Natasha Bedingfield - Unwritten
Posted by aquaralpha
Bicara Tentang Pernikahan
Posted by nisaihsani
![]() |
| http://farm4.static.flickr.com/3169/3106687515_83be05b75e.jpg |
Tenang, ini bukan undangan pernikahan XP
Belakangan ini keluarga saya agak disibukkan dengan rencana pernikahan salah satu kerabat dekat. Nah sejak saat itu kalau ikut orangtua ke suatu resepsi pernikahan, saya jadi hobi memantau catering (ini sih dari jaman dulu sebenernya), gedung, seragam panitia, dll.
Kalau ditanya beberapa bulan yang lalu mengenai impian pernikahan saya nantinya, mungkin jawabannya bisa ditemui di pernikahan tipikal di Jakarta. Yah tau sendiri lah, pernikahan di aula gedung, dengan catering enak berlimpah, undangan dan suvenir, panitia berseragam, dll.
Tapi... Saat menghadiri suatu resepsi pernikahan di auditorium PTIK beberapa saat yang lalu, suatu pemikiran datang ke kepala saya.
I could not help but notice how big the hall was and wonder if I have enough friends to come and fill it.
Sejak saat itu saya jadi banyak mikir dan berubah pikiran tentang pesta pernikahan dengan segala aspeknya.
Undangan
Tidak bermaksud menyedihkan, tapi saya rasa teman saya tidak sebanyak itu. Anggaplah saya mengundang teman-teman SMA/kuliah/kerja lewat Facebook atau milis. Penuh sih penuh. Namun dari semua yang diundang itu, berapa banyak sih yang cukup peduli untuk kenal calon suami saya atau benar-benar tulus mendoakan rumah tangga yang sakinah, alih-alih cuma salaman dan bilang "selamat ya"? Sebagian besar bahkan ga saya kenal dengan baik, cuma teman sekelas waktu SMA yang ngobrol sesekali dan ga pernah saya temui lagi selama bertahun-tahun.Tempat
Okelah ga masalah sewa aula gedung kalau tamunya berlimpah, sekaligus nyediain tempat ngantri buat salaman. Tapi ditilik dari pembahasan di atas, seandainya saya memang berniat memotong jumlah undangan, tidakkah aula gedung terasa berlebihan? Sewanya mahal loh.Undangan dan suvenir
Dua hal ini biasanya memakan biaya cukup besar (terutama karena jumlah tamunya juga besar) tapi lalu terlupakan oleh si penerima. Yap, undangan bagus-bagus yang dirancang susah payah pada akhirnya tersingkirkan setelah menghafalkan peta lokasi. Setidaknya itulah yang terjadi di rumah saya, hehe. Paling cuma menghabiskan beberapa detik buat komentar, "Wah undangannya bagus nih" atau "Ini undangan jelek amat sih" tapi selain itu ya sudah ga dipedulikan lagi.Suvenir juga sering bernasib sama. Sering kali saya mendapatkan suvenir yang tipikal (kipas, mug dkk) atau malah ga memiliki fungsionalitas (misalnya pajangan, ih bete deh). Pada akhirnya benda-benda seperti itu malah terlupakan.
Foto pre-wedding
Nah saya sensi nih kalau ngomongin foto pre-wedding. Kalau ga salah dulu sempat beredar fatwa bahwa foto pre-wedding itu haram ya? Hehe, bukan itu sih alasan saya berantipati terhadap trend foto pre-wedding. Alasannya? Satu, mahal. Dua, ga ngerti maksudnya. Idenya mau mengabadikan momen romantis gitu kali ya. Tapi kenyataannya, momen romantis itulah yang berusaha diciptakan oleh si fotografer (dan biasanya ga dapet, keliatan kaya dua orang berpose agar tampak romantis), bukan karena memang momen itu ada dari sananya. Entah ya, mungkin karena belakangan ini saya beranggapan orang Indonesia kebanyakan berpose (efek-efek sensi ama anak gaul dan kamera DSLR, hihi). Dan para tamu yang ngeliat? Yaelah, paling ngelirik dikit, komentar dikit, terus lupa.Catering
Kalau untuk yang ini, saya ga punya keberatan terhadap trend pernikahan di Jakarta. Catering wajib enak dan beragam, hehe.Seragam Panitia
Nah, seragam panitia pihak pria dan wanita biasanya dibedain sedikit warnanya. Intinya sih, dikasih bahan kebaya lalu disuruh jahit sesuai selera masing-masing. Untuk beberapa keperluan mungkin ada yang sewa kebaya juga. Er, ini intinya cuma buat nunjukin yang mana keluarga pria, yang mana keluarga wanita, begitu bukan? Entahlah, buat saya kok rasanya agak berlebihan ya. Mulai dari milih bahannya, nentuin warna, nawar harga. Lalu untuk pihak yang dikasih: mikirin modelnya, ongkos jahit, nyari jilbabnya, dll.Kado buat mempelai a.k.a amplop duit
Kalau yang ini dari tamu untuk kedua mempelai. Kalau dilihat lagi, bukannya tujuan awal dari menyelenggarakan suatu pesta pernikahan adalah untuk berbagi kebahagiaan? Kalau begitu masa sih orang yang diundang untuk turut berbahagia malah harus membayar? Fyi, jaman sekarang kalo dateng tanpa amplop mending pulang lagi.Kesimpulannya
Bukan berarti saya anti terhadap tipe pesta pernikahan seperti itu loh ya (kecuali mungkin foto pre-wedding XP). Kesimpulan dari pembahasan di atas adalah:- Seandainya saya punya cukup uang, saya tidak ingin menghabiskannya untuk hal-hal seperti di atas.
- Seandainya orangtua saya/calon suami saya punya cukup uang, saya tidak ingin mereka menghabiskannya untuk hal-hal seperti di atas.
Sekali lagi, bukan berarti saya ga mau pernikahan saya diselenggarakan dengan cara seperti itu. Misalnya ada pihak yang berbaik hati mau ngasih duit, dan duitnya harus - ga boleh engga - digunakan untuk pesta pernikahan yang ramai dan meriah, ya saya mah oke-oke ajah, hehe (tapi nawar deh, ga pake foto pre-wedding).
Yang saya inginkan
Kalau bukan yang ramai dan meriah, lalu tipe pernikahan dong apa yang saya inginkan? Jujur ga tau, haha. Waktu lagi ngomongin rencana pernikahan kerabat saya pagi ini, saya bilang ke nyokap, "kalau saya nikah nanti, ga mau repot-repot kaya gini ah. Di KUA aja juga ga papah."Nyokap cuma ketawa.
Yang pasti sih kalau untuk saat ini, saya ga menginginkan pernikahan seperti itu. Kalau harus sekedar nikah di KUA, so be it. Tapi karena sebaiknya kita berbagi kebahagiaan, tetap perlu ada perayaannya dong. Pengennya hanya ngundang orang-orang terdekat aja, mereka yang benar-benar peduli untuk mengenal calon suami saya, yang masih akan menelepon untuk mengabari kalau mereka punya anak, yang masih akan menelepon untuk tahu kabar keluarga saya, dll. Ga perlu ada seragam panitia, ga perlu ada foto pre-wedding. Suvenir boleh tapi yang benar-benar berguna. Tamu dateng ga usah bayar. Hihi, apa sih.
[MOU-5] Horeee… Semester Baru!!
Posted by heningsept
latar belakangnya
Posted by nisaihsani
I have been meaning to write this a long time ago, but there's always something that stops me and makes me wonder if this is really happening to me.
When I decided to apply for a Master's course, I said to myself: I will write this in my blog later, if I get accepted at the course.
But when I received the email informing that I was in the main list of the Master's program, I told myself again: later, if they tell me that I get the scholarship too.
When I did receive the official acceptance email: later, when I get the official acceptance letter.
When the letter arrived at my door (actually, my father had to pick it at the South Jakarta post office, because Pos Indonesia were really unreliable): later, if I manage to get my visa done.
But now my visa is done (YEY! I will write a separate post about it), I guess I do not have other reason to procrastinate.
I have mentioned here several times that I become one of Erasmus Mundus awardee 2010. While others congratulated me and asked so many things about the program, the scholarship, the preparation for applying, study sites, how I plan to do long distance relationship (duh) and so on, I myself still could not fully believe that I would actually leave, until I receive my passport today, with a visa in it.
Starting from beginning. I guess I'm not a person who used to dream of studying abroad. I live my life one day at a time. All those years nothing motivates me to study abroad. Maybe because the idea sounds too high and unfamiliar to me. In the EM pre-departure briefing yesterday we heard the representative of awardees gave a speech of how her grandfather motivated her (and the name of B.J Habibie was mentioned twice in two different speeches XP). Well, don't expect me to have a similar story.
If you ask me now, I still don't know what really encourages me to apply for the Master's course in Europe (I mean, it's Europe, who does not want to go there?). The first time I heard about Erasmus Mundus was during my internship at IBM. My supervisor there was an EMCL student. You can see her video here. CL stands for Computational Logic, which is one of the few fields I like in computer science. But back then, I still thought it was too high of a goal for me.
So I lived my days as usual, I read books and attended classes. I wrote my Bachelor thesis and graduated. And the next thing I knew, I said to everyone I would look for a scholarship, hehe.
Well,
perhaps all those years I thought I was so ignorant about my future plans, it's not really that way.
Perhaps every little thing I heard in the class: my lecturer's experience abroad, my passion for math and logic, every adventure I read in fantasy and children books, brought me closer to wanting this.
Perhaps it does not come like a sudden resolution,
but it crept quietly to you, until came a time when you realized that you had it all those times.
But there had to be a change in plan. EMCL this year is not funded by Erasmus Mundus scholarship, so I began to look at other programs. At the same time, my lecturer, which was also my employer that time, gave me this book and told me to do a related research. During that short time, I decided that I like natural language processing and then applied for the LCT Master's Course.
We can apply for 3 EMMC, but I was not so sure if there was any other program I like more than EMCL (except LCT, and I intended to try EMCL with other scholarship), so I only apply for LCT. And Thank God, I got accepted.
Now I am 2 months from my departure. Wish me luck.
starting a new chapter in my life
Posted by akeminissa
Seorang Anak Bimbingan Yang Menjadi Berkat Untuk Saya (1)
Posted by Charles
Sebuah Berita Mengejutkan Di Pagi Hari
“Ko, kayanya nanti saya ga kaer (kebaktian remaja) dan pembinaan deh… Rumah saya kebakaran!”
SMS itu masuk ke dalam inbox handphone saya pada hari Minggu kemarin, 25 Juli 2010 Pk 03:21 dini hari. Pengirimnya? Kurniawan, seorang anak bimbingan saya di gereja.
Saya baru membaca SMS itu ketika saya bangun jam setengah 6 pagi. Hampir saja saya menjatuhkan handphone saya saat membacanya. Saya langsung mencoba menghubungi dia.
Sia-sia. Handphone-nya tidak aktif. Saya malah menjadi bertambah khawatir. “Oh Tuhan, apa yang terjadi dengannya?”
Saya sungguh bergumul saat itu. Pagi itu, saya ada janji pergi dengan teman saya. Tapi, saya tidak akan mungkin dapat meninggalkan anak bimbingan saya dalam keadaan yang belum jelas dan sangat membuat saya khawatir. (Sebenarnya saya malu mengakui bahwa awalnya saya masih ragu-ragu untuk membantu anak bimbingan saya sendiri, tapi saya ingin bercerita dengan jujur). Kebingungan saya terjawab beberapa menit kemudian di kamar mandi saya.
Saya sedang mandi ketika saya bertanya kepada Tuhan di dalam hati saya, “Tuhan? Apa yang harus saya lakukan?” Dan saya percaya, Tuhan menjawabnya ketika ada sebuah suara yang saya rasakan sangat jelas di dalam hati saya: “Datanglah ke sana…”.
“Tapi Tuhan, apa yang bisa saya lakukan di sana?” Saya tidak pernah membantu orang yang mengalami musibah kebakaran sebelumnya. Meskipun di satu sisi saya sangat ingin membantu, di sisi lain saya merasa bingung dan tidak nyaman.
Semua keraguan saya sirna ketika suara itu bergema lagi di dalam hati saya: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.”
Singkat cerita, akhirnya saya membatalkan janji dengan teman saya. Dan saya pergi, ke lokasi kebakaran itu. Saat itu, saya sama sekali tidak tahu, bahwa Tuhan akan memberi saya berkat yang melimpah di sana.
Datang Ke Lokasi Kebakaran
Rumah Kurniawan, anak bimbingan saya tersebut, ada di daerah Tambora. Di sepanjang perjalanan, saya berdoa untuk keselamatan Kurniawan.
Saya pun sampai di depan gang dekat rel kereta api Bandengan. Saya melihat beberapa mobil pemadam kebakaran berjejer, dan banyak orang berkerumun. Saya mencoba untuk masuk ke dalam gang.
Saya melihat rumah-rumah yang berdempet-dempetan sepanjang gang itu. Saya melihat banyak orang berkerumun. Setelah saya agak jauh masuk ke dalam gang, saya mulai melihat rumah-rumah yang sudah hangus terbakar.
Saya masuk ke dalam gang rumah anak bimbingan saya. Saya tidak dapat sampai ke depan rumahnya. Petugas pemadam sedang sibuk menyemprotkan air ke rumah-rumah tersebut (yang sebenarnya sudah lebih mirip kumpulan tembok-tembok saat itu).
Saya sungguh terkejut. Saya tidak mengira kebakarannya sebesar ini. Meskipun saat itu api sudah berhasil dipadamkan, tetapi para petugas masih terus menyemprotkan air. Puluhan rumah habis terbakar si jago merah.
Sementara itu, saya masih mencari Kurniawan. Ya! Kurniawan… Di mana dia? Saya pun berusaha mencari di tengah kerumunan orang. Saat itulah, saya menyaksikan pemandangan di luar dugaan saya.
Sebuah Pemandangan Di Luar Dugaan
Apa yang Anda harapkan ketika Anda melihat seseorang yang rumahnya baru saja habis terbakar? Seorang yang sedang menangis tersedu-sedu? Seorang yang marah-marah? Seorang yang depresi? Seorang yang menunjuk orang lain dan berkata: “Ini semua salah kamu!!!”
Kawan, tidak satu pun dari orang-orang di atas yang saya temukan. Seberapa hebat pun saya mencari saat itu, tidak satu orang pun yang saya temukan menangis, marah-marah, depresi, atau saling menyalahkan. Setidaknya, sejauh yang saya lihat saat itu, saya tidak menemukannya.
Lalu, orang seperti apa yang saya temukan?
Yang saya temukan adalah orang yang sedang membeli banyak roti untuk tetangga-tetangganya, yang juga mengalami musibah.
Yang saya temukan adalah orang-orang yang saling membantu satu sama lain. Yang satu mengambil air. Yang lain menenteng ember. Yang lain lagi sedang menyiramkan isi ember itu ke sisa-sisa api.
Yang saya temukan adalah dua orang yang berpapasan. Yang seorang bertanya, “Hai… Gimana rumahmu?”. Dengan senyum terukir di wajahnya, yang lain menjawab, “Rumah habis semua. Tapi untung anak-anak selamat semua. Kamu bagaimana?”. Tersenyum juga, dia menjawab, “Sama. Tak ada yang tersisa, tapi keluarga aman.”
Hei, apakah tidak salah!? Mereka baru saja kehilangan rumah mereka, dan mereka dapat tersenyum begitu lepasnya. Mereka bahkan masih saling memperhatikan satu sama lain. Jika saya ada di posisi mereka, dapatkah saya melakukan hal yang sama? Suatu hal yang masih saya ragukan.
Saya yang awalnya berniat membantu, hanya bisa terdiam menyaksikan semua hal yang luar biasa tersebut. Saya merasakan aura positif di tengah kekacauan akibat kebakaran. Saya melihat begitu banyak orang yang luar biasa. Tidak terkecuali anak bimbingan saya.
Respon yang Luar Biasa
Saya masih terdiam ketika dia menepuk bahu saya.
“Hai koko!” sapaan yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Sapaan anak bimbingan saya. Kurniawan menghampiri saya.
“Hai Kur… Koko cari kamu dari tadi. Gimana rumah kamu?”
Tidak ada kesedihan yang terlihat di wajahnya. Hanya senyuman yang biasa dia tunjukkan. Dia menjawab, “Wah… Abis semua ko. Rumah saya uda jadi kaya lapangan bola…”
“Hah? Abis semua Kur?” saya terkejut.
“Iya. Baju aja tinggal yang saya pake sekarang. Cuma sempet ngeluarin motor dan sedikit baju dede saya.”
Oh Tuhan… Apa yang Engkau ingin nyatakan pada Kurniawan? Saya teringat, baru saja sehari sebelumnya kaki Kurniawan tertusuk paku. Dan hari itu, seharusnya dia mengikuti pertandingan basket. Pertandingan final. Baru juga sehari sebelumnya, dia membeli sepatu untuk dia pakai di pertandingan itu. Tapi sepatu itu lenyap dalam beberapa jam, tanpa sempat dipakai olehnya. Baru pula sehari sebelumnya, dia membantu kokonya bekerja seharian. Siapa yang menyangka, sekarang peralatan kerja kokonya pun sudah habis terbakar, di saat sebenarnya pekerjaan itu masih harus dilanjutkan hari itu.
Saya percaya, Tuhan ada rencana yang indah pada Kurniawan. Tapi, saat itu, segalanya terlihat begitu gelap. Ibarat orang yang sudah jatuh, tertimpa tangga, dan tertiban balok pula.
Tapi, respon Kurniawan menghadapi semua ujian ini sungguh baik. Tidak. Lebih dari baik, ini luar biasa! Kurniawan meresponi semua musibah ini dengan begitu positif. Dia meresponi dengan keyakinan Tuhan masih menyertainya sampai detik ini, meskipun dia sedang mengalami musibah yang hebat.
“Mama dan yang lain gimana Kur?” saya bertanya lagi.
“Puji Tuhan semua selamat ko. Saya barusan disuruh jaga motor sih, tapi sudah saya kunci. Koko mau lihat rumah saya?”
“Ga pa pa Kur motornya ditinggal?”
“Ga pa pa ko, aman… Uda saya kunci.” kata Kurniawan. Senyumnya masih terus terukir. Dan saya pun diantar ke gang rumahnya. Saya tidak dapat melihat dengan jelas saat itu, karena saya hanya melihat dari jauh. Petugas pemadam masih sibuk bekerja. Akhirnya, Kurniawan membawa saya bertemu mama dan adiknya.
Seperti orang-orang yang lain, mama Kurniawan pun tidak menunjukkan tanda-tanda kesedihan. Hei, saya tahu mereka semua sedang sedih. Tapi, mereka memilih untuk tidak memfokuskan diri mereka pada kesedihan mereka, melainkan pada hal-hal yang dapat mereka selamatkan, keluarga mereka. Dan itulah yang luar biasa.
Mama Kurniawan bercerita, “Kur tadi hebat loh, dia ingetin saya buat lepasin gas. Biar ga meledak katanya. Oh iya ya… Saya saja tidak ingat. Lalu saya lepasin gas. Abis itu langsung mati lampu. Dan ga berapa lama api udah nyamber. Tapi tabung gas itu selamat.”
“Ah, tapi sama aja ko… Yang lain ga lepasin gasnya, jadi meledak juga dari rumah yang lain ko… Hehehe.” kata Kurniawan sambil tertawa, membuat orang-orang di sekitarnya juga tertawa kecil.
“Tadi ribut-ribut saya kira ada tawuran… Jadi saya diemin aja. Terus saya kaget Kurniawan bilang kebakaran. Jadi saya baru bangun, untung semuanya bisa bangun dan selamat akhirnya…” mama Kurniawan cerita lagi.
“Hmm, ada korban jiwa ga ya di kebakaran ini?” saya bertanya lagi, penasaran.
“Tadi hampir ada ko… Kakek-kakek yang uda agak tuli. Digedor-gedor tetep ga bangun. Akhirnya pintunya didobrak, dan dia baru bisa dibangunin. Wah, kalo ga, uda jadi daging panggang ko…” kata Kurniawan.
Wow! Di tengah kepanikan, mereka masih ingat pada seorang kakek-kakek tua yang hampir tuli, yang hidup sendirian di dalam rumahnya yang terkunci. Mereka bahkan mendobrak pintu untuk menyelamatkan sang kakek. Mereka tidak berpikir keselamatan diri mereka sendiri saja, tapi juga keselamatan orang di sekitar mereka.
Api boleh membakar barang-barang mereka. Tapi mereka tetap bergembira karena mereka berhasil menyelamatkan setiap nyawa. Api tidak dapat membakar cinta kasih yang ada di dalam hati mereka.
Ingin Membantu, Malah Dibantu
Mau tahu akhir kisah yang tragis namun luar biasa pagi itu? Kurniawan mengantarkan saya pulang dengan motornya. Oh, saya mau menangis di perjalanan.
Diantar pulang naik motor mungkin sebuah hal yang biasa. Diantar pulang naik motor oleh seorang anak bimbingan yang rumahnya baru saja terbakar habis. Rasanya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Saya tahu, Kurniawan akan berkata “Ah, koko lebay…” ketika membaca tulisan ini. Tidak Kur, ini tidak lebay. Sungguh itu yang koko rasakan…
Tidak sekali pun terdengar keluhan. Tidak sekali pun terlontar makian. Tidak sekali pun dia meminta bantuan. Kenyataannya, justru sayalah yang dibantu. Saya benar-benar tidak membantunya pagi itu. Dia membantu saya dengan mengantarkan saya pulang.
Saya teringat kata-kata Tuhan tadi pagi: “Datanglah ke sana… Aku ingin menunjukkan sesuatu yang besar kepadamu.” Ini benar sekali. Tuhan ingin menunjukkan kepada saya seorang anak bimbingan saya yang sungguh luar biasa.
Tentunya, karena dia memiliki Tuhan yang luar biasa juga, yang telah mengubahkan hidupnya. Dan saya sangat bersyukur untuk semua itu.
Sungguh banyak berkat yang saya dapatkan, sehingga saya harus memecah tulisan ini menjadi beberapa bagian. Siang itu, saya datang lagi menemui Kurniawan, kali ini dengan teman-teman yang lain. Tapi ini cerita yang lain lagi, dengan berkat yang berbeda lagi yang saya dapatkan.
Apa yang Saya Pelajari
Lalu, apa yang saya pelajari pagi itu? Saya belajar untuk tidak egois, dan lebih memperhatikan orang lain. Saya belajar untuk mengandalkan Tuhan dan bersyukur senantiasa. Saya belajar untuk meresponi hal-hal buruk yang terjadi dengan sikap yang positif.
Tuhan yang mengajarkan itu kepada saya. Melalui anak bimbingan saya yang luar biasa.
Terima kasih Tuhan. Terima kasih Kurniawan.
Percayalah, Tuhan menyertaimu sampai kepada akhir zaman.
Teruslah percaya kepada-Nya.
Charles Christian
P.S. Yeremia 29:11. Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Bersambung…
TujuBulanan
Posted by FhiitriaChandra
Sebentar lagi memasuki bulan puasa sangat sedih gak bisa puasa full kayaknya karena hamil, tapi saat seperti ini sangat bahagia ya Allah. Dekat suami puasa bareng dan menunggu saat-saat kehadiran buah hati ^-^ kami.. Sungguh luar biasa kuasamu dan kebahagiaan yang engkau berikan kepada keluarga kecil kami ya Allah. Mudah"an semua bisa berjalan lancar sampai waktunya aku bisa melahirkan dan ditemani oleh suami. Lindungi kami selalu Ya Allah sehatkan calon bayi kami dan sempurnakanlah kebahagiaan dikeluarga kecil kami. Amiin..
Gak sabar bealnja-belanja barang baby dan masih mencari nama-nama yg bisa bahagia dunia dan akhirat kelak anak kami. ;D
love baby&ayah
Buku-buku jelek
Posted by nisaihsani
Beberapa hari yang lalu saya mengatur ulang buku-buku saya. Nah, keremu lagi deh sama buku-buku jaman dulu banget. Kloter awal pembelian buku deh pokoknya, hehe.
Salah satu yang kondisinya menyedihkan adalah Goosebumps #27: Semalam di Menara Teror. Covernya udah copot, baik yang depan maupun belakang. Beginilah penampakannya.
Hihi, di lembar belakang ada kupon buat dapetin poster menyala dalam gelap. Kalau saya kirim sekarang masih ada di GPU ga ya posternya? Hehe.
Kalau yang ini salah satu buku kesayangan saya: Semester Pertama di Malory Towers. Bahkan, buku inilah yang pertama kali bikin saya hobi banget baca.
Penampakannya jadi lebih baik setelah diberi sampul plastik, tapi bekas-bekas perjuangannya masih ada. Ada lembar-lembar yang nyaris terlepas dari jilidnya. Ada halaman-halaman yang diisolasi juga kaena udah robek. Saya bahkan ga inget kapan diisolasinya.
Yang satu ini juga termasuk buku kesayangan: Superfudge.
Ini buku lanjutan Kisah Anak Kelas Empat. Buat yang ga tau, kedua buku itu highly recommended. Ceritanya tentang Peter dan adiknya yang gila, Fudge. Lucu banget, seriusan. Kalo masih bisa nemu di toko buku, mending langsung beli deh. Nah buku Superfudge ini bukan hanya kehilangan cover belakang, tapi juga bab terakhirnya
Yah, maklum, dulu masih anak kecil, hehe.
Catatan Kehamilan II: An update
Posted by Meri

Harusnya malam ini saya ngerjain tugas yang udah deket banget deadlinenya, but ketemu kakak kelas yang udah lama ga ketemu di dunia nyata, ketemunya di FB. oh, betapa digitalnya dunia. Mampir ke blognya, penuh dengan cerita si buah hati. Lucu euy anaknya ![]()
Saya jadi pengen cerita juga tentang si (calon) buah hati.
Jadi, ceritanya sekarang kehamilan saya udah masuk 8 bulan 5 hari atau 36 minggu 2 hari. Tinggal kurang dari 4 minggu lagi menuju Hari Perkiraan Lahir (HPL). Fiuh, agak2 grogi menghadapinya, but kalo inget dan liat perlengkapan si dede di kamar tengah yang udah di beli, senyum mau2 ga mau hadir lagi. Lucu2 bangeet >.< kecil2 gitu. Sejauh ini udah beli:
- baju lengan panjang
- baju lengan pendek
- baju tanpa lengan/kutung
- celana panjang tutup kaki
- celana panjang buka kaki
- celana pop
- popok kain
- bedong
- kaos dalam
- kaos kaki
- kaos tangan
- topi
- gurita
- bedong
- tempat bedak dan sabun
- peralatan mandi: sabun, sampo, lotion rambut, lotion badan, bedak, baby oil, washlap muka
- handuk
- tas bayi 3 in 1: selimut, tas, gendongan
So, buat yang mo ngasih hadiah, selain yang udah ada di atas ya
.. hehe
Sementara si dedenya sendiri, 2 minggu lalu beratnya udah 2,6 Kg, lusa insya Allah mo periksa lagi, dede udah segede apa? ^.^
gerakannya sangat aktif, terutama kalo saya lagi laper atau cape. Kadang2 subuh, pas azan, atau pas tilawah suka gerak2. Di perut suka ada benjolan, kalo letaknya di perut atas seolah bisa ngebayangin lagi megang kaki dedenya dan kalo di perut samping bawah tangan dedenya lagi ngulet, soalnya posisi dede kepala udah di bawah, siap2 meliat dunia.
Keadaan saya sendiri, udah naik 14 kg tapi gedenya dominan di perut aja, badan ga terlihat banyak bertambah gemuk, entahlah kata orang yang udah lama ga liat
. Perut suka tegang dan keras, namanya kontraksi Braxton Hicks. Kadang suka ada kontraksi palsu, tapi hilang kalo ubah posisi. Perut udah mulai berat, susah kalo bangun duduk. Sekarang baru ngerasain kaki bengkak karena kelamaan berdiri. Kalo pinggang dan perut samping memang udah lama sering pegel, tapi sang abi siaga stand by mijitin :*
Sementara sang calon abi, lagi sibuk filtering nama dari ribuan nama di internet belum lagi dari buku2. Ayo semangat, Abi ^o^ (ada yang mo usul nama?) Selain itu suka ngajak ngomong dedenya sambil ngelus2 perut dan si dede yang lagi aktif akan dengerin abinya ngomong. Kita berdua menerka2 dede mirip siapa ya? Apanya yg mirip saya, apanya yg mirip mas. Saya berharap dede nurun sifat2 baik dari kedua ortunya, jangan yg jeleknya. Amin
Catatan buat saya:
1. agar lebih deket sama Allah, lebih rajin ibadahnya, banyak2in istighfar.
2. banyak2 jalan, biar lahiran gampang
3. siap2 buat lahiran, kudu stand by semua barang yang perlu dibawa. Lagi nyari kain panjang.
4. Seneng2in hati, jangan stres dan lebih banyak senyum, bleh dari dulu saya memang mood2an kalo senyum. Lagi seneng ya senyum, lagi bad mood ya lupa senyum.
Segitu dulu. Ngaciir..
apalah artinya?
Posted by heningsept
what you see != what you sketch != what you capture
Posted by nisaihsani
Kemarin berencana mau pergi. Udah siap-siap pake baju rapi, taunya ada penundaan hingga waktu yang tidak ditentukan. Akhirnya saya ganti baju rumahan lagi, baju rapi yang tadi ditumpuk di tempat tidur. Berhubung bingung mau ngapain, saya pun menggambar pemandangan yang sedang terlihat dari kursi belajar saya waktu itu.
Jeng jeng, inilah dia. Tumpukan pakaiannya ga jelas banget ya, hehe.
Nah, kalau dibandingkan dengan pemandangan yang ditangkap oleh benda canggih, beginilah keadaannya:
Tapi sesungguhnya, gambar di atas juga tidak serupa dengan keadaan yang saya lihat waktu itu. Tirai putihnya misalnya. Itu karena silau, jadi ga keliatan ada daun jendela.
Ga penting ah.
Predeparture Briefing
Posted by nisaihsani
And while we frequently heard France, Spain, Austrian, Germany, Norway, Portugal, Italy, Belgian, or Netherlands as the answer,
no one mentioned Malta.
Well, that makes me feel like I'm kind of,
exceptional.
:)
Mellow
Posted by Laksmita Rahadianti
trouble sleeping
Posted by nisaihsani
Well, I'm not in my best state now. I worry too much about my visa application, which haven't even started until now. I don't want to talk about it.
And lately I keep falling asleep so early. My boyfriend called and texted and I didn't even hear anything. An hour later, I'm fully awake and unable to sleep until 3 hours later, which is now. And here I am, feeling guilty, finishing my cup of Milo and listening to Lifehouse.
I feel better now, though. Night praying can be so hard to do sometimes, even though you know that would make you feel better. Tumblr-walking also helps, I really like this one. This is why I like Tumblr: people post nice vintage photos, inspiring quotes, and you don't have to see crappy comments like in Facebook. Except, too much of reading quotes will make them sound cliche, especially love quotes. Duh, you have no idea how often people post that we should say I-love-you's and so on to the one we love.
Well, I can't say I agree, somehow I feel skeptical about love and relationships lately, even though mine is alright. Seeing all those promises and those 3 words are said so easily these days, well it's bugging me. It's like seeing how photography becomes too popular and everyone rushes to pose themselves with a DSLR camera covering their faces as their Facebook profile picture. Owning those big cameras is not so special now that everyone has them. I know it's none of my business, they have all the money they need to keep updated with the latest life style trend. And at some points it's just the same with relationships. They can say anything they want in public, it's still none of my business. But at times I just think that, being said too easily, those words had become less special.
Enough with this stuff, I shouldn't bother anyway. I just finished reading A Catcher in The Rye. I bought it 3 years ago. It's funny how I need such a long time to start, but finish it in only one day. I don't usually like a story with alcohol, sex, and cigarettes, but this one is an enjoyable read.
I'm still listening to Lifehouse, they're like my favorite band now. All this time I knew they make good songs with good lyrics, but only after listening to the bittersweet song From Where You Are, I started to listen to all their previous albums also. I especially like this one now:
Well maybe I'm blind, just throwing darts in the dark.
I didn't get what I want, I got what I need.
Man it hurts like hell down here on my knees.
Is this where I end, or is this where we begin?
My pulse is racing, I can't catch my breath.
This near-life experience scared me to death.
Is this where I end, or is this where we begin?
Enough for tonight, it's 2 am already. Maybe I'm just missing him too much. Maybe I'm just longing for weekends when we would go to boring malls and watch boring movies and it won't be boring at all.
Enam Perkara
Posted by icetea
Keshalihan amal seseorang akan sempurna dengan enam perkara :
(1) senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan takut pada ancaman-Nya,
(2) berbaik sangka terhadap sesama muslim,
(3) Menyibukkan diri dengan aib sendiri sehingga ia tidak sempat memperhatikan aib orang lain,
(4) menutup aib saudaranya dan tidak menyebarkannya kepada orang lain dengan harapan saudaranya tersebut mau meninggalkan perbuatan maksiat dan memperbaiki perilakunya yang tidak baik,
(5) menganggap besar kekurangan yang ada pada amalnya sehingga ia terdorong untuk meningkatkannya
(6) berteman dengan orang yang ia anggap benar.
(Syaqiq bin Ibrahim)
copas dari: sini :p
Blame Disease
Posted by Charles
“Char, belok di sini…” saya mendengar suara teman saya di sebelah saya.
“Bukan di sini… Di depan ada satu belokan lagi…” saya menjawab dengan begitu yakinnya, sambil terus menyetir mobil saya terus maju melewati belokan itu.
Tapi, benar kata teman saya, tidak ada belokan lagi di depan. Saya baru saja melewati belokan yang benar.
“Tuh kan, ga ada belokan lagi… Bener kan tadi gua bilang. Lo ga ikutin sih, nyasar dah…” teman saya geleng-geleng kepala.
Ouch. Percaya saya, tidak pernah menyenangkan mengetahui kita salah pilih jalan, apalagi karena kita yang keras kepala.
“Oke… Kalau gitu kita putar balik saja, terus belok kiri.” saran teman saya lagi.
Saya betul-betul tergoda untuk mengikuti saran-saran teman saya selanjutnya. Namun, sejujurnya, bukan karena saya mempercayainya. Tapi, karena saya tidak ingin bertanggung jawab atas kesalahan yang terjadi.
Kalau sarannya benar, itu bagus. Kalau sarannya salah, dan kita jadi nyasar, ada yang bisa disalahkan. Siapa lagi, kalau bukan teman saya yang memberi saran itu.
Itu benar-benar godaan yang besar. Godaan untuk melepas tanggung jawab, dan menyalahkan orang lain. Apa pun yang terjadi, kita aman. Kalau benar, bagus. Kalau salah, orang lain yang akan kita salahkan.
Saya rasa, ini lebih dari sekedar godaan. Ini adalah sebuah penyakit. Saya menyebutnya, “Penyakit Saling Menyalahkan”, atau “Blame Disease”.
Tanda-tanda penyakit ini sangat mudah dilihat. Tanda-tandanya adalah orang yang terjangkit penyakit “Blame Disease” akan selalu mencari kambing hitam (hal-hal yang bisa dia salahkan) ketika suatu hal yang buruk terjadi.
- Ujian dapat nilai jelek karena kebanyakan main game, yang disalahkan adalah guru yang ga bisa ngajar.
- Jadi sakit karena kurang tidur, yang disalahkan adalah bos yang memberi banyak pekerjaan.
- Jatuh ke dalam lubang karena jalan ga lihat-lihat, yang disalahkan adalah pekerja yang menggali lubang.
Menyalahkan sepertinya sangat enak. Melepas tanggung jawab sepertinya membuat kita aman.
Tapi benarkah kita benar-benar aman ketika melepas tanggung jawab?
Kembali ke cerita saya, saya berpikir lagi, siapa yang rugi kalau akhirnya kita nyasar? Apakah hanya teman saya yang rugi? Tidak… Saya juga rugi.
Bukankah kita akan lebih menyesal jika kita salah karena tidak mengikuti kata hati kita (yang ternyata benar)?
Saat itu juga, saya putuskan untuk mengikuti saran teman saya, tapi tetap bertanggung jawab atas segala risikonya (dan syukurlah ternyata sarannya tepat
).
Ketika seseorang terjangkit “Blame Disease” stadium lanjut, kita bahkan bisa menghancurkan diri kita sendiri hanya agar kita bisa menyalahkan orang lain, dan membuat orang lain merasa bersalah.
Itulah yang terjadi dengan orang yang memilih bunuh diri karena ditinggalkan pacarnya. Kenapa mereka bunuh diri? Karena mereka ingin menyalahkan mantan pacarnya yang telah meninggalkannya. Mereka ingin berkata kepada mantan pacarnya, “Lihatlah kematianku. Ini terjadi karena kamu meninggalkanku!” dan membuat mantan pacarnya merasa bersalah.
Seolah, mereka berhasil dengan membuat mantan pacarnya merasa bersalah. Mereka berhasil menyalahkan. Tapi, faktanya mereka kehilangan nyawanya. Mereka menukarkan nyawa mereka untuk kepuasan atas rasa bersalah mantan pacar mereka! Bukankah ini sangat tidak masuk akal? Tapi ironisnya, ada saja yang melakukan kebodohan ini.
Jadi, bagaimana menyembuhkan “Blame Disease” ini? Saya menyarankan dua langkah berikut.
1. Bertanggung jawablah atas apa pun yang kita lakukan dan apa pun yang terjadi dalam hidup kita.
Bertanggung jawab di sini bukan berarti kita menyalahkan diri kita sendiri. Bertanggung jawab berarti ketika kita salah, kita mengakui kesalahan kita, dan belajar dari kesalahan itu. Kita selalu melihat apa yang dapat kita ubah dari diri kita sendiri untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Fokus kita bukan lagi mencari kambing hitam, tapi mengubah diri kita menjadi lebih baik.
2. Selalu melihat sisi positif dari segala hal buruk yang terjadi, dan syukurilah.
Saya yakin, semua hal buruk yang terjadi pada diri kita pasti mempunyai sisi positif. Ketika kita bisa memfokuskan diri kita pada hal-hal positif tersebut, kita menjadi mampu mensyukuri hal buruk yang terjadi pada diri kita. Dan kita tidak akan menyalahkan siapa-siapa ketika kita mulai bersyukur. Kenapa? Sederhana saja, karena kita tidak lagi menganggap kesalahan itu sebagai sebuah kesalahan. Kita melihatnya sebagai sebuah pelajaran yang berharga. Malah, mungkin saja kita malah berterima kasih kepada orang-orang yang semula kita jadikan kambing hitam.
Tuhan menginginkan kita saling mengasihi, bukan saling menyalahkan.
Mari kita bebaskan diri kita dari “Blame Disease” ini.
Tuhan memberkati kita semua.
Charles Christian
pencarian hiburan
Posted by nisaihsani
Heran deh kenapa orang-orang suka ke TM Bookstore. Memang sih harganya lebih murah karena selalu diskon (meskipun harga awalnya juga lebih mahal), tapi tapi tapi... Hal-hal yang tidak saya sukai dari TM Bookstore:
- Kalau mau masuk harus nitipin tas. Yaelah paling males deh, bahkan tas normal yang biasa dibawa-bawa wanita juga harus dititipin. Bah.
- Susunan bukunya berantakan. Nah pusing deh ngeliatnya, 3000 buku dengan sampul berbeda ditempatin berdempetan di rak yang sama. Kalau udah tau judul buku yang mau dibeli sih mending. Kadang-kadang kan belum tau mau beli buku apa, tapi keburu pusing ngeliat pilihan yang ada.
- Musik hingar-bingar. Selama di toko buku, diputarlah lagu-lagu awam (Indonesia top 40 biasanya) dengan volume gede. Duh. Beda banget sama Aksara yang nyetel musik jazz sendu (saya juga ga suka, haha). Hm, paling enak kalo di toko buku ya suasananya sunyi senyap.
Jadi akhirnya kemarin saya beli baju. Oh bukan berarti saya puas dengan pelayanan di Centro. Paling sebel deh kalo lagi milih-milih terus ditongkrongin ama mbak-mbaknya. Biasanya saya langsung kabur kalo kaya gitu, males nanggepinnya.
Ah, entah kenapa jalan-jalan ke mol sekarang ga menyenangkan deh, haha. Asikan ke Tanah Abang, bisa beli dvd serial Korea.
Ada 2 tujuan besar yang harus gw capai dalam tahun ini. Pertama, menguasai bahasa Jepang seengganya untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Gw ambil kelas super-intensive di pusat mahasiswa international (a.k.a ECIS) di Nagoya Daigaku. 1 hari ada 3 kelas yang cukup bikin mumet. Kalau dilihat dari sisi positifnya, dibanding 4 bulan yang lalu gw jelas ada kemajuan dalam bahasa Jepang. Tapi dilihat dari ekspektasi, sepertinya kemampuan bahasa Jepang gw masih di bawah harapan.
Target kedua, lulus ujian masuk. Ga lucu kalau akhirnya gw susah payah apply beasiswa, ternyata pulangnya masih tanpa gelar. Yup, lulus beasiswa monbusho belum tentu lulus universitasnya. Mesti ikut ujian masuk lagi. Khusus program master, biasanya ada ujian tertulis. Dan ini jadwalnya tergantung fakultas masing-masing, bahasa pengantarnya juga. Beruntung gw dapat milih antara bahasa Inggris dan bahasa Jepang (yang pasti gw bakal milih bahasa Inggris), walaupun nanti kelasnya sendiri bahasa pengantarnya dalam bahasa Jepang semua. Yapi yasudahlah, pikirin ujiannya dulu aja.
Yang paling gw takutin, materi fisika yang hampir selama 4 tahun belakangan ga pernah disentuh lagi. Pas SMA pun gw sekolah juga asal-asalan. Ga tau deh masih ada yang nyisa apa ga tuh saripati pelajaran fisikanya. Materi kalkulus dan Alin juga bukannya aman sih, gw masih harus baca lagi dari awal, secara nilai kalkulus I gw adalah nilai terendah kedua sepanjang sejarah transkrip. Huhu.. Persiapan gw sejauh ini? Bisa dibilang 0 besar. Mungkin 0,0000000000....1.. Kena rounding error juga ilang tuh angkanya.
Natsu-yasumi segera datang. Sesungguhnya gw juga ingin memanfaatkan kesempatan ini buat menjelajahi beberapa bagian Jepang, seengganya yang dekat-dekat dulu aja. Mumpung masih di sini, belum tahu juga bakal selamanya di sini apa engga. Tapi dilihat dari tingkat accomplishment misi gw sejauh ini kok mengkhawatirkan yah? Dan setelah ditilik-tilik lagi (bahasa apa ini?) sepertinya gw emang agak kebanyakan main terakhir2 ini. Kerjaan gw kalau ga tidur kalau ga nenteng2 kamera. Padahal sebelum tahun baru kemarin gw ga tau apa2 tuh soal ini benda. Mau bersumpah ga bakal megang kamera sebelum selesai ujian juga ga sanggup. Di beberapa acara juga gw ditunjuk (a.ka. ditumpulkan jadi seksi sibuk bagian pegang kamera).
Belum lagi misi tambahan yang gw targetkan sendiri. So far, sensei F minta gw persiapan buat shiken (ujian masuk), sementara sensei S lebih ngotot minta gw ada kemajuan di riset. Gw ambil jalan tengah. Ciaelah. Sotoy nargetin bisa dua-duanya. Tapi... dasar manusia input, gw bikin rencana doang bisanya. Giliran bagian eksekusi juga ga ada realisasinya. Huff...... Tapi setelah dipikir2 lagi, sebenarnya mungkin masalah manajemen waktu. Gw terlalu banyak main atau terlalu banyak istirahat. Ujian atau riset ga ada hubungannya sama hobi ataupun niat rekreasi. Selama manajemennya teratur juga mestinya bisa.. Ok, yosh... Just to remind myself. I need to tackle all of them altogether. Ganbatte!!!
????????????????
my last post
Posted by Anna

my last post... I think I only want to reach a high level of my dream because of him... I won't blog anymore from now... only these are left...goodbye.. ????????.

my bias forever... You, your voice, your health, your smile, your witty comments. You mean so much to me. No matter what happens, this will never change. Thank You So Much. You’re all that matters.. ? ? ?? ?? ? ?? ...











