunyai pikiran bahwa untuk meminimalisasi pengaruh keburukan yang ada, khususnya di internet, maka perlu adanya penyeimbang dalam bentuk konten yang positif. Sebagai perumpamaan, ada sebuah bejana penampungan air yang berisi air yang mengandung kadar keasaman tinggi. Saya membutuhkan air tersebut sebagai pelepas dahaga, tapi air tersebut tidak dapat diminum karena berbahaya bagi tubuh. Ada dua hal yang dapat saya lakukan untuk menghilangkan dahaga. Pertama, dengan membuang air yang ada pada bejana tersebut, kemudian mengambil air yang dapat diminum dari tempat lain. Kedua, dengan mencampur air dengan kadar keasaman tinggi tersebut dengan air dengan kadar basa tinggi, sehingga saya mendapatkan air yang cukup netral dan dapat dikonsumsi. Saya mungkin perlu melakukan penyaringan air tersebut agar didapat hasil air yang baik.

Pada perumpamaan di atas, internet diibaratkan sebagai sebuah bejana penampungan air. Bejana itu menampung air berkadar asam tinggi, layaknya internet yang berisi banyak konten-konten negatif. Saya, dan juga banyak pengguna internet lainnya pasti ingin mendapatkan konten positif dan menghindari konten negatif. Ada dua hal yang dapat dilakukan, yaitu dengan membuang seluruh konten dan informasi yang ada di internet dan mengisinya dengan hal-hal yang positif saja, atau dengan menambahkan konten dan informasi positif pada internet untuk menyeimbangkan dan meminimalisasi konten negatif yang ada. Cara pertama jelas hampir tidak masuk akal, karena konten negatif yang ada di internet sangat banyak dan akan tetap ada walaupun telah dihilangkan dan dilarang. Saya menawarkan cara kedua sebagai solusi karena cara ini lebih bisa kita lakukan, yaitu dengan memasukkan banyak hal-hal positif dan bermanfaat ke dalam internet. Walaupun begitu, bukan berarti kita mendiamkan saja konten negatif yang ada. Kita juga harus mengurangi dan meminimalisasi konten negatif tersebut. Terakhir, perlu kita lakukan penyaringan agar konten dan informasi yang kita dapat dari internet adalah hal yang baik dan bermanfaat serta benar.

Hal yang telah saya paparkan sebelumnya, yaitu mengisi internet dengan konten dan informasi positif, berkaitan erat dengan pemanfaatan TI sebagai sarana syiar dan dakwah Islam. Konten dan informasi positif yang saya maksud dapat berupa ilmu, wawasan, dan pengetahuan keislaman, yang dapat meningkatkan pemahaman keislaman pengguna internet, terutama umat islam. Dengan adanya banyak konten keislaman di Internet, umat Islam dapat dengan mudah memperkaya pemahaman dan pengetahuannya. Di sisi lain juga menjadi penyeimbang terhadap banyaknya konten negatif yang ada di internet.

Salah satu langkah nyata adalah dengan membuat website atau situs web yang bertujuan untuk syiar dan dakwah Islam. Situs ini bisa berisi beragam hal tentang Islam, mulai dari keilmuan seperti fiqih, syariah, muamalah, tauhid, atau tanya jawab dengan ustadz yang kompeten. Di situs ini juga bisa disediakan forum diskusi yang di dalamnya membahas masalah dan topik keislaman sehingga bisa tercipta kondisi saling bertukar pengetahuan islam antara para anggotanya. Informasi-informasi mengenai acara-acara keislaman seperti pengajian, taklim, atau lomba pun bisa disediakan pada situs ini. Secara umum, situs ini menawarkan konten keislaman yang beragam dan bisa dimanfaatkan oleh semua pengguna internet, khususnya umat Islam.

Ada juga langkah lain yang lebih sederhana, yaitu dengan membuat blog. Blog atau weblog adalah salah satu media pertukaran informasi di internet, di mana pemilik blog menulis tulisan-tulisan yang dapat dikomentari oleh pengunjung. Terkait dengan pemanfaatan blog sebagai salah satu sarana syiar dan dakwah Islam, kita bisa menulis tulisan-tulisan yang positif dan bermanfaat, contohnya artikel keislaman. Hal itu saya lakukan di blog pribadi saya, dengan menuliskan tulisan yang terkait dengan keislaman. Tidak melulu harus tulisan keislaman karena tulisan lain yang mengandung hal baik dan bermanfaat pun adalah konten positif. Anda yang membaca tulisan ini pun bisa melakukan hal tersebut, yaitu dengan mengisi blog pribadi anda dengan hal-hal yang positif. Saya, anda, dan kita semua bisa menjadi subjek dari proses yang baik ini, yaitu dengan mengisi blog kita dengan konten-konten yang positif, salah satunya tentang keislaman. Sesuai dengan perumpamaan yang saya berikan, semakin banyak orang yang mengisi blognya dengan konten-konten positif, maka akan semakin banyak konten dan informasi positif yang ada di internet. Ketika semakin banyak konten dan informasi positif yang ada di internet, maka itulah salah satu pemanfaatan dari teknologi informasi khususnya internet sebagai sarana syiar dan dakwah Islam.

Saya teringat akan sebuah pelajaran sederhana yang disampaikan oleh K.H. Abdullah Gymnastiar atau lebih dikenal dengan Aa’ Gym. Pelajaran sederhana tersebut adalah prinsip 3M. Mulailah dari diri sendiri, mulailah dari hal-hal yang kecil, mulai dari sekarang. Kita semua bisa menjadi bagian dari kemajuan dan ketinggian Islam, caranya adalah dengan memulainya dari diri kita sendiri. Salah satu caranya dengan mengisi konten positif ke dalam internet, khususnya melalui tulisan di blog, atau media informasi lainnya. Mulailah dari hal-hal yang kecil, bila kita belum mampu untuk membuat tulisan dengan topik yang sulit, cobalah dengan topik yang ringan terlebih dahulu. Pada salah satu hadits dikatakan bahwa, “Sampaikanlah walau hanya satu ayat.” Jadi, kita tidak harus langsung menulis dengan topik keislaman yang di luar kemampuan kita. Dan mulailah dari sekarang, seperti saya memulainya dengan tulisan ini.

Mulailah dari diri sendiri. Mulailah dari hal-hal kecil. Mulailah sekarang juga!

Saya berharap ada tulisan ini dapat menjadi saran dan masukan bagi kita semua umat Islam untuk bisa memanfaatkan berbagai macam sarana yang ada untuk syiar dan dakwah Islam. Syiar dan dakwah Islam tersebut dapat kita lakukan dengan mengisi konten-konten positif dan bermanfaat pada blog pribadi kita atau media informasi lainnya. Teknologi informasi, salah satunya internet, bisa menjadi sarana kita dalam melakukan syiar dan dakwah keislaman, yang merupakan bagian ibadah kita kepada Allah. Semoga tulisan ini dapat menginspirasi saya, anda, dan kita semua untuk melakukan aktivitas kebaikan di mana pun, kapan pun, dan dengan sarana apapun, tentunya secara ikhlas hanya untuk mendapat ridho Allah SWT. Amin.

Mohamad Sidik
Kemayoran, 13 November 2009

~Tulisan ini dibuat sebagai bagian keikutsertaan penulis pada Lomba Blog FUKI Fair 2009~

Oct 30

Prolog: Sewaktu membuka kembali arsip lama tulisan saya di “rumah lama”, saya menemukan “harta” yang cukup berharga. Bahkan awalnya saya agak kurang percaya kalau tulisan ini saya yang menulis. Silahkan dinikmati, semoga bisa menyadarkan kita semua untuk bisa terus semangat memperbaiki diri.

Seruan ini ditujukan bagi jiwa-jiwa yang kehilangan jiwa
Seruan ini ditujukan bagi ruh-ruh yang kehilangan ruh

Seruan ini ditujukan bagi diri-diri yang kehilangan hakikat diri

Bangkitlah, Bangkitlah, Bangkitlah

Di hadapanmu telah terbentang medan perjuangan

Bersegeralah untuk berangkat menuju keridhoan Illahi

Semangat, satu kata yang sering hilang dengan sendirinya dari kamus hidup kita. Kalaupun tidak hilang minimal cahayanya meredup. Kisah meredupnya cahaya semangat ini tidak hanya dialami dirimu kawan, tetapi juga saya, dia, mereka dan kita semua alami. Karena memang lumrah adanya apabila manusia dapat merasakannya.

Dalam hadits Rasulullah bersabda “Al imanu yazid wa yankus”. Iman itu naik dan turun. Layaknya keimanan manusia yang naik dan turun, pada semangat pun dapat terjadi hal tersebut. Memang, semangat dan keimanan memiliki suatu hubungan yang dekat. Seseorang yang sedang turun keimanannya pasti akan turun pula semangatnya untuk beribadah, belajar, ataupun segala macam perbuatan yang baik dan bermanfaat. Begitu pula sebaliknya.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah kita menginginkan diri kita mengalami krisis semangat yang berdampak pula pada krisis keimanan?? Saya bisa memprediksi bahwa jawabannya tidak ingin hal seperti itu sampai terjadi. Kalaupun ada orang yang menginginkan dirinya terus tidak semangat, orang itu diduga memiliki gangguan. Gangguan apa?? Yang jelas dia menderita gangguan semangat.

Hal pertama yang harus dilakukan oleh penderita krisis semangat adalah menyadari ada yang salah dalam dirinya. Dengan adanya kesadaran dari dalam hati, Insya Allah jalan menuju kebaikan akan terbentang luas. Berbeda keadaannya dengan yang tidak sadar, jelas dia tidak akan menerima apabila ada orang lain yang menyampaikan kebenaran.

Dalam kaitannya dengan kondisi kita sebagai mahasiswa, kesadaran yang harus kita bangun adalah kesadaran bahwa masa perkuliahan telah mulai kembali. Baik mahasiswa lama maupun mahasiswa baru pastinya tidak menginginkan ketika kuliah nanti terganggu dengan hilangnya semangat untuk belajar.

Setelah tumbuh benih kesadaran dalam diri kita, yang harus kita lakukan adalah pengobatan jiwa kita. Proses ini dapat kita lakukan sendiri. Tiap-tiap jiwa manusia membutuhkan makanan lahiriah dan makanan batiniah. Seringkali manusia melupakan hal tersebut dan hanya mementingkan makanan lahiriah saja. Akibatnya, jiwa kita mengalami dahaga akan kesegaran batiniah.

Semangat dan keimanan adalah zat-zat yang harus dikonsumsi oleh manusia untuk mencukupi takaran kebutuhan akan makanan batiniah. Karena seperti yang telah saya terangkan di atas bahwa dua zat di atas sering mengalami penurunan kadar. Proses pengobatan jiwa pun menggunakan metode-metode yang dapat meningkatkan kadar semangat dan keimanan dalam diri kita.

Berbagai macam ibadah kepada Allah dapat menjadi obat bagi krisis semangat dan keimanan. Beberapa waktu lalu sering kita dengar alunan lagu “Tombo Ati” atau obat hati yang dibawakan oleh Opick. Obat itu terdiri dari lima perkara yaitu membaca Al-Qur”an dan maknanya, mendirikan shalat malam, berkumpul dengan orang sholeh dalam majelis ilmu, Perbanyak shaum(puasa) sunnah, dan berzikir pada setiap waktu. Insya Allah dengan mempraktekkan kelima perkara tersebut dengan Ikhlas, krisis semangat dan keimanan pun akan hilang dari diri kita.

Intinya adalah kita harus mendekatkan diri dengan yang Pencipta kita, Allah Azza Wa Jalla. Seorang muslim hendaknya menjadikan Allah sebagai sumber semangat dirinya. Semakin kita dekat dengan Allah, Niscaya semangat hidup kita akan bertambah. Jadi, tunggu apa lagi untuk bisa bermesraan dengan Kekasih Yang Terkasih, Allah Robbul Izzati.

Semoga dengan kita menyadari kondisi kita sebagai manusia yang ada kalanya semangat dan keimanannya turun, Allah akan menerangi hati-hati kita dengan pelita kebenaran. Kesadaran pribadi tersebut selanjutnya diaplikasikan dengan tertanamnya azzam(tekad) dalam hati kita untuk memperbaiki diri kita. Tekad yang kuat tersebut terealisasikan dengan program perbaikan yang dapat mengobati kondisi jiwa yang haus akan keimanan kepada Allah.

Formula meningkatkan semangat dan keimanan :
Sadar -> Niat dan Tekad -> Ikhtiar dan Doa

Ya Allah Yang Maha Membolak-balikkan hati, condongkanlah hatiku pada dienMu dan pada Ketaatan kepadaMu.

Sidicx
Kemayoran City 220806
Oct 26

Hari Sabtu lalu, tepatnya tanggal 24 Oktober 2009 lalu bisa dibilang adalah salah satu hari bersejarah bagi diri saya. Yah, setidaknya dalam 3 tahun terakhir ini. Semuanya diawali dari sebuah sms di pagi hari yang berasal dari Kak Pandu. Di sms itu beliau minta saya untuk datang sore harinya jam 5 untuk ikut liqo (untuk selanjutnya saya akan menggunakan kata ngaji, just my preference not to use ‘liqo’ too much ). Jujur saya kaget dan 3/4 nggak percaya. Kenapa begitu? nanti di bagian bawah saya ceritakan. Karena nggak percaya, akhirnya saya nge-sms Sonny buat nanyain sms itu beneran nggak atau cuma salah kirim. Karena lama nggak dibales sama Sonny, akhirnya saya telpon aja dan di-confirm sama Sonny bahwa sms ajakan itu valid. Wah, Alhamdulillah banget…akhirnya penantian yang “cukup lama” bisa kesampaian juga.

Kenapa sampai Alhamdulillah banget?? Jawabannya adalah karena saya udah lama nggak ngaji, dalam artian ngaji (liqo), bukan ngaji yang lain. Terakhir saya ingat benar-benar ngaji adalah Ramadhan tahun 2006, udah lama kan?? Waktu itu alasan nya ‘menghilang’ adalah nggak begitu cocok sama abang yang baru, karena pas itu saya baru aja di-transfer ke kelompok yang baru. Awalnya males dateng, berlanjut nggak pernah dateng, sampe akhirnya saya ‘menghilang’. Saya menjadi anak hilang yang benar-benar hilang dari alumni rohis 68. Selama 2 tahun selanjutnya, hampir nggak pernah saya datang ke 68. Saya sibuk ‘bermain’ dan beraktivitas di UI, tepatnya kampus saya di Fasilkom UI. Ya, saya saat itu dianggap anak hilang.

Memang sih pernah sewaktu tahun 2007 saya diajak untuk ngaji lagi sama Bang Hendrico, alumni 68 yang juga alumni Fasilkom. Awalnya saya bisa ngikut, tapi lama kelamaan karena jadwalnya nggak tentu kadang ada kadang enggak, ditambah lagi teman sekelompok yang masih ‘kurang dekat’ akhirnya saya kembali ‘menghilang’ dan nggak ikut lagi. Setelah itu, sampai kemaren sebelum hari Sabtu sore, saya belum pernah ngaji lagi. Tapi, bukan berarti saya nggak belajar Islam karena saya nggak ngaji. Saya tetap ngejalanin ibadah wajib atau sunnah, ikut kajian, diskusi islam juga. Bedanya, saya nggak ngaji.

Walaupun begitu, ternyata batin saya ngerasain bahwa ada yang ‘kurang’ kalo belum ngaji. Dan hal itu benar-benar membuncah dan sampai pada puncaknya saat saya berusaha bangkit dari keterpurukan saya di pertengahan tahun ini. Pada saat itu, di saat saya lagi down-downnya, saya berpikir bahwa satu-satunya yang bisa ngebantu saya cuma Allah. Dan cara untuk itu adalah dengan mendekatkan diri dengan Allah, salah satunya dengan ngaji lagi. Setelah itu saya langsung berusaha untuk bisa kembali ngaji lagi. Sayangnya saat itu saya masih ngerasa malu dan nggak pede mau cerita ke sahabat-sahabat saya di kampus. So, saya berusaha minta tolong ke link di alumni 68 aja.

Akhirnya langkah nyata pertama saya adalah dengan dateng ke SMA 68 lagi. Yah, kedatangan on purpose yang pertama kalinya setelah 2-3 tahun, yaitu untuk bermain futsal. Waktu itu kalo nggak salah hari kedua puasa, saya diundang Zulhanif dateng buat maen bola sambil nunggu buka puasa di 68. Saya putuskan untuk dateng, sekalian juga untuk mengembalikan kepercayaan diri saya untuk menghadapi dunia (saat itu adalah masih masa recovery saya). Nah, pas bermain futsal itu saya ketemu sama Ismud, mantan ketua rohis sebelum saya. Pas ngeliat saya datang, dia langsung bilang, “wah, ada Sidik…kemane aja ente??”. Sudah saya duga sih, hehe…*garuk-garuk kepala* Setelah selesai maen bola, saya ngobrol empat mata dengan dia, saya ceritakan masalah saya termasuk masalah kelulusan yang tertunda dan kondisi tarbiyah saya. Ismud berjanji untuk mencarikan abang dan kelompok untuk saya, dan akan ngasih kabar dalam 1 pekan.

Dan satu pekan pun telah berlalu. Nggak ada kabar dari Ismud, yang membuat tekad dan niat saya untuk ‘kembali’ sempat surut. Padahal waktu itu saya udah memproklamasikan diri untuk tidak menjadi Bang Thoyib. Oia, mungkin ada yang masih nggak ngeh yah. Bang Thoyib kan di lagu dangdut itu katanya udah 3 kali puasa 3 kali lebaran nggak pulang-pulang. Nah, kalo saya Ramadhan tahun ini masih belum ‘kembali’ juga, artinya saya sama aja sama Bang Thoyib, udah 3 kali puasa 3 kali lebaran nggak pulang-pulang (buat ngaji lagi). Gitu maksudnya. Namun, akhirnya saya terpaksa jadi Bang Thoyib juga karena sampai lebaran pun masih nggak ada kabar.

Tapi saya tetap nggak putus asa. Saat itu yang saya lakukan ada mempersiapkan diri untuk ngaji lagi, walaupun saya akui kadang masih suka ngaco juga kelakuannya (karena belum ngaji lagi). Harapan datang lagi diawali adanya sms dari Kak Pandu pada tanggal 5 September yang memberi tahu tentang pernikahannya yang akan dilakukan tanggal 17 September. Yang saya pikirkan saat itu hanya 2 hal: datang atau tidak datang. Nggak datang karena saya nggak pede ketemu lagi sama alumni-alumni rohis, setelah saya jadi anak hilang begitu lama. Tapi di lain sisi, saya harus datang karena ini kesempatan baik untuk bisa berhubungan lagi dengan teman-teman alumni rohis. Sekalian juga kesempatan buat saya untuk bisa ngaji lagi. Keputusan akhir: saya datang, Insya Allah!

Waktu berlalu, tibalah H-1 dari walimah Kak Pandu. Karena saya mencari teman untuk datang ke acara itu, saya akhirnya mengontak Sonny, sahabat saya yang sudah 3 tahun tidak saya hubungi (karena jadi anak hilang). Alhamdulillah penerimaannya baik dan kita janjian ketemu pas hari-H di paginya untuk ngasih tau tempat dan peta lokasi. Hari-H adalah tanggal 17, hari Sabtu, waktu yang sama dengan pelaksanaan Sabtu Pelangi di kampus saya. Awalnya saya berniat untuk ke kampus dulu dateng ke SabPel, baru kemudian datang ke walimahannya agak siangan dengan menggunakan motor. Setelah ketemu dan dikasih lihat petanya, saya langsung bingung, kuatir nggak nyampe ke lokasi alias nyasar muter-muter Bekasi :D. Setelah dipikir-pikir, akhirnya saya membatalkan niat saya ke Depok, dan motor saya titipkan di kampus UI Salemba. Kami ber-8 barengan naek kendaraan umum ke lokasi.

Singkat cerita, selama pelaksanaan walimah, saya banyak cerita saya Sonny tentang kondisi saya, sambil minta tolong untuk ngasih tahu Kak Pandu untuk mencarikan kelompok ngaji buat saya. Di acara itu juga saya akhirnya setelah 2 tahun lebih ketemu sama Kak Nalen, Kak Amar, dan yang lainnya. Senang rasanya seperti saudara yang udah lama nggak ketemu. Perjalanan juga overall seru dan asyik, dan bikin saya bisa kenal dengan calon teman-teman saya di kelompok saya selanjutnya (wah, spoiler! :D). Selain cerita-cerita sama Sonny, kita juga merencanakan untuk membuat Silaturahim Rohis 68 angkatan 2005 “Robbaniyyin”, setelah mungkin 4 tahun nggak pernah ngumpul-ngumpul. Sonny ngasih kepercayaan buat saya yang ngurus (wajar sih…bentuk pertanggungjawaban, hehe…) dan dengan senang hati saya terima, coz I love to organize event, apalagi acara yang bagus kayak gini.

Pulang dari acara walimahan, saya punya ekspektasi besar untuk bisa kembali dengan sukses. So, sejak Sabtu tanggal 17 itu saya nunggu kabar dari Sonny. Tapi emang Sonny nggak ngasih tau kalo dia ternyata udah bilang ke Kak Pandu. Eh, tau-tau yang datang adalah sms langsung dari bos-nya, haha…Tapi, sekali lagi ini Alhamdulillah banget karena ternyata prosesnya nggak ribet sama sekali, nggak perlu macem-macem langsung diajak ikut ngaji ke kelompok yang udah established. Padahal pada saat ini ‘level’ saya jelas ketinggalan jauh dibanding teman yang lainnya. Bayangkan seorang banyak pelari yang berlari bersama-sama. Di tengah jalan ada yang berhenti sebentar, ada yang berhenti lama, dan ada yang berhenti 3 TAHUN! entah sudah sejauh mana pelari yang terus melanjutkan larinya…

Dan akhirnya harapan saya kesampaian juga, ngaji lagi untuk pertama kalinya setelah 3 tahun lebih (yang tahun 2007 nggak saya hitung karena nggak dapet feel-nya :D). Wow! rasanya campur aduk banget deh…dari mulai excited, ragu-ragu, grogi, kaku, sampe sok nyantai, haha…Tapi semuanya hilang segera setelah ngaji dimulai dengan segala isinya…At that time, I knew that my decision was right! This is what I’m looking for…and thanks to Allah the Almighty, now I can have chance to improve myself via this ‘ngaji’ :D

Terima kasih Ya Allah untuk kesempatan yang entah yang keberapa kalinya. Terima kasih Kak Pandu yang dengan penuh keterbukaan menerima saya yang kembali menjadi ‘newbie’ lagi di dunia ngaji ini. Terima kasih buat Ismud dan Sonny yang membantu proses kembalinya saya. Terima kasih kepada kelompok terbaruku yang bersedia menerima saya gabung, semoga kita bisa jadi saudara selamanya ya. Terima kasih kepada diri saya sendiri yang nggak pernah berhenti untuk berusaha untuk kembali.

Dan sekarang, ini saatnya untuk mengejar ketertinggalan dan memperbaiki diri untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah dan lebih baik. Ganbatte kudasai!!

Epilog: Ini pertama kalinya saya menceritakan semua hal ini kepada umum. Sebelumnya saya menyimpannya untuk diri saya sendiri. Namun, kali ini saya berani mengungkapkan ini. Alasannya simpel, karena ini juga bagian dari perjalanan hidup saya yang nggak bisa saya hapus. Saya harus bisa melewatinya dengan elegan, dan bisa memaafkan diri saya sendiri. Setelah itu, saya baru bisa maju lagi tanpa harus terus-terusan dibayang-bayangi oleh hal yang lalu-lalu. Saya anggap semua yang saya ceritakan disini adalah pengalaman yang menjadi pelajaran bagi diri saya, dan juga untuk diambil hikmahnya. Satu insight/pelajaran/hikmah yang saya dapat dari semua ini, bahwa “Allah selalu punya solusi untuk setiap permasalahan hambanya, dan kita bisa menemukan solusi tersebut, asalkan kita punya niat dan tekad yang kuat, serta tidak berhenti untuk terus berusaha sampai berhasil menyelesaikan masalah tersebut.”

Oct 23

Senandung Hati Yang Sepi

Posted by sidicx

Prolog: yap…you’ve already knew…this is another old poet from my last old blog…

Senyap.
Gelap.
Tanpa senyummu.
Tanpa hadirmu.

Dingin.
Ingin.
Membunuh sepi.
Hadirkan hati.

Dirimu.
Wajahmu.
Menghuni hatiku.
Walaupun dahulu.

Raga.
Sukma.
Memanggil namamu.
Lantunkan senandungmu.

Syahdu.
Mengadu.
Kupanjatkan harapku.
Pasrah tertuju.

Kamu.
Aku.
Akankah satu?
Tanpa meragu.

Karya puisi terbaru saya. Dibikin hari Sabtu malam / malam Minggu tanggal 2 Februari 2008. Sebenarnya puisi ini dibilang ungkapan hati ya bener juga, tapi dibilang nggak juga bener juga. Ya pokoknya pas itu tau-tau bikin puisi ini dan langsung jadi. Nggak ada niat bikin buat siapa-siapa. Bikinnya ada nggak niat banget karena ditulis menjadi suatu SMS di hape kesayangan gw.

Makna dari puisi ini adalah ungkapan hati seorang pecinta atas kegagalan cintanya di masa lalu. Bisa dibilang dia masih mencintai seseorang dari masa lalu itu. Ia masih mengharapkan agar mereka bisa bersatu. Yang paling saya suka itu adalah bait terakhir dari puisi ini, seakan bener-bener menutup dan menyimpulkan dengan cantik.

Kamu.
Aku.
Akankah satu?
Tanpa meragu.

Hehehe…pokoknya selamat menikmati lah…

Oct 19

Melodi Hari Ini

Posted by sidicx

Prolog: Yak…another old poetry from my archives…gw suka klo nulis puisi tuh yang ada unsur-unsur keindahan alam dan ciptaan Allah SWT…kalo nggak salah puisi ini dibuat sekitar 2,5 tahun lalu…

Enjoy!

oleh: Mohamad Sidik

Ketika ku lihat semburat dari ufuk timur
Oh…indahnya hari ini, sayangku
Dan ketika ku pandang awan berarak riang
Ingin ku rangkai mereka membentuk wajahmu

Kicauan burung ramaikan suasana di hati
Alunan melodi indah karya Illahi
Bunga-bunga di taman pun tersenyum padaku
Teriring salam hantarkan kebahagiaan

Namun, Entah mengapa pagi ini tak indah lagi
Apakah yang terjadi pada hariku?
Cakrawala tersamar gelap kabut tanpa pelita
Alamku menggigil gemeretak gemetar hatinya

Mungkin ada keindahan yang akan pergi jauh
Tinggalkan diriku dalam penantian jiwa
Kapankah kau membawa kembali ceria
Dalam hatiku yang sedang dilanda gulana

Gulana tak terperi terasa berat di hati
Sampai hilang rasa dari sekumpulan nyawa
Entah bagaimana ku dapat kembali berdiri
Bangkit berlari mengejar mimpi-mimpi

Bawakan bintang ke atas langitku, sayangku
Hiasi dengan tawa sejukkan sudut sanubari
Biarkan diriku kembali hadirkan rindu
Tuk bersama dirimu sepanjang hari ini

Oct 16

Suratku Tuk Pelangi

Posted by sidicx

Prolog: Alhamdulillah gw bisa dapetin backup data dari blog gw sebelumnya, www.sidicx.com. Walaupun begitu, gw nggak akan meng-import semua postingan dulu-dulu ke blog baru ini. Gw akan memilih postingan-postingan yang mau gw post ulang. Sesuai dengan pesanan Leni yang minta gw posting ulang puisi-puisi, so ini puisi pertama yang gw posting ulang.

Enjoy!

***

Langit gelap
Awan bergumul
Petir bersahutan
Dan sendiri ku di sini

Ragaku basah
Hatiku resah
Imajiku tak berarah
Fikirku serba salah

Kuingin kau ada
Di sampingku, bersamaku
Usir mendung dalam benakku
Hangatkan jiwaku yang tlah lelah

Dimanakah engkau berada?
Ingin ku berlari menujumu
Agar hilang gemuruh dalam dada
Biar cerah duniaku

Kutahu kau ada
Kan kau bawa indah cahaya
Pengganti hitam di atas langit ku
Sinarmu kan sepanjang waktu

Wahai kau pelangi
Indahkanlah cakrawala hati
Bersama mentari pagi
Hantarkan pengharapan tuk memulai hari

.:. Special for pelangi: Kutunggu hadirmu di hidupku….

Oct 12

Assalamualaikum…

Postingan pertama nih setelah hello world, hehehe…

Insya Allah ke depannya gw (Mohamad Sidik aka sidicx) akan nge-blog di sini, udah nggak di www.sidicx.com lagi karena udah abis masa berlakunya…

Kenapa nggak diperpanjang?? setelah gw pikir-pikir, dan setelah ngeliat fakta bahwa selama 1 tahun ini gw jarang ngapdet blog, akhirnya gw memutuskan untuk menghentikan www.sidicx.com. Sayang kan udah bayar buat domain dan hostingan tapi nggak dimanfaatin. So, gw ngambil keputusan yang agak radikal ini.

Alasan lain adalah karena gw mulai ngerasa bosen, jenuh, dan jumud nge-blog. Itu juga salah satu alasan kenapa akhirnya www.sidicx.com jarang diapdet. Gw berharap, dengan pindahnya gw ke sini, semangat ngeblog dan berbagi inspirasi gw akan kembali lagi. Layaknya bayi yang baru belajar untuk berjalan, gw kembali menjadi “bayi” di Blogosphere ini…memulai dari awal lagi dengan semangat baru, semangat untuk menjadi lebih baik…

Jangan lupa yang diganti yang alamat blog gw yang udah ada di blogroll kalian…

Mari jadikan rumah baru ini nyaman untuk ditempati dan didatangi, hehe…

Wassalam…

May 4

Dua bulan yang lalu, seorang teman sekelas saya yang kuliah di NTU pergi meninggalkan dunia ini dengan tiba-tiba karena jatuh. Bulan lalu, giliran saudara mama saya yang pergi karena sakit yang merenggut tubuhnya di usianya yang ke-51. Hari ini, giliran saudara papa saya yang menghembuskan nafasnya yang terakhir, kembali karena penyakit, di usianya yang ke-23.

Saya seakan tersentak. Seorang demi seorang orang yang saya kenal meninggalkan dunia ini, dengan cara yang berbeda-beda, dengan usia yang berbeda-beda pula. Suka atau tidak, cepat atau lambat, saya pun akan mendapatkan giliran. Ketika saat itu terjadi, kira-kira apakah saya sudah siap? Apakah saya sudah cukup membahagiakan orang-orang di sekitar saya? Apakah orang-orang yang saya kenal akan menangisi kepergian saya? Pengaruh seperti apa yang telah saya buat di dunia ini? Apakah saya akan diingat orang karena hal positif yang saya buat, atau hal negatif yang saya lakukan sepanjang hidup ini? Kira-kira, sudah puaskah Tuhan melihat hidup saya?

Dua hari yang lalu, ketika saya naik bajaj, saya memberikan uang bayaran dua ribu Rupiah lebih daripada ongkos yang kami sepakati. Saya menghargai kerja keras dia, dan terutama karena satu hal, dia tidak merokok. Ketika begitu banyak abang bajaj yang merokok, dia mengambil keputusan untuk tidak ikut-ikutan, dan saya sangat menghargainya. Tapi, ada yang lebih penting daripada sekadar dua ribu Rupiah tersebut. Saya melihat dia tersenyum, dan berterima kasih. Oh, saya sungguh bahagia melihat senyum tersebut. Saya tidak menyangka saya akan mendapatkan senyumnya yang menurut saya jauh lebih berharga dari dua ribu Rupiah milik saya.

Kemarin, saya menonton sebuah acara di RCTI, “Uang Kaget”. Di sana, ada seorang ibu yang cacat, tetapi tetap bekerja menjadi buruh cuci dan tukang pijat dengan penghasilan Rp 200.000,- sebulan. Sungguh sangat memprihatinkan. Ketika dia didatangi RCTI jam 4 sore, dia belum makan dari pagi, karena ketidakmampuannya membeli makanan. Namun, meskipun ibu itu miskin, tetapi dia tidak pernah menyusahkan orang. Bayangkan betapa bahagianya dia ketika diberikan “uang kaget” 11 juta Rupiah. Ketika waktu belanja telah habis, ibu itu langsung melakukan sujud syukur di jalan. “Terima kasih Tuhan,” katanya. Bayangkanlah betapa bahagianya kita jika kita dapat menolong orang-orang yang membutuhkan kita.

Tadi sore, saya mengunjungi rumah saudara sepupu saya yang masih bayi. Saat itu, saya melihat betapa indahnya senyum seorang bayi, begitu damai dan polos. Senyum yang tulus. Ketika saya bermain “ciluk ba” dengannya, bagaimana dia bisa tertawa dengan tulus. Bagaimana matanya menyipit, mulutnya mengembang, dengan suara “ehehe” yang keluar dari mulutnya. Sungguh indah melihat senyum yang tulus.

Selama hidup ini, seberapa banyak senyum yang telah saya berikan kepada orang lain. Sebuah pepatah Irlandia berkata “Tuhan sudah memberikan kita sebuah wajah, senyum harus kita lakukan sendiri.” Jika senyum itu begitu membahagiakan, mengapa saya harus tidak tersenyum? Dan, ketika saya pergi meninggalkan dunia ini, berapa banyak senyum yang telah saya kembangkan di wajah orang-orang? Apakah Tuhan akan tersenyum ketika saya bertemu dengan-Nya nanti?

Tuhan hanya memberikan saya hidup satu kali. Jika saya masih hidup saat ini, itu kesempatan yang Tuhan berikan. Saya akan manfaatkan dengan baik. Saya tidak akan menunda-nunda lagi. Setiap kali saya akan menunda, saya akan kembali membaca tulisan saya ini. Ini adalah keputusan saya, tujuan saya hidup di dunia ini, untuk membahagiakan Tuhan dan orang-orang yang juga hidup di dunia ini, sejauh mungkin yang saya dapat lakukan. Saya harus bersemangat menghadapi hidup ini, karena hidup ini adalah kesempatan saya membahagiakan orang lain. Akan saya hargai hidup ini, mumpung belum terlambat…

Terima kasih Tuhan.

Ketika kita datang ke dunia ini, kita menangis dan orang di sekitar kita tertawa bahagia.

Ketika kita pergi meninggalkan dunia ini, sebaliknya yang terjadi, orang di sekitar kita menangis dan kita tertawa bahagia.

Jika suatu saat kamu pergi meninggalkan dunia ini, apakah kamu akan bahagia bertemu Allah di Sorga, atau menangis di tengah api?

Jika suatu saat kamu pergi meninggalkan dunia ini, apakah kamu ingin orang-orang menangisi kepergianmu, atau orang-orang tertawa karena kamu telah pergi?

Jika suatu saat kamu pergi meninggalkan dunia ini, apa yang kamu ingin untuk orang-orang ingat tentangmu?

Lakukanlah hal tersebut, sekarang juga, selagi Tuhan masih memberikanmu waktu untuk hidup di dunia ini, selagi semuanya masih belum terlambat…

Feb 19

Quo Vadis

Posted by Charles


Lentera Jiwa

Lama sudah kumencari, apa yang hendak kulakukan
S’gala titik kujelajahi, tiada satu pun ku mengerti
Tersesatkah aku di samudera hidupku?

Kata-kata yang kubaca, terkadang tak mudah kucerna
Bunga-bunga dan rerumputan, bilakah kau tahu jawabnya
Inikah jalanku? inikah takdirku?

Reff:
Kubiarkan ku mengikuti suara dalam hati
yang s’lalu membunyikan cinta
Kupercaya dan kuyakini murninya nurani menjadi penunjuk jalanku,
lentera jiwaku…

Semoga bulan depan sudah menemukan jawabannya, apa yang menjadi suara hati… :D

Feb 1

Wisuda Fasilkom UI

Posted by Charles


Sdri. Dyta Anggraeni, Sarjana Ilmu Komputer, dan Sdr. Charles Christian, Sarjana Ilmu Komputer, mewakili teman-temannya di Fakultas Ilmu Komputer.

Kira-kira begitulah panggilan MC saat memanggil wakil wisudawan/wisudawati Fasilkom untuk menerima penghargaan kelulusan oleh rektor saat wisuda program sarjana kemarin. Perasaan saya sungguh tidak terkatakan, antara senang, grogi, tidak percaya, bangga, terharu. Saat saya masuk ke Fasilkom, saya tidak pernah berpikir bahwa suatu saat saya akan mewakili teman-teman wisudawan dari fakultas saya, Fasilkom, apalagi mendapatkan predikat lulusan dengan IPK tertinggi dari Fasilkom. Namun, saat wisuda kemarin, hal yang tidak pernah saya pikirkan di awal itu terjadi! Saya menjadi wisudawan Fasilkom dengan IPK tertinggi, dan dapat menjadi salah satu kebanggan Fasilkom. Wow! Saya tidak percaya…

Bagaimana mungkin saya berharap hal tersebut? Selama duduk di bangku sekolah, saya tidak pernah mendapatkan juara. Jangankan juara pertama, bahkan sepuluh besar di kelas saja tidak pernah saya dapatkan. Padahal kelas saya rata-rata hanya berisi sekitar 30-an orang. Well, saya bukanlah siswa yang menonjol di sekolah saya, kalau tidak disebut sebagai siswa menengah ke bawah, yang sudah sangat bersyukur ketika mendapatkan nilai 60 untuk ulangan biologi.

Lalu, apa yang menyebabkan saya bisa meraih hal-hal yang besar di Fasilkom? Saya pun sempat merenungkannya, dan saya mendapatkan beberapa jawaban yang sangat mempengaruhi kesuksesan saya selama kuliah di Fasilkom.

  1. Mencintai apa yang saya pelajari. Saya akui, saya tidak suka biologi, dan itu sangat berpengaruh pada nilai-nilai biologi saya. Saya suka matematika, dan itu pun mempengaruhi nilai matematika saya. Inilah pentingnya memilih jurusan yang tepat untuk kuliah. Jangan memilih sesuatu yang tidak disukai, apalagi yang dipaksakan orang lain. Saya bersyukur saya bisa memilih jurusan yang tepat, yang sesuai dengan minat saya, yang saya sukai.
  2. Tekun. Ini adalah kata yang sering didengung-dengungkan tetapi sulit untuk dilaksanakan. Orang bisa tidak selalu karena kejeniusannya, tetapi karena ketekunannya di dalam mengerjakan hal tersebut. Ingat, bisa karena biasa. Jangan menyerah, terus mencoba dan berlatih, miliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan kerjakanlah dengan tekun.
  3. Melakukan yang terbaik dan serahkan pada Tuhan. Kadang-kadang, saya merasa saya tidak dapat lagi melakukan apa-apa yang baik. Tapi, meskipun begitu, saya tetap berusaha untuk melakukan yang terbaik semampu saya. Saya tidak pernah mengosongkan jawaban pada sebuah ujian. Meskipun tidak bisa, saya tidak menyerah dan tetap mengisinya sebaik yang saya bisa, yang meskipun jawabannya, well, salah total. Setelah melakukan yang terbaik, serahkan semuanya pada Tuhan. Manusia dapat berencana, tetapi tetap Tuhan yang menentukan. Yakinlah Tuhan memiliki rencana yang indah di balik setiap perkara yang kita temui.

Oke, terakhir saya ingin mengucapkan terima kasih kepada beberapa orang yang turut berjasa membentuk saya selama saya kuliah di Fasilkom UI.

  1. Tuhan Yesus. Just everything… Nothing less.
  2. Kedua orang tua saya, untuk semua biaya yang telah dikeluarkan, support secara materiil maupun moril, serta perhatian yang tiada hentinya.
  3. Dosen-dosen Fasilkom UI, untuk Pak Ruli, Pak Ari, Bu Bela, Pak Stef, Bu Ika, Bu Dina, Bu Dewi, Bu Aminah, Pak Yugo, Pak Nizar, Pak Ade, Pak Ibam, Pak Petrus, Pak Heru, Pak Indra, Pak Rifki, Bu Mirna, Pak Chan, Pak Didit, dan semua dosen lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
  4. Kuncung, teman-teman angkatan 2005. Kita harus tetap kompak.
  5. Teman-teman PO Fasilkom UI, termasuk empat AKK saya, Ias, Reynard, Obet, dan Budi.
  6. Teman-teman Fasilkom lainnya beserta alumni.
  7. Para janitor (Pak Wiryo, Pak Acep, Pak Komar, dkk.), staf sekretariat, staf perpustakaan, staf keuangan, satpam, dan seluruh staf Fasilkom UI yang lain.
  8. Teman-teman lain yang saya kenal, yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu.

Terima kasih semuanya. Tanpa kalian, saya tidak akan bisa menjadi saya yang ada saat ini. Semoga saya bisa memanfaatkan ilmu yang telah saya peroleh ini untuk kemajuan bangsa Indonesia. Amin. Selamat berjuang untuk kita semua! Terus berusaha sampai garis akhir. :D

~Uda kaya kata pengantar skripsi aja, haha…

Sep 2

Semester 7

Posted by Charles


Yeah, semester 7 telah dimulai… Semangat!

Semester ini saya mengambil 4 mata kuliah, 15 SKS:

  1. Kerja Praktik (3 SKS) — hmm, kerjanya sih sudah selesai. Tinggal menyelesaikan laporan dan sidang.
  2. Computer & Society (3 SKS) — kuliahnya pakai bahasa Inggris nih, keren juga, hehe. Kalau versi bahasa Indonesianya sih “Komputer & Masyarakat”.
  3. Metodologi Penelitian (3 SKS) — ketemu lagi dengan Bu Aniati di kuliah ini. Ini kuliah wajib, jadi harus diambil kalau mau lulus…
  4. Tugas Akhir (6 SKS) — nah, ini dia puncaknya. Tugas akhir alias skripsi. Sampai saat ini topik khususnya sih belum dapat, baru topik umumnya, sekitar NLP (Natural Language Processing), dengan dosen pembimbingnya Pak Ruli. Semoga bisa selesai semester ini… ^^
  5. Asisten Logic Programming (3 SKS) — yang ini dihitung ga ya? hehe…

Semester baru, semangat baru. Teman-teman semua juga semangat ya…

Watermelon!!! D

Aug 23

Today I am 21st years old. And this is my 100th post in this blog. So, there are 2 big milestones in my life today. Thanks God for everything He gave me, and for everything that happened in my life, for every happiness and every sorrow.

Now I want to thank all my friend that has given me a warm birthday greeting (esp. for the first one). That’s all such a precious things for me. My birthday will not complete without you. D

Moreover, there is a very good news today, on my birthday! My friend that lost yesterday has gone home today… That’s an early present for me, hearing my friend was OK.

And the last, there is one more milestone… What? Yeah, as what you should’ve realised. This is my first post in English. I guess there is some grammatical error in this post, but at least I’ve tried. One journey started with a small step, right? ;)

Being 21…
100th post…
1st post in English…

Once again, thanks God I’ve reached those milestones… D

Jun 27

My Life Recently

Posted by Charles


Akhirnya blog ini diupdate juga! Sebelumnya, saya mohon maaf kepada para pembaca setia blog ini, terutama yang akhir-akhir ini sering datang ke mari dan tidak menemukan tulisan baru. Sudah 11 hari berlalu sejak blog ini terakhir diupdate. Rasanya sebelumnya tidak pernah selama ini update blog (cuma kalah lama sama jarak postingan pertama dan postingan kedua saya di blog ini, ada yang tahu berapa lama jarak 2 postingan itu? hehe).

Kenapa blog ini lama tidak diupdate? Apakah karena saya tidak tahu apa yang mau ditulis? Tidak juga kok, sebenarnya banyak hal yang ingin saya tulis. Kadang ide-ide tulisan muncul begitu saja ketika saya sedang ada di jalan, sedang kerja, bahkan saat sedang BAB, haha… Tapi akhir-akhir ini saya lagi sangat sibuk dengan berbagai hal yang menjadi beban pikiran… Entah cuma saya yang merasakan atau ada blogger lain yang merasakan, rasanya ga enak menulis di blog di tengah banyaknya tugas dan beban pikiran yang belum terselesaikan. Rasanya ga enak aja… Apakah ada blogger yang mengalami sindrom serupa?

Well… Sekarang saya akan cerita sedikit tentang apa yang telah terjadi di kehidupan saya akhir-akhir ini…

Pertama, kuliah semester 6 telah berakhir. Yeah… Nilai-nilainya pun telah keluar. Menurut saya, nilainya sangat-sangat baik, karena di tengah semester 6 ini saya sempat merasa ini adalah semester terburuk saya sepanjang di Fasilkom. Padahal, semester ini saya mengambil SKS lebih sedikit dibandingkan semester-semester sebelumnya. Sebagai perbandingan, semester 6 ini saya mengambil 16 SKS dan saat semester 5 saya mengambil 24 SKS. Dari segi SKS memang jumlah SKS yang saya ambil lebih sedikit, tapi kadang jumlah SKS tidak mencerminkan beban kuliah… Contoh yang paling ekstrem adalah kuliah MPKT (sejenis pelajaran PPKn pas SMA) diberi bobot 6 SKS, sedangkan kuliah kerja praktik diberi bobot 3 SKS. Hmm… Yang paling membuat sibuk semester ini adalah banyaknya tugas kelompok yang berbentuk project sepanjang semester… Syukurlah semuanya sudah berakhir dengan baik.

Kedua, sekarang saya lagi kerja praktik. Sebenarnya belum mulai sih, karena belum ada persetujuan dari fakultas ==a Saya kerja di PT Charoen Pokphand Indonesia, di seberang Mangga Dua Square. Pertama-tama yang saya rasakan saat mulai kerja adalah, ternyata kerja itu cape dan lebih melelahkan dari kuliah (bingung juga sih, padahal cuma duduk di depan komputer aja dari jam 8 sampai jam 5 sore). Berikutnya yang saya rasakan adalah di tempat kerja saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar (kesalahan yang dibuat tidak hanya mengakibatkan pengurangan nilai, tapi juga memungkinkan kerugian perusahaan). Sekarang yang saya rasakan adalah jadi parasit kantor ==a… Kerjaan sudah disediakan sama kantor, tapi belum boleh dimulai karena dokumen KAKP (Kerangka Acuan KP) belum disetujui dosen pembimbing. Dengar-dengar dari teman-teman yang lain, rasanya banyak juga dari mereka yang menjadi “korban dokumen KAKP”, mengingat motto yang diusung oleh dosen pembimbing adalah: “Kerja praktik baru dapat dimulai setelah KAKP disetujui. Sebelum KAKP disetujui, kerja tidak dihitung.” Oh…

Ketiga, urusan gereja… Entah kenapa semakin hari masalah yang ada semakin banyak dan semakin kompleks. Banyak sekali yang melalaikan pelayanan. Semakin sedikit hati yang rindu untuk melayani dan yang cinta Tuhan dengan sepenuh hati. Saya tidak akan bicara banyak di sini. Saya hanya dapat berdoa dan mengandalkan Tuhan di tengah masa-masa sulit ini.

Keempat, tanggal 15 Juni kemarin saya (bergabung dengan 2 teman saya, Ricky dan Teddy, dalam tim RTC) ikut kompetisi ACM/ICPC Indonesia National Contest di Binus. Semacam kompetisi pemrograman gitu lah. Hasil akhirnya, kami berhasil solve 3 problem dan dapat peringkat 8… It should’ve been better… Kami hampir solve 4 problem, tapi problem terakhir gagal hanya karena salah menggunakan tipe data (seharusnya “long”, bukan “int”)… Seandainya kami solve 4, kami bisa peringkat 3. But well, setidaknya hasil ini sudah ada peningkatan dibandingkan tahun lalu.

Kelima, harddisk dan CD-ROM laptop saya rusak. Oh tidak… Akhirnya ganti harddisk (jadi 3x lipat lebih besar, hehe) dan sementara ga pake CD-ROM. Ternyata, setelah ganti harddisk dan install ulang Windows (asli), laptop saya yang tadinya lemot seolah mendapat tenaga baru yang luar biasa… Seolah beli laptop baru, semuanya masih full speed… hehe.

OK… Sekian dulu deh… Nanti kapan-kapan diupdate lagi… D

~barusan ada error, untung WP ada autosaved… Huahuahua…
~kok tampilan blog saya di IE 6 jadi jelek ya? Sidebarnya jadi di bawah gitu… hmm…

Apr 28

Ngapain aja hari ini?

Posted by Charles


Di kampus, jam 8 malam…

“Wah, kayaknya ga enak nih ngerjain tugas di kampus… Pulang ke kos ah, ngerjain di kos aja…”

Pulang dari kampus, makan malam, sesampainya di kos, jam setengah 10 malam…

“Hmm… baru jam setengah 10. Baca komik dulu ah, SMS-an, n’ baca-baca yang bisa dibaca…”

Di kos, jam setengah 12 malam…

“Wah, kok ngantuk ya? Tidur dulu deh… Kalo bikin tugas emang enaknya pagi-pagi, sebelum matahari terbit. Lebih seger…”

Alarm berbunyi, jam 5 pagi…

“Udah jam 5, tapi masih ngantuk, tidur setengah jam lagi deh…”

Setelah snooze alarm beberapa kali (sampai alarmnya nyerah dan mati sendiri), jam setengah 8 pagi…

“Waduh… Harus siap-siap ke kampus nih.”

Siap-siap ke kampus, pergi ke kampus, kuliah, selesai kuliah jam 10 pagi…

“Makan dulu ah… Sebelum bikin tugas.”

Waktu berlalu dengan cepat… Tiba-tiba saja sudah jam 1 siang…

“Udah harus kuliah lagi. Nanti ngerjain tugasnya abis kuliah deh…”

Selesai kuliah, ke lab, sore hari…

“Hm, mau bikin tugas ah. Tapi, browsing dulu deh sebentar…”

Buka blog, e-mail, meebo, dll… Tanpa sadar sudah jam 8 malam…

“Wah, kayaknya ga enak nih ngerjain tugas di kampus… Pulang ke kos ah, ngerjain di kos aja…”

Siklus itu cukup sering terjadi minggu ini… Pantes aja tugas pada ga selesai-selesai, malah makin banyak menumpuk… Hhh… Harus lebih menghargai waktu. Sangat sulit sebenarnya, banyak godaan… T.T

Siklus ini tak boleh terulang lagi… Hari ini adalah yang terakhir!

~semoga…

~harus lebih produktif… life is too precious to be filled with useless things, time is too precious to be wasted.

~Semangat! ^^

Oct 11

Tabungan dan Tanda Tangan

Posted by le_ni

Alhamdulillah, hari ini, saya senang banget!
Setelah cukup lama bermimpi punya tabungan sendiri dari hasil sendiri, akhirnya hari ini kesampaian juga.

Yup, ceritanya tadi pagi saya dan ibu langsung pergi ke Bank Syariah Mandiri dengan tujuan membuka rekening baru.
Saya memilih BSM karena "Lebih Adil dan Menetramkan".
Ha3x itu mah jargonnya dia yah..
Pokoknya tadi pagi saya dan ibu pergi ke kantor cabangnya di Cinere.
Dengan hati berbunga-bunga saya memasuki kantor BSM.
Yah, maklum lah.. saya cukup bangga akhirnya bisa punya tabungan sendiri dari hasil sendiri!
Rencananya sih tabungan yang ada di BSM ini nanti juga berfungsi sebagai modal usaha saya untuk bisnis berikutnya... Amiiinnn, ya Allah semoga lancar!
Disambut oleh senyuman ramah sang satpam, "Assalammu'alaikum bu.."
Saya langsung menuju ke Customer Service.
Seorang ibu berkerudung langsung menyambut saya dengan ramah.
Setelah mengutarakan niat untuk membuka rekening baru,
beliau langsung memberikan kertas data nasabah yang harus saya isi dan meminta fotokopi KTP saya.
Saya yang emang sudah niat banget, alhamdulillah, sudah menyiapkannya kopi-annya, jadi lebih mudah deh..
Nah.. setelah smua yang harus diisi sudah diisi, saya pun menandatangani form tersebut lalu menyerahkannya kepada sang ibu.
Beliau pun langsung men-cek semua data yang telah saya isi.
Membandingkan foto di KTP saya dengan wajah saya sendiri (jadi gak enak diliatin.. hoho)
Lalu.. membandingkan tandatangan saya yang ada di form dengan di KTP.
Hm..
Tapi, ternyata
"Mba, tanda tangannya kok beda yah sama di KTP?", tanya ibu tadi
"Hahh? Masa iya bu? Iya ya?..", saya sudah mulai gelisah..
"Emang suka beda ya mba tandatangannya?", ibu tersebut bertanya kembali.
"Iya sih bu.. Emang suka beda. Tandatangannya emang susah bu..", huhu jawaban yang rada dodol. Saya dah ketakutan banget tuh berhubung takut dikira saya sedang berusaha menyamar sebagai calon nasabah bernama Suci Lestarini.
Sehabis itu hening sebentar dan saya berusaha sok tenang sambil mengisi form berikutnya yang disodorkan oleh sang ibu. Dan herannya ibu itu juga diam saja. Tidak mempermasalahkan perihal tandatangan tersebut lebih lanjut.
Setelah selesai mengisi form yang terakhir, karena tidak tahan menahan gelisah di hati (hooo..), saya bertanya kembali pada sang ibu.
"Bu, lalu bagaimana? Kalo tandatangan saya beda-beda begitu?", ahhh ya setelah dibandingkan dengan di KTP ternyata tanda tangan saya memang agak berbeda. Hadduuh.. kok bisa ya?
"Oooh.. gapapa mba, mba tandatangan surat pernyataan beda tandatangan aja yah..", kata sang ibu sambil mengambil form satu lagi.
"Oohh.. gapapa bu? Alhamdulillah.. Makasih bu.."
"Iya.. gapapa. Memang ada orang yang tandatangannya suka beda-beda," jelas sang ibu lagi.
Hooooo saya berucap syukur dalam hati. Ha3x dan saya baru tau ternyata di bank ada kemudahan juga toh buat yang tandatangannya suka rada beda dengan versi aslinya seperti saya ini. Dan saya pun baru tahu ternyata tandatangan saya ini berbeda dengan yang ada di KTP. Dasar... leni, leni... Hahaha, gawat juga nih.

Akhirnya setelah semua urusan tanda tangan selesai, saya pun menyetorkan sejumlah uang yang telah saya bawa..

Hehe, alhamdulillah, sebuah urusan pun selesai.
Saya resmi terdaftar sebagai nasabah BSM.
Selanjutnya, harus lebih bersemangat lagi untuk meningkatkan saldo!
Dan, satu pengalaman pun telah saya kecap.
Makanya non, kalo mau buat tandatangan yang gampang aja atuh!
Tapi, saya jadi berpikir.. ah, emangnya gak ada tanda identifikasi yang lebih mudah dan aman ya, selain lewat tanda tangan?