Ramadhan comes to an end
Posted by nisaihsani
Here comes the last day. This Ramadhan has been much better than the one last year, but I can’t say I’m satisfied with my accomplishments either. I take this month like something of a refuge. Everytime I have this uneasy feeling in my stomach about the departure, I would curl under my blanket and think, “it’s still a long time to go, you don’t have to worry about that now”. But once Ramadhan ends, I think I should face the fact that it’s only a week before heading to a huge change of my life.
Anyway, let’s not worry about those things now. Lanjut pake Bahasa Indonesia aja ah, hehe.
Beberapa hari ini saya dan ibu saya membuat kue-kue Lebaran. Setiap tahun jenisnya selalu sama: kaastengel, nastar, dan chocolate chip cookies. Daaan, saya sangat hobi dengan yang terakhir.
Jadi kemarin adalah hari membuat chocolate chip cookies. Beginilah penampakan adonannya.
Dan setelah mateng, wangi sekali sodara-sodara. Berhubung saya lagi ga puasa, langsung nyicipin tiga buah, hehe. Tidak lama kemudian, datanglah sepupu-sepupu kecil dari rumah sebelah. Katanya wangi kuenya menyebar ke mana-mana, hihi. Mereka jadi pengen buka buat nyobain (yang tentunya langsung dilarang oleh saya dan ibu). Memang buat anak kecil, cookies cokelat yang baru matang sangatlah menggoda. Setelah diusir dan ga nurut, akhirnya mereka harus berpuas diri hanya dengan memandangi dan menghirup aroma kuenya.
Nah, berhubung cookies cokelat ini biasanya paling laku, ibu saya tadinya berencana membuat dalam empat adonan. Ternyata cokelat chipnya ga cukup, jadi minta tolong tetangga buat beliin tambahan cokelat di pasar. Sayangnya ga ada merk yang diinginkan, jadi ya sudahlah beli merk lain aja.
Ternyata di tengah jalan, terjadi percakapan yang mengubah segalanya.
Ibu (I): Ti, bikinnya tiga apa empat (adonan) nih jadinya?
Saya (S): (udah kecapean) tiga aja deh, kayanya udah banyak jadinya.
I: iya deh, Mama juga cape. Tapi cokelat chip dan kacang medenya jadi berlebih nih.
S: gabungin aja di adonan terakhir, kan makin banyak cokelat chip-nya jadi makin enak.
Akhirnya adonan terakhir penuh dengan cokelat chip dan kacang mede. Daaan, ternyata segala sesuatu yang berlebihan itu ga baik, sodara-sodara, hehe. Pertama, cokelat-merk-ga-jelas itu gampang banget lumer. Kedua, karena kabanyakan cokelat, kuenya jadi ga padu dan warnanya gelap banget. Hasilnya? Look at this:
Hihi, karena cokelat chip-nyanya lumer dan adonannya sendiri kurang mendominasi, kuenya jadi gepeng dan lunak. Eits, tapi itu ga gosong loh. Emang warnanya begitu gara-gara kebanyakan cokelat, hehe. Rasanya? it’s surprisingly good! Ternyata bener: makin banyak cokelat chip, makin enak.
Tapi yah, berhubung bentuknya ga memadai, jadinya cuma boleh dimakan sama keluarga aja. Buat tamu, penampakannya lebih bagus.
Overall dapet tujuh toples. Lumayanlah. Setelah cookies cokelat, lanjut ngisi ketupat. Sore itu diakhiri dengan mengisi kurang sedikit dari seratus kulit ketupat (belinya seratus, tapi ada beberapa yang kondisinya ga begitu bagus jadi ga dipake).
Nothing comes close to a perfect day but making cookies with your mother and listening to family old stories.
Learning from the history
Posted by akeminissa
kereta khusus wanita… horee
Posted by heningsept
a few things that happened lately
Posted by nisaihsani
Ya, saya malas sekali ngupdate blog ini selama bulan puasa. Pasalnya beberapa hari yang lalu saya sakit gigi, jadinya pusing dan males ngapa-ngapain, hehe. Jadi, hal-hal yang terjadi belakangan ini, apa saja ya…
- Saya akhirnya ganti sajadah. Sejak SMP saya selalu memakai sajadah ijo yang usianya lebih 30 tahun, sampai akhirnya orangtua saya nyuruh ganti dengan alasan sajadahnya sudah jelek. Yah, menurut saya sih kondisinya masih baik-baik saja. Tua tapi ga usang. Tapi saya ganti juga akhirnya dengan sajadah lebar tebal berwarna oranye bergambar masjid. Ternyata saya ga betah, sodara-sodara. Motif dan warnanya bikin pusing dan ga konsen. Akhirnya saya ganti lagi dengan sajadah lebar tebal polos berwarna biru keabu-abuan. Lumayan, meskipun rasanya ga senyaman sajadah ijo.
- Hadiah perpisahan buat nyokap akhirnya selesai, hore. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya bikin video slideshow foto aja deh (ga punya duit soalnya). Bongkar-bongkar album foto mulai dari bayi sampe lulus, lalu discan. Sekarang tinggal diburn ke dvd.
- Keberangkatan tinggal 3 minggu lagi. Udah ah, males ngomonginnya. Makin deket kok malah makin males mikirin ya, hehe.
- Saya menemui kesulitan memilih buku cerita yang akan dibawa. Satu, ga bisa memutuskan sebanyak apa yang akan dibawa. Dua, ga tau apa aja yang harus dibawa. Ya, memang sih saya punya 500an buku, tapi sejujurnya saya udah bosen sama semuanya. Pengen buku baru, tapi ga ada yang kelihatan cukup menarik (ga ada duit juga). Kandidat buku lama sejauh ini adalah Keluarga Penderwick, To Kill A Mockingbird, dan Surat Untuk Raja. Pengennya bawa buku Bahasa Indonesia aja. Kalo Bahasa Inggris mending beli baru di sana, hehe.
- I really need to start writing in English again. Let’s see, these days I barely listen, write (except short emails), or speak English anymore. Bah, mesti latihan membiasakan diri nih.
Apa lagi ya? Haduh memang ga banyak yang terjadi di kehidupan saya belakangan ini. Cuma menikmati hari dengan baca, tidur, dan buka puasa.
Cheer up !
Posted by akeminissa
Ramadhan in UM
Posted by akeminissa
?????? happy birthday
Posted by Anna
23 years old... I guess good things and bad things come together,,, happy birthday to me... now It seems I am getting old, wakakaka.. Sincerely Thank 'kYu' for many birthday wishes from all friends...hehehe...
ps: I write this just as a formality, honestly I don't care about my birthday...
when he’s sick, he got some sleep, and he’s still adorable
Posted by Anna
upacara bendera
Posted by nisaihsani
Biasanya yang jadi petugas upacara digilir per kelas. Inget banget dulu pas SD, Abang pernah jadi komandan upacara. Saya dari barisan peserta upacara dengan bangganya bilang ke temen-temen, "eh itu abang gua loh". Saya sendiri paling mentok jadi pembaca Janji Siswa. Pernah juga baca Dasa Darma Pramuka pas lagi upacara pramuka, wekeke.
Yang pasti saya ga pernah jadi pengerek bendera (eh, sebutannya itu bukan sih?). Dulu pernah disuruh latihan, tapi selalu bingung milih ujung-ujung bendera yang terlipat. Pas ditarik, benderanya jadi melintir. Ditambah lagi, berjalan kaki kanan tangan kiri - kaki kiri tangan kanan adalah tugas luar biasa sulit buat saya. Setelah beberapa langkah pasti jadinya kaki kanan tangan kanan - kaki kiri tangan kiri.
Belum lagi kalau lupa bawa topi pas hari Senin. Langsung deh sibuk nyari pinjeman. Atau kalau benderanya keburu sampai puncak tiang sebelum lagunya selesai. Hehe, kayanya seumur hidup ga bakal merasakan upacara bendera lagi nih.
gambar untuk ibu
Posted by nisaihsani
Yang pertama adalah (ceritanya) gambar tangan lagi nulis. Arsiran tangannya masih kurang rapi nih.
| 1 |
Yang kedua juga niru, karena saya nemu gambar siluet bunga bagus. Sayangnya ketika digambar ulang jadi ga terlihat terlalu bagus. Batangnya ketebelan.
![]() |
| 2 |
Kalau gambar ketiga terinspirasi dari cover To Kill A Mockingbird 50th Anniversary Edition (yaaa, saya beli, padahal udah punya terjemahannya, dan padahal duit udah hampir abis).
| 3 |
Yang ini juga hasil mencari inspirasi (baca, gambar ulang) dari beberapa gambar yang saya temukan, hehe.
| 4 |
Gambar yang ini, ampun deh, susah betul menggambar orang lagi mendongak.
| 5 |
Lampu jalan adalah salah satu benda yang paling saya sukai di bumi ini. Sayangnya gambar lautnya fail berat. Dan berhubung gambarnya pake pulpen, ga bisa di-undo. Males gambar ulang, hehe.
| 6 |
Nah kalau ada yang baca postingan ini, mohon komentarnya. Saya ngerasa gambar dan tulisannya masih kurang nyambung. Soalnya saya lebih dulu mutusin tulisannya, terus baru deh maksain disambung-sambungin sama gambar bagus yang saya temuin, hehe.
perihal lengan baju
Posted by nisaihsani
Mau komentar sedikit, hehe. Berdasarkan pengamatan saya, kok sepertinya semakin banyak wanita berjilbab yang memakai baju dengan lengan semakin pendek ya?
Awalnya, baju dengan lengan 3/4. Entahlah, mungkin karena dianggap tanggung, toh sudah mendekati lengan panjang, jadi ga usah pake manset lengan deh. Tapi lama kelamaan kebiasaan ini berlanjut untuk baju dengan lengan yang lebih pendek. Jaman sekarang wanita berjilbab dengan lengan baju cuma sampai siku sudah jadi pemandangan awam.
Hehe, emang ga biasanya yah saya komentar beginian. Sebagian karena saya sadar sebagai muslimah, cara berpakaian saya masih jauh dari sempurna. Tapi tapi tapi. Di jaman yang edan ini, bukankah dengan menggunakan jilbab berarti setidaknya kita sudah membuat awal yang baik? Lalu apa susahnya sih menyambung lengan baju sedikit supaya bisa menutup aurat dengan sempurna?
Buat saya sendiri, rasanya ga nyaman kalau memakai baju dengan lengan ga penuh (contohnya batik Tanah Abang langganan orangtua) tanpa memakai manset lengan lagi. Alasannya karena 1) ga rapi, 2) malu. Coba bayangkan, dari atas sudah tertutup, bawahnya juga, tapi lengannya terbuka. Ga rapi kan? Di samping itu, rasanya malu mempertontonkan bagian tubuh yang seharusnya tertutup.
Mungkin hal ini sepintas terlihat sederhana, tapi bagaimanapun, lengan kita kan termasuk aurat yang perlu ditutup. Manset lengan bisa didapat dengan harga sangat murah dan warna sangat beragam kok. Jadi, mari menutup lengan! *wekeke, apasih*
~hanya pendapat seseorang yang sedang berusaha menjadi muslimah sejati.
my brother in his childhood
Posted by nisaihsani
Antara Berpacaran & Menyegarkan Pernikahan (dari blog Renjay :))
Posted by heningsept
another Ramadhan coming
Posted by nisaihsani
bands are playing religious songs,
supermarkets are displaying stacks of nata de coco,
theaters are nearly empty from visitors,
weekends are reserved for buka puasa with friends.
Yey!
I myself see this Ramadhan a little differently. Somehow I get back all the enthusiasm and excitement. I'm in the beginning of several projects like finishing Quran and memorizing some longer surahs and of course trying to lose weight, too. Not very long after this holy month ends, I will leave home so I'm currently working on a secret project, too, hehe.
In Ramadhan we gain back that piece of togetherness that once was lost. We rush to the mosque to do shalat tarawih, we smile at each other and keep our temper low, we give to those who aren't as lucky. Happy fasting!
Harvest Moon
Posted by Meri
Tau Harvest Moon? Ga tau?

Itu lho RPG (Role Playing Game) yang kita jadi karakter petani yang punya pertanian. Saat awal, kita akan dibekali dengan sebuah kebun kosong terbengkalai, sebuah kandang sapi dan domba, kandang ayam, kandang kuda, kandang anjing (ini sih ga kepake), dan kolam ikan. Semuanya masih kosong melompong. Nah tantangan bagi pemainlah untuk mengembangkan pertaniannya jadi makmur sentosa dengan bekal uang 500 Gold.
Selain bertanam dan beternak, pemain juga bisa menambang logam mulia di dua buah tambang yaitu waterfall mine dan winter mine. Selain itu, pemain juga harus bersosialisasi dengan penduduk desa lainnya. Pemain juga bisa mengejar gadis yang disukainya lalu nikah dan punya anak, asyik kan
.Trus juga ada festival2 seru di Mineral Village tersebut seperti Swimming Festival (bleh, ini susah menanginnya, keburu kehabisan napas mulu), Cooking Festival, Thanksgiving Festival (para gadis ngasih hadiah coklat atau kue coklat tergantung tingkat kesukaannya terhadap karakter pemain), Horse Race Festival, Tomato Festival (main perang2an pake peluru tomat) dll. Permainan ini berlangsung selama 3 tahun, dimana masing2 tahun terdiri dari 4 musim (spring, summer, fall, winter). Setiap musim memiliki jenis tanaman yang berbeda, festival serta event yg berbeda. Di akhir tahun ketiga, karakter pemain akan dievaluasi keberhasilannya. Bila dianggap sukses, bisa memiliki pertanian itu dan sebaliknya bila gagal, harus pergi.
Oh, I love this game. Dulu pas SMA mainnya di PS, sekarang di komputer. Seru aja, mulai dari modal minim sampai udah punya hothouse (rumah kaca yang berarti udah sukses dan punya banyak duit). Permainan ini memang seru banget. Bertanam, menambang, menghadiri festival, mengejar wanita, memberi hadiah villagers yang ultah, trus event2 lainnya. Senengnya hati ini saat keluar rumah di pagi hari dan mendapati tanaman udah bisa dipanen. Juga saat duit udah cukup buat beli ayam atau sapi atau domba pertama
Namun, memasuki pertengahan tahun kedua, permainan mulai berjalan monoton. Karena biasanya pemain udah memiliki hampir semuanya seperti rumah dan kandang semua sudah diupgrade, hothouse udah ada. Sapi, domba, dan ayam udah maksimal, plus duit ga habis2. Dulu nyari duit supaya bisa beli bibit, beli ternak, upgrade rumah, atau beli hadiah buat hadiah ultah para villagers. Sekarang saat duit udah kebanyakan dan ga ada yang bisa diraih, main jadi kurang menggairahkan.
Itulah yang saya rasakan sekarang. Sekarang main sampe winter tahun kedua, but kerjaan cuma ngecek ternak dan nyiram tanaman di hothouse trus tidur. Lalu kenapa masih mau mainin? Karena saya belum nikah dan punya anak hehe
Harvest Moon lebih seru di saat2 berusaha, saat2 pemain bisa liat kemajuan yang diusahakannya dan bahagia karenanya, walaupun hanya sepetak terong yang panen hari itu.
Saya jadi kepikiran, hidup di dunia nyata juga gitu. Kalo kita udah punya semua yang kita inginkan, tak ada lagi yang bisa diraih, tak ada lagi gunung yang lebih tinggi untuk didaki, hidup akan terasa monoton, kurang menggairahkan.
Ada sepotong kisah di buku The Alchemist tentang seorang bapak yang membuka toko kristal di jalur yang dilalui orang-orang yang ingin ke Mekah untuk berhaji. Sengaja beliau membangun toko disana supaya bisa melihat orang-orang yang berangkat haji dan terbakarlah semangatnya untuk mengumpulkan uang berangkat haji. Oh, betapa dia ingin berangkat haji, berkumpul bersama saudara2 seiman yang mengagungkan AsmaNya, mencium Hajar Aswad dan beribadah di Masjid Haram (saya juga pueengen :’-( ). Akhirnya uang yang terkumpul cukup untuk berangkat haji, namun hatinya tiba2 diliputi keraguan. Berhaji selama ini adalah passion-nya yang terdalam, yang mendorongnya bangun pagi dan menggosok gelas2 kristalnya satu persatu hingga mengkilap untuk menarik hati pembeli. Namun, saat kesempatan itu sudah di depan mata, dia ragu. Dia takut. Dia takut bila dia sudah berhaji, sudah mendapatkan apa yang selama ini menjadi impiannya, dia sudah tidak punya semangat lagi untuk melanjutkan hidupnya dan bekerja. Berhaji selama ini adalah keinginan yang memantik semangatnya untuk hidup.
Sama halnya dengan Harvest Moon tadi. Saat saya sudah memiliki semua yang diinginkan dan duit ga abis2, jadi ga semangat. Buat apa lagi maen? So, syukuri apa yang kamu punya saat ini dan apa yang belum kamu punya, Mer. Lihat perkembangannya, kecil saja tak apa.
~ sebuah renungan di bulan Agustus 2010 yang istimewa karena 3 hal :1. bulan penuh berkah karena Ramadhan, 2. insya Allah kedatangan sang malaikat kecil serta 3. insya Allah tercapainya satu milestone dalam keluarga kecil ini. Amin. Alhamdulillah.
a few sketches
Posted by nisaihsani
And this is a picture of two people growing old together, in a typical Sunday afternoon with rays of sunshine and frames of memories.
And once in a while, they would go to the park and spend an evening there.
This one came when I reread the book Surat Untuk Raja, the part where Tuiri and Piak rode in Perbukitan Rembulan. Actually, I did not picture it like this. I imagined there would be hills with rocks and bushes of flowers and the moon would shine brightly. But it's so hard to color them all in a night shade, so I simplified the image like the picture below.
Since I was not familiar with horse, I had to look for a reference here. But you can see the rider is much too big for the horse. And the badly-shaped moon looks like a yellow cookie.
Some books have very good illustrations. I remember those in the beginning of each chapter in Harry Potter series (not in Bloomsbury editions though). I used to redraw Rita Skeeter, Durmstrang Ship, and the Hog's Head. I found this one from the book the Miraculous Journey of Edward Tulane (a very highly recommended book, if you're into touching stories and awesome illustrations). This is my sketch:
The shading was unbelievably hard! For the comparison, this one is the photo of the original illustration from the book.
Despite the results, I think I really enjoy drawing now.
Welcome Agust
Posted by FhiitriaChandra
Welcome Agust » welcome RamadhanMonth. Hope to become a full moon blessing from ??????? SWT. for?myFamily?.
???????... ???????... ??? ?? ??? ??????????????? .
Bicara Tentang Pernikahan
Posted by nisaihsani
![]() |
| http://farm4.static.flickr.com/3169/3106687515_83be05b75e.jpg |
Tenang, ini bukan undangan pernikahan XP
Belakangan ini keluarga saya agak disibukkan dengan rencana pernikahan salah satu kerabat dekat. Nah sejak saat itu kalau ikut orangtua ke suatu resepsi pernikahan, saya jadi hobi memantau catering (ini sih dari jaman dulu sebenernya), gedung, seragam panitia, dll.
Kalau ditanya beberapa bulan yang lalu mengenai impian pernikahan saya nantinya, mungkin jawabannya bisa ditemui di pernikahan tipikal di Jakarta. Yah tau sendiri lah, pernikahan di aula gedung, dengan catering enak berlimpah, undangan dan suvenir, panitia berseragam, dll.
Tapi... Saat menghadiri suatu resepsi pernikahan di auditorium PTIK beberapa saat yang lalu, suatu pemikiran datang ke kepala saya.
I could not help but notice how big the hall was and wonder if I have enough friends to come and fill it.
Sejak saat itu saya jadi banyak mikir dan berubah pikiran tentang pesta pernikahan dengan segala aspeknya.
Yang Diundang
Tidak bermaksud menyedihkan, tapi saya rasa teman saya tidak sebanyak itu. Anggaplah saya mengundang teman-teman SMA/kuliah/kerja lewat Facebook atau milis. Penuh sih penuh. Namun dari semua yang diundang itu, berapa banyak sih yang cukup peduli untuk kenal calon suami saya atau benar-benar tulus mendoakan rumah tangga yang sakinah, alih-alih cuma salaman dan bilang "selamat ya"? Sebagian besar bahkan ga saya kenal dengan baik, cuma teman sekelas waktu SMA yang ngobrol sesekali dan ga pernah saya temui lagi selama bertahun-tahun.Tempat
Okelah ga masalah sewa aula gedung kalau tamunya berlimpah, sekaligus nyediain tempat ngantri buat salaman. Tapi ditilik dari pembahasan di atas, seandainya saya memang berniat memotong jumlah undangan, tidakkah aula gedung terasa berlebihan? Sewanya mahal loh.Undangan dan suvenir
Dua hal ini biasanya memakan biaya cukup besar (terutama karena jumlah tamunya juga besar) tapi lalu terlupakan oleh si penerima. Yap, undangan bagus-bagus yang dirancang susah payah pada akhirnya tersingkirkan setelah menghafalkan peta lokasi. Setidaknya itulah yang terjadi di rumah saya, hehe. Paling cuma menghabiskan beberapa detik buat komentar, "Wah undangannya bagus nih" atau "Ini undangan jelek amat sih" tapi selain itu ya sudah ga dipedulikan lagi.Suvenir juga sering bernasib sama. Sering kali saya mendapatkan suvenir yang tipikal (kipas, mug dkk) atau malah ga memiliki fungsionalitas (misalnya pajangan, ih bete deh). Pada akhirnya benda-benda seperti itu malah terlupakan.
Foto pre-wedding
Nah saya sensi nih kalau ngomongin foto pre-wedding. Kalau ga salah dulu sempat beredar fatwa bahwa foto pre-wedding itu haram ya? Hehe, bukan itu sih alasan saya berantipati terhadap trend foto pre-wedding. Alasannya? Satu, mahal. Dua, ga ngerti maksudnya. Idenya mau mengabadikan momen romantis gitu kali ya. Tapi kenyataannya, momen romantis itulah yang berusaha diciptakan oleh si fotografer (dan biasanya ga dapet, keliatan kaya dua orang berpose agar tampak romantis), bukan karena memang momen itu ada dari sananya. Entah ya, mungkin karena belakangan ini saya beranggapan orang Indonesia kebanyakan berpose (efek-efek sensi ama anak gaul dan kamera DSLR, hihi). Dan para tamu yang ngeliat? Yaelah, paling ngelirik dikit, komentar dikit, terus lupa.Catering
Kalau untuk yang ini, saya ga punya keberatan terhadap trend pernikahan di Jakarta. Catering wajib enak dan beragam, hehe.Seragam Panitia
Nah, seragam panitia pihak pria dan wanita biasanya dibedain sedikit warnanya. Intinya sih, dikasih bahan kebaya lalu disuruh jahit sesuai selera masing-masing. Untuk beberapa keperluan mungkin ada yang sewa kebaya juga. Er, ini intinya cuma buat nunjukin yang mana keluarga pria, yang mana keluarga wanita, begitu bukan? Entahlah, buat saya kok rasanya agak berlebihan ya. Mulai dari milih bahannya, nentuin warna, nawar harga. Lalu untuk pihak yang dikasih: mikirin modelnya, ongkos jahit, nyari jilbabnya, dll.Kado buat mempelai a.k.a amplop duit
Kalau yang ini dari tamu untuk kedua mempelai. Kalau dilihat lagi, bukannya tujuan awal dari menyelenggarakan suatu pesta pernikahan adalah untuk berbagi kebahagiaan? Kalau begitu masa sih orang yang diundang untuk turut berbahagia malah harus membayar? Fyi, jaman sekarang kalo dateng tanpa amplop mending pulang lagi.Kesimpulannya
Bukan berarti saya anti terhadap tipe pesta pernikahan seperti itu loh ya (kecuali mungkin foto pre-wedding XP). Kesimpulan dari pembahasan di atas adalah:- Seandainya saya punya cukup uang, saya tidak ingin menghabiskannya untuk hal-hal seperti di atas.
- Seandainya orangtua saya/calon suami saya punya cukup uang, saya tidak ingin mereka menghabiskannya untuk hal-hal seperti di atas.
Sekali lagi, bukan berarti saya ga mau pernikahan saya diselenggarakan dengan cara seperti itu. Misalnya ada pihak yang berbaik hati mau ngasih duit, dan duitnya harus - ga boleh engga - digunakan untuk pesta pernikahan yang ramai dan meriah, ya saya mah oke-oke ajah, hehe (tapi nawar deh, ga pake foto pre-wedding).
Yang saya inginkan
Kalau bukan yang ramai dan meriah, lalu tipe pernikahan dong apa yang saya inginkan? Jujur ga tau, haha. Waktu lagi ngomongin rencana pernikahan kerabat saya pagi ini, saya bilang ke nyokap, "kalau saya nikah nanti, ga mau repot-repot kaya gini ah. Di KUA aja juga ga papah."Nyokap cuma ketawa.
Yang pasti sih kalau untuk saat ini, saya ga menginginkan pernikahan seperti itu. Kalau harus sekedar nikah di KUA, so be it. Tapi karena sebaiknya kita berbagi kebahagiaan, tetap perlu ada perayaannya dong. Pengennya hanya ngundang orang-orang terdekat aja, mereka yang benar-benar peduli untuk mengenal calon suami saya, yang masih akan menelepon untuk mengabari kalau mereka punya anak, yang masih akan menelepon untuk tahu kabar keluarga saya, dll. Ga perlu ada seragam panitia, ga perlu ada foto pre-wedding. Suvenir boleh tapi yang benar-benar berguna. Tamu dateng ga usah bayar. Hihi, apa sih.










