Jan 26

ilusi optik

dishare oleh @pipis pagi ini.

Similar Posts:

Jan 26

Keinginan

Posted by istianasutanti

Lagi pengen banget liburan

Lagi pengen jalan-jalan

Lagi pengen ngumpulin foto2, dicetak, terus masukin album ~kebetulan ada hadiah pernikahan berupa album foto~

Lagi pengen belanja-belanja segala kebutuhan baby ~gak sabaran~

Lagi pengen segera menyelesaikan pembuatan web ~usaha online~ dan segera launching

Dan sekarang, lagi pengen banget makan ketoprak :P


Filed under: Iseng
Jan 26

TORCH

Posted by istianasutanti

Hehehe, lagi-lagi saya ngomongin tentang TORCH. Ini sih kumpulan twit saya waktu itu, lupa hari apanya. Lagi bersantai di rumah, keingetan tentang TORCH, akhirnya cuap-cuap deh di twitter :P

  • @momopururu jadi beberapa hari lalu, nonton di salah satu stas TV, lupa kapan dan acara apa. Ada designer kecil yang ikutan jakarta fashion week.
  • @momopururu namanya Rafi, dan dia tuna rungu, ini ada blog yang nampilin hasil2 designnya: http://www.welovejakarta.com/jakarta-fashion-week-2012-day-7-echoes-of-heritage-by-rafi/
  • @momopururu eh, yang mau saya omongin sebenernya bukan desain2nya atau bakatnya yaa, bakatnya sih udah sangat diakui yaa
  • @momopururu tapi saya mau ngomongin kenapa dia bisa tunarungu. emang bukan dia yang mau kan keadaan kaya gitu
  • @momopururu ibunya ditanya, kira2 begini: (gk pst sih, seinget saya aja), “dari rafi lahir ibu udah tau kalau rafi ini tunarungu?”
  • @momopururu ibunya jawab, malah sejak hamil trimester pertama, dia udah tau kalau anaknya akan punya kekurangan.
  • @momopururu nah, ibunya tau dan udah menyiapkan diri anaknya itu akan punya kekurangan karena ibunya terinfeksi salah satu virus TORCH, yaitu Rubella
  • @momopururu kata dokter virus itu nanti akan mempengaruhi pendengaran, penglihatan atau yang lainnya. intinya pertumbuhannya gk sempurna di kandungan
  • @momopururu dari situ saya jadi makin concern dgn virus TORCH dan paham kalo hamil itu gak gampang, dr sebelum hamil pun calon bumil harus bener2 sehat
  • @momopururu sebelum nikah, saya pernah tes TORCH, gak lengkap sih, cuma Tokso dan Rubella aja
  • @momopururu tes tokso virus lama hasilnya positif tapi virus barunya negatif, agak khawatir juga saat itu.
  • @momopururu jadi wondering sendiri, kalo2 abis nikah nanti langsung hamil gimana? bahaya gak ya?
  • @momopururu eh, saya jadi baca2 tentang TORCH sendiri. ini yang lagi saya baca:http://kumpulan.info/sehat/artikel-kesehatan/48-artikel-kesehatan/203-waspada-toksoplasmosis-rubela-herpes-torch-saat-hamil.html#Definisi
  • @momopururu dan bener aja, setelah sebulan nikah, saya dinyatakan ternyata hamil.. :D
  • @momopururu mengingat pas tes Tokso, IgG saya positif, saya memastikan ke dokter kalo saya bisa hamil
  • @momopururu dan kata dokter, saya bisa hamil karena saya terjangkit virus itu udah lebih dari setahun lalu dan saat ini udah punya antibodinya
  • @momopururu itu karena tes Tokso yang IgM saya negatif
  • @momopururu bener aja kalo untuk hamil itu emang perlu persiapan, terutama persiapan kesehatan calon bumil..
  • @momopururu pas tes tokso IgG saya +, kaka saya yang kebetulan suster di RSB blg saya kebanyakan makan junkfood n makanan gak mateng ~sushi contohnya~
  • @momopururu jadi sejak itu saya disuruh ngejaga makanan deh dan memperbanyak makan sayur… *karena saya gak suka sayur, jadi bener2 mesti belajar
  • @momopururu pas itu kesimpulan saya, berarti kalo gak mau terjangkit, ya makanan kita harus sehat..
  • @momopururu oiya, selain makanan gak sehat, toksoplasma itu bisa dari kotoran kucing, anjing atau unggas..semua itu mengandung parasit Toxoplasma gondii
  • @momopururu kalo virus Rubella (campak Jerman), Alhamdulillahnya sih IgG n IgM saya negatif waktu itu. Penularannya dari hubungan langsung ama penderita
  • @momopururu oiya, lupa. Kalo bumil menderita Toksoplasma, akibatnya bisa keguguran janin atau bayi lahir meninggal
  • @momopururu nah, kalo Rubella, akibatnya bisa menyebabkan bayi lahir cacat (kerusakan otak, kebutaan, tuna rungu, atau bisu)
  • @momopururu kesimpulan dari penularan Rubella, pencegahan kedua itu menjaga jarak dengan penderita
  • @momopururu eh, ada satu lagi pencegahan yang kelewat
  • @momopururu karena tadi toksoplasma bisa ditularkan melalui binatang peliharaan, jadi kurangi kontak dengan mereka
  • @momopururu 2 virus lagi yang termasuk TORCH itu CMV (cytomegalovirus) dan HSV (Herpes Simpleks tipe II)
  • @momopururu 2-2nya sama-sama famili herpes dan penularannya juga sama-sama melalui kontak langsung
  • @momopururu yang HSV bisa juga melalui hubungan seksual
  • @momopururu Nah, kalo bumil terinfeksi virus CMV bisa mengakibatkan bayinya beresiko mengalami pembesaran kepala, pengapuran otak…[1]
  • @momopururu pembesaran hati, tuli, atau bentuk kaki dan tangan yang tidak normal [2]
  • @momopururu karena CMV n HSV sama2 ditularkan dengan kontak langsung, jadi pencegahannya ya hindari penderita ;)
  • @momopururu nah, infeksi virus HSV menyerang alat kelamin. ciri-ciri penderita HSV itu keputihan n ada bintik pada alat kelamin
  • @momopururu akibat yang timbul kalo bumil terinfeksi HSV?
  • @momopururu bayinya lahir dengan kelainan kulit, kulitnya melepuh
  • @momopururu pencegahan HSV tadi salah satunya dengan menghindari si penderita, termasuk gak berhubungan seksual *yaiyalaah*
  • @momopururu pencegahan lainnya? dengan menjaga kebersihan alat kelamin, menjaga kebersihan di sini cukup pake air aja sebenernya
  • @momopururu gak perlu pake sabun2 tambahan / cairan pembersih kaya yang diiklan-iklan :P , dan usahakan tetap kering.
  • @momopururu nah, sekarang saya mau ngeringkas pencegahan TORCHnya nih :D
  • @momopururu dari penjelasan-penjelasan tadi, pencegahannya ada beberapa: 1. makan makanan yang sehat dan bergizi (pastinya), dan matang
  • @momopururu 2. hindari kontak langsung dengan hewan peliharaan yang membawa virus Toxoplasma gondii (biasanya kucing atau anjing) ~untuk virus Tokso
  • @momopururu 3. hindari kontak langsung dengan penderita
  • @momopururu 4. jaga kebersihan diri, termasuk kebersihan alat kelamin
  • @momopururu nah, buat yang mau hamil, sebaiknya periksa TORCH
  • @momopururu Kalau ternyata terinfeksi salah satu virusnya biasanya nanti pengobatan dulu atau dikasih vaksin sampai virusnya bener2 bersih
  • @momopururu walaupun harus menunda kehamilan, yang penting pada saat hamil, bumil bener-bener sehat, biar janinnya juga sehat. ;)
  • @d_prihandoko:@momopururu tante gw punya tokso. Tp smpt nglahirin anak pertama. Lalu 4 kali keguguran. She need 10y programing to have 2nd son..
  • @momopururu Lanjut ngomongin TORCH aaah..tapi sekarang ngomongin baca hasil tesnya :D
  • @momopururu Tes TORCH ada 2 jenis, IgG dan IgM. Kalo bahasa gampangnya sih IgG itu virus lama IgM virus baru
  • @momopururu Artinyaa, kalo hasil tes nunjukin IgG positif dan IgM negatif, itu berarti pernah terinfeksi virus setahun yang lalu atau lebih
  • @momopururu dan karena IgM negatif, artinya saat ini udah gk terinfeksi lagi, tubuh udah mengembangkan kekebalan terhadap virus tokso ini
  • @momopururu eh, bukan virus tokso aja, segala virus TORCH (tokso, rubella, CMV, HSV) deng :p
  • @momopururu Kalo hasil tes nunjukin 2-2nya positif, artinya udah 2 tahun terjangkit virus dan saat ini masih terjangkit, butuh pengobatan atau vaksin
  • @momopururu Kalo IgG negatif dan IgM positif, artinya baru aja terjangkit, belum setahun dan belum hilang virusnya. Butuh pengobatan atau vaksin juga
  • @momopururu Nah, yang paling aman 2-2 (IgG dan IgM)nya negatif *yaiyalaaah* kan artinya sama sekali gak terinfeksi n belum pernah terjangkit virus TORCH
  • @momopururu Jadi kesimpulannya, hasil tes yang nunjukin aman dan udah boleh hamil itu yang IgG dan IgMnya negatif atau IgGnya positif dan IgMnya negatif
  • @momopururu Dan yang perlu pengobatan lebih lanjut serta menunda kehamilannya itu yang IgG dan IgMnya positif atau IgGnya negatif dan IgMnya positif
  • @momopururu Huehue, sekian aja deh. Semoga twit2 saya hari ini bermanfaat :D

Oke, segitu aja. Panjang juga yah, fyuh. *lap keringet*


Filed under: Iseng, Kesehatan
Jan 25

Ternyata Begini Rasanya

Posted by istianasutanti

Hamil udah gedean alias hamil tua..!! haha

Gimana tuh rasanya?

Jadi semakin sesak. Yap, napas saya lumayan semakin sesak. Dulu-dulu sih penasaran rasanya gimana, dibilangin orang-orang dan baca-baca kalo semakin besar hamilnya akan semakin sesak karena baby yang membesar juga, jadinya si baby semakin menekan ke atas.

Pas kehamilan saya memasuki bulan ke-6, jadi gak penasaran lagi deh rasanya kaya gimana. Ya sesaknya kaya gini ini :P *gak menjelaskan*

Ulu hati terkadang sakit. Kalo yang ini, gak ada yang memperingatkan. Jadi, waktu pertama kali merasa ulu hati saya sakit, saya bingung, takut kenapa-kenapa. Begitu googling dan tanya kakak saya yang sudah punya 3 anak, ternyata hal ini juga wajar untuk ibu hamil ~yaa, asal cuma nyeri-nyeri sedikit laa~.

Perut kencang. Waktu hamil saya belum besar, saya punya temen yang lagi hamil juga tapi udah lumayan gede. Dia bilang perutnya lagi kencang. Nah, saya wondering juga perut kencang itu rasanya kaya gimana. Dan sekarang saya ngalamin sendiri :P Kadang-kadang perut saya kencang banget.

Gimana rasanya perut kencang? Kalo menurut saya sih, perut kencang kaya gini itu kaya perasaan waktu makan kekenyangan sampe perut membuncit, hehehe.

Perut bagian bawah kram. Yang ini sih gak penasaran banget kaya apa sih, cuma waktu itu ngebayanginnya kaya kram perut pas lagi datang bulan aja. Dan ternyata emang bener. Kram perut ini karena kulit perut melebar untuk membesarkan ruangan di dalam perut untuk si baby.

Sering buang air kecil. Jadi semakin sering buang air kecil, karena si baby menekan ke bawah juga ~bagian kandung kemih~. Jadi, kandung kemih gak bisa menampung banyak-banyak urine.

Walaupun rasanya hamil udah gedean itu kaya yang saya sebutin, tapi saya tetep bahagia. Rasa gak nyaman kaya gitu selalu terkalahkan waktu baby ini bergerak-gerak, apalagi waktu babynya merespon saat diajak ngobrol. Rasanya seneeeng banget..!!

Saat-saat beginilah seninya hamil *halah*


Filed under: Uncategorized
Jan 24
If my mother could see what I'm eating now, she would be very proud. No, not that I've become a good cook (I think this is what happens to most of my friends, you know, living alone and having to learn to cook, etc. But not me, I'm hopeless. I do cook sometimes: pasta, salmon, tumis kangkung. But everyone can do that, cooking pasta is no rocket science). It's just the fact that now I can eat vegetables.

Back in Malta I could find halal chicken nuggets in the supermarkets (might be unhealthy but they were tasty so who cares), we often ate in a halal Indian restaurant, and I had a Muslim friend who was kind enough to invite us for dinner every now and then. I could continue my habit of avoiding green things on my plate. Here, however, I don't have such luxury. There are several halal meat shops around the city centre, but, having reached a certain level of laziness, I decided it was too much of hassle to go shopping for main supplies in Albert Heijn and go for halal meat in a different shop. So I tried vegetables.


Now I can't even imagine how I managed to spend more than 20 years of my life without vegetables. Here is my favorite snack now: broccoli with hummus. I get this from my friend. Basically you can cook or not cook the broccoli. Some people think raw vegetables are healthier, but I prefer raw because it's tastier, and most importantly, easier ^^.
Jan 23

Saya itu orangnya jarang sakit, jadi jaraaang banget minum obat. Nah, karena itu saya orangnya gak bisa nelen obat deh.

Image by me @momopururu

Jadi, dulu waktu kecil kalo sakit dikasihnya obat puyer atau sirup. Tapi begitu sakit lagi, saya udah lumayan gede dan gak mungkin kalo saya masih minta puyer atau sirup ~ini gengsi doank sebenernya, dan malu juga si~. Walhasil saya dikasih obat berupa pil ~apa tablet yak~ pokonya yang mesti ditelen langsung.

Tadinya saya bingung gimana cara minumnya karena begitu saya coba masukin ke mulut dan minum air, obatnya masih nempel di lidah, gak keikut air masuk ke kerongkongan. Jadinya yang ada saya malah kembung, 1 pil/kapsul/tablet, airnya 1 gelas. Jadi, mulai saat itu saya kalo minum obat biasanya digigit dulu (pait sih pastinya) atau saya gerus dulu sampai halus baru saya campur dengan air di sendok (yaa, kaya obat puyer gitu deh cara minumnya :P )

Sampai trimester pertama kehamilan, saya masih aja begitu kalau minum obat. Jadi, suplemen yang dikasih dokter yang berupa kapsul itu saya keluarin isinya aja, dicampur air di sendok baru diminum. Tapi dengan cara begitu rasa suplemennya jadi kuat banget dan saya jadi ngerasa eneg banget. Akhirnya pelan-pelan saya belajar biar bisa nelen obat.

Awal-awal nyobain nelen langsung masih sama kaya waktu sebelum hamil. Obatnya satu, airnya segelas, kembung kan?

Pemeriksaan kandungan terakhir, HB saya rendah, jadi suplemen saya ditambah 1 yaitu penambah darah dan itu juga lumayan bikin eneg. Jadi, saya semakin mulai membiasakan diri buat nelen obat pake air. Sekarang sih lumayan, 1 gelas buat 2 suplemen :P

Alhamdulillahnya sih sekarang udah terbiasa, walaupun belum jago2 amat ~halah, minum obat aja jago~ dan masih kembung-kembung juga. Tapi lumayan laah, saya udah bisa nelen obat. Terima kasih yaaa babykuu :*


Filed under: Kesehatan, Pribadi, Uncategorized
Jan 23

Not Fair

Posted by mardian

Jadi ternyata dalam pertemuan kemarin ada info "berharga" yang saya lewatkan karena kebetulan sedang berada di luar ruangan. Kenapa mesti diumuminnya pada saat itu? Dan sekarang bingung mau nanya siapa. Huhuhu... Di sini doang kayaknya "bertanya" itu jadi suatu hal yang susah.

And the other thing is, kemarin kayaknya presentasi terlama sepanjang sejarah zemi. 30 menitan lebih. Yang paling annoyed bukan itu, tapi justru karena yang ditanyain hal teknis yang mestinya dipertanyakan dari sebulan yang lalu. Jadinya kan kerjaan-kerjaan yang terakhir ga jadi waste.

Hari ini diminta datang diskusi lagi. Entah kayaknya saya harus berhenti pura-pura ngerti bahasa Jepang. Diskusi bahasa Inggris aja saya masih suka ngawang-ngawang ngikutinnya, apalagi sekarang tau-tau pakai bahasa yang arrrrggghh... apa itu. Mana dikasih 2 buku (bahasa Jepang) suruh pelajarin.

As expected slide yang saya bikin cuman bakal "dicomot" beberapa hal yang dirasa penting doang. Disuruh tambahin lagi dengan update diskusi hari ini sebagai future works. Tau gitu kan ngirim dari kemarin aja (tapi masalahnya kan ga tau, huhu). Masih mengenai pemodelan yang saya bikin sebulan lalu yang tiba-tiba sekarang disalahkan. OK, saya akui mereka ada poinnya. Saya ga nge-handle failure detection. Sistem yang saya kembangkan tidak adaptif, di mana adaptivity adalah salah fitur paling berharga dari "distributed robot". Ga usah tanya kenapa. Tapi slide yang sama saya presentasikan sebulan yang lalu. Ga ada komen. Akhir tahun saya minta masukan, disuruh kirim by email, saya kirim ga ada jawaban, pasti ga dibaca. Sekarang, pas sebulan kemudian saya tunjukkan hasilnya baru di-point out.

"Can you fix it in 2 days?" said him. Errrr,,, saya ngerjainnya itu nyaris 2 bulan terakhir, mau pakai mejik apa bisa dibenerinnya dalam 2 hari? Ya ngulang lagi, tunggu hasil barunya paling cepat 2 bulan ke depan lah, Bapak. Ah sudahlah.

(annoyed)
Jan 22

Orang bijak pernah berkata

Posted by mardian

.... "Ada dua hal yang harus dipilih secara hati-hati, karena sepanjang sisa hidup akan dihabiskan dengan keduanya, yaitu: istri dan pekerjaan". Saya tidak akan bahas soal yang pertama, oleh karena itu saya akan bahas yang kedua saja (hukum reasoning trivial).

Jadi, pertama kalinya dalam hidup saya berpikir soal pekerjaan adalah pada saat ada yang bertanya pada si rizki mardian kecil; "Apa cita-citamu kalau sudah besar kelak (entah seberapa besar maksudnya)?". Dengan gampang saya akan menjawab: "Arsitek!" tanpa harus tau arsitek itu apaan, ngapain dan gimana. Ada 2 alasan simpel. Pertama, karena dari kecil saya suka menggambar, hobi yang entah berenti sejak kapan. Kedua, karena jawabannya berbeda dengan anak pertama di keluarga kami yang memilih jadi insinyur (seriously, now i think that most people from that time did not really understand what 'insinyur' is, dan sepertinya stereotipenya memang insinyur adalah karakter manusia yang sukses, selain jadi dokter tentunya). OK, sebenarnya ga ada alasan khusus saya membahas ini, hanya saja sepertinya itu adalah bayangan pertama yang pernah muncul di otak saya --sejauh yang bisa saya ingat-- tentang karir dan pekerjaan.

Kemudian dalam masa belasan tahun setelahnya, berbagai image dan sepertinya karena pengaruh media juga mulai menodai keinginan saya untuk menjadi arsitek tadi. Yang saya ingat saya pernah ingin jadi dokter (juga), ilmuwan / profesor (maksudnya yang bekerja di lab dengan mencampur-campur ramuan kimia berbahaya), penulis, pemusik, dan lain-lain. Saya akan skip hingga suatu poin, pada saat awal smp kalau ga salah, seperti kebanyakan anak awam lainnya, saya mulai keracunan video game. PS waktu itu lagi marak-maraknya. Somehow, saya 'kenalan' dengan sebuah game yang berjudul "Final Fantasy" (game bikinan Squaresoft (sekarang Square-enix) yang menurut saya adalah karya jenius dan hingga sekarang masih menjadi favorit saya tentu saja). Seri yang ke-9, mungkin saya penasaran kenapa untuk 1 game saja bisa sampai butuh 4 keping CD. Yang terjadi adalah: I was stunned! Square-enix dari dulu emang udah terkenal dengan FMV yang bisa bikin ga ngedip-ngedip. Lewat FFIX juga saya kenalan dengan genre RPG yang bisa bikin saya ga keluar kamar 24 jam (pas bulan puasa bahkan dari sahur sampai buka, saya literally ga beranjak dari depan konsol). Saya patah hati ketika FFX dirilis, pertama kalinya untuk PS2. Sepertinya orang tua saya sudah kapok membelikan konsol game, karena terbukti tidak menunjang nilai rapor saya waktu (kenapa rapor selalu dijadikan parameter -_-"). Padahal kalau boleh bilang, FF adalah salah satu alasan kenapa saya hari ini bisa bahasa Inggris. Saya selalu menolak pas orang tua mau mendaftarkan saya les, tidak seperti RM1 dan RM3 yang nurut-nurut aja pas didaftarkan ke LIA, hoho (yes, I was such a rebel :D). Alih-alih, saya belajar banyak dari game-game jenis ini, simply karena saya ingin mengerti jalan ceritanya, agar saya bisa menamatkan gamenya dengan sempurna. Main game sambil buka kamus. Hoho. Singkat cerita, dari hari itu saya bercita-cita akan membuat game suatu saat kelak dan impian tergilanya: nama saya akan tercantum di credit-title "Final Fantasy" entah-seri-ke-berapa-pun-itu-kelak! Dan dengan segala kesotoyan waktu itu, saya menyimpulkan bahwa orang yang bikin game itu adalah programmer (a.k.a mesti jago komputer, kayaknya teracuni dari felem-felem kalau ini). Jadi saya akan jadi programmer setelah lulus sekolah. Itu harga mati! (nyatanya engga sih, wkwk).

Loncat lagi ke beberapa tahun setelahnya, ternyata saya masih di keputusan yang sama pada saat lulus SMA, maka hanya ada satu jurusan yang bisa saya pikirkan untuk melanjutkan studi. Yeah, you know what. Saat semua orang masih bingung: "SPMB mau ngisi pilihan apa ya?" tekad saya sudah bulat, hanya saja karena khawatir dicecar (ya iyalah, orang-orang "papan atas" aja ga berani bilang mau masuk mana karena takut ga bakal lulus, masak iya orang "papan tengah" kayak saya bisa ngomong dengan pede), saya ikutan pura-pura bingung juga kalau ditanya. Puncaknya, H minus berapa gitu sebelum pengembalian formulir, saya telponan sama orang tua. Mereka agak khawatir dengan nilai-nilai TO saya yang agak ga menjanjikan, saya diminta mengganti pilihan yang lebih reasonable, misalnya *** di *** (sensor, hehe). Sepertinya itu pertama kalinya saya sampai harus menangis buat meyakinkan orang lain apa yang saya mau (doh). Anyway, worth it juga sih. My mom buy in, and she help convincing dad (jadi terharu, hiks). Lalu dimulailah masa-masa indah itu.

Pas kuliah, saya set target lulus secepat-cepatnya lalu merintis upaya jadi programmer. Lagi-lagi saya harus patah hati menerima kenyataan bahwa programmer itu katanya adalah (mohon-maap) kasta terendah dari praktisi IT. Ya ga bisa dong kalau begitu dijadikan long-life plan. Buhu. Belum lagi kenyataan bahwa buat bisa bikin game ga cukup dengan bisa ngoding doang (tahun-tahun pertama saya cukup antusias memulai klub game-programming sama beberapa orang yang sepaham, walaupun ternyata ga jalan juga, hoho). Ada yang namanya game designer dan many stuffs which is more art-related than problem solving (akhirnya saya ambil kelas Game Design pertama kali itu di fakultas seni di NTU). 3 tahun kuliah akhirnya pelan-pelan menghapus impian saya buat jadi game developer. Walaupun saya masih lebih menikmati kuliah "ngoding" daripada kuliah "matematik". Kalau misalnya saya ditanya, apa masih punya cita-cita saat itu, mungkin jawabannya adalah "ikut arus" kebanyakan orang yang kuliah di jurusan IT. Kelar kuliah secepatnya, gabung dengan (sebisa mungkin) top-level company, flownya dari programmer ke analyst ke ... (apalagi yah? hehe.. gitu deh). Pernah juga kepikiran gimana kalau start-up IT company sendiri, pengaruh beberapa kali ngerjain freelance project. Makanya juga akhirnya saya fokus ke kelas-kelas peminatan software engineering dan system analysis waktu itu. Hingga detik-detik sebelum semester terakhir, entah kesambet apa saya banting stir ke AI. Saya ambil topik skripsi tentang robotik. Saya ga akan cerita banyak soal apa saja yang terjadi selama saya bergabung dengan lab ini. Bahkan saya ga akan cerita apa-apa, karena semua sudah pada tahu. Hohoho. Anyway saya lulus juga dengan judul skripsi terpanjang sedunia itu. Dan setelah melewati masa-masa pelik, ke sana kemari sampai dicap secara sepihak bahwa "saya adalah kutu loncat dengan kesetiaan yang dijual pada pembayar tertinggi". (haha, masih-sensi mode = ON) akhirya sampai juga saya di negara ini (credit to MEXT).

Saya akan kembali ke topik soal pekerjaan. Intinya kenapa saya menulis panjang-panjang adalah bahwa saya mulai merasakan ada hawa-hawa saya harus mulai memikirkan apa yang akan terjadi setelah Maret 2013. Mungkin tekanannya datang dari anak-anak seangkatan di lab yang lagi pada sibuk nyari kerja. Mungkin juga dari teman-teman di benua lain yang segera akan menyelesaikan kuliah mereka. Bisa jadi juga karena pertanyaan antar sesama penerima beasiswa di sini: tahun depan bakal perpanjang ga (sampai PhD maksudnya)? Sedangkan saya, mau jadi apa? Haruskah saya jadi arsitek lagi??? Padahal lesson-learned dari nonton HIMYM, arsitek adalah orang yang sulit mencari jodoh (doh, mulai ngawur).

Sebetulnya ide menggelitik soal jadi game-developer (lagi) sempat muncul sih. Maksudnya, saya sekarang di Jepang. InsyaAllah ntar bakal lulus dengan sertifikat dari universitas di Jepang. Reasoning sepihak, chance buat nyari kerja di Jepang juga lebih baik (tentu dengan mesti sedikit usaha belajar bahasa Jepang dong). Dan.... ada Square-Enix di Jepang. Nyambung maksudnya? Yah, simply it is not easy to give up something that you really wanted in the past. Bayangkan aja kayak misalnya pada ketemu cinta-pertama dulu. Pas rasanya ekhem-ekhem kan. Halaah. Anyway, should I consider to give a shot? Maksudnya mengingat sekarang saya agak terlalu jauh "murtad" dari jalur ke sana. Pertama dari IT-practitioner ke computer scientist, trus 'disesatkan' juga oleh para guru itu ke jalur nano-technology. Kalau saya balik lagi ke jaman-jaman saya masih menggilai hardcore programming dan all graphics things, ga rela juga udah nangis darah selama beberapa waktu terakhir. Saya ga bakal pernah menyentuh lagi dunia molecular-robot yang sudah saya mulai ini. Pikiran lainnya berarti bahwa saya tetap di jalur yang sekarang ada di depan saya. OK, idealnya aja (baca=ngimpi)... saya akan bekerja keras berusaha mewujudkan si distributed robot made from DNA ini, kemudian tau-tau pada suatu pagi saya berhasil menciptakan robot biologis pertama di muka bumi, lalu robot-robot ini akan menjadi modal utama saya buat menciptakan bio-hazzard yang membuat saya dapat menuntaskan misi untuk menguasai dunia.................. well, definitely thas is not the idea. Dont take it seriously. Tapi, yaa intinya saya ga ingin berakhir dalam pola hidup yang membuat saya bosan. Kebanyakan evil mastermind berbuat jahat terdorong atas rasa bosan. Maksud seriusnya, saya pernah nyoba kerja jadi orang "kerja kantoran". Walaupun kerjaan bejibun, saya dengan modal kehilangan motivasi karena yang dikerjakan tiap hari flownya selalu sama. Seorang manajer bisa menjadi manajer setelah dia cukup pengalaman, setelah dia berulang-ulang mengerjakan hal yang sama terus menerus selama beberapa tahun. Dia menjadi ahli.

Tanpa bermaksud arogan, tapi yang bisa saya nikmati adalah mengerjakan sesuatu hal baru. Dengan riset misalnya, (mestinya) selalu ada hal baru. Pertanyaan-pertanyaan yang ketika terjawab akan mengarahkan pada pertanyaan baru lainnya. Seems neverending memang dan pada akhirnya para researcher-researcher ini akan mati meninggalkan rasa penasaran yang mungkin saja akan terjawab di masa depan tapi dia takkan pernah tahu (saya ngomong apasih ini). Intinya, kalau memang saya segitunya menikmati riset kenapa dong mesti ngamuk-ngamuk kalau para professor itu bangkit penyakit trollingnya? Well, jika disuruh menyebutkan apa yang salah dari semua keluhan-keluhan saya selama ini, saya tidak akan bilang saya tidak suka risetnya sih. Saya akan bilang bahwa saat ini hanya "kebetulan" berada di lingkungan yang kurang kondusif untuk beberapa alasan. Hehehe.

Entah kenapa saya cukup yakin di luar sana ada lingkungan lain yang mungkin bisa lebih membangun saya, yang mana mengarahkan saya pada pilihan lain: saya akan tetap melanjutkan beriset (baca = PhD), tapi di lab atau bahkan di negara lain. Plusnya, infer sendiri dari paragraf barusan. Minusnya, saya harus berkorban waktu. Jepang uniknya punya tahun ajaran yang beda sendiri dari kebanyakan negara di dunia. Yang bikin saya harus "buang waktu" hampir setahun sebelum akhirnya diberangkatkan. Belum lagi tambahan masa research student. Orang-orang yang wisuda barengan aja udah pada dapat gelar master pas saya baru mau mulai. Nah, kalau mau out lagi dari sini tentu mesti disesuaikan dong. Seengganya bakal ada 6 bulan yang mesti "dihamburkan". Itu juga kalau udah langsung dapat, di mana proses pencariannya sendiri kalau berdasarkan pengalaman sebelumnya bisa makan hampir setahun. Tua duluan dong (atau emang harus mulai nyari info dari sekarang aja yah?)

Yasudahlah, daripada saya melanjutkan tulisan tanpa kesimpulan ini lebih jauh, saya akan mengakhiri di sini. Karena besok masih ada diskusi dengan Pak Guru yang merupakan lanjutan kemarin karena saya "dibantai" nyaris 30 menit lebih dan beliau masih belum puas. Semoga saya cepat dapat ilham mau milih yang mana.

Tentu tanpa harus mengingatkan bahwa saya juga masih harus membuat pilihan sulit lainnya tentang hal pertama yang disebutkan si orang bijak. Huhuhu
Jan 21

Ini salah satu tulisan dari rekan kerja terkait kunjungan Bapak Habibie ke kantor beberapa waktu yang lalu. Silahkan dibaca, sangat baik untuk mengubah mindset kita terutama yang muda-muda. Enjoy….

KUNJUNGAN BAPAK BJ HABIBIE

Kantor Manajemen Garuda Indonesia

Garuda City Complex, Bandara Soekarno-Hatta

12 Januari 2012

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya, Adri Subono, juragan Java Musikindo.

Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.

Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).

Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

Dalam video tsb, tampak para hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan………………

Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb:

“Dik, anda tahu…………..saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan……………..

“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, …….itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur………Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.

Sekarang Dik,…………anda semua lihat sendiri…………..N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.

Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?’

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

Dik tahu…………….di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia………….

Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa…………….

Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua…………………?

Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun.

Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

Pak Habibie menghela nafas…………………..

Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;

Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama……………..

N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu………bahkan hingga kini.

Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir………….kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya………………..

“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,

-        Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten

-        C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis

-        D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!

Itu saja!”

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:

“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik………….organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik………………”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ………………………

“Dik, ……….saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ………..ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya…………saya mau kasih informasi……….. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu……………………”

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam………………………..seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan……………………

“Dik, kalian tau……………..2 minggu setelah ditinggalkan ibu…………suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu……… Ainun……… Ainun …………….. Ainun …………..saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini…………..’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

  1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!
  2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus……………
  3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.

Saya pilih opsi yang ketiga……………………….”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) …………………. ia melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun…………..dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia………….

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat…………. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata…………………………

Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui…………………

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang….. (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).

Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya.

Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu…………semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif……………….”

(pada kesempatan ini pak Habibie meminta sesuatu dari Garuda Indonesia namun tidak saya tuliskan di sini mengingat hal ini masalah kedinasan).

Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.


Jan 21
The scientist does not study nature because it is useful to do so. He studies it because he takes pleasure in it, and he takes pleasure in it because it is beautiful. If nature were not beautiful it would not be worth knowing, and life would not be worth living. I am not speaking, of course, of the beauty which strikes the senses, of the beauty of qualities and appearances. I am far from despising this, but it has nothing to do with science. What I mean is that more intimate beauty which comes from the harmonious order of its parts, and which a pure intelligence can grasp.
- Henri Poincaré

Too often I hear people say, "I don't see when I will need to apply this stuff in real life" when they're studying something they don't like. Poincaré was right, I think: it doesn't matter.

Except when you're studying syntax from minimalist approach, which is neither beautiful nor useful. In that case, it does matter -_-

I still regret the amount of time and energy I spent on that course.
Jan 20

Ukhuwah dan Dakwah

MENDENGAR kata dakwah mungkin bagi sebagian kita sudah membayangkan seseorang naik mimbar, podium, panggung lalu berbicara di depan orang banyak.

Ya, mungkin itulah sebuah opini pemikiran yang lazim kita temukan sekarang. Atau pun istilah ngetren sekarang, ada ustadz gaul, ustadz cinta, dan sebagainya (aduh ntah apa itu).

Tapi disini bukan mau ngedikte para pembaca kok, judul di atas memang nyentrik dengan harapan setelah membaca ini bisa menjadi konstruksi pemikiran dan wawasan kita tua dan muda untuk mengenal dan lebih dekat dalam berdakwah.

Tulisan kali ini memang inspirasi dari khutbah jum’at hari ini (20/1), biar pun waktunya singkat namun cukup mengena dengan topik yang sudah sering kita dengar seperti di atas.

Dalam hidup ini kita memang butuh nasehat dan saling menasehati, begitu juga halnya dalam berdakwah. Dakwah itu sendiri tentunya mengajak untuk berbuat makruf dan mencegah untuk hal-hal yang mungkar pastinya.

Mengenal muda-mudi serta generasi Aceh saat ini sungguh beragam, berbagai kesibukan orang tua kadang sering luput dalam mengajari anaknya sendiri. Maka dari itu jangan heran banyak dari generasi terpengaruh dengan ‘dakwah luar’ selain dari Islam.

Kalau sekarang kita mengenal banyak penceramah di Aceh dan sampai dibuat dalam rekaman seperti video dan audio, namun jangan salah buat kita yang muda-mudi gak harus pintar ngomong seperti para da’i/penceramah itu kok.

Sejenak kita lihat dulu deh firman Allah berikut ini yang artinya, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran [3] : 104).

Jika kita membaca dengan seksama dan tahu akan ayat tersebut, tentu disana disebut segolongan umat. Tentu kita tahu umat mana yang diseru untuk mengerjakan kebajikan tersebut. Apalagi jika ayat di atas kita sokong dengan ayat selanjutnya lagi, dimana Allah berfirman, “Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi manusia, kalian menyuruh (berbuat) kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran dan kalian beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran [3] : 110).

Jadi, dalam hidup bermasyarakat kita pasti punya yang namanya pemimpin. Dimana pemimpin juga mempunyai tanggung jawab yang diamanahkan lebih besar dari sekedar masyarakat biasa, mulai dari kepala keluarga paling kecil, terus kepala desa (keuchik), mukim, dan seterusnya.

Namun, dari setiap kita itu sebenarnya pemimpin, maka dari setiap pemimpin itu adalah da’i bagi diri sendiri setidaknya. Kita tidak perlu bersusah payah memikirkan kenapa para penceramah/da’i selalu sibuk menasehati orang lain, sibuk mengajari dan mengingatkan orang lain, sibuk ngomong sana sini, tapi tanpa sadar kadang kita belum pernah satu kata pun mengingatkan diri sendiri.

Dalam khutbah singkat ini, salah satu hadis Nabi saya lupa lengkapnya ada sebuah perumpaan untuk kita dalam menyikapi diri dengan sesama dalam mengingatkan untuk berdakwah.

Misalnya kita sering duduk bersama teman sejawat atau kerabat di warung kopi, salah satu dari teman kita itu jarang atau bahkan tidak ke mesjid hari jum’at, tentu ada cara tersendiri untuk menanyakan kenapa dia jarang ke mesjid dengan cara kita, tidak harus kasih dalil atau hadist –yang bisa memberatkan kita– untuk mengajaknya berbuat makruf.

Sudah kebayangkan, apa yang kita lakukan sama teman di warkop itu sudah masuk berdakwah lho, memang terkesan simpel tapi yakinlah itulah cara yang bisa kita lakukan dalam sehari-hari.

Ada juga pendapat begini, yang konon sering disebut nafsi-nafsi. Buat apa ingatin orang lain, diri sendiri aja belum beres dalam beribadah atau beragama, sok munafik, sok suci, dan lain yang kerap kita dengar dalam masyarakat hal-hal senada seperti itu malah yang lebih parah ada yang mengatakan yang melihat kemaksiatan malah mendumel itukan urusan keuchik, WH, atau siapalah yang disalahkan.

Sungguh disayangkan sekali jika pemikiran seperti itu masih saja menjadi belenggu bahwa tidak ada kewajiban bagi orang yang berpikir nafsi-nafsi ini untuk berdakwah, padahal bagi sesama muslim itu adalah saudara.

“Seorang mukmin itu terhadap mukmin yang lain adalah laksana bangunan, yang sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain”. (HR Bukhari dan Muslim)

Coba bayangkan, ada sebuah kapal dimana setiap penumpang pasti akan memasukinya dengan tempat masing-masing yang ada di dalamnya. Ada yang di atas dek, di tengah, bahkan di bawah (dek yang paling dasar). Umpama dek kapal ini bagaimana tingkatkan kita dalam ilmu dan beragama, tentunya orang yang berilmu banyak dan agama akan berada di atas, lalu rakyat jelatan yang biasa-biasa saja ada di bawah.

Maka dari itu orang-orang yang ada di atas sesekali dan kerap harus peduli dengan orang di bawah (dek bawah) saling menasehati, saling menghargai, tidak membiarkan dalam kebodohan dan sebagainya. Apa jadinya jika orang di dek bawah mengambil air laut lewat ngebor dinding kapal, jika tidak diajari tentu kapal bisa karam dan semua penumpang akan tenggelam. Begitu juga sebaliknya, ketika orang-orang di atas mengingatkan orang di bawah untuk tidak boleh sembarangan, punya cara dan trik tertentu.

Begitulah sebuah perumpaan, semoga kita bisa tetap saling mendakwahi sesama. Bukan nafsi-nafsi dalam kemasiatan atau kemungkaran. Wallahu’alam[]

Ilustrasi dari thechamberoffriendship.wordpress.com


Filed under: Aceh Hari Ini, Agama, Renungan Tagged: Aceh, Allah SWT, Blog, Facebook, Khutbah Jum'at, Media, Renungan
Jan 20

Diambil di cilandak mall, minggu lalu


Jan 20

Life Recently

Posted by Meri

Update blog bentar ah. Hmm, how is life this far? Well, some sucks, other’s good. Jadi, tesis udah sidang,  tinggal revisi, yang mana rencananya mo dijilid kemaren, tapi ternyata dosen pembimbing mo liat dulu. Berharap hari ini bisa dikelarin revisi, ternyata sang dosen sibuk dan weekend ada family gathering fakultas. Jadinya, selasa baru bisa ketemuan revisi. Mudah2an selasa bener2 udah bisa selesai masalah revisi2an. trus jilid hard cover, minta tanda tangan dosen penguji, scan halaman pengesahan, burn laporan dan source code ke cd, dan serahin ke perpus. Then, for a while, i can get rid of thesis. For a while. Saya ada utang satu jurnal internasional sebagai tuntutan beasiswa. Rencananya tesis ini aja yang dijadiin paper. Nop, I am not complaining. Absolutely believe, that it’s truly for the student’s improvement.

Nah, untuk sekarang saya mo revisi roadmap. Apa sih yang mau dilakukan abis lulus. Semester depan insya Allah diminta ngajar di kampus untuk 2 mata kuliah. Mata kuliahnya apa? hehe belum resmi, nanti aja kalau udah pasti. Yang pasti, saya suka sih dengan kedua matkul tersebut, cuma ada satu yang mengganjal, but you can’t get everything in life. Bisa jadi apa yang kamu tidak suka, justru baik bagimu kan? Of course!!

Trus, oiya belum sempet posting resolusi. Jadi beberapa resolusi saya tahun ini adalah:

1. tambah tabungan pendidikan untuk Fisa sampai tahap X.
2. punya sim A dan bisa bawa mobil.
3. ikut komunitas IT.
dll.

Dan beberapa yang lain. Udah sih, gitu aja. :D


Jan 20

^$%*%

Posted by nisaihsani

Lama ga ngeblog, yang rindu tunjuk tangan. Sekedar update saja sambil menunggu isya:
  • Ujian kelar. Sepertinya yang tadi siang itu adalah the last exam of my life. Sekarang tinggal ngerjain proyek Semantic Web. Kuliahnya sendiri cukup santai, namun jadi ga santai gara-gara saya salah milih partner proyek. Tapi sudahlah, ga baik ngomongin orang.
  • Weekend lalu saya mengalami cobaan yang cukup berat, yaitu... internet mati karena kabel LAN bermasalah. Buhuhu, menderita sekali rasanya. Sekarang sudah beli kabel yang baru, sepanjang 30 m. Jadi saya tidak perlu meninggalkan tempat tidur lagi.
  • Saya sedang tergila-gila dengan seri A Song of Ice and Fire. Setelah terjebak dengan buku fantasi ga mutu (uhuk, Inheritance) and beberapa buku nonfiksi yang ternyata terlalu berat buat saya, senang rasanya bisa kembali terlarut dalam bacaan.
  • Sesungguhnya saya sudah muak dengan winter. Udara dingin hanya salah satu dari beberapa hal yang menyesakkan. Belum lagi langit kelabu. Malam yang terlalu panjang. Tanaman mati. Pengen pulang, uhuhu.
  • Susana hati belakangan ini sungguh busuk. Mungkin pengaruh cuaca. Mungkin pengaruh partner proyek yang menyebalkan.
Sudah itu saja. Lagi bt memang. Baiknya baca A Clash of King sahadja.
Jan 19

kalo lonya belum bener, ya jangan harap negaranya bisa bener. Indonesia itu Anda

Ini film bikinan adik-adik kelas gw di kampus. Inspiratif deh, terus keren juga! 8,5 dari 10 nilainya!

Nonton ini, gw kaya nonton film Hollywood. Tahu kan, film-film keren Hollywood itu ga ada adegan yang “kebuang”. Adegan di awal film itu kan biasanya menjadi clue di tengah/akhir film..

Nah ini jg begitu.. Tonton aja deh biar ga dibilang spoiler WinkSimilar Posts:

Jan 18

Nge_Blog

Posted by Andi Fitriany Nadjib

AssalamuAlaikum, wohoo lama banget rasanya tidak bercerita di blog ini. Banyak moment special yang terlewat untuk diceritakan dan dibagi hehehee.. Karena saya lagi sibuk menata hidup dengan anak saya dan  berusaha terbebas dari tanggung jawab sebagai mahasiswa *halah bahasa ku*:D jadilah jarang ngisi blog.

Sekarang sudah tahun 2012 di awal bulan bentar lagi berganti bulan ya walopun masih 2minggu lagi seh, tapi rasanya pengen cepat-cepat awal februari. Ada apa dengan februari? Semoga saja saya bisa wisuda hahaha walopun telat banget seh tapi itu salah satu harapan saya di awal tahun ini. Karena sudah menjadi kewajiban untuk lulus dan udah cape ditayain kapan wisuda sama orang tua dan suami *-*...

Setelah harapan pertama saya bisa terwujud, saya juga berharap ditahun ini bisa memberikan yang terbaik buat anak saya dan keluarga.. Banyak seh sebenarnya cita-cita gw yang masih belum kesampean tapi step by step aja dijalani. Ini aja tanggung jawab ngerawat anak susah juga rasanya apalagi tiap hari pertumbuhan anak itu cepat. Kadang pusing, kecapean, stress sendiri, tapi semua itu disyukuri aja karena semua orang pasti ngerasain hal sama kayak gw walopun masalahnya beda-beda ^^,.

Oya lupa harapan yang kedua semoga suami lulus cepat dan penempatan dapat yang nyaman sesuai jodohnya sehigga bisa barokah hidup bersama, hehe.. #walopun ntar tidak langsung ikut yah Ayah.

Hemm, teryata ada harapan selanjutnya ortu juga bisa hidup lebihn nayaman di makassar sana dan mama aku juga bisa cepat-cepat wisuda s2 nya dan pindah ke makassar kerjanya biar gak bolakbalik kasian juga liat nyokap kurang istirahat :) dan adik aku yang cewe juga moga lulus jadi dokter yah, jangan ikut masuk jurusan gw etar puyeng, walopun kedokteran lebih puyeng juga seh ;p hehe..

*Kayaknya tahun ini harapan lulusan semua ;p xxixiixix...
Ya sudah deh celotehnya di tengah malam begini, lanjutkan tidur disamping my baby Azka..

@Room - 10.55pm
Jan 18

Sore itu, saya masuk ke dalam sebuah restoran sushi. Telah terbayang di pikiran saya sushi favorit saya yang akan saya pesan. Saya mencoba mencarinya di antara rak-rak display yang ada di sana. Setelah bolak-balik 3 kali karena tidak menemukan sushi favorit saya, saya sukses didatangi pelayan toko. Bukan satu, tapi dua pelayan toko!

Seorang pelayan pria dan wanita menghampiri saya. Si pelayan pria bertanya, “Ada yang bisa saya bantu pak? Sedang cari sushi apa?”

“Oh saya sedang cari sushi favorit saya, yang ada abon-abonnya itu, tapi saya lupa namanya…”

Si pelayan pria langsung mengambil daftar menu dan menunjukkan gambar sushi favorit saya dan bertanya pada saya, “Oh yang ini ya pak?”

“Ya, betul… Yang itu!” jawab saya.

Tiba-tiba si pelayan wanita berkata, “Oh, sushi itu kita sedang kosong pak sekarang…”

Sedikit rasa kekecewaan timbul ketika mendengar sushi favorit saya sedang kosong. Ketika saya sedang berpikir untuk pindah ke restoran seberang, tiba-tiba bak oase di padang gurun, si pelayan pria berkata, “Oh, sushi ini ada pak. Akan kami segera siapkan ya. Bapak bisa langsung duduk saja, nanti saya antar…”

Maka terjadilah, saya duduk, si pelayan pria segera masuk ke dapur, dan beberapa menit kemudian keluar dengan membawa sushi favorit saya. Akhirnya saya jadi makan di restoran sushi itu dan tidak jadi pindah ke restoran seberang.

Akhirnya, tidak hanya saya berhasil menikmati sushi favorit saya hari itu, saya juga mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga yang terlintas di benak saya ketika sedang menunggu sushi favorit saya. Pelajaran apa yang saya dapatkan?

Pelajaran yang Saya Dapatkan

Dalam cerita saya, ada dua orang pelayan yang memberikan dua jawaban yang berbeda.

Pelayan pertama (wanita) memberikan jawaban bahwa “sushi favorit saya sedang kosong.” Saya menyebut jawaban pelayan pertama ini sebagai “jawaban faktual”.

Mengapa faktual? Karena memang jawaban itu tidak salah dan berdasarkan fakta yang ada. Ya, memang sushi favorit saya saat itu sedang kosong. Itu adalah faktanya. Tapi, jawaban faktual ini akan membuat saya berpindah ke restoran seberang dan tidak akan memberikan keuntungan untuk restoran sushi ini.

Pelayan kedua (pria) memberikan jawaban bahwa “dia akan segera membuatkan sushi favorit tersebut untuk saya.” Saya menyebut jawaban pelayan kedua ini sebagai “jawaban solutif”.

Mengapa solutif? Karena jawaban ini tidak berfokus pada fakta yang ada bahwa sushi favorit saya sedang kosong, tetapi berfokus pada solusi bagaimana saya dapat memperoleh sushi favorit saya, atau setidaknya memberikan saya solusi-solusi alternatif lainnya.

Karena jawaban solutif ini, restoran sushi tersebut akhirnya memperoleh untung dari saya, dan saya pun mendapatkan kesenangan karena mendapatkan sushi favorit saya.

Intinya, jawaban faktual berfokus pada fakta, dan jawaban solutif berfokus pada solusi.

Lalu bagaimana pelajaran ini diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari kita? Saya akan berikan sebuah aplikasi yang sederhana.

Ada satu quote yang berbunyi demikian:

“Anda cari siapa yang salah, ketemu siapa yang salah. Anda cari solusi, ketemu solusi.”

Bayangkan ada kesalahan yang terjadi yang merugikan Anda. Apa saja… Entah sesederhana teman Anda memberi petunjuk jalan yang salah yang membuat Anda nyasar, atau serumit teman Anda melakukan kelalaian hingga menyebabkan benda berharga Anda hilang. Apakah yang pertama kali akan Anda lakukan?

Sebagian besar orang akan mulai mencari orang-orang yang bisa disalahkan, dan mulai menyalahkannya. Mereka mencari fakta: siapa yang salah? Dan mereka mencari siapa yang salah bukan untuk mencari solusi, tetapi untuk menyalahkan dan melempar tanggung jawab. Mereka ingin hanya si orang yang salah saja yang mencari solusi untuk memperbaiki kesalahannya. Fokusnya bukan kepada bagaimana kesalahan itu bisa diperbaiki, tetapi bagaimana orang yang salah bisa dihukum sekeras-kerasnya.

Pertanyaannya, sebenarnya mana sih yang lebih penting dan menguntungkan kita? Apakah yang lebih penting itu adalah dihukumnya orang yang salah atau kesalahannya diperbaiki? Saya pribadi menganggap bahwa akan lebih penting jika kesalahan itu bisa diperbaiki. Jadi, mengapa tidak berfokus pada bagaimana mencari solusi atas masalah tersebut?

Apakah Anda akan menemukan orang yang salah atau Anda akan menemukan solusi, itu tergantung pada apa yang sebenarnya Anda cari.

Jadi, mengapa tidak jika mulai sekarang, kita lebih berfokus pada solusi daripada fakta? Saya yakin jika Anda melakukannya, ini akan mencegah banyak masalah yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Carilah jawaban solutif lebih daripada jawaban faktual.

Tuhan menyertai kita,

Charles Christian


Jan 17

Infographic Password

via Guy Kawasaki via Killer Infographics

Kalo pengen ngeliat infographic yang keren-keren (banget), bisa dilihat di sanaSimilar Posts:

Jan 17

Our Home

Posted by istianasutanti

Not our own home yet, this is our rented home.

Yea, since we (My husband and I) were married, we lived separately from our parents. The reason is, we want to learn about how to make an independent living, just the two of us. We started this family from the bottom, so the both of us will have the same feeling about how hard the struggle is to build the family  ~the great one~. :D

And, here is the pictures of our rented house. Home sweet home for us ~for now~

Images by me @momopururu, click the image to view larger :)

Pintu Depan + Ruang tamu Rak Sepatu + Rak ~di depan pintu~ Ruang Tengah Dapur Dapur + Kamar Mandi

Hope we can afford to buy our own home soon :)


Filed under: Pribadi
Jan 16

Diambil di Mall Kelapa Gading 3 barusan