May 18

nulis paper

Posted by Laksmita Rahadianti

post ini mau saya tulis pake bahasa indonesia. juga nggak mau saya tulis dengan tanda baca dan huruf kapital yang benar. muak saya soalnya, muak dengan ngetik, muak dengan scientific english, muak dengan meriksa typo, muak dengan perumusan kalimat inggris yang baik dan benar.

well, its all in a days work, katanya sih begitu. jadi seminggu belakangan ini saya sedang menulis paper untuk dikirim ke suatu conference internasional yang cukup besar. nah saya bukannya gak pernah nulis paper sebelumnya, tapi entah kenapa ini terasa beda. nah yang dulu-dulu itu paper bahasa inggris juga kok, tapi ya mungkin karena ditulis untuk konferensi lokal, jadinya tidak sebanyak ini perintilan yang dipikirkan. paper pertama saya itu ditulis untuk konferensi yang diselenggarakan kampus, dan ditulis berdua saja dengan dosen. oh wait, boss, karena saat itu saya sudah tidak berstatus mahasiswa melainkan asisten riset. lalu, paper kedua juga ditulis untuk konferensi indonesia, tapi bukan diadakan kampus sendiri. yang ini ditulis bertiga.

ah kok ngalor ngidul.

intinya, sekarang ini beda banget suasana nulis papernya. jadi saya nulis dengan seorang murid es tiga yang dibimbing pak profesor saya. nah karena yang saya kerjakan untuk tesis merupakan subset dari masalah besar yang doi kerjakan untuk es tiganya, jadinya kira-kira, big plan dan konsep besarnya dikerjakan oleh beliau, dan saya menulis perintil soal matematika, code, database, kuesioner, nyebar kuesioner, analisis hasil, serta hal-hal menial lainnya. lalu beliau mengoreksinya jadi suatu paper yang betulan.

omong omong, analisis survey itu nyebelin. saya selama ini selalu ngerjain yang dikerjakan komputer dan tidak butuh tanggapan orang. tadinya ngerjain tesis sengaja pilih yang begitu juga, gak yang perceptual gitu yang butuh responden, karena saya orangnya nggak sosial.

omong-omong lagi, setelah tinggal di luar begini dan berinteraksi dengan orang-orang, saya baru ngeh saya orangnya bukan ekstrovert seperti yang saya kira selama ini, tapi ternyata saya introvert. saya susah basa-basi, males party dan awkward kalau ketemu orang baru. kalau kata orang sini sih maka dari itu orang butuh mabuk, supaya lebih luwes dan bisa berinteraksi. yah mau gimana. lagian alkohol di sini mahal *salah fokus*.

ah kok jadi omong-omong embedded in omong-omong sih, jadinya kemana-mana. balik ke topik, nulis paper satu ini memang agak diburu-buru hanya ada waktu seminggu. sebenarnya ini dimulai dari minggu lalu si anak es tiga ngajak ngobrol dan ngebahas beberapa hal soal tesis lalu bahwa bisa jadi paper, dan saya diminta ngumpulin nama conference yang mungkin cocok dengan topik. saya pikir maksudnya buat kapan2, lah saya masih sibuk nesis, emangnya saya punya waktu nulis paper?? eh ternyata betul2 besoknya saya dikirimin link conference yang deadlinenya akhir minggu ini! wah semua kuesioner yang sudah siap disebar untuk hasil cepet.

sejak itu hidup saya tidak tenang (lebay). tapi yang saya maksud adalah, rasanya saya nggak dikasih waktu nafas! jadi misalnya nulis suatu bagian yang menghabiskan sepagian. lalu saya berniat pergi ngegym yang biasa saya lakukan saat (extended) lunch hour. tapi tidak lama kemudian saya mendapat email bahwa ada yang perlu diperbaiki, lalu begini begini. dan rasanya belum selesai mengerjakannya sudah dapat email baru soal hal lain.

pengalaman baru, bahwa betul-betul soal koma setelah kata tertentu atau penggunaan kata tertentu kebanyakan betul-betul diperhatikan. dari bagaimana caranya ngurangin teks dan diganti dengan bagan, atau membuat tabel yang jelas membandingkan hasil dengan seefisien mungkin, atau mempaskan paper jadi 4 halaman pas pas pas, menulis ulang introduction dan abstrak sampai 8 kali supaya tidak terlalu panjang dan bertele-tele tapi tetap menjelaskan semua hal yang perlu dijelaskan, sampai bagaimana menjelaskan hasil dengan pas.

paper-paper yang terdahulu, tentu saja saya kerjakan sepenuh hati, dan begadang begadang, tapi tidak sama sekali sampai setaraf ini perintilannya. rasanya sampai saya dreading ngecek email saya setiap kali saya online, harap-harap cemas kalau ada email baru yang isinya koreksian, dan takut banget melakukan kesalahan. sampai hal sekecil spasi yang dobel dikomentari. emang saya yang males sih kayaknya, tadinya kalau ngerjain tesis aja saya bisa aja bolos sehari buat santai santai kerja dari rumah tapi dengan paper ini bisa tiba-tiba dicariin buat meeting sampai 3 kali sehari.

omong-omong hari ini tanggal merah, hari konstitusinya norwegia, dan orang-orang berkumpul di kota dengan memakai baju adat norway, makan eskrim (padahal masi dingin juga) dan bersuka ria. bayi, anak kecil, orang tua, dan bahkan anjing didandani dengan pita dan bendera norwegia, dan orang-orang bersukaria di jalanan. saya udah lama berniat pergi ke sana, tapi saya hampir saja kesiangan tadi pagi gara-gara tadi malem begadang ngerjain si paper. lalu, setelah ngeliat parade, saya balik ke kampus, sudah ada 3 email dan koreksian terbaru menanti.

deadlinenya besok, dan saat ini saya udah sleep deprived, tapi si paper sudah versi 6,  udah hampir selesai dan jumlah halamannya sudah pas.

fyuh. respect on a whole new level buat orang-orang yang nulis paper. sebagai newbie, saya bener-bener sadar betapa sedikitnya saya tau dalam bidang ini, dan banyak banget yang harus saya pelajari. some things hanya bisa didapat melalui pengalaman, jadi walaupun pengalaman ini bikin saya terkaget kaget dan tidur tak tenang, semoga bakalan ada lagi kesempatannya nanti. dan skarang sebaiknya saya berhenti procrastinating dan kembali ngeproof read.

dan semoga paper ini bisa diterima.


May 17

*persentase kepentingan: 0%*

  1. Lari pagi
  2. Bikin playlist di 8tracks, check this out: http://8tracks.com/nisaihsani/a-constant-reminder
  3. Menulis cerpen
  4. Makan apel
  5. Baca Harry Potter and the Deathly Hallows
  6. Sit up
  7. Makan jeruk
  8. Ngepang rambut
  9. Nyiram tanaman
  10. Mengukur panjang kuku terpendek (0.5 cm)

Baaaa, malasnyo.


May 17

Protected: ya gitu deh

Posted by heningsept

There is no excerpt because this is a protected post.
May 15

So Now About Language Learning

Posted by mardian

Well, I am not a big fan of language learning. For me, language is just a matter to deliver and to give a shape to the information, - the linguists might have got angry with this, but this is just my opinion thought :D - so normally I will not give a lot of care when someone tries to correct my grammar, seriously I see no point of doing that, since if you can correct me, it means you understand what my message is, my information is delivered, so why bother? But anyway again, this post is another post I made to practice myself before toefl test next week (according to my last result, writing is my best drawback), so in this case I will happily accept any correction.

Aaaand... I know that was not a good paragraph to start an essay. Citing the class of Academic Writing, a good scientific article should begin with a proper background, introduction and bla bla which in the end lead to the main topic of the contents. Now, I will just blabber about what I have gone through when I tried to learn (so hard) English and Japanese, the only two foreign language I can speak so far.

So first is English. I bet everyone can understand the reason why we (yes, we) had to learn English from the first place. As the world emerges into the so-called globalization and bla bla... a uniform way for communication is inevitably needed to connect all different cultures in the world... nah, I am not going to talk about this. Anyway, it came to me like dozen of years ago when I was in junior high and for the reason I can only understand a lot of years after that, my parents were so demanding about attending an out-of-school extra course in English. Well, as I found that I already made a very very big sacrifice by spending more than my 6-hours life per day at school, I always said: "I do not want to!". And there I was, while both of my brother and my sister spent their play-time on a yet-another English class, I spent mine with... playing, just like it is supposed. Needlessly to say, '6' was often my favorite mark on the final report every the end of classes semester.. for English subject......... or maybe also for another subject.................... or other subjects as well. But still, I saw no urgency of doing extra class.

I was in the 2nd grade I guess when I got addicted to video games. You know, that old time when Sony Playstation began to invade our childhood and replaced all of those traditional games. I can spend literally whole day sitting down inside of my own room, playing this and that game ignoring anything happened outside. There was time when I started to like playing an RPG or Role-Playing-Game, for some reasons, maybe because I can do it alone when both of my brother and my sister started to get lost their attention on this kind of gaming-thing (or maybe because I do not want to play with them together... lets this remains as mystery). If you have ever played an RPG you might know as well that in order to complete the mission on the game, you have to understand what you have to do. Normally, it is incorporated with the storyline of the game itself, which is also another reason why I like RPG that much. So long story short, since all the game-softs that I played that time were English version, I had no other choice but to learn English. Simple, right? Well, I do not really remember how it worked, the very first time I finish the "Final Fantasy IX" - one of my favorite all the time - it required me more than 40 hours time of playing. It is considered slow as every time I encounter a hard conversation between characters I need to check up the words from dictionary (the second time I played it again, it was just around 30 hours or something). Slowly, a lot of those vocabularies remained in my head.

I know I cannot be the only one who learned my way through something other than a properly taught and curriculum-based class. Some people learn English as they love watching movies, some learn from reading books (which actually sound more noble I guess). I am always happy (and proud of course) every time that I have to tell someone that I have come this far with my English even I had never attended any formal learning method other than my formal education classes at school. Yeah, I know I know.. it is not saying that my English is really good or something, but this kind of question comes a lot of times especially from my Japanese friends (despite the fact that Japanese people are statistically not that fluent in English). Sometimes it seems that I surprise them when I say: "No, my native language is Indonesia". They will go like: "Then, how come you can speak English?". "I learn from quite long time. Indonesian language is only spoken by Indonesian people. So if we want to go somewhere else, we have no other choice but to learn English". "We also learn since junior high school, but how come it is so different?"... Anyway, this kind of conversation of course happens in Japanese.

What I can really tell you - and especially according to that last quoted chat as well - that probably there are benefits of learning English outside of the class. One once said that there is no point of knowing something unless you know how to use it. Hmmmmm.... is it really any proverb sounds like that or I just made it? Haha. Anyway. It might be true, because one of the biggest point where I felt that my English were improving was back to the time when I spent 4 months of my bachelor period as exchange student in our neighborhood country. As I was assigned to have a room mate from different country, I had no other choice but to speak English in every minute - unless I do not want to talk of course, but you do believe that the silence between two people for too long time is an awkwardness, right? The same thing happened in the class that I took, in the club I joined and else. You have to force yourself to talk talk talk and talk... Classic is not it, as what excuse always happens to these Japanese guys. I can understand if they do not talk to me if they are naturally shy-type person, but most of the case I guess they also seem afraid to sound like an idiot.... Wait, why am I talking about this again.... And yeah, one last point before continuing to my Japanese learning, movie, games, books or whatever is that (I mean something related to English of course) do really help you a lot in learning language. Because they indirectly provide tons of examples of how you use such kind of words, phrase, idiom, even some expressions. What I observed often happens to my Japanese fellow is that basically they know a lot of words, but seem confused how to use it naturally. Well, but it is still better than talk nothing...

And next about Japanese.... Definitely, Japanese is not the best language I can speak, considering I have just lived it for a little more than 2 years, and only as long as those time I start to learn this language. In order to be able to survive, if I have to put it into the words. Back to when I was still in Indonesia, as soon as I got the notification about this whole scholarship things, someone once suggested me to attend a private course in Japanese. Again this time, as I said I am not a big fan to the language learning, I said the same thing I said to my mom many years before: "I do not want to". For the reasons that I am sure I do not have to explain, then I found myself had done a very huge mistake coming to this country with 0% of understanding of Japanese language. I cannot even read "kana" (the simplest characters) nor the basic greetings (unless "ohayou gozaimasu, konnichiwa and arigatou" of course) nor to introduce myself in the simple way (I believe that all the class about language begin with self-introduction, right? So, if you at least attend the very basic course of any language, you should be able to introduce yourself). That was really terrible time, when I cannot go out by myself. Even just to get some snacks from convenient store, I need a company.

I am really grateful for what happened in last two years (regardless the other-not-funny-stories about my life in my lab, those are different cases then, haha). Yes, I really am. My mistake when I thought that I will spend my whole first year to learn Japanese when I am finally in Japan, in fact it was just 4 months and completely different with those undergrads which is luckily (or unluckily?) they got more intensive one. It is common issue here that if you are in Japan as undergraduate student, then you are fluent in Japanese; but if you are under -space- graduate student program, then you cannot speak Japanese. Statistically, I believe this is quite true, as I mentioned that we do not get that long-period and that super-intensive class to learn Japanese, not to highlight that it is also mixed with research loads and all these preparation for entrance examination. But back again to the part about grateful, I heard once that someone said (I guess it was mentioned by my Japanese teacher) that Nagoya University's language center is considered as one of the best place to learn Japanese in the whole Japan. Great, is not it? (so guess I have no excuse now for not being able to speak Japanese properly.... but seriously dude, 4 months are not enough!). Lets not compare with some of our friends who are majoring in Japanese language or something related to that, or those who have learned this language since long time ago, I did observe that most of my friends here (who cannot speak Japanese when they came here, just like me, or just learned a little bit but still cannot speak) showed a lot of and visible improvement. I might be the worst one, but when I compare to other people who come different region, I am still quite relieved at least I can survive a day by myself here (that is why I feel so grateful as well, hehe). Well, even sometimes.. and maybe quite often... I regretted myself for not continuing those Japanese classes for the rest of 1.5 years up today (and then soon I realized, even if I registered myself in every batch of those classes, I will end up to never attend the lecture sessions. :-|)

And what really changed in the past 2 years? It is still fresh in my mind the very first time I pushed myself to go shopping alone when no one is available that day to accompany me. Well, it was not easy. First, it is because I had to buy this birthday present and sent it before late so I cannot wait for another day. Second, because this thing I would like to buy was quite complicated and required me to question a lot to the seller (and after that desperate struggle, we still broke up in the end.. haha, ignore this part). Anyway, equipped by some translated words I thought will occur during this shopping effort, I somehow obtained what I want, and ever since I gained a little bit confidence to speak in Japanese to other people. The time passed by, the first 6 months maybe the very obvious time to see my progression in learning Japanese. Of course, it was simply because I went from nothing to (at least) something. Grammatically, I was still terrible (even until now actually :D) and I really had to repeat the translation -either in English or in Indonesia- inside of head before really saying anything. Still, sometimes I forgot the words.

One difficult thing I guess when you start to learn some new language from formal method, that you are somehow bound to the rules you are taught with. Let me give examples, in Japanese there are a lot of particles used to connect the subject to the object and to the predicate (yes, the structure is like that). Sometimes it can be omitted and sometimes it can be really important that determine the meaning of the sentence. There is "ni" which is used to state about the direction, existence in some place, etc. There is "ga" which is used as active particle, for adjective, and verb that denotes capability. You see that most of the case one particle is used for many different occasion, and even sometimes there are confusion about adjective and noun. One good example is the word "like" in Japanese is treated as an adjective instead of verb. So as you are bound to these overwhelming rules, it is simply impossible to think every time you have to speak. Not to mention about the vocabulary itself which has a lot of similarity and hard to remember -or it is just me??(i.e: "okiru", "okuru", "okoru" and much more). Ah and one thing -or maybe many things- in Japanese there are too many different words to say asame thing, there are changes -which is a lot- from the basic form of any verb, and even the verb itself consists of its active and passive form (i.e: "doa wo AKEMASU" which means door is closed versus "doa ga HIRAKIMASU" which means door is closing. Oh wait, it also can be changed into passive "doa GA (subject here) AKERAREMASU" which also means door is closed (by subject), which can also be misunderstood as door can be closed.............................. why did I have to explain this? I am not starting a Japanese class, and I hope I was not mistaken here :D).

The point is, even recently I guess I am not that much improved, at least I can involve in a conversation without thinking a lot. I mean, I no longer (at the most of the case) repeat the words inside of my head before saying anything. It happened sometimes that I went into a conversation, when it finishes, I only know what happened but cannot repeat the exact words what they said and even what I said myself (I do not know this is good approach or not, but it is workable for me). And yeah, just to mention that this time, instead of learning through video games (I tried once, but as the language is very accented and the subtitles for the conversation are all written in Kanji -most of them are difficult kanjis and I do not have that sophisticated kanji dictionary- I temporarily gave up. Haha). Maybe movie and books will help better, but I do not really like both, so I tried to learn as much as possible from daily life. Even sadly, these Japanese fellas are still not much as talking-guys, so I still have to try so hard to approach them. Sigh. But maybe some tips I can share, join some communities which share the same interests with you will might help. I mean you will always some things to talk about. Because what I found the same when I learned English and learned Japanese is that the more you talk the more you will be proficient. Trust me, they will not care about your grammar. Even when we speak our native language, we do not really observe about how people say a sentence word by word, do not we?

Hmmm... I guess I should stop writing now.
May 15

Thesis Questionnaire

Posted by Laksmita Rahadianti

Finally, an important post (who says?)

Anyways, I wonder if I really do have any readers, hmm? :) And if I do, I might as well use it to my advantage..

So, for my thesis, I need respondents to complete a questionnaire for a subjective analysis of my results up till now. Sooo…… if you are reading this, whoever you are, and you are (or have ever been) a student, please help me! :)

You will find detailed instructions on the  questionnaire page. Each questionnaire will only require up to 5 minutes of your time!

Here are the links to 5 different questionnaires, you are free to complete any of them and as many as you can find time for, but please fill in each questionnaire only once.

http://bit.ly/KJwlTW
http://bit.ly/JfZYbO
http://bit.ly/JDbGQo
http://bit.ly/KXUK5D
http://bit.ly/Kj6xMl
Thank you!

May 15

Creative Commons Blogger AcehMERUNUT pada dasar seorang narablog alias blogger sebenarnya dikenal sebagai orang-orang yang kreatif, kenapa begitu? mudahnya karena mereka bisa menulis dan menceritakan sesuatu tanpa dituntut harus tahu cara menulis seperti jurnalis, atau melewati tahap-tahap yang ribet lainnya.

Dan masih banyak alasan lain tentunya untuk menjadikan blogger itu bisa kreatif, terutama keorisinalitas dari tulisan yang dihasilkannya lewat gaya dan caranya tersendiri. Belum lagi cara mengolah tampilan, konten, dan masih sangat banyak unsur lainnya.

Tapi kini seiring perkembangan waktu, dan seperti yang sering saya amati di situs ABC, banyak pergeseran yang terjadi menjurus pada nilai kreativitas yang mengalami penurunan terutama dari sisi tulisan atau konten.

Pada sebuah kesempatan, saya sempat memberikan wacana dan opini (11 Mei) dalam sebuah status yang berbunyi: “Semenjak dari awal tahun 2012 sampai saat ini saya melihat perkembangan postingan blogger Aceh banyak yang tidak kreatif lagi dalam menulis (curhat, berita/info, artikel, dll) di blog. Beberapa agregrasi tulisan yang masuk ke situs ABC hampir (rata-rata) berisi tulisan copy paste dari blog/situs lain.”

Tak lama, berbagai komentar pun datang seperti dari Jaka Zulham“Beu jeut keu generasi yg menghormati karya ureung laen..!”. Ditimpali lagi oleh Shiroi Kiba“Lebih baik karya sendiri walaupun sedikit visitor..”.

Narablog kawakan Aceh, Pozan Matang juga sempat menyentil efek adsense alias blogger matre, “Para blogger kabeh keunong sindrome adsense. Pu lom jinoe ka kejut lam bahasa indo, ka meutamah sawan lom, pakoen hana di aprove2 ata lon.Efek copas”.

Tidak hanya itu, blogger aktif sekelas Rosid Es Teh Panas juga berkomentar, “Satuju… postingan copasan itulah yang kadang membuat para penulis asli merasa malas untuk berkreasi kembali….”. Dan masih banyak suara para blogger lain yang tentang hal copas tersebut.

Jika Anda pernah tahu/baca tentang Creative Commons atau lebih lazim dikenal dengan singkatan CC, sering pada sebuah blog memuat sebuah halaman atau disclaimer yang berisi aturan pengguna konten pada blog tersebut.

Jelas aturan ini memang bukan sebuah keharusan, tapi lebih kepada imej sebuah blog untuk bisa/dapat dikonsumsi oleh orang banyak. Karena kita tahu media online sejenis blog ini bukan untuk dibaca atau dikonsumsi sendiri, melainkan terbuka bagi publik walaupun ada beberapa blog bersifat privat alias dikunci.

Intinya mulailah menulis sendiri, kalau memang harus meng-copas tulisan orang tetaplah hargai dengan mencantumkan sumber. Selebih dari itu andalkan kreativitas dalam menulis, baik di awal atau di akhir tulisan. Sehingga orang pun tahu maksud dari tulisan tersebut adalah salinan dari blog yang lain. Lebih baik dicap blogger santun dari pada blogger preman yang tidak tahu akan aturan.

Semua yang ada di dunia daring itu tidaklah tercatat secara harfiah, setiap netizen tentu punya cara tersendiri dalam menghargai karya orang lain dan salah satunya tunjukilah lewat karya sederhana dalam kreativitas ngeblog. Happy blogging and go Blog!

Ilustrasi dari creativecommons.org dan scottfisk.com


Filed under: Aceh Hari Ini, Blogger, Blogging Tagged: Aceh Blogger, Aceh Blogger Community, Blogger Aceh, Blogger Kurang Kreatif, kreativitas

May 15

jolly high school years

Posted by nisaihsani

I’ve been missing high school so much these days. Probably because I’m at the end of my days in graduate school, and reluctant though I am to face it,  the time to leave the safety of classrooms and get a real job shall come soon. And so I’ve been trying to shake off the unpleasant thought by reminiscing high school days.

One thing I remember the most from my first year in high school was writing a story with my best friend. Classes can be so boring and one day we decided to stop wasting our time being bored. Pretending to take notes, we wrote a story instead, long enough to fill a notebook. It’s about two best friends named after me and my best friend, and a male character called Daniel (uh yes, from Daniel Radcliffe). Second year, we wrote another story. Filled two notebooks, together with short autobiographies and reviews from our classmates. But enough of my writing career. There were four science class in my third year. The smartest people were in Science 1, whereas Science 4, my class, had been the stepchild of the family, or as one of the teacher said: IPA-IPAan. Those were golden days.

Daniel Radcliffe is no longer that cute eleven-year-old boy now and the last time I met my best friend, we agreed he’s not as handsome as before. And I think the thing I miss the most, more than the fact that Nokia camera phone was the coolest thing, is the feeling of being young and carefree and not having worry about making money. Oh I know what they say, that even now we can be young and carefree and no point in worrying about making money.

It’s just that sometimes I feel like I’m growing old so young.


May 14
Kalimat itu sesuatu banget. It rang a bell. Diucapkan oleh dosen data mining di kelas sore tadi saat lagi bahas tugas. Katanya, kerjakanlah sebaik-baiknya. Gak ada ruginya bekerja keras dalam kebaikan, akan kembali lagi ke pelakunya. Namun, mungkin bentuknya bukan apa yang kita dapatkan, tapi menjadi apa kita karenanya. Setelah kerja keras, mungkin kita gak [...]
May 13

Udah lama nggak ngupdate kabar apa yang sedang gw lakukan sekarang ya.. Sekarang gw ceritain aah, apa yang sedang gw kerjakan, dalam hal kehidupan bisnis dan profesional gw..

Ada empat hal yang sedang gw kerjakan saat ini.

Pertama, gw sekarang ngantor, tepatnya di IDS | International Design School. IDS adalah sekolah & tempat kursus di bidang visual kreatif, seperti desain grafis, animasi, multimedia, dan sebagainya.

01 (100)

Oh tidak, kantor saya tidak seperti ini. Orang kreatif mah nggak ada yang pake dasi Grin

Tugas gw di sini adalah menciptakan, menjual, dan mengembangkan program kursus/sekolah di bidang bisnis. Karena ini program baru, gw harus nyari pasarnya dan ngejual ke mereka. Jadi, meskipun status gw tidak lagi full-time entrepreneur seperti di akhir 2009, gw masih terus berbisnis, alias intrapreneurship.

Jadi, meskipun capek juga rasanya tiap hari ngantor, gw enjoy banget karena kerjaan gw di sana ya passion gw, terus gw belajar banyak buanget dari ngantor begini. Banyak pola pikir gw yang nggak positif dari saat kuliah maupun saat bikin bisnis sendiri dulu yang berubah Wink

Kedua, sekarang gw kuliah lagi, S2 di bidang Bisnis Kreatif, program yang diselenggarakan kantor gw bersama Institut Kesenian Jakarta. Gw kerja Senin – Jum’at, jadi Sabtu kuliah.

Jangan heran ya, kalo hampir tiap Sabtu gw ngetwit dengan hashtag #S2BisnisKreatif. Artinya gw lagi kuliah, huehehe..

Di sini, mahasiswanya harus bikin bisnis (dalam kelompok), dan bisnisnya harus beneran diluncurkan selama kuliah. Soalnya, bahan tesis adalah tentang bisnis kita masing-masing. Jadi selese S2 Bisnis Kreatif ini, ada bisnis baru yang gw punya, insya Allah..

Sen. Joyce Elliott lectures

Temen-temen kuliah gw juga nggak bule-bule kaya gini sih sebenernya

Cerita gw kuliah di sini cukup unik. Awalnya karena setelah Univind bubar, gw menikah, gw mau jalan bisnis sendirian aja. Ngurusin anakUI.com dan bikin bisnis lainnya.

Tapi akhirnya gw jadi self-employee aja, nggak sampai jadi pengusaha beneran. Kerjaan gw itu nge-freelance nulis di Detik, di Penn-Olson (sekarang gw udah resign dari sana), juga sesekali ngisi training, dan ngerjain proyek website.

Jalan beberapa bulan, istri tercinta ngingetin gw, kalo gw itu stuck, nggak berkembang. Gw pun mengakui kalo dalam beberapa bulan setelah nikah itu, gw nggak berkembang.

Nggak ada karya baru yang gw hasilkan, ilmu yang nambah nggak signifikan, bisnis nggak berkembang, apalagi dari sisi finansial keluarga yang tidak nambah-nambah Razz

Kemudian Isti ngedorong buat kuliah lagi, yaitu kuliah bisnis. Sempet nyari-nyari peluang beasiswa kuliah di luar, gw pun direkomendasiin lagi dengan program S2 Bisnis Kreatifnya IDS – IKJ. Kenapa “lagi”? Karena tahun lalunya gw dikenalin dengan program ini, tapi masih belum tertarik.

Gw pun main ke IDS buat nanya-nanya lebih jauh tentang program ini. Tanpa disangka, gw malah diajakin  mas @AdezAulia buat gabung kerja di IDS, menjadi anggota timnya. Kebeneran, gw udah kenal mas Adez dan beberapa orang lain di IDS lebih dari setahun.

Jadilah, gw kuliah di IDS sesuai dengan keinginan gw mengembangkan diri, nambahin jaringan, & belajar bisnis, plus kerja full-time di IDS untuk dapet ilmu bisnis tambahan dari mas Adez & IDS.

Ketiga, gw masih ngejalanin anakUI.com. Sekarang semua peluang bisnis yang bisa disamber, gw samber buat anakUI.com.

Kopi Darat anakUI.com

ini anakUI.com waktu kopi darat di bulan puasa 2011 kemarin

anakUI.com punya massa, 18ribu lebih follower twitter, 7ribu member website, serta traffic ke website yang mencapai 1.500 visits per hari.

Jadi bagi pengusaha yang ingin berpartner dengan anakUI.com untuk menjangkau anak-anak UI, silakan banget, ntar kita revenue sharing..

Keempat, gw ngerintis bisnis Oriflame bareng istri gw.. Tahu Oriflame kan ya? Ini tuh merek dari Swedia, untuk berbagai produk perawatan tubuh, dari kosmetik, lotion, sabun, sampo, parfum, sampai minuman diet..

Terus apa bisnisnya? Oriflame itu adalah MLM, jadi gw sekarang menjalankan bisnis MLM alias network marketing.

Loh, MLM kan penipuan? MLM kan cuma nguntungin orang yang masuk duluan? MLM kan haram? MLM kan citranya jelek? Pasti ada temen-temen yang mikir begitu. Soalnya gw juga mikir gitu sebelum gabung Oriflame.

Gw udah ngebedah sistem bisnisnya Oriflame, ngebandingin dengan sistem piramida bertingkat, ngelakuin evaluasi buat ngecek sebuah MLM beneran bisnis atau cuma money game, juga  ngebandingin dengan fatwa ulama mengenai MLM.

Kesimpulannya, MLM yang jelek, yang penipuan, yang nguntungin cuma yg masuk duluan, yang haram, itu tergantung sistem bisnis & produknya. Masih ada kok MLM yang beneran bisnis, halal, legal, seperti Oriflame yang gw dan istri sedang merintis ini.

Insya Allah, tanpa keraguan, gw bilang sistem bisnisnya Oriflame ini masuk akal, fair, halal, dan menguntungkan, asal kita emang mau berusaha keras. Gw gabung di jaringan bisnis BossFamily alias BossLuarBiasa.

peluang bisnis kecil

Lebih detail tentang Oriflame insya Allah ada di postingan berikutnya yaa..

Yapp, sekian dulu update cerita tentang lagi ngapain gw sekarang.. Gw harus bikin posting ini supaya jadi catatan perjalanan naik-turunnya hidup gw dan bisnis gw Smile

Semangat, mari kita terus #BelajarBisnis!Similar Posts:

May 9

Ada banyak pertanyaan yang ada di dunia ini. Beberapa di antaranya merupakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak biasa kita jumpai, yang membawa kita pada sebuah refleksi diri yang mungkin dapat mengubah sudut pandang kita dalam kehidupan.

Berikut adalah contoh pertanyaan-pertanyaan refleksi yang saya pikirkan. Anda bisa mencoba menjawab setiap pertanyaan tersebut dalam hati Anda, dan saya pun akan sangat senang jika Anda mau membagikan beberapa jawaban Anda dalam kolom komentar di setiap halaman pertanyaan tersebut.

Inilah pertanyaan-pertanyaan refleksi itu… (klik setiap pertanyaan untuk masuk ke setiap halaman pertanyaan)

  1. Kebaikan sederhana apa yang pernah kamu terima/rasakan yang benar-benar membuatmu terkesan sehingga kamu masih mengingatnya dengan jelas sampai sekarang?
  2. Seandainya kamu diberitahu bahwa besok adalah hari terakhirmu hidup di dunia, bagaimana kamu akan merencanakan hari esokmu? Apa saja yang akan kamu lakukan di hari esok itu?
  3. Seandainya kamu diberi kesempatan untuk meminta maaf pada seseorang dan kamu pasti dimaafkan, kepada siapa kamu akan meminta maaf dan apa yang akan kamu katakan?
  4. Seandainya mesin waktu itu ada dan kamu diberikan hanya satu kesempatan untuk kembali ke masa lalumu dan menyaksikan kembali dirimu di masa lalu, ke momen mana kamu akan pergi?
  5. Seandainya kamu tahu kamu tidak mungkin gagal, hal realistis apa yang akan kamu lakukan?
  6. Seandainya kamu diberi kesempatan untuk bertanya satu pertanyaan dan kamu pasti mendapat jawaban yang tepat, apa pertanyaanmu?
  7. Seandainya kamu bisa bertukar hidup dengan orang lain, dengan siapa kamu mau bertukar hidup? Kenapa?
  8. Seandainya kamu bisa mengubah hidup satu orang secara instan, hidup siapa yang akan kamu ubah dan apa yang akan kamu ubah?
  9. Melihat dirimu hari ini dan 5 tahun yang lalu, sejauh apa perubahan yang kamu rasakan terjadi dalam hidupmu?
  10. Seandainya kamu bisa menyembuhkan sebuah penyakit secara instan, penyakit apa yang akan kamu pilih? Kenapa?
  11. Apa hal yang paling kamu sukai dari keluargamu, sekolahmu, tempat kerjamu?
  12. Siapakah tokoh yang paling kamu kagumi dan menjadi teladanmu? Hal apa yang kamu kagumi darinya?
  13. Pernahkah kamu menangis untuk orang yang tidak kamu kenal? Mengapa? Ceritakan.
  14. Ceritakan tentang pekerjaan ideal menurut pandanganmu.
  15. Pikirkan satu orang teman terdekatmu. Bagaimana kalian dapat menjadi teman dekat?
  16. Ingin dikenang sebagai apakah kamu oleh orang-orang di sekitarmu setelah kamu meninggal nanti?

Selamat berefleksi dan semoga Anda bisa terus menjadi pribadi yang lebih baik.

Charles Christian

P.S. Terpikir pertanyaan-pertanyaan refleksi yang lain? Mari bagikan melalui kolom komentar di bawah ini. :D


May 8

Belakangan ini tampaknya saya jadi agak linglung. Pertama-tama, saya sepedahan ke laundromat dengan setumpuk cucian, diantaranya sepasang kaus kaki. Ketika sampai rumah, kaus kakinya tinggal sebelah. Kemungkinannya adalah ketinggalan di mesin pengering atau jatuh di jalan (semoga tidak diambil sama abang2 laundromat). Lalu setelah itu sarung tangan andalan saya lenyap tanpa bekas. Saya bahkan ga inget kapan terakhir kali memakai. Belum berakhir, minggu lalu saya mengirim email ke supervisor tesis, Biasanya langsung dibalas dalam rentang waktu 15 menit, kali ini tumben ga dibales-bales. Setelah beberapa hari melewati SD dekat rumah yang sepi sepeda, barulah saya curiga dan mengecek kalender fakultas. Rupanya sepanjang minggu lalu itu adalah libur akademis, sodara-sodara! Dan berhubung saya baru nyadar di hari Jumat, ga ada bedanya juga.

Namun sekarang harusnya sudah tidak libur lagi. Dan si supervisor belum membalas email, huhu.

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa.


May 6

Tutorial PRAAT – Bagian 4

Posted by aquaralpha

Pada tutorial bagian 3 (lihat Tutorial PRAAT – Bagian 3), kita telah melihat kontur intonasi data ujaran asli dan kontur intonasi data salin-serupa. Dari kontur intonasi dapat diketahui makna tuturan yang menjadi dasar pembuatan hipotesis dalam penelitian fonetik akustik. Untuk menguji hipotesis, dilakukan uji persepsi menggunakan sejumlah stimulus. Stimulus-stimulus yang akan diujikan dalam uji persepsi [...]
May 6

Tutorial PRAAT – Bagian 3

Posted by aquaralpha

Pada Tutorial PRAAT – Bagian 2, kita telah melakukan segmentasi. Langkah selanjutnya adalah membuat salin-serupa (close-copy) dari data ujaran yang merupakan salinan garis kontur dari ujaran asli sehingga auditoris atau pendengaran manusia tidak mampu lagi membedakan antara ujaran asli dengan salin-serupa. Berikut ini adalah langkah-langkah membuat salin-serupa. 1. Sorot objek “Sound Tutorial_01”. 2. Klik tombol [...]
May 5

PANAS matahari pagi hari itu sudah menyengat, padahal masih jam 8 pagi. Di tanah para raja saya (kami) memulai pertualangan, bukan mendaki gunung, bukan pula melihat keindahan alam dan panorama laut, melainkan perjalanan untuk mulai menggarap lahan kosong. :D

Ya, hari itu giliran teman-teman Aceh Berkebun beraksi sambil refreshing siang hari beberapa penggiat bertemu di salah satu warkop ternama di Ulee Kareng, apalagi kalau bukang Solong.

11 April 2012, itulah tanggal yang sempat tercatut dalam status linimasa di akun @ACEHberkebun. Bahwa teman-teman sudah sepakat untuk menggarap lahan kosong di bilangan Bumi Permata Lamnyong sebagai kebun utama bagi pecinta dan penikmat rekreasi kebun di Aceh (Banda Aceh, -red).

Prosesi dari pagi menjelang siang tanah pun mulai dicangkul, tak lama siang pun datang di bawah terik panas matahari kami pun sejenak istirahat sembari menunggu datangnya amunis untuk menambahkan tenaga.

Tak lama habis ishoma, akhirnya beranjak kembali ke kebun. Di bawah pohon asam yang begitu besar, nasi bungkus ala kadar pun kami santap bareng.

Suasana seperti ini tak lain ibarat bertamasya, tapi bertamasya ini tempat bukan ke tempat wisata melainkan di kebun yang penuh dengan hamparan rumput-rumput ilalang. Gelak canda pun mengisi kekosongan sembari menyulangkan nasi ke mulut.

Hak perut pun sudah ditunaikan, tenaga pun kembali berstamina. Terik matahari masih begitu kuat menyinari, tak ada berkilah lahan yang sudah digarap beberapa bedeng pun tetap dibersihkan dari sisa rumput.

Bibit kangkung dan kacang panjang merah hari ini menjadi hari pertama bersemai di kebun BPL. Tak terasa terik matahari pun mulai mengalah, dan sore telah menyambut. Kami masih membersihkan kebun dari akar-akar rumput karena hendak mau disiram, jam sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB.

Berselang beberapa menit getaran pun mulai terasa, antara sadar kecapean atau gempa pun tidak begitu ngeh. Dan hentakan kuat pun terasa, ini gempa saudara-saudara.

Waktu itu sebuah pemandangan masih sangat cerah, tidak ada tanda alam. Yang saya lihat hanya ada kucing yang berlari sangking shock karena getaran gempa.

Rumah yang sedang dibangun di dekat lokasi kebun BPL itu terlihat sangat dalam ujian, sebagai patokan jika rumah yang baru diikat bata itu roboh menjadi salah satu pertanda bahwa gempa ini lebih kuat dari tahun 2004 silam.

Saat itu kami tidak tahu lokasi gempa di 2.31 Lintang Utara, 92,67 Bujur Timur (daerah Simeuleu), karena yang terdengar waktu itu pertama adalah asma-NYA, serta tangisan takut pun menyeraut dari teman-teman #ACEHberkebun,

Gempa pun berhenti sejenak, lagi-lagi kami tidak tahu berapa kekuatannya. Lewat tampilan linimasa dari BMKG akhirnya kekuataan gempa sore itu sekitar pukul 15.38 WIB ketahuan yakni 8.9 SR (8,5 SR revisi dari BMKG).

Tak lama status potensi tsunami pun mulai mengisi TL-TL, tidak hanya Aceh, Medan, Padang, bahkan hampir seluruh pulau Sumatera, Malaysia, India turut merasakan gempa terkuat ketiga dalam 10 yang pernah terjadi di Indonesia.

Maha Besar Allah, dengan segala kehendak-NYA membuat Aceh saat tiba waktu shalat Ashar kali itu seperti terbawa pada kejadian 7 tahun silam. Sungguh lautan manusia di berbagai persimpangan jalan panik dan berlarian ke tempat yang lebih aman. Lalu apa yang terjadi dengan kami para pekebun ini?

Kami pun akhirnya ‘mengungsi’, mencari tahu informasi yang sedang terjadi berhubung beberapa jaringan komunikasi terganggu, dan listrik pun padam tanpa bertuah tidak bersahabat kali itu.

Beberapa daerah saya coba perhatikan, melihat pergerakan air sungai Lamnyong yang terlihat naik secara pelan-pelan. Karena tidak jauh dari sana, daerah Alue Naga tsunami (ombak) kecil sempat naik barang 1 meter dan hanya berlalu sekitar 1 atau 2 menit.

Warga yang mulai gusar pun mulai terlihat dari cara mereka mengendara kendaraan, kami lebih memilih sedikit menepi sambil melihat-melihat. Tidak mau terjebak ke daerah yang macet, kami pun memutar ke Ulee Kareng karena disana menjadi salah satu tempat yang aman menurut saya.

Di luar kendali, dalam waktu 30 menit pascagempa beberapa warga ada yang sudah sampai ke Saree, Aceh Besar larinya. Dan dari masjid Baitusshalihin Ulee Kareng itulah saya mendapat informasi banyak, bertukar informasi dengan orang-orang, serta menunaikan kewajiban dulu.

“Adak mate-mate teuh kaleuh ta seumayang”, ujar saya sama Waru waktu itu.

Mengingat stok baterai hape pun kian tidak menentu, akhir saya pilih pulang ke Lingke untuk mengambil seperangkat alat ngecas yakni laptop. Tapi apa dikata kunci kamar ternyata tidak saya temukan, tidak lama berselang gempa kembali mengejutkan kami untuk kedua kalinya. Pagar-pagar seakan menarik, beberapa retakan di tiang-tiang rumah anak mahasiswa itu pun kian terlihat.

“Nyoe hana can le, ta gah laju keudeh u Keutapang”, lagi-lagi saya ambil alih sambil engkor motor lantak u Keutapang. Berhubung kondisi Waru saat itu kaki masih sedikit accident.

Click to view slideshow.

Dan di Keutapang akhirnya hape saya mendapat beberapa suntikan bar untuk bisa hidup sampai Maghrib. Beberapa jalan protokol yang kami lewati terasa sepi, persimpangan pun penuh sesak belum lagi lampu trafik yang tak berfungsi. Namun semuanya berjalan lancar, tidak ada banyak terdengar bunyi klakson, semua mengerti di dalam kepanikan patutnya harus ada kesabaran.

Beberapa tempat yang sempat saya singgah, saya abadikan melalui kamera hape yang bertahan. Bisa Anda lihat di foto slideshow di atas.

Dan inilah video yang saya dapat, keadaan warga yang panik saat berada di gedung museum Tsunami. Semoga catatan ini tetap membekas dalam ingatan, 26 Desember 2004 dan 11 April 2012 masih begitu kuat dalam sebuah memori ciptaan Tuhan.[]

~NB: Hari ini notifikasi WordPress.com memberi tahu bahwa blog OWL sudah ada 100 follower (apa hubunga sama 11 April ya) “Congratulations on your 100th follower on Orekan Waktu Luang.”


Filed under: Aceh Hari Ini, Renungan Tagged: Aceh Berkebun, Aceh Earthquake 11 April 2012, Gempa 11 April 2012, Gempa di Aceh 11 April, Video Gempa 11 April 2012
May 4

Bahaya Pornografi Sesungguhnya Secara Detail yang Sangat Amat Perlu Anda Tahu!

Silakan baca artikel di atas, buat tahu pengaruh pornografi yang sebenernya bagi diri kita (atau anak kita?)

Saya pernah dateng ke seminarnya Bu Elly Risman (yang disebut di artikel tersebut), artikel tersebut jadi pengingat buat saya, untuk mewaspadai bahaya pornografi untuk anak saya nanti.Similar Posts:

May 4

Beragam Perasaan Ibu Baru

Posted by istianasutanti

Bahagia. Karena akhirnya merasa sempurna sebagai perempuan, bisa nikah, hamil, dan melahirkan. Apalagi waktu pertama kali denger suara tangisan bayi pas lahir Super Seneng. Waktu liat Naia lagi melek dan main sendiri, waktu diajak ngobrol sama saya atau papanya dan diam mendengarkan dengan tampangnya yang sangat polos, dan waktu Naia melet2. Damai. Waktu liat Naia lagi tidur … Continue reading
May 4

Terry Mart

Posted by heningsept

Baca wawancara Prof. Dr. Terry Mart di Majalah Tarbawi. Wow.. publikasi ilmiahnya udah lebih dari 100 di jurnal internasional.. Berikut ini saya kutip sedikit bagian dari wawancaranya. *semoga Tarbawi gak keberatan :p Publikasi Anda di jurnal internasional sangat banyak, apa resepnya?Motivasi harus tetap tinggi, karena riset butuh tenaga potensial yang tinggi sekali. Misalnya kita harus [...]
May 3

ketika halaqah…

Posted by heningsept

http://www.dakwatuna.com/2011/09/14363/ketika-halaqah-tak-lagi-dirindui/

ngetes link wp :D

 

May 3

Bila lelah bersabar, bers…

Posted by heningsept

Bila lelah bersabar, bersyukurlah Bila lelah berpikir, berdzikirlah (@salimafillah)

so true ;)

 

May 2

Bagaimana kau bisa memiliki yang kau inginkan jika kau hanya inginkan semua yang tak kau miliki?

Quote di atas saya temukan dalam sebuah komik. Ya, Anda tidak salah baca: sebuah komik. Komik yang cukup terkanal, komik Paman Gober (atau Donal Bebek).

Diceritakan dalam kisah itu, Gober sedang bertarung dengan rivalnya, Roker, tentang siapa bebek terkaya di dunia (bagi yang tidak tahu, Gober dan Roker adalah 2 bebek terkaya di dalam cerita Donal Bebek). Mereka mulai bertarung dengan saling mengambil alih perusahaan-perusahaan lawan mereka. Satu demi satu perusahaan Roker diambil alih Gober dan sebaliknya. Semuanya tentu penuh dengan sabotase.

Hingga akhirnya, semua perusahaan yang awalnya dimiliki Roker, kini dimiliki Gober. Dan sebaliknya, semua perusahaan yang awalnya dimiliki Gober, kini dimiliki Roker. Sebagai akibatnya, mereka berdua harus bertukar kantor.

Roker harus pindah ke gudang uang Gober, dan Gober pindah ke kantor mewah Roker. Seolah seperti mereka telah mendapatkan semua yang mereka inginkan. Tapi, hal yang ironis adalah…

Keduanya tidak bahagia.

Roker mencoba mandi uang dalam gudang uang Gober, dan berakhir dengan tubuh yang kedinginan. Dia tak dapat mengerti bagaimana mungkin Gober bisa senang mandi uang di dalam gudang uang itu.

Gober pun setali tiga uang. Dia sama sekali tidak biasa dengan kursi yang menurutnya terlalu empuk, dan kantor yang kurang cahaya matahari. Terlebih, kantin kantor itu hanya menyediakan menu keju, ya, menu favorit Roker yang tidak disukai Gober.

Keduanya adalah bebek terkaya di dunia, dan keduanya merana. Mereka sama sekali tidak bahagia di tengah kekayaan dan ambisi yang sempat mereka kejar habis-habisan, dan kini telah mereka capai.

Di titik inilah, Kwik, Kwek, dan Kwak, ketiga keponakan Gober, dengan bijak mengatakan quote di atas: “Bagaimana kau bisa memiliki yang kau inginkan jika kau hanya inginkan semua yang tak kau miliki?”

Quote ini membuat saya berpikir

Banyak orang berkata, pada dasarnya manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas.

Terkadang kita jatuh pada kesalahan “menginginkan milik orang lain”, entah itu handphone yang lebih canggih, pacar yang lebih cantik, otak yang lebih pintar, uang yang lebih banyak, gaji yang lebih besar, mobil yang lebih mewah, karir yang lebih menjanjikan, hidup yang lebih bahagia, dan lain sebagainya.

Kita berpikir, betapa rumput tetangga jauh lebih hijau.

Kita berpikir, kita akan bahagia jika kita bisa memiliki rumput seperti rumput tetangga.

Teman, mungkin benar, rumput tetangga mungkin lebih hijau dan Anda suka melihat rumput yang hijau. Namun, itu tidak berarti Anda suka tinggal di kebun dengan rumput yang hijau. Melihat berbeda dengan menghidupi.

Ketika melihat rumput yang hijau, mungkin kita hanya membayangkan hal-hal yang begitu baik dan indahnya. Ketika kita hanya melihat rumput hijau itu, kita tidak melihat hama-hama yang ada di balik rumput itu. Kita tidak tahu kalau rumput hijau mengundang lebih banyak hama. Kita tidak tahu juga perawatan ekstra yang dibutuhkan untuk menjadikan rumput itu tetap hijau.

Ketika kita mulai hidup di tengah kebun dengan rumput hijau tersebut, kita baru menyadari keberadaan hama-hama itu, dan rumput hijau itu menjadi tidak seindah yang kita pikirkan sebelumnya.

Teman, rumput kita mungkin tidak sehijau rumput tetangga, tapi ingatlah bahwa buah kebun kita lebih manis.

Apabila kita terus-menerus menginginkan hal yang tidak kita miliki tanpa mensyukuri apa yang kita miliki, kita takkan pernah bahagia, karena kita takkan pernah mendapatkan hal yang kita inginkan. Tapi, cobalah tengok apa yang Anda miliki. Kalau Anda merenungkannya, Anda akan terkejut melihat bahwa begitu banyak hal yang Anda bisa syukuri dari apa yang Anda miliki.

Dan rasa syukur itulah yang membuatmu bahagia.

Bersyukurlah senantiasa, maka Anda akan berbahagia. Kenapa? Karena, hanya orang yang bahagia yang bisa bersyukur.

Kiranya Tuhan memampukan kita untuk senantiasa bersyukur,

Charles Christian